Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Anak Manusia, Anak Ayam, Anak Bebek

Kamis, 08 April 2010 @ 11:44 | Umum

CERITA DARI LAPAK PENJUAL MAINAN.

Anda dulu melakukan ini: menggunakan uang jajan untuk membeli mainan yang dijajakan di luar sekolah. Ya, kan? Namanya uang jajan; orangtua memberikannya untuk membeli penganan dan minuman. Bukan untuk membeli barang.

Tadi pagi saya juga melihat penjaja mainan di dekat sebuah SD negeri di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ada tiga lapak di sana.

Bagi saya ini menarik karena sekarang tak semua murid SD di Jabodetabek bisa membeli mainan dan jajanan di luar pagar. Bahkan penjaja pun terusir oleh satpam maupun penertib lain. Lihat saja di sekolah-sekolah mentereng berkurikula berkurikulum internasional itu.

Tidak, saya tidak mengeluh. Kalau semua tempat boleh menjadi pasar kaget memang bakal semrawut. Hari ini lima penjual, lantas bulan depan jadi sepuluh — dan malamnya ada pecel lele dan nasi uduk dan bahkan penyedia sewa tubuh. Kota memang kudu ditata untuk kepentingan bersama.

Dan marilah kita lihat. Selain yo-yo kayu Rp 2.000, gasing kayu Rp 1.000, sekantong plastik uang mainan (lima lembar)  seharga Rp 1.000, sekantong plastik kelereng (sepuluh butir) seharga Rp 1.000, gelang pegas Rp 1.000, dan mobil-mobilan Rp 15.000, ada pula anak-anak unggas.

Ya, unggas. Dalam kandang, bekas keranjang plastik buah impor. Anak ayam “negeri” seharga Rp 3.000 per ekor, anak ayam kampung seharga Rp 10.000, dan anak bebek seharga Rp 5.000 per ekor.

Lho bukannya itu lumrah, anak ayam sering dibarter dengan barang rombeng rumah tangga di kampung-kampung?

Ya. Tapi ini di Jakarta. Permukiman kian sesak.

Memang tak semuanya sepadat blok tertentu di Tambora, kawasan terpadat di Jakarta. Di sana, lorong tertentu itu, pada malam hari, tak sedikit lelaki kongko di luar dengan bertelanjang dada karena malam adalah saat rumah sesak, padahal anak sekolah harus belajar. Ini Jakarta; di manakah anak-anak ayam dipelihara karena anak manusia pun berdesakan sehingga kelak pada tahap kesekian evolusinya manusia warga kota padat (tapi malas mengerem kelahiran) bisa tidur sambil berdiri?

Terlalu jauh bicara evolusi sebagai respon spasial, sebagai tanggap keruangan. Sekali lagi persoalan aktualnya ini: di manakah, dan dengan cara apakah anak-anak ayam itu dipiara? Di kali manakah anak bebek diumbar?

Penjual dan orang sekeliling hanya tertawa. Apakah anak ayam hanya untuk mainan, kalau mati (atau dibiarkan mati akibat pengampunya bosan) pun tak soal?

Lagi-lagi hanya tawa jawabannya. Ada yang menyelutuk, “Namanya juga anak, Pak.”

Ketika kita melintasi permukiman padat, kadang sedikit ayam yang berlalu lalang. Malah  tikus yang lebih banyak — kalau malam bisa membuat kaki tersandung. Nyerimpungi, kata orang Jawa.

Kalau saja saya ada waktu menunggu hingga bubaran sekolah, dan ada anak membeli anak unggas, lalu saya datang ke rumahnya, tentu saya beroleh jawab. Tapi blog ini bukanlah sebuah wadah jurnalistik. Hanya sekadar catatan turistik eh turistis yang justru bukan oleh orang luar kota apalagi luar negeri.

Boleh jadi anak ayam dan yo-yo dan gasing hanyalah pemuas hasrat homo ludens — manusia pemain, manusia bermain. Sama seperti (mungkin) blog ini di tengah riuh media sosial.

Ada 25 komentar | trackback | Depan

susno

#25

Thobib | 18 04 2010 @ 0.33.41

“yak, sayang anak.. sayang anak..” slogan yang hendak saya usulkan untuk diselipkan di sini. oiya, tu anak ayam dan anak bebek mash polos banget alias dibawa umur (bisa terjerat perdangan anak dibawa umur) :D . sisi positifnya: anak ayam dan bebek g pake baterai dan sangat ramah lingkungan.

Menarik! Sayang anak, tanpa baterai! :D
/tyo/


#24

tomat | 17 04 2010 @ 20.16.28

kasihan anak ayam dan anak bebek itu hanya menjadi pemuas rasa senang saja tanpa ada rasa sayang …. itu membina sense of sadistis kecil-2 an Paman dan perlu diantisipasi. Tuhan tidak senang akan hal itu karena menyiksa sama-2 ciptaanNYa

Rasa cinta dan menguasai memang beda kan? :)
/tyo/


#23

kevin vendra | 17 04 2010 @ 19.49.47

Wa jakarta seperti ituya? (belum pernah menginjakan kaki diibu kota nh)..Pengen juga kl ada uang lbh :P,,jalan2 sekedar melihat dimensi baru..di muka bumi ini,,aku berdiam di bumi katulistiwa tepatnya Meliau Daerah kecamatan di kalimantan barat…Kl di sini mainan seperti itu masih ada, malah yg identik dengan kata primitif msh bnyk….

tp saya bangga pernah memainkan mainan seprifitif itu krna dari media itu tumbuh persahabatan yg erat

Masa sih primitif? ;)
/tyo/


#22

j_lius | 16 04 2010 @ 22.30.30

dulu tahun 1999 saya jago bngt tuhh main “panggal”, sampai bisa muter ditangn… hebatkan,

Sekarang masih jago kan?
/tyo/


#21

antxxx | 14 04 2010 @ 8.34.21

jadi inget masa kecil..semua maenan itu kubeli…

Wah pasti sangunya banyak ya? :D
/tyo/


#20

p49it | 13 04 2010 @ 21.23.20

Terbersit rasa was-was dengan dijualnya anak ayam dan anak bebek tersebut. Flu burung!

Ya gimana mencegahnya saja. Lebih penting lagi: higiene lingkungan. :D
/tyo/


#19

dilla | 13 04 2010 @ 8.42.32

aaaa…aku dulu punya anak bebek itu pamaan.. cuma bertahan 3 hari..abis itu meninggal :(( tapi emang lucu siiih…

Nahhh… betul kan? :D
/tyo/


#18

eko magelang | 12 04 2010 @ 14.05.58

anakku suka beli anak ayam, dan saya tanya kenapa ? katanya lucu dan warnanya bagus [ maklum anak ayam ini dijual dengan diberi warna yang mencolok ]

Warnanya luntur gak?
/tyo/


#17

DV | 12 04 2010 @ 7.04.31

Saya selalu ngga tega melihat anak ayam/bebek dijual sebagai hiasan, diberi warna-warni begitu…. Sesuatu yang sangat keji…. enakan digoreng :)

Lha…. tahu beres pokoknya :P
/tyo/


#16

haris | 11 04 2010 @ 22.04.36

dulu pas kecil, aku nabung lama buat beli motor2an yang bisa jalan pake baterei. :D

bagusnya mainan adalah mendorong anak untuk menabung :)
/tyo/


#15

Dodix | 11 04 2010 @ 16.00.54

Mainan memang sudah jadi kebutuhan dasar bagi anak-anak,tapi orang dewasa kadang-kadang juga butuh mainan, tapi harganya jauh lebih mahal,hehe…
Btw, for those who have difficulty in learning foreign language (english), you can visit mrdodik.blogspot.com, I’ll wait for you

Big boys, big toys
/tyo/


#14

jun | 10 04 2010 @ 20.15.32

Baru sekarang tercerahkan, betapa keterlaluan sebenarnya, menjadikan makhluk hidup seperti anak bebek dan anak ayam —ciptaan Yehuwa (nama pribadi Allah)— sebagai barang mainan anak-anak.

Sebetulnya kalo sekalian teman, bukan mainan, gak papa to?
/tyo/


#13

Radinal | 10 04 2010 @ 1.23.13

wah2, yang penting ga ada yang jualan narkoba & porn movie dsitu. congratz mas masuk nominasi best weblog indonesia

regards,
radinal
http://www.adjeblog.com


#12

molly | 09 04 2010 @ 17.38.48

Anak bebeknya imuutttt..! Lucu banget! Tapi Paman, ini termasuk animal abuse gak ya?

Mmmm gak tau ya? Mungkin ding. :)
/tyo/


#11

RizqySultanAlfaroby | 09 04 2010 @ 14.28.27

saya jadi teringat dengan masa kecil saya dulu, kurang lebih tidak jauh berbeda dengan fenomena saat ini, para penjual tersebut mencari peluang bisnis dengan sasaran konsumen adalah anak anak sekolah


#10

Ahmad | 09 04 2010 @ 10.57.43

Masa kecil tiba-tiba hadir. Bahagia juga mengalir. Melalui potrer paman, saya bisa mengail kembali masa lalu. Lagi, melankolik, Paman?

Setiap orang memiliki saat ketika teringat masa kecil to? :D
/tyo/


#9

mikow | 09 04 2010 @ 10.19.08

wah ada panggal (poto no.1), maenan saya tahun 80an :)

sekarang main lagi. masih bisa?
/tyo/


#8

drmwn | 09 04 2010 @ 8.46.54

….menyentuh sekali, izin buat share ya?

Sumangga. Suwun :)
/tyo/


#7

hedi | 09 04 2010 @ 0.49.07

hihi ada stiker The Jak & Viking di foto terbawah ;)

Iya, makanya saya foto, Sam!
/tyo/


#6

zam | 08 04 2010 @ 16.49.39

dulu, jaman kecil, aku pernah beli anak ayam warna-warni (itu bulu ayam direndam pake “sumba”, pewarna makanan). pas kehujanan atau kena air, warnanya luntur.. untung itu piyik ndak disemprot cat utk ngasih warna.. :D

Kejam ya Zam!
/tyo/


#5

nothing | 08 04 2010 @ 16.31.01

selain kuthuk dan meri, kadang juga jualan burung emprit yang dikelir warna warni. ahh dunia kanak kanak yang menyenangkan

Ingin mengulang masa kanak-kanak ya?
/tyo/


#4

sawung | 08 04 2010 @ 15.40.57

berkurikula? lol.

itu difoto terakhir the jak berdampingan dengan viking, stikernya doang sih :D
—-
Hehehehe
/tyo/


#3

adi | 08 04 2010 @ 14.10.34

ponakan saya dulu pernah miara kuthuk sampai jd ayam jago gedhe :D

Di Jakarta? Waaa hebat dong!
/tyo/


#2

gardino @ LT13 | 08 04 2010 @ 13.16.00

Ayam-ayam yang dijual di SD itu konon adalah ayam yang tak lolos seleksi layak jual. Istilahnya mereka ayam yang kalah dan terpinggirkan. Biasanya dibiarkan terbuang begitu saja. Akhirnya ada yang menemukan bahwa ayam itu laku dijual. Maka mulai maraklah penjualan ayam KW1 itu.

Lha iyalah, ayam apkiran. Mosok ayam unggulan. :D
/tyo/


#1

pras | 08 04 2010 @ 12.20.45

buat klangenan dan penyemangat belajar paman, lha wong bocah (sambil tertawa)

Lha ya itu :D
/tyo/