TARIF TOL AKAN NAIK, TRUK TETAP MELINTAS 24 JAM.

Banyak pelanggaran di jalan tol yang dibiarkan berlangsung terus menerus. Misalnya? Kendaraan yang berjalan di bawah kecepatan minimal (60 km/jam). Beberapa mobil pribadi melakukannya, kadang sambil berhalo-halo atau ber-SMS-ria. Sisanya, yang terbanyak, adalah truk.
Kalau truk ditegur kenapa tidak mau cepat, maka sopirnya akan mendadak pintar mengajari soal bahasa. Tidak mau dan tidak mampu itu beda, kata mereka.
Bagi pengguna lain, tak mampu dan tak mau toh sama. Lelet. Di bawah 60 km/jam. Kenapa masih juga berjalan menghalangi orang lain?
Lagi-lagi sopir truk akan mendadak terpelajar, mengajari soal fisika dan mekanika. Soal kakas, percepatan, perlambatan, dan seterusnya. Dalam bahasa sopir, “Cepet sih bisa, tapi ngeremnya gimana, Bos?”
Tentu sepenuhnya bukan salah para sopir truk. Mereka hanya mencari nafkah, sekaligus sebagai korban dari para tuan dan majikan. Jasa Marga dan operator lain ikut bersalah, dan sekaligus ikut memanen getah di sektor lain yang membiarkan truk berlebih muatan dan tata transportasi yang mengakibatkan pertumbuhan pesat mobil pribadi.
Tentang getah dari korupsi (tepatnya: suap) di bidang pengawasan muatan, Anda ingat di Pantura Jawa Tengah pernah ada jembatan ambrol saat macet karena jembatan yang sudah lelah itu menahan truk yang berlebih muatan. Sebuah mobil nontruk, berikut penumpangnya, yang terjebak kemacetan di atas jembatan itu jadi korban.
Karena yang saya bahas adalah jalan tol, maka persoalannya saya batasi di Jasa Marga dan para operator jalan tol. Intinya: jangan biarkan truk melintas pada jam sibuk. Bagusnya sih truk harus berjalan setidaknya pada kecepatan minimal, di lajur kiri, dan… pada pukul 23.00 sampai 03.00 untuk jalan tol dalam kota. :D
Kalau tidak, maka setiap jam sibuk, jalan tol dari Cawang sampai Polda akan macet karena harus mengalah kepada truk-truk “yang tidak mau cepat” saat menanjak di Pancoran dan Mampang. Boleh juga ditambah truk malas lainnya yang seperti bekicot perlahan beringsut di jalan layang Tomang menuju Merak. Itu pun belum ditambah as patah di tanjakan jalan layang, atau muatan tumpah. Muatannya itu dari botol minuman sampai pipa baja.
Tentu Jasa Marga dan kalangan usaha tak setuju usulan saya karena dua alasan utama. Pertama: jalan tol memang dibangun untuk memperlancar ekonomi, termasuk mobilitas kendaraan pengangkut besar. Kedua: jam jalan yang terbatas sama saja tambahan biaya, karena menyangkut jam lembur gudang, jadwal bongkar muat, jadwal produksi, dan lainnya.
Akan tetapi membiarkan truk berjalan lambat itu saya andaikan menghasilkan pemborosan yang lebih besar karena kemacetan. Ya BBM, ya oli, ya obat stres, ya perawatan kewarasan. Soal hitungan, serahkanlah ke ahlinya — asal bukan Jasa Marga dan kalangan industri.
Tak usah ditengok dari helikopter, cukup dari arah berlawanan proses perlambanan itu tampak. Jalur dari arah berlawanan yang lancar bisa tiba-tiba merambat, bahkan macet, karena ada truk pelan atau mogok.
Memang sih, selain truk penyebab lalu lintas pelan adalah volume pelintas dan… mobil nontruk yang berjalan santai di lajur kanan dan tengah sehingga menutupi arus di belakanganya.
Ukuran lambat di jalan tol itu sederhana. Kalau mobil Anda berada di lajur paling kanan dan lebih dari sekali disalip dari kiri, berarti Anda kurang cepat. Sengaja saya tak bicara angka kecepatan karena pasti menimbulkan debat. :D Pokoknya lajur kanan untuk mendahului, bukan didahului. :P
Anehnya, patroli jalan tol (tepatnya polisi yang diperbantukan ke Jasa Marga) jarang menertibkan mobil “kurang cepat” di lajur tengah dan kanan. Mereka, kalau mampu dan mau, lebih tertarik mengejar mobil yang terbang. Padahal terbang dan merambat itu sama-sama salah — oh ya, saya tak bicara risiko kecepatan di atas 100 km/jam yang diperbolehkan.
Sedangkan penertiban untuk mobil yang mencuri bahu jalan (lajur darurat), baik cepat atau melesat, saya amat sangat setuju. Begitu pula untuk mobil pemerkosa marka jalan. Harus ditindak. Menyalip dari kiri, itu juga salah — tetapi sering dilakukan atas nama keterpaksaan.
Dengan kekusutan dan ketidakjelasan seperti itulah, Badan Pengatur Jalan Tol akan menaikkan tarif. Aneh. Apalagi kalau alasannya hanya pada rumusan yang secara formal memang “benar”: jalan tol adalah jalan yang harus dilalui dengan membayar, tak ada urusannya dengan bebas hambatan. Tapi spirit pembuatan jalan tol, selain soal berbayar, adalah kelancaran. Begitu bukan, Tuan?
Semoga jawaban Tuan bukanlah, “Bukan!”







ling | 15 10 2009 @ 13.50.52
klo ada disiplin diri n kesadarana masing2 indiv smua pasti berjalan bgs..tp yah kayanya emg sudah jd budaya di indonesia….jd ya ga heran..hehe
Laili | 26 08 2009 @ 21.04.29
dulu pas saya SD pernah diajarin istilah gini:
jalan tol adalah jalan bebas hambatan..
anak-anak SD sekarang masih dicekoki ajaran itu ga?
—
Anak saya masih. :)
/tyo/
jephman | 19 08 2009 @ 8.42.26
PEMBERANG itu baik untuk mulut-mulut tak bersyukur. Cuma bisa mengeluh, protes dan merengek.
Apa ada usul memecahkan masalah dari semua komen dibawah?
Sudah untung bisa naik pesawt, masuk tol naik mobil pribadi, plis deh…
—
Ya, Bang. Baiklah. :)
/tyo/
jephman | 18 08 2009 @ 16.33.53
Ah…berisik kau pak tua!
kau cobalah pakai jalan umum, bayangkan kalau truk2 itu tidak boleh lewat tol.
Masih untung kau bisa naik mobil pribadi dan masuk tol.
Kalau mau bebas hambatan ya ke luar negeri sana.
SELAMA NEGARA INI GIAT MEMBANGUN, KAMI MENDUKUNG TRUK2 MASUK TOL AGAR TRANSPORTASI PEMBANGUNAN TIDAK TERHAMBAT.
—
Hahaha. Anak muda memang pemberang. :D
/tyo/
Jadi…diamlah kau pak tua.
Kalau tidak suka belilah jet pribadi.
j4p | 18 08 2009 @ 14.58.57
Tempo hari saat mau pulang naek pesawat flight jam 18.20, cegat taxi dari GI jam 16.00. Saya sudah tanya2 sama temen waktu yang dibutuhkan dari GI ke Cengkareng sekitar 1 jam. Sopir taxi juga konfirmasi hal yang sama.
Sampai di tol kondisinya padat merayap & kadang macet.
Jam 17.50 masih di jalan tol, saya coba telp ke maskapai untuk check-in duluan, tidak ada yang nyambung…. Sibuk semua….
STRESSSS!!!
Puji Tuhan, jam 18:10 check in & boarding tanpa ditanyai apa2 sama maskapainya. Ternyata banyak juga yang terlambat kayak saya :D
—
Bahkan, kalau macet parahnya karena banjir, kru penerbangan pun terlambat tiba di bandara. Inilah Jakarta. :)
/tyo/
Xna kool | 16 08 2009 @ 13.51.34
emank begitu sadis and gila, kemaren ada polantas yang tewas cuma gara2 polusi kendaraan sejenis itu.., jiaahh…
mampir donk om, gue ada trik pasang iklan gratis di facebook lho..
—
Sadis? Gila? Ini memang zaman edan.
/tyo/
edratna | 16 08 2009 @ 7.27.03
Memang konyol paman…apalagi jalan tol dalam kota ke arah bandara, dipenuhi truk gandeng. Akibatnya jalan tol maupun non Tol sama-sama macet..lha kok jalan tol macet?
—
Bu, yang penting masuk jalan tol itu bayar. Tepatnya: membayar taruhan berjudi. Konyol kan?
/tyo/
Zebhi | 15 08 2009 @ 23.45.25
Tarif naik tapi kok Tetap macet??
Saya pernah tinggal di Jakarta semenjak lahir sampai kelas 5 SD.
Hufht, macetnya bikin stres… :D
—
Yah… memelihara kewarasan di Jakarta itu sulit dan mahal. :)
/tyo/
haris | 15 08 2009 @ 15.31.59
jalan memang arena pertarungan dan persaingan paman. tapi sesekali, ia juga merupakan arena kasih sayang dan perhatian. yang terakhir inilah yang harus lebih banyka dijalankan
—
Rumah mimpi melihat dimensi lain. Jika jalan adalah bagian dari peradaban, memang itulah yang mesti kita dapatkan.
/tyo/
blontankpoer | 15 08 2009 @ 15.04.10
silat kata paman memang dahsyat. meguru, ah…
—
Ngece! :(
/tyo/
mastongki | 15 08 2009 @ 0.19.09
emang paman pernah lewat jalan tol? ;P
—
Belum!
(menjewer keponakan bernama Tongki)
/tyo/
adipati kademangan | 14 08 2009 @ 18.19.29
sakjanya itu kalo ditilang malah dapet dhuwit banyak lhoh, pulisi dapet dhuwit hasil tilang, jasa marga dapet dhuwit dari pelanggaran.
—
Walah, pendapatan dari pelanggaran! :))
/tyo/
Bram | 14 08 2009 @ 15.35.35
Kalau zaman dulu, truk kan cuma boleh lewat di malam hari.
—
Betul! Tapi sekarang, atas nama keberlangsungan ekonomi, aturan itu diabaikan (atau dihapus?)
/tyo/
triesti | 14 08 2009 @ 12.37.55
kalau kata supir taxi: akibat reformasi ni mbak.. semua semaunya
—
Hidup reformasi! :D
/tyo/
jarwadi | 14 08 2009 @ 7.55.23
wah saya jarang ke kota je, tapi kalau di desa saya terjadi kemacetan itu biasanya karena ada pohon pinggir jalan yang ambruk atau di tebang, atau ada sapi yang lepas
tapi itu jarang terjadi :)
—
Hahaha. Betul. Di Jakarta, satu pohon tumbang akan bikin macet berjam-jam. Sapi yang lepas? Di Jakarta jarang eh tidak ada :D
/tyo/
Abi_ha_ha | 14 08 2009 @ 0.18.04
Saran terawang futuristik saya, kurangi konsumsi barang apapun yang diangkut truk.
Barang berkurang mesti angkutannya berkurang dan kita bisa berhemat.
—
Syusyahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh… :))
/tyo/
sigit | 14 08 2009 @ 0.00.38
hmmm.. saya bukan warga jakarta, jadi sudah lama tidak merasakan naik kendaraan di jalan tol. Bisa membayangkan kekesalan paman tyo dan juga kekesalan pengguna jalan tol lainnya atas fenomena truk ini.
pertanyaan paman tyo ttg spirit pembuatan jalan tol menurut saya bukanlah kelancaran, tetapi memang hanyalah “profit diatas segala2nya”
mana mereka peduli soal kelancaran, yang penting adalah “untung, untung dan untung”…
Semoga ini hanyalah pikiran buruk sangka saya saja…
—
Buruk sangka di mata pengelola jalan tol! :))
/tyo/
tukang | 13 08 2009 @ 20.29.33
percuma disebut jalan tol……
—
Lha yang penting mbayar to?
/tyo/
Iklan Gratis | 13 08 2009 @ 18.44.01
hehehehe ..
kritikan yang bisa membuat bibir tersenyum2 ..
semoga spirit ‘lancar’nya didukung semua pihak penyedia dan pengguna jalan tol .. agar bisa tercapai ..
Mau beriklan gratis Pasang Iklan Gratis
—
Lha kok malah ngiklan?
/tyo/
antown | 13 08 2009 @ 15.37.24
“mobil pemerkosa marka jalan” ya paman? saya suka istilah itu hehe…
—
Ah, asal ketik aja itu. :D
/tyo/
Chic | 13 08 2009 @ 10.23.53
ga ada sensor batas kecepatan sih ya di sini? ga kayak di pelem-pelem barat itu loooh… hihihihihi
—
Bisa aja dipasangi, tapi kan bisa damai? :P
Damai itu indah, kata spanduk.
/tyo/
Ahmad | 13 08 2009 @ 9.59.10
Ya, perawatan kewarasan?
Paman, saya suka kata ini. Di mana saya bisa menemuinya? Saya sedang macet hati dan rasa. Apa juga ke sini? He..he..
—
Wah di mana ya? Di Pak Kiai Ahmad Sahidah mungkin.
/tyo/
DV | 13 08 2009 @ 6.31.07
Kalau saya jadi truknya bakal mikir “Hidup kok serba salah! Banter salah, alon salah!”
Hahahaha!
—
Maju kena, mundur kena.
/tyo/
Sarimin | 13 08 2009 @ 6.16.17
:) jalan semua aja lah…
—
Iya
/tyo/
Celetukan Segar | 13 08 2009 @ 0.02.47
Mungkin perlu dibuat jalan tol khusus untuk truk, biar nggak lelet!
—
Waduh, mewah bener! :D
/tyo/
idar | 12 08 2009 @ 23.00.39
Mungkin sekarang pemasar lebih baik pasang iklan di truk/container, karena waktu yg dihabiskan melihat ‘dinding & ekor’ truk lebih lama dari waktu nonton televisi…
—
Setuju! Bus kota jadi transit ad soalnya berjalan di jalur lambat. :D
/tyo/
hedi | 12 08 2009 @ 22.17.39
Pokoknya macet itu menyebalkan, mungkin masih bisa dinikmati, tapi kalo panas kan berabe, apalagi tanpa ac dan motor wahhhh :P
—
Nggak hanya panas, Sam. Hujan juga.
/tyo/
jun | 12 08 2009 @ 18.23.40
Sukurlah di kota saya tidak ada jalan tol…
—
Belum. Dan semoga tetap belum. :)
/tyo/
Amim | 12 08 2009 @ 15.40.28
Siapupun pasti tahu paman kalau masuk tol harus bayar. Mungkin tujuan awalnya tol itu dibuat untuk jalur cepat. Tapi kalau pengguna jalannya seperti bekicot kecepatannya mungkin malah seperti jalan biasa… Tp kalau tol Surabaya-Malang aman kok…gak seperti di jawa barat
—
Syukurlah kalau aman dan nyaman… :)
/tyo/
Aji | 12 08 2009 @ 13.34.04
Supaya bisa merasakan “manfaat” dari kenaikan tarif tol, beli saham Jasa Marga saja paman… siapa tahu harga saham JSMR naik terus karena tarif tol-nya naik terus dan tol tambah macet (laris-manis)..hehehe….
aji
—
Iya nanti mau beli. Ini bisnis dengan arus kas yang bagus. :D
/tyo/
Dawam Multazam | 12 08 2009 @ 12.48.00
Bagaimana dengan usulan membangun tol (dan pintunya) khusus untuk transportasi industri?
—
Wah mahal itu. Ekonomi biaya tinggi. :)
/tyo/
ATM TUKANG™ | 12 08 2009 @ 12.33.01
polisi di didik untuk mengawasi marka saja paman.
—
ah jangan gitu, nanti kena semprit lho :D
/tyo/
snydez | 12 08 2009 @ 12.32.31
lucu ya. dijalanan umum (sebelah jalan tol) truk gak boleh lewat di jam standar (siang).
—
Lha ya itu. :D
/tyo/
Funkshit | 12 08 2009 @ 12.25.06
wah ga ada bahasan soal mobil pribadi dengan kaca gelap dan kegitan misterius di dalam mobil..
–
yang gimana tuh, pake misterius segala, sit?
/tyo/
mpokb | 12 08 2009 @ 11.44.07
Kontainer menuh2in jalan tol dalam kota karena nggak ada rel kereta barang dari dan ke Pelabuhan Merak seperti ke Priok. Tapi saya pun nggak yakin setelah ada rel kereta barang, jalan tol dalam kota tidak macet (lagi), karena pesatnya pertumbuhan kendaraan pribadi di ibu kota. Ini pun terkait banyak hal, jeleknya angkutan umum, longgarnya peraturan lalu lintas dan terutama berkumpulnya kegiatan di satu wilayah megalomaniapolitan ini..
—
Memang kusut Mpok. Tapi masa sih nggak bisa dibenahi?
/tyo/
mas kopdang | 12 08 2009 @ 10.59.21
komentar saya setuju karena sudah kumplit bahasannya.
:D
—
Yahhhh ngece tenan ini! :D
/tyo/
bangsari | 12 08 2009 @ 9.15.03
wakakakak. endinge nendang.
—
Nendang boks loket tol?
/tyo/
Andy MSE | 12 08 2009 @ 9.08.54
Beberapa tahun lalu saya pernah mengetahui ada aturan lokal di Surabaya dan sekitarnya, truk yang jalannya pelan seperti siput akan ditilang karena dianggap 1) kelebihan muatan, 2) tenaga mesin sudah tidak layak. Sayangnya, pada saat terakhir saya ke sana awal tahun ini, aturan itu sudah hilang entah kemana. Mungkin kalah sama slap-slep saweran yang disisipkan dalam kotak korek api yang dilempar ke dekat pos petugas.
—
Aha! Balada kotak korek api! Nggak ada matinya! :D
/tyo/
pitik | 12 08 2009 @ 9.01.16
tulisanmu juga merambat..panjang kaya ular om..hehe
—
Nak Pitik benar. Terima kasih sudah baca :D
/tyo/