Majalah Cetak. Anda masih Butuh?
PERSOALANNYA APAKAH KONVERGENSI MEDIA AKAN MEMBUAT KITA LEBIH TERLAYANI.

Maka sebagai orang yang tak menerima kartu undangan, tetapi sudah terdaftar di komputer penyambut tetamu, datanglah saya ke pesta di bawah jembatan penghubung pada Grand Indonesia, Jakarta, yang diblokir tiga hari itu. Malam kemarin itu, 27 Juli, Kompas Gramedia (KG, alma mater saya), meluncurkan empat majalah berlisensi asing.
Majalah itu, Anda juga tahu, adalah Fortune dan InStyle (keduanya dari Time Inc.), serta Martha Stewart Living (Martha Stewart Living OmniMedia) dan More (Meredith Corp.).
Satu majalah bisnis dan tiga majalah gaya hidup. Maka CEO KG Agung Adiprasetyo ketika mengantarkan peluncuran berpidato ringkas yang isinya kira-kira adalah marilah berbisnis, cari uang, bersenang-senang, muda kaya raya, tua masuk surga. Sebuah gurauan yang pas. Let’s the party begins. Free flow drinks…
Peluncuran majalah di tengah sihir internet? Di sini saya tak mengutip data manapun soal bisnis media cetak. Lebih menarik bagi saya untuk bertanya apakah Anda masih butuh majalah?

Saya katakan butuh dalam arti barangnya harus ada dalam genggaman Anda, untuk Anda baca, dan tersedia untuk Anda secara berkesinambungan. Lebih penting lagi: Anda bersedia mengeluarkan uang.
Saya pernah ditanya beberapa orang apakah bloggers Indonesia membaca koran dan majalah edisi cetak saban hari?
Pertanyaan sulit karena saya belum pernah membuat survei. Juga sebatas saya tahu belum ada data seputar itu. Lebih utama lagi: bloggers yang mana?
Jangan menganggap penanya mengada-ada. Mereka berpengandaian, para bloggers sebagai penghasil konten pastilah butuh asupan informasi, tak hanya yang online melainkan juga yang tercetak.
Tidak, tidak, jangan ge-er dulu. Mereka tak berencana membuat majalah untuk bloggers. Mereka pun tidak menganggap bloggers sebagai kumpulan orang istimewa. Apalagi jika menyangkut pengguna internet, yang di dalamnnya ada sejumlah orang yang aktif di jejaring sosial dan mikroblog, maka bloggers pada hari ini hanya sebuah irisan.

Jadi, saya kembali kepada pertanyaan apakah Anda masih membutuhkan majalah?
Kita lihat majalah gratis ada yang bertahan ada yang mati. Yang gratis pun tak menjangkau semua orang karena distribusinya memakai beberapa titik penempatan, terutama resto dan kafe, yang tentu juga tak kerap disambangi semua orang karena pasal kepentingan dan biaya.
Bagaimana dengan majalah yang dijual? Ini menyangkut niat. Jika menyangkut pembelian secara eceran, bukan pelangganan, maka untuk mendapatkannya butuh tenaga karena harus mendatangi lapak dan toko, kemudian membelinya. Dalam kasus Anda, tentu Anda sendiri yang dapat menjelaskan.
Perihal majalah bermerek lokal atau asing, bagi saya bukan isu. Persoalannya tetap konten: cocok atau tidak dengan kepentingan pembaca. Juga, cocok atau tidak bagi pengiklan.
Maka terhadap sinisme seorang kawan yang menyebut pembeli majalah gaya hidup dan fashion wanita itu tertipu, hanya membeli katalog produk, saya tak bersepakat. Bagi saya iklan juga konten yang punya fungsi informatif.
Tentang konten yang sesuai dengan harapan pembaca, formulasinya ada di ranah psikologis. Proksimitas tak semata-mata geografis. Itu sebabnya majalah untuk cewek remaja jarang memuat gosip seleb lokal. Bukan karena TV sudah menghajarnya, tetapi karena pembaca menganggap sebagian kabar tentang seleb lokal itu cemen, tak semenarik Glee, Stepahnie Pratt, dan Katty Perry. Meskipun sudah ada di internet tetap saja menarik.
Tentang proksimitas yang mempertemukan aspek geografis dan mental, sehingga bisa disebut sebagai konten lokal (termasuk dari majalah bermerek asing), justru di situ tantangannya. Bagaimanapun pembaca, yang bukan pebisnis tapi sekadar pegawai swasta, ingin tahu apa langkah ReCapital. Adapun info luar, dari pemain yang terdaftar di NYSE, hanya menarik jika punya dampak ke bisnis di Indonesia.

Tapi ketika yang dibutuhkan oleh pasar lokal sudah tersaji oleh majalah cetak, masihkah Anda mau membelinya, bahkan misalnya untuk sekadar melengkapi pengetahuan umum dan bekal obrolan?
Tentu penerbit majalah tak hanya menjual kertas tercetak yang terjilid. Konvergensi media kian menarik karena saya yakin kanal semakin kaya, dan yang namanya organisasi pemberitaan itu dalam banyak hal tak dapat disaingi oleh penerbitan personal. Organisasi memiliki standar kerja kolektif, bank data, dan akses ke sumber penting — termasuk untuk memotretnya dengan hasil bagus — untuk menghasilkan konten.
Maka bisa dimaklumi jika tempo hari Rupert Murdoch marah, menganggap agregator sebagai pencuri, karena mereka meraup konten tanpa menggaji reporter dan editor.
“Tapi,” tadi malam seorang kawan mengirim BBM, “harga majalah tambah mahal aja.” Aha! :D

Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @PamanTyo Salam, kami dari @majalahBung ingin wawancara Anda. Bisakah minta email Anda ke: bung@ruangrupa.org agar kami bisa kirim undangan? May 24, 2012 majalahBung (Bung!)
- @PamanTyo Paman, kenapa di Crome blognya paman contains malware ya? May 24, 2012 metropulutan (Kom. Bloger Salatiga)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Murah Meriah Berfaedah di Kawasan Mewah
February 19, 2008 by AntyoSORE SETELAH HUJAN USAI, DATANGLAH AIR JAHE.
Mega Kuningan di Jakarta adalah kawasan yang sejak awal diniatkan sebagai ruang yang modern dan bergengsi. Keamanan dan kebersihan akan sebisanya dijaga. Penyapu jalan terus bertugas, itulah mungkin penyebab kotak sampah jarang kita jumpai di trotoar, tapi kita jadi bingung ketika akan membuang puntung rokok dan bungkus permen.
[...]
Recent Comments
Romi Julio Rahman» sangat memukau sekali artikel anda
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Limabelas tahun silam, tiap naik bus solotigo-kartosuro, saya selalu jaim sama tukang koran, menolak koran yang disodorkan dengan geleng-geleng, padahal mata melirik mengikuti pergerakan si koran berusaha menangkap sebanyak mungkin yang bisa dibaca, sampai “gulune meh pedhot” soalnya kalau beli koran nanti nggak bisa pulang
–
Leher hampir putus? Aha!
Memang mendingan numpang baca gratis saja. :)
/tyo/
Kalaupun saya beli hari ini, 3 bulan mendatang saya baca kondisinya persis seperti saat hari ini dibeli. Ternyata internet telah menyelimutiku!
—
Nah! :D
/tyo/
penting ga penting … aku sudahh lupa, kapan terkahir kali beli majalah ya? hmm…
—
Masalahnya, baik dapet gratis maupun beli, sempat dibaca apa gak? ;)
/tyo/
“The internet is exhilirating. Printed are enveloping. The internet grabs you. Printed embrace you. The internet is impulsive. Printed are immersive. And both media are growing.
And people aren’t giving up swimming, just because they also enjoy surfing.” ;))
—
Bijak banget dan Aip banget!
:D
/tyo/
Tyok…
Seneng banget bisa baca (lagi) tulisan situ…gurih, kemriyuk, …pedes…
Aku nggak mau komen utk judul ini..aku cuma mau menikmati masakan situ…
Tanks semua pencerahannya yang kemriyuk…
—
Kemriuk. Artinya garing. :D
/tyo/
Kalau soal kecepatan mendapatkan informasi, sudah pasti media digital lebih unggul. Tapi soal design, masih belum bisa ditandingi oleh majalah. Konten di website biasanya tampilannya begitu-begitu aja. Jauh lebih memuaskan secara visual kalau baca di majalah. Bagaimana menurut paman?
Tautan: Video presentasinya Jason: http://vimeo.com/4394152
—
Reader akan memindahkan rasa kertas kan? :)
/tyo/
iya ya. buat apa? ada bnyk yang gratis di intenet. aku blogger dapat aja infrpirasi dari TV dan pengalamanku sehari-hari. ada aja id-ide kreatif muncul di otakku sendiri. seperti bikin lagu anak-anak misalnya. artikel filsafat hakikat pendidikan dan lain-lain. lewat renungan dikit dapat indpirasi konten. majalah ada banyk di perpustakaan kota. banyak kok. jadi sekarang malah aku gak punya buku tapi punya perpustakaan kota. maaf narsis ya?
—
Bukan narsis tapi berbagi. Perpustakaan publik itu sangat amat perlu nian. :)
/tyo/
aku kadang masih baca majalah sejenis Times atau NG kok, tapi emang mahal :(
—
Yang kita butuhkan adalah yang murah, syukur gratis, tapi gak bikin penerbit dan awak redaksinya miskin :))
/tyo/
Ya butuh, tapi buat beli ngga kayanya, pinjem punya orang lain, deketin para tukang majalah, ke toko buku, pokonya baca yang gratisan, kecuali kalo harganya terjangkau dan memang butuh banget. Tapi seperti yang dibilang Pa Pong yang nyoret atap DPR tulisan juga udah ngga didenger. Males jadinya.
—
Gratis itu baik. :)
/tyo/
bahkan para wartawan media cetak itu pun makin jarang membaca media cetak. :D
—
Jangan bocorin rahasia dong! :)
/tyo/
Hampir tidak pernah membaca media cetak…
Beberapa waktu lalu pernah membeli tabloid tentang dunia komputer — dan internet tentunya — yang isinya cukup mengecewakan. Hampir seluruh kontennya berasal dari Internet.
—
Kalo majalah desain grafis? :P
/tyo/
Walaupun sekarang saya lebih sering membaca majalah (koran juga) secara online, kalau ada yang isinya menarik atau penting, saya tetap masih beli. Untungnya, untuk majalah impor yang harganya mahal-mahal itu, di perpustakaan umum di kota saya ada tersedia dan boleh dipinjam gratis dengan batas waktu 1 minggu sekali pinjam.
—
Berbahagialah kota dan masyarakat yang memiliki perpustakaan umum dengan koleksi yang terus diperbarui. :)
/tyo/
Buat saya edisi cetak lebih nyaman dibaca, coz klo lama2 liat layar monitor bikin mata capek juga :D
—
Betul! :)
/tyo/
Sekarang saya cuma langganan Kompas dan Kontan..dulu langganan majalah, tapi akhirnya berhenti, bacanya ga sempat, kan sayang. Tapi kalau ada yang penting baru beli..seperti celengan babi itu….
—
Memang kendalanya waktu ya, Bu. Saya juga :)
/tyo/