Catatan Pasca-koin
MASIH ADA SEJUMLAH TANYA.
“Cuma sebatas itu ya kepedulian orang urban dan kelas menengah? Di luar Prita nggak perlu diurus? Apa karena Mbah Minah, dan lainnya, bukan pengguna internet?” tanya seseorang kepada saya. Itu pertanyaan kesekian dari orang yang berbeda.
Ada pula yang seperti ini, “Lho katanya Langsat itu rumahnya blogger? Tapi mana blogger-nya, kok yang gabung sejak awal sebagai relawan malah banyakan orang-orang biasa, bukan blogger? Padahal katanya ini soal kebebasan berpendapat di internet kan?” Saat itu memang jam kerja, dan sebagian bloggers masih ngantor.
Di tengah kesibukan ini-itu, tapi bukan menghitung koin, saya mendapatkan SMS, “Apa bnr blogger ibukota tuh sukanya kopdar, mau dtg ke acr apa aja asal bs skalian ktm tmn?”
Itu belum cukup. Ada yang bilang ke saya, “Uh, Prita jadi seleb ya sekarang. Malah denger-denger dia udah terima duit dari dokter-dokter tapi diem aja?”
Oh ya, ada pula yang begini, “Pinter ya ambil momentum. Langsat dan dagdigdug dikenal orang. Tapi positif kok.”
Hmmm… perlu paparan jernih, jujur, dan sebisa mungkin tidak menyinggung siapa pun untuk membahas ini. Dari mana mulainya?
Prita yang Canggung
Tentang Prita terima duit di luar koin saya tidak tahu. Anehnya pertanyaan ini saya dengar dari beberapa orang yang berbeda dan masing-masing mengaku sumbernya dari “kalangan dokter”. Black campaign? Entah. Atau dokternya menyumbang pakai koin? Oh, memang ada, bahkan dia menggerakan orang untuk menyumbangkan koin demi Prita. Sayang dia kurang suka diekspose. :)
Kesan saya tentang Prita, dia sendiri kikuk dan tak nyaman menjadi sorotan, apalagi diperlakukan seperti seleb. Menjadi bintang berarti memenuhi harapan banyak orang. Misalnya harapan berbincang lama dari pendukung dan kemudian relawan. Kesempatan itu pernah ada, waktu Obrolan Langsat, September lalu. Jika Anda pengguna Facebook, dapat melihatnya di sini, berikut foto-foto khas FB. :)
Saya tak menghadiri Konser Koin untuk Keadilan yang digagas oleh Adib Hidayat (bravo!), tapi dari laporan di Twitter terasa seru banget. Yang saya tahu, sebelum hari konser Prita merasa terharu sekaligus tak enak hati. Sepertinya dia khawatir dianggap membesarkan nama diri. Dia masygul. Apalagi sekian lama media menjadikan dia sebagai tokoh sentral. Tetapi apa boleh buat dia harus berbicara, antara lain supaya orang lain tak mengalami.
Kepedulian kelas menengah
Jika membatasi kasus Prita dan dukungannya sebatas ranah internet, maka itu boleh disebut persoalan kelas menengah. Kelas sosial yang punya akses terhadap informasi dan ikut memproduksi konten — lalu menjalin kerja sama karena internet.
Membesarnya dukungan terhadap Prita, melalui koin, dan akhirnya konser, juga karena peran mainstream media — terutama TV. Tanpa TV, gaungnya kurang kuat. Tanpa TV (dan koran), orang-orang biasa yang bukan pengguna internet takkan tergerak untuk menyumbang dan menjadi relawan penghitung koin.
Sampai di sini masalahnya menjadi menarik. Bagi sebagian orang persoalannya adalah terusiknya rasa keadilan karena individu (seorang Prita) dimintai ganti rugi Rp 204 juta oleh lembaga besar (Omni), “hanya gara-gara mengeluhkan pelayanan”. Ada solidaritas terhadap mereka yang dirasa teraniaya.
Apakah itu karena e-mail, atau lantaran surat pembaca, atau tersebab obrolan arisan, barangkali tidak penting. Ini soal konsumen yang berposisi sebagai Dawud melawan korporat yang menjadi Goliath.
Dua arus utama kepentingan bersua. Yaitu hasrat akan kebebasan menyatakan pendapat (dengan penolakan terhadap kriminalisasi melalui pasal 27 ayat 3 UU-ITE) dan terlukainya rasa keadilan. Masing-masing arus bisa berjumbuh, bisa juga agak terjauhkan, baik bagi pemakai internet maupun bukan. Itu pun masih ditambah ketidakpuasan masyarakat terhadap praktik penegakan hukum. Di dalamnya ada juga kekesalan terhadap negara.
Kasus orang kecil selain Prita
Jika kita digugat oleh desakan atas nama moral, karena tak melakukan gerakan serupa — berupa sikap (dukungan suara) dan tindakan (mengumpulkan uang) — terhadap kasus pidana lain, dengan korban orang kecil, maka bisa saja kita cenderung mengalihkan diskusi. Kenapa? Karena tak nyaman.
Tentu saja alasannya banyak. Tapi ada satu-dua yang saya coba rumuskan — kalau salah silakan Anda koreksi. Yang pasti tulisan ringkas bisa mempermiskin nuansa, dengan akibat saya akan dianggap sengak. Misalnya?
Urusan pencurian kecil berbeda dengan kasus Prita. Sekecil apapun pencurian, dan apapun motifnya, sudah diatur dalam hukum pidana. Kurang lebih ini seperti gumam, “Emang kalo sandal baru diembat kita nggak boleh nganggep yang ngambil itu maling?” Artinya, by default sebagian dari kita menganggap itu “biasa”. Soal seperti ini sebetulnya mengisi pikiran banyak orang, tapi kita sungkan menyampaikannya.
Adapun dalam kasus Prita, persoalan utama adalah kriminalisasi (apa yang dia lakukan di mata jaksa dan hakim adalah tindak kejahatan). Persoalan lainnya — yang jujur saja tak dapat kita pisahkan — adalah wilayah perdata tentang gugatan ganti rugi. Dua perkara berjalan paralel dan menurut publik itu melukai rasa keadilan.
Jika menyangkut “kejahatan kecil”, kita akan tersentak manakala ganjarannya melebihi kepantasan, karena hanya merujuk pasal semata.
Persoalannya menjadi kontekstual dalam arti diperbandingkan: sama-sama melanggar pasal, tapi koruptor berkemungkinan lebih enak pada akhirnya. Tutup mata Dewi Keadilan ternyata sudah dibuka dan dibuang. Neracanya pun tak pernah dikalibrasi. Itu menyakitkan bagi rakyat.
Gugatan moralnya adalah: kenapa orang, terutama pengguna internet (termasuk saya!), hanya bisa jengkel, dan tak membuat aksi dari pembolasaljuan isu sampai gerakan nyata? Anda yang akan menjawab. Kapling ini bukan monopoli saya selaku pemilik blog. :)
Blogger, gerakan spontan, sampai Langsat
Saya belum, dan memang tidak ingin, membuat sensus berapa banyak bloggers yang memobilisasi pemberian koin dan menjadi relawan. Saya hanya bisa bilang banyak. Termasuk di dalamnya adalah yang tidak menghitung koin karena melakukan hal lain (pencatatan, pengangkutan, bantuan uang, dsb). Intinya adalah keterlibatan langsung.
Perihal gerakan koin, pada mulanya ini sporadis, spontan. Awalnya tak terbayangkan bahwa jumlahnya akan banyak sehingga merepotkan. Tanpa relawan dan dukungan logistik plus konsumsi, koin bisa menjadi timbunan bisu yang tak tertangani.
Karena spontan, juga tak terpikirkan soal Paypal dan cara ber-uang yang lain. Karena spontan, maka tak terpikirkan bahwa logo kuning-hitam-putih bisa dianggap mirip lambang Partai Keadilan. Oh ya, dalam spontanitas itu sejak awal tak niat pihak tertentu menjadi sentrum. Setiap penjaring koin boleh menamai sendiri gerakannya dan boleh membuat logo sendiri. Adapun situs koinkeadilan.com hanya diniatkan sebagai salah satu simpul informasi, bukan gerbang utama.
Karena spontan, dan mungkin naif, sejak awal terpikir tak ada bintang, baik berupa lembaga maupun orang. Tapi media membutuhkan narasumber, dan di sisi lain pekerja koin juga butuh memobilisasi dukungan (lebih utama lagi: pertanggungjawaban terhadap publik). Akhirnya ada yang merelakan diri tampil sebagai juru bicara secara wajar. Yang saya maksud wajar adalah tidak perlu bergaya Subcommandante Marcos yang menutupi wajah (tapi menampakkan pipa).
Tentang Langsat, hahaha, sebagian besar relawan tak tahu itu kantor apa, bahkan nama angkringan Wetiga pun tidak penting. Langsat cuma alamat. Langsat bisa diganti lapangan voli, balai RW, atau nama lain di tempat yang berbeda. Langsat hanya nama jalan, dan di sana terdapat banyak rumah. Arti Langsat bagi istri dan anak saya berbeda dari arti Langsat di benak kerabat tetangga sebelah dan depan.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Lagi-lagi Lagu-lagu Lugu Belagu
December 20, 2006 by AntyoKUPING KITA TAK SANGGUP MENYERAP SEMUA MUSIK.
Rudi Loho, pencipta lagu Aku tak Biasa, kepada Nova mengaku mendapatkan royalti hampir Rp 700 juta dari Blackboard. “Kalau saya saja dapat segitu, apalagi Alda,” katanya.
Baiklah, sudah jelas persoalannya. Lagu laris — mestinya — mendatangkan rezeki. Yang tak jelas bagi saya sebagai awam musik maupun [...]
Recent Comments
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





memang selalu ada cibiran dan komentar miring saat hal positif sedang dilakukan. walaupun seharusnya orang yang menonton tidak mengomentari orang yang melakukan..
tanyalah sama pengkritik2 itu apa yg mereka lakukan selain mengkritik. mungkin ga ada ya..
habis bikin koin, bikin t-shirt, bikin apa lagi ya…ide selanjutnya ditungguu…
hehehe.. dukungan kan bisa online bisa offline. nggak semua yang kasih dukungan online, bisa muncul pas offline. toh sekian banyak dukungan online kelas menengah itu bisa ada karena mereka harus kerja, kuliah, ngenet di kantor atau kampus. begitu juga, yang bisa kasih dukungan offline, belum tentu punya akses ke dunia online. bahu membahu sajalah.
TV dan koran pun kalau nggak baca tweet atau status fb orang lain bakal bingung mau cari info mutakhir.. intinya, semua media dimanfaatkan dan saling terkoneksi, karena toh cara penyampaian kepedulian orang berbeda2..
—
Betooollll….
/tyo/
bukankah blogger juga orang biasa?
kalimat penutupan akhir itu dasyat sekali om..
masih ingat cerita tentang budha dan elang? konon ketika budha memberikan sepotong dagingnya kepada elang yang kelaparan, si elang sedikit mencemoohnya bahwa budha melakukan hal tersebut agar terlihat seperti orang baik :-).
—
Duh dalem banget nih :)
/tyo/
saya yakin yang skeptis itu pasti juga ndak melakukan apa-apa. :D
Jadi kalau untuk kasus yang sebesar ini saja ndak perduli. Mana ‘mereka’ punya energi untuk memperhatikan yang kecil?
bolehlah orang berpendapat apapun asal keadilan bisa ditegakkan dan nurani bisa dikumandangkan. entah apa maksud mereka yang mengangkat isu kriminal vs prita ini. tapi yang pasti penegakan hukum di negeri ini masih sangat perlu dibenahi…
*berdoa demi kehidupan yang adil dan beradab*
oo langsat tuh rumah blogger…
oo masih aja ada yang ngga puas…
oo Prita tuh celeb sekarang…
baru tau…
selalu ada pro kontra,bahkan dalam hal yang baik pun. Jadi saya rasa wajar ya paman.
Gerakan mendukung cicak (kpk vs penegak hukum lain) dan koin prita ini sebenarnya adalah simbol dari ketidak adilan yang dirasakan secara kolektif di kalangan kita yang selama ini tidak tahu mesti disalurkan kemana.
Dan dengan internet (khususnya social media), gerakan moral tanpa membidik lawan politik, menemukan tempat yang nyaman untuk berkembang karena digerakkan perasaan kolektif tersebut.
hal yang membuat sebal adalah: perbuatan baik ternyata masih diriwilin orang.
jadi ingat kata kitab suci yang bunyinya kira-kira begini: “bahkan seandainya Tuhan mengirimkan malaikat sebagai nabimu, belum tentu kalian beriman”. Lha wong sudah dari awalnya riwil ya tetep saja ndak berubah.
jasamu dikenang paman hihihi
—
Ngaco! Jasa apaan Jok? :D
/tyo/
Hore, omnya ngeblog lagi :))
Eksplanasinya tak canggung seperti Prita :)) Gamblang, lugas dan .. Langsat? Bagiku itu adalah satu tempat dimana Blogger menemukan ‘siti hinggil’ nya :))
—
Siti hinggil? Duh feodal banget :))
/tyo/
tulisan yang lengkap seperti biasa, terima kasih Mas Paman untuk kesempatan dan atapnya :)
—
Saya yang makasih sama situ. Sangat sangat sangat!
/tyo/
Selalu akan ada putih & hitam, biasa dalam kehidupan. Selalu ada keseimbangan dan semoga neraca hukum segera dikalibrasi agar segera berimbang ;)
tanggung jawab! saya jadi kecanduan ngitung koin! plus kecanduan berfoto di atas tumpukan koin!
*ngitung koin*
—
Ini ekses. Tapi kalo mau cepet tidur, hitunglah koin dalam imajinasi… bukan hitung biri-biri.
/tyo/
makin banyak teman dan kalangan maka makin cairlah suasana tanpa harus mengedepankan kelompok masing-masing…
awesome
—
Betul, Tok. Cair. Itu mulia dalam urusan beginian. :)
/tyo/
Walau ada pro dan kontra tapi bagus Paman. Saya melihat gerakan ini sudah memobilisasi rakyat untuk bergerak melawan ketimpangan hukum. Semoga mereka yang bergerak itu karena hati nuraninya dan bukan karena ikut-ikutan.
Dahsyat!
Saya malah hendak menuliskan artikel “Logical Fallacy” soal Prita ini paman. Benar seperti kata @Edratna, kita berbuat baik belum tentu disukai semua orang.
Kan banyak orang yang senang lihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang.
—
Mmmmm gitu ya? :)
/tyo/
semoga saja keadilan bener-bener terwujud di negeriku tercinta ini.
ada proses identifikasi dengan apa yang dialami Prita (sebagai ibu, konsumen, netter, pengirim surat keluhan), sehingga mendorong kepedulian banyak orang dengan berbagai latar belakang dan alasan.
tapi kok saya masih bertanya2 ya, akhirnya nanti seperti apa, bang paman..? pasal karet itu masih ada, kan? :(
—
Pasal karet itu harus kita tentang, kita mintakan revisi. Suwun Mpok sudah bantu.
/tyo/
errrrr bukannya kemaren banyak blogger juga yang bantu ngitung? Atas dasar apa itu orang menyatakan banyak orang-orang biasa dan bukan blogger? ckckckckck
*ga sempet bantu ngitung gara-gara audit*
:((
it’s a wrap, paman! tulisan ini mbungkus semuanya dan nggak ada satu pun yg tercecer. terimakasih. karena paman dan orang2 koinkeadilan, nongkrong di langsat ampe pagi jadi banyak temennya!
hehe.
—
Ah saya ingat Pito yang duduk di atas kaleng Khong Guan yang sudah penyok karena sebelumnya diduduki Gembul. Pito memproses sekian kilo koin itu… :) Thanx.
/tyo/
Selanjutnya trus bagaimana,pak paman..
—
Selanjutnya… ya kita lihat saja. :)
/tyo/
Dalam setiap perbuatan, berbuat baikpun, selalu ada pro dan kontra. Dan setahu saya, pengumpulan koin bukan hanya di Langsat, malah awalnya di media dikatakan pengumpulan koin di kompleks PWR Ragunan.
Yang penting adalah niat baik paman…dan semoga Prita diberi kekuatan dan ketabahan, dalam menghadapi tekanan….karena ada juga yang berniat kurang baik kan?
—
Betul, Bu. Jatipadang (milis sehat) lebih dulu, dan semua pihak pun akhirnya bekerja sama.
/tyo/