Jodoh dan Pengemasan Citra Diri
BELAJAR DARI RUBRIK JODOH.
Foto di pojok kiri atas Kompas Minggu itu rada beda dari biasanya. Bukan karena menghasilkan lukisan (lihat gambar bawah). Ini bukan sekadar pas foto, pun bukan foto pose dengan latar lumut. Memang sejauh saya tahu tak pernah ada foto memonyongkan bibir dengan kepala nèngklèng, warisan gaya Friendster itu. Yang pasti kali ini berbeda.
Soal foto, ah akhirnya biasa sebetulnya. Jejaring sosial membiasakan kita dengan aneka foto diri. Foto dan info yang ditampilkan sesuai selera si empunya profil. Lantas di luar foto apa menariknya?
Dalam kasus rubrik Kontak/Pertemuan Kompas adalah… teks yang generik! Pemerian diri hampir sama. Lihatlah Kata-kata kunci yang akhirnya biasa sehingga tak perlu dibaca: humoris [sic!], sehat jasmani rohani, sabar, jujur, setia, serius, siap nikah.
Saya tak tahu apakah itu ulah editor yang ingin membuat semua orang mirip, dan yang menjadi unikum hanya kode peserta (kelak diganti QR Code), atau karena peserta hanya mengikuti contoh, sehingga kalau diperas tinggal “wanita mencari pria” dan sebaliknya, sesuai esensi rubrik jodoh?
Saya bicara media cetak. Di dalamnya ada proses penyuntingan. Jika itu dipindahkan ke media digital dengan mengikuti kaidah digital, maka semua kata akan mendapatkan tautan yang sangat banyak sehingga kita bingung. Mirip kata “books” dan “jazz” dalam profil diri di Blogspot.
Untuk media digital, kita memang sudah terbiasa dengan pertautan. Pada abad lalu, salah satu yang membiasakan kita adalah Amazon. Preferensi kita terhadap judul, topik, dan pengarang buku, begitu pula terhadap musisi dan genre-nya, akan diikuti oleh pembingkaian konteks minat untuk kemudian dipertautkan dengan produk dan orang lain.
Hmmm… apakah kemudian saya mengharapkan kertas dapat lebih interaktif seperti web? Bukan itu persoalannya. Toh teknologinya sudah dikembangkan — bedakan dengan versi daring sebuah koran. Persoalannya adalah pada isi.
Selama ini sebagian dari kita menganggap hanya internetlah yang mengantar kita kepada kesadaran pengemasan citra diri. Sama seperti kita mengisi profil di Facebook, blog, dan lainnya. Ada nama, foto, dan deskripsi diri.
Padahal ternyata, meski tidak diam-diam, sudah lama masyarakat, dalam hal ini konsumen media, melakukannya dalam rubrik sahabat pena (yang ini sudah arkais) dan jodoh.
Sekarang, ketika media sosial kian membahana, menjadi aneh ketika deskripsi per entri dalam rubrik jodoh hampir seragam. Kekayaan teks seperti dipinggirkan. Padahal dari keleluasaan mengemas pesan kita dapat belajar banyak.
Maka mestinya bisa saja ada foto diri ala caleg bingung yang memakai baju Superman, dengan deskripsi, “Seorang pria gagah gemulai yang selalu bermimpi menggergaji Matahari ingin memperistri juwita yang tak lelah merebus arloji. Syarat: blablabla…”
Juga, “Seorang perempuan penuh hasrat di ujung senja, yang tak lagi disapa rembulan titipan Dewi Kesuburan, tapi masih dambakan kebersamaan dengan pria muda yang penuh keingintahuan akan jelajah asmara…”
Itu misal lho. Tapi kalau mau seaneh dan seasoy itu pun boleh. :D
Oh ya, memang bukan sekali ini saya membahas rubrik jodoh. Konten yang ini menarik karena merupakan ajang konsumen media untuk menyatakan diri dan berinteraksi — serupa iklan baris tetapi berbeda tujuan.

22 Responses to Jodoh dan Pengemasan Citra Diri
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Setelah Dibuka February 11, 2012Oh kepiting asap. Sedap sekali. Kalau kepiting Asep mah bikinan si mamang. Nama kedai sari laut mengingatkan kepada kolesterol: HDL. Permalink | Leave a comment » […]postyorous menerous »»»
- Setelah Dibuka February 11, 2012
Cicitcuit!- waaa ada @PamanTyo di #JMR2012 http://t.co/shFojsWC http://t.co/RhkskxFC February 10, 2012 enricoha (enrico halim)
- mestinya sebagai menkes ya fontal sama rokok. aspek ekonomis itu urusannya menteri perindustrian. ~ @PamanTyo February 10, 2012 cho_ro (Pernah Move On)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Bicara tentang Pensiunan
December 1, 2006 by Antyo… DAN CALON PENSIUNAN PUN BICARA.
Dia datang naik sepeda, bertandang ke rumah saya. Kebetulan hari ini saya sedang semadi (menurut istilah Andry). Lalu kami pun untuk pertama kalinya kami ngobrol secara panjang-lebar-tinggi (hasil perkalian menjadi volume).
Dia butuh didengar. Butuh bercerita. Butuh diskusi. Saya menjadi tuan rumah yang baik, tapi lama-lama [...]
Recent Comments
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





yak, di kolom jodoh semua orang mirip pak. pasti cari pria atau wanita dengan usia bla-bla-bla.. Kenapa ngga ada yang bisa kasi pesan yg otentik gitu, pasti makin banyak yg naksir jadinya..
asik menggelitik baca kolom jodoh..
Uncle, jadi ingat umur…..
Kapan ya bisa neng nong neng gong.
hik….hik….
—
Oh ya? ;)
/tyo/
Apakah setiap orang itu memiliki jodohnya masing masing?
—
Konon begitu. :)
/tyo/
jodoh itu di tangan Tuhan. Aha, betapa susahnya. Namun karena Tuhan Maha Pemurah, tinggal minta aja, entar juga dikasih, tentu bergantung kedekatannya. He..he..
—
Marilah :)
/tyo/
“Seorang perempuan penuh hasrat di ujung senja, yang tak lagi disapa rembulan titipan Dewi Kesuburan, tapi masih dambakan kebersamaan dengan pria muda yang penuh keingintahuan akan jelajah asmara…”
bahasanya lucu2 jijay xD
—
Oh maaf kalo bikin jijay :D. Tapi asoy kan? ;)
/tyo/
wah.. ada pojok yang unik untuk di cermati… biro jodoh..??? hehehe…
aq sendiri jg blm dapat jodoh.. eh jangan2 blog sampeyan bisa jadi biro jodoh.. hayo…saya umur 29 tahun laki2 . guru…penghasilan 3 jutaan.. tp di tengah hutan…hahaha
—
Oh romantis sekali. Di tengah hutan, bulan purnama :D
/tyo/
mmm.. koment apa ya?? Soale Aq sendiri blum ketemu jodoh.. heheh…Tapi kalau hanya Foto + blabla,,, Ahlaknya???
Salam paman.
—
Akhlak? Siapa bisa menebak? Bahkan setelah hidup bersama pun kadang baru katahuan kan? Misalnya ternyata dia sering korupsi. :)
/tyo/
paman, kl di rubrik jodoh kompas, yg menarik hati utk memperhatikan adl yg khusus pajang foto. dlm pemikiran saya, mustinya itu bayar lbh mahal drpd yg cuma teks ya?
tp masaoloh…. liat foto2nya itu mengenaskan…
bukan bermaksud kasar, tp itu kan namanya rubrik jodoh. ya tau lah kl pasang data diri disitu utk apa. lha kok pasang foto yg (misalnya) sekedar pas foto.. kadang malah ada yg burem… haduuhhhh cantiknya ga keliatan blas,….
gimana mo ‘jual diri’ (bukannya melamar kerjaan pun jual diri, hingga pas foto pun juga pake dasi+jas)
—
Mestinya Mbak Psikoclox kasih advis gratis :D
/tyo/
gitu, paman :D
Rubrik kontak jodoh nampaknya adalah topik yang paling sering diangkat oleh Paman Tyo di blognya yang tersebar banyak itu :D
—
Lihat paragraf penutup :D
/tyo/
Lha kalau kemasan panjang lebar gitu, biayanya lebih mahal Paman..lha kan iklan baris dihitung per barisnya. Jadi, mesti singkat dan padat.
Btw, jejaring sosial banyak kok iklan itu masih laku ya…perlu penelitian, berapa yang berhasil ketemu idolanya dan sampai ke pelaminan. Berapa persenkah?
—
Mungkin sudah ada yang meneliti, misalnya untuk skripsi. Saya dengar sih ada, Bu.
/tyo/
wah ya kalo pengemasannya indah begitu, ndoro kakung mesti laku jadi editor rubrik jodoh.
*OOT: waahhh keycode-nya matriphe :))*
—
Setuju. :D
/tyo/
ini bursa jodoh ?
eh
—
Bursa?
/tyo/
Hayo pilih mana: kontak jodoh di koran apa “take me out” di tv?
Bravo blogombal, my inspiration!
—
Gak tau pilih yang mana. :D
/tyo/
Ibaratnya… jualan koq promosinya seragam ya, Paman? Mestinya khan kreatif hehehe….
—
Ya itulah maka…
/tyo/
Kata kuncinya kebanyakan sama, baik, setia, jujur, tanggung jawab, perhatian, sehat jasmani dan rohani dan bla-bla-bla. Tapi nggak ada yang bilang “Siap menerima jodoh apa adanya”…
—
Yang semacam itu ada kok. Menerima apa adanya. Berarti deskripsi gak perlu ya? :)
/tyo/
Aku seneng foto terakhir, sampeyan ini kok mahir banget cari angle dan ide. Dua halaman sekaligus dengan berita berbeda dan tetap artistik. *menjura lagi*
—
Suwun, Hed. :)
/tyo/
hehe…lucu jg ya rubrik jodohnya.ntar aq baca2 jg ah. :-P
—
Lucu? Wohhh :)
/tyo/
apakah oom paman pernah membuka situs-situs perjodohan? di sana ada apa saja? apa ada bedanya dengan yang di media cetak?
—
Yang online itu, masing-masing pakai foto. :)
/tyo/
Yang paling berat dari konsekuensi mencari jodoh lewat iklan semacam itu kalau udah menemukan satu kalimat “siap menerima aku apa adanya”
Modyarrr.. angel tenan nek kuwi :)
—
Bukannya justru gampang? Simpel? :D
/tyo/
Bacaannya paman ini lak mesti lucu2, hehe :D
—
Lucu? Lho itu rubrik serius je, bukan rubrik humor :P
/tyo/
Jodoh menjodohkan bukan perkara enteng. Itu bagi semua orang, baik yg menyakralkan perkawinan atau tidak. Atau malah sebagai formalitas saya pernah mengiklankan diri namun tak berhasil demi “alibi”.
Ketika surat kabar masih memuat perkara ini, menandakan surat kabar masih bicara kehidupan pribadi. Pekerjaan pro bono. Niatnya baik. Kalau harus menggunakan kosa kata ciamik dan asoy, penuh gelora kata yang unik dan dimuliakan maka akan menjadi besar pasak daripada tiang, dari sisi mothik maupun waktu.
Maka seperlunya saja toh sudah cukup membantu. Tak perlu seragam namun jangan juga malah menyusahkan. :)
—
Setuju. Jodoh apalagi perkawinan memang gak gampang. Lebih gampang kencan :D
/tyo/