Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Belajar dari Foto (tentang) Nukman Luthfie

Senin, 18 Januari 2010 @ 13:57 | Ngeblog

GUYON KOMUNAL, PRIVASI, DAN HUKUM.

Foto Nukman Luthfie, salah satu pesohor dalam jagat online Indonesia, di Facebook tadi pagi bisa ditimbang dari beberapa sisi. Timbangan terhadap hasil jepretan kamera saku saya di tempat terbuka, tanpa bingkai acara “dalam rangka”, itu bisa diringkas menjadi tiga hal.

Pertama: hanya guyon komunal. Tapi komunal yang bagaimana karena karena dalam jejaring sosial teman dia belum tentu teman saya, begitu juga sebaliknya. Meskipun berada di jejaring kecil yang sama, kesan dan opini setiap orang bisa berbeda-beda, apalagi kalau kebun binatangnya berlainan.

Yang kedua: privasi semakin menipis. Tanpa aktif dalam sebuah layanan online pun seseorang bisa terpampang, dikenali, dan dikomentari oleh orang lain — apalagi jika dia aktif. Ini jelas mengerikan jika orang sampai nyaris tak punya kehidupan pribadi. Celakanya, yang namanya komentar seringkali di luar kontrol si terpotret. Istilah para aktivis sebuah portal: “merusuh”. Komentar melenceng dari konteks.

Nah inilah soal yang ketiga: adalah hak Nukman dan setiap orang, termasuk saya, untuk berkeberatan terhadap pemuatan foto diri yang tak cocok di hati. Apalagi UU Hak Cipta mengatur hal itu (misalnya: pasal 20, pasal 21, pasal 22).

Untuk soal kedua dan ketiga, sejauh saya merasa, aman saja. Nukman tahu kalau saya foto setelah kami bersirobok di trotoar, bahkan dia bilang, “Entar diposting di status ya.” Dia pun ber-hehahehe dalam komentarnya.

Memang, bagi yang tak mengenal kami, teks dalam foto itu kejam. Nukman saya jadikan orang yang penting tapi secara situasional mengganggu kepentingan saya. Itu hanya gurauan, karena yang terjadi tidak sesengak itu. Kami sudah lama saling mengenal.

Bagaimana jika saya menjepret Nukman secara diam-diam, dengan latar kejadian dia bukan sedang mengantar anak ke sekolah, lantas saya membuat teks foto tanpa semana-mena, pokoknya merugikan dia? Tentu saya harus mencabut foto, menemui dia untuk meminta maaf, sambil mencari pengacara (untuk mendamaikan).

Kalau bicara pemuatan foto di layanan online, sebetulnya tak hanya terjadi pada Nukman. Banyak bloggers mengalaminya dan “harus menerima” karena alasan “guyon komunal”. Ndoro Kakung termasuk langganan saya. Sejauh ini dia mengalah sekaligus terhibur (mungkin malah ketagihan), dan tidak memerkarakan saya — untuk kemudian membalasnya. Maklumlah dia seteru mesra saya. Ralat: tepatnya, saya seteru bagi dia.

Lantas di mana batas kepantasan pemuatan foto orang lain dalam media jejaring sosial? Selama ini kita memakai standar ganda dan prinsip yang sifatnya kasuistis (terhadap si A bisa, terhadap si B berhat-hati).

Tentu dalih “privacy is so yesterday” dan “jangan bergaul kalau gak mau diusili” tidak cukup. Barangkali tip ini bisa menjadi katup pengaman: jangan sampai menistakan orang, kalaupun dia tampak lucu harus tetap keren. Syukur jika keluarganya ikut senang. Foto seseorang ngiler selagi tidur tentulah tak menyamankan siapapun yang melihat, terutama si terfoto.

Menurut Anda?

Ada 28 komentar | trackback | Depan

#28

andril21 | 25 01 2010 @ 18.36.48

cuek aja paman!!!!! hidup sekali aja kok banak yang harus ditakuti… yang penting gak niat elek atau menyakiti orang lain…

Betul. Niat baik adanya :)
/tyo/


#27

Ahmad | 25 01 2010 @ 15.48.14

Kadang saya waswas, khawatir gambar yang saya ambil dan ditempel di blog berbuah tuntutan.

Alhamdulillah, hingga hari ini aman.

Alhamdulillah juga, Bung. :)
/tyo/


#26

edratna | 20 01 2010 @ 22.52.29

Ini memang risiko aman, jika kita bergabung pada jejaring sosial. Tapi tentu saja, sejak awal risiko ini sudah dipertimbangkan masak-masak

Ya, Bu. Mungkin termasuk risiko terpahit ya? :)
/tyo/


#25

pendapat | 19 01 2010 @ 17.44.25

sependapat paman!

Baiklah. :)
/tyo/


#24

geblek | 19 01 2010 @ 14.40.40

paman paman potoin saya dung ah, biar bisa terkenal kayak paman :)

bukannya kebalik, jok?
/tyo/


#23

Daus | 19 01 2010 @ 13.28.00

Soal konteks, betul sekali paman. Foto dan teks ketika terpisah memiliki konteksnya sendiri-sendiri. Namun, ketika digabung, mereka membentuk satu konteks baru.

Konteks yang berpindah, saya suka istilah ini!

Konteks baru? Ya. :)
/tyo/


#22

Haryo Legowo | 19 01 2010 @ 9.58.55

Sebuah foto mengandung sejuta makna, sehingga menimbulkan sejuta persepsi yang berbeda pula.

Mungkin lebih dari sejuta. :)
/tyo/


#21

bukan facebook | 19 01 2010 @ 8.36.35

waduh saya koq baru terpikir sekarang setelah baca tulisan ini yah? Jangan-jangan foto saya yang kecentilan di bali bareng istri dan anak banyak memuat (secara tak sengaja di latar belakangnya) gambar orang lain yang berjemur di pantai dan enggan masuk jejaring sosial saya. :(

Berjemur pake baju komplet? :D
/tyo/


#20

DV | 19 01 2010 @ 5.19.23

Saya pernah khawatir waktu seseorang memuat foto saya berduaan dengan adik kandung saya sendiri. Takut dikira selingkuh dan dibilang “Woh, Donny punya simpenan baru!” :)

Waduh! Kalau bener simpenan ya disimpen, Mas :)
/tyo/


#19

jacobian | 19 01 2010 @ 1.57.36

ya foto kan bisa berbicara seribu kata.hehe…


#18

fahmi! | 19 01 2010 @ 0.19.50

hore! aku pernah difoto paman tyo! :D


#17

Nukman Luthfie | 18 01 2010 @ 19.53.35

sebetulnya social media ini secara perlahan menyadarkan banyak penggunanya bahwa selalu ada “wilayah privacy yg terbuka”. Di FB misalnya, ketika kita cekikikan dengan teman2 SMA, maka teman FB yang tdk dalam lingkup teman SMA dpt memaklumi knp orang yg biasanya jaim bisa lepas bebas dlm percakapan itu. Itulah “privacy kita dg teman SMA” tetapi terbuka di FB. Sebaliknya, teman2 SMA tidak akan merusuh di sebuah pembicaraan kita yg serius dengan “bagian diri kita yg lain” yg sedang berkomunikasi dgn teman lain yg bukan teman SMA.
Social media akhirnya menyadarkan, bahwa teman mereka memiliki begitu banyak facet2 kehidupan yg berbeda dgn yg mereka kenal selama ini, namun bisa menerimanya dengan baik

Nah, korban sudah berbicara. :D Terima jadi.
/tyo/


#16

jun | 18 01 2010 @ 19.41.25

Saya —tanpa permisi— pernah memasang foto paman di blog saya (http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2009/12/12/bukan-paman-dan-keponakan/)
Untunglah paman tidak keberatan, apalagi marah. Mungkin karena foto itu memang cocok di hati paman, hahahahaha.

Saya sih ngalah. Hahaha :)
/tyo/


#15

Chic | 18 01 2010 @ 17.11.00

eh om nukman pagi-pagi udah di langsat ngapain om? :P

Bukan di Langsat sih, cuma dekat Langsat. :)
/tyo/


#14

dilla | 18 01 2010 @ 16.52.58

foto om nukman di sini udah lucu dan keren kok :P
*mintak goban*


#13

Daus | 18 01 2010 @ 16.42.35

Sori ada tambahan :)

Meski pada akhirnya prinsip foto (jurnalistik) adalah setiap subjek/objek yang ada di ruang publik boleh difoto, karena toh tanpa dipotret pun sang subjek sudah terpapar di muka umum.

Memang ini wilayah laik debat. Ketika fotografi melakukan freezing, dan video merekam gerak serta suara, lalu dimuat di media, maka konteksnya ikut berpindah. :)
/tyo/


#12

bank al | 18 01 2010 @ 16.40.42

Gimana caranya supaya bisa terfoto paman Tyo? mau dong, biar ikutan ngetop… :D

Wah… Jadi malu saya. :D
/tyo/


#11

Daus | 18 01 2010 @ 16.36.43

Pernah ada kasus seorang perempuan (biasa) secara tidak sengaja terpotret di lokasi pelacuran, kemudian foto tersebut dimuat di koran untuk melengkapi artikel tentang penertiban sebuah lokasi lokalisasi.

Meski (konon) tidak ada maksud sang fotografer untuk “mendiskreditkan”, perempuan itu berkeberatan dan mengajukan somasi.

Dalam hal ini, sang editor (foto dan tulis) mesti lebih jeli untuk memuat atau tidak memuat foto tertentu.

Di ranah online problemnya lebih pelik. Karena, kini, setiap orang bisa memotret (terima kasih untuk teknologi digital) dan setiap orang bisa langsung memublikasikan jepretannya. Peluang untuk dilihat orang lain pun lebih besar ketimbang media cetak.

Dibutuhkan kehati-hatian ekstra. Untuk hal-hal yang sekiranya sensitif dan berpotensi menimbulkan konflik (sekecil apapun) sebaiknya berpikir dua kali. Tapi kalau sekadar “fun” dan sudah jelas mengenal subjek fotonya, ya monggo-monggo saja rasanya.

IMHO. Nice post Om, as usual ;)

Kehati-hatian memang diperlukan. Untuk kepentingan berita, foto ilustrasi bisa menjadi ranjau. Misalnya berita tentang polisi korup, gambarnya satuan polisiwan sedang apel pagi — padahal apel tidak ada hubungannya dengan korupsi. Terhadap si terpotret yang sudah kita kenal pun kita harus hati-hati. Begitu foto masuk ke internet, dan mesin pencari mengendusnya, maka yang namanya guyon internal atau komunal pun menjadi milik publik. Suwun atas pencerahannya. Teknologi digital telah menghasilkan ledakan gambar, termasuk gambar tentang kita.
/tyo/


#10

Vavai | 18 01 2010 @ 16.25.58

Kalau jepret kondisi yang menyenangkan tentu akan diterima dengan suka hati paman, kalau nggak ya sorry banget, pasti banyak yang tersungging, siapa juga yang mau image jaim-nya terkoyak.

BTW, ini bukan soal Jaimnya pak Nukman ya, he’s a humble person dan foto itu (serta statusnya di Twitter) menunjukkan kalau dia memang qualified jadi seleb :-)

Ya, ya. :)
/tyo/


#9

dudi | 18 01 2010 @ 16.16.42

setuju paman! *one liner*

Mari bersalaman :)
/tyo/


#8

yudhiapr | 18 01 2010 @ 16.09.52

biasanya yg jadi ‘kasus’ itu khan yg tidak disukai oleh si subyek yg sedang tampil.

terus saya disini mau sedikit memberikan ‘keberatan’, karena mobil saya yg sedang lewat kok ikutan terpotret itu bagaimana ceritanya ? huehehehehe :P

Oh soal mobil, itu karena saya yakin pemiliknya emang keren. :D
/tyo/


#7

andrias ekoyuono | 18 01 2010 @ 16.08.17

Inilah hebatnya Paman Tyo,hal seperti inipun bisa jadi bahan tulisan yang keren
*menjura*

*komen gak nyambung*

Emang gak nyambung but thanx! :D
/tyo/


#6

Alderina | 18 01 2010 @ 15.57.27

Selama masih tetep keren, ya dimaafkan sekali :D hihihi. Suka dan ketagihan malah nantinya.
—-
Duhhhh maunyaaaaaaaa… :P
/tyo/


#5

Nayantaka | 18 01 2010 @ 15.19.55

Kalau paman sempat masuk ke komunitas Japemethe, guyonannya lebih edan-edanan. Yang penting sih, kita bisa empan papan, karena bergaul di dunia online pun nyaris sebangun dengan bergaul di ranah nyata…

Empan papan. Itu kuncinya. Tapi ukurannya? ;)
/tyo/


#4

mpokb | 18 01 2010 @ 15.08.59

sudah disimpulkan dengan baik kok oleh Bang Paman.. :)
aturan yang saya terapkan untuk diri sendiri selama ini kalau memuat foto orang lain di fb, dia belum tentu saya tag..

Mpokb emang oyeeee :)
/tyo/


#3

hedi | 18 01 2010 @ 14.42.12

Tapi barusan saya baca di blog asing, orang yang punya kehidupan di cyber, entah aktif atau rata-rata air saja, cenderung doyan difoto kok. Namun rambunya tetap: usahakan jangan candid kalau memang tak perlu :D

Ya. Lebih bagus lagi, semua harus keliatan keren. :)
/tyo/


#2

boyin | 18 01 2010 @ 14.37.22

kalo orang biasa biasanya komennya juga biasa. biasain aja deh

Oh ya? :)
/tyo/


#1

bocah | 18 01 2010 @ 14.29.15

Boleh “diplonco” asal hanya dimuat di komunitas itu semata?

Mmmmm mungkin. :)
/tyo/