Anda Nanti Memilih Siapa?
KETIKA ANDA MARAH DAN MUAK TERHADAP ANGGOTA DPR.
Jika Anda hari ini menyimpan kemarahan terhadap politisi busuk, terutama yang ada di DPR-RI dan DPRD, maka Anda telah mengabaikan nasihat dokter untuk menjaga kesehatan. Jangan biarkan tensi menanjak, atau lambung perih, atau kulit gatal, hanya gara-gara para kunyuk itu.
Jika Anda meluapkan kemarahan agar bendungan perasaan tak jebol di dalam, maka itu boleh-boleh saja – asalkan tidak mengalihkan sasaran. Tetapi percayalah, apapun makian dan penistaan Anda terhadap politisi busuk, itu tak membuat mereka bereaksi apalagi memperbaiki diri. Eh, ingat ya: hanya politikus (tunggal) dan politisi (jamak) busuk. Masih ada politisi yang genah, termasuk yang di parlemen.
Kasus terbaru tapi polanya lawas ya ini. Rencana membangun lapangan futsal Rp 2 miliar (batal). Renovasi toilet Banggar Rp 2 miliar. Renovasi ruang rapat Banggar Rp 20,3 miliar (batas atas anggaran malah Rp 24 miliar). Kursi impor yang terlalu mahal (lihatlah harga di Politikana). Kalender diri sendiri senilai Rp 1,3 miliar. Permintaan bantuan sosial Rp 4,3 triliun kepada Kementerian Pertanian. Biaya studi banding Rp 100 miliar selama setahun…
Orang bisa bilang, kesalahan bukan sepenuhnya ada pada mereka. Bukankah anggota DPR bisa ganti lima tahun sekali tetapi birokrat di sekretariat jenderal tak berganti lima tahun sekali? Atau kalaupun birokratnya ganti, partiturnya tetap sama? Ah, sudahlah. Kalau anggotanya DPR-nya lempeng, dan waspada, serta ingat, tentu tak akan membiarkan diri tersesat apalagi sengaja menempuh jalan sesat.
Menistakan politisi busuk…
Dalam Postyorous Menerous, yang menanggapi kartun kasar Tempo, saya sempat melontarkan canda ini:
Kalau ada orang menghina para politikus busuk di DPR secara terbuka, satu per satu, dan menistakannya secara personal sampai ke sisi yang sangat privat, kalau perlu memfitnahnya dengan cara paling kejam dan biadab, apakah yang terkena akan menggunakan hak hukumnya untuk menggugat? Jika diam, berarti mereka bebal. Jika menggugat, berarti mereka tak tahu malu, tak tahu diri.
Ah, perwujudan ide itu butuh syarat: pelakunya punya napas ekonomi yang panjang. Dia memilih tak mau mengaku bersalah apalagi meminta maaf, dan siap membayar denda serta masuk bui.
Di luar soal ekonomi tentulah pertanyaan kepada diri sendiri. Melakukan serangkaian hal itu sama saja mengabaikan hak asasi manusia. Biar bagaimanapun yang namanya politisi busuk itu masih diakui oleh masyarakat dan negara, serta keluarga besarnya, sebagai manusia. Bahwa mereka sendiri tak peduli apakah dirinya manusia, itu lain soal.
Sebetulnya yang lebih wigati adalah ini: kalau kita melakukan cara-cara yang tak terhormat, lantas apa bedanya kita dari mereka?
Mengawal rekrutmen politik. Ada saran?
Maka persoalan kita adalah rekrutmen politik. Dari kandidat legislator yang kelak diajukan oleh partai untuk mewakili organisasi, bukan mewakili rakyat, tipe manakah yang akan Anda pilih? Bagaimana menilai kwaliteit daripada yang mana mereka?
Konon keledai paling bodoh pun takkan dua kali terantuk batu yang sama. Tetapi keledai optimistis selalu berani mengambil risiko. Tanpa partai, tanpa pemilu, maka transisi dalam demokratisasi akan jauh panggang dari api. Untuk sementara, demokrasi prosedural pun terpaksa kita terima. Demokrasi salah pilih terpaksa kita jalani. Kalau kita tak sabar maka kita mempersilakan diktator bengis, lalu penulis blog akan dianggap subversif.
Memang mendebarkan. Tetapi dalam pemilu nanti nomor urut kursi bukan pedoman – berbeda dari pemilu 2009 yang perubahannya di tengah jalan sehingga membuat kagot kandidat – sehingga para caleg mestinya bisa mengemas komunikasi yang lebih meyakinkan. Tanpa harus meminta caleg meneken dokumen atau menegakkan sumpah pocong, konstituen cukup membuatkan blog gratisan yang berisi janji setiap calon (atau malah web berbasis Wiki), berikut cuplikan kicauannya di linimasa. Minimal, kalau si politikus melenceng, keluarganya akan malu.
Kalau keluarganya tak malu? Misalkan Anda tinggal di rumah loteng, dan berada di bawah, berucaplah, “Kita serahkan kepada yang di atas.” Jika bagian teratas adalah langit-langit dan banyak tikusnya, maka urusannya akan dioper Dewa Tikus. Kalau urusannya sampai begini, berarti keputusasaan Anda sudah pol.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Belok Kiri Jalan Terus: Harus Belok atau Terus?
August 17, 2006 by AntyoAPARAT TAK MAU BIKIN RAMBU, WARGA MELAKUKANNYA.
Ini soal lama, di banyak kota sudah mulai direvisi. “Belok kiri jalan terus” sudah menjadi “belok kiri langsung”. Dulu orang asing yang belajar bahasa Indonesia, seperti Nico Schulte Nordholt, dibingungkan oleh “katanya belok, kok terus?” dan menanyakannya kepada orangtua saya.
Kemarin malam di Kedoya, Jakarta [...]
Recent Comments
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)






kalau bingung gak usah milih :D
kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja..
hehe..
kalo aku masi bingung,,hemmh,,
Man… aku mau sharing pengalaman pribadi soal ini.
Dulu pernah ada tahapan dalam angkatanku di kampus, tak bisa selamanya marah-marah, demo kian-kemari, dan berlagak jadi Soe Hok Gie yang jaga jarak dari dunia politik. Impian kami waktu itu tak terlalu muluk sampai DPRI. Tak ada kekuatan sebesar itu kami punya. Tapi, karena kami di Aceh, dan ada kemudahan pasca damai, demi mewujudkan apa yang kami sebut idealisme, mewujudlah partai lokal saat itu, yang digagas oleh senior dan kawan-kawanku. Partai Rakyat Aceh. Partai lokal pertama dalam sejarah Republik Indonesia yang diakui di negeri ini. Lalu lahir partai-partai lokal lain, termasuk Partai Aceh yang identik dengan GAM, dan Partai SIRA yang dibangun oleh para aktivis yang dulu jadi pelopor gerakan referendum di Aceh. Kami sangat optimis saat itu. Tak ada kebencian dan persaingan antar sesama parlok. Aku dan kawan-kawan di PRA, mengenal siapa Kautsar di PA, juga kawan-kawan lama di SIRA. Juga dengan panglima-panglima GAM generasi muda (termasuk beberapa komandan sagoe yang dulu sehaluan dan kubantu bikin skripsi di IAIN Ar-Raniry), yang akhirnya melebur dalam Partai Aceh.
Besar mimpi kami. Semangat kami bukan main. Saat itu, dalam benak kami yang muda-muda lintas partai lokal yang juga masih muda, kami memiliki musuh yang sama: sebuah sistem korup turunan Jakarta sebagai pusat. Dan lebih dari itu: Partai nasional yang sontoloyo di mata kami.
Lalu tibalah pemilu 2009. Dinamika politik memanas. Aku pulang dari Banda Aceh, dan mengurus PRA untuk kabupatenku. Masih semangat. Masih ber-idealisme tingga: kami menolak funding dari pengusaha. Aku bahkan menolak ajakan tawaran kerabat dan kaum keluargaku untuk naik menjadi anggota dewan dari partai nasional seperti Demokrat, Golkar dan PPP, dengan kans besar (karena puak keluargaku cukup besar di wilayah ini). Aku memilih untuk duduk sebagai pengurus, dan berpijak pada konsep awal kami: pencerdasan masyarakat, tak peduli kami menang atau kalah. Dengan kekuatan partai lokal, kami mengeritik pemerintahan di Aceh. Termasuk gubernur Irwandi Yusuf yang dulu aku mengenalnya sebagai dosen di Unsyiah, dan sebagai komandan Psy-ops GAM. Juga Nazar, mantan petinggi Sentral Informasi Referendum Aceh, yang dulu sama-sama menggalang massa untuk Referendum kedua di tahun 2001.
Apa yang terjadi? Jika Paman Tyo pernah membaca buku Gurita Cikeas, apakah percaya atau tidak, aku berani katakan bahwa ada poin yang benar di sana. Poin di bagian ini :
Apa yang terjadi? Pelacuran politik. Seberapa hebat idealisme orang muda dalam Partai Aceh, tetap saja cemar dengan perilaku elit politik yang lebih tua. Sofyan Dawood dan berbagai petinggi GAM yang cenderung konvensional, berselingkuh dengan Partai Demokrat, menjadi ketua Tim Sukses SBY untuk wilayah Sumbagut, dan memastikan kemenangan SBY 90% lebih di Aceh. Imbal baliknya adalah kongkalingkong politik dengan himbauan agar jika tidak memilih PA, pilihlah PD.
Apa jadinya? Di Aceh merah dengan PA dan biru dengan PD. Siapa yang duduk? Para elit politik tua semua, tak ada yang muda. Bukan yang dulu beridealisme tinggi. Mereka disepak dan tersingkir. Persis dinamika politik yang terjadi belakangan ini menjelang pilkada di Aceh. Silakan baca ini.
Apakah salah partai semua? Tidak. Selain partai politik dan sistem politik yang sakit, masyarakat juga sakit. Mulai dari level daerah sampai level pusat. Mulai dari para awam sampai para ulama. Tak ada ulama yang benar-benar melawan money politics padahal mereka seharusnya menentang, mereka ada massa.
Aku kecewa nian saat itu, di tahun 2009. Bukan cuma karena partai lokalku tak seberapamana meraih kursi, bahkan di kabupatenku tak dapat apa-apa, tapi kecewa karena memang waktu terlalu singkat untuk memberikan penyadaran politik pada masyarakat. Mengajarkan mereka untuk menerima uang jika dibagi, tapi jangan pernah memilih jika disuruh, bahkan jika itu orang tua kami sendiri yang melakukannya.
Golput? Dulu itu pernah jadi opsi. Bahkan di tahun 2004, aku termasuk dalam kalangan mahasiswa yang menolak pemilu di Aceh, dan mendukung mogok massal. Untuk apa pemilu saat itu, ketika orang-orang di sini ditembaki dan para wakil rakyat seperti meletakkan mulut mereka di pantat.
Lalu berubah pikiran, golput mungkin benar. Tapi sebaik-baik diam adalah lebih baik maju dan terjun, tentu dengan meninggalkan barisan lain untuk memonitor, menjaga apakah mereka yang menyebut diri mereka idealis itu nanti akan sama menjadi kerbau dalam kubangan lumpur politik, atau bertahan jadi orang yang mencoba menghalau kerbau keluar dari kubangan. Ada yang harus berlumpur, ada yang harus merenung-menekur. Demikin prinsip dulu.
Tapi memang semua tak sesederhana itu. Parlok pun bisa menjadi sama bejat dengan parnas. Meski, kalau pun pemilu sekali lagi, aku akan tetap menghasut masyarakat di daerahku untuk menolak parnas. Untuk apa parnas, yang bahkan tak bisa bicara tentang kampung di pusat sana. Mereka cuma orang daerah yang mendulang suara di daerah, tapi berpeci, berjas, berdasi, bermulut dan bertelinga seperti arahan partainya di pusat sana.
Entahlah, Man. Masih tak sanggup akal kami untuk berpikir nasional, ketika di kampung halaman sendiri, para wakil rakyatnya masih menjadi sampah masyarakat. Sampah dari masyarakat yang sakit yang memilih orang yang mereka minta turun kembali.
Alex recently posted..Video Membunuh Bintang Radio Dan Internet Membunuh Masa Lalu
saya juga bingung kebanyakan dari mereka adalah mengajukan diri, mestinya kalaupun tanpa kita memilih dan langsung dijadikan wakil ya gak masalah buat saya.
tujuan utamanya kan pemilihan itu hanya untuk membatasi kuota bukan memilih siapa yang terbaik toh mereka orang2 hebat yang mengajukan diri.
kenapa kita pusing harus seolah2 menseleksi mereka supaya tidak seperti tikus ya ?
hahaha aneh. padahal mereka mengajukan diri sendiri. :d
ardiansyah recently posted..Lubrikasi Mesin (Umum)
untung aku golput :P
hedi recently posted..Lagu Lama: Krisis Keuangan
Wah.. juni ini saya sudah dapat KTP.. jadi kalo pemilu berikutnya, saya gak bakal milih siapa pun.. karena saya takut kecewa akan hasilnya.. seperti sekarang ini..
[...] | http://blogombal.org [...]
Poligami:
banyak pasangan.
Politikus:
banyak tikus.
ada lagi Om yang kurang, DPR akan membeli Gorden seharga Rp 6 juta/meter..
Sangat sulit memang ketika dihadapkan pada kenyataan seperti ini Om, padahal pada awal pemilihan kan mereka semua baik-baik, berkelakuan baik, dan meskipun ada yang betul-betul baik, terkadang ketika mereka berada didalam, sikap dan pemikiran mereka bisa berubah..
Sepenggal kalimat yang teman saya pernah katakan..
Pemikiran kita dipengaruhi oleh kedudukan, kita dibawah tentu akan memperjuangkan yang dibawah juga. Sekarang kalau kita sudah diatas, lantas bagaimana kira-kira…
^_^
Endy recently posted..Sampai Kapan "Anda" Terus Begini ?
seperti yg dahulu, saya pasti bingung memilih siapa, mungkin kita harus puasa dulu menajamkan hati supaya tidak salah pilih lagi…
masigit recently posted..Cardigan lucu GKC620
kapan hari membaca blog penulis “Tere-Liye”, intinya tetap lebih baik memilih para caleg itu daripada golput.
ya resikonya kadang memilih yg paling baik diantara yg busuk, Paman (-_-)”
karena kalau golput, malah kemungkinan yg menang itu yg benar2 yg paling busuk.
wallahu a’lam
Ijinkan saya meng-quote sebaris kalimat ini Paman… ”
Kalo sudah berbicara tentang hal tersebut, memang tak ada salahnya kita kembalikan pada diri, berkaca pada diri.
Hanya saja sepertinya juga tak keliru khan kalau kita juga musti mengambil sudut pandang menurut posisinya masing-masing.
Okeylah kita sama dan nggak ada bedanya dengan mereka, akan tetapi bukankah kemarahan serta kemuakan itu adalah bagian dari tuntutan dan kritikan yang sudah sewajarnya ada sebagai “hak” juga dari posisi ‘rakyat’ sebagai yang dilayani taa…?
Saya rasa hal yang menyangkut “hak” sebagaimana yang paman argumentasikan itu jugalah yang menjadi acuan “apa bedanya kita dari mereka”
Mereka punya hak, kitapun memilikinya.
Mereka ada kewajiban mengabdi pun melayani, kitapun memiliki kewajiban membayar abdi pun pelayan itu entah melalui pajak atau hal lainnya.
Demikian saya, Paman… :P
Maztrie recently posted..Ada ACTA di balik SOPA and PIPA
kadang rada bingung kalau pas pemilu legislatif, gak kenal sama calon-calonnya
andinoeg recently posted..Menambahkan Efek Pada Foto Facebook Secara Online
memang udah putaran jamannya paman, udah takdir juga dilahirkan di jaman kolobendu ini, bahkan yang suka teriak2 diluar sana juga mempraktekan praktek2 korupsi seperti ngompreng disaat jam kerja, korupsi waktu, selingkuh sana sini. yang berbeda karena politisi ini punya akses di blow media aja yang lain yo podo ae…maap lho paman, agaknya ini memang udah putarannya…
boyin recently posted..Bunaken, Wisata laut yang mencengangkan
Saya nggak merasa perlu membuang waktu mikirin ulah anggota dewan yg ‘terhormat’ itu.
Mending waktu dan tenaga ini saya pakai buat nge-blog dan membaca blog-blog seru macam ini :)
sabai recently posted..Incredible India: Fatehpur Sikri
Kalo mau tak peduli sih mungkin bisa karena saya tak membayar pajak dan mengharapkan kembalian di Indonesia… tapi telinga tetap tak bisa tertutup dan mata juga tak bisa mengejap… mungkin saya perlu pindah ke Finlandia sana supaya tak dengar politisi2 busuk itu ngelawak di media :)
Eh, saya nulis tentang hal yang kurang lebih sama di http://donnyverdian.net/2012/01/26/otak-dan-pantat.html
Mungkin agak kasar, tapi mungkin itu tanda ya udah pol2an :)
Kebanyakan orang malah pasrah paman, diserahkan pada yang diatas? sesuatu tak akan berhasil tanpa usaha, berdiam diri terus berdoa. Ini bukan zaman nabi yang tiba2 mukzizat jatuh dari langit.
jadi dipikir2,…. saya malah bingung milih, netral juga bukan keputusan tepat :(
Kaget recently posted..Bawa Pulang Lumpur Mu
Antara yang memilih dan dipilih seringkali sama tidak jelasnya, sama tidak jelasnya akan kebijakan apa yang semestinya diusung bersama :|.
Cahya recently posted..Little Globes of Natural Happiness
Cahya: justru ketidakjelasan itu yang menyenangkan bagi para semprul sontoloyo :D
Secara naluri setiap manusia punya pilihan. Tergantung norma yg dianut paman.Kita bisa kecele, kalo ternyata politisi busuk itu banyak pendukungnya ketimbang pengkritiknya.
Singkatnya, politisi busuk bagian dr representasi masyrakat kita. Lha wong- (kayaknya, sih)- msh banyak masyrakat yg nunggu amplop mereka, ketimbang melihat track recodnya. hehe
saiful recently posted..Tahun baru 2012 : Catatan Kaki Menuju Generasi yang Peduli
Saiful: Memang bisa begitu. Dalam masyarakat paternalistik yang dalam batas tertentu menenggang korupsi oleh (calon) pejabat publik, bisa saja seorang kampret punya banyak pendukung — apalafi di wilayah elektoral yang diwarnai politik klan dan puak.
Tapi yah, transisi itu harus kita lalui dan kawal :)
Berat, memang :)
Saya ikut milih lah paman, sudah punya KTP juga kok. Lagian seru aja klo kelingkingnya ada tinta warna birunya. Kalo berhubungan dengan tebar menebar duit jelas saya terima lah paman. Masalah milih ya jelas ndak saya pilih yg tebar duit. Wong sudah ndak bener. Ya toh?
Masalahnya nih paman. Kadang kita gak kenal sama yg kita pilih. Setidaknya kita harus tau barang sedikit saja mengenai rekam jejak mereka kan? kalo gak ada yang tau piye paman? kalo gak srek semua piye juga? saya banyak tanya ya, mumpung gratis dan belum njenengan pungung biaya :D
sibair recently posted..Senggang
Aduh typo ki piye ngapuse, maksutnya pungut paman, pungut. Jangan dimarahi ya :))
sibair recently posted..Senggang
Sibair: Nantinya mau gak mau karena gak pakai “nomor jadi” caleg kudu lebih komunikatif sama konstituen. Itulah saat rakyat mengedukasi politisi, boleh debat dan nanya kritis :D
Kalo mereka nggomblohi ditinggal pergi saja, ndak usah dikamplengi
Kita, saya maksudnya, sudah kehilangan kesabaran untuk anggora dewan yang entah bagaimana bisa sedemikian sistematisnya korup dan menyebalkan. Memilih atau tidak tak ada bedanya.
bangsari recently posted..Darurat
Bangsari: karena gak beda jadi boleh saja memilih :D
Saya tidak tahu siapa yang akan saya pilih, tapi saya tahu tidak akan memilih mereka yang ketahuan bagi-bagi duit untuk beli suara, punya istri lebih dari satu (kebutuhan rumah tangganya pasti lebih besar), punya dan atau terafiliasi dengan kumpeni nakal, dan pasang spanduk/bilbor/iklan kampanye norak yang cuma bikin polusi kota, media dan mata :P
Mpokb: Kalo mereka tebar duit, ya diterima saja. Gak ada kontrak harus milih mereka, kan? :D
Soal pasang materi kampanye yang ngerusak lingkungan, saya setuju. Begitu juga soal keterkaitan dengan kumpeni brengsek.
Kalo soal istri lebih dari satu? Zaman sekarang kan banyak wanita karier dan bisniswati, bisa jadi dia/mereka yang mengongkosi suaminya to? :)
Sepertinya saya tidak ingin memilih siapa-siapa, Paman. Karena yang mencalonkan diri biasanya punya kepentingan, entah besar atau kecil. :)
Sukadi recently posted..Sedikit Bersabar Saat di Lampu Merah
Sukadi: Lha ya sudah pasti punya kepentingan. Kalo gak punya kepentingan, termasuk kepentingan rakyat, itu aneh :D
Kalau buat rakyat, itu bukan kepentingan, Paman. Buat rakyat itu kewajiban.
Kepentingan yang saya maksud, kepentingan pribadi dan golongan.. :D
Sukadi recently posted..Kang Gendon Kecelakaan
Sukadi: Oh terima kasih atas pencerahan njenengan. Ada interest, ada obligation ya. :D
Sepertinya di Pemilu 2013 saya akan memilih lagi partai yang sudah saya pilih di pemilu 2009 dan 2004 (juga pemilu 1999 waktu masih belum ganti nama).
Sedang nama wakil, biasanya saya telusuri jejak rekam masing – masing dan saya pilih yang terbaik.
Sejauh ini saya tidak menyesali pilihan saya, meski kinerja partai pilihan saya belum sebagus yang saya harapkan, namun masih tetap terbaik di antara yang ada.
Kalau bingung, ya istikharoh saya.
Syafrudin: Media sosial mestinya bisa menjadi salah satu sarana pengendus rekam jejak, terutama jika si politikus sudah lama menggunakannya, jauh hari sebelum dia mencalonkan diri untuk jabatan apapun :)
Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana: mengumpulkan berita-berita dari berbagai media untuk dipajang di sana.
Alex recently posted..Tentang Fitur Reblogging