MEMANG PAHLAWAN KOK…

Saya baca di Koran Tempo, bahwa Ketua Fraksi Golkar di DPR-RI Setya Novanto menyatakan pihaknya setuju Gus Dur diberi gelar pahlawan nasional, dengan syarat Soeharto juga diberi gelar serupa. Setya mengingatkan, Gus Dur dulu menzalimi partainya karena mengusulkan pembubaran Golkar.

Ada dua hal yang harus dicermati. Pertama: saya tak menggunakan kutipan langsung, sehingga bisa saja nuansanya tak lengkap. Kedua: saya tak tahu itu pendapat pribadi Setya atau Golkar.

Bagaimana kalau pernyataan Setya juga merupakan suara partai? Tak penting bagi saya. Dengan atau tanpa gelar pahlawan, Gus Dur tetaplah tokoh dan hero bagi banyak orang Indonesia.

Pengakuan formal bukanlah segalanya untuk seorang Gus Dur. Dia terlalu besar untuk sekadar diberi gelar resmi oleh pemerintah. Bahkan secara pribadi saya menganggap kalau pengakuan terhadap kebesaran seorang Abdurrahman Wahid hanya dibuktikan dengan penamaan jalan raya, maka itu belum seberapa. Bisa-bisa itu cuma menghilangkan jejak lama toponimis sebuah wilayah jika pemilihan ruas jalannya tak tepat.

Maaf jika pendapat saya menyinggung perasaan Anda dan bahkan keluarga Gus Dur. Tiada niat saya merendahkan almarhum. Justru karena dia terlalu besar maka formalisme yang hanya formalisme bisa mengerdilkannya. Bagi saya lebih utama merawat spirit Gus Dur tentang demokrasi, pluralisme, dan humanisme.

Saya pribadi tak mengenal Gus Dur. Memang pernah beberapa kali bersua, itu pun karena tugas jurnalistik ketika dia belum menjadi presiden. Satu hal yang saya pegang, bahwa setiap ucapannya — meskipun ada bukti dan dia siap mempertanggungjawabkannya — tidak asal saya kutip padahal sangat layak kutip. Tanpa pemahaman terhadap konteks, maka ucapannya bisa membuat pihak lain meradang dan menimbulkan kontroversi.

Terlalu banyak cerita tentang Gus Dur. Biarlah itu menjadi khazanah khalayak. Tapi saya ingat, ketika kemampuan matanya masih memungkinkan, di kantor PBNU (bangunan versi lama) Gus Dur masih melakukan hal mengasyikkan seperti yang dilakukan ayah saya: membaca koran lalu memotong sendiri untuk kliping. Kadang dia bercanda, tanpa tatap muka, dengan beberapa petugas kantor yang tak berada di depan mejanya.

Gus Dur dengan segala keanehannya, yang kadang memang menjengkelkan, tetap saya kagumi. Dia bukan manusia sempurna — begitu pula kita. Masa-masa Gus Dur masih sehat mata dan raganya adalah ketika dia menulis “serius” untuk Prisma dan LP3ES. Kolomnya untuk Tempo dan Kompas juga mengesankan.

Barusan saya baca, pengasuh Tebuireng K.H. Salahuddin Wahid meminta peziarah lebih rasional, tak usah mengambil gumpal tanah pusara Gus Dur (untuk diserap khasiatnya). Tentang ini saya ingat bahwa Gus Dur, dalam sebuah buku terbitan LP3ES (saya lupa judulnya), pernah menyinggung soal esoterisme dalam tradisi pesantren. Kalau tak salah dia sempat mencontohkan kyai sakti yang bisa melompati (atau merubuhkan?) pohon kelapa.

Gus Dur adalah salah satu tokoh NU yang membawa keluar pesantren ke kancah urban dan ilmiah, antara lain melalui media dan proyek Friedrich Naumann Stiftung/LP3ES. Tulisan awalnya di Kompas pada 70-an hanya mencantumkan “pengajar di Pesantren Tebuireng”. Gelar “K.H.”, seingat saya belum ada waktu itu (oh ya berhaji tahun 80-an kalau tak salah — ditemani Walkman berisi lagu Mozart dan Beethoven). PDAT pasti menyimpan foto Gus Dur muda yang berkaos Voice of America.

Tentang sosok visual Gus Dur, baiklah saya berterus terang justru dengan kekaguman. Foto-foto dia yang beredar dan belakangan digandakan untuk aneka keperluan, apalagi setelah kesehatannya menurun, bukanlah foto yang secara fisik gagah. Bukan foto-foto yang sesi pemotretannya dirancang dengan kesadaran pencitraan diri yang mengarah ke penciptaan aura. Tapi rakyat Indonesia tak peduli itu. Aura ada di benak dan hati khalayak. Lebih utama spirit di balik raga Gus Dur.

Di situlah saya menemukan makna kharisma. Di sisi lain, foto dari kantor berita asing tentang suasana Istana ketika Gus Dur dimakzulkan, terutama peci di atas tumpukan barang, itu tak mengurangi auranya: dia tetap rakyat dan bagian dari rakyat. Dia tampak humane.

Gus Dur itu sangat multidemensional sekaligus membingungkan. Indonesia kehilangan dia — dengan maupun tanpa gelar pahlawan dari pemerintah, dengan maupun tanpa pengabadian nama untuk jalan. Perbendaharaan kata kita seperti cupul untuk menggambarkan dia. Biarlah sejarah mencatat apa saja kata orang banyak tentang dia.

© Ilustrasi: tidak diketahui

Tagged with:
 

42 Responses to Gus Dur

  1. Gus Dur Lebih Dari Sang Pencerah Mozilla Firefox Windows says:

    Dulu ada Ahmad Dahlan yang katanya sebagian orang sang pencerah. di era modern ini Gus Dur menjelma diatas sang pencerah itu sendiri. jika ada film sang pencerah maka layak ada film jdulnya “lebih dari sang pencerah” tokohnya ya gus dur

  2. antyo INDONESIA Mozilla Firefox Mac OS says:

    Dear @all: Saya menghargai perbedaan pendapat, tapi tolong jangan membombardir pesan yang sama. Hargailah ruang bersama. Terima kasih.

  3. Vdistenley INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    BETAPA GOBLOK ORG2 YG MENGAGUNGKAN GUS DUR…..PENGUSUNG IDEOLOGI PLURALISME ALIAS IDEOLOGI IBLIS…..

  4. Vdistenley INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    ANEH TAPI NYATA ADA YG MENGANGGAP ORANG WALI,FUCK WALI BRENGSEK

  5. Vdistenley INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    saya tdk st7 gusdur di bri glar pahlawantapi tokoh brengsek OKE

  6. Vdistenley INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    BAGI SAYA GUS DUR ITU WONG SABLENG TOKOH YG TDAK PANTAS DI CONTOH.MENGHINA ALQURAN.OTAKNYA PLURAL.

  7. Vdistenley INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    ALHAMDULILLAH GUS MATI

  8. Gobin UNITED STATES says:

    Tak bnyk org seperti beliau(alm).

  9. Egi Yanes Asmara SINGAPORE Internet Explorer Windows says:

    Laik dis so mach….

  10. saya menangis membaca tulisan anda, saya adalah salah satu dari sekian juta pengagum sosok gus du, sampai kapanpin gus dur adalah seseorang yang unik, salah satu putra terbaik bangsa, saya bangga menjadi Indonesia dan saya yakin bahwa saat ini kita membutuhkan gus dur gus dur yang aka merubah Indonesia menjadi lebih baik
    Mari kita rawat da amalkan spirit yang dulu dia kembangkan
    /tyo/

  11. hakimpsi INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Saya suka komentar orang: “Gus Dur menerapi orang sebangsa dengan humor-humornya…”. Ya, orang yang tertawa lapang hatinya,luas wacananya.. Long live pluralism…!!

  12. budayajaya INDONESIA Mozilla Firefox Mac OS says:

    “cah gemblung” jadi prese(i)den. alfatihah buatmu, Gus, selamat jalan.

  13. risdania INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    salam kenal,,br ptama mampir,,

    setuju klo gurdur emang pahlawan,,
    beliau sosok yang mengakui perbedaan beragama dan tetap merangkul semua menjadi satu,,ga sibuk mencari kejelekan agama lain…

  14. Teguh Saja INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Romo Kyai Gus Dur…jika boleh saya menyebutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.