GS = Gang Sempit
RENUNGAN PONGAH DARI LABIRIN KOTA.
Sudah lebih dari sekali saya numpang baca Sentana dan koran kota lainnya di warung rokok dekat warung penjual nasi gule di kaki lima itu. Tapi pagi itu, karena tak membelakangi jalan, saya tersadar akan satu hal: di depan saya adalah lorong.
Saya tanya orang-orang apa nama lorong itu. Mereka pun saling tanya. Akhirnya seseorang bilang, “Namanya Gang Sempit.” Oh ya, ada inisial “GS” di mulut gang.
Ini hanyalah satu dari ribuan gang sempit di kampung besar Jakarta yang mengaku sebagai megalopolitan. Gang-gang yang menyerupai labirin.
Tak ada yang istimewa dari gang yang kurang memadai untuk berpapasan ini — bahkan ada ruas yang hanya cukup untuk satu badan pelintas.

Kita semua pernah melihatnya. Bahkan mungkin sebagian dari kita pernah atau masih bermukim di lorong sempit. Tentang gang sempit, teman-teman BHI pasti lebih paham ketimbang saya.
Gang yang tidak istimewa. Tapi di sana ada kehidupan. Sama seperti mansions yang tak semua kamarnya berpenghuni di Pondok Indah, Simprug, dan Pluit sekitar Regatta the Icon : tetap ada kehidupan.

Gang sempit. Miskin sinar matahari. Sumuk. Jamur dan lumut pun berbahagia. Ketika lorong hanya diapit tembok-tembok tak berpintu maka siapa yang dipertuan tak begitu jelas. Dan lihatlah, dari sebuah tembok mencul dua bonggol pipa PVC untuk membuang air. Lorong diperlakukan sebagai got.

Gang sempit bukanlah pilihan, tapi karena keadaan — lantaran kahanan, kata orang Jawa. Penamaan Gang Sempit pun belum jelas: oleh penghuni gang atau orang luar. Ini persoalan cara pandang. Cara membagi dunia.

Ada ribuan lorong sempit di Jakarta, sebagian bahkan tak bernama. Saya ingat lorong sempit lembab yang diapit dinding berlumut di Kota. Tak ada lampu, gelap kalau malam.
Saya takjub oleh dua hal. Pertama: butuh seni untuk memasukkan perabot, dan juga material bangunan, melalui lorong sempit. Kedua: dari gang sempit beberapa kali saya lihat wanita cantik, putih, berambut lurus, bermata sipit, berpakaian bagus, berjalan bergegas, keluar dan masuk dari sana. Wanita yang berbeda.


Ribuan gang sempit di perkotaan. Sebagian hanya kita lalui karena ada alasan. Sebagai jalan tikus (tanyakan kepada Zen). Sebagai keterpaksaan karena harus menghindar dari, misalnya, huru-hara. Atau harus datang karena mencari alamat — seperti dulu sering saya lakukan ketika bekerja di media. Dari mencari seseorang yang mengiklankan jasa di koran sampai mencari penyedia barang haram (atau juga jasa haram).
Gang-gang sempit itu. Ketika kantor pos belum digilas SMS dan internet, hampir setiap Pak Pos hapal gang-gang di wilayah edarnya. Saya ingat Pak Pos Baru yang sekian lama harus edar tandem mengikuti Pak Pos Lama.

Menyusuri gang sempit, sekadar mengayun kaki dan celingak-celinguk, apalagi memotret tanpa membaur, baik dengan bidikan cermat maupun asal jepret karena memperlakukan kamera saku selayaknya kamera video secara handheld dengan risiko gambar kabur, adalah sebuah kekurangajaran. Asosial.Bersiaplah dengan risiko.

Jika seharian tak ada lelaki muda maupun tua nongkrong di gang berarti banyak orang yang bekerja. Relatif aman.
Gang sempit. Lorong di antara tembok bisu. Itu bagian dari ruang hidup kota. Kita melihat semangat untuk bertahan, untuk merayakan kehidupan. Gadis kecil yang ngempanin anak ayam piaraan.Perempuan yang mengedarkan kue murah. Ibu yang memasak. Lagu dangdut dari stereo sember. Semuanya bersama bau busuk selokan. Dan di atas selokan ada jembatan kecil yang bertemu tembok bolong agar orang tak perlu memutar.
Radikalisme, dan bahkan revolusi, bisa muncul dari penjebolan tembok. Apapun yang tak masuk akal, dari sudut pandang dunia mereka, berarti harus dilawan. Kalau perlu secara destruktif.
Jika persoalan kian serius, kita hanya kaget dan tak paham.
Tak lebih dan tak kurang, posting ini hanya unjuk kepongahan warga kelas menengah yang nanggung dan tak pernah paham masyarakatnya. Jangan bandingkan dengan kesaksian para pekerja sosial yang tarikan napasnya adalah bagian dari persoalan kampung-kampung padat nan kumuh.
TIP: Jangan sembarangan berlagak turis, apalagi memotret, di kawasan kumuh dan padat yang terancam penggusuran. Mereka sensitif. Ponsel mereka juga ganti merekam wajah Anda, untuk berjaga-jaga kalau tiba-tiba ada kebakaran yang diartikan sebagai pembakaran.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Prasasti Kedukan Got: Sebuah Perlawanan Rakyat
April 11, 2009 by AntyoCARA RAKYAT MENEGUR BIROKRAT.
Bukan “kedukan bukit”, tak ada candinya. Hanya prasasti beton, dan tentu tanpa ditemani arca. Isinya sebuah pernyataan: “Warning. Barang siapa yang membongkar atau merusak saluran ini harap dirapihkan kembali atau denda sebesar sepuluh juta rupiah (Rp 10.000.000). Bertanda: Perda No. 10.02007. Ttd Udin Kosasih.”
Siapa Udin Kosasih? Saya tak kenal. [...]
Recent Comments
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)






tip-nya oke paman, emang gantian paman yang dipotret ya? Harusnya ajak potret bareng tuh
—
Misalkan ada foto bareng gak bakal dimuat di sini kayaknya :))
/tyo/
Kunjungan perdana pak.
Sekalian ijin link blognya ke blog saya.
—
Terima kasih dan silakan, Pak Osu. :)
/tyo/
Ya, inilah salah satu sisi kampung besar. Fotonya keren, pak.
Kunjungan perdana ke blog yang hebat ini. Numpang baca2 dulu, ya pak.
Salam
—
Terima kasih, Alris. :)
/tyo/
Sebelumnya saya sampaikan selamat atas terpilihnya blogombal ini sebagai salah satu pemenang dalam lomba blog international the Bobs yang diselenggarakan oleh radio Deutsche Welle Jerman.
To the point saja, waktu muda saya sangat senang dengan yang namanya gang sempit. Tahu gak kenapa? Betul.. seperti syair lagu lama yang dinyanyikan Sam D’Lyoid. Saya punya banyak kenangan indah di gang sempit. “sepanjang lorong yang gelap.. tempat aku berkasih mesra… ” Waduh rek..
—
Berkasih mesra di lorong gelap. Gak ketabrak pelintas? :P
/tyo/
walaupun dengan kamera bimbit, foto-fotonya tetap berbicara tajam, paman. saya kagum sekali dengan episode-episode kelana kota tersembunyi dari paman.
salut!
—
Terima kasih. Salam dari si bimbit. :D
/tyo/
Di situ, spt dimana pun, selalu ada perayaan. Sendiri atau bareng2. Lalu, di sebelah sana, terkadang kadang ada pihak2 — tentu saja dg maksud baik — yg kemudian mengartikannya sbg “awas sumber revolusi/radikalisme”. Dan kiranya bukan suatu kebetulan jika celoteh kecil ini keycodenya: susno.
—
Maksud baik dan kewaspadaan? Hahaha. Intelijen dan tentara juga berpikir serupa. :))
/tyo/
skrinsut nya bagus
—
Terima kasih. :)
/tyo/
waktu tinggal di bandung dulu saya cukup akrab dgn gang sempit, krn kontrakan jg di gang sempit dan penghuninya relatif lbh friendly dibanding gang-gang sempit di jakarta
—
Jakarta memang beda! :)
/tyo/
wah sipp..bgt
di kota2 besar yg ada di indonesia yg banyak gang2 sempit.btw renungan yg menarik. :-)
—
Di negera lain juga kok. :)
/tyo/
jadi inget rumah emakku di kampung melayu sana ….
—
Rumah yang ngangenin bukan?
/tyo/
Pas mbaca posting dari awal, mau nanya gimana cara ambil foto di gang2 itu ? Karena setahuku hal itu rawan. Eh sampai bawah udah ditulis TIP :-)
—
Begitulah, Mas. :)
/tyo/
Gang sempit adalah salah satu yang paling saya takuti untuk dimasuki. Ini benar-benar labirin nyata di tengah kota, karena jika tidak berhati-hati, sekali masuk kita tidak pernah (atau sulit) menemukan jalan keluar ke jalan besar.
—
Betul! Apalagi pakai motor, sulit berbalik arah. Kalo yang ini, sebagian ruas gak bisa dilewati motor, terutama yang berundak-undak.
/tyo/
melewati gang sempit, lalu muncul di tanah pekuburan Pondok Kopi. Heran, makam ini tak seram, seperti dalam film atau di kampung. Bagaimana tidak, banyak orang lalu lalang dan jualan?
—
Kuburan di tengah permukiman padat sudah hilang angkernya. Malah penjahat yang bikin angker. :)
/tyo/
“Kedua: dari gang sempit beberapa kali saya lihat wanita cantik, putih, berambut lurus, bermata sipit, berpakaian bagus, berjalan bergegas, keluar dan masuk dari sana. Wanita yang berbeda.”
Aku ndak ngerti yang ini, Paman. Maksudnya ada wanita-wanita cantik yang tinggal di gang2 kecil seperti ini? Yah.. Wajar tho?
Dulu waktu kecil juga sering lewat gang-gang begini. Lumayan, naik motor menghindari polisi.
Biasanya kalau cari alamat teman yang di gang2 begini, pengetahuan tentang RT dan RW sangat dibutuhkan.
—
Wanita cantik ada di mana-mana. Dan selalu mengesankan to? :D
Soal RT/RW benar itu.
/tyo/
Gang Sempit adalah akibat dari pembangunan kota yang membabi buta. Gang Sempit sangat identik dengan kaum yang terpinggirkan, daerah kumuh dan miskin
—
Yahhhh…. Konon begitu.
/tyo/
Salut… buat paman yang bisa menilai dengan cermat dan detail…bagaimana caranya bisa secermat itu? salam kenal
—
Bukankah ini seperti kita srtibanya di rumah bercerita pengalaman hari ini? :)
/tyo/
Di Palmerah pun banyak GS. Tempat kos saya di Palmerah, saat bekerja-sementara, dua bulan lalu, juga masuk GS, kemudian belok jadi GB (Gang Buntu)seperti ini http://juniantosetyadi.files.wordpress.com/2010/02/kos-18.jpg
Kadang-kadang ngeri juga kala itu, tiap kali jalan kaki pulang ke kos saban pukul dua dini hari….
—
Ya, saya tahu. Beberapa ruas pernah saya akrabi. :)
/tyo/
Gangnya sempit tapi riuh oleh warna kehidupan. Feature yang menarik
—
Terima kasih. :)
/tyo/
ini sesi hunting gang sempit ?
Nampol bangget ini postingan.. Bravo! Tapi waktu baca judul, kirain mau bahas roti GS :P
–
Saya nampol Mpokb? Gak mungkin. :)
/tyo/
dan diantara gang-gang sempit itulah saya pernah merasakan hidup sehidup-hidupnya
iya neh inget masih kecil,
lahir di daerah priok sampe pasar aja ada didepan rumah..hahaha
—
Dahsyat itu!
/tyo/
Pertamaaaaax..! heheheh
Seneng buanget aku…!
GS Ast*a Om, Bukan GS Gang-Sempit, heheh
—
Anda dapat hadiah GS. Silakan ambil di bengkel :D
/tyo/
*baca TIP* weh, lalu ngambil gambarnya bagaimana paman?
Jadi ingat rumah saya di Cipulir, depan rumah sudah jadi masuk kategori gang sempit :P
—
Itulah kelebihan kamera saku. :)
/tyo/