Permainan Bahasa dalam Cicak vs Buaya
BAHASA ADALAH ALAT KEKUASAAN. TAK HANYA BAGI NEGARA…

Sudah empat hari permintaan Kapolri dicanangkan agar masyarakat, terutama media, tak menggunakan “cicak lawan buaya”. Lihat, adakah hasilnya?
Memang Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri, kapolri itu, sudah meminta maaf soal penggunaan istilah “cicak lawan buaya” yang dilansir oleh anak buahnya. Kita hargai permintaan maaf itu, meskipun telat, itu pun disampaikan melalui Menkominfo Tifatul Sembiring. Mestinya sejak awal itu terucapkan, Pak Kumendan Teratas langsung meminta maaf.
Akhirnya kata-kata menjadi bumerang. Masyarakat meresponnya. Kalimat yang dilontarkan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Polri Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji,”Jika dibandingkan, ibaratnya, di sini buaya di situ cicak. Cicak kok melawan buaya“, akhirnya diringkas. Cicak lawan buaya. Cicak versus buaya.
Pak Pulisi mengucapkan cicak, baru kemudian buaya. Bukan “buaya lawan cicak”. Jika merujuk rasa bahasa dan kelaziman, memang lebih enak si kecil melawan si besar. Daud lawan Goliath. Kalau si besar itu lebih cocok menindas, bukan melawan. Apa boleh bikin, bahasa kadang memang menggelikan.
Soal berikutnya lebih menarik. Barusan saya cari di Google “kapolri larang cicak dan buaya”. Dalam 0,03 detik didapat “sekitar sekitar 11.500 telusur”. Padahal setahu saya kapolri tidak melarang, tetapi meminta.
Secara esensial itu berbeda. Tapi yang ditangkap masyarakat, apalagi ditambahi trauma tentang kontrol pemerintah terhadap media oleh Orde Baru, permintaan penguasa adalah larangan — terlepas dari wilayah kewenangan si pejabat itu pas atau tidak.
Selain sebagai alat kesadaran, bahasa juga alat kekuasaan. Kekuasaan tak hanya ada pada negara dan pemerintah tetapi juga rakyat. Penamaan terhadap sesuatu mencerminkan cara pandang terhadap sesuatu. Dalam hal ini elemen rakyat menyukai “cicak lawan buaya” justru dengan meminjam lontaran dari seorang petinggi penegakan hukum.
Penyederhanaan kalimat adalah cara untuk mempermudah penyampaian pesan. Bahwa di dalamnya juga bisa terjadi penyederhanaan masalah, bahkan pelencengan makna, itu adalah konsekuensi. Dalam kasus yang aktual ini, persoalannya (hanya) membela KPK dan kedua komisionernya, atau membela spirit untuk memberantas korupsi?
Penyederhanaan makna juga bisa berlangsung antarelemen masyarakat. Ketika terjadi pro-kontra RUU (Anti)Pornografi tempo hari, terasa penggiringan opini oleh yang pro-RUU bahwa yang menolak RUU sama saja dengan pro-percabulan.
Memanfaatkan bahasa memang kecenderungan semua orang. Termasuk bloggers. Semuanya, jika dilakukan dengan sadar, mencerminkan sebuah pola pikir. Contohnya saya, yang lebih senang menggunakan istilah “situs dewasa” daripada “situs porno”. :D :P
Karena bahasa adalah alat kesadaran dan sekaligus alat kekuasaan untuk memengaruhi pemahaman orang, maka kita punya rekaman jejak masa lalu dalam pelabelan. Yang terkenal tentu saja “G30S/PKI” — sebuah kode sekaligus mantera, sehingga menjadi brand karena memengaruhi pola pikir sebagian rakyat. Istilah “Gestok” kurang laku (ini menyangkut tanggal!). Sedangkan istilah “Gestapu”, pada masa ketika Perang Dunia II baru tertinggalkan dua dasawarsa, jelas mengingatkan kepada Gestapo.
Begitu pula dengan “Manikebu” yang punya efek disleksis “mani beku”. Saya tak tahu apakah pada awal 60-an inseminasi buatan sudah dikenal. Saya menduga, perbincangan awam tentang kesehatan reproduksi pria waktu itu hanya mengenal “mani encer” dan mungkin “mani kental” (tapi kok jarang dengar ya?). Bagi awam, semen (bukan sperma) yang encer diidentikan dengan ketidaksuburan dan ketidakdigdayaan andrologis. Yang beku? Kalaupun sudah ada itu mungkin menyimbolkan sebuah peran konservatif. Begitu pula penamaan “PNI Asu” untuk duet Ali Sastroamidjojo dan Surachman. Asu adalah anjing. Sudah biasa jika sebagian orang menggunakan nama negatif untuk mengerdilkan bahkan menihilkan pihak “lawan”.
Kembali ke soal penguasa. Dulu pemerintah melarang media menggunakan OPM dan GAM — harus GPK (Gerakan Pengacau Keamanan). Menyebut OPM dan GAM berarti mengakui perjuangan orang Papua dan Aceh. Padahal soal nama, itu pun membutuhkan bukti siapa yang menamai. Bukankah ada Atjeh Sumatra National Liberation Front?
Contoh lain? Menjelang dan setelah Peristiwa 27 Juli 1996, beberapa petinggi militer “mengimbau” media agar nama Megawati Soekarnoputri diganti Megawati Taufiq Kiemas — mungkin merujuk pada tanda tangan Megawati sekaligus untuk mengerdilkannya dari bayang-bayang Soekarno di mata rakyat.
Sepanjang hidupnya manusia juga bertempur menggunakan bahasa. Bukankah dalam cekcok ada saja kata “Kamu itu sukanya…” atau “Kamu selalu…” — tanpa bukti statistik? :D Demikian pula saat meninggikan diri dengan membanggakan sesuatu. Misalnya, “Saya sudah sering ke…” — padahal baru tiga kali. Secara statistik benar sih, tiga kali dari tiga kunjungan berarti seratus persen.
© Ilustrasi: funnycoolstaf
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Penyanyinya, bukan Lagunya
September 3, 2006 by AntyoKITA KADANG TERPUKAU OLEH SIAPA, BUKAN APA. BAGAIMANA DENGAN BLOG?
Dua fotografer kondang menganggap pencantuman nama pewarta foto dalam karya akan membantu penilaian. Sebagai juri mereka akan lebih terbantu untuk memahami apalah sebuah sudut bidik itu sengaja atau bukan.
Maaf, itu tadi penyimpulan yang bisa saja salah. Saya membacanya dalam sebuah milis. Salah satu posting [...]
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Kok bisa2 aja ya bikin gambar sepeti itu kayaknya kasus cicak VS buaya itu tiba2 kayak ditenggelamkan aja.Itulah hukum indonesia…
Tak terasa sekarang sudah medio April 2010. Bagaimana kiranya akhir kisah Cicak vs Buaya ?
[...] kalau kebahagiaan hanya akan dicapai kalau ada keadilan. Tahun ini, di tengah carut-marutnya pertarungan para reptil, ditingkahi meningkatnya penjualan lilin, teplok dan genset, serta badai tuduhan-tudingan-hujatan [...]
menggugah semangat, salam.
menarik….
Paparan menarik, menunggu bahasan lebih lanjut. Terimakasih dan salam dari Redaksi KamusHukum.com.
the shoe only for crocodile hunter..
BAHASA ADALAH ALAT KEKUASAAN. TAK HANYA BAGI NEGARA…Blogger juga, hehe
Kalo cicak ama buaya dikawinin.. anaknya kaya gimana ya mas??
Saya sih perhatiin ilustrasinya ajah…wkwkwk….
#sekolah:
karena tokeknya banyak diburu
dengan iming2 uang ratuan juta rupiah :p
Wahhh…
kenapa sampai sekarang tokek ga’ muncul ya…
karena memang sepertinya ada yang merasa
penggunaan istilah itu dengan “gamblang” mengarah pada pihak tertentu
dalam hal ini POLRI :D