Becak, Coba Bawa Saya di Klonyo
SARAH, PONIRAH, DAN “PEKERJAAN MANUSIAWI”.

Jubing Kristanto, gitaris asal Semarang yang kriminolog dan bekas redaktur pelaksana Nova itu, berjasa karena dia tak hanya menghibur. Dia memperkenalkan ulang lagu lama karya Ibu Sud, Hai Becak, dalam album Becak Fantasy. Jubing mengingatkan bahwa becak masih ada. Ya, becak yang berasal dari bahasa Hokkien: be-chia. Nun di Köln, Jerman, saya teringat becak Indonesia. Di sana juga ada. Dikayuh oleh manusia. Yang saya tumpangi dikayuh oleh seorang nona –– atau nyonya, toh saya tak mengecek statusnya.
Di depan stasiun, wanita itu, yang menyebut diri Sarah, menawarkan becaknya. Tarifnya EUR 9 (sekitar Rp 99.000) per lima belas menit. Lengkap dengan keterangan sekadarnya tentang lokasi dilewati. Terutama bila ditanya. Dia berbicara dengan menoleh karena kayuhan ada di depan, bukan di belakang.
Sarah memang perkasa. Napasnya tidak ngos-ngosan. Jalan makadam begeronjal yang agak menanjak bisa dia taklukkan. Dengan mengangkat pantat saat mengayuh. Lalu menambah tenaga kayuhan dengan membungkuk. Agak sungkan saya memotretnya dalam keadaan begitu dari belakang karena kaosnya terangkat, sementara pinggang jinsnya ke bawah, dan seterusnya.

Saya tak tahu berapa jumlah becak di Köln, atau Cologne, atau Klonyo (ya, kota ini terkenal karena “Air Klonyo 4711″). Saya menduga tak sampai ratusan. Yang pasti becak tak menimbulkan masalah. Malah becak menjadi sajian turistis. Termasuk bagi pelancong yang berasal dari negeri becak. Negeri yang juga mengenal perempuan penarik becak, misalnya Ponirah, yang diapresiasi oleh Romo Sindunata. Cara Ponirah dan Sarah mungkin sama: menyimpan uang di bawah jok.

Tentang becak, kalaupun dia membuat semrawut kota, itu hanyalah buah dari kemelut transportasi wilayah dan tata kota. Celakanya masalah itu juga bergandengan dengan penegakan hukum. Jakarta berhasil mengatasinya. Tetapi setelah krismon, 1999, becak sempat masuk lagi karena Sutiyoso, gubenur waktu itu, bersikap lunak. Saban dini hari becak baru masuk, misalnya dari arah timur (Bekasi), melalui Pulogadung, Jalan Perintis Kemerdekaan, Cempaka Putih, lalu menyebar.

Jika menyangkut pro-kontra, maka dulu tak sedikit pejabat dan anggota DPR yang berpendapat bahwa pekerjaan menarik becak itu tidak manusiawi. Seolah memperkuda manusia. Sehingga perlu dihentikan.

Para tuan itu lupa bahwa sarana transportasi umum lain, termasuk ojek (kita anggap saja itu angkutan umum), bahkan pertambahan pemilikan sepeda motor dan sepeda, akan meminggirkan becak. Apalagi tarif becak semakin mahal. Di kompleks saya, untuk jarak 300 meter tarinya Rp 5.000. Hanya saat hujan, atau pangkalan angkot terendam, maka orang memilih becak. Kalau sedang di Yogya, saya kadang menumpang becak. Tak tega mendengar tawaran tukang becak, “Mangga, sami kaliyan taksi“. Mari, silakan, tarifnya sama dengan taksi.

Entahlah ke mana para tuan terhormat yang dulu menyebut mbecak sebagai hal yang kurang manusiawi. Mau tak mau becak akan tersingkir. Apalagi dengan pembatasan wilayah edar. Tapi apa itu “manusiawi” dan “tidak manusiawi”?

Catatan:
Supaya lebih mblenger, dan menyita waktu maupun bandwidth Anda, silakan melihat cerita bergambar tentang perjalanan di Jerman ada di Oh! Blogombal.
22 Responses to Becak, Coba Bawa Saya di Klonyo
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Lo-Tech Berisi Sayur (dan Kerupuk)
July 18, 2007 by AntyoADA SAJA WANITA BERLIDAH API.
Di Jakarta, setahu saya, susah mendapatkan lotèk yang sedap. Memang, beberapa kedai — misalnya Bakmi Jawa Gunungkidul, Pejompongan — menyediakannya, tapi kurang sêdhêp.
Di Yogya ada banyak lotèk sedap. Dekat rumah saya, depan Masjid Asy-syifa, dulu ada lotèk lumayan. Di dekat Pasar Demangan dulu juga ada. Murah dan bergizi. [...]
Recent Comments
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Halo Paman! Lama tak berkunjung dan menitip komen di sini :)
Ndilalah bulan kemarin saya berkesempatan ke Jerman, dan mengunjungi Koeln. Kota yang indah :) Tentang manusiawi, saya merasakan atmosfer di sana manusiawi sekali, terutama untuk pesepeda seperti saya :)
Oh ya, baru tahu kalau Klonyo 4711 itu yang paling terkenal, untung saya jadi beli. Hehehe…
asik..asik…asik…naik becak sambil foto2…heyeuh, dapat keycode tifatul, paman penggemar banget sih….? :P
—
Mmmm… mhhh….
/tyo/
beda banget ama di negeri dewek ya? disini tukang becaknya serem, bau dan berbulu … ;p
—
Hahaha!
/tyo/
Di Pulau Pinang, becak masih beredar dengan riang, tapi bentuknya lebih kecil daripada becak Yogyakarta.
Entar, mau nulis juga tentang becak Pulau Pinang.
—
Nah ayo, ayo, ayo! Pulau Pi-neng? :D
/tyo/
asal jangan tukang becak ngeselin ala basiyo saja…
—-
Hidup Basiyo Mbecak. Bagaimana dengan Basiyo Boksen?
/tyo/
entah guyon atau serius, teman saya yg sering ngomong boso hokkian bilang ‘mbe’ = tidak, ‘chia’ = makan, artinya krn tidak mampu makan, maka mau ngrekoso narik becak.
—
Walah! Gitu ya? :D
/tyo/
keren buu…
uuiih…
becak modern gan????
woh!! mbecak ogkosnya seratus ribu?? itu pake dinyang dulu ndak, man??
woh.. kalo yg narik (dalam arti “denotatif”, si penggerak ada di depan) becak cewek mlenuk begitu, bisa mbecak tiap hari.. :D
—
Itu harga resmi. Senilai dua bungkus rokok. Eh, mangsud saya senilai empat botol limun. :D Soal mlenuk, walah kamu itu maunya…. :P
/tyo/
Sesekali di Bandung saya masih naik becak, kalau belanja dari Griya di daerah Buah Batu ke rumah..biasanya karena nggak tega, malah uangnya dilebihkan saat membayar.
Dan naik becak ini menjadi nostalgia, ada interaksi antara penumpang dan penarik becak, banyak kisah yang bisa digali…
Kalau di Yogya? Rasanya belum ke Yogya kalau belum naik becak
Pengin juga naik becaknya Sarah
—
Sumangga ke Yogya lalu ke Koln, Bu. :)
/tyo/
Wah, kalau becaknya gini di Jogja mesti laris ya, tur itu kalau EUR 9 sehari bisa ngangkat 10 orang dapet berapa tuh?
—
Perlu dicoba di Yogya. :)
/tyo/
sama saja ya pak dhe, cuma beda tarifnya
—
mungkin :D
/tyo/
Oleh-olehnya, Paman!
Bawakan satu tukang becak yang kayak ini juga… ngga nolak hehehe
—
Gimana kalo ngerakit sendiri?
/tyo/
pekerjaannya sama kaya pilot, masinis, sopir dan kusir. dia pengendali sekaligus yang dikendalikan… tapi bagaimanapun juga pekerjaan dalam bidang jasa ini tetaplah halal dan menghasilkan selama dilakukan dengan cara-cara yang”profesional”… bagaimana, setuju paman?
—
Baiklah setuju.
/tyo/
apa “manusiawi” dan “tidak manusiawi”??? bingung paman.. tapi jadi penasaran, apa sih artinya be-chia..?
—
Apa arti be-chia saya juga belum cari tahu.
/tyo/
kalau sekarang saya lihat becak kadang malah sewot (bukan berarti saya tdk suka lho ), tapi seandainya tukang becaknya cewek kaya yg difoto mending mbecak aja ya… :D Nuwun
—
Cewek adalah satu hal, tapi kalau becaknya semrawut ya tetep bikin sewot :P
/tyo/
Sarah si penarik Koeln Rikscha (rickshaw) itu pasti bukan orang asli jerman :D
—
Gitu ya? Yakin? ;)
/tyo/
Sarah si penarik becak ini cantik banget! Psssttt… apa semua penarik becak di kota Klonyo ini cewek ya?
—
Ada yang cowok juga kok. Tapi yang laku kayaknya yang cewek. :D
/tyo/
Lha tukang becak di sana cantiknya kayak gitu. Mungkin kalau para tukang becak di Jakarta seperti Sarah semua, becak bisa jadi tak dilarang lagi.
—
Biar secantik apapun kalau ngaco ya harus dilarang :D
/tyo/
wah ceweknya sehat banget tuh narik becak terus.hehe…
tapi becaknya sangat futuristis ya.
—
Becaknya memang bagus.
/tyo/
Kreatif juga si Sarah nyari doku dengan ngebecak. Lha, kalau kita nyari nafkah dengan narik becak di DKI dibilang tidak manusiawi. Oh, rupanya yang manusiawi itu kalau sudah pakai bahan bakar yang menimbulkan polusi.
—-
Nah ini!
/tyo/
manusiawi berarti naik transjakarta, setelah naik jembatan penyeberangan berpelat logam licin dan bolong2, naik turun dan berkelok menuju halte nan jauh :D
– ini becak sepedanya frau sarah, gabungan antara rickshaw yang ditarik manusia di depan dengan becak yang dikayuh di belakang, bang paman? :D
—
Memang ini rickshaw, Mpok. Lalu disambung bus dan kereta. Manusiawi, gak ada kemacetan.
/tyo/