PAMERAN F.X. HARSONO: THE ERASED TIME.
Apa sih kesalahan orang berdarah Cina di Indonesia? “Karena mereka Cina.” Jawaban itu membutuhkan telaah belasan ribu halaman buku. Jika ditambah obrolan dan seminar, bakal bertambah ribuan halaman lagi. Jika ditambah yang tersimpan di benak dan hati, entah berapa tebal dokumen yang akan dihasilkan.


“Lu tuh beruntung ya soalnya lu kan pribumi*,” kata seorang siswi berdarah Cina kepada temannya yang berdarah Jawa, sekeluar dari perpustakaan. Siswi-siswi sebuah kelas di sebuah SMA dekat Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, itu masuk ke perpustaakaan karena Pak Guru dua pekan lalu meminta mereka mencari tahu apa masalah aktual yang bisa mengoyak harmono sosial. Dalam waktu singkat didapatlah jawaban setelah membaca koran: Anggodo.
Sebagian siswi (dari 60-an persen populasi kelas itu adalah keturunan Cina) tak nyaman dengan kenyataan bahwa Anggodo keturunan Cina. Di sinilah konteks berbicara. Jika sesuatu yang tak menyenangkan dilakukan oleh seorang keturunan Cina, maka sebagian Cina lain akan merasa kikuk. Itu tak terjadi pada keturunan Arab, India, dan Eropa. Maka di antara siswi tadi ada yang mengkhawatirkan kerusuhan Mei 1998 akan terulang — suatu hal terjadi ketika mereka baru lima tahun bahkan kurang.

Hanya sebuah kebetulan jika pameran F.X. Harsono, The Erased Time, yang berakhir 14 November di Galeri Nasional, Jakarta, berlangsung saat Anggodo menjadi simpul kemelut konflik KPK dan Polri. Pameran itu, saya yakin, disiapkan jauh hari sebelum kasus itu sehingga tak ada kaitannya.

Tapi pameran dan Anggodo membuka kesadaran kita tentang “persoalan Cina” di Indonesia. Saya belum menemukan padanan kata yang netral untuk “(per)soal(an)” dan “masalah”. Jika menyangkut bahasa, hal beginian memang membuat kikuk.
Harsono, 60, salah satu anggota Gerakan Seni Rupa Baru itu, memindahkan kekikukan dengan membuka nama dirinya: Ong Hong Boen. Mestinya sih Oh Hong Boen, “Tapi saya nggak tahu kenapa panggilannya bisa Ong.” Harsono adalah anak Oh Hok Tjoe, pemilik studio foto Atom di Blitar, Jawa Timur.
Marilah kita jujur. Untuk alasan apakah kita menanya “nama asli” seorang Cina? Sekadar ingin tahu (tanpa bisa menjelaskan selain “pokoknya…”), supaya lebih paham, agar sebuah berita menjadi lebih lengkap dan hidup, atau untuk hal lain entah apa? Bergantung pada siapa yang kita tanya, bentuk relasi kita, dan unsur lain yang mewadahi sebuah konteks.

Harsono tidak bisa bahasa Mandarin. Dia hanya bisa menulis namanya sendiri. Tapi bisa atau tidak bahasa kesukuan Cina dan Mandarin, kita toh sama-sama merasakan sebuah gejala sosial, katakanlah “resinofikasi”. Pencinaan kembali. Sebuah cara untuk membingkai asal-usul dan identitas menjadi sebuah format pemahaman sepihak, dan setelah itu aturan pakainya bergantung pada posisi kita.

Pameran Harsono — berupa lukisan, foto, video dan instalasi — mengemas gugatan identitas dengan jelas, rapi (sangat Harsono), indah, dan menyengat. Foto-foto tengkorak dan belulang korban pembantaian terhadap hampir 200 orang Cina di Blitar pada era revolusi, hasil karya ayahnya selama penggalian pada 1951, tersaji sebagai kepingan sejarah pahit. Foto dan video keluarga korban, dan saksi, serta yang selamat, mengantarkan kita pada dua istilah yang sama-sama bisa merepotkan. Yaitu “menjadi Cina” dan “sebagai Cina”. Bisa juga ditambah “ternyata Cina”.
Menuliskan nama sendiri pada ratusan kertas,seperti yang dilakukan oleh Harsono, itu mungkin seperti hukuman “saya tidak akan bolos lagi” untuk anak sekolah. Mungkin juga sebuah proses pencarian identitas, yang di dalamnya ada tahap mencari riwayat dan sekaligus penyangkalan. Melelahkan. Menggelisahkan.

Saya sangat terkesan pada foto-foto yang terendam kotak air di bawah sorotan lampu merah. Ini bukan sekadar penggalian ingatan terhadap proses kimiawi kamar gelap di era fotografi digital. Pun bukan sekadar nostalgia masa kecil Harsono melihat ayahnya bekerja. Foto-foto yang seolah menunggu dientas untuk dikeringkan itu adalah gugatan tentang proses sosial dan budaya orang Cina di negeri ini. Proses yang terus berlanjut, sampai esok. Dengan maupun tanpa Anggodo. Bahkan misalkan Anggodo itu bukan keturunan Cina, kita masih akan bergelut dengan ihwal kecinaan.

Persoalannya, apakah kita semua bisa menjadi lebih dewasa, bijak, dan beradab; tak hanya mengulang itu-itu saja — dari prasangka, diskriminasi, sampai kekerasan bermotif (atau atas nama) rasial?
*) Sampai sekarang saya merasa aneh dengan istilah “pribumi” dan “nonpribumi”. Siapakah penduduk asli Indonesia? Hal sama berlaku untuk istilah “warga keturunan”. Bermula dari hati, segregasi mendapatkan ruang pada bahasa.







Blog Dokter | 10 01 2010 @ 14.58.33
memang terjadi standar ganda terhadap keturunan china di indonesia. beda banget sama keturunan arab, yaman, india dan negara timur tengah lainnya.
Wintomo 4 Peace | 06 01 2010 @ 19.55.11
Iya payah masih banyak yang rasis. Jangan cuma lihat Anggodo dong, lihat juga gitaris keren Jubing Kristianto dll :)
kitasemuasama | 03 01 2010 @ 6.12.41
Perbedaan antara Cina dan Pribumi, kebanyakan disebabkan oleh didikan yang salah pada masing2 pihak dari jaman dulu, dan kemudian berakar sampai sekarang sehingga menimbulkan penafsiran2 negatif ke masing2 pihak antara satu dengan lainnya. Dan mulai ada peng-eksklusif-an diri karena merasa “lebih” dibanding yang lain. Solusi: ada di pribadi masing2 untuk bisa merubah pandangan rasisme. Kadang butuh rasa “sakit” untuk diterima atau direndahkan tapi bersyukur bisa mengajarkan ke penerus kita apa arti “perbedaan yang tanpa memandang satu sama lain”, karena Tuhan saja memandang setiap ras itu sama dihadapanNya.
bambang | 12 12 2009 @ 18.14.12
sebebnarnya kita tidak boleh memperbesar perbedaan itu, jadilah kita bangsa dunia…bukankah semua kita di ciptakan sama oleh Tuhan ?
andril21 | 02 12 2009 @ 20.52.26
ungkapan yang masih sering membuat saya geli sedikit tanpa tahu sebabnya. “kasihan ya dia, kecil-kecil sudah cina…” diucapkan seorang teman waktu melihat anak kecil gendut lucu berjalan disamping ibunya yang sepertinya “cina”…
Faye | 25 11 2009 @ 10.29.40
mungkin kadang manusia emang susah nerima perbedaan sesamanya, karena ga cuma dengan etnis cina, bahkan antara sesama etnis di indonesia sendiri ternyata masih ada ‘kesinisan’ yang terjadi, ketidaksukaan hanya karena dia berasal dari etnis yang berbeda, tanpa ngeliat pribai sesungguhnya dari orang tersebut
—
Ada betulnya juga. Tapi masa sih gak bisa dihilangkan?
/tyo/
munir_jb | 23 11 2009 @ 15.16.16
segregasi merupakan warisan penjajah agar lebih mudah menjajah Indonesia… dan konyolnya stigma itu sampai sekarang masih melekat erat di masyarakat kita… bersyukurlah mereka yang berada di tempat dimana kebhinekaan merupakan hal biasa… (termasuk saya tentunya… ^_^)
ndang | 22 11 2009 @ 2.02.41
yah.. itulah budaya kita
—
Mencoba memperbaiki keadaan juga bagian dari perjuangan kebudayaan.
/tyo/
mario_devan | 20 11 2009 @ 11.45.07
thanks bro ulasannya
salam kenal
=====================================
musim hujan telah tiba saatnya kita jaga kesehatan…
nie ada tips2-nya untuk mempertahankan daya tahan tubuh klik disini ya
http://www.yamaha-friends.com/?act=articles&aid=176
otaku | 19 11 2009 @ 14.35.55
Hoakiau, diriku jadi teringat pramoedya. Semoga saja generasi muda di masa depan, lebih dewasa dan bijak jiwa-jiwanya, guna mematangkan iklim demokrasi di negeri ini. Amien…
—
Amin juga.
/tyo/
AngelNdutz | 19 11 2009 @ 10.51.14
sering banget menyumpahi salah satu keturunan yang kalo ngasih harga selangit dan nggak isa ditawar hohoho masih bingung apa saya termasuk rasis?
—
Ya. Soal nyari untung itu kecenderungan semua pedagang kan?
/tyo/
ndablek | 18 11 2009 @ 23.22.28
nambah lagi Mas:
Knp tidak ada kebencian thdp Londo (sebutan ‘org Belanda’)yg justru jelas2 turunan pemeras dan penindas rakyat negara ini lebih dari 350 th?
—
Catatan: Londo menjajah 350 tahun? Bukan seluruh Indonesia. Ada yang baru dijajah 1904 dan 1907 lho.
/tyo/
ndablek | 18 11 2009 @ 23.06.11
Perantau, siapapun dia akan lebih ulet dibanding warga lokalnya maka wajar kalo perantau biasanya lebih berhasil. Lalu, pejabat ‘melek duit’ hingga mereka dipepet, dikemplang dan dipalak…akhirnya terjadilah imbal balik drpd setor upeti tanpa jasa. Disitulah akar permasalahannya. Coba mikir, mana ada org waras yg mau nyogok kalo semuanya berjalan sesuai prosedur dan tidak dibelit2kan.buang uang sia-sia.
—
Masalahnya masih adakah kewarasan?
/tyo/
iqbal mabukbahasa | 18 11 2009 @ 8.42.07
sampai kiamat, rasisme, stereotip, stigma, selalu akan menjadi bagian dari “peradaban” umat manusia. yang bisa dilakukan adalah berjuang agar semua itu terminimalisasi. jujur saja, rakyat amerika sudah menunjukkan kedewasaannya ketika bisa memenangkan Obama. (sementara, warga kulit hitam di sana juga minoritas). meski demikian, jangan kata rasisme di sekolah2 dan perusahaan2 di amrik trus serta merta lenyap begitu saja.
persoalannya, siapakah yang membangun stereotip itu? si “korban” seringkali juga sangat berperan. sialnya, yang berjalan acap kali pars pro toto: hanya secuil di antara mereka pelakunya, tapi kena ke semua. Contohnya ya Anggodo itu, yang melanjutkan sejarah Om Lim, Bob Hasan, dll, sementara orang non-China melupakan saudara2 kita di Singkawang dan Cina Benteng yang jauh dari bayangan kita akan kehidupan kaum keturunan semacam Anggodo cs.
—
Memang bisa saling berkait, bahkan secara kasuistis bersifat resiprokal. Tapi masa sih gak ada niat mengakhiri?
/tyo/
Daus | 17 11 2009 @ 21.37.16
Maaf, etnis Tionghoa pun pada akhirnya bersikap diskrimatif terhadap non-Cina :)
Coba tanya-tanya seputar fenomena di lingkup olahraga bulutangkis atau perusahaan-perusahaan macam Orang Tua Grup.
Lingkaran setan.
—
Vicious circle bisa diputus kan?
/tyo/
assifah | 17 11 2009 @ 20.32.34
Yang namanya manusiamah sama saja, yaitu sama-sama mahluk Tuhan. Siapakah yang paling baik, biar Tuhan yang menentukan standarnya. Kalau dalam agama islam standarnya adalah Takwa…
—
Amin.
/tyo/
iyank4 | 17 11 2009 @ 19.37.58
cina + pribumi udah akur ratusan tahun sebelum belanda datang. banyak cina bejat tapi lebih banyak lagi cina yg bener. dibanding cina yang soak jauh lebih banyak lagi pribunmi yang blenger!
cina itu luas, cina indo yg dari utara apa selatan yg sekarang pada soak..? sipit boleh sama, watak pasti beda
—
Ya begitulah.
/tyo/
wongiseng | 17 11 2009 @ 4.28.05
Ada yang bilang wali songo keturunan Cina itu gosip apa beneran ya ? :P
—
Terkabar, beberapa Sunan memang berdarah Cina. Yang pasti Islamisasi di Jawa memang melibatkan orang-orang keturunan Cina atau bagian dari diaspora Tiongkok. Lihat riwayat Cheng Hoo yang orang Hui, bukan Han.
/tyo/
ebo | 16 11 2009 @ 16.46.27
Lha..jgn liat Anggodo aja,inget jg jasa Rudy Hartono,Liem Swie King,Susi susanti dll.Dikantor tempat aku gawe,80% putih.Tp tiap bulan ksh sumbangan ke klenteng,panti asuhan kanisius jg panti asuhan Al karim yg notabene Islam jawa deles.Jgn liat kulitnya wae..meski sbenere kulit mrk terutama yg wadon lbh mulus.
—
Rudy Hartono, Liem Siw King, Susie Susanti, semuanya orang Indonesia. Bahkan misalnya mereka tidak berprestasi di olahraga, juga tetap orang Indonesia –siapapun leluhur mereka.
/tyo/
bery | 16 11 2009 @ 15.57.44
paman, faktanya yg sering tersangkut kasus2 besar2 dari molai produsen narkoba sampai markus kok ya ndilalah orang cina ato keturunane? trus piye? bukankah hal hil itu menguatkan stigma bahwa mereka selalu menghalalkan segala cara sekalipun mengorbankan nasionalisme (kalo masih punya lo)…
—
Lantas kalau dibalik, bahwa pejabat yang korup itu non-Cina (dengan maupun tanpa diskriminasi terhadap Cina untuk berkarier di birokrasi dan militer), lantas generalisasi apa yang akan kita terapkan?
/tyo/
Kardjo | 16 11 2009 @ 14.21.23
Economic unbalanced!
Kalau tempat saya kecil dulu, asalkan dia Cino biasa bukan Singkek Mindring… masih mau bergaul dan boleh bergaul dengan orang sekampung.
BTW, nanti kalau paman berjumpa lagi, tanyakan saudara Harsono, seandainya beliau lahir di era 70′an.. apakah bersekolah di SDK Yos Sudarso… soalnya saya dulu sering foto di ‘Atom’ studio ini.
link guyonan satire cino ada di blog saya.
http://tetes-embun.org/?p=126
—
Kesenjangan ekonomi? Hanya itukah?
BTW Harsono kelahiran 49 :)
/tyo/
gus pitik | 16 11 2009 @ 13.59.36
aku jadi inget pilem mandarin yang di dubbing…”you kill my brother!”
—
Lho?
/tyo/
hedi | 16 11 2009 @ 11.45.22
ga penting soal dikotomi itu. banyak tionghoa yang brengsek, tapi ga sedikit pula non tionghoa yang sama brengseknya.
—
kalo noncina bkn lbh bnyk yg brengsek krn populasinya lbh besar? :D
/tyo/
galihsatria | 16 11 2009 @ 11.12.00
Sori paman OOT: kenapa kamar gelap itu warna lampunya merah ya? Apakah warna itu tidak akan mempengaruhi hasil cucian film?
—
Lampu merah dengan tingkat kecerlangan tertentu (maks) masih aman untuk kamar gelap, terutama saat pencetakan (afdruk) dan pengembangan hasil cetakan.
/tyo/
geblek | 16 11 2009 @ 11.00.18
cina nampak cantik cantik paman :)
laitu cewek2 yg sering sy poto juga kebanyakan cina :)
—
orang cantik, apapun rasnya, ya cantik. :)
/tyo/
Sisca | 16 11 2009 @ 10.15.17
Apa sih kesalahan orang berdarah Cina di Indonesia?
“Karena mereka selalu merasa “lebih”.”
merasa lebih putih, lebih cantik, lebih kaya, lebih baik dari yg lain. Pada intinya…
mereka serakah, sombong, menganggap rendah dan hina suku lain, hanya mau bergaul sesama rasnya, sok mengeksklusifkan diri.. n msh byk jeleknya
dah ah, tar dosany tmbh byk
ting | 16 11 2009 @ 10.13.59
Walau saya & istri bukan cina, tapi nama depan anak saya, saya ambil dari bahasa cina kanton..sebagai penghargaan pada leluhur org Indonesia (katanya) & keuletan hidup mereka.
—
Bagus, Mas…
/tyo/
Chic | 16 11 2009 @ 10.05.29
non pribumi itu termasuk yang indo bule itu ya? hihihihih
bangsari | 16 11 2009 @ 9.05.03
karena istri saya ada darah cina, saya kok jadi pengin menamakan anak dengan nama cina. pegimane kira-kira bang paman?
Ahmad | 16 11 2009 @ 7.28.08
Penggunaan Tionghoa tidak sepatutnya lebih diutamakan dari Cina, sebab yang terakhir ini biasa digunakan oleh masyarakat di Malaysia dan tidak mempunyai konotasi pejoratif apapun.
Mari rawat nama-nama itu dengan baik.
DV | 16 11 2009 @ 5.45.44
Oh ya, lupa.. saya tertarik soal pribumi dan non-pribumi.
Saya suka dengan penghilangan istilah ini, karena yang ada barangkali cuma “siapa yang lebih dulu berada di tanah ini” :))
Di Australia, bangsa pribumi ya Aborigin dan yang lain termasuk bule, asia dan afrika adalah pendatang.
Meski saya tak yakin aborigin adalah benar2 pribumi karena mungkin saja di satu masa dulu justru ada suku bangsa lain yang asli dari sini.
Ya ndak?
DV | 16 11 2009 @ 5.44.01
Ah, soal cina dan non-cina ini saya sering mengistilahkan diri sebagai pelanduk di tengah-tengah.
Delapan dari sepuluh orang selalu menganggap saya ini asli cina, padahal nyata-nyata tidak.
Hanya kulit dan mata saya memang sipit, tapi ya tetap aja nggak punya nama “fam” dan nama saya ya Donny Verdian.
Tapi istri saya memang cina asli dan sekarang saya bingung mau mengidentifikasikan saya sbagai cina atau bukan.
Tapi lebih mudahnya bagi saya sekarang begini, ketika dipanggil “Koh Donny” maka saya meyakinkan bahwa saya ini suami seorang cina, dan ketika dipanggil “Mas Donny” itu berarti saya adalah Jawa.. Pribumi! :))
Sorry panjang :)
avianto | 15 11 2009 @ 23.02.42
Yah, jangankan pribumi vs. non-pribumi. Sama-sama kulit sawo matang saja masih ada pertanyaan “Kamu Jawa ya?”, “Uh, Sunda tuh!”, “Batak banget sih”, “Pasti Padang deh” dst dst…
Tragis… manusia maknanya hanya sedalam suku (lebih tipis dari sekedar warna kulit).
oglek | 15 11 2009 @ 21.36.26
Menurut saya diskrimani pada keturunan China disebabkan karena kesenjangan sosial. Kebanyakan orang keturunan China kan lebih berhasil dalam ekonomi daripada “pribumi”. Dari iri lalu muncul diskriminasi
*komen lagi, karena yang tadi ngilang :D*
oglek | 15 11 2009 @ 21.35.32
Menurut saya diskrimani pada keturunan China disebabkan karena kesenjangan sosial. Kebanyakan orang keturunan China kan lebih berhasil dalam ekonomi daripada “pribumi”. Dari iri lalu muncul diskriminasi
zen | 15 11 2009 @ 18.39.43
soal pake nama “asli” atau nama “yang sudah dilokalkan” itu membikin ingat soal Hok Djin dan adiknya Hok Gie. keduanya ambil sikap berbeda. tapi ini bukan cuma soal nama, sebenarnya. ada debat klasik soal “asimilasi” atau “integrasi”, juga membikin ingat bagaimana hubungan antara Baperki dan LPKB, juga antara PK Ojong dan Yap Thiam Hien dengan Siauw Giok Tjan.
Bisa saja sih fenomena “merayakan” atau “menegaskan” kembali identitas ke-Cina-an yang muncul pasca Gus Dur itu dibaca dari tarik menarik dua wacana masa lalu itu, tapi mungkin itu bisa terasa memaksakan diri, karena konteks sudah berubah, situasi dan suasana zaman jg berganti.
Ada teman yang masih “sebal” kenapa masih juga ada yang pakai nama Cina. Buat saya, tentu, itu tak jadi soal. Kenapa harus menjadi soal karena toh orang Jawa saja bisa pakai nama Poniman atau orang keturunan Arab saja bisa pakai nama Assegaf atau Badjeber?
Istilah “pribumi” memang rentan. tentu sukar mendaku “keaslian” karena para penghuni Nusantara pun –dalam salah satu versi– datang dari Indochina. Bagaimana dengan istilah “bumiputera” yang dipahami sebagai “siapa saja yang memilih dg sadar untuk tinggal dan menghayati tanah Indonesia tanpa pandang asal usul keturunan, juga tanpa asal usul kelahiran”? dengan itu, douwes dekker masuk sebagai bumiputera, seperti juga AR Baswedan [pendiri partai arab indonesia sekaligus mbahe anis baswedan] atawa Kwee Tiam Cing si Cambuk Berduri itu, mungkin juga si Ktut Tantri yang berjuluk Surabaja Sue itu.
Btw, gerakan seni rupa baru, dari lima eksponen pendiri gerakan seni rupa baru, dua di antaranya punya darah tionghoa. selain harsono, juga jim supangkat. menariknya, ada semacam presumpsi kalau kolektor2 seni rupa kelas kakap biasanya adalah orang dengan darah tionghoa di tubuhnya. oei hong djien, adalah yang terkemuka. ini juga tak lepas dari stereotipe krn banyak percaya orang-orang dengan darah tionghoa itu yang kebanyakan orang kaya.
mpokb | 15 11 2009 @ 18.18.44
mata manusia cenderung lebih melihat bungkus ketimbang isi, bang paman. keadaan sekarang ini terjadi karena sesuatu yang sebetulnya sudah tertanam di alam bawah sadar, dan dibantu dengan suatu pembenaran untuk menjadikannya “nyaman”.
kita sebetulnya tahu apa penyebab ketidakadilan ini, dan tugas kita adalah membuatnya berhenti berkepanjangan. apa yang sudah kita lakukan? situasi sekarang malah cenderung ke arah segregasi.
yosafat | 15 11 2009 @ 17.57.43
Teman saya ada yang mau dipanggil “Cina” tapi bersyarat…coba tengok di blognya:
ttp://septian.wordpress.com/2007/06/25/panggil-aku-cina/
mawi wijna | 15 11 2009 @ 15.06.14
Yang semakin ambigu adalah ketika adanya pernikahan lintas suku. Semacam orang berdarah Cina menikah dengan suku Batak. Apa anak mereka tetap disebut Cina? Sepertinya kita menyebut Cina lebih kepada faktor fisik ketimbang silsilah keturunan.
dobelden | 15 11 2009 @ 13.47.56
Saya juga sering disebut chinese paman *tersipu*
gunawanrudy | 15 11 2009 @ 13.34.50
pribumi? non pribumi? lah siapa penduduk asli kepulauan nusantara ini?
lah sampai sekarang saja belum ketemu jawaban pastinya.
namun kalau berkaca pada penemuan arkeologis mutakhir, lah kita yang mayoritas di indonesia barat jangan berbangga dulu. toh ras austromelanesid [nenek moyang orang papua, aborigin, dan oseania] lah yang lebih dulu menduduki pulau jawa ini yang lantas perlahan-lahan terusir ke bagian timur karena gelombang migrasi ras mongolid [nenek moyang orang yang ngakunya "pribumi" indonesia].
CMIIW. saya bukan ahlinya.
@ zam:
nggak rasis kok, zam. wong sesama ras mongolid. :P
masih satu ras kok teriak “rasis!” hehehee… :D
mantan kyai | 15 11 2009 @ 11.57.21
@didut: jadi menurutmu orang jawa gak suka ngomong blak-blakan??? dan kenapa pula seolah membenturkan jawa-china. apakah menurutmu ’soal’ cina hanya menjadi tanggung jawab orang jawa??
btw. wacana yang bagus paman. yang pasti bukan soal cina atau bukan, korupsi adalah kejahatan. percaya ga percaya, sayapun keturunan cina. :D
zam | 15 11 2009 @ 11.32.41
@wiwikwae: kata “cino” itu sering diidentikkan dengan “pelit”. oo.. gitu aja nggak mau bayar. dasar cino!
*gak bermaksud rasis*
(komenku sebelumnya masuk moderasi, kah?)
zam | 15 11 2009 @ 11.29.28
pribumi mungkin sebutan dari bangsa kumpeni? inlander?
wiwikwae | 15 11 2009 @ 10.06.28
Berdasarkan buku yang saya baca mengenai sejarah etnis tionghoa di Indonesia, mereka (etnis tionghoa,red) sebenarnya enggan disebut dg sebutan Cina, karena kata “cina” tersebut mempunyai konotasi yang negatif.
Dan untuk melengkapi pengetahuan yg saya baca, iseng saya bertanya langsung kepada beberapa dari etnis tionghoa yg saya kenal. Jawabannya sama persis dg informasi yang saya dapatkan dari buku yg berjudul “Etnis Tionghoa di Indonesia” tsb.
*hanya ingin menyambung lidah orang2 Tionghoa yang sebenarnya gerah di panggil dengan sebutan Cina.
adis | 15 11 2009 @ 9.47.01
Kita semua khan pada hakekatnya adalah warga keturunan…
Keturunan Nabi Adam AS
sawung | 15 11 2009 @ 9.07.57
teman mengaji saya dulu banyak cina. maklum tempat ngajinya pecinan di pusat kota bekasi.
didut | 15 11 2009 @ 8.30.30
jaman saya sekolah teman teman baik saya malah kebanyakan warga keturunan cina :) , senang ngomong blak-blak-an, mungkin itu yg bikin sebagian orang (keturunan) jawa rada gak senang bergaul dgn mereka hahahaha~
—
Bagaimana dengan suku lain (tapi bukan Cina) yang secara kultural juga lebih blak-blakan dariada orang Jawa? Eh Jawa yang mana pula ini…
/tyo/
haris | 15 11 2009 @ 8.29.32
ralat, namanya liem–maksud saya.
haris | 15 11 2009 @ 8.28.54
saya ingat pernah menonton film soal diskrimanis etnis cina di indonesia, terutama dalam hal nama. konon, warga tionghoa yang namanya lem berbondong2 ganti nama menjadi halim sehingga akhirnya nama “halim” pun menjadi nama tionghoa. jadi pembauran itu sepenuhnya gagal. nama harsono kayaknya juga ya.
—
Ya, ya, ya. Masalahnya pembauran hanya dilihat dari ganti nama. Sejauh ini nama Harsono belum dianggap “tearkuisisi” sebagai “nama Cina” — seperti halnya “Halim” dan
“Wijaya” (menurut sebagian orang). Tapi kalau bicara akuisisi nama, bukankah banyak orang Indonesia non-Cina ada yang mengambil nama Arab, Barat, Yahudi/Ibrani, Sansekerta, dan gak ada masalah kan? Kenapa kalau menyangkut Cina jadi masalah? Pakai nama asli dianggap kurang mengindonesia, tapi pakai nama baru dianggap kurang lumrah juga. Apalagi jika dari bahasa Arab, misalnya Salim, Rahmat, Muhtar…
/tyo/
arya | 15 11 2009 @ 7.13.25
orang cina yang baik memang harus mengutuk orang cina yg busuk spt anggodo itu :)
—
Lho, kasus Anggodo bukan soal masyarakat keturunan Cina dengan seorang Cina, maupun orang Cina dengan non-Cina. Soal Anggodo ini kan soal warga yang jadi makelar kasus, bisa mengatur petinggi hukum.
/tyo/