Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Permainan Bahasa dalam Cicak vs Buaya

Jumat, 06 November 2009 @ 23:46 | Komedi Indonesia

BAHASA ADALAH ALAT KEKUASAAN. TAK HANYA BAGI NEGARA…

Sudah empat hari permintaan Kapolri dicanangkan agar masyarakat, terutama media, tak menggunakan “cicak lawan buaya”. Lihat, adakah hasilnya?

Memang Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri, kapolri itu, sudah meminta maaf soal penggunaan istilah “cicak lawan buaya” yang dilansir oleh anak buahnya. Kita hargai permintaan maaf itu, meskipun telat, itu pun disampaikan melalui Menkominfo Tifatul Sembiring. Mestinya sejak awal itu terucapkan, Pak Kumendan Teratas langsung meminta maaf.

Akhirnya kata-kata menjadi bumerang. Masyarakat meresponnya. Kalimat yang dilontarkan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Polri Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji,”Jika dibandingkan, ibaratnya, di sini buaya di situ cicak. Cicak kok melawan buaya“, akhirnya diringkas. Cicak lawan buaya. Cicak versus buaya.

Pak Pulisi mengucapkan cicak, baru kemudian buaya. Bukan “buaya lawan cicak”. Jika merujuk rasa bahasa dan kelaziman, memang lebih enak si kecil melawan si besar. Daud lawan Goliath. Kalau si besar itu lebih cocok menindas, bukan melawan. Apa boleh bikin, bahasa kadang memang menggelikan.

Soal berikutnya lebih menarik. Barusan saya cari di Google “kapolri larang cicak dan buaya”. Dalam 0,03 detik didapat “sekitar sekitar 11.500 telusur”. Padahal setahu saya kapolri tidak melarang, tetapi meminta.

Secara esensial itu berbeda. Tapi yang ditangkap masyarakat, apalagi ditambahi trauma tentang kontrol pemerintah terhadap media oleh Orde Baru, permintaan penguasa adalah larangan — terlepas dari wilayah kewenangan si pejabat itu pas atau tidak.

Selain sebagai alat kesadaran, bahasa juga alat kekuasaan. Kekuasaan tak hanya ada pada negara dan pemerintah tetapi juga rakyat. Penamaan terhadap sesuatu mencerminkan cara pandang terhadap sesuatu. Dalam hal ini elemen rakyat menyukai “cicak lawan buaya” justru dengan meminjam lontaran dari seorang petinggi penegakan hukum.

Penyederhanaan kalimat adalah cara untuk mempermudah penyampaian pesan. Bahwa di dalamnya juga bisa terjadi penyederhanaan masalah, bahkan pelencengan makna, itu adalah konsekuensi. Dalam kasus yang aktual ini, persoalannya (hanya) membela KPK dan kedua komisionernya, atau membela spirit untuk memberantas korupsi?

Penyederhanaan makna juga bisa berlangsung antarelemen masyarakat. Ketika terjadi pro-kontra RUU (Anti)Pornografi tempo hari, terasa penggiringan opini oleh yang pro-RUU bahwa yang menolak RUU sama saja dengan pro-percabulan.

Memanfaatkan bahasa memang kecenderungan semua orang. Termasuk bloggers. Semuanya, jika dilakukan dengan sadar, mencerminkan sebuah pola pikir. Contohnya saya, yang lebih senang menggunakan istilah “situs dewasa” daripada “situs porno”. :D :P

Karena bahasa adalah alat kesadaran dan sekaligus alat kekuasaan untuk memengaruhi pemahaman orang, maka kita punya rekaman jejak masa lalu dalam pelabelan. Yang terkenal tentu saja “G30S/PKI” — sebuah kode sekaligus mantera, sehingga menjadi brand karena memengaruhi pola pikir sebagian rakyat. Istilah “Gestok” kurang laku (ini menyangkut tanggal!). Sedangkan istilah “Gestapu”, pada masa ketika Perang Dunia II baru tertinggalkan dua dasawarsa, jelas mengingatkan kepada Gestapo.

Begitu pula dengan “Manikebu” yang punya efek disleksis “mani beku”. Saya tak tahu apakah pada awal 60-an inseminasi buatan sudah dikenal. Saya menduga, perbincangan awam tentang kesehatan reproduksi pria waktu itu hanya mengenal “mani encer” dan mungkin “mani kental” (tapi kok jarang dengar ya?). Bagi awam, semen (bukan sperma) yang encer diidentikan dengan ketidaksuburan dan ketidakdigdayaan andrologis. Yang beku? Kalaupun sudah ada itu mungkin menyimbolkan sebuah peran konservatif. Begitu pula penamaan “PNI Asu” untuk duet Ali Sastroamidjojo dan Surachman. Asu adalah anjing. Sudah biasa jika sebagian orang menggunakan nama negatif untuk mengerdilkan bahkan menihilkan pihak “lawan”.

Kembali ke soal penguasa. Dulu pemerintah melarang media menggunakan OPM dan GAM — harus GPK (Gerakan Pengacau Keamanan). Menyebut OPM dan GAM berarti mengakui perjuangan orang Papua dan Aceh. Padahal soal nama, itu pun membutuhkan bukti siapa yang menamai. Bukankah ada Atjeh Sumatra National Liberation Front?

Contoh lain? Menjelang dan setelah Peristiwa 27 Juli 1996, beberapa petinggi militer “mengimbau” media agar nama Megawati Soekarnoputri diganti Megawati Taufiq Kiemas — mungkin merujuk pada tanda tangan Megawati sekaligus untuk mengerdilkannya dari bayang-bayang Soekarno di mata rakyat.

Sepanjang hidupnya manusia juga bertempur menggunakan bahasa. Bukankah dalam cekcok ada saja kata “Kamu itu sukanya…” atau “Kamu selalu…” — tanpa bukti statistik? :D Demikian pula saat meninggikan diri dengan membanggakan sesuatu. Misalnya, “Saya sudah sering ke…” — padahal baru tiga kali. Secara statistik benar sih, tiga kali dari tiga kunjungan berarti seratus persen.

© Ilustrasi: funnycoolstaf

Ada 35 komentar | trackback | Depan

#35

Sugiarno | 25 01 2010 @ 0.05.53

menggugah semangat, salam.


#34

adrian | 07 12 2009 @ 13.03.23

menarik….


#33

Redaksi kamushukum | 27 11 2009 @ 20.14.49

Paparan menarik, menunggu bahasan lebih lanjut. Terimakasih dan salam dari Redaksi KamusHukum.com.


#32

oedi | 14 11 2009 @ 12.48.30

the shoe only for crocodile hunter..


#31

Teguh Saja | 14 11 2009 @ 7.03.43

BAHASA ADALAH ALAT KEKUASAAN. TAK HANYA BAGI NEGARA…Blogger juga, hehe


#30

rama | 13 11 2009 @ 16.55.11

Kalo cicak ama buaya dikawinin.. anaknya kaya gimana ya mas??


#29

bukan facebook | 11 11 2009 @ 7.20.37

Saya sih perhatiin ilustrasinya ajah…wkwkwk….


#28

irwan fahmy | 11 11 2009 @ 6.29.37

#sekolah:
karena tokeknya banyak diburu
dengan iming2 uang ratuan juta rupiah :p


#27

SekolahVirtual | 10 11 2009 @ 21.47.28

Wahhh…
kenapa sampai sekarang tokek ga’ muncul ya…


#26

irwan fahmy | 10 11 2009 @ 5.28.31

karena memang sepertinya ada yang merasa
penggunaan istilah itu dengan “gamblang” mengarah pada pihak tertentu
dalam hal ini POLRI :D


#25

morishige | 10 11 2009 @ 0.55.28

hehe.. makin bikin geli aja, paman. masa kapolri pake minta2 media untuk gak menggunakan istilah “cicak lawan buaya”..

terserah orang dong. lagian yang menginspirasi kan orang polri sendir. hehehe.. hahaha..


#24

asepsaiba | 09 11 2009 @ 13.46.06

Hati-hati penggunaan kata ‘CICAK’ dan ‘BUAYA’ mas.. Sebentar lagi akan dilarang penggunaannya…

Baca:
http://asepsaiba.wordpress.com/2009/11/08/larangan-semua-hal-yang-berbau-cicak-vs-buaya/

Salam kenal.. :)


#23

parta suwanda | 09 11 2009 @ 9.49.17

Cicak Vs Buaya. semakin enggak jelas paman mana yang salah dan benar, saya malah jadi ragu kedua-duanya :)


#22

alhakim | 09 11 2009 @ 9.33.28

sekarang cicak ama buaya jadi seleb di TV ;)


#21

tokoribbon.com | 08 11 2009 @ 16.14.55

Bung…Anda cocok jadi guru bahasa dan sejarah. Hebat!!!


#20

hedi | 08 11 2009 @ 15.08.45

Dalam hukum & persidangan, penggunaan bahasa — tepatnya thesaurus — juga sangat penting lho ;)


#19

DV | 08 11 2009 @ 12.33.54

Tulisan yang menarik dari sudut yang sangat “bahasa” sekali.
Mencerahkan, Om.. saestu!


#18

imponk | 08 11 2009 @ 0.52.56

Kata cicak sendiri sebenarnya tidak baku. Dalam kamus tertulis cecak, yakni binatang yang merayap di dinding yang biasanya memakan nyamuk dan bersuara ‘cek..cek..’.


#17

minanube | 07 11 2009 @ 20.48.00

mulutmu harimaimu


#16

edratna | 07 11 2009 @ 18.36.38

Saya tertarik sama gambar sepatunya paman….kok bisa kayak buaya ya?


#15

Bocah | 07 11 2009 @ 16.12.52

Saya bukan cicak, juga bukan buaya.
Saya adalah kerbau, rakyat dungu yang selalu dibodohi para penguasa


#14

munir | 07 11 2009 @ 15.21.38

kataya sih, bahasa mencerminkan penggunanya ^_^… entah penguasa entah rakyat jelata… semuanya sama-sama mempunyai style berbeda untuk mengungkap pemikirannya…


#13

haris | 07 11 2009 @ 12.42.46

bahasa itu penemuan manusia yang, ironisnya, balik memengaruhi manusia dengan sangat kuat. sampai2 manusia tak sadar diperalat oleh bahasa. :D


#12

didut | 07 11 2009 @ 11.50.52

setuju ama nonadita hehehe


#11

nonadita | 07 11 2009 @ 10.49.30

They give “cicak” and “buaya” a bad name :(

kasian cicak dan buaya


#10

Wiwied | 07 11 2009 @ 10.18.16

Iya paman Tyo … kapling nya banyak bow… Paman gimana kabar kabur nya? hehehe
Betewe, itu cicak buaya seru juga,,,, kayaknya yang paling umum kan buaya di kadalin…. lho ini ada lagi buaya di cicak-in,,,,, tambah ekstrim tuh amplitud alias naik turunnya,,,,


#9

mawi wijna | 07 11 2009 @ 10.13.54

Mau yang pasti-pasti Paman? Jikalau hendak menyebut istilah baru bisa dibarengi dengan definisi padat dan sejumlah contoh. :)


#8

badr | 07 11 2009 @ 9.23.28

”Jika dibandingkan, ibaratnya, di sini buaya di situ cicak. Cicak kok melawan buaya“
kalo gitu selama ini polisi sadar ya dirinya = buaya?


#7

jarwadi | 07 11 2009 @ 7.45.32

… Penamaan terhadap sesuatu mencerminkan cara pandang terhadap sesuatu. –Pinjam quote yg ini ya OM


#6

prast | 07 11 2009 @ 7.45.30

itu yang pake sepatunya buas kali ya paman.. :)


#5

diego | 07 11 2009 @ 2.12.03

Pusing ah.


#4

geblek | 07 11 2009 @ 1.16.01

di tipi tipi sudah penuh dg buaya buaya eh ini di blog ada juga :)


#3

Handaru Sakti | 07 11 2009 @ 1.15.30

Posting seperti inilah yg ‘ngangeni’ dari blogombal ini. Gombal amoh! Emang ada gombal yang gak amoh? He 3x


#2

arya | 07 11 2009 @ 1.08.17

bahasa mas paman rasa gr*media hihihi
*kabur ah*


#1

mpokb | 07 11 2009 @ 0.25.31

Bahasa juga bisa jadi alat propaganda, menumbuhkan ketakutan dan pembodohan, Bang Paman. Paling sebal dengan istilah ‘penyesuaian harga’, padahal maksudnya ‘harga naik’…