Trongtongtong Bajaj
ANTARA SUKA DAN TAK SUKA: KITA MENGGUNAKANNYA.

Suara bajaj non-BBG memang mengganggu. Bising. Membuat kita urung-uringan saat menelepon karena trongtongtongnya menginterupsi pembicaraan — padahal kita tidak sedang naik bajaj. Sialnya kita saja, kenapa sepuluh tahun lalu kurang kreatif dan kurang melek pemasaran sehingga tidak menjual suara bocah Jakarta menirukan bajaj sebagai nada dering.
Bajaj bising adalah jenis kendaraan pengangkut yang suaranya menghalangi kita untuk ngobrol dengan sopir. Misalkan sopir dan penumpang sama-sama menggunakan spiker monitor maka hasilnya adalah kebisingan berlipat.
Barangkali selain pengukur emisi, yang perlu diterapkan pada bajaj adalah pengukur desibel. Ah, itu berlebihan. Nyatanya saya suka bajaj, selain ojek. Terutama untuk jarak dekat.
Ojek masih di atas bajaj untuk dua hal. Pertama: sepanjang mulut dan tengkuk si Bang Jack tidak bau, dan kebisingan sekitar rendah, lagi pula dia tidak ngebut, maka dia bisa diajak bicara. Kedua: daya jelajah ojek melebihi bajaj — hanya kelelahan dan akal sehat (baca: keterpaksaan) penumpang maupun pengemudi yang menjadi batas.

Dengan sopir taksi, bahkan dengan sopir Mikrolet kalau kita duduk di depan, kita bisa memperoleh cerita. Dari sopir bajaj? Sama-sama berteriak pun tak saling mendengar. Tepukan penumpang ke punggung sopir seringkali menjadi saklar lampu sein (yang tak pernah menyala) bahkan pedal rem. Sesuai tempolah. Agak mirip sais dokar mengendalikan kuda.
Maka sejauh saya tahu, di blog dan lainnya jarang ada cerita obrolan dengan sopir bajaj. Dari yang jarang itu salah satunya ada di Ngerumpi, dengan adegan penumpang terluka karena melompat keluar selagi bajaj berjalan.
Daya jelajah bajaj itu terbatas, bahkan di wilayah edarnya sendiri. Pembatasnya adalah rambu larangan pada jalan tertentu untuk kendaraan beroda tiga.
Maka seorang sopir bajaj, suatu malam pekan lalu, kebingungan ketika saya minta mengantar dari Langsat ke Santa. Selama sepuluh tahunan membajaj, dia hanya tahu Mayestik, Mahakam, Barito, Kramatpela, Gandaria, Pondok Indah.
Di luar itu, meskipun masih di Selatan, adalah serupa terra incognita. Tapi dia tetap tahu daerah lain karena hapal rute Metromini dan Kopaja — hanya rutenya, menurut papan rute dan tuturan orang terutama teriakan kondektur.
“Set dah, ini di mana Pak? Ngarah ke Blok S, yak? Emang Blok S di mana?” teriaknya saat dia masuk ke jalan gelap di belakang Mabes Polri. Selama perjalanan kami saling berteriak.

Naik bajaj juga merepotkan dalam pemotretan, terutama pada malam hari. Getaran dan guncangannya kurang bersahabat dengan kamera saku biasa. Apalagi bajaj yang saya naiki tak berlampu: tiba-tiba bisa melompat karena gundukan dan oleng karena jeglongan. Saat rana membuka hasilnya adalah garis cahaya zig-zag.
Berapa jumlah bajaj di Jakarta? Yang ada hanya taksiran. Sekitar 14.500. Seorang cucu-menantu juragan bajaj pernah bercerita kepada saya bahwa bajaj tetap diproduksi jika ada pesanan. Secara diam-diam. Di bengkel khusus.
Itulah bajaj bodong. Semacam produk haram, tanpa faktur pabrik dan BPKB selayaknya mobil dan sepeda motor. Tapi saat musim mudik Lebaran, bajaj bisa menjadi angkutan antarkota antarprovinsi (Lihat: “Bajaj Pasti Belagu“).
Hatta, berkatalah Tuan Prya Ramadhani, anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta:
“Bagaimana dengan bajaj yang dicurigai banyak bajaj bodong dan sejak tahu 1998 izinnya tak keluar lagi? Ini perlu dilakukan low inforcement [sic!]. Penertiban di jalan itu perlu.” (Angkutan Tua Dipelihara Oknum)
Adapun Tuan Lulung Lunggana, Wakil Ketua DPRD DKI, pernah berujar:
“Tidak menyusutnya jumlah bajaj diduga karena adanya perakitan bajaj baru. Ini yang perlu dilacak dan diusut…” (DKI Diminta Serius Tertibkan Bajaj)
Biarlah itu menjadi urusan para tuan. Termasuk mendatangkan 2.000-an bajaj baru dari India, negeri penghasil Bajaj. Bajaj dalam pelafalan ba-jay terus berlalu.
“Kagak ngatri urusan gituan, mau pake bajaj gas ato kagak, itu urusan juragan. Yang penting setoran aman,” kata sopir bajaj ketika saya mau turun. Tetap berteriak karena mesin tetap menyala.
Jangan tanyakan kenapa bajaj tak sediakan kotak P3K, terutama Tensoplast atau Handiplast, padahal penumpang sering terluka oleh pintu dan sambungan las yang kasar.
Jika Anda pria tak hanya dikira manja tapi juga kurang macho kenapa mudah terluka. Tungkai panjang itu salah sendiri, jangan salahkan desain interior.

23 Responses to Trongtongtong Bajaj
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Dering Telepon Landline February 10, 2012Suatu hari fixed-line kantor berdering berkali-kali. Mirip kantor betulan! Binis adalah krang-kring. Seperti dalam film lama. Tetapi kini orang kantoran makin sering berponsel. Langsung ke tujuan. Tarif lebih murah. Di rumah pun telepon kabel tak seaktif dulu. Selain untuk memesan gas dan air galonan, telepon untuk interlokal. Mungkin semakin jarang keluarga […]antyo
- Dering Telepon Landline February 10, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Jadi social smoker itu karena gak ada obat mati gaya. masalahnya dari social smoker ke pecandu itu tinggal selangkah ~ @pamanTyo February 10, 2012 glennypy6 (Glenny Jonathan)
- RT @cho_ro: Jadi social smoker itu karena gak ada obat mati gaya. masalahnya dari social smoker ke pecandu itu tinggal selangkah ~ @pamanTyo February 10, 2012 hollowayzr4 (Holloway Wharton)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Gajinya sih Tiga Koma…
December 13, 2006 by AntyoADA CARA KUNO AGAR KARYAWAN TENANG.
Gaji tiga koma sekian itu artinya gajiannya tanggal 28, tapi begitu memasuki tanggal tiga bulan berikutnya kas si penerima gaji sudah koma.
Pagi ini saya menemukan renungan di Jalan Sunyi. Soal utang dan kerelaan kita.
Tadi malam saya ditelepon petugas bank. Dia menawarkan pinjaman “berbunga kompetitif”. [...]
Recent Comments
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





pertama kali naik bajaj dulu pas smp.. Dari cikini ke IKJ.. Turun bajay seneng banget, tapi kaki masih bergetar sampe beberapa menit dan kuping masih ‘budeg’ sampe sepuluh menit..
emang udah kodratnya bajay, selain karena efek trongtong juga cuma buat tujuan jarak-dekat jadi gak ada kesempatan/kesempitan ngobrol…
—
selain itu juga bising kok, sulit buat ngobrol :)
/tyo/
[OOT] ngakak baca ada anggota DPRD yang bilang low inforcement :D *itu bener tha paman*
selain metromini, bajaj adalah kendaran paling menangan se-Jakarta!
—
Beli bajaj saja, Lé! :D
/tyo/
Hampir lupa mau nimbrung apa, wong beruntung dapat KeyCode nama sendiri.
Untung saya masih ngalami naik helicak, rute gambir-petojo atau petojo-pasar baru. Saya kecil bisa berlagak nyupir di depan.
*leh… kalo nabrak ya penumpang duluan ya?? -baru terpikir.
—
Helicak! Berbahagilah yang pernah naik heli ini! :D
/tyo/
Wakakak… Mau numpang senyum ah paman.. Soale sy g knal yg namanya bajaj slain bajaj bajuri… Maklum tinggalnya dikampung, meskipun ke Jakarta paling lama 3-4 hari n taunya hanya di jemput n antar sj.. yg jlas sy sangat terhibur dengar tulisan ini..
—-
Sayang gak semua sopir sekonyol dan sejenaka Bajuri :)
/tyo/
dulu masa saya bersekolah di sekitaran Barito – Blok B bemo jadi andalan saya …wondering apa msh ada bemo di JKT :)
*maap OOT paman* :)
—
Bemo masih ada di Bendungan Hilir. :)
/tyo/
inilah kendaraan dewa, karena alasan yang ada pada komentar Ina hehehehe
—
Kendaraan dewa! :D
/tyo/
hanya Tuhan dan supir bajaj yang tahu kapan akan berbelok ataupun berhenti. Tapi suara dan getarannya itu nga nahan, paman.:)
*kangen naik bajaj ke langsat*
—
Halo! Kangen getaran dan guncangan bajaj kan? :) Apa kabar?
/tyo/
Ojo ngenyek lho paman….ini kendaraan langgananku, jika jalur yang ditempuh pendek, dan untuk mengatasi kemacetan. Bukankah yang tahu tanda bajaj mau belok atau terus hanya pak Bajaj dan Tuhan?
Gara-gara nggak bisa nyopir…tiap ke kantor (yang cuma dua kali seminggu, kadang tiap hari jika akan ada workshop)….saya pergi naik taksi..pulangnya nebeng kendaraan bos (Mercy) sampai depan pasar Mayestik. Dari sini naik BMW (bajaj merah warnanya)..karena bisa masuk2 lewat jalan kecil di belakang pasar blog A, yang tahu2 bisa muncul dekat pasar Mede..
Kalau ada, enakan naik Kancil, ini lebih nyaman. Pernah naik taksi…waduhh macet banget, jika jam macet dari Mayestik ke Cilandak, naik taksi makan waktu 1,5 s/d 2 jam…padahal naik bajaj nggak sampai satu jam.
Tapi kawatir juga kalau lama-lama kuping bisa budeg ya…:((
—
Lho saya ndak ngenyèk lho, Bu. :) Tapi bener, bajaj 2 tak non-BBG ini bisa merusak pendengaran.
/tyo/
Mungkin biar aman… perlu dibikin lajur khusus Bajaj… model busway gitu juga….
—
Waduh, jalanan kian sempit saja. Biarlah bajaj untuk angkutan lingkungan. :)
/tyo/
sepertinya menarik naik bajaj. :-)
—
Cobalah :)
/tyo/
@Hedi : dengan warna ngejreng dan suara merdu gitu gimana mau ketabrak? Dari jarak 1 km keberadaannya sudah bisa dirasakan
–
Satu kilometer? Woh! :D
/tyo/
Tapi buat yang lagi dimabuk cinta asyik lho naik bajaj. Bisa mojok berdua sambil menikmati guncangannya :D
—
Kalo lagi mabuk cinta, naik kendaraan apapun mengasyikkan :D
/tyo/
Sekali naik bajaj. Jarak dekat. Lumayan, daripa jalan kaki dengan menggeret kopor. Ya, saya pun tak sempat ngobrol. Anehnya, pas nanya ongkos, si supir menukas lekas, “Terserah, Bapak!” Alamak!
—
Bagus ini, tanpa tawar-menawar. :D Tapi kita gak boleh kebangetan nentuin harga. :))
/tyo/
Bajaj satu-satunya kendaraan yang jago memotong jalur dan …uniknya, sangat jarang celaka! :D
—
Pengguna jalan menoleransi :D
/tyo/
bayangkan, di kota metropolitan macam Jakarta, kok moda transportasinya malah Bajaj yang reyot? Saya bingung. Ah, sepertinya hanya Tuhan yang tahu. :)
—
Hmmm… metropolitan! :D
/tyo/
naik bajaj itu seru paman, getarannya samapai ke tulang sumsum. (pinjem istilah warkop DKI) :D
—
Wuihhhh…
/tyo/
Hanya Tuhan dan sopir yang tahu kapan bajaj akan belok, soalnya kebanyakan sudah nggak ada lampu sign-nya. Hati-hati berkendara di belakang bajaj man paman, selain polusi kadang beloknya tak terduga.
—
Memang. :D
/tyo/
Bajaj bikin tremor…
Bergetar.. konon tak baik untuk peranakan lho, Paman :)
—
Begitulah. :) Di Ostrali ndak ada to?
/tyo/
Paling apes naik motor lagi macet kebagian tempat di belakang bajay.
—
Begitu ada celah langsung dia masukin, dan sesak. Motor di belakang pun terhalang. :D
/tyo/
Saya seumur hidup belum pernah naik bajaj. (suwer)
Di Magelang gak ada Bajaj…
—
Kalo ke Jakarta cobalah :)
/tyo/
Bajaj PERTAMAX! (masih usum gak)
*ipoulwedhus – keyword*
–
Bajaj pakai bensin campur oli, bukan pertamax. :D
*kriuks*