Libur dan Pengenalan akan Rumah
TERMINAL TETAP ITU BERISI KELUARGA.

Misalkan genting tak bocor, engsel pintu tak terlepas, apakah hari libur menjadi alasan bagi Anda untuk lebih mengenal rumah sendiri? Rumah. Ya, rumah. Bangunan tempat kita tinggal — dan mungkin beranak pinak.
Saya sendiri malu menjawab itu.
Rata-rata dalam sehari berapa jamkah Anda berada di rumah?
Maksud saya di luar delapan jam untuk tidur. Delapan jam: sepertiga dari hidup kita.
Sudah lama saya hanya membatin, bahkan sampai siang tadi, ketika melewati mansions dengan banyak ruang di Jakarta: megah, terawat, tertutup, senyap. Mungkin anak-anaknya sudah bersekolah di luar negeri.
Atau kalaupun masih di dalam negeri, anak-anak itu sibuk, dan di rumah semuanya sudah tersedia, tak ada alasan untuk keluar. Yang ada di luar rumah, tapi masih dalam halaman sendiri, adalah kolam renang. Itu seperti warga rumah tempat saya dulu pernah bertamu: pasangan dengan tiga anak remaja dan sekitar 35 anggota staf rumah tangga (pembantu, sopir, satpam), sehingga merepotkan nyonya rumah pada akhir bulan dalam mengatur pembagian gaji (waktu itu masih tunai) untuk para penggawa itu.
Ah, kita bicara dunia kita saja. Sekecil atau sebesar apapun rumah kita, apakah kita betul-betul mengenal dan menikmati?
Jika bicara menikmati, kita bisa mengatakan “ya”, dengan tambahan: “rumahku surgaku”. Tapi mengenali hingga ke sudut-sudutnya? Semoga kita ada waktu.
Ada waktu untuk menginjakkan kaki ke semua sudut, semua ruang. Masuk ke gudang bukan hanya saat mencari radio rusak untuk diambil spikernya. Masuk ke kamar anak-anak, tepatnya membuka pintu, bukan untuk sekadar memastikan apakah mereka sudah tidur. Melewati pintu samping meskipun tak ada alasan karena yang memasukkan tabung gas dan galon air kemasan adalah utusan penjual.
Ya, ya, ya. Baiklah kita bisa bilang tak punya waktu. Tak mungkin saban hari menginjakkan kaki di wilayah yang saya contohkan tadi. Kita tiba rumah hanya untuk mandi, tidur, mandi, lalu pergi lagi sebagai sebuah siklus sampai tak sadar perbedaan fajar bulan Mei dan November.
Hari libur? Kadang ada waktu untuk membaca sambil menikmati musik, atau sekadar duduk diam di ruang tamu yang jarang didatangi tamu (konon orang Jakarta jarang menerima tamu!). Tapi hanya sebentar kan? Lalu kita pergi memanfaatkan hari libur, atas nama desakan anak-anak. Ke mal. Ke luar kota. Atau tempat lain.
Anak-anak? Saya tak tahu, apakah anak-anak sekarang yang kurikulumnya berat, ditambahi aneka les dan kursus, juga mengenali rumahnya dengan baik. Apalagi jika rumahnya besar.
Dulu, sudah lama sekali, ketika menonton Dead Poets Society, Toy Soldiers dan Home Alone saya terkesan oleh satu hal: anak-anak di mana pun lebih mengenal rumah dan asramanya ketimbang orang dewasa.
Mereka tahu tempat-tempat rahasia. Mereka tahu jalan rahasia. Sama seperti saya waktu bocah tahu cara naik ke atap garasi tanpa tangga. Serupa saya dan adik saya menikmati waktu pribadi di atas pohon gandaria tanpa terlihat dari bawah. Serupa teman saya mengajak saya ke langit-langit bangunan belakang rumahnya untuk menceritakan intipan terhadap (maaf) threesome ayahnya dengan dua wanita tetangga selagi ibunya pergi — cerita yang membingungkan untuk anak sembilan tahun. Serupa saya dan teman mendapatkan tempat kering nyaman di tengah gorong-gorong yang melintang di bawah jalan raya lalu kami bertukar khayalan setelah dewasa ingin jadi apa.
Anak-anak lebih mengenali lingkungan kecilnya. Mereka punya waktu. Mereka punya rasa ingin tahu.
Kini jika anak-anak tak ada sisa waktu untuk beranjak dari ponsel, komputer, video game consoles, dan buku, apalagi ruangnya sejuk ber-AC, masih adakah peluang bagi mereka untuk mengenali rumahnya?
Jika anak-anak tak mengenalinya apalagi kita, orang-orang dewasa. Lalu kita menyalahkan waktu dan kesibukan. Bahkan kemudian kita tak dapat mengapreasiasi hiasan rumah yang kita beli, kita pajang, padahal untuk mendapatkannya harus berjuang.
Akhirnya kita agak tersinggung sekaligus malu jika disebut memperlakukan rumah selayaknya terminal: tempat singgah di antara datang dan pergi. Tempat singgah tetap. Dengan orang-orang yang itu-itu juga, yang kita kenal dengan baik, bahkan sepanjang hayat.
Selamat menikmati akhir pekan panjang.
22 Responses to Libur dan Pengenalan akan Rumah
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Setelah Dibuka February 11, 2012Oh kepiting asap. Sedap sekali. Kalau kepiting Asep mah bikinan si mamang. Nama kedai sari laut mengingatkan kepada kolesterol: HDL. Permalink | Leave a comment » […]postyorous menerous »»»
- Setelah Dibuka February 11, 2012
Cicitcuit!- waaa ada @PamanTyo di #JMR2012 http://t.co/shFojsWC http://t.co/RhkskxFC February 10, 2012 enricoha (enrico halim)
- mestinya sebagai menkes ya fontal sama rokok. aspek ekonomis itu urusannya menteri perindustrian. ~ @PamanTyo February 10, 2012 cho_ro (Pernah Move On)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Rok Mini, Tubuh Dicat, dan Tiban
September 12, 2006 by AntyoBOM DAN BOM DALAM PAMERAN KOMPUTER.
Diam manis. Dikepung pagar kayu yang mudah roboh. Tak menolak belaian siapa pun. Namanya Tiban. Mengapa namanya Tiban? Bintara polisi Sutrisno, pawangnya dari “Ka-sembilan” (begitu dia menyebut korpsnya), hanya tersenyum.
Tiban, gukguk anggota K-9 Squad, adalah pengendus handak. Bukan pengendus narkoba. Bukan alat untuk membubarkan [...]
Recent Comments
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





point nya threesome ya…he..he..
jadi kangen rumah.. anak rantau lagi kuliah di kota orang.. pengen pulang..
jadi inget masa kecil suka manjat pohon mangga depan rumah dan menyembunyikan barang2 terlarang di balik genteng rumah, tapi tetep ketauan bapak :P
Trnyta paman wkt kcil jga “pecicilan”..mengingtkn msa kcilku jg.
Berimajinasi brsama rumh,wkt kcil emg menyngkn.
—
Ah saya dulu alim dan manis, kok. :D
/tyo/
Hari minggu kebanyakan orang pasti dipake buat istirahat dirumah ato liburan.. tapi ga smua orang kayak gitu ada juga orang yang tetep melakukan aktivitas kerja walau hr libur
—
Yeah, kerja di hari libur kadang bukan pilhan sih :)
/tyo/
Kalau tidak pas hari Minggu yang terkenal akan liburnya itu, maka saya tidak pernah tahu kalu lampu mati bisa diakibatkan oleh sekring yang terputus. Sekring yang terputus itu sendiri bisa disambung lagi pakai kabel bekas yang entah harus membongkar apa untuk mendapatkannya.
—
Panggil tukang atau kontak PLN saja. :)
/tyo/
rumah akan terasa nyaman dimana dalam rumah ada orang yang menunggu saya pulang kerja dengan senyuman, menyediakan segelas teh panas, dan mengambilkan handuk untuk mandi,,,nyaman atau tidak nyaman tergantung perilaku penghuni rumah kepada kita, bukan seberapa megah dan besar sebuah rumah, seperti yang saya rasakan
—
Romantis sekali. Home sweet home :)
/tyo/
saya malah sebgaian besar waktu dihabiskan di rumah paman…justru kalau waktu libur nasional atau sabtu minggu malah keluar rumah :D
kadang tempat yang disebut rumah belum bisa menjadi tempat dimana kita pulang. mungkin memang sekedar terminal … gitu X ya … pamaaaan …
—
mungkin, eh iya. :D
/tyo/
Wah iya Paman… saya jadi kangen masa2 masih kecil waktu tinggal sama orang tua dulu….kalo sekarang ini bener kt paman, cuma jadi tempat numpang tidur/mandi aja setelah pulang kantor atau pulang keluyuran subuh. Ngerasa betah di rumah cuma kalo pas kepaksa karena duit ngepas aja heheheh….
Selamat hari libur Paman….
—
Kalo duit ngepas ngapain? Tidur di depan TV? :D
/tyo/
Oleh karenanya lantas banyak orang2 sini berpikir beli satu apartment aja, toh cuma numpang tidur di kala malam ;)
—
Yeahhhhh…
/tyo/
Rumahku istanaku paman…
Walau rumah kecil tapi rasanya senang banget di rumah..malah saya berpikir kemana ya tahun2 yang hilang itu? Rasanya tubuh ini habis dimakan usia selama kerja di kantor pergi pagi pulang malam, nyaris tak ketemu sinar matahri selain hari libur.
Sekarang enak banget paman..sering leyeh2…sambil baca buku..tapi nggak kuat untuk gerayangan naik ke tangga atap di atas..lha kalau jatuh anak-anak udah jauh semua.
—
Jangan manjat-manjat Bu. Manggil tukang, dijamin beres :)
/tyo/
*ngakak* keyCode comment- nya “matriphe” .. :D
Disaat masih sibuk berkarya untuk menghidupi anak2 tentunya, benar apa yang diungkapkan.., sekejap dirumah lalu ditinggal lagi.. tapi setelah punya waktu begini.. semua dirambah.. dirapihkan, dibersihkan, diperbaiki, prioritas diutamakan.. ini dulu.. yang itu nanti.. enjoy juga kawan.. sambil kita mengetahui.. ooh.. kita tuh punya apa aja ya.., dibalik itu semua.. sedih juga sih.. anak dan cucu ada diseberang.. dan juga selesaikan kuliah.. sepi… walau kapan pun bisa candai cucunya kakak.. karena kita tinggal satu pagar.. ada 4 rumah.. met menulis lagi kawan..
—
Betul, Bu. Setelah kesibukan berkurang, dan mobilitas surut, kegiatan di rumah pasti menyenangkan. :)
/tyo/
mengimbas kembali masa kecil selalu menyenangkan. Dulu, orang tua kami tak perlu mengajak berpelesir, karena setiap hari kami bermain di sungai, bukit dan sawah.
—-
Wah keren sekali, Kang!
/tyo/
tulisannya menarik paman, memberi dorongan untuk tersenyum di akhir pekan (panjang)
danke..
—
Memang keycode-nya apa? :D
/tyo/
*keycode: you know who :D
Mau diam di rumah sekarang ini…mahal, kelamaan di jalan. Akhirnya di rumah cuma numpang istirahat, jadi wagu sama anggota keluarga :D
—
Mereka merasa si Hedi jadi wagu gak? :D
/tyo/
Pakdhe, kalo rumanya banyak ngenalinnya gemana?.
—
Rumah banyak? Yang penting pemasukan dari kontrakan lancar! :D
/tyo/
selamat berlibur paman, sepertinya postingan besok ttg tambal menambal genteng :D
—
Betul sekali Dik Joko! Mau bantu? :D
/tyo/
hehe..takjub mendengar Bang Paman pernah masuk ke gorong-gorong :D
“home sweet home”, Bang Paman, tapi kadang sulit sekali memelihara rasa ketertarikan dan ingin tahu seperti anak2 terhadap hal2 yang telanjur “taken for granted”.
—
Iya, dulu gorong2 yang saya masuki itu “bersih”. Kering gitu. Masuknya dari tebing jurang :D
/tyo/
Saya ngga pake desktop, tapi kok lebih nyaman ya untuk membaca blog paman? :)
Tempat rahasia, jalan rahasia… Jadi teringat ketika kecil dahulu. Mendirikan tenda di halaman samping bersama kakak. Ah seru sekali
—-
Terima kasih sudah baca karena undangan di Twitter. :)
Ayo kenali lagi jalan rahasia itu. :)
/tyo/
wah ada threesome ya?pasti menarik tuh keknya.haha…
*mau coba jg ah. :-P
—
Nyoba?
/tyo/