MENGUNDANG TAKJUB, IRI, GEMAS. INI MOMENTUM.

Kasus korupsi menarik jika menyangkut angka besar, wanita cantik, dan kehidupan berkilau. Kasus Gayus Tambunan menambahkan satu syarat: keajaiban seseorang yang tergolong biasa, cuma pegawai negeri golongan IIIA dengan masa kerja sekitar lima tahun.

Itulah yang saya tangkap dari obrolan kanan-kiri-depan-belakang, pokoknya Dolby Surround. Di mana-mana ngomongin Gayus. Bahkan kemarin, menjelang tengah malam, sepulang dari warung pinggir kali, saya dipersilakan mampir ke gardu ronda. Ada batang talas goreng, wedang jahe, dan kepulan Gayus.

Cara media memberitakan Gayus pun bernada sama. Tentang kerakusan seorang pegawai yang bukan kerani, beserta lompatan jauh dalam kehidupannya, dari rumah reyot di kampung kumuh ke gedung mentereng di Kelapa Gading.

Jika korupsinya menyangkut petinggi — menteri, jenderal, direktur utama BUMN — masyarakat kurang tergetar. Hanya membicarakannya sepintas, dan perihal angka mudah dilupakan.

Tapi ketika angkanya (sejauh ini) sekitar Rp 27 milar, dari seorang pegawai bergaji bulanan Rp 12 juta, itu tak hanya mengundang takjub. Dalam kasus Gayus ada juga semacam iri. Oh bukan iri maupun dengki, tapi apa ya… semacam rasa tak bisa menerima.

“Dik, saya ini dari hari pertama kerja sampe mau pensiun, misalnya mau nakal-nakalan, ndak bisa ngumpulin duit sebanyak Gayus,” kata seorang pegawai BUMN kepada saya.

Pasal magnitude dalam kelayakan berita Gayus memang tinggi. Begitu pula unsur dramatisnya. Ini yang menggerakkan sentimen negatif khalayak.

“Kalo liat di pasfoto sih culun banget. Tapi ngeliat di TV waktu dia sampe di bandara, woahhh nyebelin banget tampangnya. Itu anak sudah keliatan melek duit,” kata seorang bapak, bekas pegawai yang kemudian berwiraswasta.

Baiklah, itu opini. Saya tak meminta argumentasi dari pendapatnya. Biar saja. Tafsir terhadap penampilan seseorang yang sedang terpuruk maupun melambung memang bisa bermacam-macam. Blog ini pun mungkin ikut menganiaya dia secara opinionatif  karena mengabaikan asas praduga tak bersalah.

Faktor tambahan penguat obrolan adalah bidang kerja Gayus: pajak. Dan kita tahu, pajak sedang aktual karena bulan lalu orang sedang dikejar tenggat pelaporan pajak pribadi — sebagian besar untuk pertama kalinya.

Tak perlu saya perpanjang aneka rempah obrolan maupun serapah. Pemeriksaan masih berlangsung. Merembet ke sekeliling pula.

Tapi saya mendapatkan satu kesan kuat dari sejumlah arena obrolan: rasa gemas yang panas. Mereka ingin soal ini diusut tuntas tas-tas-tas…

Pemberantasan korupsi butuh waktu. Tak cukup dalam lima tahun beres. Namun ada satu hal yang mestinya tak disia-siakan oleh siapa pun yang berkehendak politik mulia: jangan sia-siakan kepercayaan dan harapan masyarakat.

Kalau itu terlewat maka hasilnya adalah apatisme lagi. Padahal apatisme adalah stadion pelingkup lapangan hijau para koruptor.

Saat merawat kepercayaan dan harapan, masyarakat harus disadarkan bahwa korupsi hanya menghasilkan ekonomi berbiaya tinggi, sekaligus menghina rasa keadilan dan fairness karena anak curang dimanja tapi anak manis malah celaka. Jika dibiarkan maka etos kerja dan kompetisi sehat, sebagai bagian dari syarat kemajuan, pun masuk ke got.

Sayang, hati dan akal sehat saya seringkali tak bersua. Malah kadang optimisme dan ilusi pun bertumpang tindih. Kalau Anda?

© Ilustrasi: sumber foto asli Yuniadhi Agung/Kompas; diolah oleh Antyo Rentjoko

41 Responses to Pesona Gayus

  1. mas stein INDONESIA Flock Windows says:

    duit lebih mudah dicari daripada kepercayaan. nutup lubang penerimaan yang dibikin Gayus ndak gitu susah paman, nutup lubang kepercayaan masyarakat yang repot. apalagi kalo orang berpikiran bahwa yang ngumpulin dan mbagi duit pajek adalah instansi yang sama, termasuk yang bertugas ngaspal jalan.

    ndak bener, tapi juga ndak salah. bagi birokrat bisa ngomong kalo pemerintah terbagi dalam banyak bagian. bagi masyarakat mereka hanya kenal satu wujud, wujud itu bernama pemerintah.

    ndak bener. ndak salah. baiklah :D
    /tyo/

  2. molly GERMANY Blackberry says:

    GT Man…a pain in the ash! (to some people).

  3. bisot INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    ada niat, lingkungan mendukung… yg ngawasin malah numpang adem yah jadi deh Jayus eh Gayus :)

  4. edratna INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Saya prihatin paman….

    Tapi saya tetap nyaman kok paman, bisa hidup sederhana, tapi damai dan tenang….

  5. guntur INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    ya gini kalo menjalankan sistem cuman setengah2…ngasih carrot tapi ndak pake stick…remunerasi tapi ndak ada ancaman apa2 kalo tetep korup…

    Kayak wartawan amplop. Gaji naik ya amplopnya ikut naik :D
    /tyo/

  6. mikow INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    kalo gemas nggak lah tapi kalo iri jelas iya, gaji pegawai lingkup kementerian keuangan itu yg paling “wah” di negara ini. besarannya sekitar 5-6 kali lipat dari gaji pegawai di institusi lainnya padahal untuk resiko pekerjaan mungkin sama bahkan di institusi lain ada yg bekerja dengan resiko kematian sekalipun.
    jangan mentang2 mereka yg ngatur keuangan negara ini bisa seenaknya bikin peraturan untuk menaikkan gajinya sendiri.

    Sabar, sabar, sabar…
    /tyo/

  7. nYam INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    setelah remunerasi, peluang main di pajak udah jadi kecil. makanya GT mainnya di pengadilan pajak, yang mana di bawah MA. ga diawasin kan di sana.

    dan akhirnya, mereka yang nggak salah pun ketiban apesnya. benar-benar karena nila setitik, rusak susu sebelanga. akhirnya orang melihat isinya nila semua. begitu Paman….

    Tentu masih ada warga korps yang lempeng. Gak semua sejawat seperti Gayus.
    /tyo/

  8. DV AUSTRALIA Google Chrome Windows says:

    Gayus Iskariyot:)
    Sugeng Paskah, Man!

  9. Kenyataan yang ada sekarang, kalau gaji makin besar maka korupsi makin besar. KAlau dalam sebuah penelitian, jika A naik maka B naik, untuk menurunkan B maka A perlu diturunkan bukan dinaikan.

    Berarti harusnya orang-orang berpotensi korupsi macam Gayus bukan terima gaji naik setelah remunerasi. Seharusnya justru diturunkan supaya korupsinya turun.

    wah rumit ini :D
    /tyo/

  10. Ahmad MALAYSIA Mozilla Firefox Windows says:

    Terus terang, agak tak enak hati untuk taat bayar pajak. Tapi, saya harus membayarnya karena berharap uang itu bisa digunakan semestinya.

    Sambil berharap cemas, Paman?

    Yah begitulah, ihwan :)
    /tyo/

  11. Sesuai title artikel ini, saya juga takjub, iri dan gemas

    Hehehe… komplet.
    /tyo/

  12. antxxx INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    ijin nyimak…..
    gayus yg jayus…

    biar jayus tapi gayus
    /tyo/

  13. ekoprayit AUSTRALIA Mozilla Firefox Windows says:

    Gayus pasti berlalu… :p

    …da digantikan oleh gayus lain
    /tyo/

  14. jacobian INDONESIA Google Chrome Windows says:

    yah biasalah.si gayus kan OKB tuh.orang kaya baru. :-)

    bukan orang korupsi baru?
    /tyo/

  15. mas awe AUSTRALIA Google Chrome Windows says:

    remunerasi besar hanya sedikit mengikis corruption by need, tp yg namanya manusia selalu kuran aja bawaannya, jadi memang kembali lagi ke moral & iman.. plus sistem yg mempersempit peluang buat orang yg imannya tipis..

    Nah itu dia! Tapi kok sulit ya?
    /tyo/

  16. Abd.Manaf INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    sebagian menggumam, terlanjur urus NPWP, rupanya pajak ditilep.Pantas kampung kami udah 39 thn, nggak pernah kenal aspal.telat lapor SPT, kena denda, korup pajak, biasa.??????????????

    Ohhhh :(
    /tyo/

  17. mawi wijna INDONESIA Opera Windows says:

    hidup miskin repot, hidup kaya repot, wedalah…

    Maka janganlah hidup :)
    /tyo/

  18. Abihaha INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Berarti yang 27M itu, di laporan SPT, setoran dia kalkulasi pakai norma hitung apa ya? Konsultansi atau Kerajinan Tradisional?

    Itu fee tambahan :)
    /tyo/

  19. haris INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    kasus gayus membuktikan bahwa kasak-kusuk soal pegawai pajak benar adanya. kasus ini memang sangat menghebohkan. di kantor saya, laput tiga minggu berturut-turut membahas kasus ini. :D

    Tiga pekan? Top tenan!
    /tyo/

  20. bacabaca INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    wahwah, GT Man ini udah mbikin banyak blog ikut mengulas. Langsung aja ikut kata DPR, pembuktian terbalik harta pegawai pajak,.. baru ke DPR, hehe berani gak yaa.. kalo gak korupsi harusnya gak takut..

    Ya takutlah. Risih gitu :D
    /tyo/

  21. geblek AUSTRALIA Mozilla Firefox Windows says:

    gak hanya jin yang serakah paman :)

    Salam untuk jin! :D
    /tyo/

  22. Nazieb AUSTRALIA Mozilla Firefox Windows says:

    Itulah, katanya gaji orang pajak ditinggikan demi menghindari mereka berbuat macam-macam karena telah tercukup kebutuhannya. Mungkin yang menaikkan itu lupa kalau manusia tidak pernah merasa cukup.

    Yah itulah manusia kalau dikasih peluang oleh sistem yang burook.
    /tyo/

  23. saya sendiri menyadari bahwa kasus ini adalah kasus yang besar, seorang yang masih berusia 3o an tahun memberanikan diri korupsi dengan jumlah diatas 25 M. saat ini yang paling berbahaya adalah kepercayaan masayarakat dalam hal PAJAK, jika saja tidak segera di bangun maka akan berimbas pada hal yang negatif, kalau dulu ORANG BIJAK TAAT PAJAK, sekarang menjadi ORANG BIJAK AWASI PAJAK

    Orang bijak awasi gaya hidup petugas pajak.
    /tyo/

  24. badr INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    orang pinter cepet kaya

    Oh ya?
    /tyo/

  25. Dewa Bantal UNITED STATES Google Chrome Windows says:

    Wew sebulan 12 juta masih kurang yah? Manusia memang nggak pernah puas :)
    -
    Rp 12 juta di Jakarta, dengan tiga anak, ya pas-pasan :)
    /tyo/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.