Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Kepemimpinan, Keperwiraan

Rabu, 18 November 2009 @ 06:10 | Komedi Indonesia

TAK SEMUA PEMIMPIN ITU BERJIWA PERWIRA

Cewek 17 tahun itu tenang sekali menghadapi hujan pertanyaan dari sejumlah orangtua murid yang mayoritas kaum ibu. Dia, sebagai komandan unit kegiatan siswa sebuah SMA putri, dicecar soal beratnya jadwal latihan sehingga melelahkan anggota. “Ibu, dulu sebelum mendaftarkan diri itu bukannya siswa dan orangtuanya menandatangani pernyataan bermeterai?” jawab si cewek dalam pertemuan di aula.

Dalam surat pernyataan termaktub kesanggupan untuk serius berlatih. Secara implisit juga ada tuntutan agar siswa dan orangtua punya kesadaran membagi waktu. Saya kagum. Cewek itu tidak gugup,tidak emosional.

Ketika ada seorang ibu mempersoalkan menurunnya prestasi belajar anaknya, maka si cewek mempersilakan si ibu berbicara dengan guru dan kepala sekolah. Perihal sikap sebagain asisten pelatih yang mengabaikan surat dari orangtua, cewek itu bilang, “Terima kasih. Saya dan teman-teman akan mengevaluasi kinerja para asisten dan mencari tahu apakah benar mereka begitu.” Saya melihat kepemimpinan dalam diri cewek itu.

Suasana bertambah tegang. Sejumlah ibu mempersoalkan sejumlah hal, yang tentu saja di luar kewenangan si cewek. Lalu tampillah Bu Guru. Dengan tenang dia berujar, “Saya yang bertanggung jawab. Saya pembina kegiatan siswa… blablabla anuanuanu…”

Saya ingat pembuka kalimatnya, “Saya yang bertanggung jawab.” Sabtu siang pekan lalu itu saya mendapatkan sebuah kelangkaan. Pernyataan tentang tanggung jawab. Tak hanya sampai di bibir karena memang selalu ada tindak lanjut.

Tanggung jawab. Keberanian menanggung risiko. Menuruti nurani. Itulah default-nya pemimpin. Maka saya heran jika melihat petinggi di negeri ini sampai didesak-desak untuk mundur. Ketika desakan makin menguat, masih saja mereka mengulang dalih dan kilah memuakkan. Masih lebih gagah pelawak bodoh yang paling tidak lucu bila dibandingkan mereka.

Saya teringat beberapa negeri lain. Pejabat-pejabatnya segera meletakkan jabatan jika harus bertanggung jawab terhadap sebuah kasus. Meletakkan jabatan, mengundurkan diri, memang tak berarti pengakuan bahwa dirinya bersalah karena salah dan tidak perlu dibuktikan bila perlu sampai ke pengadilan tertinggi. Lagi pula yang bersalah seringkali adalah anak buah. Mereka meletakkan jabatan sebagai bentuk tanggung jawab.

Saya teringat jenderal di republik ini yang melemparkan kesalahan ke anak buah. Kurang lebih dia pernah berkata tidak mungkin bila setiap kali prajurit melakukan kesalahan maka atasan harus mundur. Sungguh naif. Jika masalahnya serius, misalnya kekerasan dan pelanggaran HAM bahkan kejahatan terhadap kemanusiaan, tentu tanggung jawab lebih dituntut.

Hari-hari ini kita menunggu lebih dari satu petinggi mengundurkan diri. Jika itu akhirnya ditempuh, saya beropini bahwa itu karena terpaksa. Bukan karena tanggung jawab dan tuntutan nurani.

Jika mereka punya sikap perwira, maka sejak awal tak melindungi bawahan yang kacau, tak meminta pengunduran diri pura-pura.

Jika mereka berjiwa perwira maka para tuan itu mengundurkan diri sejak awal kasus meletup. Tak usah menunggu verifikasi. Tak usah menunggu mahkamah.

Perwira sebagai jabatan adalah satu hal, hanya karier semata. Tapi keperwiraan ternyata soal yang lain lagi. Setidaknya itulah pelajaran kepemimpinan — tepatnya kekuasaan — yang sedang mereka presentasikan.

Jangan-jangan republik ini memang tak kenal malu. Mengaku bangsa religius yang menjunjung akhlak tetapi tingkat korupsinya tinggi. Tapi mungkin saya salah. Bisa saja sebagian tuan menganggap tingginya korupsi sebagai prestasi, dengan alasan, “Negeri lain, maksud kami pejabatnya gitu, mana berani korupsi?” Lapan anem, Ndan. Cuih!

Ada 34 komentar | trackback | Depan

#34

adrian | 07 12 2009 @ 13.15.56

tidak ada prajurit yang bodoh, yang ada adalah komandan yang tolol….


#32

munir_jb | 23 11 2009 @ 15.54.24

menumbuhkan jiwa kepemimpinan itu menjadi tugas kita bersama… mempraktekkannya dan menurunkan ilmunya kepada generasi penerus adalah suatu hal mulia… walau terseok-seok, walau berdarah-darah, walau dianggap kurang waras dan pasti sia-sia @_@…


#31

Bandit Batak | 23 11 2009 @ 4.47.38

Tak semua pemimpin itu berjiwa perwira..

Lebih cocoknya:
Tak semua perwira itu berjiwa pemimpin..

Saya setuju dengan analisis Bapak. Mnurut saya dasar dari rasa pertanggungjawaban itu blm dimiliki oleh perwira2 yang jadi pemimpin dinegara kita..yaitu berani mengaku salah dan punya rasa malu. Nth kapan rasa Malunya lebih besar dari Maluku (yang di Ambon)


#30

Business, Health And Technology Information | Skiptest.info | 22 11 2009 @ 18.58.32

Mantaf bangetz artikelnya bro?


#29

haris | 21 11 2009 @ 23.32.02

ini semua gara2 oportunisme yang ditularkan terus2an. seolah politik kita adalah jejaring oportunis yg susah dienyahkan.

yah begitulah… :(
/tyo/


#28

nayantaka | 21 11 2009 @ 20.49.17

oke paman, saya yang njawab, sampeyan yang nanggung. adil kan?
btw, boleh dong kenalan sama yang 17 tahun tadi?

Lha… :)
/tyo/


#27

budi warsito | 21 11 2009 @ 5.01.32

si pejabat berdalih, “saya sih mau-mau saja bunuh diri, tapi ntar saya kena pasal penyalahgunaan wewenang dong.”

Ya! Bunuh diri dianggap melangkahi Tuhan padahal kita bangsa “religius” :D
/tyo/


#26

nonadita | 20 11 2009 @ 20.14.25

Mudah2an aja mereka yang mengundurkan diri itu bukan sekedar karena berusaha lari dari tuntutan hukum :D

Mudah-nudahan, sulit-sulitan… :)
/tyo/


#25

j4p | 20 11 2009 @ 15.50.37

cuih!!

**ikut-ikutan paman ah…

Hus, nanti didatangi “petugas” lho :D Maksud saya petugas kebersihan.
/tyo/


#24

dinda | 20 11 2009 @ 14.56.58

tanggung jawab itu gampang diucapkan, tapi pelaksanaannya butuh keperwiraan, gitu ya paman?

Mmmm gitu ya?
/tyo/


#23

assifah | 20 11 2009 @ 12.49.54

Artikel yang bagus, sangat berani…
Jadi pemimpin yang ideal memang tidak gampang ya


#22

mario_devan | 20 11 2009 @ 11.47.40

thanks bro ulasannya
salam kenal

=====================================
musim hujan telah tiba saatnya kita jaga kesehatan…
nie ada tips2-nya untuk mempertahankan daya tahan tubuh klik disini ya
http://www.yamaha-friends.com/?act=articles&aid=176


#21

Andrie-SekolahVirtual | 20 11 2009 @ 7.13.25

ahhh iya… saya ingat sama jenderal yang menyalahkan anak buahnya itu paman…
ya… akhirnya semua dari qt yang dibilang orang indonesia kalo jadi pemimpin ya harus ikhlas untuk disebut tipikal…
Bullshit!! jika orang-orang seperti mereka masih berbicara tentang yang namanya nasionalisme…


#20

pongki | 20 11 2009 @ 1.02.56

Haha.. Saya juga heran. Mereka nggak malu apa yak? Tapi sepengelihat saya, memang pada zaman ini kepemimpinan udah bergeser kualitasnya. Yang tadinya adalah idealisme menolong yang lemah, prinsip keadilan dan tanggung jawab, udah bergeser jadi yang penting punya posisi struktural yang tinggi dan harta. Idealisme ksatria yang mestinya dimiliki pemimpin besar seperti layaknya dahulu kala, cuma jadi bahan ketawaan. “Bodoh” katanya. Menyedihkan yak!

Oia, Sekedar info nih. Tanggal 26 November 2009 Brad Sugars, pengusaha internasional dan business coach ternama dari Australia akan datang ke Indonesia, tepatnya di Jakarta International Expo, Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran. Dia akan berbagi pengalaman dan teknik-tekniknya membesarkan bisnis.

Untuk reservasi dan info, hubungi:
Studio Samuan
Rukan Permata Senayan Blok D-33
Telp : 021 3713 6165
0857 153 20001 (Ning Mahayu)
Fax : 021 5794 1173


#19

bocah | 19 11 2009 @ 21.16.14

kuingin marah
melampiaskan tapi ku hanyalah sendiri disini,
inginku tunjukan pada siapa saja yang ada bahwa diriku kecewa…

Kecewa, Bunga Citra Lestari)

Ya.
/tyo/


#18

Potter.Web.ID | 19 11 2009 @ 16.14.06

Yang berduit itu bisa menenangkan beberapa jiwa, nah beberapa jiwa itu hanya bisa mensyukuri dengan tenang2 saja dan menutup mulut.

Apa boleh buat.
/tyo/


#17

tokoribbon.com | 19 11 2009 @ 14.50.09

Bangsa ini perlu membudayakan sifat MALU dan BERANI BERTANGGUNG JAWAB…padahal sebagai bangsa religius harusnya sudah tahu itu…

Mmmm religius.
/tyo/


#16

bukan facebook | 19 11 2009 @ 11.08.32

seperti yang sering tampil di poster pendemo-pendemo itu…

Pemimpin yang merasa bersalah:

Di Jepang bunuh diri
Di negara lain, Mengundurkan diri
Di Indonesia melarikan diri

Kita jadikan baliho dan kaos :D
/tyo/


#15

adi | 19 11 2009 @ 9.57.36

para pejabat kita mungkin memang sedari dulu tdk terlatih utk malu man … :D

tidak terlatih? butuh dilatih dong…
/tyo/


#14

Paidjo Bedhes | 18 11 2009 @ 20.55.55

Matur nuwun, Paman …
Mak-cless, ternyata masih ada (sedikit) sosok yang bersedia menyatakan : “Saya bertanggungjawab!”
Setitik harapan..hehhh.

Ini yang membuat kita bisa optimistis bahwa Indonesia bisa diperbaiki.
/tyo/


#13

bangaip | 18 11 2009 @ 19.05.11

Komen saya agak mirip sama Mas Poer. Kaget juga baca tulisan kali ini. Jadi tumben, …saya komen. Hehe.

Tapi di sisi lain, senang juga membacanya. Ada nuansa baru di blogombal. Dalam hati, setelah membaca ini saya berkomentar “Ooh Paman Tyo rupanya bisa marah kayak gitu juga yaa”

Hehe

O ya?
/tyo/


#12

blontankpoer | 18 11 2009 @ 18.07.10

berat, Man. saya saja yang orang remeh nan biasa masih berat berlaku perwira.

tapi, soal lain, saya kaget meihat Paman begitu memendam rasa sakit yang dalam, seperti dirasakan banyak orang, akhir-akhir ini…

Waduh…
/tyo/


#11

nasiguri | 18 11 2009 @ 13.40.29

he3x
*troll mode on*
sirik tanda tak mampu,
biar anjing menggongong,

sanggupkah sodara jika suatu saat berada di posisi dan waktu yang sama mampu berkata tidak?

Atau hanya karena sekarang berada di luar lingkaran bisa tereak2?

saya punya kenalan yg benci mati pns dan polisi karena mereka suka korupsi, dan selalu menguliahi saya panjang lebar tentang betapa korupsi merusak bangsa ini, dan ..

*prittt*
ah … kami disemprit,
kenalan saya lupa sabuk pengaman.

Sambat2 bentar,
pindahlah selembar kertas merah ke lain tangan.

hati saya mencelos, WTF?
dan saya apatis pada mereka yang korupsi dan yang tidak :(

beda orang beda pandangan kan?
/tyo/


#10

Chic | 18 11 2009 @ 11.58.21

padahal pemimpin yang malah menyalahkan anak buah adalah terbukti sebagai pemimpin yang gagal.

sayang beliau tidak sadar kalo beliau telah gagal.

bentuk arogansi? ironic sekaliiiii…
*miris*

Begiulah, Bu.
/tyo/


#9

mawi wijna | 18 11 2009 @ 11.34.59

Tanggung jawab jadi pemimpin itu berat, tapi jangan sampai malah kita mendorong-dorong orang lain untuk jadi pemimpin.

Masalahnya tanpa perlu didorong pun udah maju jadi pemimpin :D
/tyo/


#8

andrias ekoyuono | 18 11 2009 @ 10.52.27

Ada yang lebih simpel bila sang petinggi memang merasa tidak bersalah : Keberanian memecat anak buahnya.
Lah wong mecat orang lain aja gak berani, apalagi mecat diri sendiri

YA!
/tyo/


#7

hedi | 18 11 2009 @ 10.22.48

Orang mengeluhkan norma hukum yang tak jalan sesuai ritme. Tapi orang lupa bahwa norma sosial yang menjadi peran masyarakat pun tak berjalan normal.

Aku rindu pada sosok cewek 17 tahun dari Tarki itu. Sudah langka di masyarakat.

Biar langka tapi ada dan semoga terus berbiak. Eh Hed, bukan Tarki lho…
/tyo/


#6

Erwin M | 18 11 2009 @ 9.53.51

Itulah kenapa (dulu) ada mata kuliah kewiraan di kampus. Masalahnya, mata kuliah itu cuma berlalu begitu saja tanpa pernah membekas di hati sang mahasiswa.

Kalau kewiraan kayakya beda deh :)
/tyo/


#5

iqbal mabukbahasa | 18 11 2009 @ 8.54.01

tanggung jawab itu anugrah manis ketika diterima pada awalnya, tapi jadi bencana pahit saat diminta pada akhirnya.

tul kan Pak Susno? pak bahadur? ;))

Pak Susno gak baca blog ini. :D
/tyo/


#4

sawung | 18 11 2009 @ 8.17.47

perwira tapi tidak punya sikap perwira. lupa die kalo jabatan cuma titipan

Bukan lupa. Emang gak tau.
/tyo/


#3

DV | 18 11 2009 @ 8.15.37

Kalau saya jadi para petinggi itu, aku akan menampik tawaran mengundurkan diri dengan alasan “Saya tidak mau colong glanggang tinggal playu” dan memasang kuat-kuat topeng Rai gedek saya :))

Kenapa harus dipasang? Bukannya emang sudah melekat sejak awal, embedded gitu? :D
/tyo/


#2

geblek | 18 11 2009 @ 7.47.54

hemmm ini masih ngomongin tentang negeri ini rupanya hahaha,
apa perlu di coba spt di negeri tetangga. bila pemimpin tidak sanggup bunuh diri saja :)

Tetangga jauh? Bunuh diri itu bukan tindakan orang beriman, Dik.
/tyo/


#1

herru | 18 11 2009 @ 6.59.40

jaman susah gini Paman, buat apa meletakan jabatan saat semua fasilitas tersedia?

Meletakkan jabatan tidak membuat mereka jadi kere.
/tyo/