Satu Bahasa, Bahasa Saya
DALAM PENULISAN ANGKA KITA SANGAT MENGAMINI KEBINEKAAN.

Mana yang benar: Rp 3.500 atau Rp 3,500? Mana yang tepat: US$ 3.500 atau US$ 3,500? Lantas mana yang pas: 1GB atau 1 GB? Umumnya ada dua macam jawaban. Pertama: “Udahlah, kan bisa dikira-kira sendiri, yang penting sama-sama ngerti.” Kedua: “Nyari masalah ngomongin gituan. Nggak penting!”
Lihatlah dokumen dinas di komputer Anda, terutama yang memakai spreadsheet. Mau berbahasa Inggris atau Indonesia (dan bahkan campuran), umumnya dokumen yang melibatkan penghitungan sering memakai koma untuk mengelompokkan ribuan. Sedangkan titik dipakai untuk pecahan desimal. Ya, berkebalikan dari yang diajarkan di SD.
Sudah terbukti hal itu tak membuat bingung. Artinya manusia memang pintar. “Kalo pake rupiah, pasti angkanya gede, banyak nolnya, lagian rupiah nggak kenal sen. Bisa kita kira-kira sendirilah. Jadi, mau koma atau titik ya biarin aja,” begitu kata Anda.
Ada juga alasan, “Komputernya emang gitu. Mau gimana lagi?” Padahal ada jawabannya. Setiap sistem operasi mengenal pedoman penulisan bilangam dan mata uang berdasarkan negara. Dulu, pada zaman DOS, ada kode “country=031″ untuk disisipkan ke dalam kode dalam penulisan konfigurasi. Itu kode Negeri Belanda karena penulisan angka kita mengikuti bekas penjajah. :)
Ketika cara penulisan angka dalam dua versi mata uang diterapkan ke dalam aplikasi web, itu memang merepotkan. Bhinneka.com, misalnya, menggunakan koma, bukan titik — baik untuk rupiah maupun dollar Amrik. Tapi kalau informasinya dalam bentuk gambar, maka kedua hal itu kadang dibedakan. Sedangkan Glodokshop.com, membedakan cara penulisan untuk dollar dan rupiah.

“Mas, ini pasar, bukan kelas bahasa untuk ekspat. Kenapa sih rewel? Lha wong orang lain ndak bingung kok sampeyan mbingungi sendiri. Ndak penting itu!”
Baiklah. Bagaimana dengan penulisan satuan? Mana yang benar: 1 GB atau 1GB, lantas 140 mm atau 140mm? Jika ditambah titik dan koma urusan penulisan bisa merepotkan lagi kalau tak tahu alasannya: harus 2560 x 1440 pixel atau 2.560 x 1.440 pixel?

Beberapa media (cetak) cukup jeli karena korektor naskahnya waspada. Tak jarang reporter asal mengopi dari lembar data, atau rilis, lantas memindahkannya ke dalam berita. Rilis dalam bahasa Indonesia, dari sebagian orang kantor PR, kadang juga semaunya dalam menuliskan angka.
Jadi? Saya sudah diingatkan bahwa itu bukan soal penting. Kalau ada orang asing belajar bahasa Indonesia (begitu juga anak SD) lalu menanyakan soal itu?
Sebagian orang yang saya tanya hanya tersenyum — setelah itu mengangkat alis. Ada juga yang sambil mengangkat bahu. Bahkan ada juga yang mengalihkan topik.
Memang tidak penting. Kenapa saya tulis? Blog ini memang sering menulis soal yang “gak penting, ngapain juga dipikirin?”. Konon, umumnya blog memang tidak penting. :D
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Negara dan Model Kurus
March 5, 2007 by AntyoSERTIFIKASI MODEL. INDONESIA BISA?
Inilah yang lebih menarik bagi saya. Dalam batas apa negara, di mana pun, bisa atau boleh mengatur penampilan seseorang? Jika masalahnya adalah “kesopanan berbusana” (bisa juga “kesopanan tidak berbusana”), maka perdebatannya bisa kita anggap lumrah — tapi tak berarti lancar.
Jika yang mempersoalkan kesopanan adalah (sebagian) masyarakatnya sendiri, itu pun wajar [...]
Recent Comments
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





TIDAK PENTING bukan berarti TIDAK MENARIK. Demikian hasil pengamatan saya, sakplok nya jadi pembaca blogombal.
meski tidak penting tapi saya selalu mempelajari bagaimana si empu blog ini dalam menulis.
setelah ku baca…memang ga penting…qi..qi..qi…
anu..yang kayak gini ini yang dulu bikin nilai bahasa inggris saya yang tertera di rapor jauh lebih bagus dibanding niai bahasa Indonesia saya. :))
tampaknya bahasa Indonesia yang baik dan benar memang hanya untuk orang asing :|
Aku lebih sepakat sama Glodokshop, tapi betul…ini post ga penting :P
urusan tanda baca kalau nggak pas sering bikin repot ;)
untunglah sekarang terjemahan di peranti lunak sudah banyak yang menggunakan “Bahasa Indonesia” bukannya “Bahasa” atau “Indonesian” untuk mengacu ke bahasa yang digunakan oleh orang Indonesia.
Hiahahahaha… blog nggak penting :)
Dr atau dr, SH atau S.H, mbuh.. ra penting! ;))
oke jg,bner apa kta postingan_a.. stju aja d.. ^_^
–
:)
/tyo/
hal-hal kecil begini nih yang biasanya luput dari perhatian orang.
waktu BW, saya bahkan sering liat masih banyak yang bingung nulis awalan “di”.
—
hehehe. :)
/tyo/
Kayaknya yang nulis angka ribuan pake koma sering bolos pas SD (SD dah bolos?)
hehee…
Setuju sama gambar kedua.. (g’ sebut merek :D )
—
Masa sih bolos? “Kekacauan” eh keragaman muncul setelah ada komputer dan terutama internet. Zaman mesin tik manual kok kayaknya nggak separah itu. :D
/tyo/
salah satu blog saya ada yang ditambah plugin untuk dagang…sayangnya tuh plugin menyediakannya koma untuk pemisahan angka. PAdahal saya lebih suka titik seperti jamn SD dulu.
Tapi saya malas mau coding ulang…jadinya pasrah dengan pilihan koma itu :D
—
Hahahahaha. Plugin-nya bikinan “sana”, tapi bukan Belanda. :D
/tyo/
Cara penulisan Glodokshop yang kelihatannya bener deh. :D
Namanya juga bahasa ibu, paman. Bisa dari lingkungan & kebiasaan, bukan dari belajar. Gak heran orang asing lebih fasih soal ‘baik & benar’ itu. :))
BTT, tulisan2 tentang tata bahasa seperti ini memang penting, sayapun masih memelototi rubrik Bahasa Kita di Intisari tiap bulan, dan selalu dapet ilmu… eh, koreksi baru. :)
—
Menarik! Karena bahasa ibu dan bahasa selingkung ya? Mungkin benar… :D
/tyo/
Pantesan dulu saya pas nulis skripsi sering salah eja, ini toh perkaranya :D
—
Oh ya? :D
/tyo/
Saya baru punya KBBI Edisi 4.
Saya pelajari dulu. :-)
—
Silakan, Mas. :)
/tyo/
Heee..he…kalau yang dibahas bahasa bisa2 kita bertengkar dengan lawan bicara. Anda pernah dengan nasi kucing? itu lho nasi yang porsinya sangat sedikit seukuran makan kucing. Jika perut lapar dan kita ditawari “mas mau nasi kucing?” wah bisa emosi kita!!!
—
Sebagai istilah atau ungkapan, bahkan akhirnya jenis makanan, kelak nasi kucing akan diterima seperti halnya nasi padang (dengan “p” kecil).
/tyo/
mas paman saya dapuk jadi polisi eyd internet. in a good way, tentu saja. perkataan bahwa bahasa indonesia yg baik dan benar itu cuma buat orang asing harus dilawan. terlalu serius? emang :))
—
Ngawur! Bahasa saya masih belepotan. Ngeblog saja sering salah ketik. Bahkan untuk penulisan partikel “pun” saya sering tak taat asas. :D
/tyo/
jadi soal titik dan koma yg bener yg mana nih paman? :)
—
lha kan soal suka-suka, dut? :D
/tyo/
sebentar lagi polisi eyd bertambah :)
oh ya apa yang mesti saya lakukan untuk meminimalis kesalahan ndak fatal ini [bagi saya], la saya juga jarang berkutat dengan angka angka sperti itu je :D
—
Yang pasti polisinya bukan saya karena saya nggak suka jadi polisi karena lebih layak dipolisii.
Apa yang harus dilakukan? Karena Dik Geblek serig berurusan dengan teks Inggris ya ikuti pedoman Inggris saja. Rapat eh meeting dengan juragan dan klien eh clients juga dengan bahasa Inggris, begitu juga presentasinya, kan?
/tyo/
Belum menyerah, Paman…. Minimal lewat blog saya berusaha untuk terus berlatih berbahasa Indonesia :)
—
Hidup MpokB!
/tyo/
Bahasa Indonesia sepertinya tidak akan pernah jadi bahasa yang mapan, dan perkembangan bahasa lisannya jauh melampaui bahasa tulisan. Membikin pengguna kewalahan. Buktinya, banyak kata-kata baru bermunculan dan belum masuk kamus.
—
Memang itulah pertaruhannya: cuma lingua franca atau menjadi bahasa yang secara ilmiah memang operasional? Beberapa negara eks-jajahan yang merdeka setelah PD II memilih bahasa penjajah karena:
1. Lebih “operasional”
2. Bahasa lokal adalah bahasa kesukuan, memilih yang satu berarti mengabaikan yang lain — sama saja memicu perpecahan
Kita memilih bahasa Melayu karena sudah diterima oleh banyak suku, tak hanya yang mukim di Sumat(e)ra saja. Dalam perjalanan, kita kadang tersandung. Kenapa? Karena pembakuan masih terus berlangsung. Itu berbeda dari bahasa Eropa yang lebih matang, hasil dari proses panjang. Tetapi apalah kita harus menyerah? :)
/tyo/
Menulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar memang tidak mudah. Begitulah kenyataannya.
—
Hmmm… dari reporter baru, berapa yang masih menulis “disini”? :P
/tyo/
Bukannya panduan penulisan unit/satuan sudah ada di KBBI dan kamus sejenis paman?
—
Siapa yang peduli? Mungkin itu untuk orang asing. :(
/tyo/
Keras ni Paman, hehe… Tapi bener juga sih :) Lantas, dimana jalan tengahnya dan apa solusinya?
—
Solusi? Daus sudah menjawab.
Solusi lain:
1. ada panduan online yang ringkas, ada kuiz (tanpa hadiah). :D
2. semua aplikasi komputer, termasuk untuk web, memiliki spell checker — bukan cuma garis bawah putus-putus itu :)
Yang kita butuhkan adalah kerja sama ahli komputer dan ahli bahasa (dengan bantuan bloggers) :D
/tyo/
hehehe… nylekit paman.
emang kita uda keseringan pake bahasa, sampe lupa tata bahasa. yang penting infonya nyambung…
—
Duh, kok nyelekit sih? Masa sih? :D
/tyo/