KENANGAN TENTANG BOCAH KESAYANGAN TETANGGA.
Bunyi “praakk…” yang pelan. Seperti suara bambu kering terbelah, kata sang penolong. Setelah bunyi itu, seorang bocah perempuan usia dua tahun lebih hanya bisa gagap berteriak kepada pria yang kemudian turun tangan itu, “Aihan, dalah, dalah.” Yang dia maksud adalah Rayhan, bocah satu tahun lebih sepuluh bulan, temannya bermain, anak tetangga depan rumah.
Saya tidak melihat. Saya hanya mendengar penuturan beberapa saksi.
Rayhan sudah tengkurap di belakang ban SUV keperakan yang terhenti mepet di sisi kanan jalan. Dia diam. Darah mengalir dari sisi kiri kepalanya. Pamannya yang tadi mendengar “praakk..” dan teriakan gagap bocah perempuan seberang rumahnya itu segera membopong Rayhan yang tak keluarkan rintihan.
Darah mengucur deras dari kepala Rayhan, bersama gumpal keputihan yang bukan darah. Pengemudi SUV masih di dalam mobilnya. Dia kebingungan.
Seorang ibu yang dari jarak 15 meteran mengira si terlindas adalah boneka pun menjerit. Ibu-ibu lain keluar dan menjerit-jerit. Ibu-ibu lainnya lagi berdatangan, bahkan dari lain RT. Mereka menjerit, meratap. Masing-masing ibu menelepon suaminya yang sudah di perjalanan agar segera pulang. Beberapa anjing milik warga yang biasanya ribut menyalak kalau ada keramaian hanya melolong panjang.
Saya tidak melihat. Saya hanya mendengar penuturan beberapa saksi.
Pengemudi akhirnya keluar dari mobil yang dikerubungi ibu-ibu setelah dilihatnya seorang pria yang dia kenal baik datang — pria yang rumahnya dia beli hampir tiga tahun lalu.
Menurut penuturan banyak saksi, pengemudi itu berkali-kali bilang dirinya tak melihat, tak sadar tentang bunyi “praakkk…” pelan itu. Bunyi kepala tergilas roda, dengan sebelah pipi kotor bekas ban…
Saya tidak melihat. Saya hanya mendengar penuturan beberapa saksi. Biarlah polisi yang menyelidikinya, kenapa di jalan sempit dengan beberapa polisi tidur yang tak memungkinkan mobil ngebut itu mobil mepet ke kanan, sehingga anak perempuan yang masih di balik pintu pagar kakeknya itu selamat.
Muhammad Rayhan, naman anak itu. Dalam perjalanan ke rumah sakit terdekat, di atas pangkuan seorang pria tetangga yang bermandikan darah (yang mengambil dari gendongan pamannya), di atas jok tengah SUV yang melindasnya, dia sempat tersenyum.
Anak yang lucu, yang disayang para tetangga, itu kemudian bergerak pelan, seperti ada kontraksi. Lalu napas dari hidungnya tak ada lagi. Nadinya berhenti. Si pemangku hanya bisa meratap, “Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un…” Kira-kira seratus meter dari rumahnya, di depan musala.
Saya tidak melihat. Saya hanya mendengar penuturan beberapa saksi tentang kejadian beberapa hari lalu itu. Tentang anak tetangga di sebelah kiri rumah, yang terenggut nyawanya di depan rumahnya ketika dia keluar dari rumah tetangga seberang rumah.
Rayhan kesayangan para tetangga. Beberapa orang punya panggilan kesayangan untuknya. Istri saya memanggilnya Blewah, karena dia bundar, berkulit terang, lucu, menggemaskan.
Blewah yang ketika bayi ada di rumah saya. Blewah yang ketika mulai belajar berjalan, baby walker-nya ada di rumah saya. Blewah yang kadang “diculik” istri saya untuk dibawa pulang, direbahkan di sofa lalu dirubung.
Ketika mulai bisa berjalan, Blewah suka menggoyangkan pengait pintu pagar saya, sehingga berbunyi “dek-dek-dek” sambil memanggil-manggil istri saya, “Uwak, Uwak…” Saya yang keluar, sambil geli bilang kepadanya, ‘Uwak belum pulang tuh, entar aja ya…” Dia melihat saya, tersenyum, lalu balik badan. Kadang seperempat jam kemudian dia mengulanginya. Dia menunggu Uwak pulang yang seperti biasa pasti akan menyapanya, kalau perlu merebut dari ibunya.
Di manakah ujung kehidupan? Kita tak pernah tahu. Bagaimanakah jalan menuju ke sana, sebagian besar dari kita tak memilihnya. Apalagi untuk Blewah yang baru setahun lebih sepuluh bulan. Dia lebih tahu cara memilih permen milik Uwak sebelah rumah.
Pak Haji, yang memangku Blewah kala maut menyelesaikan deritanya, berujar kepada saya, “Takdir di keluarga Rayhan, musibah di bapak yang nabrak dia.”
Tak ada yang tahu tentang teka-teki kehidupan. Si penabrak adalah tetangga tak sampai berselisih sepuluh rumah.

Selamat jalan, Blewah. Fotomu dalam gendongan Uwak ada di arsip saya, tertanggal 21 Februari 2008. Kamu pernah mengisi kehidupan dunia sekitarmu, dan terutama dunia ayah dan ibumu serta kakak-kakakmu, selama 10 Oktober 2007 sampai 19 Agustus 2009. Ya, kamu, yang ketika masih bayi banget beredar dari gendongan ke gendongan. Kamu, yang beberapa minggu lalu melintas depan rumah dengan celana baru, Uwak dan putrinya berkomentar penuh kegemasan…
Saya tuliskan ini ketika pikiran mulai agak jernih, Rayhan.







Ilham S | 28 01 2010 @ 10.52.25
ndrodos luh membacanya .. tak tahu apa yg saya sedihkan..toh Blewah insyaallah akan menjadi penghuni sorga…selamanya..
winy | 09 10 2009 @ 9.23.47
……… *ikut sedih, ikut mendoakan.
iyra | 30 09 2009 @ 2.07.33
“Takdir di keluarga Rayhan, musibah di bapak yang nabrak dia.” Bapak hajinya bijak banget.. semoga ga berakhir dengan dendam ya…
dan turut berduka cita..semoga yang ditinggalkan diberi ketabahan luar biasa T_T
yusuf81 | 05 09 2009 @ 15.16.09
lhoo, mati rek ….
Cicha | 01 09 2009 @ 18.30.40
Ya ampuunn.. sedih, ngilu, merinding.. rasanya ampe gremeng-gremeng ke belakang leher.
Semoga keluarga dan semua yang ditinggalkan diberi kekuatan.
Aduh. Ngilu!
miftah | 31 08 2009 @ 16.59.56
innaa lillaahi wa innaa ilayhi roojiuun
kenyo | 28 08 2009 @ 13.54.12
sedih paman…
aqila | 26 08 2009 @ 21.42.42
kasihan masih kecil!!.kok bisa sampe kejalanan ya anak sekecil itu?
Ihwan | 26 08 2009 @ 19.09.11
Turut berduka :(
arya | 25 08 2009 @ 18.11.21
innalillahi, saya baca tulisan ini sambil mbrambangi. anakku namanya jg raihan.
guh | 24 08 2009 @ 22.40.28
Selamat jalan Rayhan
kw | 24 08 2009 @ 21.22.51
saya tak ingin kehilangan seperti orang tua blewah…. apakah Tuhan sedang bermain-main? :(
zam | 24 08 2009 @ 17.14.03
saya juga denger cerita ini juga paman. dan saya langsung skip baca postingan ini. ngeri saya membacanya..
innalillahi wa ina ilaihi roo ji’uun..
Kyai slamet | 24 08 2009 @ 15.48.09
Terharu…
wahyu hidayat | 24 08 2009 @ 14.19.15
saya sukses menangis terembik-embik paman….. hiks
andrias ekoyuono | 24 08 2009 @ 12.18.15
sedih banget paman
mengingatkan mesti menjaga terus malaikat kecil kita, anakku juga masih segitu
paman tyo | 24 08 2009 @ 11.50.32
Untuk semuanya, terima kasih. Sekali lagi terima kasih. Setelah posting ini, saya tidak menengoknya lagi sampai hari ini, padahal saya online terus. Maaf.
Chic | 24 08 2009 @ 11.19.49
*speechless*
:(( :(( :((
mpokb | 24 08 2009 @ 9.51.39
ngeri membaca ceritanya, bang paman :’(
semoga keluarga yang ditinggalkan si penghuni surga diberikan ketabahan, amin..
AngelNdutz | 24 08 2009 @ 8.33.04
lucunyaaaaa :( hidup dan mati seseorang memang tidak bisa diduga ya, Paman…
DV | 24 08 2009 @ 6.03.25
Seingatku, dua kali saya mendapati Paman nulis duka yang seperti ini dan semoga tidak lagi (yang pertama waktu Mas-mu meninggal).
Turut berduka, Paman.
Blewah telah kembali padaNya, Amin.
Xna kool | 24 08 2009 @ 5.42.47
keyen…hihi.. jadi laper nih padahal masih pagi gini.. tips pasang iklan gratis di facebook
tiyok | 23 08 2009 @ 23.51.14
Turut berduka cita, paman.
fiqa | 23 08 2009 @ 17.09.54
innalillahi wa innailaihi roji’un
triesti | 23 08 2009 @ 17.07.56
gecondoleerd mase… veel sterkte
andriansah | 23 08 2009 @ 15.40.38
turut berduka
*sedih membacanya
ncan | 23 08 2009 @ 12.49.55
mungkin Tuhan sudah sangat merindu Rayhan, dari asuhan malaikat(ibu) berganti ke malaikat(sesunggunya).
Iya, anak sekecil itu..
nothing | 23 08 2009 @ 11.16.15
ikut berduka
adis | 23 08 2009 @ 5.12.17
Komentar di bawah saya…dalem banget paman…
Handaru Sakti | 23 08 2009 @ 0.04.08
Kisah sang penghuni surga. Yang datang ke bumi untuk memberikan pelajaran.
Nazieb | 22 08 2009 @ 23.18.24
Speechless, Paman :(
Amim | 22 08 2009 @ 21.56.20
Kematian itu ghaib, mister Ilahi, pasti datang, pasti datang, pasti datang, tak peduli umur berapakah yang akan dijemputnya. Siapkah kita???
Embun | 22 08 2009 @ 21.41.35
… anak sekecil itu…. *terdiam*
zen | 22 08 2009 @ 20.17.04
[...Saya tidak melihat. Saya hanya mendengar penuturan beberapa saksi...]
Kalimat itu menggedor-gedor saya dengan sangat, Paman.
Rayhan seperti lintang kemukus, datang dan melintas tak lama dalam kehidupan orang-orang di sekitarnya, tapi pasti terkenang sampai entah di kepala orang tuanya, juga orang-orang yang menyayanginya.
masoglek | 22 08 2009 @ 19.13.57
ehhm… biarlah dia menjadi bintang luncur, muncul hanya sekejap tapi cahayanya mampu memberi kedamaian dan harapan
oon | 22 08 2009 @ 17.57.16
hiks…sedihnya deh :(
hedi | 22 08 2009 @ 14.58.38
Kematian sebuah hal yang wajar dan pasti terjadi. Hanya jalan menuju kematian yang selalu meninggalkan kesan dan pesan. Yang ini, sungguh mengenaskan, hati saya gemetar waktu membaca. Semoga keluarga diberi ketabahan dan kelegaan. Ikut berduka, paklik.
Faye | 22 08 2009 @ 14.33.46
Innalillahi wainnailaihi raji’un, miris sekali membacanya, maut datangnya memang nggak bisa diduga ya. Semoga Rayhan tenang di sisi-Nya.
pipit | 22 08 2009 @ 12.15.29
Saya ingin berkomentar sedari pagi tadi.
Tapi entahlah, jari2 ini mendadak macet, bingung dengan apa yang dipikirkan.
Maafkan saya jika berkomentar spt ini Paman.
Yang pasti sebagai seorang ayah saya tidak berani membayangkan kejadian itu.
soesheila | 22 08 2009 @ 9.53.39
Saya sampe merinding mbacanya paman…. enggak kebayang kalo itu anak sendiri….
antown | 22 08 2009 @ 9.52.29
waduh, mengenaskan sekali. kasian banget nasib bocah ini. semoga si kecil hidup di surga nanti
Ahmad | 22 08 2009 @ 9.42.49
Paman, saya tak membaca seluruhnya karena tak sanggup menekuri setiap kata. Ada perih tentang nasib yang tak bisa diramalkan.
Semoga si kecil damai dan keluarganya merelakannya. Amin.
Selamat berpuasa bagi yang merayakannya.
lenje | 22 08 2009 @ 9.01.23
Ya Tuhan, sedih sekali bacanya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan, serta kebesaran hati untuk mengampuni pengemudi yang tanpa sadar sudah membunuh anak mereka. Soal hukuman buat si pengemudi, biar nanti peraturan yang bicara.
Cerita ini sekali lagi mengingatkan saya sendiri (yang suka meleng) untuk selaluuuuuu.. hati2, terutama waktu melewati daerah pemukiman, bagaimanapun sepi tampaknya :(((.
Bram | 22 08 2009 @ 7.06.44
Semoga arwah Blewah diterima di sisi-Nya.
gagahput3ra | 22 08 2009 @ 4.44.21
Inalillahi wa inaillahi rojiun….bagus banget mas tulisannya, bisa untuk merenung di hari pertama ramadhan…..semoga Rayhan disana tetep jadi kesayangan dan dipanggil blewah :(
geblek | 22 08 2009 @ 4.17.38
hidup dan mati ada ditanganNYA
selamat jalan blewah, semoga damai engkau disana.
turut berduka cita paman
Rusa Bawean™ | 22 08 2009 @ 2.30.13
inalillahi wa inaillahi rojiun
turut berduka cita yaaa
pinkparis | 22 08 2009 @ 1.57.36
turut berduka cita. semoga keluarga dan tetangga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
zenteguh | 22 08 2009 @ 1.10.30
inalillahi wa inaillahi rojiun. Ikut berduka cita paman. Memang, tak sedetikpun maut bisa diundur, dan kematian itu misteri yang manusia tak pernah bisa memecahkan. Insya Allah tempat terbaik di sisi Al-Ghaffaar untuk dik Blewah. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan. Doa saya untuknya. (salam)
godote | 22 08 2009 @ 0.29.35
ndherek belo sungkowo pak. mugi mugi arwahipun dipun tampi kanthi sae wonten ing swargi.
mastongki | 21 08 2009 @ 23.31.50
kita memang tidak pernah tahu di mana ujung itu…
turut berduka cita yang sedalam-dalamnya…