Menjawab Pasar: Aquarius PI pun Tutup

Maka dengan gaya seolah tak tahu bertanyalah bos detik.com Budiono Darsono pada 2008 di blog ini, “Jadi toko CD tinggal menunggu waktu ya Paman?”
Jawabannya, Agustus ini, bekas tetangga detik.com sewaktu masih berkantor di Wisma Pondok Indah, yaitu Aquarius, tutup; menyusul Aquarius Dago, Bandung. Dagangannya diobral. Teman saya, kolektor CD (nota: saya bukan kolektor), bertanya via SMS, “Kita harus senang atau sedih?”
Bangunan bekas toko CD, yang dulu menjual CD dalam harga dollar Amrik itu, hanya akan dijadikan studio musik induknya, Aquarius Musikindo. Dan Anda tahu, Aquarius ini dulunya penduplikasi dan pengedar kaset dari album rekaman luar negeri, sejak akhir 60-an-an sampai 1988, sampai akhirnya Indonesia terikat hukum hak atas karya cipta internasional.
Kegenitan kelas menengah? :)
Seseorang rasan-rasan, kegemaran membeli CD asli adalah kegenitan sebagian kelas menengah. Dia contohkan, dulu ketika kaset masih berjaya, dan format digital seperti MP3 belum merebak, orang-orang itu membeli CD atas nama “kualitas” dan “sensasi memiliki koleksi terpajang”. Sekadar lanjutan dari era piringan hitam. Sekadar pelengkap dari buku yang bukan fotokopian. Hal ini terus berlangsung hingga munculnya CD writer yang kian terjangkau.
Lalu ketika format digital melindas analog (kaset, vinyl) dan digital tambun (CD), dengan aneka pemutar berentang kelas rendah sampai tinggi, dan distribusi berkas musik melalui internet semakin mudah, lengkap dengan sandungan legalnya, kelompok klangenan itu tetap membeli CD bahkan vinyl.
Padahal distribusi melalui laut-udara-darat itu mahal, untuk pemesanan pribadi bisa melebihi harga keping. Masa sih orang akan ngotot terus? Lantas ketika vinyl tertentu langka, masa harus mengopi piringan sendiri? Masih lebih praktis membeli turn table merangkap konverter ke MP3.
Eksibisionisme mereka di internet, melalui blog sampai Facebook dan Twitter tentang CD yang dibelinya, hanya diapresiasi oleh sesamanya, yaitu kaum genit. Kira-kira begitulah ringkasan pendapat dia.
Sejauh saya pergoki, duka di Twitter juga nggak meratap amat. Lebih penting sale ketimbang soal lain, itu pun kicauannya nggak bising banget. Kemasan fisik bernama CD itu mulai menjadi sejarah tapi tak begitu penting untuk dibahas. Artworks hanya hiburan mata, bukan untuk dimiliki. Cukup dari layar.
Pasar, musik personal, musik sosial
Mungkin dia benar, mungkin dia hanya sinis. Tetapi bagi saya ada hal yang lebih wigati: pasar sudah berubah. Penikmatan musik sudah jauh meninggalkan era Walkman dan Discman — dua jenis pemutar generasi awal yang personal dan mobile.
Di satu sisi penikmatan musik menjadi semakin personal, sehingga di mana-mana banyak orang memakai earphones yang terhubung ke media player (iPod tetap paling fashionable!) dan ponsel, di toilet, angkot, sampai bilik kerja. Hanya generasi tua yang (cenderung) tak tahan dengan earphones dan headphones berjam-jam. :)
Di sisi lain penikmatan juga lebih sosial: para penikmat musik bertukar musik melalui internet tanpa mengenal batas geografis. Lebih menarik lagi: tak perlu kenal secara personal.
Untuk kasus Indonesia kita bisa bertanya: dari sepuluh orang konsumen musik digital, berapa yang mendapatkan musiknya dengan membeli?
Jawaban guyon: “Kami membeli dengan waktu, bandwidth, dan kapasitas storages.” :D
Industri telekomunikasi lebih jeli. Maksud saya, ide boleh saja dari para content providers, tapi jalur distribusi nirkabel ada di operator. Dan hasilnya adalah sesuatu yang aneh tapi selama 2009 dikabarkan menghasilkan Rp 1,5 triliun, yaitu RBT (maaf saya belum mendapatkan rujukan andal). Aneh, karena para pemilik ponsel tak mendengarkan lagu yang disewanya; orang lainlah yang dia minta mendengarnya. Kalau pemilik ponsel ingin mendengarnya maka dia harus menelepon nomornya sendiri — tapi dari handset lain dan tetap butuh pulsa, entah siapa yang bayar. :D
Aneh atau tidak, Telkomsel pernah menyarangkan jurus unik: lagu lawas Musica Studio’s di-RBT-kan secara gelondongan.
Konsumen manis dan sayang
Akses internet memurah. Sampai lima tahun lalu pilihan utama karyawan indekos adalah menjadikan kantor sebagai warnet. Sekarang, karena laptop semakin murah, dan internet berarus kencang semakin mudah, masih ditambah hotspots di mana-mana, maka setiap orang dapat mengakses dari tempat yang dia suka. Tanpa laptop, jika urusannya hanya lagu maka ponsel pun dapat mengunduhnya.
Harga media penyimpanan semakin murah. Penyimpan 1 TB (3,5″, 7.200 RMP RPM), misalnya Seagate external expansion, hanya berharga Rp 850.000 (boleh dicicil enam kali). Cukup untuk gudang lagu pribadi. Jika satu CD album 45 menit yang dikonversikan ke MP3 (bit rate = 128 kbps) hanya akan menuntut ruang 41 MB, maka silakan hitung sendiri gudang lagu Anda. Isi pemutar cukup menimba dari gudang, kalau bosan tinggal dihapus.
Mayoritas konsumen adalah orang yang manis, kupingnya tidak rewel, sehingga pemutar di komputer atau portabel jenis biasa, dengan earphones bonus, sudah cukup.
Mereka tak merasa perlu terjebak snobisme yang menempatkan musik sebagai sajian bunyi yang harus dibedah secara laboratoris. Bagi konsumen lebih utama ini: micro hi-fi dengan colokan USB 1 GB, syukur dengan iPod docking, untuk ditaruh bersama vas bunga kering di meja kerja. Misalnya Polytron PNH 2100, bikinan (anak perusahan) Djarum Kudus, seharga Rp 2,1 juta.
Maka musik pun dipreteli, diecerkan
Dengan latar seperti itu, wajar saja jika label dan jaringan toko online menjual lagu per trek. Operator-operator Indonesia juga nyemplung ke sana. Aquarius pun akan semakin mendalami itu.
Adakah yang salah dengan mengecerkan lagu? Tidak.
Jujur sajalah, dari setiap album yang Anda beli, tak semuanya Anda gemari sampai mati. Pengecualian berlaku untuk, katakanlah, seorang fanatikus Koes Plus yang sampai berdebat dengan penjual kaset bekas di Jatinegara, Jakarta Timur, karena dia hakkul yakin bahwa semua lagu Koeswoyo Boyz itu the best.
Jauh hari sebelumnya, pada abad lalu, musisi dan label meluncurkan single, bukan long play, juga karena kesadaran bahwa lagu adalah lagu. Ini soal dengaran: enak di kuping atau tidak. Bedanya, sekarang sebuah lagu enak di tangga hits bukanlah penggiring konsumen untuk membeli albumnya maupun kemasan kompilasinya. Hanya lagu itu thok yang dibutuhkan.
Adapun soal berbusa tentang kajian diskografis dan “album konsep”, beserta telaah visual, itu jatahnya orang yang berlebih waktu dan barangkali memang menempatkan debat sebagai hiburan. :P
Persoalan hari ini tetap sama dengan dulu. Konsumen bilang, “Kami butuh musik yang gampang didapat dan murah, kalau bisa gratis.”
Kalau dibawa ke seminar inilah lanjutannya, “Tugas musisi dan industrilah untuk mencari jalan bagaimana kaya tapi konsumen tetap mendapatkan hiburan murah.” Misalnya melalui cara yang lebih canggih dari menjual musik bersama ayam goreng.
Terhadap media cetak, terutama buku, konsumen masih bisa menenggang bahwa yang dibelinya bukan sekadar kertas bercetak karena di baliknya ada mata rantai kreatif. Tapi terhadap CD, konsumen merasa berhak untuk jengkel, padahal secara prinsip tak beda dengan buku: media dan konten tak dapat dipisahkan.
Omong-omong, kapan terakhir kali Anda membeli CD musik asli, bukan CD kosong untuk diisi musik asli (bukan cover version)? ;)
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Khasiat Kamera Digital
May 29, 2008 by AntyoDARI BODY PARTS SAMPAI NOMOR SASIS.
Ketimbang repot mencatat secara manual, petugas pembaca meteran PLN akhirnya memakai kamera digital. Semoga jepretannya fokus. Dan semoga kartu memori tidak rusak sebelum angka yang terbaca itu disalin. Bagaimana kalau timbul dispute? Gampang: retake. Tak perlu menanya ahli metadata apalagi metafisika.
Kamera digital memang menyenangkan. Praktis. Gampang. Makin [...]
Recent Comments
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





terakhir beli CD Gugun Blues Shelter bln lalu. lagu2nya maut tp artworknya butut banget :D. oya itu yg dipesen pasti CD progresip rock langka klangenan kaum mapan seperti panjenengan paman :P
—
Saya bukan orang mapan. Bisanya cuma mapan turu. :)
/tyo/
Saya termasuk yang tidak suka menyimpan MP3 bajakan, terutama untuk lagu Indonesia. Kalau saya punya MP3 nya di Laptop/Ponsel, berarti saya punya CD/VCD aslinya,atau punya CD MP3 asli (yg skrg banyak dijual di minimarket juga).
Kalau tidak minat beli CD nya,saya cukup puas dng muter YouTube atau denger radio.
Jadi ya saya kehilangan bila toko CD tutup, tapi saya berharap makin banyak pilihan membeli musik (fulltrack) digital.
btw, musisi juga jualan di hipermarket, minimarket dan warung ayam. Memang di era sekarang, pemilik distribution channel adalah rajanya. Bila sudah punya outlet, apa saja bisa dijual. Tinggal apakah musisi siap memikirkan bisnis ?
—
Full track maupun eeran, pokoknya distribusi secara online, memang menjadi pilihan. Lebih murah. :)
Soal ayam goreng dan sejenisnya, itu memang kreativiyas dalam memperkaya jalur :D
/tyo/
saya beli cd original 1 tahun yang lalu langsung pesen ke groupnya (album indie).
Jadi kira2 kalau tidak inovasi = mati ??
—
Hmmm tanpa inovasi nggak mati, bergantung ada pihak lain yang masih menghidupi apa nggak. :D
/tyo/
“Penyimpan 1 TB (3,5″, 7.200 RMP)”
koreksi, bukan RMP tapi RPM (Revolution Per Minute)
2 merk disebut, dapet insentif gak, Paman? :D
—
Suwun. Maaf ndlèngèr eh meleng. Gak ada intensif atau apa, biar jadi rezekinya mereka. :D
/tyo/
duuuh mendoaakan saja moga besok baik semua adanya…
–
Lho kok didoakan? :)
/tyo/
Walah, di Dago Bandung udah lama tutup. :( Semoga yang di Surabaya gak tutup… :)
—
Bergantung sewa toko , gaji karyawan, THR karyawan. Mungkin toko online bisa lebih efisien.
/tyo/
saya baru bulan kemarin Paman beli CD asli. Di Aquarius Mahakam sebelah kantor yang kebetulan belum ditutup :D
kegenitan kaum menengah? ah tidak juga.. ini lebih kepada usaha saya menghargai karya orisinal :)
tapi iya sih, ada kalanya membeli sebuah CD lagu penuh pertimbangan karena tidak semua lagu saya gemari. Makanya saya lebih suka membeli album The Best of -nya saja.. hihihihi
—
Dengan harapan, semoga the best-nya memang sesuai selera kita. :)
/tyo/
terakhir beli albumnya Moby. 2 bulan yll. ya tetep di rip jg buat dimasukin ke ifun. biasanya beli cd kalau album dr musisi tsb memang susah didapet.
lalu kalau sering maen ke myspace dan rajin bertani disana, mungkin bisa dapat musik2 bagus dengan gratis dan legal ;)
—
Betul. Banyak lahan legal juga kok :)
/tyo/
belum ada sebulan yang lalu sih, itupun karna harganya udah di obral banget. biar begitu tp industri musik ga akan pernah mati, hanya cara memperoleh penghasilannya saja yang berubah, dari tadinya jual musik, mungkin sekarang jual experience melalui konser2 live, musisi bakal jadi seperti papan iklan berjalan dengan berbagai endorse yang melekat padanya..
—
betul. gigs, merchandising, rbt, itu lebih menghidupi. :)
/tyo/
beli CD asli cuma untuk lagu n film lokal…klo yang luar nagri wajib “dicolong”…hee
—
Kasihan sama artis lokal ya? :)
/tyo/
Salam kenal.. Saya penikmat diam-diam dari tulisan njenengan :)
Aquarius PI itu legenda buat saya. Sering dikatain jadul ato sok karena ndak pernah beli benda2 bajakan tapi ya gimana wong memang ndak pengen. Terakhir beli CD musik asli 3 hari lalu di Sangaji
—
Salam kenal kembali. Sangaji kuat di jazz, kan? :)
/tyo/
Saya tetep beli CD musik asli Paman. Sesekali beli juga yang eceran secara online, tapi rasanya gimanaaa deh! Kayak gak asli gitu loh :) Mungkin saya termasuk orang kuno ya…
—
Gak kuno, cuma klasik eh vintage :P
/tyo/
ngomong2, ini iklan produk jg ya pakdhe?
—
Dianggap iklan boleh. Kalau ada brand yang diuntungkan ya silakan. Yang pasti saya nggak dibayar :D
/tyo/
saya mah bajakan mulu..yang asli emang gak reasonable harganya..
—
Harga buku juga bukan cuma kiloan kertas kan? :D
/tyo/
Sejak mengenal MP3 saya belum sekalipun beli CD yg asli. Kalau beli malah cari yg bajakan, trus sampai di rumah langsung dipindah2 isinya ke kompi,hahaha..
—
Iya, wong akhirnya sama-sama dibakar dan di-share :D
/tyo/
OK dach Paman Tyo…no comen dl ah…”Kupasan menarik n cerdas”tq Lek.
—
Terima jadi. :D
/tyo/
Itulah salah satu dampak dari perkembangan teknologi yang terjadi. Ngga tahu deh kedepannya inovasi yang akan muncul apalagi. Btw, bubye CD…
—
Buktinya piringan hitam belum punah. Produksi anyar masih ada. :)
/tyo/
gak pernah beli CD paman krn bukan penikmat CD, tp beli kaset terakhr msh inget di Aquarius Blok M (atau Disc Tara ya? udah kelamaan di SMG :P )
saya juga jarang jarang download …seringan malah dengerin radio lewat streaming :)
—
Wah berlimpah bandwidth rupanya… :)
/tyo/
terakhir kali aq beli CD tuh pas jaman aq smp deh.jadi tahun 2000an gt.itupun banyak CD nya yg rusak.jadi mending make mp3 ajah yg emang bagus dan portable. :-)
—
Betooollll! :)
/tyo/
wah sayang harus di tutup gan
berbagi info askep
—
Kehendak zaman. Apa boleh bikin. :)
/tyo/
Tetep paling nyaman denger dari CD (yg asli, bukan bajakan atau hasil bakar sendiri). Terakhir saya beli 2 bulan lalu :D
—
Topppp :)
/tyo/
saya terakhir membeli CD asli Michael Buble. karena di sini susah untuk mencari CD asli. paling kalau ada kesempatan untuk pergi ke Jakarta.
—
Duh jauh amat? Di Palembang masa gak ada? :)
/tyo/
tulisan yg lengkap tentang fenomena bisnis musik, keren paman..
saya, terakhir beli CD asli ya punya G n’ R yang terakhir, yang cuma sisa Axl doang, tanpa Slash,
udah, itu satu2nya CD asli yg saya beli, walau ya itu, harganya luar biasa mahal buat saya.
sekarang sih, nyari lagu, tinggal donlot, kualitasnya pun bagus. Para pebisnis musik memang harus putar otak lebih keras lagi.. Tapi ya sudah konsekuensi, mungkin ya
—
Biarlah mereka yang mikir :D
/tyo/
“Kami butuh musik yang gampang didapat dan murah, kalau bisa gratis.”
hahaha … cucok paman! saya sering mengunduh dari dunia maya, lagunya sesuai selera. *upss, buka kartu neh
—
Aha! :D
/tyo/
(Sungguh tulisan nan panjang). Saya sangat jarang beli CD, Paman. Jadi lupa kapan terakhir beli CD musik asli (kalau nggak salah, album George Michael). Dihitung-hitung, lebih banyak beli kaset —termasuk yang berlabel Private Collection (dari Aquarius)dan berlabel YES (antara lain album-album Genesis nan lawas itu).
—
Private Collection (Aquarius, Jakarta) memang head to head sama Yes (Diamond, Bandung). Bedanya Aquarius punya toko dan… menjual Yes juga :D
/tyo/