Masuk Pukul Tujuh Pagi Lagi

Tahun ajaran ini beberapa sekolah kembali ke asal: masuk pukul 07.00 pagi. Apakah kemacetan bertambah atau berkurang? Tanyakan kepada ahlinya. Pernah sih ada evaluasi setelah dua hari pemberlakuan jam masuk pukul 06.30 itu: kemacetan berkurang 14 persen. :D
Kerepotan
Yang terjadi selama jam masuk pukul 06.30 itu adalah bertambahnya kerepotan domestik keluarga siswa. Setidaknya kegiatan di kamar mandi dan dapur menjadi lebih awal.
Selain keluarga siswa, yang repot tentu saja guru dan… penjaja makanan di sekolah. Mereka harus berangkat lebih awal. Untuk penjaja makanan — tak hanya pemilik kantin tetapi juga penggelar lapak kudapan di luar sekolah — berarti mempersiapkan banyak hal sejak awal.
Intinya: maju setengah jam belum tentu semua persiapan juga hanya maju setengah jam. Jika pada pukul 05.30 ojek cukup tersedia, maka pukul 05.00 belum tentu. Tapi hal begituan pasti sudah diperhitungkan oleh sang ahli.
Anehnya, sejauh saya cari, belum ada kabar tentang evaluasi menyeluruh terhadap pemajuan jam masuk itu. Dan pada tahun ajaran sebelumnya saya tahu ada sekolah yang tetap masuk pukul 07.00 padahal berada di kawasan korban kebijakan.
Ah sudahlah. Masalahnya bukan pada jam masuk saja kok. Lagi-lagi urusan utamanya adalah sistem jaringan transportasi kota yang bersih, aman, andal, jumlahnya memadai, melayani semua wilayah, dan murah. Bus sekolah? Bagus sih tapi belum memadai.
Maka kemarin siang, di depan sebuah sekolah di Jakarta Pusat, tiga dari empat lajur terisi mobil berhenti. Mobil-mobil penjemput (lihat foto).
Kalau dibilang parkir, para pengemudi maupun satpamwan mungkin tak terima. Cuma berhenti, bukan parkir, karena halaman sekolah mengalami kongesti.
Apapun kilahnya, parkir atau terhenti, hasilnya sama: kemacetan karena jalan hanya tersisa satu lajur.
Antre itu ngeselin
Soal kongesti ini tidak lucu dan tidak aneh tapi salah satu pangkal soal bisa ditebak. Apa? Disiplin.
Kalau ada belokan ke kanan atau putaran U, maka sebagian pengguna jalan ogah mengantre di lajur terkanan. Nyodok is the best.
Hal sama berlaku di jalan tol. Lajur terkanan bisa melambat bukan hanya karena pengemudi bebal yang santai merambat tetapi juga karena mobil-mobil yang tak mau antre di lajur terkiri menjelang pintu keluar. Setelah dekat baru berpindah jalur secara bertahap.
Konon itulah kiat smart atas nama urban survival. Nah, yang terjadi pada foto tadi ya karena kiat smart itu. Apa boleh bikin.
Selain itu, jika menyangkut antar-jemput anak sekolah maka kita juga sadar ada persoalan di embarkasi dan disembarkasi. Anak sekolah, dengan bawaan yang tak cukup seransel tipis, itu berbeda dari serdadu yang diangkut truk (bukan bus). Serdadu dilatih lompat naik dan turun kendaraan dengan bergegas.
Anak sekolah? Misalkan mereka tertib, tetap saja proses naik-turun butuh waktu. Tiga puluh detik sudah cepat, tapi tetap menimbulkan antrean.
Apalagi kalau ditambah anak-anaknya santai. Jemputan sudah datang mereka masih di kantin atau ngobrol atau nyepi sambil memainkan peranti komunikasinya. Lebih celaka lagi: jam bubaran kelas tak serentak.
Pusing dan mbulet
Memang bisa saja ada yang beragumentasi, kalau semua tertib di lajurnya maka hasilnya adalah antrean mengular. Padahal yang namanya si ular itu juga menutupi persimpangan dan akses masuk ke gedung tertentu. Hasilnya tetap saja kemacetan. Karena sama-sama menghasilkan kemacetan ya mendingan saling serobot saja.
Orang Jawa bilang ini mbulet. Tertib mengantre bikin macet, ndak ngantre juga macet. Mirip buah simalakama (Dilemma simalakamiae) yang belum diimpor, apalagi dijajakan di pasar swalayan, karena belum lolos karantina Departemen Pertanian. Pendek kata bikin masalah.
Bisa saja ada beberapa orang yang tetap berpekerti dengan alasan untuk mendidik anak, supaya anaknya sejak kecil tak terbiasa melihat orangtuanya berlalu lintas secara ngawur. Itu mulia — dalam arti layak dibahas, bahkan dipuji, tapi tak usah ditiru. Anggap saja semacam etalase yang isinya tak harus kita beli.
Itu senada dengan pendapat, “Rugi kalau kita bener tapi orang lain ngawur”; seperti anak manis dan rajin ditindas oleh anak nakal dan malas.”
Sebagian dari kaum ini punya kilah hebat, “Kalau sampeyan itu tinggal di Singapura atau Jerman ya harus. Tapi ini Indonesia, kita kudu realistis.”
Mungkin inilah yang disebut bijak sekaligus taktis: masuk kandang harimau mengaum, masuk kandang kambing mengembik, dan masuk kandang zebra cari cat buat menggarisi badan.
Betul saudara-saudara, mirip praktik korupsi: kalo yang lain nyontek, rugi amat kita yang belajar malah dapat nilai buruk.
Jangan-jangan inilah syarat memajukan bangsa melalui seleksi kecerdasan sosial. Di mana kaki berpijak, di situlah harus kita cari tangga (berikut orang lain yang bisa diperdayai untuk memegang tangga) untuk menjunjung langit.
Daripada pusing ya lupain aja
Kalau Anda pusing dengan segala karut marut bangsa yang tecermin di jalanan, maka itu wajar. Anda orang biasa.
Kalau yang pusing adalah para tuan cerdik cendekia nan bijak bestari karena terkabar masih titisan dewa, maka itu aneh.
Supaya tidak aneh, maka solusinya adalah jangan ikut pusing. Misalnya dengan melupakan segala masalah transportasi. Atau dalam ungkapan Adinoto, transportasi publik adalah sarana pengangkutan yang diupayakan sendiri oleh publik — misalnya sepeda motor.
Karena sistem transportasi hanyalah bagian dari tata wilayah, maka permukiman baru boleh tumbuh semaunya dengan iklan yang menunjukkan derajat kemakmuran bangsa: sekian menit dari jalan tol.
Bahwa negeri lain yang makmur, pun industri otomotifnya maju, malah menjual kehebatan sistem transportasi publik, ah itu belagu aja.
Mereka itu curang, karena sudah sejahtera maka bisa berpikir kayak gitu. Kira-kira begitulah cara berpikir para tuan titisan dewa tadi.
Sebaiknya kita maklumi saja, karena rasio kendaraan kota yang (katakanlah) 70 persen untuk umum (bus, kereta) dan 30 persen kendaraan pribadi hanya cocok untuk masyarakat sudah tak menganggap mobil sebagai impian.
Maka masih dalam rangka tak mau pusing, yang penting ada busway. Bahwa busnya terbatas, bahkan ada yang belum dilalui bus (sehingga halte rusak nganggur), itu sudah merupakan komitmen. Jangan riwil.
Jadi harap dimaklumi saja kalau mulai 2 Agustus busway akan disterilkan, dan nantinya jumlah motor pada jam sibuk akan dibatasi di daerah tertentu. Orang pintar lebih tahu prioritas penanganan masalah — dalam arti sangat tahu bahwa soal mendasar sebaiknya dilupakan dulu.
Saya imbau Anda jangan gusar. Pemerintah, pusat maupun daerah, selalu berniat mulia. Janganlah, misalnya, meledek “3-in-1″ sebagai hal yang hanya menghasilkan joki. Mana ada orang menumpang malah dibayar kalau bukan di Jakarta.
Kabar terakhir, sejak awal Juli Mayasari Patas 9 berhenti beroperasi. Saya tahunya Ahad kemarin. Bus ini melayani trayek Pinangranti – Pramuka – Salemba – Senen – Gambir – Pasar Baru. Pinangranti – Pramuka via jalan tol.
22 Responses to Masuk Pukul Tujuh Pagi Lagi
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Humor dalam Hukum
August 18, 2006 by AntyoKETIKA PERATURAN BISA LUCU.
Pertanyaannya adalah: ini empiris sebagai petikan hikmah dari kasus, atau cuma hipotetis sekadar buat berjaga-jaga? Bayangkanlah lamanya mengantre parkir, dari gerbang masuk sampai mendapatkan kapling dan menutup pintu mobil. Selamat berakhir pekan!
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





itu sih, kalau sekolah cuma yang ‘the have’ yang bisa masuk, jadi ya ke sekolah praktis semua diantar. Jaman masih ada subsidi silang masih ngga sebanyak itu yang diantar. Apa tidak bisa dibuat jemputan bersama dari ‘pool’ di wilayah tertentu semacam bis sekolah lah.
masih ada ngga peraturan harus naik angkutan umum di sekolah itu? dulu ada pada hari tertentu
—
Jemputan bersama, semacam bus? Beberapa sekolah sudah. Tentang hari khusus naik angkuta umum di “sekolah itu” kayaknya nggak ada lagi deh :(
/tyo/
Kalau jam sekolah dimajukan, urusan domestik rumah memang kacau sejak pagi..dan bapak ibupun ikut berangkat lebih pagi..alhasil, macetnya lebih cepet lagi.
Sebetulnya yang sangat kurang angkutan umum…mestinya diperbanyak, dan yang bagus (seperti Patas AC)…yang bawa mobil juga capek kok, apalagi buat yang kerjanya lebih banyak di kantor..kalau ada acara meeting diluar ya pilih naik taksi, sekarang hal ini umum dilakukan.
—
Yah memang akar masalah di angkutan umum yang baik dan benar. Kita masih jauh dari itu.
/tyo/
ngedumel yg bagus pak tua, cuma ujung2nya kembali kepada mereka yg punya mobil. Supaya lebih bijaksana memakai mobil. Kalo cuma nganter anak gak usah pake supir dan pembantu. Antar aja sendiri, lebih bermanfaat ke emosi anak dan mengurangi kemacetan dan polusi. Ajari anak supaya mau pakai kendaraan umum, mrk jadi lebih peka sosial dan lebih bersyukur. Drpd nanti jd spoilbrat yg hanya bisa ngedumel dan ngedumel tanpa tahu harus bagaimana. salam.
—
Ngedumel mulu memang tidak bagus, untuk orang muda maupun terlebih orangtua. :))
/tyo/
sekolahnya suwasta ya pakde ?
yg negri masih 6:30 kok…
—
Ya. Partielir. :)
/tyo/
“Nyodok is the best” sebagai “Smart urban survival”
Lalu kalau macet total seperti pantura macet 2 hari 2 malam dua windu yang lalu bagaimana ?
“Kalau sampeyan itu tinggal di Singapura atau Jerman ya harus. Tapi ini Indonesia, kita kudu realistis.”
Apakah bukan realitanya bahwa selama disiplin kita belum seperti orang Singapura atau Jerman, maka kemajuan kita akan jalan di tempat ?
“Kalo yang lain nyontek, rugi amat kita yang belajar malah dapat nilai buruk.”
“Itu mulia tapi tak usah ditiru” sebab “Rugi kalau kita bener tapi orang lain ngawur”
Tapi Tuhan memberi banyak kemudahan padanya karena kemuliaan itu apakah rugi juga ?
—
Kembali kepada kenyamanan diri. Optimisme itu bagus dan perlu. :)
/tyo/
nggak papalah, la daripada masuk malam
—
Ada lho sekolah malam. Masuknya setelah filial petang. :D
/tyo/
saya bener-bener malu sama sistem transportasi kita, man. di Guilin, China, yang notabene kota kecil bener-bener teratur transportasinya.
bus kota melayani berbagai rute, datang silih berganti tiap menit. orang naik dan turun di halte. orang naik dari pintu depan, turun dari pintu belakang. teratur.
begitu naik, orang masukin duit ke kotak, supir pun cuma melirik mengawasi. padahal kalo mau, bisa saja naik dari pintu belakang dan gak bayar, tapi ndak ada yg melakukan itu.
di dalam bus pun, yg muda ngalah ama yg tua. manula dan ibu hamil, bawa anak, pasti dapat duduk. manula jalan-jalan juga gampang karena bus nyaman dan pasti duduk.
suasana terminal bus pun beda banget ama terminal kita. dan sopir bus itu nyetirnya santai, ndak grusa-grusu. kalo bus depan berhenti agak lama karena banyak penumpang naik/turun di halte, bus di belakang ngantri dengan tertib.
ongkos pun murah, cuma 1 yuan, sekitar 1.300 rupiah (di beberapa rute ada yg 2 yuan) bahkan ada yg gratis untuk bus turis, sight seeing bus.
—
Ayo studi banding ke sana. Dipandu oleh Mr Zamy! :D
/tyo/
macet nggak macet yang penting masih ada jalan. ingat pepatah, seribu jalan menuju ke roma, jadi kalau mau ke roma tidak hrus lewat jakarta…
*ingat macet ingat jalan di desaku yg masih becek.. :)
Kayaknya banyak orang yang gak sabaran kalau di jalan. Semua maunya maju, sampe depan ya mampet, malah gak bisa kemana-mana, trus rame-rame membunyikan klakson…haiyaahhh!
gimana kalo semua anak sekolah CBSA aja dirumah masing2 and yang pegawai admin dipinjemin komputer di rumahnya masing2 juga..pokoknya asal “kumpulakan Pekerjaan kalian!”..di jamin jalanan cuman didominasi sales keliling dan MLM ers…hee
wah… terkait dengan tulisan sebelumnya, pak pres akan tahu kemacetan jakarta dari udara jika naik heli.. disarankan naik heli jam masuk atau pulang sekolah.. hehe
Nah tu dia hebatnya jakarta. Bikin orang tua di jalan. Nggak tau positip atau negatip. Sama tua di kasur atau tua di depan laptop, atau atau tua di kantor. Yang jelas kalau tua di jalan lebih mlepek aja.
—
Hahahaha! Pas betul. :D
/tyo/
ada hubungannya dengan ibu kota nggak pakdhe? IBUNYA macet, ANAKNYA mbulet, BAPAKNYA ngumpet,
—
Ada. Lha itu sudah dicontohkan. :D
/tyo/
alah. sante saja man. seperti biasa, peraturan ini dan itu ga akan jalan… :P
–
Sodara Ipoul jangan gitu. Coba sini liat KTP-nya. :)
/tyo/
hidup bang Kumis….. sang Ahli kemacetan dan banjir DKI jakarta…. :D
setelah dia naik bukannya makin bener malah makin semrawut…..
–
Siapa Bang Kumis? Apanya Herr Kumis yang legendaris? :D
/tyo/
hubungannya sama Mayasari Bakti yg berhenti kui apa Paman?
—
Transportasi umum yang bagus itu disubsidi oleh pemerintah karena itulah cara untuk berhemat :)
/tyo/
mulailah trend yang sedang bergeliat:Ng-Onthel Paman
–
Sudah. Dikit. :) Karena sudah dikasih sepeda anyar oleh BikeToWork :D
/tyo/
Kemacetan, pengguna jalan menyalahkan para ahli dan pejabat berwenang. Padahal pengguna juga berandil, seperti yang ditulis di samping, dengan dalih urban survival :D
Kemacetan Jakarta tak akan bisa diurai tanpa kereta api di segala jalur. Percuma kalo kendaraan roda empat atau lebih, sama aja. Selain itu, pejabat & para ahli tak pernah memakai kendaraan umum. KLOP!
—
Klop! Ya!
/tyo/
saya sma dibandung masuk jam 6.30 lho dari dulu, deket sih tinggal ngesot doang berangkatnya :p
dari posisi penempatan stasiun dan terminal sudah kelihatan berpihak kemana si penentu kebijakan. Naruh terminal di tempat jin buang anak jelaslah orang memilih sendiri moda transportasinya sendiri.
—
Lha ya itu. :(
/tyo/
mau tau yang lebih seru Paman? Hujan jam 7 pagi. Makin semrawut itu macetnya. :D
—
Betul dan benar!
/tyo/
padahal setahu saya P9 itu salah satu pengumpan andalan komuter Bogor, Sukabumi, Cibinong, Citeureup untuk masuk ke Jakarta, setelah kapolda baru (waktu itu) bikin aturan baru bus AKAP dilarang melewati UKI Cawang..
Bang Paman, duit lebih banyak berputar di Jakarta, jadinya makin padat.. mau dikasih kendaraan umum sebanyak apa pun, kalau volume penumpangnya terus naik, suatu ketika akan jenuh dan orang akan berbalik ke kendaraan pribadi lagi (yang kalau melihat trend kebijakan, bisa dipastikan akan semakin mudah kepemilikannya).
—
Soal P9 memang begitu. Soal Jakarta yah ini akibat perancangan yang tamak, Jakarta jadi pusat segala hal. Di negeri lain, ibu kota malah bisa dibatsi cuma sebagai pusat pemerintahan, bukan kota bisnis, bukan kota industri, bukan kota anu, kota anu…
/tyo/
lha ‘ahli’-nya blm pernah terjebak macet itu, jd mgkn beliauw menganggap kemacetan jakarta itu cuma mitos yg dibesar2kan para komuter seperti panjenengan paman :D
—
Bisa jadi. :(
/tyo/