Kepemimpinan, Keperwiraan
TAK SEMUA PEMIMPIN ITU BERJIWA PERWIRA
Cewek 17 tahun itu tenang sekali menghadapi hujan pertanyaan dari sejumlah orangtua murid yang mayoritas kaum ibu. Dia, sebagai komandan unit kegiatan siswa sebuah SMA putri, dicecar soal beratnya jadwal latihan sehingga melelahkan anggota. “Ibu, dulu sebelum mendaftarkan diri itu bukannya siswa dan orangtuanya menandatangani pernyataan bermeterai?” jawab si cewek dalam pertemuan di aula.
Dalam surat pernyataan termaktub kesanggupan untuk serius berlatih. Secara implisit juga ada tuntutan agar siswa dan orangtua punya kesadaran membagi waktu. Saya kagum. Cewek itu tidak gugup,tidak emosional.
Ketika ada seorang ibu mempersoalkan menurunnya prestasi belajar anaknya, maka si cewek mempersilakan si ibu berbicara dengan guru dan kepala sekolah. Perihal sikap sebagain asisten pelatih yang mengabaikan surat dari orangtua, cewek itu bilang, “Terima kasih. Saya dan teman-teman akan mengevaluasi kinerja para asisten dan mencari tahu apakah benar mereka begitu.” Saya melihat kepemimpinan dalam diri cewek itu.
Suasana bertambah tegang. Sejumlah ibu mempersoalkan sejumlah hal, yang tentu saja di luar kewenangan si cewek. Lalu tampillah Bu Guru. Dengan tenang dia berujar, “Saya yang bertanggung jawab. Saya pembina kegiatan siswa… blablabla anuanuanu…”
Saya ingat pembuka kalimatnya, “Saya yang bertanggung jawab.” Sabtu siang pekan lalu itu saya mendapatkan sebuah kelangkaan. Pernyataan tentang tanggung jawab. Tak hanya sampai di bibir karena memang selalu ada tindak lanjut.
Tanggung jawab. Keberanian menanggung risiko. Menuruti nurani. Itulah default-nya pemimpin. Maka saya heran jika melihat petinggi di negeri ini sampai didesak-desak untuk mundur. Ketika desakan makin menguat, masih saja mereka mengulang dalih dan kilah memuakkan. Masih lebih gagah pelawak bodoh yang paling tidak lucu bila dibandingkan mereka.
Saya teringat beberapa negeri lain. Pejabat-pejabatnya segera meletakkan jabatan jika harus bertanggung jawab terhadap sebuah kasus. Meletakkan jabatan, mengundurkan diri, memang tak berarti pengakuan bahwa dirinya bersalah karena salah dan tidak perlu dibuktikan bila perlu sampai ke pengadilan tertinggi. Lagi pula yang bersalah seringkali adalah anak buah. Mereka meletakkan jabatan sebagai bentuk tanggung jawab.
Saya teringat jenderal di republik ini yang melemparkan kesalahan ke anak buah. Kurang lebih dia pernah berkata tidak mungkin bila setiap kali prajurit melakukan kesalahan maka atasan harus mundur. Sungguh naif. Jika masalahnya serius, misalnya kekerasan dan pelanggaran HAM bahkan kejahatan terhadap kemanusiaan, tentu tanggung jawab lebih dituntut.
Hari-hari ini kita menunggu lebih dari satu petinggi mengundurkan diri. Jika itu akhirnya ditempuh, saya beropini bahwa itu karena terpaksa. Bukan karena tanggung jawab dan tuntutan nurani.
Jika mereka punya sikap perwira, maka sejak awal tak melindungi bawahan yang kacau, tak meminta pengunduran diri pura-pura.
Jika mereka berjiwa perwira maka para tuan itu mengundurkan diri sejak awal kasus meletup. Tak usah menunggu verifikasi. Tak usah menunggu mahkamah.
Perwira sebagai jabatan adalah satu hal, hanya karier semata. Tapi keperwiraan ternyata soal yang lain lagi. Setidaknya itulah pelajaran kepemimpinan — tepatnya kekuasaan — yang sedang mereka presentasikan.
Jangan-jangan republik ini memang tak kenal malu. Mengaku bangsa religius yang menjunjung akhlak tetapi tingkat korupsinya tinggi. Tapi mungkin saya salah. Bisa saja sebagian tuan menganggap tingginya korupsi sebagai prestasi, dengan alasan, “Negeri lain, maksud kami pejabatnya gitu, mana berani korupsi?” Lapan anem, Ndan. Cuih!
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Nebeng Makan
February 17, 2007 by AntyoHUENUAK, LHA WONG GRATIS JÉ!
Ketika jam makan siang tiba, sebagian peserta seminar masih asyik berdiskusi sekitar seperempat jam. Setelah itu mereka pindah ke ruang sebelah untuk santap siang secara prasmanan.
Astaga hwarakadah! Lauk sudah habis. Cuma kerupuk dan sambal yang tersisa.
Menurut para pengamat — ya sesama peserta seminar dan petugas jasa [...]
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Semua manusia dilahirkan jadi pemimpin,mulai mempin rumah tangga,sampai pada mempin Negara,tapi realitanya tidak semua orang mampu jadi pemimpin yang baik,termasuj juga saya sendiri,dilingkungan tempat tinggak saya,ada pemilihan RT,tapi tidak seorangpun yang mau tujnjuk tangan siapa yang mau jadi RT,dan kalau pun terpilih juga karena terpaksa,ini fenomena apa,atau telah terjadi krisis kepemimpinan di negeri ini,dan bagaimana dilingkingan RT,teman-teman.Thaks
—
Iya, di kota besar orang cenderung tak mau jadi ketua RT/RW. Tiba di rumah sudah capek. :)
/tyo/
tidak ada prajurit yang bodoh, yang ada adalah komandan yang tolol….
http://www.detiknews.com/read/2009/11/23/171019/1247238/10/kapolri-susno-mundur-memang-mobil
menumbuhkan jiwa kepemimpinan itu menjadi tugas kita bersama… mempraktekkannya dan menurunkan ilmunya kepada generasi penerus adalah suatu hal mulia… walau terseok-seok, walau berdarah-darah, walau dianggap kurang waras dan pasti sia-sia @_@…
Tak semua pemimpin itu berjiwa perwira..
Lebih cocoknya:
Tak semua perwira itu berjiwa pemimpin..
Saya setuju dengan analisis Bapak. Mnurut saya dasar dari rasa pertanggungjawaban itu blm dimiliki oleh perwira2 yang jadi pemimpin dinegara kita..yaitu berani mengaku salah dan punya rasa malu. Nth kapan rasa Malunya lebih besar dari Maluku (yang di Ambon)
Mantaf bangetz artikelnya bro?
ini semua gara2 oportunisme yang ditularkan terus2an. seolah politik kita adalah jejaring oportunis yg susah dienyahkan.
—
yah begitulah… :(
/tyo/
oke paman, saya yang njawab, sampeyan yang nanggung. adil kan?
btw, boleh dong kenalan sama yang 17 tahun tadi?
—
Lha… :)
/tyo/
si pejabat berdalih, “saya sih mau-mau saja bunuh diri, tapi ntar saya kena pasal penyalahgunaan wewenang dong.”
—
Ya! Bunuh diri dianggap melangkahi Tuhan padahal kita bangsa “religius” :D
/tyo/
Mudah2an aja mereka yang mengundurkan diri itu bukan sekedar karena berusaha lari dari tuntutan hukum :D
—
Mudah-nudahan, sulit-sulitan… :)
/tyo/