Berinternet dan Bermain Siput
SEBUAH SELINGAN KETIKA INTERNET KIAN CEPAT DAN MELELAHKAN

Anda jenuh dengan milis, blog, Facebook, dan Twitter, karena isinya terlalu banyak dan datangnya serentak? Cobalah bermain kartu pos. Lho, mundur dong? Biar. Buat selingan saja, anggaplah mencicipi masa lalu ketika menulisi kartu pos (dengan bolpen), menempelkan prangko, lalu mengeposkan, belum menjadi beban.
Rasa lama, sensasi baru
Memang kartu pos beneran, bukan digital, itu menjadi urusan yang melelahkan. Membutuhkan waktu karena perjalanannya lama, sehingga ketika e-mail mulai dikenal abad lalu maka surat pos pun diledek sebagai snail mail, alias pos keong.

Tapi sekarang penggabungan snail mail (tanpa online tracking) dan layanan internet malah mengasyikkan. Ada sensasinya karena kita tak tahu kapankah kartu pos kita, yang terkirimkan kepada orang yang tak kita kenal, itu akan tiba. Layanan semacam postcrossing.com memberikan rasa itu. Selain itu kita juga menerima kartu pos dari orang yang belum kita kenal.

Bingung? Begini. Anda adalah A yang terdaftar sebagai anggota. Secara acak mesin PostCrossing akan memilihkan orang yang harus Anda kirimi, sebut saja si B, di Bulgaria. Nama dan alamat si B dikirim ke e-mail Anda. Nanti setelah si B menerima kartu pos Anda maka dia melaporkannya ke portal.

Tanpa Anda ketahui ada si C di Chad yang diminta oleh mesin untuk mengirimkan kartu pos kepada Anda. Maka pada suatu hari Anda akan menerima kartu dari Deressia, Tandjilé, Chad. Tak ada kewajiban membalas, karena Anda cukup berterima kasih di portal. Kira-kira begitu aturan mainnya. Silakan Anda pelajari sendiri. :)
Cobalah membuat sendiri
Lantas kartu pos macam apa yang saya siapkan? Kartu pos bikinan sendiri, dengan foto hasil jepretan sendiri. Bukan karena mau gagah-gagahan sih, tapi karena lebih personal dan murah.

Personal, karena kartu posnya tak dijual di toko — bahkan dicetak terbatas. Murah, karena biaya cetak digital A3 di atas art carton 310 gram (berisi lima kartupos,) adalah Rp 20.000. Berarti per kartu Rp 4.000, gambar dan teksnya sesuka Anda. Ongkos kirim ke seluruh dunia Rp 4.000, kalau ke Amerika Serikat Rp 5.000. Itu pos biasa, bukan kilat.
Adapun punggung kartu pos, bisa saja Anda biarkan polos. Saya sih menambahinya dengan mencetak sendiri sehingga rada mirip kartu pos beneran. :D Maksud saya supaya nggak menulis hal yang sama berulangkali, misalnya alamat.

Apa kelebihannya bikin sendiri? Untuk saya berarti mengirimkan gambar keseharian Indonesia yang tak ada dalam kartu pos di toko. Kalau gambarnya Candi Borobudur dan sawah berundak di Bali, banyak orang sudah melihatnya. Terlalu turistis. :D Maka saya memilih gambar seperti yang sering muncul di blog, misalnya di Oh! Blogombal dan Memo.
Saya sadar kualitas foto saya buruk, antara lain karena hasil jepretan kamera saku biasa dan kualitas cetak instan digital yang ajaib. Tak apa, bukan soal. Namanya juga bikinan sendiri. :P

Konten Indonesia di ranah digital oleh orang biasa
Saya juga sadar bahwa gambar yang saya kirimkan tidak cantik, tidak mentereng, jauh dari gemerlap kemakmuran urban, komposisinya pun tak enak (lihat Crocodile Bread, itu konsekuensi cropping kepala), tapi saya merasa inilah cara lain untuk menyatakan Indonesia. Seburuk apapun kondisi negeri ini (padahal nggak buruk-buruk amat), tetap ada semangat hidup. Ada humor di sana. Ada kegembiraan. Ada semangat. Semuanya dari sudut mata orang biasa yang sekaligus orang dalam. Jadi, ini bukan menjual “eksotisisme kekumuhan”. :P
Misalnya keterangan kartu pos tentang perangkai bunga yang ngelembur hingga pagi:
FLORIST AT WORK. In the middle of the night a florist in Jalan Ahmad Dahlan, Jakarta, is still decorating painted styrofoam greeting-board. Most of Indonesian business people greet each other with floral boards, so the party venues will be full of boards.
Memang sih kartu pos saya, berikut keterangan fotonya, menjadi seperti foto koran; agak berbau jurnalistik. Apa boleh buat. Saya memang mengirimkan informasi, bukan sekadar gambar tanpa kapsi yang masih harus ditafsir-tafsir seperti umumnya foto “seni”. Inilah sebagian sisi daily life kita yang saya akrabi, karena toh ada keseharian lain yang bukan menjadi bagian dari kehidupan rutin saya.

Bagaimana kalau bahasa Inggris kita salah? Pede dan cuek saja, kayak saya. Di Inggris dan Amerika pun banyak orang yang tidak dapat berbahasa Inggris dengan baik dan benar. Itulah sebabnya portal kebahasaan di negeri itu bisa bertahan; banyak orang yang ingin belajar. Ingat, nggak semua orang berbahasa ibu Inggris itu cakap berbahasa selayaknya editor The Economist dan Time — apalagi sepiawai profesor hukum di Universitas Yale. :D

Bermain “kartu pos silang” (post crossing, bukan kartu pos berantai), menambah kesempatan saya untuk berkreasi, berkonten, dan merawat kewarasan karena punya saluran untuk bersenang-senang. Entahlah kalau suatu saat saya bosan. :D
Internet memberikan penyaluran untuk kreativitas Anda. Bukan hanya blog dan pembaruan status di Twitter maupun Facebook, tapi juga e-book dan kartu pos. Mari.
Percayalah, setiap orang itu (boleh merasa) kreatif. Terlalu banyak “tapi…“, “padahal…“, “sebenernya sih…“, dan “maunya sih gitu…” tak akan menghasilkan, minimal untuk diri sendiri. :D
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Jaksa Agung, Celengan, Studi Banting, Ariel
July 5, 2010 by AntyoHIBURAN NASIONAL ITU BERTEMA PEMBELOKAN MASALAH. NIKMATILAH.
Jika Anda, karena sial, akan ditangkap bahkan pasti akan diseret ke meja hijau karena memutarkan lalu melarikan (atau sebaliknya) uang koperasi, maka berdebatlah dengan penyidik. Bilang saja bahwa Jaksa Agung tak memiliki keabsahan dalam jabatannya, sehingga anak buahnya pun tak layak menuntut Anda. Yang penting ngeyel.
Intinya, meskipun [...]
Recent Comments
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Wah, dikatakan sudah kreatip (postcrossing) tapi ternyata ada yang mengotak-atik agar jadi lebih asik. Paman memang tak ada matinyeeee… :)
—
Kalau sudah sampai saatnya ya pasti mati. :)
/tyo/
dan yang paling menarik adalah “Percayalah, setiap orang itu (boleh merasa) kreatif” hi..hi.. jadi geli bacanya..
saya sudah sign up di postcrossing.com paman!!!
—
Kok geli kenapa? :D
/tyo/
Wah, bener juga. Perlu cari alamat teman-teman lagi…heheh. Siapa tahu masih terselip di buku diary lama.
—
Coba saja. Atau ya ikut layanan semacam postcrossing ini. :)
/tyo/
ide yang keren paman :)) … ah melu melu buat dewe wae ah :)
—
Ayo! Ayo! Mosok makan terus, Dut! :P
/tyo/
Wah…
Menarik nih…
Ketika FB,Twitter, dan konco2nya tak mampu menjangkau hal2 seperti ini..
Thanks Om..
—
Lho postcrossing juga ada di Facebook kok :)
/tyo/
aku koleksi postcard tapi baru dari indonesia, singapura, malaysia sama belanda.
mungkin kalau post card paman di perjual belikan bisa jadi koleksi tambahanku juga paman :D
—
Ndak diperjualbelikan. Ndak bakal laku. :D
/tyo/
wow….aq belum pernah berpikir utk mengirimkan snail mail.karna emang ya dah make blackberry jadi ngirim email udah sangat cepat.tapi mungkin snail mail ini bisa lebih romantis utk di kirim ke pacar ajah ya.haha…
—
Cieeee romantis, buat pacar :)
/tyo/
wah, saya jadi ingat sinikal beberapa teman soal kartu pos (ucapan lebaran, natal, dll) yang dikirim via pos dianggap kurang mentereng dibanding pesan singkat, email atau e-card. padahal……ada sensasi lain di jaman kini. seperti ketika saya dapat kiriman kartu lebaran dari Pamantyo, beberapa ramadhan silam.
—
Lho masih ingat to? Yang lebih penting ini: mari kita selamatkan kantor pos :)
/tyo/
Asyik paman!
—
Ayoah, Daus! :)
/tyo/
mau dunk, dikirimi ;)
—
Harus ikut possrossing dulu :D
/tyo/
ikut, tidak, ikut, tidak, ikut ah..
—
Jreng! :D
/tyo/
Ahh! Aku tau post crossing ini! Hihi.. Dulu pernah mau ikutan, eh tiba2 keenakan main di penpal online. Haha..
Gokil nih kartupos kartuposnya paman. Aku ingin yang kayak gitu ah. Ini nyetaknya di snappy2 biasa gitu, pam?
Boleh gak kapan2 aku minta 1 kartu posnya..? X)
Thanks for making my day paman! :D
—
Nyetak di Snappy, Tiw. Cukup jalan dari AD39 kok :D Aku aja jalan kaki dari Langsat :D
/tyo/
cetak kartunya dimana ?
—
Snapy 24 jam :)
/tyo/
Paman bisa aja? Orang lagi ribut mau perang, eh malah ngajak main siput.
Membayangkan Paman berbicara perang, kira-kira skenarionya seperti apa ya?
Peace, Paman? Layaknya Slankers berujar. :-D
—
Peace! Jangan peranglah, wahai Ihwan. :)
/tyo/
senangnya mulai banyak postcrosser dari Indonesia ;p
—
Kan ngikutin Restu :)
/tyo/
ancur !
keren2 Paman
justru dalam banality ada keindahan
sesuatu yang indah terkadang begitu sederhana
—
Wah mulai berat ini :)
/tyo/
Entah kenapa, saya kok tidak sependapat dengan paman. Foto-foto paman di Oh! yang panjenengan sebut jelek itu buat saya sangat unik, inspiratif, dan jurnalistik. Itu menyadarkan saya bahwa foto itu tidak hanya sekadar the rule of the third dan keindahan ala landscape belaka. :)
—
Mungkin secara jurnalistik rada kena tapi masih banyak yang kurang. Misalnya: gak ada orangnya, gak ada keterangan tempat, waktu, dan konteks. :)
/tyo/
Wah, kartu posnya bagus paman… Benar-benar menginspirasi..
—
Terima kasih, Mo :)
/tyo/
Weeeehhh….sesuatu yang baru nih untuk saya. Terima kasih untuk postingan ini, Paman! Semoga saya pede seperti Paman untuk membuat kartu pos dari foto hasil jepretan kamera poket saya. :D
—
Ayolah Mbakyu, ikut saja :)
/tyo/
Wah di Kemi matahari ngga tenggelam. Kayak anak saya aja lagi belajar ngirim surat
—
Iya, Kemi gak punya malam kayaknya. :) Mari kita belajar dari anak.
/tyo/
Padahal sampai kuliah dan 1 – 2 tahun setelah lulus saya masih suka korespondensi (duileh, istilah jadul). Itu pas sebelum milenium baru. Dalam waktu sepuluh tahun, tergantikan keyboard komputer, terlihat tulisan tangan kok jadi jelek :D
salut buat kartu pos dan foto2nya, Bang Paman… dan, aha, “bukan eksotisisme kekumuhan” *catet* :)
—
Korespondensi, sahabat pena. :D
Eksotisisme, bukan eksotisme kan? Romantisisme, erotisisme, narsisisme :)
/tyo/
jadi inget, saya udah ndaftar tapi blum sempet kirim, :p
—
Lha ayo! Dari Indonesia makin tambah kok :)
/tyo/
seneng banget dengan kata2 ini”Percayalah, setiap orang itu (boleh merasa) kreatif. Terlalu banyak “tapi…“, “padahal…“, “sebenernya sih…“, dan “maunya sih gitu…” tak akan menghasilkan, minimal untuk diri sendiri”.
terima kasih,paman..
—
Ah itu cuma bercanda. Saya juga sering begitu kok :D
/tyo/
hahaha..aku mau ikutan pamaaan
—
Ayo, Lé :) Komikmu itu saja…
/tyo/
kangen nulis surat pake tangan. kirim aaaah…
–
Mari! Fotomu bagus2 gitu lho… :)
/tyo/