Merdeka! Bukan Mengeluh, Hanya Mengenang
MAKA KENANGLAH NILAI TUKAR RUPIAH (SEJAUH ANDA INGAT).

Dengan selembar dua ribu rupiah, apa yang akan Anda dapatkan? “Selembar dua ribuan” dan “uang duaribuan”, adalah istilah baru yang muncul tahun ini, bulan ini. Belum banyak berita kisah (features), dan terutama fiksi, yang sampai hari memakai istilah itu sampai hari ini.
Denominasi baru memunculkan istilah baru. Dalam belantara teks, terbukti bahwa blog lebih dulu memakainya. Misalnya Junaidi Muadzin: “selembar uang dua ribu“.
Jika menyangkut uang, lantas kita cuma menyebut “lima”, “dua puluh lima”, “lima puluh”, maka bergantung pada konteks itu bisa berarti diimbuhi juta, miliar, triliun — bahkan pakai tambahan dollar (Amrik). Untuk rupiah, nilai pecahan terkecil adalah Rp 100, berupa koin.
Betul, serupiah itu senilai seratus sen. Lantas ke mana sen, benggol (2,5 sen), ketip (10 sen), talen (25 sen), dan suku (50 sen)? Biarlah itu menjadi bagian dari khazanah lama.
Itu pecahan arkais. Tak penting untuk diingat, karena Anda tahu pun tak mengangkat gengsi dalam adab gaul, malah bisa-bisa diledek sudah sama arkaisnya.
Oh, arkais? Kapan? Ehm, sesungguhnya sampai 1967 (ya, abad lalu, pada awal Orde Baru) pun ketip, talen, dan suku — juga ringgit yang senilai Rp 2,5 — masih punya nilai tukar.
Sen hanya bernilai jika kita bicara mata uang asing tertentu. Misalkan sen asing kemudian tak ada nilanya lagi, bahkan sebagai mainan angka psikologis US$ 9,95 pun tiada lagi, maka kata sen kita biarkan terkubur, hanya hidup dalam tembolok mesin pencari.
Rupiah kian tak berdaya. Denominasi berangka kecil makin sedikit. Tak usah mengeluh, apalagi menyumpah, toh kita tak separah Zimbabwe yang setahun lalu mengeluarkan pecahan 100 miliar dollar.
Itulah titik ketika jejeran angka nol, yang secara visual sebagai sajian tipografis menjadi memusingkan bagi orang awam. Selain memusingkan juga mengesalkan karena hadir sebagai persoalan nyata, bukan semata kajian matematis dan filosofis tentang nol.
Jadi, sekarang ini, dengan selembar Rp 2.000,00 apa yang akan Anda dapatkan? Saya menunggu cerita Anda dengan menggali ingatan 15 tahun terakhir.
Sebelum Anda berbagi, izinkanlah saya melampirkan gambar dari dua album kelahiran kedua putri saya. Sejak awal saya sadar, sejarah mereka tak hanya direkam dalam foto (yang belum digital) tetapi juga “artefak” atau “artifak”: ada bon toko emas untuk sepasang anting 0,5 gram seharga Rp 10.000,00. Kebetulan ketika anak pertama lahir (Semarang, 1993 — saya wira-wiri Semarang-Salatiga), pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM sehingga tabelnya saya angkut sekalian (harga termurah bensin yang saya ingat adalah Rp 54,00, sebelum 1976).


Ketika kelahiran anak kedua (Jakarta, 1997), internet belum semerata sekarang. Alamat pribadi e-mail gratis yang berbasis web hanya dari Hotmail dan Email.com, wadah konten pribadi baru disediakan oleh Geocities. Setidaknya setahu dan sepengalaman saya waktu itu. Maka cara lama artifak binti artefak pun saya lakukan.


Apa yang Anda ingat dari Rp 2.000,00? Dua nol di belakang koma itu mengikuti aturan penulisan baku (“Rp” tanpa titik, sebelum angka disela oleh spasi, setiap tiga nol disela titik, setelah itu ditutup “koma nol-nol”), padahal sekarang itu konyol. Nol di belakang koma, dalam rupiah, tak dapat ditukar ongol-ongol maupun jengkol.

Rp 2.000,00. Lima belas tahun terakhir ini. Maaf terlalu jauh. Lima tahun terakhir saja. Anda ingat?
Merdeka!

49 Responses to Merdeka! Bukan Mengeluh, Hanya Mengenang
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Tahu Bacem February 8, 2012Temannya tempe bacem. Tapi paling enak itu ya bacem dengan tahu segitiga berkulit dan tempe mlenuk. Permalink | Leave a comment » […]postyorous menerous »»»
- Tahu Bacem February 8, 2012
Cicitcuit!- RT @didinu: @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 InkaSativa (Twinika Sativa F)
- @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 didinu (didinugrahadi)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Kursi dan Duduk
July 23, 2008 by AntyoYANG MENDUDUKI BISA ATUR DUDUK PERKARA.
Ada beberapa teman saya yang begitu duduk di atas kursi langsung mengangkat kaki. Ada yang bersila, ada yang melipat satu kaki seperti setengah bersila, ada yang duduk mencangkung dan menjadikan lutut sebagai penopang lengan. Bahkan ada pula yang duduk bertinggung, seperti jongkok di atas kursi.
Mereka melakukannya di [...]
Recent Comments
danang» milih golput aja ah..selama masih tokohnya itu2 ajah,,
Kaget» Apa kita nantinya ngga pada bingung Paman? kamus IT, kamus tehnik, kamus bahsa,….. kedepan akan muncul kamus2 lain. masalahnya cuma satu,… zaman sekarang yang serba sibuk melihat gadget, kapan buka kamus-nya?
mpokb» Aha, bagus nih buat rujukan.. Lalu entri semacam “kerudung wajib lapor” atau “jilbab Islam KTP”, masuk di kamus mana ya, Bang Paman? :D
askep» Saya sebagai salah satu pembuat karya di situ kok merasa tidak terkesan dengan kehadiran Foke dan pembantu2nya di situ. Oh, ada sih, saya terkesan dengan sulitnya ijin yang berbelit2, untuk acara yang mereka selenggarakan sendiri.
ewesewes» Beli ah!
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Bener2 posting yang mengiris hati…
Kita hanya menjadi permainan.
Keren Paman Tyo. Andai postingan ini dibaca oleh para pejabat…
Ah, rasanya percuma. Walau mereka baca juga ngga akan memberi rasa apa2 pada hati mereka yang tak pernah memahami masalah rakyat miskin…
—
Begitulah nasib kita. :)
/tyo/
masih inget lagu abang tukang bakso: 200 perak yang banyak baksonya.. sekarang kalo bilang gitu sama tukang bakso langsung ditimpuk tetelan..
Di tahun 1988, dengan uang Rp 350,- bisa buat nonton film “cina gelut” (kungfu) bayar parkir sepeda Rp 50,- saat ini aku masih menyimpan uang pecahan Rp 50,- terbitan 1999 dan Rp. 25,- terbitan 1994 hehehe
—
Rp 350? Tahun 88? Waktu itu harga bensin berapa ya? Pasti di bawah Rp 500 per liter. Yang saya ingat harga Honda Astrea sekitar Rp 1,8 juta.
/tyo/
saya jadi inget waktu sekolah dulu..sekitar 15thn yang lalu, saya cuma dikasih uang Rp 500 sehari..tapi dengan uang tersebut saya bisa beli banyak hal..gorengan Rp 25,- mie instan rebus Rp 300,- kerupuk2 Rp 10,-
kalo inget2 ke belakang kerasanya gampang bgt ya beli2 sesuatu
—
Rupiah kian payah :(
/tyo/
kpn yah rupiah nyaingin mata uang $ ,seengaknya dolar singapura lah wkwkk ngarep…
—
Kenapa tidak? Mari. :D
/tyo/
Album artefaknya keren. Aku jg punya,tp cm ttg aku.
—
Mari menabung bahan sejarah :)
/tyo/
Uang kita kebanyakan jumlah nominal,tapi isinya sedikit.Mending seperti USD kecil jumlah nominal tapi besar isinya.Moga Rp kita bisa ikutin.Amin
—
Kita pakai duit dollar amrik atau euro atau poundsterling saja…
/tyo/
Semasa SMA di jaman jayanya Soeharto (bahkan sebelum Zona 80, ha ha ha), dengan selembar seribuan segerombolan anak SMA yang seharusnya mempersiapkan diri untuk ulangan umum malah pergi ke puncak, Rp 500 untuk mengisi bensin mobil dan sisanya cukup untuk berlima masing2 makan bakso atau minum secangkir kopi di tempat yang sekarang Restoran Rindu Alam, dulu Puncak Pass.
1992, ketika itu pecahan 1000 rupiah dalam bentuk koin baru dikeluarkan. Paman saya dari Bekasi membawa tanda mata berupa koin 1000 rupiah itu. Apa yang ada di dalam pikiran saya ketika itu? “Hore, uang jajan!” Begitulah pikiran anak kelas satu SD.
Esoknya, uang itu saya belanjakan. Saya beli es mambo. Selanjutnya, saya dimarahi penjualnya. “Anak kecil tidak boleh pegang uang banyak!” Sembari memberikan kembaliannya.
Sekarang, dengan uang segitu, apa yang masih bisa kita peroleh?
Salam kenal Paman!
Ah..jadi ingat waktu kerja di Dubai 2 tahun yang lalu, teman2 yang bukan WNI sering heran dengan nilai tukar uang kita, tapi dengan bangga saya selalu berkata ” I am billionaire ” karena mereka belum pernah punya uang berjuta – juta. :))
Om Tyo masih aja nyimpan barang jadul bernilai sejarah tinggi. Saya lahir di zaman rupiah nilainya 2000an terhadap dolar AS dan ingin juga merasakan bagaimana hidup di Indonesia saat masih ada uang sen. Perkataan seperti benggol, ketip, talen, dan suku belum pernah saya dengar sama sekali seumur hidup (yang notabene belum dua kepalan). Talen dan suku masih menjadi perkataan umum dalam Bahasa Bali.
mase, kemarinnya saya harus bayar di bank syariah mandiri Rp 33.750,00. berhubung itu BANK, logikannya kalau kita kasih Rp 50.000,00 kan ada receh Rp 250,00 ya? ternyata tidak. dan dibulatkannya ke atas untuk keuntungan mereka. HALAH!
dipikir pikir, perusahaan Indonesia itu lebih kumpeni daripada di Belanda!
15 tahun lalu saya masih bocah, paman. tapi saya inget sebuah kejadian: sewaktu pertama kali disuruh ibu untuk ke warung pertama kali, beli garam, beliau memberi uang 100rupiah. dan penjaga warung masih membeli saya kembalian..
Salam Kenal..
Saya masih inget waktu nilai tukar 1 USD = Rp.2650, tapi saat itu belum tahu apa maknanya
best practice pasar international, pecahan uang itu 1,2,5 dan 10.
Maka, dibuatlah 2000.
mengingat 1000 sudah dianggap uang pecahan kecil, maka akan dijadikan receh, akhirnya.
OOT : ternyata ketinggalan banyak euy, di gombalabel. tapi di sana belum bisa komen, bang paman =’.'=
Saya bingung, kenapa mesti keluar uang Rp.2000,- an? Atau biar mudah kalau bayar tukang parkir?
—
Waduh, Bu Eni yang ngerti keuangan aja bingung apalagi saya, Bu. :D
/tyo/
Tahun 1993 Rp.2000 itu ang saku saya untuk sebulan
—
Sebulan? Berarti sehari cuma sekitar Rp 66? Kalau hanya dihitung hari sekolah yang 26 hari (karena Sabtu masuk), sehari rata-rata Rp 76 :D
/tyo/
man paman, kenapa dirimu ndak jadi arsivaris aja sih? *siap-siap dibandem duit 1 sen*
—
Ngebruki sekarung benggol!
/tyo/
15 tahun yang lalu saya belum melek duit paman… Saya hanya bisa ingat ketika kelas 1 SD di sekolah ada yang menjajakan nasi uduk seharga Rp 500,00 dan kalau mau tambah gorengan masing-masing seharga Rp 200,00.
Ah, kalau ada istilah sen, benggol, dan kawan-kawannya, bagaimana dengan istilah cepek, gopek, dan yang lainnya?
—
Cepek, gopek (jawa: nggopek), seceng (jawa: sejing), dan lainnya, itu menyerap dari bahasa Cina dialek Hokkian. Anehnya, ada saja orang rasis (anticina) yang memakai istilah itu — oh ya mereka juga doyan bakso dan bakmi. :D
/tyo/
Rp 2000 buat mbayar SPP sebulan waktu saya masih SMP
—
Tahun berapa itu ya?
Sekarang sih, di beberapa daerah, bebas SPP. Kabarnya sih. :)
/tyo/
Tahun 91, 2 ribu perak itu uang saku buat 1 minggu.
Ongkos angkot buat pelajar: Rp 100, mie ayam Rp 300, fanta / sprite / coca cola Rp 200.
Uang 2000 sudah terasa sangat banyak buat anak SMP kelas 1 kayak saya pada jaman itu :D
—
Rp 2.000 satu minggu? Hebat!
/tyo/
Lama kelamaan nanti ada pemotongan nol… ntah tuh 50 taon ke depan… 2000 menjadi 2 rupiah…. bagus lagi kan??!
—
Bagus! :D Rp 1 = 1 euro :)
/tyo/