Pidato Paman Kikuk
DARI HATI YANG TERDALAM UNTUK ORANG-ORANG YANG TAK KUNJUNG PAHAM.
Saudara-saudara, dari hati yang terdalam saya ingin menyatakan bahwa sesungguhnya saya amat prihatin dengan keadaan ini. Perkembangan masalah sudah keluar dari jalur, bahkan mengarah pada character assassination, sehingga pidato lengkap saya diringkas menjadi empat karakter: cuih. Tepatnya lima karakter bila ditambahi tanda pagar.
Pagar, Saudara-saudara. Pa-gar. Itulah batas langkah kita. Pagar adalah batas wilayah maslahat dan mudarat. Di wilayah yang di balik pagar itu, ada sebuah lorong panjang beratap. Itulah koridor menuju bangunan besar. Saya selalu menempuh koridor itu karena semua rambunya telah jelas bagi saya. Maka dengan tulus dan penuh rendah hati saya mengharap agar jangan paksa saya keluar dari koridor itu.
Saya bukanlah penghibur yang berkewajiban menyenangkan sebanyak-banyaknya orang, sebesar-besarnya khalayak ramai maupun sepi, lalu mengorbankan orang-orang yang dengan segala kekurangannya telah membantu saya. Tidak, Saudara-saudara. Jangan paksa saya lakukan itu.
Dalam sanubari saya ada satu hal yang saya pegang teguh bahwa keselarasan dalam kebersamaan adalah segalanya. Janganlah hendaknya tata dikorbankan meskipun tujuannya mulia, bahkan misalkan pun sesuai dengan impian dan keyakinan saya. Tata tentrem adalah segalanya bagi saya.
Dengan segala kewenangan saya, apalagi didukung oleh rakyat — tapi maaf saja rakyat kadang bisa menjadi sekumpulan besar serigala — dapat saja saya melakukan sejumlah langkah tegas dan pasti.
Dengan posisi saya sekarang ini, apalagi dengan restu segenap rakyat, dapat saja saya menerabas paugeran, mengabaikan semua rambu yang kita susun bersama, agar orang-orang tertentu mendapatkan ganjaran atas perilakunya.
Saya bisa. Saya mampu. Apalagi jika dan hanya jika kita bersama. Tetapi saya tidak menginginkan, katakanlah, perbenturan besar yang merugikan kita semua padahal kehidupan masih harus kita jalani dengan tenang. Jadi, itu bukan karena saya tersandera oleh rambu yang penerapannya, bahkan penyusunannya, bergantung pada pihak lain. Bukan karena itu. Juga bukan karena saya takut, tiada bernyali, apalagi pengecut. Bukan.
Saya percaya bahwa orang-orang yang saya percayai dapat menerima amanat saya dengan penuh kedewasaan meskipun tidak saya nyatakan secara tegas di depan umum. Kalaupun mereka tidak dapat menangkap isyarat, tentulah itu bukan kesalahan saya. Mereka bukanlah anak kecil. Jika mereka tak melakukan apa yang saya harapkan, maka tidak pada tempatnya jika Saudara-saudara menagihkan penggenapannya kepada saya. Ini hanyalah soal pembagian tanggung jawab saja.
Kepada Saudara-saudara saya juga amat sangat dengan hormat mengharapkan agar lebih dewasa dan bijak dalam mencerna pokok pikiran saya. Manakala Saudara-saudara menuntut saya menyatakan hal penting secara ringkas dan tegas maka itu, mohon maaf, sama saja dengan menyederhanakan persoalan.
Ketika kalimat diringkas, yang terjadi adalah pendangkalan makna. Nuansa terpinggirkan, peta persoalan kurang terpahami, sehingga masalah hanya dilihat secara hitam dan putih.
Marilah kita kembali bekerja. Buang jauh-jauh pikiran sesat dan niat busuk. Mari kita jaga kebersamaan. Percayalah Saudara-saudara, bahwa dengan niat baik dan kehendak tulus, disertai kerja sama dan tenggang rasa, maka kita akan dapat mencapai tujuan bersama, yakni kehidupan yang berkeadaban, menyenangkan, membahagiakan, adil, makmur, sentosa, sejahtera, keren, pokoknya oke banget gitu lho. Percaya deh! Bener. Asli. Situ mau apa? Cuih!*)
Salam,
Paman Kikuk
(bukan saudaranya Paman yang punya blog ini)
“cih p kata seru menyatakan tidak suka, mengejek, dsb: – pembohong, tidak bermalu“. Adapun menurut Bahtera, penjelasan “cih” dalam bahasa Inggris serupa “exclamation of scorn, disgust, disapproval“.
Maaf jika saya seperti bercongkak diri dalam soal bahasa. Jangan menghina, meski saya dibesarkan dalam korps yang menyukai perkelahian, bahkan bersekolah khusus dan dibayar untuk itu, saya selalu mencoba cermat dalam berbahasa — dengan maupun tanpa teks. Terima kasih. Paman Kikuk.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Dasar Pethuk: Patuk Patok Ketemu Pathuk
July 13, 2007 by AntyoPIA, UBIN, DAN KELOMPOK KIRI.
Misalkan bakpia dari Pathuk, Yogyakarta, itu sudah menjadi salah satu jenis penganan, maka bolehlah ditulis sebagai “bakpia pathuk” (dengan “p” kecil, karena bukan nama geografis). Sama seperti “gudeg yogya” dan “soto madura”, begitulah.
Mengapa bakpia tak (harus) mengandung “bak” (pork)? Bacalah riwayatnya. Tentu, pia tak hanya di Pathuk. [...]
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Wah ha ha . .
Asli lucu banget.
Damn, saya lupa belum pake celana . .
Duh, pidato kapan tuh pak…berbakat ya jadi pengganti AA Gym…kok udah lama sih updatenya paman?
…
**bingung mau ngomentari pidato mbingungi…
gak mudeng…
ini dukungan apa sindiran ya?
~ hmmm…… mencurigaken…. ;))
kembalikan paman tyo-kuuu!
enyahlah kau paman kikuk!
:lol:
ah paman kikuk nan jujur
Paman Tyo!!! akun blognya dihack ama Paman Kikuk!!
Seperti gaya pidato pejabat otoriter…
Udah baca nih, Paman. Tapi, artine opo :(
Hancurkan saja pagarnya, biar jadi ramai…
Udah dibaca berulang-ulang…
waduhh bahasa paman tingkat tinggi…..
Bahasanya tingkat tinggi. Ndorokakung aja lewat…. ndak ngerti sayah paman…
waaawwww.. thx tulisan-nya !!
The Journey of The Messenjah
http://www.the-messenjah.blogspot.com/
mampir yaakkk.. ^^
entahlah. rasanya saya marah sekali sampai ke ubun-ubun.
terkutuklah si paman kikuk itu! jancuk!
dasar paman kikuk..bikin semua orang jadi kikuk