PAMERAN F.X. HARSONO: THE ERASED TIME.

Apa sih kesalahan orang berdarah Cina di Indonesia? “Karena mereka Cina.” Jawaban itu membutuhkan telaah belasan ribu halaman buku. Jika ditambah obrolan dan seminar, bakal bertambah ribuan halaman lagi. Jika ditambah yang tersimpan di benak dan hati, entah berapa tebal dokumen yang akan dihasilkan.

Monumen Bong Belung, 2009. Polyester, jarum, cetak saring di atas kain.

Memelihara Hidup, Menghentikan Hidup, 2009. Akrilik dan cat minyak di atas kanvas, bordir, 200 x 350 cm, dua panel

“Lu tuh beruntung ya soalnya lu kan pribumi*,” kata seorang siswi berdarah Cina kepada temannya yang berdarah Jawa, sekeluar dari perpustakaan. Siswi-siswi sebuah kelas di sebuah SMA dekat Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, itu masuk ke perpustaakaan karena Pak Guru dua pekan lalu meminta mereka mencari tahu apa masalah aktual yang bisa mengoyak harmono sosial. Dalam waktu singkat didapatlah jawaban setelah membaca koran: Anggodo.

Sebagian siswi (dari 60-an persen populasi kelas itu adalah keturunan Cina) tak nyaman dengan kenyataan bahwa Anggodo keturunan Cina. Di sinilah konteks berbicara. Jika sesuatu yang tak menyenangkan dilakukan oleh seorang keturunan Cina, maka sebagian Cina lain akan merasa kikuk. Itu tak terjadi pada keturunan Arab, India, dan Eropa. Maka di antara siswi tadi ada yang mengkhawatirkan kerusuhan Mei 1998 akan terulang — suatu hal terjadi ketika mereka baru lima tahun bahkan kurang.

The Light of nDudah, 2009. Cetak digital dalam boks neon, 200 x 200 x 24 cm; lima panel. Memori tentang Nama, 2009. Akrilik di atas kanvas, 150 x 750 cm, lima panel.

Hanya sebuah kebetulan jika pameran F.X. Harsono, The Erased Time, yang berakhir 14 November di Galeri Nasional, Jakarta, berlangsung saat Anggodo menjadi simpul kemelut konflik KPK dan Polri. Pameran itu, saya yakin, disiapkan jauh hari sebelum kasus itu sehingga tak ada kaitannya.

Kotak neon dan pantulan pada kaca pintu.

Tapi pameran dan Anggodo membuka kesadaran kita tentang “persoalan Cina” di Indonesia. Saya belum menemukan padanan kata yang netral untuk “(per)soal(an)” dan “masalah”. Jika menyangkut bahasa, hal beginian memang membuat kikuk.

Harsono, 60, salah satu anggota Gerakan Seni Rupa Baru itu, memindahkan kekikukan dengan membuka nama dirinya: Ong Hong Boen. Mestinya sih Oh Hong Boen, “Tapi saya nggak tahu kenapa panggilannya bisa Ong.” Harsono adalah anak Oh Hok Tjoe, pemilik studio foto Atom di Blitar, Jawa Timur.

Marilah kita jujur. Untuk alasan apakah kita menanyakan “nama asli” seorang Cina? Sekadar ingin tahu (tanpa bisa menjelaskan selain “pokoknya…”), supaya lebih paham, agar sebuah berita menjadi lebih lengkap dan hidup, atau untuk hal lain entah apa? Bergantung pada siapa yang kita tanya, bentuk relasi kita, dan unsur lain yang mewadahi sebuah konteks.

Yang Dihapus Kutulis Ulang, 2009. Cetakan di atas kertas foto, 110 x 180 cm (sudah dikrop oleh saya).

Harsono tidak bisa bahasa Mandarin. Dia hanya bisa menulis namanya sendiri. Tapi bisa atau tidak bahasa kesukuan Cina dan Mandarin, kita toh sama-sama merasakan sebuah gejala sosial, katakanlah “resinofikasi”. Pencinaan kembali. Sebuah cara untuk membingkai asal-usul dan identitas menjadi sebuah format pemahaman sepihak, dan setelah itu aturan pakainya bergantung pada posisi kita.

Yang Dihapus Kutulis Ulang, 2009. Instalasi dengan perabot, kertas, tinta cina, dan 5 video.

Pameran Harsono — berupa lukisan, foto, video dan instalasi — mengemas gugatan identitas dengan jelas, rapi (sangat Harsono), indah, dan menyengat. Foto-foto tengkorak dan belulang korban pembantaian terhadap hampir 200 orang Cina di Blitar pada era revolusi, hasil karya ayahnya selama penggalian pada 1951, tersaji sebagai kepingan sejarah pahit. Foto dan video keluarga korban, dan saksi, serta yang selamat, mengantarkan kita pada dua istilah yang sama-sama bisa merepotkan. Yaitu “menjadi Cina” dan “sebagai Cina”. Bisa juga ditambah “ternyata Cina”.

Menuliskan nama sendiri pada ratusan kertas,seperti yang dilakukan oleh Harsono, itu mungkin seperti hukuman “saya tidak akan bolos lagi” untuk anak sekolah. Mungkin juga sebuah proses pencarian identitas, yang di dalamnya ada tahap mencari riwayat dan sekaligus penyangkalan. Melelahkan. Menggelisahkan.

Darkroom, 2009. Akrilik, baja, polyster, lampu, air, cetakan foto; instalasi

Saya sangat terkesan pada foto-foto yang terendam kotak air di bawah sorotan lampu merah. Ini bukan sekadar penggalian ingatan terhadap proses kimiawi kamar gelap di era fotografi digital. Pun bukan sekadar nostalgia masa kecil Harsono melihat ayahnya bekerja. Foto-foto yang seolah menunggu dientas untuk dikeringkan itu adalah gugatan tentang proses sosial dan budaya orang Cina di negeri ini. Proses yang terus berlanjut, sampai esok. Dengan maupun tanpa Anggodo. Bahkan misalkan Anggodo itu bukan keturunan Cina, kita masih akan bergelut dengan ihwal kecinaan.

Seorang pengunjung membaca cerita di atas meja yang ada videonya.

Persoalannya, apakah kita semua bisa menjadi lebih dewasa, bijak, dan beradab; tak hanya mengulang itu-itu saja — dari prasangka, diskriminasi, sampai kekerasan bermotif (atau atas nama) rasial?

*) Sampai sekarang saya merasa aneh dengan istilah “pribumi” dan “nonpribumi”. Siapakah penduduk asli Indonesia? Hal sama berlaku untuk istilah “warga keturunan”. Bermula dari hati, segregasi mendapatkan ruang pada bahasa.

63 Responses to Anggodo! Cina! Harsono!

  1. auto Mozilla Firefox Windows says:

    nice articles uncle..

  2. Home gallery AUSTRALIA Mozilla Firefox Windows says:

    kadang kala untuk maju harus ada perbedaan, tp juga pengertian

    Oh ya? :)
    /tyo/

  3. Pixel Film AUSTRALIA Mozilla Firefox Windows says:

    kapankah indonesia bisa dewasa

    Ya kita harus belajar jadi dewasa. Itu yang penting. :)
    /tyo/

  4. orang berdarah Cina di Indonesia tidak bersalah yang salah adalah orang penghisap darah (koruptor dan saudaranya)… baca artikel ini kangen sama sosok Gus dur

    Memang. Di Indonesia, dan di mana pun, tidak bisa kesalahan ditimpakan kepada ras atau etnis.
    /tyo/

  5. dimaszen AUSTRALIA Mozilla Firefox Windows says:

    siaapapun kita adalah tetap manusia yang lemah dan membutuh kan sesama mari kita singkirkan keegoisan. mari kita saling bergandeng tangan

    Mari!
    /tyo/

  6. Soni INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Saya juga heran dengan istilah “pribumi” dan “non pribumi.” Tapi, saya juga menggugat wacana “cina” dan “non cina.” Yah, ini memang memprihatinkan. Kenapa kita tidak mewacanakan bahwa kita semua sama dan bisa hidup berdampingan. Saya yakin sentimen2 rasialis seperti itu tak hanya dimiliki orang “pribumi” (maaf terpaksa pakai istilah ini) pada “non pribumi” tapi juga “non pribumi” kepada “pribumi.” Tak jelas, siapa yg menindas dan ditindas. Menurutku, dua-duanya tertindas dan dua-duanya menindas. Akan sampai kapan?

    Sampai kapan? Sampai kita sepenuhnya dapat menerima perbedaan.
    /tyo/

  7. memang keegoisan telah menjadi musuh dalm jiwa, etnic, ras, suku dan agama adalah sebuah kebesaran yang di miliki indonesia

    Semoga kita semua cepat belajar. Masa sekian lama cuma (saling) berprasangka. Kok rasanya ndak maju-maju. :)
    /tyo/

  8. Adi W. Negara AUSTRALIA Mozilla Firefox Windows says:

    Saya memang berdarah Tionghoa, kalau saja ada teknologi, obat, operasi plastik serta menghilangkan asal usul juga bisa mengubah mata dan ciri ciri khas Tionghoa saya mau lakukan itu agar tidak didiskriminasi lingkungan masyarakat.
    Jikalau boleh minta kepada Tuhan waktu lahir jangan lahir di Indonesia supaya tidak disebut dan dihina hina dengan kata kata cina.
    Ini baru 2 contoh, betapa pedihnya hati kami jika mendapat perlakuan tidak sepantasnya.
    Ada kesan kalau ketemu dengan kami, seolah olah orang Tionghoa itu kaya, banyak duit, buka toko, perusahaan. Kalau memang orang semua orang Tionghoa kaya, kenapa tidak minta kepada Tuhan dilahirkan sebagai org Tionghoa saja, toh akan otomatis menjadi kaya raya.
    Wahai saudara saudara ku sesungguhnya di Planet bumi semua makhluk harus punya kesempatan dan hak untuk hidup bukan untuk di beri konotasi negatif.
    Semoga tulisan singkat ini bermanfaat utk orang lain. di Bumi Indonesia.

    Respon yang jossss. Terima kasih. :)
    /tyo/

  9. liongbudi AUSTRALIA Mozilla Firefox Windows says:

    semua sama..
    jangan etnis djadikan universal truthnya,banyak juga etnis cina yang hidupnya sederhana,berbaur dan lebih Nasionalis daripada yang laen

    yang bener ayo kita sama-sama membangun bangsa Indonesia lebih bermartabat dan maju di level Internasional dengan bekerja semaksimal di semua bidang yang kita tekuni.

    Sepakat. :)
    /tyo/

  10. rd INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    Ato cmn hanya karena keirian melihat kesuksesan orang lain.

    Mungkin. :)
    /tyo/

  11. Saya INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    Saya Keturunan Tionghoa tapi berkulit hitam. Orang tua saya tidak kaya dan mereka mengajarkan kami anak2 nya untuk bekerja keras mencapai hidup yg lebih baik. Sedih rasa nya kalau ada yang “mengutuk” Dasar Cina!!! di depan saya. Padahal kami tidak pernah dapat memilih akan di lahirkan di keluarga etnis apa. Kalau masalah menghalalkan segala cara untuk keuntungan, saya rasa itu bukan hanya dari etnis tionghoa. Banyak org non tionghoa berbuat hal yang sama tapi mereka tak pernah di maki. Inti nya semua orang adalah sama siapapun mereka. Orang licik dan jahat ada di mana-mana.Bukan hanya monopoli satu etnis saja. Mari hormati orang lain seperti kita ingin di hormati….

    Mari! :)
    /tyo/

  12. ijin nyimak, Gan. Ane mah yang penting damai aja deh.

    Yang penting bukan siapa Anda, tetapi apa yang sudah Anda lakukan untuk dunia ini.

    Mantaabzz blognya. Lanjut, Gan!

  13. Blog Dokter INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    memang terjadi standar ganda terhadap keturunan china di indonesia. beda banget sama keturunan arab, yaman, india dan negara timur tengah lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.