Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Cobalah Menafsir Foto (dan Video) Harto

Minggu, 07 Februari 2010 @ 20:20 | Umum

MARI BELAJAR SEJARAH DARI GAMBAR.

Seorang jenderal dalam usia 46 mulai menggenggam kekuasaan yang besar. Sejarah sudah membahasnya, dan bahasan itu belum usai. Anda boleh kagum sepenuh takzim, boleh pula benci kepadanya — atau seperti banyak orang bingung untuk merumuskannya dalam satu kata. Meski saya sangat tidak suka kepadanya — ketika dia hidup, saya selalu menyebutnya dalam blog sebagai “orang itu” — saya mengakui bahwa dalam dirinya pasti ada hal-hal baik bahkan mulia. Dia manusia, bukan iblis, bukan malaikat.

Saya teringat dia karena barusan menemukan foto-foto lama yang dulu, sudah lama banget, pernah saya lihat di majalah Life. Foto-foto yang sebagian adalah hasil pengarahan dan mengundang tafsir subyektif itu. Di kemudian hari, pada puncak kekuasaannya, siapa yang bisa membuat dia nyaman dan rileks untuk diatur-atur, dan difoto dari dekat?

Dari jepratan Larry Burrows, pewarta foto perang itu, saya melihat foto-foto penuh percaya diri seorang jenderal yang nyaman menggenggam cek kosong sejak awal kekuasaannya, hampir boleh ngapain aja, karena banyak orang percaya dan berharap kepadanya.

Foto-foto itu menggambarkan kepercayaan diri yang tinggi tanpa menjadi congkak berlebihan, karena dari seorang Jawa introvert, yang bercitra humble, selalu ada cara lunak untuk menunjukkan kelebihan diri. Mampu mengemas keangkuhan dalam kehalusan.

Saya melihat foto-foto seorang suami dan ayah yang hangat. Barangkali, karena kultur kita, maka dia pun menganggap rakyat sebagai anak — demikian pula rakyat terhadapnya: bapak. Selebihnya adalah father knows best dan dia menjadi patriarch, menjadi sentrum dari segala tafsir tentang kebenaran.

Dia akhirnya menjadi romo (rama, ayahanda, dalam konteks ini bukan pastor) yang bahasa tubuhnya, termasuk anggukan kecil, adalah sabda nonverbal yang siap ditafsir dan dilaksanakan. Ini seperti cerita seorang bekas menteri: jika dia meraih gelas minuman saat mendengarkan usulan maka itu berarti penolakan.

Tentang buku, catatan, dan kliping, sudah banyak yang mengumpulkan dan mengkajinya. Tetapi bagaimana dengan foto? Mestinya Sekretariat Negara, Antara, Pusat Informasi Kompas, dan Pusat Dokumentasi dan Analisa Tempo punya ribuan foto yang siap ditafsir. Saya tak tahu apakah TVRI menyimpan dokumentasinya dengan baik.

Video TVRI dan foto koran menampilkan hal yang tampaknya sederhana dari pidato ke pidato: kacamata dan arloji sang jenderal yang sering berganti. Maka orang awam membatin, “Gimana ya caranya beli? Kan nggak mungkin jalan-jalan ke toko?”

Kumpulan video TVRI pasti menampilkan seremoni yang layak tafsir. Tentang seorang raja yang dari periode ke periode berdiri semangkin dingin, menyambut antrean daripada tetamu yang akan berjabat tangan. Jarak yang tak bergaris antara dia dan tetamu menghadirkan pemandangan sama: tetamu harus membungkuk. Mirip saya menyalami orang-orang (tua).

Demikian pula foto-foto hadirin dalam banyak acara kepresidenen, yang karena tuntutan protokoler harus ngapurancang (mempertemukan tangan di depan atau bawah perut). Sopan sekaligus aman. Mempermudah pekerjaan paswalpres dalam mengawasi.

Itulah sebabnya foto Direktur Pelaksana IMF Michael Camdesus bersedekap ketika menyaksikan presiden menandatangani kesepakatan pada 15 Januari 1998. Adegan itu, seperti sebuah kapitulasi atau penyerahan diri seorang pemimpin — bahasa kasarnya: pengakuan keok.

Ada yang tersinggung, ada yang bersorak, terhadap foto itu. Alasan Camdessus di kemudian hari sangat menarik. Dia mengikuti ajaran ibunya, yaitu kalau sedang kikuk karena tidak tahu harus berbuat apa ya lipatlah tangan.

Foto-foto selalu menarik. Mirip kita mengamati foto kawan di Facebook. Maka ketika koran-koran mulai dicetak berwarna, rakyat pun sadar akan satu hal: pesawat telepon di meja kerjanya, di Bina Graha, ternyata berlapis emas.

Foto lain yang tak ada urusannya dengan warna adalah sepasang gading gajah di salah satu ruang rumahnya, Jalan Cendana. Ada rak hiasan di sana. Orang yang belum pernah ke sana akan menebak, tak adakah jendela di ruang itu?

Foto resmi kepresidenen edisi 1993, di Wikipedia Indonesia, menampilkan sosok yang berjarak, tak tersentuh. Rambut yang tak tertutup peci tampak memutih. Dalam usia 72 dia masih tampak gagah. Bandingkan empat tahun kemudian, akhir 1997, ketika krisis moneter mulai menghimpit Indonesia. Dia tampak menua sekali dan lelah. Makin banyak yang bersifat kritis terhadapnya, dan mulai terasa pembiaran oleh pihak tertentu terhadap arus yang menentang dan menantangnya.

Foto resmi kepresidenan adalah sebuah kewajaran di negeri mana pun. Menjadi aneh ketika makin banyak orang tak menyukainya, sehingga seorang seorang guru yang mengajar di alma maternya pun menyesal ketika harus bertemu wajah kepala negara yang sama tetapi berbeda edisi. Foto orang yang dia lihat saat dulu bersekolah.

Dan lihatlah, alangkah banyaknya foto mempelai di gedung resepsi yang gebyok atau backdrop pelaminannya tidak bisa menutupi foto presiden dan wakilnya. Seolah kemarin dan hari ini adalah sama saja. Padahal dari waktu ke waktu potret sang presiden berubah. Kesukaan maupun ketidaksukaan kita menghasilkan kesamaan: kebosanan untuk mengamati lebih jauh.

Itulah foto kepresiden yang secara berlebihan dianggap sebagai faktor penambah penduduk Indonesia. Jumlah mutakhir penduduk adalah data terakhir dari pemerintah plus foto presiden (karena saking banyaknya dan terus bertambah). Ngawur tapi menghibur.

Dia adalah tokoh. Penting pula.  Tak mungkin terlupakan. Video awal 80-an sampai pertengahan 90-an menampakkan seorang penguasa yang tak terbantahkan. Ingat bagaimana dia menyatakan akan menggebuk kaum dissident? Tidak meledak, ada senyum dan menahan tawa, tetapi dingin. Semburat kebengisan tergambar di sana.

Dia memang bukan Castro atau Ghaddafi yang kuat mengoceh, tetapi dalam gaya kebapakan dia tetap tak terbantahkan, terutama dalam pidato tanpa teks dan tanya-jawab. Dehemnya sebelum berkata-kata pun punya kekuatan. Inilah era monolog Butet Kertaradjasa dalam menirukan vokal maupun gesturnya menjadi katup pelepas orang-orang tertindas.

Ingatan kita tentang seseorang seringkali berupa gambar di benak. Visual sifatnya. Ingatan apa yang ada di benak Anda tentang dia? Foto resmi itu? Prangko? Atau foto yang lain?

Mari kita tunggu sebuah hasil riset foto terhadap potret Soeharto — ya, dialah yang saya maksud sejak tadi — lengkap dengan tafsiran subyektifnya. Termasuk foto-foto yang humane tentang dia. Tentu kita juga harus kritis bahwa foto tunggal, satu versi pula, hanyalah hasil pembekuan sebuah peristiwa. Tanpa memahami konteks kita bisa tergelincir dalam menafsir.

Entahlah siapa yang akan melakukan riset foto. Harapan saya sih Anda. :)

© Foto-foto lama: Larry Burrows/Life, Desember 1967 | © Foto Soeharto main gitar: entah | © Foto Camdessus dan Soeharto : entah

Ada 49 komentar | trackback | Depan

wahyunurdiyanto

#49

business | 18 06 2010 @ 21.20.56

diliat dari foto eyang suharto memang udah menampakkan karisma bahwa dia akan menjadi orang besar.. mungkin om tyo juga punya kwkwkwk


#48

azlam | 24 04 2010 @ 12.46.26

Setiap diri manusia pasti ada sisipositif dan negatif,Soeharto pun bgtu….masyarakat ada yg cinta padanya,juga ada yg benci pada nya…kembali pd penilaian sendiri…banyak negatif nya atau banyak positif nya….!! menurut saya beliau memang Bapak Pembangunan…entah apa jd nya jika beliau dulu tdk menjabat……


#47

Damar | 22 04 2010 @ 7.49.48

Sepertinya semua Presiden RI punya foto2 yang menampilkan citra/kesan positif begini…kecuali Gus Dur yang sepertinya ga peduli dengan citra-citraan dan menampilkan apa adanya.


#46

dedoy | 19 04 2010 @ 13.46.43

Saya salut sama juru foto-nya. Keren abisss…

Sepakat. :)
/tyo/


#45

wahyu budi | 19 04 2010 @ 6.51.25

teringat foto mbah2 q dan mbah2 boeyoetq doeloe…masih hitam dan putih…

Foto hitam putih sekarang juga masih bisa dibikin, to?
/tyo/


#44

Thobib | 18 04 2010 @ 0.08.02

dalam benak senang rasanya jika membayangkan jaman yg tepat pada kejayaan pak Harto dulu (90′an saja) karena kedua orang tua saya masih muda. ^^

Oh ya? :)
/tyo/


#43

manshurzikri (tooftolenk) | 22 03 2010 @ 8.52.29

Paman Tyo, itu foto-fotonya dapet dari mana ya?

Foto Pak Harto lagi megang sebatang rokok keren abis, Cuy! Kayak potret pejuang revolusi radikal di Asia gitu,, hwahahaha

Google, secara resmi, menyimpan sebagian foto-foto Life.
/tyo/


#42

dee | 18 03 2010 @ 21.56.29

wew!speachless saya om :)
you are so gorgeous most-atomic-chriticalism-teller.

sampe ke perangko2nya.
*huehehe


#41

halim inside | 18 03 2010 @ 17.11.17

itu foto jadul dengan kualitas masakini.. top bgd..!! tafsiran fotonya mengagumkan..!!


#40

iqbal mabukbahasa | 13 03 2010 @ 12.22.54

bener2 wajah jawa yg lembah manah… (wajahe tok lho ;)


#39

fukyu | 13 03 2010 @ 11.40.41

kalo menurut ane foto2 di masa muda kliatan adem ayem ga punya dosa tapi di bagian bawah (foto tua) ko kebalikannya CMIIW


#38

j4p | 28 02 2010 @ 18.09.50

Foto pertama benar-benar kayak fotonya si raja judi chou yun fat :D


#37

bodrox | 27 02 2010 @ 19.26.34

lebih senang kalau hati dan citra sama manisnya :)


#36

bapake rasta | 23 02 2010 @ 9.19.10

Kayak apa ya foto dia ketika disowani yusuf, basuk & amir, sekembalinya ke-3nya dari bogor? Gimana ekspresinya? Beda gak ya dg foto ekspresi dia ketika ketemu yusril di salah satu lorong rumahnya, setelah yusril berhasil menyusun pidato lengsernya, yang bisa lengser-ser begitu saja?


#35

yusuf81 | 20 02 2010 @ 19.12.01

gambar ambek ngrokok tak ambil buat gambar facebook ah, boleh to paman?


#34

pelintas | 20 02 2010 @ 7.04.56

Kutip :Tanpa memahami konteks kita bisa tergelincir dalam menafsir…..foto no 3 dr atas itu,teduh nian melihatnya.


#33

purwoshop | 13 02 2010 @ 8.53.26

wah, keren sekali tulisannya paman., gambarnya membuat saya terpana :) tfs


#32

Mardianto | 13 02 2010 @ 0.14.24

Apakah semua foto dia hasil dari pengarah gaya? Mungkin sebagian besar iya :)


#31

nugroho | 12 02 2010 @ 18.52.30

Setiap wajah Suharto yang ditampilkan seperti menyimpan misteri terpendam. Senyumnya menutupi taring yang tersimpan di dalam, kehangatannya menutupi dinginnya hati yang di dalam. Akan tetapi seperti sebuah pepatah, dalamnya lautan dapat ditebak tetapi dalamnya hati siapa tau.


#30

edratna | 12 02 2010 @ 14.35.54

Foto-foto ini (jika kita tak ingin mengingatkan pada seseorang yang pernah sangat berkuasa), menggambarkan seorang ayah yang mencintai keluarganya.


#29

wahyu | 12 02 2010 @ 7.56.25

Love Soeharto !!!


#28

Daus | 12 02 2010 @ 1.55.34

Yang pasti, kita mesti iri dengan koleksinya LIFE :)


#27

adi | 11 02 2010 @ 20.21.12

kl dilihat dr bentuk mustaka alias ndhas-nya, terlihat bahwa dia adalah orang yg nggembelo (kata ini terjemahannya bhs indonesia-nya saya bener2 gak tau, hehehe …)


#26

hobby exchange | 11 02 2010 @ 16.09.10

dia ktanya ahli strategi, sambil merokok pikirannya ke segala arah. selesai merokok dia sdh dpt menemukan strategi baru tadi.
1 x merokok 1 strategi. ya ngga bang admin?


#25

dilla | 11 02 2010 @ 14.44.50

wajahnya pak harto itu meneduhkan..


#24

Ahmad | 10 02 2010 @ 11.20.26

Saya menafsir gambar pertama sebagai sosok yang sedang menikmati rokok. Kenikmatan itu ditunjukkan dengan senyum yang mengembang. Betul kan Paman?


#23

aaqq | 10 02 2010 @ 4.29.22

ini posting favorit ku..
superb!


#22

RifkyMedia™ | 10 02 2010 @ 2.26.04

wahhh keren keren fotonyaaaa hihihi oldiest hehehe


#21

itikkecil | 09 02 2010 @ 19.45.38

yang paling keren foto Michael Camdessus itu paman…


#20

hedi | 08 02 2010 @ 17.40.06

Foto personal, selain diambil dgn cara candid atau spontan, tentu sebuah pencitraan. Biasa itu. Tapi saya salut pada keahliannya menyusun strategi, terlepas itu berakibat brengsek atau tidak.

Sejak kecil dia pintar bersiasat mengatasi keterbatasan. :D
/tyo/


#19

bangsari | 08 02 2010 @ 16.21.24

foto terakhir keren. terkesan sangat santai, nyaman dan mapan.

btw, apa benar (sebagian besar) karena suharto negeri ini tak maju?

ada benarnya soal ketidakmajuan itu. :)
/tyo/


#18

bukan detikcom | 08 02 2010 @ 14.21.13

saya ndak suka pak harto secara personal, tapi sumpah foto yang pertama keren banget.

Kayak poster film mafia gitu…keren…

Huehehehehe! :D
/tyo/


#17

Affan | 08 02 2010 @ 13.02.52

Untuk ukuran orang yg paling berkuasa di Indonesia, Pak Harto itu orangnya sederhana banget. Perabotan di Cendana itu ya biasa-biasa saja. Kalau dibandingkan dgn walikota atau gubernur jaman sekarang jauh banget.

Gubernur dan bupati sekarang? Mungkin. :)
/tyo/


#16

DV | 08 02 2010 @ 12.36.17

Mukanya waktu muda mirip Tommy banget ya.. :) Ya nggak heran lha wong bapaknya sendiri :)

Hahaha! :D
/tyo/


#15

galihsatria | 08 02 2010 @ 12.20.19

Terima kasih untuk sharingnya paman :)

Sama-sama, Dik! :)
/tyo/


#14

mpokb | 08 02 2010 @ 12.09.13

waspada bahaya laten Orde Baru, bang paman :D
setidaknya, sebagai seorang ayah, dia bisa menampilkan citra yang baik.

– melepaskan diri dari sejarah sungguh mustahil, bukan, seburuk apa pun itu?

Bahaya laten atau nyata? :D
/tyo/


#13

Abihaha | 08 02 2010 @ 10.21.29

Mantep tenan pakdhe, di rumah alm.simbah di kampung mbahrowo sana, foto beliau ini masih terpajang ketika masih berpasangan dengan Sri Sultan ke IX, kira-kira semuda foto-foto disini.
Lucunya, karena terpasang di samping ki-ka pintu masuk dari ndopo ke dalam rumah, dulu pramuwisma yang sepuh selalu agak ‘ndingkluk’ bila lewat. Tapi ya entah juga ‘ndingkluk’i foto kiri atau kanan.

Saya gak mau jawab anekdot keren ini! :D
Asli, saya terbahak-bahak. :))
/tyo/


#12

badr | 08 02 2010 @ 10.11.26

tak usah beriklan
tak banyak kata
malah berwibawa

Lha?
/tyo/


#11

andrias ekoyuono | 08 02 2010 @ 9.46.45

saya suka dengan foto-foto yang bisa “bicara” seperti ini

Ini juga bagian dari pencitraan kok. :)) Semacam foto SBY lagi nulis, saat fajar, di hamparan rumput perkebunan kopi itu. Yang ngambil fotografer istana. Obama juga, Clnton nuga, Putin juga, semuanya juga. Kayak blogger lah. :D
/tyo/


#10

jacobian | 08 02 2010 @ 9.41.50

yup presiden soeharto merupakan suatu sosok dalam sejarah indonesia dan ga akan pernah bisa dilupakan. :-)

Suka gak suka, ya dia memang gak terlupakan. :D
/tyo/


#9

dudi | 08 02 2010 @ 9.30.10

entah kenapa sekarang sosok dan karakternya serasa paling kuat dibandingkan dengan presiden-presiden sesudahnya.

jadi ingat dulu bisa swasembada pangan pas di era-nya, sekarang harus import beras :))

Tapi swasembada dicapai dengan penindasan. Orang Koramil mencabuti tanaman nonpadi di sawah. Tanaman yang lebih menguntungkan petani tapi “kurang mendukung program nasional”. :) Terkabar begitu — supaya saya gak ditagih, “Mana bukti klipingnya?” :D
/tyo/


#8

arya | 08 02 2010 @ 8.59.05

bagus buat dijadikan skripsi nih. disiplin ilmu apa ya Man yg bisa mengambil subyek ini? hihihihi.

Cultural studies kayaknya bisa kok, di FIB, untuk tesis. Di FH gak bisa. :D
/tyo/


#7

jarwadi | 08 02 2010 @ 7.15.48

jadi kenapa paman bisa mengumpulan dan menulis ‘orang itu’ dalam blog sepanjang ini?

Sudah terjelaskan dalam paragraf kedua kan? Selebihnya ya iseng aja pengin nulis :D
/tyo/


#6

Vavai | 08 02 2010 @ 5.54.07

Suka atau tidak suka, ia memang punya power dan kharisma disaat dan waktu yang tepat. Andaikan tahun 1992 atau 1997 ia tidak mencalonkan diri lagi, mungkin jalannya sejarah menjadi berbeda.

Kalau lihat pak Harto saya ingat bapak saya karena memang mirip :-)

Hidup Bapak! :D
/tyo/


#5

sawung | 08 02 2010 @ 2.45.25

pencitraannya mirip2 yg sekarang

siapa tuh yang sekarang? :D
/tyo/


#4

molly | 07 02 2010 @ 23.46.53

terlepas dari segala kejahatan maupun kebaikannya, buat saya Soeharto itu ganteng.

“Mampu mengemas keangkuhan dalam kehalusan.” — saya suka ini!

Emang ganteng kok. :D
/tyo/


#3

pebbie | 07 02 2010 @ 23.24.52

foto pertama mirip jet li :D

masa sih? :D
/tyo/


#2

geblek | 07 02 2010 @ 22.28.07

jadi kangen sama beliau hihihi

malam ini dia akan mendatangimu, jok.:D
/tyo/


#1

Paidjo | 07 02 2010 @ 20.43.38

Saya “mendunia” di era Sang Jendral Besar ini, Pakdhe..
Kenangan saya terhadap beliau, entah mengapa ya.. tak sesederhana sebelum kedatangan presiden-presiden lanjutan..

Waktu terus berjalan. Pemahaman kita juga berubah, baik karena ingatan yang hilang maupun datangnya info dan kesadaran baru. :)
/tyo/