Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Pesta Blogger 2009 dan Relevansi Blog

Sabtu, 24 Oktober 2009 @ 04:29 | Umum

KETIKA KONTEN PRIBADI MENEMUKAN BANYAK SALURAN.

“Ngapain aja teman-teman itu bikin Pesta Blogger? Ngeblog udah nggak hype lagi. Sekarang cukup ngikut FB ama Twitter udah bikin kita eksis,” kata seseorang yang sudah lama stop ngeblog, tapi ketika ngeblog pun juga jarang update. Oh! Eksis. Ehm.

Baiklah. Itu soal pilihan. Saya menghormati. Toh misalkan dia politikus, anggota DPR pula, pilihan itu tak merugikan negara dan rakyat.

Pesta Blogger 2009 (PB 2009) juga pilihan. Bagi yang bikin maupun datang. Inilah kopdar akbar. Kata orang, salah satu perbedaan bloggers Indonesia dengan beberapa negara lain adalah… suka kopdar bahkan membangun komunitas.

Kopdar dan berkelompok secara nyata itu tak hanya mendatangkan rasa nyaman, punya kawan, tetapi bisa memelihara rasa untuk tetap ngeblog. Setidaknya postingnya dibaca kawan sekaum. Begitulah harapannya.

Masih Perlukah Ngeblog?

Menurut saya masih. Tapi kata “perlukah” saya revisi menjadi “menarikkah”. Adapun Facebook (FB) dan Twitter, serta layanan mikroblog dan jejaring sosial, bagi saya adalah sarana komplementer bagi bloggers. Bahkan sebetulnya tak hanya komplementer (”ya ini, ya itu”) tetapi dalam kasus tertentu justru merupakan paduan konvergen.

Ngeblog dengan “cara lama” tetap menarik karena tak semua perasaan dan pikiran cukup disampaikan dalam kemasan teks sesuai kuota SMS.

Di sisi lain, kalau kurang waktu menulis, dan terlebih memang tak semua hal harus dibahas berkepanjangan, ada wadah yang disediakan oleh mikroblog.

Kelebihan mikroblog adalah berjejaring — kecuali penggunanya memang sejak awal ingin mencemplungkan pesan buat diri sendiri. Mikroblog juga mempermudah content sharing, termasuk posting dari blog sendiri.

Konten Pribadi dan Konversasi

Sebagian orang secara sinis menyebut media sosial dan jejaring sosial (keduanya akhirnya memang berkonvergensi karena dukungan teknologi) hanya menjadi tempat penyaluran hasrat eksibisionistis. Pamer. Pelakunya, maupun aksinya, secara salah kaprah disebut sebagai “narsis” — maksudnya sih “narsisis” dan “narsisistis”. :P

Lalu? Kondisi dunia blog sudah berbada dari lima tahun lalu. Sekarang kian layanan kian diperkaya (ingat Blogspot yang dulu tak bisa dikomentari?), mesin blog seperti WordPress terus berkembang, dan yang lebih penting ini: layanan mobile kian mempermudah urusan dalam “berstatus” dan berkonversasi.

Aha! Konversasi! Ya, memang itulah pendorong utama kegiatan bermedia sosial. Blog yang dulunya cuma tumpahan pribadi yang dapat dibaca publik, tapi tak jelas publik itu siapa (kecuali berkomentar), akhirnya mendapatkan wadah dan cara untuk memperjelas siapa yang kita tuju dan respon apa yang kita harapkan. Dengan si Taufik kita bicara politik, dengan si Upik kita bicara lipstik.

Tapi bagi saya ada yang lebih menarik. Media sosial telah memperjelas informasi apa yang menarik dan dibutuhkan oleh khalayak. Apa yang diberikan oleh media terlembagakan (ya, maksud saya mainstream) tak semuanya menarik, tak semuanya penting, tak semuanya memenuhi kebutuhan.

Jika dan hanya jika layak, maka sebuah berita akan dibagikan dan terus berbiak. Peran peer groups sangat penting, melebihi tuan editor yang sok tahu. Bahwa orang hanya akan mendapatkan informasi sekilas, tanpa kedalaman, itu soal yang lain lagi — ingat penyebaran berita sidang pertama Antasari yang lebih heboh di urusan kamar? Bahwa kecenderungan itu (termasuk peran peer groups) akan dimanfaatkan oleh banyak pihak — sejak politik sampai pemasaran produk — itu juga soal yang lain lagi.

Kejenuhan dan Kompetisi

Sebagian bloggers mulai jarang meng-update blognya dengan alasan, “Capek nulisnya, tapi sepi.” Saya maklum bahkan setuju. Apalagi jika untuk menulisnya sangat bergantung kepada komputer dan internet kantor (dan warnet) seperti lima tahun lalu, ketika laptop masih mahal dan mobile internet belum meluas.

Menulis teks lebih dari 140 karakter, tanpa dipenuhi singkatan, memang melelahkan. Sudah begitu tak ada yang membaca apalagi mengomentari. Padahal bagi umumnya bloggers, ramainya komentar adalah kenikmatan.

Tapi kita harus realistis. Sehari tetap 24 jam, dan yang sepertiga untuk tidur. Misalkan kemampuan membaca mengalami percepatan sepuluh kali lipat, jumlah blog (terutama kontennya) sekarang sudah terlalu banyak. Aplikasi reader sudah kewalahan. Jika ditambah Facebook dan Twitter maka belantara teks itu kian dan terus merimbun tanpa kita ketahui batasnya.

Ujung-ujungnya atas nama waktu adalah seleksi. Siapa yang menulis, apa yang ditulis. Ujung-ujungnya bagi orang tertentu, disadari atau tidak, adalah kompetisi dalam menghasilkan dan mempublikasikan konten. Ada persaingan untuk mendapatkan perhatian bahkan respon (komentar) dan reaksi (bookmarking, sharing).

Justru di situlah konten blog model lama (menulis melebihi SMS), yang enak dibaca dan “bernilai”, tetap punya tempat. Jika didukung oleh SEO, komunitas, dan layanan “cross-posting” (sekali menulis di Politikana dan Ngerumpi sekaligus untuk blog pribadi) serta sharing melalui mikroblog dan jejaring sosial, maka konten itu semakin terbaca — setidaknya terdokumentasikan.

Setidaknya kalau tak dibaca hari ini masih akan dibaca orang, termasuk si penulis, pada lain waktu — syukur jika bisa menjadi jadi rujukan bagi orang lain.

Dokumentasi dan Sejarah

Kalau bicara soal “konten bernilai”, bagi saya itu tak terbatas pada cara ngeblog model lama seperti ini. Apa yang ada di Twitter dan Facebook juga bisa bernilai. Dari sana kita bisa memahami trending topics tentang banyak hal.

Lima tahun lagi — oh tak sampai selama itu — kita bisa becermin dari kepingan potret sosial kita. Saat itu kita akan mendapatkan contoh posting unik dan menggigit tentang kebahagian memikiki BlackBerry pertama.

Tak sampai lima tahun lagi kita akan mengetahui kafe manakah yang pernah menjadi favorit tapi tutup. Kalau mau contoh terdekat, McDonald’s pun (akan) tinggal kenangan.

Tak sampai lima tahun lagi, beberapa dokumen Wiki akan mendapatkan tambahan info tentang aksi komunal — dari pembelaan untuk Prita sampai penanganan kesiapan menghadapi bencana — yang diaktivasi oleh jejaring sosial dan mikroblog.

Spirit ngeblog tetap relevan — bagi yang doyan dan bisa menulis. Salurannya kian beragam. Tak ada yang perlu dicemaskan (berlebihan). Sampai jumpa di PB 2009.

© Sumber ilustrasi: logo Pesta Blogger 2009 ada pada Ekko Edi Sucipto dan panitia; coretan ikon oleh Spoongraphics

Ada 67 komentar | trackback | Depan

#67

denioktora | 27 12 2009 @ 18.40.26

menurut saya blog tetap relevan bagi mereka yang mencintai dunia jurnalistik dan tulis-menulis. bahkan para pencinta sastra (penulis novel, cerpen, dan puisi) menggantungkan passion mereka lebih kepada Blog. karena bagaimanapun microblog seperti Twitter di design hanya untuk menulis konten yang lebih singkat, padat, dan mungkin tidak terlalu penting untuk dibaca.

:)


#66

rama | 13 11 2009 @ 16.58.20

saya baru 4 hari bikin blog pertama saya.. karena saya pikir FB n Twitter ngebosenin lho..
terbalik ya…


#65

edratna | 07 11 2009 @ 18.51.37

Saya tetap suka ngeblog paman, walau belakangan jarang update, selain sibuk juga internet di rumah lagi nggak beres.

Sayangnya tak bisa hadir di PB09, karena harus tugas ke luar kota sejak 21-31 Oktober 2009….


#64

Wiwied | 06 11 2009 @ 12.40.10

hm,,,,, daku malah baru anak baru nih di blog kaum… abisnya sebelumnya pas lagi maen2 FB diriku lihat ternyata pada punya URL yang menarik2… trus baru lirik Blog deh,,, malah kebalik ya sama artikel Paman…?
Tapi paman, aku gak nyesel kok udah mulai nge blog, soalnya seperti paman bilang, masih ada harapan kalo ada yang bakal ngebaca blog kita, ya kan?
Paman? menurut aku, blog itu bisa jadi “celengan” investasi yang prospektif,,, cuma ya mungkin kudu sabar kali ya?? maklum, aku baru mulai oktober kemaren… heuheu


#63

rhs-komp | 04 11 2009 @ 19.14.25

dari blog kita kembali menemukan gairah menulis… satu hal dari sifat manusiawi utk berbagi. masalahnya hal itu berguna, dgn bahasa yg santun dan tidak kepanjangan… tampaknya menjadi penting


#62

ardianzzz | 04 11 2009 @ 14.46.12

satu lagi…
bicara politik dengan Taufik??
Hahahaha maen maen nih…


#61

ardianzzz | 04 11 2009 @ 14.45.37

saya juga tersenyum saat membaca kata ‘eksis’…
Yeah, saya rasa, sadar tidak sadar kita benar-benar mengharapkan eksistensi di dunia blog ini. bagi saya pribadi, eksistensi di dunia maya bukanlah dengan cara aktif mengupdate status atau mengupdate template blog hehe.. jujur saja, dalam berblogging ria saya merasa kesulitan untuk menemukan blog-blog yang saya nilai ‘bermutu’ atau ‘berkelas’ hehe.. saya kurang suka dengan blog yang terlalu beroriantasi bisnis online, eksibisionisme, curhat, atau tutorial hasil review tulisan orang demi mendapatkan pengunjung..

Satu hal tentang ngeblog adalah kita bisa mengapresiasikan eksistensi diri kita di dunia maya dari keunikan yang terdapat pada blog kita! karena itu jadi blogger biasa sih gpp tapi jangan menjadi blogger yang biasa-biasa saja..
:)


#60

Indah | 02 11 2009 @ 20.09.08

Hmm.. Facebook itu emang rada mengurangi hasrat untuk ngeblog, ahahahaha :D

Dengan beragam konten yang ditawarkan bikin makin “terlena” aja and jadi rada melupakan blog, hihihi..

Tapii.. pada akhirnyaa.. kalo emang demen nulis ya akan balik ngeblog juga sih ^o^

Tunggu ajaa.. ketika semua “pesona”-nya mulai memudarr.. blog akan kembali ramaaii, yihaa ;)

Salam kenal yaa.. mampir ke sini dari blognya MpokB :D

Met malaamm..


#59

hitamputih | 30 10 2009 @ 22.41.12

Tetep lebih mantaps ngeblog si nurut saya,NgeBlog lebih punya Taste…

Masa sih? Dalam Tweeter dan status FB, taste seseorang juga tampak kan? :D
/tyo/


#58

isdiyanto | 30 10 2009 @ 18.38.03

tetep semangat ngeblog///

mari!
/tyo/


#57

-GoenRock- | 30 10 2009 @ 8.51.15

Maraknya situs jejaring sosial, ndak bakal mempengaruhi semangat saya nulis di blog, Paman. Lha wong saya memang ndak gape nulis. Blog ya diisi sama video atau gambar saja, tulisan cuma sebagai pengantar hihihih…

Video dan gambar itu karya, bahkan termasuk “teks”.
/tyo/


#56

titiw | 29 10 2009 @ 14.58.33

Hehehe.. bener tuh paman.. atas nama waktu adalah seleksi.. tetep ngeblog seminggu 3 kali mudah2an cukup demi kelanggengan blogku ini.. :D
PS: btw di PB 2009 kemarin aku liat paman, mo nyapa tapi paman kayaknya sibuk bener potret sana potret sini, huihihihi.. :D

Seminggu tiga kali posting? Hebat itu. Gak semua orang sanggup lho. :) Oh ya di PB kemarin mestinya bawa ketapel, supaya saya nengok meski gak dipanggil. :)
/tyo/


#55

Arel | 29 10 2009 @ 12.21.38

wah..nambah wawasan nih masalah blog nge-blog n posting nge-posting…

Salam kenal bang tyo….

Salam kenal juga. Terima jadi. :)
/tyo/


#54

jensen99 | 29 10 2009 @ 9.21.18

Walopun ternyata bukan tren sesaat, dunia blog memang rasanya agak berubah, paman. Dulu jadi blogger itu elit, orang masih berlomba nyari pertamax, suka hettrix kalo komen, dan banyak perdebatan seru. Tentu blog selalu relevan, apalagi bagi yang masih berminat jadi selebblog seperti paman. Haha…
Mungkin akan lebih bermanfaat kalo blog dilengkapi fasilitas tagging seperti FB, jadi blogger2 yang kita inginkan tuk komen bisa “diundang”. Apalagi banyak temen ’senior’ yang tak tll aktif lagi menulis atau blogwalking. :P

1. Saya tidak berminat menjadi seleblog
2. Saya tidak pernah berlomba menjadi pertamax
3. Mesin blog terus diperkaya kok. Selain itu, API di Facebook bisa secara otomatis mengangkut posting terbaru kita kan?
3. Dengan plugins untuk WP, ada satu tombol untuk sharing ke FB, Twitter, dan lainnya.
/tyo/


#53

haris | 28 10 2009 @ 21.44.43

pada akhirnya: yang fana adalah facebook, blog abadi! he2. saya sepakat ma kau paman: ngeblog tetap relevan!

Fana? Masa sih? :D
/tyo/


#52

dilla | 28 10 2009 @ 16.56.32

kalo aku sih paman, adanya microblog yang lagi booming saat ini, ga ada hubungannya sama naik turunnya hasrat untuk ngeblog, karena kenikmatan dan tujuannya pun lain. Masalah rajin atau tidak rajin posting, lebih karena mood dan ketersediaan waktu aja si kalo saya ehhehehe…
jadi ya, ngeblog mah jalan terus.. :D

Masing-masing saling melengkapi kok. :)
/tyo/


#51

FREE trip to YES 2009 | 28 10 2009 @ 14.14.22

ngeblog tuh termasuk masih booming walaupun dibanding FB & twitter, pamor ngeblog jadi turun.. tp sy yakin, grafik ngeblog di Indonesia akan terus meningkat sejalan dengan teknologi yg udh berkembang terutama internetan… sy juga termsuk yg udh jarang posting di blog pribadi..hehe


#50

munir_jb | 27 10 2009 @ 16.09.12

semoga salam saya lewat temen2 perwakilan TuguPahlawan.Com (TPC Surabaya, yang mayoritas kuliah d STIKOM Surabaya) berkenan buat paman, hehe ^_^

jadi malu waktu dibilang walo sering ol tapi jarang posting dan bales komen… mohon maap banget paman…

sekarang mulai menata hati untuk blogging kembali… :-D, (dapet banyak dukungan dan desakan dari rekan2 TPC, sampe2 pulang dari PB 2009 mereka beliin saya kaos PB, haha…)

semoga dengan scribfire yang udah g nge-bug lagi, maka aktifitas blogging, sharing informasi dan aktualisasi diri dapat berjalan lebih lancar dan dapat dinikmati :-P

Selain soal teknologi, ngeblog itu soal hati kok. Santai saja, Cak. Salam untuk teman-teman di Stikom.
/tyo/


#49

si Rusa Bawean | 27 10 2009 @ 11.51.40

memang bener
banyak sudah blogger yg sudah selingkuh pada facebook

tapi kalo aku facebook justru sebagai pendukung dari blogku

Lho kok selingkuh? Saling melengkapi kan? :)
/tyo/


#48

parta suwanda | 27 10 2009 @ 11.29.23

hmmm… mulai update lagi deh kalo gituhh… :)

Maju terooosssss! Hidup Chandra, eh salah! :D
/tyo/


#47

fiqy | 27 10 2009 @ 8.37.03

Awalnya saya pengen belajar nulis di blog, tp lama kelamaan koq bosan. Barangkali hal ini juga dialamai oleh blogger lainnya. Apalagi sekarang sudah ada FB yg begitu membumi. Posting status menjadi sesuatu yg dianggap lebih menyenangkan, karena real time comment.

Begitulah :)
/tyo/


#46

venus | 27 10 2009 @ 7.55.49

semangat ngeblog memang mulai agak berkurang, paman. dilibas social media 140 karakter nyaris tanpa ampun. tapi yasudahlah, saya sih masih seneng nulis. dipaksain kadang2, tapi ngeblog harus jalan terus. halah kemaki :D

Lho kok dipaksain? Nuruti ati aja Mbok… :)
/tyo/


#45

alhakim | 27 10 2009 @ 7.03.15

Ngeblog bisa jadi tempat dokumentasi yang mungkin kita butuhkan beberapa tahun mendatang tapi kita sudah lupa :)

Betoooolllll! :)
/tyo/


#44

hedi | 26 10 2009 @ 22.40.41

selama blog ini masih di-update, aku ga kesepian *halah*, tapi aku masih bingung mau cross-posting atau enggak nih :)

Soal kenyamanan hati, saya percaya kepada Hedi. Cross-posting? Just do it! :)
/tyo/


#43

neng ratna | 26 10 2009 @ 19.16.27

ngeblog membuat kita musti banyak blogwalking dan tersangkut dalam pikiran-pikiran orang-orang hebat macam oom paman :) blog adalah diary yang baik, karena tidak suka marah-marah kalau saya ceramah tapi blog itu baik karena suka memberi buat orang lain. oom paman, saya nyuri foto oom paman di PB kemarin loh! Habis, nggak bisa foto bersama.
—-
Yang penting ngeblog. Nyuri foto? Ampuunnnnn. Saya belum berani buka FB lagi. :)
/tyo/


#42

Ndoro Seten | 26 10 2009 @ 17.18.54

Ngeblog salah satu sarana memperbanyak saudara, ya nggak?

Begitulah, Ndoro Seten. :)
/tyo/


#41

boyin | 26 10 2009 @ 17.04.45

kerja adalah ibadah. ngeblog juga..terbukti banyak juga yang terbantu dari sharing pemikiran/pengalaman dari blog saya. Tujuan cuman berbagi kok, gak lebih.

Ngeblog mah soal hati. Santai saja. :)
/tyo/


#40

galihsatria | 26 10 2009 @ 16.29.25

Artikel yang sangat inspiratif dari seorang begawan blog Indonesia. Thanks paman atas motivasinya. :)

Haaaa?:D
/tyo/


#39

E | 26 10 2009 @ 16.12.56

Ngeblog hanya untuk iseng saja :)

100% mendukung! :D
/tyo/


#38

hanny | 26 10 2009 @ 10.29.56

kemarin itu pesta blogger pertama-nya paman tyo. now you’re no longer a pesta blogger virgin, paman! senang bertemu denganmu secara singkat hari sabtu kemarin :)
*pelukpeluk*

Peluk-peluk juga. Senang ketemu Hanny di sana. Hanny yang sibooookkkkkkkkkkk! :)
/tyo/


#37

kwak kwik kwek | 26 10 2009 @ 10.15.37

suwe ora jamu mas, piye kabare? btw saya sih (dan produk jadul lainnya, hehe) ngeblog bukan buwat eksis lah ..tapi dasare crewet, sithik-sithik ngomel, protes, or curhat, en semua icuuu ditulis biyar ndak jadi jerawat, ngono lho..

Suwe ora ketemu,ketemu pisan ora suwe. Yang penting seneng. Itu aja. :)
/tyo/


#36

mamidea | 26 10 2009 @ 9.34.47

nambahin komen sebelumnya, apalagi kalau FB bisa (dan mungkin) nambahin fitur untuk notes nya, misalnya bisa dikategorikan. Nah, menurut pendapat saya lebih praktis ngeblog di FB. Jadi orang buka FB nggak cuma untuk update status, tapi juga up date tulisan. Seperti pendapat paman sendiri, arena blog dan jejaring sosial akan berpadu untuk mewadahi para ‘narsistis” dan penulis yang ingin mencurahkan pikirannya. Sekali lagi correct me if i am wrong.

FB akan terus diperbaiki, lebih terarsipkan, lebih mudah ditemukan mesin pencari. Sementara mesin blog juga terus dikembangkan. Intinya adalah penuangan perasaan dan pikiran secara online akan bersua jejaring sosial. Asyik kan? :)
/tyo/


#35

mamidea | 26 10 2009 @ 9.28.08

Di Facebook juga bisa nulis kok paman, pake notes. Saya pikir dengan demikian fitur FB lebih lengkap, dan isi tulisan akan lebih tersosialisasikan karena berada di situs jejaring sosial. Correct me if i am wrong

Di FB ada jaminan akan ditengok teman dan saudara. :)
/tyo/


#34

DV | 26 10 2009 @ 6.08.22

Tulisan ini penuh ilmu.
Copy dan paste ah, tapi ke dokumen pribadi kok, Paman…

Bole yah..:)?

Ilmu santet? Sampai ke Oz? :D
/tyo/


#33

dan | 26 10 2009 @ 5.14.54

tadinya juga malas ngeblog ketika lagi asyik2nya FB, tapi sekarang malas FB karna lagi asyik2nya ngeblog..

FBnya pun jadi salah satu promotor blognya…

Turutilah kata hati… :)
/tyo/


#32

Sangsuporter | 26 10 2009 @ 2.18.13

blog itu lebih mantepp.. bukan sekedar eksistensi, tp masalah aktualisaasi diri.

Bahkan terkadang kita sudah merasa puas hanya dg membaca blog sendiri. Beda dg Facebook dkk. yg rasanya lebih pas untuk saling menyapa teman2, bukan utk berbagi ide dan curahan pikiran..

FB dan Twitter juga bisa buat aktualisasi diri kok…
/tyo/


#31

frozzy | 25 10 2009 @ 20.50.55

dan saya tetap suka blog, lebih puas nulisnya, daripada sekedar update status dan pajang foto di FB paman….

Masing-masing wadah punya karakteristik kan?
/tyo/


#30

Teguh Saja | 25 10 2009 @ 19.55.59

ngeblog gaya lama itu narsis tentang ide, ngeblog gaya microblog kayaknya narsis biar dapat ide, hehe

Trop markotrop! :D
/tyo/


#29

afithk | 25 10 2009 @ 18.23.32

efek sampingnya, puas paman :D

Puas, puas, puasssssssssssss :D
/tyo/


#28

iman brotoseno | 25 10 2009 @ 16.36.46

Terima kasih atas kedatangan Mas paman di Pesta blogger kemarin..bagi saya Ngeblog bukanlah sekadar antitesis trend sesaat di tengah hiruk pikuk twitter dan FB yang gegap gempita.
Blog tetap cermin suara hati saya. Apapun yang terjadi.

Percaya kalo sama Bung Iman! Top!
/tyo/


#27

morishige | 25 10 2009 @ 14.56.34

saya ngeblog dengan teratur baru lewat 2 tahun, paman. tapi dalam waktu 2 tahun itu sudah banyak yang terjadi di blogsphere. banyak temen2 yang sudah mendelete contentnya, banyak pula yang tetap bertahan sampai sekarang.

blog saya sendiri sempat mengalami transformasi. walaupun ke arah yang sebenarnya, dahulunya, merupakan tujuan saya ngeblog.

meskipun banyak yang datang dan banyak pula yang pergi, terbukti kan bapak ahli telematika itu keliru dengan pernyataannya bahwa “blog itu cuma tren sesaat..”?? hehe…

Yang penting kita sendiri kok, ngerasa asyik apa nggak. Bukan soal bapak pakar yang teman saya itu. :D
/tyo/


#26

Faye | 25 10 2009 @ 12.43.26

setuju dengan paman, nggak semua hal bisa diceritakan hanya dalam status singkat, kadang2 tangan ini gatal ingin menulis lebih panjang :D

Yup! Apalagi kalo ponselnya belum QWERTY. :D
/tyo/


#25

minanube | 25 10 2009 @ 10.17.44

Ada yang bilang menulis adalah proses pengenalan diri, karena menulis memaksa kita lebih merasakan feeling dan emosi kita kedalam kata demi kata.

Seperti kanjeng nabi sabdakan barang siapa yang bisa mengenal dirinya dia akan mengenal dirinya.

Seharusnya itulah tuuan utama menulis tentunya yang lain sebagai add on saja, kalau mencari kepopuleran bakal banyak nyesel dan menggerutunya daripada senengnya

He5x…..

Salam

Setuju…. :)
/tyo/


#24

Yodhia @Blog Strategi + Manajemen | 25 10 2009 @ 9.40.35

Barangkali esensinya adalah “tulisan”.

Sebuah tulisan yang kokoh — entah ia ditulis diatas sehelai daun lontar atau dalam media blog — akan tetap relevan sepanjang zaman.

Hwaduh, kalo ini serius. Kayak strategi manajemen. :D
/tyo/


#23

dedysetya | 25 10 2009 @ 1.04.21

Saya suka dan setuju dengan komentar No. 16, salam.


#22

blontank poer | 25 10 2009 @ 0.03.24

asyik, Man. kula remen. merasa masih punya teman ngeblog.

padahal sempat pingin leren, lho…

Lha mau rehat ndak masalah kok, Paman Patih. Santai saja. :)
/tyo/


#21

sawung | 24 10 2009 @ 22.59.27

tua-tua masih iseng. tadi motret yg diatas panggung dari bawah hasilnya apa? :p

Wah sayang saya ndak ketemu Sawung. Iseng? Duh. :D
/tyo/


#20

jun | 24 10 2009 @ 22.48.23

Ngeblog itu asyik. Nggak ngeblog, tentu saja, nggak asyik!

Mosok?
/tyo/


#19

Daus | 24 10 2009 @ 22.11.02

Betul, kata kuncinya seleksi alam. Yang konsisten akan mendapat tempat, dan kesetiaan akan tetap bersemayam. Sebagaimana setianya saya membaca blog ini ;)

Berlebihan ini. :D
/tyo/


#18

StreetWise | 24 10 2009 @ 21.56.07

Ayo, ngeblog terus paman… Saya jg abis nulis soal perlunya ngeblog, terutama buat tmn-tmn yg pada dasarnya emang suka nulis, sambil saya iming-imingi biar bisa dpt dolar. wkwkwk….

Hidup dollar Australia! Lebih kuat… :D
/tyo/


#17

Kardjo | 24 10 2009 @ 20.14.09

blog sayah.. masih berupa tanah .. liat dan basah… belum membentuk sebuah wajah.. susah atau mudah.. blog tetaplah sebuah wadah… syukur-syukur bisa disebut gagah !!… ah terserahlah !!

Kayaknya semua blog masih berupa tanah liat dan basah karena blog bukan kitab suci kan? :D
/tyo/


#16

Oglek | 24 10 2009 @ 18.46.32

ngeblog itu menyenangkan dan bermanfaat. Nulis adalah kepuasan, dan traffik tinggi adalah bonus :D

Keren ini! :D
/tyo/


#15

pebbie | 24 10 2009 @ 13.14.19

ada juga yang nggak terlalu peduli dengan dibaca dan komentar. menulis blog panjang sekedar mengurangi beban di kepala kalau sedang ada ide atau sekedar dokumentasi menyelesaikan persoalan tertentu. tidak selamanya semua ide cukup diekspresikan dengan satu dua kalimat.

Begitulah adanya…
/tyo/


#14

nothing | 24 10 2009 @ 11.05.01

ora ngeblog ora gaul.. makanya saya tetep ngeblog hehehe

Oh gaul!
/tyo/


#13

Dedhi | 24 10 2009 @ 10.45.54

IMHO, setiap usaha itu bisa sustainable kalau ada rewardnya. Pada awal nge-blog, karena trendy orang yang sebetulnya bukan writer sejati, ikut nge-blog karena ada reward terkenal (known) dan punya relasi sosial di media baru. Lama kelamaan, orang yang bukan writer sejati atau tidak punya passion dalam mengutarakan ide atau pemikiran secara analitik dengan gratis ya berguguran, karena rewardnya menurun. Perkecualian mungkin kalau universal reward, monetary reward misalkan.

Tapi setidaknya dengan adanya blog, buat saya yang membantu banget adalah ter-digitasi-nya dan ter-migrasi-kannya informasi yang tadinya hanya bisa dilakukan oleh professional atau badan besar. Dulu web isinya cuman technical, science journal dan pornografi. Sekarang isinya bisa macem macem, resep masakan kuno, gossip aneh aneh, foto norak tapi lucu dsb.
—-
Ya! Digitasi dan migrasi karya. Internet kita perkaya dengan konten dari kita. Top pisan euy! Thanx.
/tyo/


#12

mpokb | 24 10 2009 @ 9.55.36

kadang ada rasa kecewa juga, mendapati blog-blog lama yang tulisannya bernas ternyata nggak aktif lagi.

blog (termasuk layanan menulis di situs jejaring) tetap perlu sampai kapan pun, karena di situlah seseorang menemukan tempat untuk “sebebas-bebasnya” bersuara (kecuali kalau kesandung pasal karet itu). di blog pula saya menemukan info2 baru di luar media arus utama. di blog ada subjektivitas, termasuk dalam pemilihan topik. situs diskusi web 2.0 kadang terpancing ke arah trending topics, dan bisa terjerumus jadi membosankan.

Yang namanya membosankan ada di mana-mana, Mpok. Termasuk blog saya. Gunanya blogwalking dan menangkap lontaran teman di jejaring itu antara lain ya mendapatkan yang “tidak membosankan”. Alyak itu termasuk pengendus blogs/posts yang unik-unik…
/tyo/


#11

kangtutur | 24 10 2009 @ 9.37.11

Please add 7 and 7 = 14

#jadi kalo ngeblog di wp, dagdigdug, blogdetik dll udah konvensional gitu Mas Paman?

#biarin deh, kalo ada ide, ya nulis aja terus.

Kalau hanya bermain di situ ya konvensional. Kayak saya. Hahaha.
/tyo/


#10

bangsari | 24 10 2009 @ 9.16.22

“Adapun Facebook (FB) dan Twitter, serta layanan mikroblog dan jejaring sosial, bagi saya adalah sarana komplementer bagi bloggers.”

setuju paman. lagi pula, layanan jejaring tersebuyt tak terindeks di mesin pencari. jadi ya, seperti hilang begitu saja ditelan waktu.

Sejauh ini belum terindeks dengan baik, tapi besok semuanya dapat diendus oleh mesin pencari.
/tyo/


#9

Ahmad | 24 10 2009 @ 9.15.50

“Perasaan dan pikiran cukup disampaikan dalam kemasan teks sesuai kuota SMS”.

Kadang perlu beberapa paragraf ya Paman? Agar tidak disalahpahami dan diam-diam menulis panjang lebar itu adalah cara ampuh untuk membuang rasa malas dan memanjakan refleksi.

Berapa panjang? Bergantung topik dan medianya. Mas Ahmad nulis di koran gak mungkin pendek banget kecuali kolom tetap buat hahahihi yang kontemplatif kan? :)
/tyo/


#8

jarwadi | 24 10 2009 @ 9.06.21

menurut saya nge blog tetap penting; baru kemarin saya ingin mencari apa yang pernah saya posting di jejaring sosial itu susahnya bukan main; saya sendiri suka menulis ngasal di wordpress. Apa yang pernah saya curhatkan lebih dari setahun yang lalu mudah sekali ditemukan kembali :)

Besok yang di jejaring sosial mudah ditemukan, minimal oleh aplikasi dalam (misalnya) Facebook itu sendiri.
/tyo/


#7

afithk | 24 10 2009 @ 8.36.33

kalau saya, tujuan ngeblog dari dulu sih cuma sebagai ajang katarsis aja. Ya kalo ada efek sampingnya ya disyukuri aja :D

Efek sampingannya apa? :D
/tyo/


#6

Mas Gaptek | 24 10 2009 @ 8.28.16

Semua kembali pada tujuan semula dalam membuat blog dan konsistensi pada topik yg spesifik. Kebetulan hari ini, bertepatan dengan ajang pesta Blogger, blog saya ini berulang tahun yang ke dua. Meski tren blogging ke depan mungkin akan semakin sepi, tapi segmentasi pembaca masih tetap ada (dan bisa bertambah).

Harus topik yang “spesifik” ya? ;)
/tyo/


#5

agus | 24 10 2009 @ 5.35.57

Diera information super highway skrg ini,konten blog akan semakin memendek.Orang makin susah cari waktu untuk menelaah dan mengunyah aliran informasi.Microblogging akan menggantikan blog konvensional :)
Tidak 100%,cuman sebagian besar blog akan mati.Apalagi di indonesia yg suka tren sesaat:)

Semoga blogger seperti paman,ndoro,priyadi akan terus ngeblog.
Salam Metal :)

Intinya kan personal content, bung. Gak harus meng-esei :D
/tyo/


#4

lantip | 24 10 2009 @ 5.35.35

saya kok tersesat dengan iklan di twitternya. saya pikir ngeblog cara lama itu maksudnya ngetik dan tempel di mading hihi..

salam pakdhe! lama tak jumpa, lama tak ngeblog juga :D

Itulah iklan (bahasa sopannya = sharing) di mikroblog. Bisa menyesatkan. :P
/tyo/


#3

Yoseph Sam | 24 10 2009 @ 5.11.39

Ahh, paman jualan semangat ngeblog “cara lama” dengan penuh semangat, nice post, panjang pula.. (tumben)
Setuju semua dengan paman, bagiku mikroblog biasanya sebagai media semai ide-ide posting blog biar terdokumentasi dan nda keburu hilang begitu aja.
bagiku ngebog udah bukan untuk jadi narsisistis (susah amat ngejanya?) lagi, sekarang yang penting terdokumentasikan, toh jika diperlukan kontenku juga masih bisa ditemukan oleh yang benar-benar memerlukan melalui mesin pencari.
BTW, Menulis teks lebih dari 140 karakter, tanpa dipenuhi singkatan, memang melelahkan. apalagi kalo ngetiknya dari hape, dengan tata cara penulisan yang sesuai tata bahasa Indonesia yang baik dan benar seperti tulisan2nya Paman Tyo.
(fb mode: ON)
Yoseph Sam likes this.

Media semai ide-ide? Betul! :)
/tyo/


#2

Ben | 24 10 2009 @ 5.06.40

pada akhirnya memang bisa kelihatan bahwa tidak setiap orang cocok untuk ngeblog, apalagi terus-menerus secara berkesinambungan. bahkan hal itu bisa menimpa blogger yg sudah kadung super kondang ke mana-mana. dibikinin kaos “kapan ngeblog lagi?” pun tetap tdk mempan… he he he :D

Betul. Dan tidak setiap orang nyaman dengan mikroblog. Berbahagialah yang bisa bergaul-maul dengan keduanya. :D
/tyo/


#1

arya | 24 10 2009 @ 4.53.36

exactly my concern di pb 2008 *haduh kemaki tenan aku*
penjabaran paman kusetujui nyaris 100 persen sih. sekarang, lg mencoba mengumpulkan semangat dan niat untuk nulis panjang lagi :)

Lho, nulis panjang kok jadi tujuan. Apa nggak capek? Mikroblog justru menantang karena pendeknya. Bahkan ketika seseorang menulis “gw pusing, mau marah” tetap bisa menarik bagi orang lain asal kedapatan konteksnya, terutama konteks yang “bernilai” secara sosial. :)
/tyo/