Rombong Rokok Penjaga Malam Jalan
THE CITY NEVER SLEEPS…

Rokok memang berbahaya bagi kesehatan. Tapi kota tanpa rombong rokok yang buka malam hari akan membuat jalan semakin sepi. Rombong-rombong itu juga menjual permen, minuman, amplop, obat flu, koyo, obat nyamuk bakar, dan bahkan pulsa.
Tanpa menjadi perokok, ada alasan bagi kita menukar lembaran uang bernominal gede menjadi pecahan. Yaitu dengan membeli barang yang murah. Rombong malam hari adalah penjaga jalan.
Rombong terang seperti pemancing laron. Taksi dan tukang ojek bisa berkumpul di sana. Apalagi jika rombong sediakan TV untuk menonton sepakbola, seperti dinihari tadi. Penunggu angkutan umum juga merasa agak nyaman di sana bila dibandingkan berdiri di kegelapan. Oh ya, cobalah mencari tahu dari mana mereka mendapatkan listrik.

Selain rombong rokok, penjaga malam jalan adalah warung makan kaki lima. Setelah itu makin banyak penjaga malamnya, dari minimarket 24 jam sampai kios bunga 24 jam.
Begadang, jangan begadang, kalau tiada artinya. Pesan mulia Rhoma Irama kala masih menjadi Oma Irama itu benar. Kalau ada artinya tentu jangan dibilang jangan. Siang hari tanpa melakukan hal berarti, itu juga kurang benar kan, Bang Haji?

Saya tadi mendapati banyak hal dalam penyusuran 300 meter (menurut peta BlackBerry) dari Rumah Langsat ke warung gule Mayestik, Jakarta Selatan. Masih ada kehidupan. Anak-anak Holden di Circle K Jalan Ahmad Dahlan. Perangkai karangan bunga di dekatnya. Sejumlah rombong rokok yang TV-nya menyala.

Ada pula beberapa pekerja pemasang papan nama di kantor baru WannaBe. Seperti umumnya pengganti gambar bilbor, mereka biasanya bekerja malam hari. Selain tak mengganggu parkir dan lalu lintas, bekerja malam hari bagi mereka mungkin seperti menjadi Bandung Bondowoso: membuat yang kemarin belum ada lalu esok paginya tiba-tiba sudah hadir.

Selalu ada rombong rokok dalam lintasan kehidupan malam. Mereka ada di pasar perkulakan dapur yang buka tengah malam hingga pagi sampai kawasan bisnis dan hiburan malam seperti di Jakarta Kota.
Saya belum tahu apakah pengganti rombong-rombong itu setelah kelak kebiasaan merokok punah, atau dipunahkan. Kurang ekonomis jika rombong hanya menjual permen.
Khusus untuk kawasan Kota mungkin tak masalah. Pada salah satu ruas Jalan Gajah Mada ada deretan rombong penjual afrodisiak, kondom, dan sex toys kecil. Jarak antar-rombong bisa kurang dari sepuluh meter. Itu pun masih berselang-seling dengan rombong DVD dewasa. Semuanya terang-terangan. Blak-blakan.

Tak semua kegiatan ekonomis harus berlangsung siang. Tak harus hanya berlangsung malam karena perbedaan waktu dengan mitra kerja di belahan lain bumi. Bagi saya kegiatan malam di luar, yang tak mengganggu tidur orang yang di dalam rumah, adalah baik. Itu membuat malam tertemani, bahkan juga bagi orang yang merasa normal karena bukan makhluk nokturnal.
Salah satu peneman malam, sekali lagi, adalah rombong rokok. Pelintas jalan, termasuk yang berkendara(an), tidak merasa sendirian meskipun tak berpapasan dengan siapa pun.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Ketika “Lancar” Terpasang, Kemacetan pun Datang
March 31, 2008 by AntyoSISTEM INFORMASI LALIN DI REPUBLIK KEBATINAN.
Saat menyalip sebuah mobil, ekor pandangan mata kiri saya menangkap petugas jalan tol sedang memasang tulisan “Lancar” di tepi jalan.
Isian itu seperti kotak info kantor pemerintah: “Kepala Dinas | Ada”. Kalau diubah menjadi “Kepala Dinas | Amrin Membolos”. Ya, serupa papan daftar nomor nyanyian dan ayat [...]
Recent Comments
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





wah… mas klu bisa kurangin merokoknya budayakan sehat.. ship
—
Terima kasih. :)
/tyo/
begadang ngerokok sambil nonton bola matap… boz
—
Masa sih? :)
/tyo/
wah mas iyo ini ada2 jadi inget masa muda dulu
jangan2 uncle tyo mantan penjaga malam jalan (rombong rokok)
—
Namanya juga upaya. :)
/tyo/
gak membuaka MLM rombonk rokok to mas aq mau jadi ikut member heheheh
—
Gak. Banyak hambatan. Lagi pula rokok kan semakin dibatasi. :D
/tyo/
salam kenal kunjung balikya… have nice day
emang benar Bukan hanya satpam yang bisa bisa menjaga komplek.
—
Dalam batas tertentu iya. :)
/tyo/
memang benar artike bos tyo ini rombong rokok penjaga malam jalan. mereka jualan di mlm hari di saat semua tertidur hanya untuk tetap bertahan hidup.
—
Begitulah. :)
/tyo/
Artikel bagus om.
dulu waktu pulang ngapel saya sering menghabiskan waktu paling tidak 1 jam di warung rokok di bawah flyover cawang hanya untuk memandangi cawang di waktu malam ditemani minuman ringan dan sebungkus rokok
—
Dulu Cawang itu gelap kan? Rawan banget.
/tyo/
A very good way to see the other side of the city
—
Terima kasih. :)
/tyo/
seperti pernah saya bilang: (sampeyan) flaneur!
–
Ah gak juga. Apa ya padanan Indonesianya yang pas? :D
/tyo/
Sekarang saya yakin kalau Paman seorang perokok..
–
Kok bisa yakin?
/tyo/
“…permen H**os satu!”. “…Oya pak, Jl.Martadimana Dinata ya?”
“…OK prapatan kedua depan belok kanan ya? Terimakasih!”
Info desk penunjuk jalan modal mangatus. Dapat permen pelega tenggorokan pula.
—
Kadang penjual rokok juga memberi tahu kalo ada copet dan bahaya lain. Dulu di peran stasiun Kalibata, saya ada langganan tukag rokok yang selalu pinjamkan kursi. Padahal saya selau hanya beli minum. Hal sama terjadi di Cililitan. Entah ke mana mereka sekarang, orang2 baik itu.
/tyo/
Kalau di Jogja, selain rombong rokok juga ada warung indomie 24 jam, mereka cuma tutup menjelang dan sesudah lebaran, Man..
Kalau di Sydney? Nggak ada! Menyebalkan!
—
Kayak Eropa. Malam sedikit yang buka. Oh yang buka sampai larut masih tokonya orang Asia?
/tyo/
the criminals also never sleep :D
—
the cops, maybe, do the same
/tyo/
Rombong rokok itu seperti penolong dalam kehausan. Buktinya, kalau bunga habis nganter buket, pasti mampir ke rombong untuk beli minuman segar
—
Antar dulu baru minum. Segaarrr!
/tyo/
Paman, saya suka karena rombong rokok itu banyak yang menjual peniti. :D
—
Selain peniti adalah Tensolplast, Handyplast, dan sejenisnya.
/tyo/
Halo teman:
Saya ingin mengucapkan selamat kepada anda pada pencalonan di The BOBs, blog
saya: La Vuelta al Mundo de Asun y Ricardo
juga telah dicalonkan sebagai weblog terbaik dalam bahasa Spanyol.
Anda memiliki blog yang sangat menarik, saya telah memilih.
Jika Anda ingin melihat saya dalam bahasa mereka, di halaman pertama Google
saya sendiri penerjemah otomatis.
Terima kasih banyak dan semoga berhasil.
—
Gracias!
/tyo/
Hehe penyelamat saat kehabisan bensin di jalan juga.. ada juga yang jual miras :p
—
Bensin! Ya, kelupaan saya. Betul!
/tyo/
Betul paman, saya kerap merasa aman kalau jalan malam hari ada rombong, atau tukang ojek :)
—
Nah!
/tyo/
oh ada toh yg jualan sextoy di grobak hihihi katrok baru tau saya :)
bahkan seumur umur lihat jualan sextoy baru di negeri tetangga :D
—
yang dijual tuh bangsanya ring berbulu atau bungkus berduri lunak :))
/tyo/
Romantis sekali Paman :)
Iya, keberadaan rombong rokok, maupun bakul pecel yang tutupnya jam 5 pagi di Simpang 5 semarang contohnya, juga warung angkringan, dan taxy yang masih berlalu malam ketika jam tutup Dugeman sudah tiba…
Sebagai mantan makhluk malam yang selalu cari sarapan jam 1 dinihari, kehidupan kecil di malam hari itu sangat berarti :)
—
He-eh! Trang rak enak is kalo malem sepi ndak ada orang jualan. Kandani…
/tyo/
gaya juragan rombong rokok mayestik asik juga. santai tenan.
ahh, postingan yang istimewa, menyorot Jakarta dari sisi selain mal, resto dan kafe. saya dulu pingin posting soal gultik, tapi belum kesampaian.. :D
—
dibikin kesampaian dong, mumpung belum lupa. :)
/tyo/
rombong malam, entah apapun jualannya memang akan jadi kawan pengendara,
—
bentoel sekali!
/tyo/
apakah angkringan dan hik termasuk juga, man? :D
—
Sudah barang tentu, Nak Zam
/tyo/