Benteng di Tengah Kota
KOTA BERADAB: SEBUAH CITA-CITA BERSAMA.
Setiap kali melihat iklan kompleks hunian berbenteng ala Tembok Besar Tiongkok di Kemayoran, Jakarta Pusat, saya merenung: ada yang tak beres dalam kehidupan berkota kita. Sabar, jangan berprasangka dulu. Juga sabar, gambar dalam iklan belum tentu mewakili kenyataan.
Tak ada sentimen rasial dalam tulisan ini. Saya pun tidak anti-orang-kaya. Saya juga tidak antiprivasi. Saya paham bahwa setiap orang menginginkan wilayah hunian yang segar, nyaman, dan aman — apapun bentuknya. Saya pun mendambakannya.
Rumah adalah wilayah privat tempat setiap orang menjadi raja di rumahnya sendiri. Apapun yang dilakukan penghuni di rumahnya sendiri, sepanjang tak merugikan orang lain, adalah hak asasi. Itu harus dihormati dan dipertahankan.
Tapi ketika peradaban hari ini memperkenalkan sebuah benteng fisik yang arkais maka saya pun merenung. Ya, benteng fisik yang melindungi sebuah enklav di tengah keriuhan dan kesemrawutan desa besar Jakarta yang merasa sebagai megalopolitan. Benteng fisik yang seperti meledek kehidupan bersama, karena sebenarnya arsitektur bisa menghadirkan benteng serupa tanpa harus tampil secara wadag, tanpa harus hadir dan nyata secara fisik.
Kerimbunan hutan kota, pagar tinggi tembus pandang, satpam dan jaringan sistem keamanan, sudah membuat jarak yang sopan. Orang di luar diminta tahu diri. Batas tanpa benteng sudah diterapkan oleh beberapa mal yang sekaligus apartemen, minimal dari arah yang menghadap ke jalan raya. Orang-orang akan saling tahu diri. Sama seperti ketika kita tanpa alasan, dan sedang terkemas kurang meyakinkan, berada di depan showroom Porsche yang serbakaca: kita tahu diri, enggan untuk sekadar melihat-lihat mobil itu dari dekat.

Segregasi bisa dibuat lebih santun sebetulnya, sehingga seolah-olah alami secara sosial, padahal merupakan hasil penerapan konsep pemasaran dan (tentu) rancangan arsitektural. Melakukan segregasi dengan membangun benteng sejak dalam cetak biru seolah-olah tak percaya kepada proses sosial.
Namun kita juga harus mengakui, gagasan benteng itu tidak tiba-tiba datang dari wangsit selagi mimpi maupun saat semadi melihat selembar daun jatuh. Saya menduga itu adalah bentuk respon terhadap masalah sosial. Misalnya: Jakarta memang tidak aman, hukum tidak ditegakkan, dan kesenjangan bisa dimanfaatkan atas nama apapun dan kapanpun untuk tujuan jangka pendek yang mengabaikan kepatutan bahkan moralitas.

Jangan keburu menyalahkan pengembang, perancang, apalagi penghuninya. Kota yang beradab adalah ruang besar yang nyaman untuk setiap warga, apapun kesejahteraan dan latar belakang masing-masing orang.
Kota beradab membuat setiap orang nyaman membuka pintu dan melongokkan kepala untuk melihat ke luar. Termasuk melihat rumah orang lain dari kejauhan.
Jika membuka pintu saja sudah membuat was-was, berarti ada yang tak beres. Apalagi jika dalam situasi tertentu yang was-was itu adalah warga yang secara ekonomis lebih kuat, sekaligus tampak berbeda dalam hal tertentu, tetapi seperti (selalu) dipersalahkan.
Jika benteng bertambah dan bertambah lagi maka para tuan penguasa kota mestinya merenung: ada yang gagal dalam pengelolaan kehidupan bersama. Kota yang beradab tak banyak sekat fisik untuk halaman, apalagi yang tebal dan pejal, padahal masih dalam satu pertetanggaan berisi blok gedung tinggi.
Kota yang beradab tak mencurigai warganya, dan tak membiarkan warganya saling mencurigai.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Bush Yet!
November 19, 2006 by AntyoKENAPA TAK DI JAKARTA ATAU BALI SAJA?
Akhirnya saya tak tahan juga untuk diam. Itu lho, soal kedatangan Presiden Bush yang bikin kita repot. Saya lihat masalah ada pada SBY.
Soal hubungan bilateral, soal jadi tuan rumah yang baik, soal ini dan itu, okelah saya mau memahami. Setidaknya mencoba memahami. Begitu pula dengan resistensi di [...]
Recent Comments
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)






sepertinya negeri ini sudah tidak lagi aman, atau memang penghuninya bukan orang negeri ini, atau paling tidak gaya mereka bukan pribumi. Lihatlah kekampungku, tak harus ada tembok atau pagar halaman
—
Ini bukan sial “pribumi” atau bukan. Karena di tempat lain orang bisa berbaur tanpa pandang asal-usul kan?
/tyo/
Jadi ingat wkt Kuliah dl,Sy tinggal di rumah BTN Type 36 yg penghuninya pdh tgs di prop lain. jadilah kami ber3 tinggal di rumah itu.suatu mlm ada pencuri yg diburu warga larinya masuk di rumah lwt pintu samping keluar pintu blakang(numpang lwt.ternyt bru tau klw teman 2 org yg plg nnton dirmh tetangga(g Pux TV) saling berharap kunci pintu eh ternyata ditu2p pun engga..Dan lg kami g sdr klw Kdtngan maling..Wakakak..(skrg Kuliah lg,Dkost-an g ada TV jg).
Eh.btw, paman suka kepiting? jln2 kekampungku ya Paman.. Kab. Bone..
—
Kepiting Bone? Kapan-kapan saya coba kalau berkesempatan ke sana. :)
/tyo/
saya mau beli rumah di situ. kira-kira berapa harganya?
*bakar duit*
—
Ambil saja Zam. Orang kaya gak peduli harga — konon begitu. :D
/tyo/
Sungguh tulisan yang opini yang jujur dan keren. Saya rikuh. Kalau saya berkomentar A, nanti terkesan saya nggak berempati pada mereka yang kurang beruntung (dalam hal materi). Kalau saya berkomentar B, nanti terkesan saya sirik sama mereka yang amat sangat beruntung (dalam hal materi juga). Maka saya cukup manggut2 sambil mengiakan pendapat bang paman, sambil menahan mulas membayangkan tata kota yang mewah namun tasteless ini… eh, itu komentar juga ya :D
—
Betul, mahal tapi tasteless :)
/tyo/
ya Kawan… kita tidak menyalahkan siapa2.. Privatisasi dengan tembok nya aja maha mewah.. bagaimana isi nya, orang nya, bangunan rumahnya, fasilitasnya.. sementara disana saudara2 kita berhimpit2an, dalam gang sempit dan digusur2 karena menempati daerah terlarang untuk dihuni.. mereka juga manusia kan.. apakah dibiarkan oleh penguasa kita hal demikian makin menjamur..? sehingga akan mengakibatkan timpang nya kehidupan, menambahkan apa yang telah ditulis kawan, kebersamaan adalah lebih beradab… tetangga kita adalah saudara kita, saling menyapa dan memperhatikan, menjalankan kehidupan penuh kebersamaan akan lebih nyaman tanpa terkotak-kotak..
—
Hmmm… begitulah kenyataannya…
/tyo/
Jangankan hunian, tanah kosong saja sekarang sudah ditembok tinggi. Bukan saja takut ada penduduk(an) liar, tapi konon cerita, ada pemilik tanah pinggiran kota yang setelah lama tak menengok tanah(kosong)nya, tiba-tiba menemui sebagian tanahnya digunakan jadi pemakaman. Kalo meminta pindah yang hidup mungkin gampang, lha ini?!
—
Kalo ini malah tepat. Tanah kosong tak ditembok bakal diserobot! Tapi buat makam? Duh…
/tyo/
Tunggu saja keberuntungan, kelak akan temukan namamu, Dik. Apa kabar? Masih ada kepiting gemukkah? :)
/tyo/
—-
akan ku tunggu paman. :P *skrg kebagian abihaha*
Sy baik2 sj, paman apa kabar? Ayo ke Mks lg paman, kepiting dan ikan segar masih melimpah ruah disini.
kalau saya selalu mencoba berpikir positif : masih untung hanya ditemboki saja, belum diatapi kubah raksasa.
—
Kalau dikasih kubah raksasa, maka hanya dua kemungkinan. Pertama: masyarakat sekitar berpenyakit menular. Kedua: penghuni kubahlah yang penyakitan. :D
Nggak mungkin kejadianlah pakai kubah, karena setiap orang butuh udara terbuka. :)
/tyo/
apakah dalam iklan juga menyebutkan fasilitas bunker bawah tanah yang aman dan nyaman ditinggali selama puluhan tahun?
apakah juga dirancang exit way yang aman kalau huru-hara terjadi?
—
Hwaduh kalo yang aneh-aneh berbau fiksi gitu, bunker untuk puluhan tahun, saya nggak tahu. :D
Jalan keluar? Kerusuhan Mei 98 telah mengajari semua pihak tentang cara evakuasi.
Tapi saya tidak suka huru-hara apalagi yang mengerikan.
/tyo/
coba benteng dan pagar yg melingkupi para pejabat itu diruntuhkan semua, apa mereka berani? :D
—
Walah, sampeyan provokatif :)) Mari tanyakan kepada kumendan Satpol PP.
/tyo/
Saya juga selalu mikir gimanaa gitu setiap lihat iklan itu. Tapi di satu sisi, melihat lokasi dan promo dekat dengan Gandhi Memorial School atau Jubilee, maka saya paham siapa target marketnya. Dan kadang jadi maklum kenapa tembok fisik itu harus ada
—
Ya, ya, ya, kita sama-sama maklum kok Mas. :) Pakabar? Ada info jajanan baru sepanjang Cibubur?
/tyo/
anu paman tyo saya belum punya uang untuk membangun tembok tinggi, tembok rumah saja tidak terbangun baik
—
santai saja, yang penting tidak ada harimau masuk :D
/tyo/
Kota yang beradab takmembiarkan warganya hidup dalam ghetto yang mengekang.
Kota yang beradab taksudi melepas warganya hidup dalam ilusi ‘tembok’ yang menyamankan.
:)
Dulu Kong Zi (Confusius) meminta Raja Lu untuk meruntuhkan tembok-tembok kota milik bangsawan.
—
Konon begitu. :)
/tyo/
“Jika benteng bertambah dan bertambah lagi maka para tuan penguasa kota mestinya merenung: ada yang gagal dalam pengelolaan kehidupan bersama.” wah kata-kata paman bener bgt…
‘perumahan’ di afrika jaman dulu kan juga dipagar melingkar paman
—
Iya, karena apartheid.
/tyo/
Dulu ada istilah “Cina benteng” ya di Jakarta? Jangan-jangan dengan begini nanti akan muncul istilah baru ‘yang lama’ ya, Paman :)
Ide untuk pengembang, kenapa cuma benteng? Sekalian dengan sungai yang dalam yang mengelilingi benteng dengan pintu kerekan yang buka tutup ketika residence berlalu lalang :)
—
Lalu ada pemanah, eh snipers, di atas benteng — dan juga penjaga meriam? ;) Ada-ada saja.
/tyo/
Mirip-mirip dengan cerita model-model perkampungan jaman ATLANTIS yang pernah dibahas Sedulur Prof. Santos…
—
Salam untuk Pak Prof. Aryso Santos. Apa benar Atlantis di Indonesia? :D
/tyo/
wah seperti the forbidden city gt ya yg ada di cina.tapi emang seharusnya tembok seperti itu bisa diregulasi oleh pemerintah. :-)
—
Forbidden City? :)
/tyo/
Masalahnya paman…. orang jualan karena ada permintaan, dan sayangnya untuk Jakarta yang disukai yang bermodel gated community begini :(
Jangankan perumahan… gedung2 perkantoran di Sudirman atau Kuningan itu aja saya ga ngerti kenapa mesti dipagerin (toh satpam angkernya yg jaga juga bejibun)… Dulu ada satu yang bagus sekali terbuka gitu: Sampoerna Strategic Square waktu belum direnovasi seperti sekarang… (maaf jadi melenceng)
Atau memang Jakarta sudah ngga beres? Ada yang salah? Semoga pengelola kota ikut mbaca blog paman ini dan sedikit tergugah…
–
Saya termasuk yang kehilangan plaza terbuka Wisma Anggana Danamon. Itu contoh karya arsitektural yang ramah. Pagi, apalagi libur, banyak warga berjemur di sana. Sejauh saya dengar tidak ada orang yang mengotori kaca lobi (karena ada satpamnya hehehe). Mereka tetap bermain di pelataran. Sayang pemilik baru kemudian mengubahnya jadi istana eh pura.
tyo
wah key code ku jeneng ku dewe, wahyunurdiyanto. kok iso mas paman?? ya opo carane, di 3d kira kira bisakah diterapkan
eh, manteb tuh perumahannya..
—
Berarti sampeyan lagi beruntung. :)
/tyo/
Peraturan tinggal peraturan…. padahal sudah diatur demikian rupa. Akhirnya peraturan kalah oleh kekuasaan deh….
—
Mmmm… oh ya? ;)
/tyo/
Jika benteng bertambah dan bertambah lagi maka para tuan penguasa kota mestinya merenung: ada yang gagal dalam pengelolaan kehidupan bersama >> saya setuju dgn pernyataan yg ini paman :)
Gambaran golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu.
*yg selalu kebagian keycode binawati*
—
Tunggu saja keberuntungan, kelak akan temukan namamu, Dik. Apa kabar? Masih ada kepiting gemukkah? :)
/tyo/
Dan apakah warga di dalam benteng itu dijamin juga saling kenal? Jika individual, artinya juga sama saja..karena rasa aman adalah jika lingkungan kita nyaman, tetangga masih saling kenal, namun juga menghormati privacy kita.
—
Wah kalo soal itu saya ndak tahu, Bu :)
/tyo/