Foto-foto Berfilm yang tak Laku
KELAK AKAN JADI PROYEK SENI VISUAL?

Sekeluar dari ruang resepsi menuju parkiran, kami diikuti seorang pengasong foto. Kami terburu-buru karena masih gerimis. “Beli dong,” katanya kepada istri saya. “Ayo dong Bu,” katanya kepada seorang ibu yang menumpang kami. Masih gerimis. Kami terburu. Segera masuk ke mobil. “Beli dong,” masih terdengar suara itu.
Ibu yang bersama kami akhirnya tak tega. Entah berapa yang dia keluarkan. Penawaran terakhir yang saya dengar sih Rp 50.000 untuk tiga lembar foto ukuran 5R, masing-masing disertai film negatif. “Nggak tega aku, Jadi kepikiran anak-anakku nyari makan juga susah,” kata ibu itu.
Bukan hal baru. Tukang foto dadakan selalu ada di seminar dan wisuda. Mereka bermain di area luar, depan pintu masuk. Itu wilayah aman, termasuk bagi ojek payung. Tak ada alasan bagi petugas keamanan acara untuk menghalau — kecuali security-nya pejabat dan orang kaya yang selalu memperluas wilayah steril.

Bukan hal baru, tapi untuk perhelatan nikah seperti di Taman Mini Indonesia Indah itubaru saya jumpai Sabtu malam lalu. Perlu kegigihan karena mereka cukup boros jepretan. Setiap tamu setidaknya butuh dua kali — padahal memakai film. Baterai kering pemasuk setrum lampu kilat tampaknya cukup.
Saya tak sempat mencari tahu lebih jauh. Sama seperti umumnya blog, yang ada hanyalah tulisan berjarak. Miskin fakta, kaya tafsir — tanpa pendalaman dan pendekatan terhadap manusia. Maka saya pun hanya berandai-andai.
Tim fotografer penuh inisiatif itu saya amati terdiri dari tiga orang. Yang terluput dari amatan saya adalah peran runner, yang harus membawa film terpakai ke minilab terdekat, di tengah hujan deras.
Entahlah bagaimana pembagian tugasnya. Yang pasti dalam satu setengah jam semua foto harus sudah jadi. Oh itu bukan masalah. Teknologi memberi jalan keluar.
Ada yang lebih menarik: mencocokkan wajah orang yang keluar dari ruang dengan puluhan foto yang terbungkus plastik. Jangan sampai dalam paket terjadi pertukaran, Pak A bersama Nona X, dan Bu Z bersama Pak B. Si tertukar mungkin tak bermasalah, tetapi pasangannya yang kurang berkenan.
Fotografi lama, yang nondigital, bukan untuk “seni-senian”, ternyata masih laku. Ini soal “kahanan” dan kesesuaian dengan pasar. Ini serupa jepretan Polaroid di taman hiburan. Jangan-jangan memang layak simpan padahal Anda tak ada ikatan emosional dengan pemotretnya.
Saya tak habis pikir soal foto-foto yang tak laku. Kalaupun dibuang mungkin juga tak bermanfaat bagi yang menemukan. Suatu hari akan ada mahasiswa seni rupa, atau blogger iseng sok kreatif, yang “membingkaikan makna” terhadap foto-foto tak laku itu lantas memamerkannya.
Barangnya sama. Cuma foto-foto tak laku. Tetapi di tangan orang sekolahan yang “lebih berkonsep”, foto-foto itu akan mendapatan ruang dialog baru. Ruang yang mungkin amat jauh dari jelajah kepentingan si pemotret.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Siapakah Gerangan Tuan
July 20, 2007 by AntyoYANG DIPERTUAN DI RUMAH SAKIT DAN RUMAH OBAT.
Sebagian penyedia pelayanan medis dan farmasi masih menyapa konsumennya dengan “tuan”. Tentu jika konsumennya pria. Lihat saja papan data pasien di ranjang rawat dan pemanggilan (pakai teriak) pemesan obat pakai resep. Memang sih tidak berlaku di semua rumah sakit maupun apotek.
Adakah yang salah dengan Tuan? [...]
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





mantap
sekarang sudah jarang pemakaian film kayak gitu :D
Yah dulu di zaman SMA saya sering membeli Film kalo mau foto foto, sekarang sudah pake digital, lebih portabel dan mudah di cetak
Saya sangat senang dengan hal-hal fotografi, selama saya menggunakan kamera, kamera analog memang masih jadi pilihan utama karena foto yang dihasilkan akan tetap konstan walaupun di cetak sebesar apapu.
foto2 yang tidak terpakai bisa di jadi’n suatu karya seni lain, misal’a hiasan dll,,,,
—
Iya, di luar negeri mulai dijadikan proyek seni, bahannya dari disposible camera yang ditinggal pelanggan di studio. :)
/tyo/
@Liends: Pendapat anda benar. Kakak saya pun suka dengan fotografi. Dia memilih kamera analog karena mutunya lebih bagus walau sudah ada kamera dijital dengan resolusi tinggi. Ya, mungkin suatu saat di masa depan, kamera analog menjadi kenangan karena versi dijital mampu melewati kemampuannya. Tentang sampah karena foto-foto terbuang…hmmm…itulah gunanya foto dijital, ikut serta menjaga lingkungan karena tidak perlu diproses dengan zat kimia dan tidak perlu dibuang jika tak dibutuhkan lagi.
Wah, mereka masih ada???
—
Terbukti masih ada. :D
/tyo/
di sebuah undangan wisuda (pada era Gus Dur) sarjana PTN tersohor di negeri ini , ada secuil tulisan:
“diharap tidak membawa kamera”
supaya fotografer kebagian rejeki? alhasil memang kami sekeluarga tidak membawa kamera sama sekali mematuhi anjuran pada undangan tersebut.
—
Kalau semua keluarga membawa kamera maka akan mengganggu, to?
/tyo/
sy kagum sama mereka, bersusahpayah mengumpulkan rejeki
btw, suami saya walaupun sudah punya DSLR, tetep aja suka sama minolta-nya (analog), katanya kalo mo belajar fotografi harus bisa analog.
jadi berfikir juga, kira-kira dikemanain yah foto2 yang gak laku, dibuang? nambah2in sampah dunk, bisa di daur ulang gak ya??
—
Didaur ulang? saya belum tahu. :)
/tyo/
Wow.. seperti sang photographer harus berjuang keras agar mendapatkan konsumen.
—
Itulah perjuangan.
/tyo/
Sebenarnya secara kualitas, photo konvensional (dengan kamera yang bagus tentunya, bukan kamera saku yang 50 ribuan) jauh lebih bagus dari pada photo digital. Jadi kangen nih sama Yashica Elektro saya.
sya punya kamera atik.
tapi sepertinya sudah ga bagus lagi hasilnya..
salut dengan org yg masih giat mencari nafkah dg sumeber daya yg ada.
Ah sudah lama sekali tidak melihat orang dengan jasa ini.
Terakhir waktu saya ikut pelajar teladan ketika SMA 6 tahun yang lalu.
Nostalgik sekali.
Kalau pakai kamera digital plus printer foto lebih bagus lagi. Tapi gimana cara mendapatkan file fotonya? Dikasih lewat CD? :)
yg keren, di foto itu ada tulisan acara dan tanggalnya! keren! itu templet gimana bikinnya?