Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Sisa-sisa yang Bertahan oleh Terjangan Digital

Kamis, 28 Januari 2010 @ 00:02 | Selingan

SPANDUK KAIN LEBIH MAHAL TAPI (TERKADANG) LEBIH “NYENI”.

Saya tak tahu sekarang ini berapa ongkos bikin spanduk untuk warung tenda. Dua belas tahun lalu (ya!), seorang penjual sari laut mengeluarkan Rp 200.000 untuk kain rentang yang tingginya sekitar satu meter (atau 90 cm?) dan panjangnya empat meter. Itu pun tak jadi dalam sehari. Sekarang dengan cetak digital, spanduk (plastik) yang berukuran sama cuma berongkos Rp 72.000 ribu –– biaya per meter perseginya Rp 18.000.

Plastik lebih kaku tapi kedap air. Usia pakainya, untuk luar ruang dengan tinta murah, bisa enam bulan. Karena ini negeri pemulung, plastik bekas spanduk itu selalu ada yang memanfaatkan. Misalnya untuk alas tikar.

Baiklah ini soal kemajuan teknologi. Apapun, kalau massal, dan kompetisinya ketat, akan memurah. Tapi saya kehilangan sesuatu: sentuhan tangan berupa gambar dan tulisan.

Sebagian besar gambar-gambar pada spanduk kain itu tak mencontoh buku grafis apalagi sumber di internet. Untuk tipografi pun demikian. Paling banter mencontoh “buku letter” murah meriah yang oleh penyusunnya dikerjakan penuh percaya diri karena mengabaikan semua teori tipografi ala sekolahan.

Saya kehilangan tapi tak saya ratapi. Saya hanya mencoba mengapresiasi sebelum itu semua punah. Sama seperti terhadap baliho bioskop yang wajah aktor dan aktrisnya tak jarang mengundang tebakan.

Para pembuat spanduk dan baliho secara manual itu juga berhak menyebut diri artis. Kalau istlah artis kadung disalahkaprahkan dengan bintang hiburan yang berkilau, maka bolehlah mereka menyebut diri seniman.

Di Yogya dulu ada “ahli papan nama dan letter”, namanya Potho. Pintu truk pun bisa dia tulisi dengan rapi, memakai cat, dan awet pula. Saya tak tahu bagaimana sekarang bisnis Potho dan lainnya, karena stiker hasil cetak digital dan stiker potong hasil olahan pisau plotter kian murah.

Tentang istilah “artis”, ada kawan saya, seorang desainer grafis, yang lebih suka kata “artist“. Menurutnya artinya beda. Antara lain ya tersebab konotasi itu. Dulu malah ada teman saya yang bingung untuk membedakan “artis” dan “aktris”. :)

Bonus: untuk hasil karya seniman pada bak truk, lihat Pesanlewat.com

Ada 23 komentar | trackback | Depan

#23

Vandy | 13 02 2010 @ 5.26.22

Jadi ingat gambar “now playing” di bioskop-bioskop jaman dulu.

Masih digambar manual. Dan memang terlihat lebih “nyeni”


#22

mer | 12 02 2010 @ 3.18.48

ah, memang nyeni ya spanduk2 ini… dan suka ada pesan2 terselubung di sana :)
ah, jadi kangen makan di pinggir jalan.


#21

ditto | 08 02 2010 @ 11.40.14

Malah jadinya laper aku sekarang….. yaiks..

Lho kok malah laper? :D
/tyo/


#20

Tan Jo | 07 02 2010 @ 0.35.14

baguslaaah…..


#19

mas awe | 02 02 2010 @ 12.02.45

analoginya seperti batik cetak & batik tulis, mahalan batik tulis tho.. karena memang lebih nyeni..

Untuk Lomo mungkin iya. Lebih nyeni karena gak terduga dan harus sabar menunggu proses cuci cetak. :)
/tyo/


#18

Jauhari | 02 02 2010 @ 8.02.58

Warung Pinggiran tak lekang oleh jaman ;)

Hehehe, warung pinggiran mana nih? :)
/tyo/


#17

iqbal mabukbahasa | 01 02 2010 @ 14.50.32

Hahaha, asyik nih materinya, Paman. Kapan2 saya lengkapi dengan ide tentang pos lapangan kerja baru: editor spanduk :) Mengingat banyak banget spanduk yang saya temui mengandung kacau bahasa ataupun salah “ketik” :D

Aha! Ada-ada saja! :)
/tyo/


#16

tokoribbon.com | 01 02 2010 @ 7.03.54

Kasihan nasib para artis kita…. skrg harus rela tergusur oleh alat digital


#15

geblek | 31 01 2010 @ 10.46.59

nah kan jadi inget warong nasi pecel di kampung nih man

Kapan-kapan saya diajak ke warung pecel itu ya Jok! :)
/tyo/


#14

andril21 | 30 01 2010 @ 0.50.40

lha kok warung yang buka tiap hari… spanduk mahasiswa demo juga pake cetak digital kok paman!!!!. malam koordinasi, pagi cetak, siang kumpul didepan Grahadi sambil bentang spanduk dan gugur sudah kewajiban…

Gugur kok kewajiban. :)
/tyo/


#13

boyin | 29 01 2010 @ 12.58.36

wah paman nyempet2in keliling buat sampel foto yach..heee..blogger..

Cuma kebetulan aja :)
/tyo/


#12

Abihaha | 29 01 2010 @ 1.56.17

Beberapa kali di tempat setting pre-press, saya jumpa para seniman ini. Sebagian besar datang bawa flashdisk berisi template, font dan hasil ’scan’/digitasi gambar lama. Lalu tinggal titah perintah operator setting melayout. Ndak perlu skill digital drawing. Dari tempat setting mereka bawa file tersebut ke tempat print digital. Masih bisa hidup.

Bahan plastik media print digital (flexi frontlit) punya kelemahan, makin lama semangkin kaku dan regas. (lhawong makin kesini banyaknya yang masuk produk China murah supaya bisa bersaing harga 18rb’an/m tadi. 15rb malah). Untuk bongkar-pasang & lipat-buka tiap hari ala kaki lima, mungkin umurnya tidak sampai 3-4 bulan. Kelamaan retak lalu bila ‘ditunyuk’ (apa endonesanya? dicolok?) bisa bolong kropos.

Jajanan kakilima kawakan yang saya langgan, rata-rata sudah paham ketidak-awetan ini. Tetap setia dengan kain dan berlukis tinta sablon. (Masalahnya kemudian, print digital kain sudah siap merambah sebentar lagi, sudah dapat brosur mesinnya)

Lha kalo pakai bahan bikinan Jerman ya ngajak bangkrut! :D
Sablon diigital untuk kain memang menggoda, Bro! :))
/tyo/


#11

Handaru Sakti | 28 01 2010 @ 21.43.00

Saya sering terkagum pada para pembuat spanduk model ini yang kalau ada tulisan atau gambar yang tdk pas atau tdk simetri atau ada ruang ‘kosong’, selalu saja ada trik atau kiat mereka untuk mengatasinya.

Betul! Hahahaha!
/tyo/


#10

bukan facebook | 28 01 2010 @ 15.20.54

WAduh…mahal juga yah…baru tahu loh sayah. Pantesan biar pun tuh kain dah rada item-item sering kali masih dipakai juga.

Memang mahal. :)
/tyo/


#9

Ahmad | 28 01 2010 @ 15.08.40

Kain rentang ini menyeret ingatan saya pada pecel tempe di dekat kampus dan seantero Jogja. Jika harus punah, mungkin nanti di hari tua, memori ini tak sempat mencecap nostalgia.

Masih sempatlah. Penggemar SGPC kan kuat ingatannya :))
/tyo/


#8

titiw | 28 01 2010 @ 14.19.10

Kalo gambar2 poster film gimana paman..? seinget aku poster lukis masih dipake tuh di planet hollywood gatot subroto.. :D

Untuk baliho film masih banyak yang manual kok, Tiw.
/tyo/


#7

anno | 28 01 2010 @ 10.43.20

klo di jogja masih banyak dijumpai banner pake kain..
tapi lama kelamaan juga akan punah
banyak promo banner bahan flexi (plastik) murah

Murah, gak awet, kalo rusak bikin lagi. Pagi setor, siang jadi. :)
/tyo/


#6

galihsatria | 28 01 2010 @ 9.02.01

Ah, paman memang teliti dalam mengamati icon-icon setiap generasi, khususnya generasi paman sendiri :)

Hahahaha!
/tyo/


#5

jacobian | 28 01 2010 @ 7.44.32

kebanyakan tuh posternya utk warung makanan yg di pinggir jalan ya?yg jual nasi goreng gt kan? :-)

Iya. :)
/tyo/


#4

adi | 28 01 2010 @ 7.17.37

orang bule sering heran liat spanduk warung tenda kita yg kebanyakan bergambar binatang hidup bukan makanannya :D

Iya! Betul itu! :D Bule vegetarian akan semakin ngeri dan gak tega. :)
/tyo/


#3

DV | 28 01 2010 @ 5.31.42

Teman saya buka angkringan di Jogja, dia milih print digital juga. Alasannya selain gambarnya lebih ‘tajam’, jatuhnya lebih murah dan… ‘ra perlu ngumbah lha wong bahane soko plastik. Di lap opo digebyur udan wes resik meneh’:)

Memang. Di Oztralia gitu juga? :)
/tyo/


#2

hedi | 28 01 2010 @ 3.26.01

Spanduk warung makanan itu sering aku perhatiin gambar binatangnya, lucu dan wagu hihihi

… tapi keren to? :D
/tyo/


#1

mpokb | 28 01 2010 @ 0.19.47

tenda warung kadang dikasih nama imbuhan pemikat “Arema”, “Arela”, “Asgar”, “Bang Kumis”, “Hoki” atau angka 99 dan 69 :)

Ada juga Asgor — asli Bogor :P
/tyo/