Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Pelajaran Mudik: Regenerasi Kengawuran

Rabu, 23 September 2009 @ 03:36 | Komedi Indonesia

25 TAHUN KE DEPAN APAKAH INDONESIA BERES?

Kalau saja dalam arus mudik kemarin semua mau antre, maka setiap orang akan mendapatkan jalan. Memang harus menunggu, tetapi esensi antre adalah keadilan. Tiada privilese kecuali bagi ambulans dan mobil pemadam kebakaran.

Tetapi yang terjadi adalah penyerobotan di tengah antrean, di ruas jalan mana pun yang macet. Polisi kerepotan, bahkan putus asa. Seorang bintara duduk kelelahan di atas motornya yang dia parkir di tengah jalan, mengelap peluh, tak peduli lagi serobotan. Polisiwan lain dengan parau berteriak-teriak, “Bapak salah! Jangan ambil jalur orang lain! Antre! Antre! Antre!”

Sabar dulu. Saya tahu Anda bosan membaca ini karena sudah mengalaminya, setidaknya membaca di koran dan menonton televisi. Saya juga tahu Anda akan menukas soal buruknya polisi dalam manajemen arus lalu lintas mudik.

Maka baiklah, langsung ke pokok persoalan: pada titik tertentu para penyerobot dan pengekornya itu menghasilkan simpul kemacetan karena mobil dari arah berlawanan terhalang. Tak ada yang bisa bergerak dari masing-masing arah, kecuali petugas atau relawan turun tangan mengurainya.

Bukankah itu soal biasa? Benar. Tapi khusus dalam kasus mudik kita belajar potret sosiologis Indonesia yang menyedihkan. Sebagian besar pemudik adalah keluarga, membawa anak-anak. Maksud saya, para penyerobot pun membawa anak-anak. Mereka, para orangtua, sejak dini mengajari anak-anaknya untuk mengabaikan hak orang lain dengan cara menyerobot antrean.

Berkali-kali saya diserobot. Ujung-ujungnya adalah sebuah fait accompli.  Ada saja  mobil yang  menyodok antrean. Lampu sen kiri dinyalakan. Jendela kiri dibuka. Tangan melambai minta jalan (sebagian besar tangan perempuan). Hidung mobil langsung memepet untuk beradu klaim asuransi.

Memang tak elok menyalakan street rage dalam sisa Ramadan. Tetapi ada saja yang melakukannya. Beberapa kali penyerobot yang tak saya beri jalan itu akhirnya bisa memaksa mobil di belakang saya untuk mengalah. Dari kaca spion tengah, saya bisa melihat alangkah riangnya keluarga penyerobot itu. Tak ada rasa bersalah. Kenekatan dan ketidakmaluan si ayah adalah kejohanan. Mungkin, bagi orang tertentu, yang beginian bukanlah wilayah akhlak — lain halnya dengan busana, air api, dan aktivitas seksual pribadi.

Saya tak habis pikir kenapa para istri tak menegur suaminya agar tak main serobot (begitu pula sebaliknya kalau istri gantian nyetir) — mungkin ini serupa sebagian istri tak mengingatkan suami agar tak ikut korupsi. Penyakit Jakarta, termasuk melibas bahu jalan, dibawa hingga ke luar kota. Tanpa rasa malu. Dari mobil Rp 48 juta sampai Rp 480 juta lebih sama saja perilakunya — mirip citra stereotipikal sopir angkot. Anak-anak mereka belajar dari orangtuanya tentang cara berlalu lintas tanpa kesopanan, tanpa malu, tanpa rasa bersalah.

Dan kita tahu, cara berlalu lintas menunjukkan tingkat keberadaban. Di Jakarta, anak-anak belajar dari orangtuanya bahwa melintasi bahu jalan tol bukanlah kebodohan (itulah sebabnya ambulans bisa lama banget tiba di tujuan); anak-anak belajar bahwa melangkahi garis marka (yang bukan garis putus-putus) itu mengabaikan keselamatan dan kelancaran orang lain; anak-anak juga belajar bahwa lampu sen dari pabrik itu hanya hiasan. Menyedihkan.

Saya berharap kekhawatiran saya ini salah: sampai 25 tahun ke depan masyarakat kita akan tetap ngawur.

Alasan pembenarnya sih tetap: “Habis, orang lain juga gitu sih.” Atau: “Ngapain jadi orang manis kalau kalah mulu, mendingan jadi orang nakal sekalian”. Didukung oleh korupsi dan lemahnya penegakan hukum, anak-anak itu akan semakin menghalalkan segala cara — tak hanya di jalan raya tetapi juga jalan nafkah.

Selamat datang di Indonesia yang akan semakin selfish. Kalau orang lain dirugikan, itu salah mereka kenapa mau dirugikan. Giluran kita yang dirugikan maka kita pun bicara hak — tapi lupa pernah jadi pelaku. Entah kenapa kita tak pernah bosan dengan lagu keputusasaan, “Habis, sistemnya gitu sih. Kita mah ngikut aja. Ah udahlah, presiden aja gak bisa perbaikin keadaan apalagi kita.”

Saya berharap kekhawatiran saya salah. Tapi saya, dan Anda, juga tahu bahwa Indonesia kelak berada dalam pengurusan anak-anak itu, apapun profesi mereka.

Ada 55 komentar | trackback | Depan

#55

Rahmat Hidayat | 30 10 2009 @ 11.39.44

salah satu alasan mengapa saya pergi dari Indonesia, supaya anak saya bisa menjadi orang yg lebih beradab.

Aha!
/tyo/


#54

Bambang Puji | 22 10 2009 @ 16.10.46

tak perlu menunggu mudik, setiap hari saya selalu melihat hal tsb paman, nggak pas macet, nggak pas antri lampu merah, antri atm pun begitu(walau kadang ngga semua). ingin rasanya memarahi, tapi takut masalah makin panjang, akhirnya hanya bisa menyindir, itupun malah dibalas cibiran dari mereka.

25 tahun lagi? semoga saja…..

Masih untung dicibir. Saya menegur penyerobot dengan klakson malah dibalas dengan buka jendela, melotot, gerakkan dagu ke atas…
/tyo/


#53

melly | 16 10 2009 @ 11.14.41

sebenernya privilege itu bisa diterjemahkan jadi keistimewaan gak sih? susah ya, kurang pas….


#52

fajar | 13 10 2009 @ 14.03.06

disiplin harus diterapkan


#51

adrian | 06 10 2009 @ 13.36.48

wah marah nih

Hanya sedih. Prihatin. :D
/tyo/


#50

boyin | 06 10 2009 @ 12.17.34

Jangan salah paman, memang banyak keluarga yang memang dari keluarganya gak punya etika. sering2 aja kumpul arisan atau pertemuan antar keluarga, ntar paman gak akan heran kenapa pejabat ini suka korupsi, atau keluarga ini sak keluarga ngomongnya kasar, nyelekit, dll. dan itu jebule terlihat dari cara mereka ngantri, di mobil sampe di buffet makanan.

Hahahahaha… gitu ya?
/tyo/


#49

gareng | 06 10 2009 @ 10.39.43

walah, kok saya gak ngerasain macet ya.. ?
Oh iya , saya berangkat je jogja seminggu sebelum lebaran dan balik ke jakarta seminggu 10 hari setelah lebaran ding…

Baguslah :D
/tyo/


#48

edratna | 04 10 2009 @ 10.07.48

Ga bisa komen paman…kayaknya budayanya: kalau melanggar aturan itu yang “gaya”
Sedih rasanya.

“Gaya”? Waduh. Memprihatinkan. :( Tabah, Bu…
/tyo/


#47

Fiz | 02 10 2009 @ 7.11.19

Ooo, jadi pas mudik kemarin Paman keluar mobil terus masuk ke rumpun pisang dan motret-motret gitu??? :D

Mumpung masih dalam suasana lebaran, mohon maaf atas segala spam dan khilaf Paman… :)

Saya lagi pipis di kebon, lha wong macetnya keterlaluan :D
/tyo/


#46

dandy psikoui | 30 09 2009 @ 12.09.39

yang salah bukan manajemen lalu lintas polisi maupun dinas perhubungan, tetapi adalah tipikal masyarakat Indonesia yang kebanyakan tidak peduli akan yang namanya keselamatan.
janganlah terus2an hanya menkritiki para aparat, mereka telah berusaha dan berpikir keras agar kita bisa lancar dan aman berada di jalan, yang seharusnya kita lakukan adalah merubah perilaku diri kita sendiri.

Benar! Terima kasih. :)
/tyo/


#45

parta suwanda | 30 09 2009 @ 9.55.34

andai semua orang pemikirannya seperti paman, saya yakin semua akan tertib dan rapi baik di jalan maupun di kantor yah…

Weh, gak gitu Mas. Pakabar? :)
/tyo/


#44

pututik | 30 09 2009 @ 7.07.25

bagaimana mau negor suami pak, sang istri sendiri sudah merasa lelah juga. jika naik motor karena bau asap serta panas yang nggak ketulungan atau jika naik mobil mereka tertidur dengan pulas. Kasihan memang mudik bawa anak2 naik motor jarak jauh pula, kecelakaan berulang kali terlihat oleh mata kepala saya sendiri. Beres tidaknya negeri ini tergantung kira bersama mau diajak baik apa buruk. Tetap semangat!!

Terima kasih atas renungan Anda. :)
/tyo/


#43

galihsatria | 29 09 2009 @ 20.47.54

Ah, paman, saya juga sempat menuliskan keluhan mirip ini sebelum mudik kemarin. Sungguh ironis melihat orang saling serobot demi mendapatkan buka puasa tepat waktu. Lalu dimana esensi puasa ramadhan-nya? hehehe

Khusus untuk “nubras-nubras” saat puasa, saya gak berani nulis. Terima kasih. :)
/tyo/


#42

andrias ekoyuono | 29 09 2009 @ 10.16.34

Alhamdulillah, saya dan keluarga mungkin termasuk yang berprinsip disiplin dan mau diatur.

Gak tega rasanya bila kita memaksakan kehendak, soalnya kebayang bapak2 polisi,dllajr, kesehatan,dll yang gak berlebaran demi perjalanan mudik kita. Pas sebelum lebaran, denger cerita dirjen perhubungan darat yang sudah 30 tahun gak mudik berlebaran

Ya, ya, ya. Menyentuh. Istri saya yang selama perjalanan telaten menyapa polisi yang kelelahan stres ngatur kemacetan. :)
/tyo/


#41

alhakim | 29 09 2009 @ 8.40.42

betul paman, orang tua seharusnya memberikan contoh yang baik buat anaknya.

Kalau tidak ada kesadaran diri untuk tertib berlalu lintas, susah juga paman. moga para penyerobot yang baca tulisan paman bisa jadi sadar

Yeah, PR bersamalah itu. :)
/tyo/


#40

Wandi thok | 29 09 2009 @ 1.10.06

Mimange paman pulkamnya kemanya to? Solokah? Nek ho-o berarti podho aku no :roll: Hidup AD… :lol:

Ndak sampe Solo, je. Hidup H… :D
/tyo/


#39

ebeSS | 28 09 2009 @ 15.32.15

roda terus berputar
tinggal kita mengalami nggak 25 tahun lagi :)

Wah ndak je, kayaknya! :D
/tyo/


#38

Ndoro Seten | 28 09 2009 @ 13.12.49

Di Indonesia ini semua konsep tentang aturan, nilai dan norma senantiasa bagus….namun semua orang menginginkan semua orang taat aturan dan norma, kecuali dirinya sendiri boleh melangggar, dan cilokone semua orang berpikir dengan cara yang sama! edaaaan emang!

Lha terus piye, Mas? :)
/tyo/


#37

oscar | 28 09 2009 @ 10.33.44

dan saya bingung kenapa tiap tahun orang dari berbagai macam strata memaksakan untuk bisa mudik…
—-
Ya! :D
/tyo/


#36

Zulhaq | 26 09 2009 @ 8.47.02

itulah cerminan masyarakat negeri ini. nggak serobot nggak seru katanya…seandainya para penyerobot itu menyadari akan nilai keselamatan dan kenyamanan, tentu tidak ada hal2 demikian.

dan anehnya mengatakan “lah, orang lain juga gitu kok”. kenapa yang jelek di jadikan panutan. kenapa gak mengikuti yang baik2 saja…

saya nggak yakin 25 tahun kedepan indonesia akan beres. karena kalo kita lihat kebelakang, tak ada perubahan yang signifikan untuk 25 tahun terakhir ini. yang ada malah tmabah nggak beres seiring dengan kemajuan jaman

Gimana dong kalo gak beres… Sedih saya :(
/tyo/


#35

Yodhia @Blog Strategi + Manajemen | 26 09 2009 @ 8.28.13

Kalau jalanan macet di Sudirman dan Kuningan, saya kok merasa para driver-nya cukup santun dan rapi.

Saya kira sebagian besar driver mobil pribadi di Jakarta cukup sopan dan santun, serta terdidik.

Saya salah satu diantaranya…:)

Salut. Bener, di business district rada “beradab”. Tapi… :)
/tyo/


#34

Oelil | 25 09 2009 @ 21.15.08

Semoga kekhawatiran Paman salah….semoga…

Saya lega jika terbukti salah :)
/tyo/


#33

wongiseng | 25 09 2009 @ 20.47.41

Kadang memang tidak sadar bahwa kengawuran itu bisa diturunkan, dan ngawur di depan anak-anak berarti sedang mewariskannya. Terimakasih sudah diingatkan.

Nah itu dia. Mari. :)
/tyo/


#32

kang adya | 25 09 2009 @ 18.14.54

saya melihatnya optimis masyarakat indonesia akan lebih disiplin jika disiplin itu dimulai dari diri kita, keluarga, kerabat dan teman2 kita sendiri. Barangkali tidak menunggu sampai 25 tahun untuk mewujudkannya. tetap semangat bung.

Mari.
/tyo/


#31

ATM TUKANG™ | 25 09 2009 @ 15.16.37

karena pada ingi cepat sampai tujuan,apapun jalanya semuanya di halalkan

Klasik juga ya?
/tyo/


#30

ancilla | 25 09 2009 @ 14.42.37

sedih ya paman kalau melihat hal-hal seperti itu. seharusnya kan ini negara penuh sopan santun… apalagi hal-hal seperti ini ternyata terjadi di bulan yang penuh maaf…

yah, bingung juga mau jawab pertanyaan paman “25 tahun ke depan apakah indonesia beres?”. mungkin memang masalah akan selalu ada, tapi ah entahlah…

yah begitulah. :)
/tyo/


#29

Dinda | 25 09 2009 @ 8.15.16

ikut juga berdoa supaya kekhawatiran paman salah. Amin.

Amin. :)
/tyo/


#28

j4p | 25 09 2009 @ 5.40.15

**acung jempol buat paman**

Kok jempol. Mestinya angpau. :)

/tyo/


#27

Embun | 25 09 2009 @ 0.25.31

paman, ..eee..anu… saya ndak paham istilah ‘kejohanan’ itu apa? *serius*

Kadang memang mudik sesuai harfiahnya adalah meng-udik… pelakuknya kembali ke udik.. baik lokasi tujuan maupun perilakunya.. begitukah??

Emang perilaku orang udik gimana mas? Ngenyelk ini. :D
/tyo/


#26

Faye | 24 09 2009 @ 20.55.10

Yang naik motor apa lagi, karena kecil sering nyelip2, nyerobot jalurnya mobil padahal udah dikasih jalur kiri. Sampai pernah liat polisi yang hilang kesabaran dan bilang gini ke pengendara mobil yang barusan diselip, “tabrak aja, Pak!”


#25

haris | 24 09 2009 @ 20.38.34

kebanyakan emang begitu paman. tapi saya kira dg tidak turut bersikap sama dg mereka, kita telah memulai sesuatu yang, meski sangat kecil, tapi baik dan berguna.


#24

dilla | 24 09 2009 @ 20.34.21

susah kalo sudah membudaya :|
orang yang ‘bener’ dalam berlalu lintas sangat sedikit, dan kalau kepepet bisa jadi ikutan ngawur..


#23

Zam | 24 09 2009 @ 19.56.34

Setuju!


#22

godote | 24 09 2009 @ 14.07.52

Tulisan yang sip sekali om.
Saya salah satu penganut “misuh2 kalau diserobot, jika perlu akan saya pepet agar ketanggor cagak anim”
di jalan raya serpong tepatnya di U-turn depan Giant, saya selalu berharap ada mobil yang nyerobot dari arah kiri saya. dan kalau ada, pasti saya giring sampai ujung jalan seberang, agar ngalang dan mepet ke trotoar. hehe nakal tapi mantap!


#21

Zakki | 24 09 2009 @ 12.39.48

antara kendaraan pribadi (mobil & motor) dan angkutan umum tidak ada bedanya. liat aja di tv, naek kereta saja sampe uyel-uyelan meski jauh2 hari pt.ka sudah mengumumkan menambah gerbongnya, tp tetep saja gak muat buat mudik


#20

dita.gigi | 24 09 2009 @ 11.32.12

untunglah saya ndak pernah mudik… :lol:


#19

mpokb | 24 09 2009 @ 8.56.12

mengajari anak untuk ngawur secara terang2an.. lalu menyalahkan sekolah kalau si anak bermasalah.. :(


#18

bayoewebid | 24 09 2009 @ 7.59.46

saya juga mengalami hal ini 4 tahun yang lalu. jalan yang seharusnya 2 lajur diserobot mejadi 4 lajur. al hasil terjadi bottleneck dan kemacetan yang sangat parah..

seharusnya polisi khususnya lantas bertindak tegas atas penyeroboton ini , langsung tilang saja. masa udah tahu jalanan padat tetap saja nyerobot. betul.. betul.. betul.. ? (ipin style).


#17

Mas Kopdang | 24 09 2009 @ 1.40.34

ah, semua memang sama Mase’.
persis tata kelola negeri ini. asalkan “kepala” sudah masuk, bagian “belakang” tinggal menyesuaikan.

:D


#16

afithk | 23 09 2009 @ 20.48.30

mindset paman.. :D benahi itu..hahahaha


#15

BlogDokter | 23 09 2009 @ 18.37.32

Tradisi lebaran tanpa kekacauan mudik bagaikan sayur tanpa garam. :)


#14

pitik | 23 09 2009 @ 16.15.24

aku ga mudik om…hehehe,ojo lali oleh2e yo..


#13

geblek | 23 09 2009 @ 15.14.43

kalau gak ada cerita spt ini berarti bukan indonesia lagi paman :)


#12

Erwin M | 23 09 2009 @ 14.03.39

Anak belajar dari banyak hal, termasuk bagaimana perilaku orang tua dalam keseharian. Di masa depan, negeri ini akan ditentukan dari pendidikan yang diberikan orang tua (baca : kita) saat ini. Masalahnya, perilaku buruk yang kita pertontonkan sehari-hari itu, darimana kita mempelajarinya ya? Padahal orang tua kita dahulu sangat santun dan selalu mencontohkan hal-hal baik.


#11

hedi | 23 09 2009 @ 12.55.41

terus terang, aku selalu jalan kencang, tapi tidak ngebut (kencang & ngebut beda, cepat dan terburu2 beda). Tapi aku ga pernah neroboso lampu merah dan berusaha tidak melanggar apapun aturan, termasuk marka….cuma satu alasannya: jika kita sebel sama supir angkot yg ugal2an, maka kita jangan ugal2an pula. :D


#10

sawung | 23 09 2009 @ 11.55.56

kalimalang macet total gara-gara hal seperti itu. polisinya sampe pundung(purik).


#9

jun | 23 09 2009 @ 10.18.40

Tulisan yang bisa membuat malu banyak orangtua —termasuk saya, yang sehari-hari berkendara sepeda motor. Karena, bahkan sedang tidak dalam situasi mudik pun banyak orangtua, sengaja atau tidak, telah mengajari anak-anak mereka tak sopan dalam berlalu lintas, entah saat naik mobil pribadi maupun naik sepeda motor.


#8

Wempi | 23 09 2009 @ 9.13.49

Kabarnya budaya serobot, bakal di klaim juga oleh malaysia ;p


#7

Gunawan | 23 09 2009 @ 9.06.17

Menurut saya ini ada unsur PEMBIARAN. Maka proses serobot - anti antrian - akan terus berlangsung. Sudah saatnya PEMBIARAN akan hal2 yg sepertinya kecil seperti ini dihindari. Protes lah, tegurlah, jangan segan menegur penyerobot.


#6

Nugroho | 23 09 2009 @ 8.34.33

Situasi seperti ini tidak cuma kita lihat ketika mudik lebaran saja. Cobalah tengok dihari-hari biasa di kota besar Indonesia, saling serobot dan pelanggaran lalu lintas itu menjadi hal yang lumrah. Yang ditakutkan adalah bagaimana jika ini menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia. Diturunkan ke anak cucu dan telah mendarah daging. Hanya bisa berharap dan berdoa semoga ini tidak terjadi


#5

Ahmad | 23 09 2009 @ 8.18.31

Padahal lebaran di sini tidak hanya sekali, malah bisa lima kali. Seharusnya, pemudik terpecah menjadi pelbagai gelombang kedatangan. Ternyata, tetap macet.

Mungkin, di sini, latihan kesabaran yang sesungguhnya.


#4

ilham saibi | 23 09 2009 @ 7.59.43

[Like this]
Alhamdulillah saya masih bisa sabar kalo macet (soale cuma pake motor)


#3

DV | 23 09 2009 @ 7.18.24

Tulisan ini bertema usang tapi nuansa baru. Entah karena penulisnya bagus atau ‘materinya’ selalu terbarui di lapangan :)

Tapi yang pasti yang saya tahu, Paman memang pandai menulis :)


#2

Bram | 23 09 2009 @ 6.07.42

Semoga saya bisa menjadi pengemudi yang teladan kelak, belum bisa nyetir saya.


#1

Mohammad | 23 09 2009 @ 4.33.26

Siapkan tombol “Suka” di bawah artikel ini macam di Fesbuk, niscaya akan saya pencet.