MAKA ADA SAJA ANAK OBES DENGAN ASUPAN KALORI BERLEBIH. :)

Saya tak paham sepakbola tapi kadang bisa menikmati sejenak bal-balan ngawur anak kecil. Saya sebut ngawur karena tanpa sepatu, tanpa pelatih, lokasi di mana saja, dengan aturan yang dibuat sendiri. Dari sana saya selalu melihat ada saja bocah yang gesit, lincah, ulet, dan bisa menjadikan bola sebagai bagian dari dirinya.
Tak istimewa, kata Anda. Setiap anak lelaki pernah mengalami, kata Anda. Bahkan anak perempuan saya pun mengalami. Dulu setiap kali saya atau istri menjemput ke SD-nya, si genduk sudah basah kuyup dan gosong, awut-awutan seragamnya, karena sedang bermain bola dengan anak laki-laki. Sampai sekarang dia lebih paham bal-balan ketimbang saya.
Anak dalam, anak luar
Bal-balan bocah itu saya nikmati tadi siang selagi berteduh di gardu pinggir lapangan beton. Lapangan yang tak sampai setratus meter dari rumah itu multifungsi: untuk basket, voli, dan futsal — tidak ada tenis. Saya berada di sana karena sepulang dari warung tiba-tiba hujan deras. Harus berteduh.
Mulanya anak-anak itu tetap di gardu. Satu anak berani berbasah melakukan dribbling di bawah guyuran hujan, dua lainnya ikut. Lalu tak sampai lima menit dua lainnya terpancing.
Siapakah mereka? Bukan anak-anak di RT saya. Tampaknya juga bukan anak RT sebelah. Tapi mau anak dalam atau anak luar kebutuhannya sama: ruang bermain.
Rasan-rasan tentang anak dalam dan anak luar sempat terdengar ketika lapangan itu dulu baru selesai ditata dengan iuran warga RW. Anak-anak kompleks dari RW lain ikut memanfaatkan. Mereka datang karena berteman dengan anak-anak RW pemilik lapangan. Ini hukum pergaulan.
Juga ada rasan-rasan bahwa (maaf) “anak kampung”, yaitu warga luar kompleks, ikut memanfaatkan. Ini hukum ruang hidup. Liebensraum. Setiap organisme butuh ruang untuk bermukim, makan, kawin-mawin, dan bermain (apalah semut dan lalat juga bermain-main tanpa tujuan?). Bahwa kebutuhan akan ruang hidup akhirnya menganeksasi teritori lain, sehingga peta hegemoni bisa berubah, itu adalah hukum kehidupan — tapi peradaban mestinya bisa menjinakkan, sehingga Amerika tak perlu menyerbu Irak demi minyak.
Saya berlebihan? Mari kita lihat. Warga sebuah kompleks makmur yang lingkungannya bagus (banyak pohon), punya jogging track, cenderung kurang suka dengan warga luar yang memanfaatkan area untuk olahraga. Bahkan ketika sebuah sport center berbayar pun akhirnya disesaki orang luar, lengkap dengan berjubelnya kendaraan di parkiran, warga dalam pun merasa terganggu. Kolam renang kayak cendol, keluh beberapa warga. Banyak alay, keluh anak-anak priyayi.
Dalam urusan beginian, definisi warga luar tak cukup dilihat dari kawasan periferal yang rendah proksimitasnya dari sentrum. Beberapa tahun lalu di Kompas ada surat pembaca, dari warga Kota Wisata “Cibubur” (sebetulnya sudah di luar DKI), yang mengeluhkan keriuhan orang-orang dari jauh yang berwisata di kompleksnya pada akhir pekan. Strategi pengembang dengan menjual arsitektur aneh (menurut beberapa arsitek) akhirnya menjadi bumerang: orang-orang ingin melihat-lihat, padahal itu mengusik ketenangan penghuni.
Pelengkap bernama ruang terbuka

Tentang anak-anak yang bermain bola itu, jelas banget persoalannya. Mereka butuh ruang. Naluri mereka akan selalu mencari ruang, bahkan kuburan pun untuk bermain layangan dan perang-perangan.
Keterbatasan ruang juga melahirkan kreativitas semacam streetball (OOT: Aha! Di Polonia, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, ada perempatan yang punya ring basket). Maka dulu, ketika ada teman pulang dari Brazil, saya menagih dua hal: foto anak-anak bermain bola dan cerita tentang pembibitan maupun pengembangan bakat. Sayang sebagai pecandu bola hal itu terlewat olehnya. Dia lebih bersemangat berbagi pengalaman dan foto tentang cewek latinas. :))
Keterbetasan ruang? Versi siapa? Lihatlah beberapa kompleks perumahan kota besar pada hari libur. Tak sedikit anak-anak yang tetap di dalam rumah karena dalam tempurung hunian ada bacaan, TV, video, PlayStation, dan… internet! Kalau tidak di rumah, mereka diajak orangtuanya ke mal.
Mal adalah kebun binatang yang komplet, tetapi kandang satwanya (dan penghuninya) sudah berganti wujud sebagai branded shops, salon, kafe, resto, game arcades, dan… bioskop. Pengunjung cukup datang pagi dan pulangnya malam. Datang tanpa keringat, pulang tanpa peluh.







eko magelang | 21 12 2009 @ 22.11.10
saya kok malah tertarik dengan istilah anak dalam dan anak luar, menurut paman apakah yang menyebabkan munculnya istilah itu ? apa sudah berkurangnya rasa persaudaraan diantara anak-anak itu paman ?
annas bakudara | 19 12 2009 @ 21.07.53
heh, ternyata sulit juga setelah tua untuk beromantisme ria masa kecil dulu. gedung2 sudah menggantikan posisi lahan yang memberi sejuta rasa waktu kecil dulu
ditto | 16 12 2009 @ 10.04.23
“Datang tanpa keringat, pulang tanpa peluh”….. salut Paman!
Yoyo Imut | 16 12 2009 @ 9.27.40
Zaman skr ruang bermain semakin berkurang ya
alhakim | 16 12 2009 @ 6.24.08
Bal-balan waktu hujan emang menyenangkan paman. Gak keringetan blas :)
adrian | 15 12 2009 @ 9.37.14
jadi inget waktu kecil dulu….
tokoribbon.com | 14 12 2009 @ 6.57.48
Ada 1 hal yang tidak atau jarang sekali dirasakan oleh warga perumahan elit, yaitu bisa bermain dengan bebas bersama teman sebaya!!!
Edi Psw | 12 12 2009 @ 7.33.05
Asyik memang bal-balan itu, apalagi bal-balan disaat hujan, wah, bakal tambah seru.
gambang semarang | 10 12 2009 @ 17.18.46
Jadi inget masa kecil neh, bahagia banget rasannya.. mau tukeran link gak mas?? aku tunggu kunjungan baliknya ya, makasih, salam sukses,.
-goenrock- | 09 12 2009 @ 18.25.20
Saya dari dulu paling ndak bisa main bola. Kalau disuruh jadi kiper, meleset terus nangkep bola. Begitu disuruh jadi striker, bukannya bolanya ditendang, malah ditangkep pake tangan. =))
infosuporter | 08 12 2009 @ 16.49.56
jadi inget lagunya iwan fals. mereka ada di jalan
Andrie-SekolahVirtual | 08 12 2009 @ 14.11.44
sekali lagi paman…
ya namanya juga Anak-Anak…
{saat terindah tanpa ada rasa ketakutan menghadapi hidup yang sangat keras (kecuali hanya kekerasan sesama mereka), masih berfikir akan ada yang tetap mengayomi mereka}
Silvia Florensia | 05 12 2009 @ 22.16.24
Paman, salam kenal yaa.. ^^
triesti | 05 12 2009 @ 15.01.25
artinya ‘Alay’ benernya apa sih mas?
dedysetya | 05 12 2009 @ 1.37.28
hebat, dari numpang berteduhnya saja bisa dapet gambar dan cerita sangat bermutu.
elia|bintang | 04 12 2009 @ 19.33.15
saya suka banget main bola. pas kecil juga suka main bola di pinggir jalan ujan-ujanan.. tapi kalo harus foto orang main bola atau cewe latinas, saya milih foto cewe latinas lah pamaann! haha :p
jensen99 | 04 12 2009 @ 10.59.37
Tapi paman, bal-balan di playstation itu sensasinya gak kalah hebat loh! Pasti paman pernah lihat rental2 PS di komplex, dan melihat gim2 bola bajakan itu mempersatukan anak2 dari berbagai usia (bahkan orang dewasa), status sosial dan domisili (anak dalam maupun luar). :D
Tapi ya kangen juga maen bola kecil di lapangan basket kaya’ jaman SMA dulu. Sekarang lapangan futsal komersil semua. Duh…
edratna | 03 12 2009 @ 11.28.45
Saya pernah tinggal di komplek rumah dinas…jika sore hari warga luar datang sambil momong anak-anaknya di taman, sambil bawa makanan dan ngrumpi. Tapi kami membiarkan mereka, karena toh mereka tidak mengganggu, bahkan akhirnya terjadi pertukaran kebutuhan dengan warga komplkes. Karena di kampung sebelah (istilah lain dari warga luar), banyak fasilitas tukang pijit, tukang cuci, dan sopir. Dan mereka siap menolong jika diminta bantuan.
bangaip | 03 12 2009 @ 0.06.00
“foto tentang cewek latinas”
Paman, kalau boleh saya dan rekan-rekan sak-Cilincing ikut memohon supaya yang bersangkutan memajang foto-foto tersebut di blognya :D
anto | 02 12 2009 @ 7.51.30
ouuhhh itu sih mainan ku dulu, selain maen bola, aku juga maen gatrik, kaleci(kelereng)n pedang pedangan
nasgur | 01 12 2009 @ 20.49.21
hehehe3x
jadi inget diskusi sama kolega-kolega di tempat kerja saya.
kami membahas permainan2 masa kanak2 dari masing2 daerah.
Mulai gobak sodor, kasti, lompat karet, patil lele, lompat kelinci, engklek, dakon, petak umpet, kartu tempel, kwartet, gundu / kelereng /guli, apiong / gasing, dsb dsb (perhatikan pengulangan dsb di sini :)
diskusi mengerucut menjadi kenapa permainan ini tidak populer lagi. Salah satu kesimpulan debat kusir sore itu adalah, mereka sudah kehabisan ruang bermain. Jadi mereka lebih suka mancing di depan tv pake tongkat imaginer dari pada merasakan sedapnya memancing dengan joran.
ebeSS | 01 12 2009 @ 15.18.50
iya bal2an ngawur . . :)
nyaris seluruh stadion indonesia juga nggak paham aturan bal2an!
pokoknya dirasa nyalahi aturan ngawur, nggak peduli wasit, hakim garis, ya dihakimi pemain!
namanya juga bal2an ngawur, jadi boleh saja main pukul, tinju, nendang orang, wasit . . he3
*dari foto2 itu terlihat, bahwa PSSI hanya lebih beraturan pada kostum, tapi bal2an anak kampung itu lebih sportif dari pada PSSI yang sering tawuran :)
dilla | 01 12 2009 @ 14.39.06
biasanya orang ke mall slain liat2 juga buat ngadem :lol:
jakarta sumuk jhe..
wahyu hidayat | 01 12 2009 @ 11.29.17
jadi inget waktu dulu kuliah paman. Inget pernah ikut diskusi ttg ruang terbuka di depok (kebetulan kuliah di daerah sana), yg semangkin menyusut sahaja. Imbasnya, banyak “orang2 luar” yg “rekreasi” di dalam kampus. Sehingga, tingkat kriminalitas jadi tinggi. Malah pernah ada mahasiswa yg mati ditusuk pas pulang kuliah. Korban penodongan gitu. Emang, kita butuh lebih banyak ruang terbuka paman…..
junjung | 30 11 2009 @ 20.39.46
sama dgn yg dibawah paman, kadang2 saya main bola bukan untuk menang, tp biar diliatin mahasiswi..kikikik
—
Yeah, rugi kalo main gak diliatin? Zaman saya dulu cewek seneng softball kalo banyak cowok yang liat. :D
/tyo/
geblek | 30 11 2009 @ 20.39.13
alay ? hahaha jadi inget kalimat temen “diskotic apaan nih banyak alay alaynya”. :)
eh mas paman alay itu dr bahasa apaan sih ?
—
Alay? Setahu saya anak-anak Jakarta yang memulai. Ini kata yang pejoratif. Mulanya untuk meledek anak-anak muda dari kelas sosio-ekonomi bawah, lama kelamaan untuk meledek apapun yang gak seirama dengan selera kelas atas. Kelebihan orang makmur adalah bisa menghina orang yang tidak makmur. Ngeselin memang.
/tyo/
andril21 | 30 11 2009 @ 19.21.48
masih sering main bola dibawah guyuran hujan sama temen kampus, bedanya kalo dulu gak ada yang liat. kalo sekarang yang liat mahasiswi… jadi kadang yang badannya bagus pada buka baju… he…he…he…
—
Hidup eksibisionisme! :D
/tyo/
zam | 30 11 2009 @ 16.34.23
@Andrianto: itu resiko. kalo pengen yg tertutup dan eksklusif, sekalian saja hidup di barak militer. :p
—
Tangsi, Zam? Duh!
/tyo/
Cah Gembagus | 30 11 2009 @ 12.49.16
nyawang fotone, kelingan jamanku cilik… hiks…
jun | 30 11 2009 @ 12.32.04
Satu dari dua anak laki-laki saya termasuk jenis “anak kampung”, bukan dalam pengertian orang luar kompleks perumahan tapi anak yang senang bermain ala orang kampung. Misalnya, ya main bal-balan ngawur seperti yang ditulis Paman ini. Tapi sekarang, setelah duduk di kelas I SMA, dia lebih sering ke kebun binatang yang komplet —yang bernama mal— daripada bal-balan di bawah guyuran air hujan maupun di bawah terik matahari.
—
Mal itu sejuk. :)
/tyo/
Andrianto | 30 11 2009 @ 12.31.47
saya kira persoalan dipakainya fasilitas komplek oleh orang luar penyelesaiannya tidak semudah dengan tenggang rasa, pengertian dll deh, Pada saat membeli rumah disuatu komplek dengan harga (yang tentunya) cukup mahal,pasti didalam harga itu ada komponen jogging track, kolam renang komplek dan tanah yang gak bisa jadi uang karena dipakai jadi ruang terbuka untuk warga komplek kan? ada rasa eksklusifitas disitu.. lah orang bandung saja masih suka sebal kalo tiba2 kotanya pas sabtu minggu kepenuhan orang jakarta, apalagi sekedar komplek..
—
Tentang perasaan warga Bandung saya bisa maklum. Jalanan macet, parkir penuh. Mobil-mobil berpelat B.
/tyo/
mpokb | 30 11 2009 @ 11.23.39
masalah rebutan ruang publik biasanya dialami penduduk kompleks suburban, bang paman. warga yang lebih dulu tinggal di sana merasa bahwa kompleks itu masih bagian dari ruang hidup mereka. penghuni kompleks suburban itu, kebanyakan memang pendatang. tenggang rasa aja kali ya, namanya juga hidup bareng2..
—
Apalagi kompleks baru itu dulu kebon engkongnya! Bener Mpok, perlu tenggang rasa.
/tyo/
Adrie | 30 11 2009 @ 11.14.33
Pak De mengingatkan akan masa kecilku dulu. Bal-balan sambil ujan-ujanan, pulangnya dimarahi Ibuku, hehehe
hedi | 30 11 2009 @ 10.29.35
kalo disuruh milih, mending hujan2an dari pada ke mal, penyebabnya satu: aku ga punya cukup uang buat belanja :P
—
68% orang ke mall gak belanja barang kan? Cuma makan dan minum. :D
/tyo/
frozzy | 30 11 2009 @ 10.24.44
jadi inget lapangan tempat maen boy2an di kompleks dulu, sudah berubah jadi rumah-rumah. ponakan2ku maen bola di tanah kosong sebelah rumah yang sudah ada pondasi, paling sebentar lagi jadi rumah, hilang sudah tempat bermain mereka.
—
Perlu dimenye-menyekan ini! :D
/tyo/
dudi | 30 11 2009 @ 8.46.45
kalo kata bang iwan:
—
Uang dan uang. Walah.
/tyo/
Daus | 30 11 2009 @ 6.29.45
Jadi ingat masa lalu. Senang main bola sambil diguyur hujan di tanah lapang. Sekarang, tanah lapang itu sudah jadi hutan ruko.
—
Lantas di manakah Kafka bermain, Pak?
/tyo/
caktopan | 30 11 2009 @ 5.54.15
asiknya maen bola ya pas ujan2, paman… kalo sliding (ngerebut bola) bisa mulus. apalagi lapangan uda diplester halus… bokong masih bisa selamat..
bicara soal mal, hari ini saya dan keluarga muter2 Batam pake motor. dari ujung ke ujung lagi. Istri saya senengnya bukan main, “Hehehe…enak. ga perlu keluar duit”. Menurut dia, ke mal identik dengan keluar duit.
—
Asyik, mengenal kota seribu ruko! Emang, ke mal itu keluarin duit, minimal parkir. :)
/tyo/
DV | 30 11 2009 @ 5.43.43
Nek menurutku, asiknya main bal2an gitu justru pada asiknya mencari ruang publik yang tersisa, Om.
Dulu disediain lapangan bal2an di alun2 kabupaten, tetep saja paling asik main di pekarangan rumah tetangga yang sedikit2 harus berhenti karena diusir empunya tanah :))
fahmi! | 30 11 2009 @ 3.50.59
sip paman! asik’an berhujan2 gitu daripada winning eleven, hehe :D
—
Bukannya keduanya layak dilakukan, karena sama-sama menyenangkan? :)
/tyo/
wongiseng | 30 11 2009 @ 2.56.30
Sebenenrya enak di tanah air, mau menikmati main di lapangan terbuka dengan anak tidak perlu menunggu musim panas. Sak parah-parahnya ya main bola hujan-hujanan, itupun malah asik.
Di tempat lain cuaca panas ditunggu berbulan-bulan, yang panas terus malah milih ngadem di mal :P
—
Manusia emang gak pernah puas kan? ;)
/tyo/
galeshka | 30 11 2009 @ 2.03.37
Emang prihatin sih Paman, kalo liat anak sekarang kayaknya hiburannya lebih banyak di dalam rumah. Kalo dipaksa bermain, ya paling larinya ke jalanan.
Jadi keingetan jaman kecil dulu kebetulan tinggal di dalam pabrik, jadi ruang bermainnya ya satu pabrik :D
—
Ruang kian terbatas dan… mahal! :)
/tyo/