Solo, Sala, Surakarta
KOTA JAWA YANG MENCOBA MEMPERTEGAS SOSOK.

Solo? Untuk kesekian kalinya saya mendatanginya saat gelaran Solo (Sharing Online lan Off-line) oleh dan untuk bloggers pekan lalu. Dan tetap saja saya buta kota buta peta. Tapi ada perubahan, rambu petunjuk mulai bertambah. Tak seperti tiga tahun lalu ketika saya sekeluarga berlibur beberapa hari dengan mobil sewaan. Dan tentu seperti umumnya kota-kota di Jawa (Tengah), warganya memberi ancar-ancar lokasi dengan lor, wetan, kidul, kulon (utara, timur, selatan, barat). Orang luar yang tak memiliki kompas akan bingung — kecuali dia melakukan salat.



Solo akhirnya meneguhkan apa yang sudah lama tersebut: Solo (dengan “o” seperti pada Oslo). Bukan Sala (“a” dibaca “o” seperti pada “Harto”). Dan Surakarta hanyalah nama administratif. Solo adalah Jawa lama dan Jawa baru.

Jawa lama ada pada semangat revival, mencoba mempertahankan aksara Jawa meskipun nasib aksara Jawa berbeda dari aksara Thailand, Kamboja, Jepang, dan Cina, yang kesemuanya masih fungsional. Tak apa, yang arkais harus dihadirkan supaya orang tak lupa asal-usul.
Adapun Jawa baru antara lain terlihat pada cara berbahasa Jawa tertulis orang-orang Solo, kota yang berslogankan the spirit of Java: tak perlu mengikuti kaidah lama. Wedi dan wedhi itu sama — padahal artinya berbeda. Begitupun loro (dua) dan loro (sakit). Yang penting sama-sama paham karena diikat oleh konteks. Kalau Anda ingin tertib tulis, silakan ke Amerika, menemui Mbak Nancy.

Jawa baru ada di mana lagi? Dalam keseharian. Beberapa pemilik warung kelontong dan kaki lima akan menyapa dalam bahasa Indonesia kepada tampang Jawa yang bahasa tubuhnya “kurang men-Solo”. Sebuah proses alami menuju nasion baru Indonesia.
Perjalanan dalam nasion juga tecermin ketika pada 2004 dulu Sri Susuhunan Pakubuwono XII mangkat, dan teman-teman sejawat salah satu putri keraton di Jakarta datang melayat mencari “Mbak Koes”. Membingungkan bagi orang Solo, karena banyak putri dari almarhum yang bernama depan “Koes”. Di luar keraton dia hanyalah Mbak Koes, bukan Gusti.
Jawa baru juga terlihat dari jadwal acara bisnis yang padat, dari pameran komputer dengan gambar promosi berbau lokal sampai seminar cara cepat kaya dengan memanfaatkan internet. Tak perlu diajari, Solo itu sebetulnya kota niaga. Bahkan putri Solo pun memiliki stereotipe sebagai perempuan ulet dalam berbisnis.
Banyak pilihan untuk mencicipi Solo. Sejak warung wedangan murah-gayeng ala Kemin (lihat ini dan itu) sampai kafe/resto seperti umumnya kota besar.
Tapi saya mencicipi pengalaman menyenangkan di Soto Gading, warung yang sibuk sehingga membutuhkan walkie talkie. Di sana ada es jeruk dengan es batu silinder, bukan dari pecèlan es bongkah yang sering diprasangkai paginya sudah diseret-seret sepanjang trotoar kotor. Sungguh efisien: es jeruk sudah disiapkan dalam cooler box. Tinggal diciduk dan disajikan.

Lebih penting lagi ini: es jeruk tanpa penyedot plastik. Ini tak seperti kota lain, terutama Jakarta Raya, yang minuman encer dingin maupun hangatnya sering berbuluh plastik agar cairan melancangi bibir dan ujung lidah.

Solo adalah batik. Tapi Pekalongan juga kota batik. Keduanya memiliki industri dan pasar. Ya, saya tak bicara desain maupun unsur lainnya. Toh banyak orang tahu Solo bukan hanya keraton, batik tulis, keris, tari, karawitan, dan apapun yang sangat berbeda dari pesisir utara Jawa Tengah. Tentu, makanan Solo tak seterlalu-manis Yogya, kan? ;)

Memang sudah saatnya Solo mengemas sosok diri. Tak hanya agar dapat dibedakan dari Pekalongan oleh orang jauh, tetapi lebih penting supaya dapat dibedakan dari Yogyakarta. Solo bukan sekadar tetangga Yogya. Solo adalah Solo. Bukan tempat singgah bagi pelancong yang menghabiskan sewa kamar dan uang jajan di Yogya — kota yang akhirnya menyebut diri sebagai Jogja itu.

Di Solo, kota seluas 44,03 km² dengan 600.400 jiwa, kita melihat sebuah upaya menata ruang besar sebagai atmosfer untuk setiap orang. Walikota Joko Widodo, yang menjabat untuk kedua kalinya, tahu apa yang disebut paduan kepemimpinan dan keterpilihan melalui demokrasi sebagai sebuah amanat rakyat.

Bagaimana dia menangani pedagang kaki lima sudah menjadi cerita. Dia menggunakan kunci bernama pendekatan manusiawi dan partisipasi, tapi di sisi lain juga harus mencoba lincah bersama birokrasi yang tambun lamban. Terkabar dia pernah mengeluh, jumlah abdi kota terlalu banyak. Tentang alon-alon waton kelakon (pelan-pelan asalkan terlaksana), kita tahu, itu bukan monopoli Solo — apalagi jika menyangkut birokrasi. Tapi mau alon mau rikat, gedung tua tak terawat memang harus diperlakukan secara hati-hati.

Saya berharap Solo terus berubah menjadi baik. Sama seperti harapan saya bahwa Taman Balekambang akan semakin baik, tak seperti dulu yang dari bus antarkota tampak sebagai lahan terbengkalai penuh semak. Di sana saya lihat ada saja warga yang datang untuk duduk dan ngobrol, dan sesekali mereka didekati oleh rusa timor.

Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Dari Saya untuk Anda
October 11, 2007 by AntyoBanyak sudah yang saya lontarkan di blog ini. Tak semuanya menyenangkan Anda. Tak semuanya menyamankan Anda, baik karena gambar maupun kata, termasuk slaha kteik yang bertebaran.
Berlebihan jika saya katakan ini adalah hari baik, dan kesempatan baik, untuk meminta maaf kepada Anda semua sambil mengaku bahwa itu sungguh ternyatakan secara lahir maupun batin.
Bukankah [...]
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Solo itu antik, tertib berseri..
Tapi aku menjadi terbalik ketika acara tahunannya, kental masih terasanya hindunya
—
Saya akan ke sana lagi. :)
/tyo/