Notes. Masihkah Anda Memakainya?
SEBUAH CARA MANUAL, WARISAN BERABAD-ABAD.

Saya ambil kedua notes yang belum saya pakai itu dari laci. Beberapa notes lainnya, yang masih nganggur, sudah saya hibahkan. Ternyata saya jarang memakai notes lagi. Saya jarang menorehkan tulisan tangan sehingga tulisan saya makin buruk, apalagi usia terus bertambah.
Notes di era digital device ini. Ya, notes yang dilafalkan secara Indonesia: “no-tes”. Anda masih memakainya? Sekadar mencatat dari yang penting sampai tak jelas itu apa, sekedar menggambar denah lokasi sampai membuat gambar yang Anda sendiri tak paham?
Saya semakin jarang memakai notes. Bahkan pengumuman di papan tulis sekolah anak saya pun saya foto supaya saya tak mencatatnya. Poin penting pertemuan orangtua murid dan guru saya catat di BB, kemudian saya kirim ke FB anak saya.

Masih tentang notes yang tadi, di laci yang lain saya temukan dua notes tua ketika saya masih kuliah. Notes penampung apa saja: ada yang jelas terbaca, ada yang sulit saya baca. Ada pula gambar yang jelas tapi saya lupa kenapa saya buat itu.

Tentu saya masih ingat coretan yang saya bikin karena bosan menunggu pelayanan birokrasi, tapi saya lupa itu di kantor apa.

Ada gambar yang membuat saya takjub terhadap masa lalu. Beberapa gambar biasa, permainan optikal, yang muncul di banyak tempat (waktu itu belum ada halaman web), tapi dapat saya gambar ulang, dan itu mengingatkan saya kepada Shigeo Fukuda yang karyanya dipamerkan dalam pameran grafis Jepang di University Center, Bulaksumur (seingat saya, sih). Ingatan fotografis yang lumayan, karena saya masih muda, likuran tahun yang lalu.

Kedua notes tua itu dulunya punya kawan pendahulu yang sama ukurannya, bahkan sama desainnya. Berjilid ring, dengan sampul art carton yang kalau tidak bermotif kotak-kotak ya kembang-kembang. Notes yang seingat saya murah, bikinan Shanghai, RRC, tapi tak semua toko menjualnya, kecuali di Toko Siswa Muda, Jalan Urip Sumoharjo (Jalan Solo), Yogyakarta.
Salah satu notes memuat belasan judul buku berikut kodenya. Saya menyalin dari katalog sebuah perpustakaan untuk kemudian meminta pinjam kepada petugas — hanya boleh dibaca di tempat.

Saya lupa itu di perpustakaan mana, tapi yang jelas bukan perpustakaan fakultas karena kartu saya selama kuliah lebih sering kosong akibat saya jarang meminjam buku. Saya mahasiswa pemalas. Jarang baca. Kurang tekun. Bukan kutu buku. Mungkin karena itulah saya tidak tamat. Beda dengan teman yang lebih muda, misalnya R.M. Wicaksono, aktivis pers mahasiswa (dan lelananging kampus), yang selain bijak juga cerdas sehingga layak lulus. :P
Tapi judul-judul itu, tentang public housing dan urban development, tak ada dalam daftar mata kuliah jurusan saya. Juga buku arsitektur, buku grafis, kenapa saya dulu membacanya? Mungkin saya salah pilih sekolah. Ah, tidak juga, buktinya saya tak ingat lagi apa yang saya baca dari buku non-mata-kuliah saya itu. Minat saya dulu rasanya terlalu luas, tapi saya pembosan, mudah berganti “pelajaran”. Saya tidak pernah terfokus. Dan saya selalu merasa salah sekolah, bahkan salah dosen. :D
Notes lama membuat saya tersenyum sekaligus menggali ingatan. Termasuk ketika mendapati paraf saya yang sempat bertahan hingga awal saya bekerja. Paraf berupa burung. Ada juga yang berupa ikan. Semuanya dalam satu tarikan garis tanpa mengangkat pensil — konon, inilah ciri pemalas. Saya tak tahu kenapa dulu suka menggambar burung dan ikan sejak kecil, bukan naga atau harimau atau zebra atau kodok.
Kembali ke judul. Anda masih memakai notes? Untuk apa? Berapa bulan sekali berganti notes baru?
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Tahu Bacem February 8, 2012Temannya tempe bacem. Tapi paling enak itu ya bacem dengan tahu segitiga berkulit dan tempe mlenuk. Permalink | Leave a comment » […]postyorous menerous »»»
- Tahu Bacem February 8, 2012
Cicitcuit!- RT @didinu: @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 InkaSativa (Twinika Sativa F)
- @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 didinu (didinugrahadi)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Taman Prasasti bukan Taman Hati
September 18, 2006 by AntyoNASIB BEKAS MAKAM MODERN TERTUA DI DUNIA.
Kurang terurus. Boleh juga pakai istilah “tidak terurus”. Itu kesan saya ketika Ahad kemarin menyinggahi Taman Prasasti. Pelataran rumputnya mengering dan di sana-sini gundul. Sampah pengunjung bisa ditinggalkan di mana saja. Grafiti boleh tertuliskan.
Saya tak tahu apakah penguranglengkapan masih berlangsung, sehingga sayap patung masih akan ada [...]
Recent Comments
danang» milih golput aja ah..selama masih tokohnya itu2 ajah,,
Kaget» Apa kita nantinya ngga pada bingung Paman? kamus IT, kamus tehnik, kamus bahsa,….. kedepan akan muncul kamus2 lain. masalahnya cuma satu,… zaman sekarang yang serba sibuk melihat gadget, kapan buka kamus-nya?
mpokb» Aha, bagus nih buat rujukan.. Lalu entri semacam “kerudung wajib lapor” atau “jilbab Islam KTP”, masuk di kamus mana ya, Bang Paman? :D
askep» Saya sebagai salah satu pembuat karya di situ kok merasa tidak terkesan dengan kehadiran Foke dan pembantu2nya di situ. Oh, ada sih, saya terkesan dengan sulitnya ijin yang berbelit2, untuk acara yang mereka selenggarakan sendiri.
ewesewes» Beli ah!
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





lagi mulai pake buku no-tes lagi. hehe. bener, tulisan tanganku jadi jelek banget. kalo dulu tulisanku jelek, sekarang jeleknya tak terkalahkan. rasanya mesti biasain tulis tangan lagi nih.
Ilham recently posted..Black Swan: Sebuah Gejala Psikosis
memang kalau sensasi menulis itu lebih terasa kalau nulis pakek bulpen
tapi kalau pengen cepet ya pakek leptop
Jurnal Manajemen recently posted..Faktor Budaya Dalam Organisasi dan Manajemen di Indonesia
untuk bimbel sih masih, tp lebih sering nulis note di blog :D
—
Oh ya?
/tyo/
msh pakde ..soalnya enak buat nyoret nyoret hehehehe
—
Coretannya dimasukin ke blog…
/tyo/
masih banget…
saia punya banyak notes
tergantung kegunaan
satu untuk agenda kegiatan, satu untuk draft tulisan saia, satu untuk segala hal tentang dunia maya saia, satu lagi campuran yang ga tertampung sama yg di atas
Jadi make lagi, setelah skripsi butuh memo peneliti :P
—
Sekarang gak pake lagi? :P
/tyo/
gak pernah. kalo liat notes (no-tes) yg sampulnya lucu kadang saya beli tapi ya palingan dipake selembar dua lembar, setelah itu ilang atau nyelip entah di mana :D
—
Gak heran, Mbok! :P
/tyo/
masih Paman, buat nyatat jadwal2
ga enak rasanya kalau mau nyatat2 gitu aja mesti di laptop atau di hape
—
Gak tergantung baterai dan charger! :D
/tyo/
NOtes lama saya bentuknya kecil ukuran 2R. Isinya belanjaan pesanan ibu.
Lombok – 2kg.. kelapa – 1/2.. daun salam – 1500.. gula kelapa – 1/4kilo…
Karena mutu kertas masih semi-merang.. jadinya kalau kena gerimis mblobor dan tidak terbaca…
—
Jangan dibandingkan kertas Yellow Pages ya! :D
/tyo/
wahahaha, notes biasanya cm sekali pake aja om. skrg drpd boros dan sok cinta alam, saya pake notes digital aja :D
—
Top! :D
/tyo/
dulu saya menggunkan notes utk beragam keperluan. menulis diary, mencatat pengumuman, sampe nulis kerangka tulisan. sekarang, sangat jarang. hanya nyatat refrensi tulisan di perpus, ato bikin kerangka tulisan. btw, tulisan saya juga makin jelek.,
—
Sama dong! Saya juga! :D
/tyo/
dulu wkt masih remaja, suka notes yg warna warni plus wangi
sekarang suka notes yg polos putih tanpa garis biar bs buat corat coret
—
Yang polos memang lebih sip! :D
/tyo/
Masih pakai boss, kayak punya tukang kredit. Jadi ledekan dikantorku, maklum belum punya BB, karena ilang mulu ama Rexona hi…hi…
—
Lho Rexona? :D
/tyo/
membaca saja saya malas, Paman. apalagi menulis, di notes lagi
—
Tapi nulis komen. Terima kasih. :D
/tyo/
kelihatan mantab pakai notes,tekanan saat nulis pake pulpen itu sensasi sendiri,truss gak takut batre abis,cuma klo pake notes kecil itu kadang lupa ngeluarin dan kecuci :(
—
Lha, kecuci! :D
/tyo/
Notepad
—
Sip!
/tyo/
dalam satu tarikan pensil bisa ada matanya ditengah wow kereeeen….
—
Saya ralat: dua tarikan! Hahaha. Suwun.
/tyo/
saya masih tetap pake notes paman, buat nyatet berita acara rapat or oret2 kala bosan
—
Terutama corat-coretnya itu! :D
/tyo/