Pelajaran Mudik: Regenerasi Kengawuran
25 TAHUN KE DEPAN APAKAH INDONESIA BERES?

Kalau saja dalam arus mudik kemarin semua mau antre, maka setiap orang akan mendapatkan jalan. Memang harus menunggu, tetapi esensi antre adalah keadilan. Tiada privilese kecuali bagi ambulans dan mobil pemadam kebakaran.
Tetapi yang terjadi adalah penyerobotan di tengah antrean, di ruas jalan mana pun yang macet. Polisi kerepotan, bahkan putus asa. Seorang bintara duduk kelelahan di atas motornya yang dia parkir di tengah jalan, mengelap peluh, tak peduli lagi serobotan. Polisiwan lain dengan parau berteriak-teriak, “Bapak salah! Jangan ambil jalur orang lain! Antre! Antre! Antre!”
Sabar dulu. Saya tahu Anda bosan membaca ini karena sudah mengalaminya, setidaknya membaca di koran dan menonton televisi. Saya juga tahu Anda akan menukas soal buruknya polisi dalam manajemen arus lalu lintas mudik.
Maka baiklah, langsung ke pokok persoalan: pada titik tertentu para penyerobot dan pengekornya itu menghasilkan simpul kemacetan karena mobil dari arah berlawanan terhalang. Tak ada yang bisa bergerak dari masing-masing arah, kecuali petugas atau relawan turun tangan mengurainya.
Bukankah itu soal biasa? Benar. Tapi khusus dalam kasus mudik kita belajar potret sosiologis Indonesia yang menyedihkan. Sebagian besar pemudik adalah keluarga, membawa anak-anak. Maksud saya, para penyerobot pun membawa anak-anak. Mereka, para orangtua, sejak dini mengajari anak-anaknya untuk mengabaikan hak orang lain dengan cara menyerobot antrean.
Berkali-kali saya diserobot. Ujung-ujungnya adalah sebuah fait accompli. Ada saja mobil yang menyodok antrean. Lampu sen kiri dinyalakan. Jendela kiri dibuka. Tangan melambai minta jalan (sebagian besar tangan perempuan). Hidung mobil langsung memepet untuk beradu klaim asuransi.
Memang tak elok menyalakan street rage dalam sisa Ramadan. Tetapi ada saja yang melakukannya. Beberapa kali penyerobot yang tak saya beri jalan itu akhirnya bisa memaksa mobil di belakang saya untuk mengalah. Dari kaca spion tengah, saya bisa melihat alangkah riangnya keluarga penyerobot itu. Tak ada rasa bersalah. Kenekatan dan ketidakmaluan si ayah adalah kejohanan. Mungkin, bagi orang tertentu, yang beginian bukanlah wilayah akhlak — lain halnya dengan busana, air api, dan aktivitas seksual pribadi.
Saya tak habis pikir kenapa para istri tak menegur suaminya agar tak main serobot (begitu pula sebaliknya kalau istri gantian nyetir) — mungkin ini serupa sebagian istri tak mengingatkan suami agar tak ikut korupsi. Penyakit Jakarta, termasuk melibas bahu jalan, dibawa hingga ke luar kota. Tanpa rasa malu. Dari mobil Rp 48 juta sampai Rp 480 juta lebih sama saja perilakunya — mirip citra stereotipikal sopir angkot. Anak-anak mereka belajar dari orangtuanya tentang cara berlalu lintas tanpa kesopanan, tanpa malu, tanpa rasa bersalah.
Dan kita tahu, cara berlalu lintas menunjukkan tingkat keberadaban. Di Jakarta, anak-anak belajar dari orangtuanya bahwa melintasi bahu jalan tol bukanlah kebodohan (itulah sebabnya ambulans bisa lama banget tiba di tujuan); anak-anak belajar bahwa melangkahi garis marka (yang bukan garis putus-putus) itu mengabaikan keselamatan dan kelancaran orang lain; anak-anak juga belajar bahwa lampu sen dari pabrik itu hanya hiasan. Menyedihkan.
Saya berharap kekhawatiran saya ini salah: sampai 25 tahun ke depan masyarakat kita akan tetap ngawur.
Alasan pembenarnya sih tetap: “Habis, orang lain juga gitu sih.” Atau: “Ngapain jadi orang manis kalau kalah mulu, mendingan jadi orang nakal sekalian”. Didukung oleh korupsi dan lemahnya penegakan hukum, anak-anak itu akan semakin menghalalkan segala cara — tak hanya di jalan raya tetapi juga jalan nafkah.
Selamat datang di Indonesia yang akan semakin selfish. Kalau orang lain dirugikan, itu salah mereka kenapa mau dirugikan. Giluran kita yang dirugikan maka kita pun bicara hak — tapi lupa pernah jadi pelaku. Entah kenapa kita tak pernah bosan dengan lagu keputusasaan, “Habis, sistemnya gitu sih. Kita mah ngikut aja. Ah udahlah, presiden aja gak bisa perbaikin keadaan apalagi kita.”
Saya berharap kekhawatiran saya salah. Tapi saya, dan Anda, juga tahu bahwa Indonesia kelak berada dalam pengurusan anak-anak itu, apapun profesi mereka.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Pedagogi Buruk di Luar Kampus IPDN
April 16, 2007 by AntyoJIKA BEGINI TERUS MAKA….
“Jadi, mereka selama ini nggak dihukum, Pak?” mata polos bocah itu menatap lekat sambil memegang koran.
Mereka yang dia maksud adalah para terdakwa dan terpidana pembunuh siswa STPDN (kini IPDN) Wahyu Hidayat pada 2003. Mereka tetap bisa berkarier di birokrasi, termasuk yang masih merasa menunggu keputusan [...]
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Tulisan ini perlu di-share di Facebook, Twitter ataupun yang lain. Meski sudah jauh dari lebaran, tulisan ini masih relevan buat para pengemudi di kota-kota besar :)
salah satu alasan mengapa saya pergi dari Indonesia, supaya anak saya bisa menjadi orang yg lebih beradab.
—
Aha!
/tyo/
tak perlu menunggu mudik, setiap hari saya selalu melihat hal tsb paman, nggak pas macet, nggak pas antri lampu merah, antri atm pun begitu(walau kadang ngga semua). ingin rasanya memarahi, tapi takut masalah makin panjang, akhirnya hanya bisa menyindir, itupun malah dibalas cibiran dari mereka.
25 tahun lagi? semoga saja…..
—
Masih untung dicibir. Saya menegur penyerobot dengan klakson malah dibalas dengan buka jendela, melotot, gerakkan dagu ke atas…
/tyo/
sebenernya privilege itu bisa diterjemahkan jadi keistimewaan gak sih? susah ya, kurang pas….
disiplin harus diterapkan
wah marah nih
—
Hanya sedih. Prihatin. :D
/tyo/