Menafsir Pesan Sesosok Bajaj
“SAYA ADA KARENA DIPERLUKAN.”

Andaikan bajaj adalah benda berjiwa, pesan apa sajakah yang dia sampaikan? Saya mencoba menangkap pesan-pesannya. Gagal. Saya hanya dapat menafsirkannya, semau saya, sebisa saya. Itu serangkaian tafsir yang mengesampingkan manusia-manusia yang mengakrabinya: sopir, juragan, dan montir. Mereka adalah orang-orang yang paham matematikanya absurditas ekonomi rakyat dari setoran per hari sekitar Rp 40.000. Sebuah kisaran yang merupakan hasil kompromi.


Bajaj model lama, bermesin dua tak (175 cc?) dengan bensin (campur), menampakkan sosok stereotipikal di luar warna dan suara knalpotnya. Yaitu setang kemudi. Setangguh-tangguhnya sopir bajaj, tangannya tetap pegal memainkan gas dan persneling. Untunglah manusia tak pernah menyerah. Selalu mencari solusi murah. Jika selangkangan kepanasan karena menduduki mesin maka sopir mengangkat kaki kiri. Mungkin androlog akan menjadikan sopir bajaj tahunan sebagai sampel riset kesuburan pria. ;)


Bajaj seperti kerak dalam lapis moda transportasi kota. Bahkan mirip paria. Diemohi, bahkan tak diakui dalam buku besar, tetapi tetap dibutuhkan oleh pasarnya — antara lain karena keapabolehbuatan. Lampu bajaj yang jarang menyala dalam gelap malam, serta lampu sein yang tak berkedip saat berbelok, seolah meledek formalisme kita: yang penting ada, soal berfungsi itu masalah lain. Tak beda dari organ birokratis kita, juga badan-badan politik kita. Jika jalanan adalah potret sosial kita maka bajaj adalah bagian darinya.


Pada bajaj kita menyaksikan semangat hidup, semangat untuk bertahan. Pada tingkat minimum, bertahan adalah bentuk perjuangan. Bertahan, bukan menyerang. Jika perilaku bajaj, tepatnya sopir bajaj, di jalanan adalah sebuah agresi, maka kita tetap bisa mempertanyakan hal yang sama kepada sepeda motor dan mobil tentang nafsu untuk menguasai ruang dan meniadakan pengguna lain di jalan.
Bertahannya bajaj adalah sebuah kepatuhan formal, yang jika kita mau jujur juga melakti kita bahkan pengusaha besar: ikuti saja aturan daripada ribet. Per enam bulan bajaj harus membayar Rp 20.000 untuk izin usaha, Rp 110.000 untuk kir (pemeriksaan layak jalan), dan Rp 8.000 untuk pajak operasi. Penggunaan dwibahasa, Indonesia dan Inggris, pada semprotan kir tak ada hubungannya dengan biaya. :D

Tidak, tulisan ini tak membabi buta membela bajaj atas nama romantisisme. Bajaj memang tak layak dari beberapa segi. Tapi bajak tak mungkin dimusnahkan begitu saja, dengan ganti rugi sekitar Rp 5 juta (padahal harga operan kondisi bagus konon bisa di atas Rp15 juta), kalau penataan sistem transportasi kota tak menampilkan rencana yang matang dan bisa diterima semua akal sehat. Kurang matang, kurang sesuai akal sehat, hasilnya adalah busway yang lengang pada koridor tertentu dengan halte yang mulai rusak.

Tapi ah sudahlah, itu perkara besar. Rumit. Membingungkan. Pada bajaj urusannya adalah bagaimana rezeki hari demi hari bisa terkais. Untuk itu diperlukan perawatan semangat. “Allah Maha Besar,” kata stiker pada pintu bajaj. Pintu dengan pegangan berupa potongan pipa tegak yang merupakan salah satu komponen bajaj yang tak berdebu dan tak berlumpur karena sering dipegang oleh tangan manusia. Tangan penumpang dan tangan sopir (terutama saat membuka dan menutupkan pada awal dan akhir perjalanan).

Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Dasar Pethuk: Patuk Patok Ketemu Pathuk
July 13, 2007 by AntyoPIA, UBIN, DAN KELOMPOK KIRI.
Misalkan bakpia dari Pathuk, Yogyakarta, itu sudah menjadi salah satu jenis penganan, maka bolehlah ditulis sebagai “bakpia pathuk” (dengan “p” kecil, karena bukan nama geografis). Sama seperti “gudeg yogya” dan “soto madura”, begitulah.
Mengapa bakpia tak (harus) mengandung “bak” (pork)? Bacalah riwayatnya. Tentu, pia tak hanya di Pathuk. [...]
Recent Comments
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





yang pasti kalo bajaj yang biru sombong pak.. Mahal mintanya.. Mending naik bajaj oranye aja.. hehe
Paman, dulu kayaknya pernah ada rencana mengganti bajaj dengan Kancil? Ternyata nggak jadi ya…kalau naik kancil lebih nyaman..tapi soal enakan mana nyopirnya saya tak paham.
Paling tidak minimal dua kali seminggu saya setia menggunakan bajaj atau Kancil dari depan pasar Mayestik ke Cilandak.
—
Kancil sudah berjalan, Bu. Di Kelapa Gading sudah lama ada. Tapi ya itu, konversi dari bajaj memang tak lancar karena kendala biaya (kredit, cicilan, dsb).
/tyo/
bajaj, metromini, kopaja. bagaikan zombie yg berkeliaran di jalanan Jakarta :D
“Bajaj model lama, bermesin dua tak (175 cc?) dengan bensin (campur)…”
Betul itu paman. Kalau tidak bensin yang dicampur oli ya pastinya bensin yang dicampur dorongan manusia (karena sering mogok)… :D
—
Sumber tenaga campuran adalah nasi. :D
/tyo/
tapi bajaj berisik..
hehehe..
hmm.. tp jakarta tanpa bajaj kayanya ga lengkap deh.
:p
—
Selain bajaj, sumber kebisingan jalanan kan banyak :D
/tyo/
Bajaj itu antara butuh dan tidak butuuuuuh..
eh paman sensani naik bajaj itu ngalahin sensai roller coaster di dufan lho :P
—
Masih lebih hebat roller coaster dong. :D Tapi untuk sort jantung bolehlah, terutama ketika tiba-tiba berbelok padahal di belakang banyak mobil dan motor kencang :D
/tyo/
Bajaj adalah icon Jakarta dan sumber penghasilan rakyat kecil.
Paman, kapan ngajak saya naik bajaj? :P
—
Nanti kita naik bajaj setelah ada kiriman kepiting dan otak-otak! :D
/tyo/
tempat ‘mojok’ berjalan, saat waktu diambang petang, ditingkahi suara mesin yang lantang, yang terjadi adalah ‘kerajinan tangan’ … *goncangan juga sebuah servis tambahan*
—
bisik-bisik jadi gak penting ya? toh tidak terdengar :D
/tyo/
Waktu kecil pernah diajak paman saya naik bajaj. Waktu keluar, sempat budeg sesaat. Hehehe. Dari segi kenyamanan memang “yaa gitu deh”. Tapi kalau udah kepepet, apa pun diembat. Ya gak, paman?
—
Betul, bisa pekak. Cara mengantasi mungkin kepalkan tangan dekat mulut, tiup, lalu kepalan tarok di kuping sambil mulut bilang “thok-thok”. Lakukan untuk kedua kuping bergantian. :D
/tyo/
si kancil pun tidak mampu menyainginya.
—
tugas kancil kan belanja timun *kriuks*
/tyo/
prilaku supirnya dalam mengemudi pakdhe yg btuh dibimbing….
—
Ya. :D
/tyo/
Foto bajajnya bagus, Pakdhe..
—
Terima kasih. :)
/tyo/
aku pernah liat bajaj ini lewat di jalan jatayu kemarin!!
jyaahh.. gak nyangka paman bakal nulis..
di deket kos ada “pangkalan bajaj”.. karena cukup sering menggunakan jasa mereka, para sopir bajaj pun udah tau ke mana tujuan saya biasanya dan ongkosnya.. :D
–
Ayo ditulis, Lé…
/tyo/
Beragam model sudah dicoba diterapkan untuk menggantikan kendaraan bikinan India ini. Tapi masih tetap eksis karena memang dibutuhkan.
—
Harga penggantinya mahal :) Maunya penumpang sih dapat yang bagus, kan?
/tyo/
jadi kapan bajaj akan dihilangkan dari kota jakarta ya?apa akan terus ada disini?
—
Kapan ya? Pak Kumis yang lebih tahu.Dia kan gubernur. :)
/tyo/
bajaj, sebuah romantisme yang ironis menurut saya…
sebuah pekerjaan besar bagi Pemda…
need IT??
http://www.linovtech.com
—
Bagi Pemda ini bukan pekerjaan besar kok. :D
/tyo/
Foto-fotonya itu.. khas wartawan! :)
Splendid!
—
Saya sudaj bukan wartawan lho :D
/tyo/
Bajaj emang menghibur….
Sampai2 namanya dicaplok grup lawak…
Jd inspirasi komsit yg (pernah) populer juga :D
Salam kenal Uncle Tyo
Lom pernah naek bajaj
tp “pamor”nya udah nyebar ke mana2…
Hehehehe
—
Sejauh ini bajaj memang baru “menghibur” warga Jakarta :D
/tyo/
…kendaraan andalan saya selama bertahun-tahun. :D
—
di negeri dingin nun di sana gaka ada bajaj! :D
/tyo/
foto-foto ilustrasi hitam-putihnya bagus :)
—
terima kasih :)
/tyo/
Orang Britis maksudnya apa yak :D Mungkin nggak harus dihapus, bisa diremajakan seperti bajaj BBG itu. Kalau dipercantik sebagai kendaraan wisata ibu kota, turis pasti banyak yang mau naik dan merasakan sensasi getarannya.. :D
—
Britis ya Inggris. Sensasinya bukan cuma geratan tetapi juga guncangan! :D
/tyo/
walah dr sebuah bajaj ko luar biasa gini inspirasinya..,tp bajaj cmn ada di jakarta susah masuk feeling tulisannya.. coba kalo kereta api bang…
makasih
—
Kereta api? Lain kali. :)
/tyo/
Saya Hanya sekali naik bajaj. Tak tebersit untuk mengurai nasibnya. Inilah akibat dari perjalanan yang tak dinikmati, sebab pagi buta harus pergi dari terminal ditingkai rinai hujan.
—
Cobalah naik lagi, kawan :D
/tyo/
Sayang, di semarang kagak ada bajaj. Tapi dari tulisan ini, saya bisa turut “merasakan” romantikanya
—
Siapa tahu bakal diimpor oleh Semarang :D
/tyo/
Bajaj memang menarik; sampai-sampai ada ungkapan yang sangat terkenal mengenai tingkah laku Bajaj di jalanan: “Bahkan Tuhan pun tak tahu kemana Bajaj akan berbelok” he he he…
—
Memang unpredictable :D
/tyo/