KARTUN BENNY RACHMADI MEREKAM ZAMAN.

Yang namanya kemelut BLBI itu ada sejak 1998. Apakah sampai hari ini sudah tuntas? Padahal moral ceritanya tetap: orang kaya ngutang ke negara tapi ogah bayar, bahkan kewajiban mereka ditanggung oleh seluruh rakyat. Ingat, para juragan itu tidak jadi miskin. Krisis monter 1998 dan akibat lanjutannya memang membingungkan. Bahkan ada pengacara yang moncer karena piawai membangkrutkan perusahaan atas permintaan si juragan.
Yang namanya rasa keadilan memang soal rasa. Setelah itu adalah akal dan bahkan akal-akalan. Bagaimana sontoloyonya potret perjalanan bangsa, dari presiden ke presiden, bisa dilihat di dua buku Benny Rachmadi, Dari Presiden ke Presiden, yang mencakup era Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, sampai dua periode Susilo Bambang Yudhoyono.

Moral ceritanya apa? Pertama: jadi presiden memang tidak gampang. Kedua: siapa pun yang jadi presiden bersiaplah untuk tersandera oleh kepentingan elite, termasuk lingkar dalam kekuasaannya.
Halah itu sih kuno. Maka persoalannya adalah beranikah seorang presiden mengambil keputusan tepat dan tegas? Habibie kikuk terhadap Soeharto, sang pendahulu. Para presiden pengganti Habibie tersandera oleh wakil-wakil partai di DPR yang banyak ulah.
Saya tidak tahu Oasis of the Seas, kapal pesiar anyar yang melebihi Titanic itu, punya berapa ruang untuk mengurung awak sialan dan penumpang berulah kriminal. Pasti ribet jadi kapten kapal dengan 2.165 awak dan 6.296 penumpang. Hanya dengan kapten bijak-pintar-tegas, dengan awak disiplin yang malas berontak tanpa alasan kuat, dan penumpang yang mau diajak dewasa, maka pelayaran tetap menyenangkan.

Lantas kedua buku ini memuat apa saja? Banyak, tapi kurang lucu kalau saya mengulanginya. Saya hanya ingin berbagi bahwa kepingan sejarah politik kita juga bisa dapatkan dari kartun. Tepatnya kartun opini di Harian dan Mingguan Kontan selama 1998-2009.
Adakah benang merah dari semua periode? Tentu. Yaitu korupsi. Tidak pernah bisa dibereskan padahal kalau mau rakyat pasti mendukung.
Tidak segampang itu, kata orang bijak. Kalau kotak pandora dibuka maka akan muncul kekisruhan nasional. Ekonomi macet. Rakyat akan kelaparan. Ujung-ujungnya kacau balau. Tapi ada juga orang bijak lain bilang, sekaranglah kesempatannya mumpung rakyat tidak apatis. Kalau peluang lepas, maka koruptor makin berjaya, sampai akhirnya kita harus mendukung korupsi.
Pendapat bijak ketiga: biarkan saja sampai semuanya remuk oleh korupsi, pasti setelah itu ada kebangkitan baru. Untuk nasihat ketiga ini, batas antara sabar, bijak, pasrah, bahkan putus asa, memang bisa tipis.








micokelana | 14 12 2009 @ 11.01.05
hanya gak fair juga ada satu presiden yang ukiran sejarahnya kelamaan di bangsa ini, hingga jejaknya masih saja gak bisa dilepas oleh yg menjabat saat ini…..
iqbal mabukbahasa | 02 12 2009 @ 20.47.17
ahhh, untung kemarin nggak jadi maju nyalon presiden, Paman. bisa stroke dini aku..
zam | 29 11 2009 @ 11.50.22
woh! buku keduanya udah keluar?? waaa.. harus beli! aku udah punya yg seri pertama.
oiya, buku Karikatur-Karikatu karya Pramono terbitan 1970-1982 yang saya beli itu seperti terulang lagi persis seperti apa yg tergambar di buku itu..
Indonesiaku ndak maju-maju!
edratna | 27 11 2009 @ 9.16.15
Pusing paman…..
Atau memang sulit ya menyelesaikannya
boyin | 24 11 2009 @ 11.28.34
Life is not fair..get used to it..gitu katanya paman
hedi | 24 11 2009 @ 0.42.37
masih saja harga bukunya mahal! (relatively).
Kardjo | 23 11 2009 @ 19.20.01
njenengan ini naga-naganya mau menjadi reviewer politik ya… selamat paman! ditunggu wejangan politik berikutnya…
jarwadi | 23 11 2009 @ 17.28.45
paman, saya pengin makan ikan (bakar)
yus | 23 11 2009 @ 17.25.08
korupsi itu hanyalah mekanisme distribusi ekonomi ala Indonesia, Paman.. :D
wongiseng | 23 11 2009 @ 14.54.14
Sorry mas paman menyampah, abis kecewa, gak baca belakangnya ada uya kuya di komentar @bocah, kirain beneran :(
wongiseng | 23 11 2009 @ 14.52.08
Pendapat bijak ke tiga, kalau menunggu terus dan rakyat kembali apatis bisa berabe, nunggu siklus 30 taunan buyar habis-habisan.
@bocah wah ini breaking news beneran ? *mesti segera nyari streaming tipi indo*
Wempi | 23 11 2009 @ 14.48.01
kalo baca reviewnya sepertinya buku ini bagus
bocah | 23 11 2009 @ 14.14.01
Paman sudah lihat teve belum? Kapolri dan Jaksa Agung dipecat oleh SBY. Presiden juga sudah memerintahkan aparat untuk menangkap Anggodo dan Anggoro. Bahkan SBY mengirim pasukan elit untuk memburu Anggoro di Singapura.
Buruan tonton Paman. Nama acaranya Hari yang Aneh, presenternya Uya Kuya. Pokoknya konyol abis…
bangsari | 23 11 2009 @ 13.37.29
menjadi repot lagi karena orang nomer satunya menjadi pelaku utama. kaya yang sekarang itu.
jensen99 | 23 11 2009 @ 13.29.21
Di negara ini, sudah gak jelas siapa mau mengawasi siapa, paman. Di pusat sana masih ada KPK yang bisa nyadap2 dan tangkap basah. Keluar dari ibukota, pemberantasan korupsi hanya berkutat di audit laporan keuangan, dan gak ada hasilnya.
Mungkin presiden dan MPR musti mindahin ibukota ke pedalaman Sulawesi (misalnya) tuk penyegaran, siapa tau bisa jadi kebangkitan baru kalo ngantor jauh dari tempat uang berputar. :P
DV | 23 11 2009 @ 12.42.26
Tidak ada hal yang baru di bawah matahari yang sama sejak presiden yang lalu-lalu sampai sekarang dan selamanya. Begitu, Paman?
Nyatet satu buku lagi yang harus kubeli di Indo nanti…
mpokb | 23 11 2009 @ 11.56.09
saking sudah semrawut, jadi bingung mau mulai dari mana, bang paman.. tapi kata mitologi, kotak pandora itu masih menyimpan satu2nya kebaikan, namanya “harapan”. btw, saya baru punya buku I nih, belum selesai baca lagi :P
pema | 23 11 2009 @ 11.55.10
Ah…De Javu…Paman!