Cerita tentang Tikus
HANYA DI FILM KARTUN DIA LUCU.

Kesan saya dia jenaka, padahal serius. Atau dia, pria di toko besi di Mayestik (Jakarta Selatan) itu, memang punya keduanya: kocak sekaligus penuh kesungguhan. “Lho, udah dibuktiin di sini. Dipasang semaleman langsung panen, Pak. Sore sekitar jam lima dipasang, besok paginya dapet sembilan! Yang dua malah mati, kayaknya berantem di dalem,” katanya.
Begitulah, dia sedang menjelaskan kehebatan jualannya: perangkap tikus berpaten cap Petimas. Nama resminya: “perangkap tikus massal”. Nama yang menggentarkan. Mengingatkan saya kepada senjata pemusnah massal.
Kenapa saya beli? Karena ingin mengusir (bukan meracuni) seekor tikus dari halaman rumah saya. Baiklah, saya pertegas: seekor tikus dari halaman saya.
Karena saya, eh kami, selalu memergoki tikus itu sendirian, dan tampaknya dia punya tampang maupun lagak tak pernah berubah, maka kami menganggapnya hanya seekor saja.
Kejahatan dia dan korpsnya adalah membuat liang di bawah tanah sehingga batu-batu dan paving block amblas. Dulu pernah skuter saya tiba-tiba ambruk karena tanah tempat dia diberdirikan itu growong lalu amblas.
Tak hanya dalam tanah tikus mengacau stabilitas dan merongrong kewibawaan saya. Dulu, di rumah lama, ada tikus yang rajin menggigiti kabel sakelar otomatis pada tangki air di atas atap.
Saya sambung kabel itu, eh dia/mereka putuskan lagi. Titik pemutusan kian jauh, ke tempat yang tak terjangkau dari panjatan tangga, sehingga beberapa kali setiap akan berangkat kerja saya harus masuk plafon dulu.
Banyak sudah saran untuk menghadapi tikus. Antara lain jangan meninggalkan banyak sisa makanan di dapur. Selain itu memasang penyekat berupa bola pada saluran pembuangan air agar tak tertembus tikus dari bawah. Saya pun sudah memasang alat elektronik penghalau tikus tapi tampaknya yang disasar kebal terhadap frekuensi yang dijanjikan oleh brosur dan juragan toko.
Tentang derita akibat tikus, Anda tentu punya pengalaman yang kaya. Silakan Anda bagi di sini.

Lantas bagaimana dengan perangkap tikus massal itu? Masih terbungkus plastik. Belum saya gunakan. Misalkan bisa menangkap satu saja, dalam keadaan hidup, lantas mau diapakan tikus itu padahal tak ada sayembara bagi “barang siapa” yang bisa menangkap akan diganjar?
Ada teman menyarankan agar kuping tikus diberi giring-giring (beli di mana?) lantas dilepas lagi sehingga teman-temannya panik lalu kabur.
Ada lagi yang penuh keyakinan — padahal belum mencoba — menganjurkan agar kepala tikus itu diberi plester putih lalu dilepas. Teman-temanya akan bubar dan menjauh karena mengira si kepala putih sebagai provost.
Saya kurang berminat terhadap saran-saran ilmiah itu. Beberapa orang, dan juga lembar info pada perangkap, menyarankan agar tikus yang ditangkap dijemur di bawah terik Matahari sampai mati (selama sejam), atau direndam di air (di kali, kata manual) sampai tewas. Manual itu ditutup dengan ucapan, “Selamat mencuba, semoga berhasil panen tikus!”
Kok sadistis ya? Menerapkan azab sampai si terhukum menjemput ajal. Tapi untuk meracuni saya tak mau, karena tikus akan terkapar di jalan atau halaman orang atau membusuk di gorong-gorong. Ini tindakan egoistis.
Kalau memakai penjebak yang bisa membunuh, karena memakai pegas untuk menghunjamkan penjepit bergerigi, itu mengerikan dan menjijikkan. Saya pernah melihat hasilnya. Lebih mengerikan lagi penjebak tikus itu memakan tangan atau telapak kaki si pemasang (dan orang lain).
Karena gamang maka saya pun memberanikan diri untuk meminjam pistol kaliber 22 dari seorang kawan. Baru minta izin saya sudah dihardik. Katanya harga peluru dan lisensi itu mahal. Terlalu berharga untuk menamatkan tikus. Lebih mahal lagi, karena bisa membuat dia terhina, adalah memintanya menjadi eksekutor terhadap si tertangkap.
Tapi, ah, percayalah. Itu cuma gagah-gagahan saya saja. Saya belum pernah berlatih menembak dan tak paham senjata api — bisa-bisa pelor menghajar mata kaki saya sendiri. Lebih dari itu letusan pistol hanya akan menghasilkan masalah, termasuk jadi berita di halaman pertama Pos Kota, lengkap dengan wajah saya, bukan wajah si tikus.
Anda punya saran untuk menghalau tikus tanpa menyiksa, tanpa membunuh?

Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @PamanTyo Salam, kami dari @majalahBung ingin wawancara Anda. Bisakah minta email Anda ke: bung@ruangrupa.org agar kami bisa kirim undangan? May 24, 2012 majalahBung (Bung!)
- @PamanTyo Paman, kenapa di Crome blognya paman contains malware ya? May 24, 2012 metropulutan (Kom. Bloger Salatiga)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Suami Takut Istri
February 16, 2007 by AntyoKALAU ISTRI TAKUT SUAMI?
Guyon itu muncul lagi dalam kelas pagi ini. Tentang orang bermasalah, yang mengalami penjajahan berurutan. Dijajah Belanda, Jepang, Soekarno, Soeharto, bos kecil, bos besar, dan… istri. Kesimpulan: hanya lelaki sial yang mengalami itu. Para murid, pria maupun wanita, tertawa.
Dalam masyarakat patriarkal, dengan mitos tentang superioritas pria, suami yang didominasi [...]
Recent Comments
Romi Julio Rahman» sangat memukau sekali artikel anda
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Di rumah/halaman saya juga sepekan ini dikunjungi tikus, dan kayaknya lebih dari 2. Dibunuh kasihan, kagak di bunuh jdi ngerepotin krn stiap pagi kudu nyiram dan ngepel halaman rumah.
Mungkin saran daun sirsak menarik juga tuh. Ah mo cari daun sirsak ah.
Kalau tikusnya sdh mati, sebaiknya dikubur sj pak. kalau di buang/dibungkus..baunya kemana2..
tikusnya dipelihara untuk mkn sampah organik saja, sekalian melawan global warming hehehe
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=4&jd=Perang+Melawan+Global+Warming+dengan+Empat+Kelinci&dn=20081221194245
Paman Tyo, boleh saya tahu tempat persis dimana belinya? ada no.telp penjualnya g? soalnya di kost an saya banyak tikus besar…Harganya berapa?
—
Belinya di Mayestik. Harga sekitar Rp 35.000 (kalo gak salah) :)
/tyo/
mo di racun..ogah( sadis )…ditangkap hidup2 selanjutnya bingung mo diapain…dibiarinnn….ngrusak rumah…Kayaknya pelihara kucing aja pak….Tapi kucing jaman sekarang malah takut sama tikusnya…truss mo gimana lagi….he..he..
—
Lha ya itu. Bingung kan? :D
/tyo/
Saya biasanya mengkombinasikan perangkap kerangkeng dengan racun celeng (racunnya saya beli di toko-toko bahan pertanian), lalu makanan umpan yang diberi racun tadi saya letakkan di dalam perangkap, sehingga tikusnya mati di dalam perangkap, tidak lari ke gorong-gorong atau jalan raya.
Setelah tikusnya mati, perangkapnya saya cuci bersih dan dijemur seharian, karena kabarnya bau tikus yang menempel di perangkap akan membuat tikus berikutnya menjauh dari perangkap…
—
Lha mbuang tikusnya itu :)
/tyo/
benar, si miki tikus cuma lucu di film kartun! di film kehidupan,dia bisa jadi momok..menyebalkaaaan *sambil melirik geram si tikus yang hobi mondar-mandir di sekitar kamar*
–
Dan juga menjijikkan to?
/tyo/
mereka ini mirip semut kalo kata gw, hanya saja tipe pengerat plus lebih serem dari semut…
wkwkwkw.. post nya kocak sekali.. soal tikus ya? hm.. di rumah saya nyaris gak pernah ada tikus soalnya banyak kucing. Tapi punya banyak cuking juga menimbulkan masalah tersendiri yang bisa lebih barah dari tikus :D
—
Lho ini serius. Masa kocak sih? :D Nah gantian situ yang cerita soal kucing dengan segala kerepotannya sekarang. Saya tunggu. :)
/tyo/
Paman ini seperti satpol PP saja
yang mengedepankan tindakan persuasif meski sudah boleh
pake pistol & jebakan/ perangkap.
—
Hidup Satpol. Pokoknya sampe pol! :D
/tyo/
wahhh…binun je….saya baru tersadar paman. Mau diapakan itu tikus ya ??? Dibunuh..trus menghiilangkan bangkainya ?? Kalo dilepas…lah kalo malah lari ke rumah tetangga gmnaa??
—
Saya juga bingung. :)
/tyo/
kemaren sih saya pernah lihat tayangan di TV, katanya pakai daun pohon sirsak bisa ngusir tikus. Caranya daun pohon sirsaknya ditebar di tempat yang biasa ada tikusnya. Lihat aja tempat yang banyak kotoran tikus, kotorannya dibersihkan, lalu ditebarkan daun pohon sirsak. ‘Met nyoba…
—
Oh ya? Menarik ini. Tapi nyari daun sirsak di mana ya? :)
/tyo/
Paman yang baiknya minta ampun,
Kalau banyak didaftarkan sebagai anggota Partai yang suka ama tikus Paman? Lumayan, dapat persenan? Makin banyak, makin menggunung duit. :-D
Pasti pengurusnya akan mendatangi Paman untuk menjemput anggota baru. Mudah bukan? Udah tahu telponnya belum?
—
Teleponnya sudah dikerikiti tikus. :D
/tyo/
Perlu diteliti apakah di rumah paman ada lumpur, karena “tikus” biasanya suka “lumpur”
—
Oh maksud njenengan tikus got ya? Wah subversif nih si Andri! :D
/tyo/