<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blogombal [√] &#187; Advertorial</title>
	<atom:link href="http://blogombal.org/category/advertorial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogombal.org</link>
	<description>catatan ringan angin-anginan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 10:35:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Satu Hati: Membantu Sesuai Kebisaan</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/04/11/satu-hati-membantu-sesuai-kebisaan/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/04/11/satu-hati-membantu-sesuai-kebisaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Apr 2011 19:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[almart]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[CSR]]></category>
		<category><![CDATA[kepedulian]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pocarisweat]]></category>
		<category><![CDATA[prambors]]></category>
		<category><![CDATA[PT Amerta Indah Otsuka]]></category>
		<category><![CDATA[satu hati]]></category>
		<category><![CDATA[satuhati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4356</guid>
		<description><![CDATA[<p></p> <p>Kebisaan atau kebiasaan? Yang pertama lebih diutamakan. Kebisaan untuk membantu pendidikan melalui <a href="http://www.satuhati.com/">Satu Hati</a>. Bentuknya bisa menyumbang <a href="http://www.satuhati.com/donate/tunai" target="_blank">uang</a>, menjadi <a href="http://www.satuhati.com/donate/sukarelawan" target="_blank">relawan</a>, atau <a href="http://www.satuhati.com/donate/showunjukbakat/2" target="_blank">unjuk bakat</a> dengan lipsync lagu Sherina (bukan lagu Shakrukh Khan) di YouTube, tapi boleh juga bergaya briptu.</p> <p>SatuHati mulai digelar pada 2007, menghasilkan Rp 144 juta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="satuhati" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-satuhati.jpg" alt="" width="450" height="231" /></p>
<p>Kebisaan atau kebiasaan? Yang pertama lebih diutamakan. Kebisaan untuk membantu pendidikan melalui <a href="http://www.satuhati.com/">Satu Hati</a>. Bentuknya bisa menyumbang <a href="http://www.satuhati.com/donate/tunai" target="_blank">uang</a>, menjadi <a href="http://www.satuhati.com/donate/sukarelawan" target="_blank">relawan</a>, atau <a href="http://www.satuhati.com/donate/showunjukbakat/2" target="_blank">unjuk bakat</a> dengan <em>lipsync</em> lagu Sherina (bukan lagu Shakrukh Khan) di YouTube, tapi boleh juga bergaya briptu.</p>
<p>SatuHati mulai digelar pada 2007, menghasilkan Rp 144 juta dan 26.338 buku. Pada 2008 terkumpul Rp 883,88 juta dan 23.318 buku. Pada 2009  teraup Rp 1,1 miliar dan 25.623 buku. Pada 2010 tak ada, tapi untuk 2011 diharapkan akan terkumpul cukup dana dan buku untuk, antara lain, pegembangan perpustkaan sekolah di Boyolali, Ende, dan Depok.</p>
<p><object width="450" height="283"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/FyKCzElHSBM?fs=1&amp;hl=en_US&amp;rel=0" /><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="450" height="283" src="http://www.youtube.com/v/FyKCzElHSBM?fs=1&amp;hl=en_US&amp;rel=0" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always"></embed></object></p>
<p>Tetapi, ya tetapi, gerakan ini kan ditaja oleh korporat, yaitu PT Amerta Indah Otsuka, produsen Pocari Sweat? Kenapa masyarakat <em>harus</em> dilibatkan? Bahkan ada pula Alfamart dan Prambors. Kalau mau menyumbang, lakukanlah sendiri&#8230;</p>
<p>Sebetulnya bukan &#8220;harus&#8221;. Ini soal pilihan. Bagi saya sih tak soal, asal tujuannya baik. Toh tak semuanya bisa kita harap dari pemerintah.</p>
<p>Pihak swasta bisa mengambil peran sosial untuk apapun, dari olahraga, hidup bersih-sehat, sampai pendidikan. Masyarakat bisa diajak sehingga nantinya itu semua disebut sebagai sumbangan masyarakat, sedangkan kalangan bisnis hanya menjadi fasilitator.</p>
<p>Yakin? Sejauh informasi yang saya tangkap begitu. Artinya sebagai sebuah semangat, kehirauan masyarakat itu bisa dan boleh saja diteruskan atau diulangi oleh korporat lain. Penerapan dan sasarannya bisa bermacam-macam.</p>
<p>Di sisi lain, masyarakat bisa dan sudah melakukan aneka gerakan amal, kemudian meminta korporat tertentu membantu. Tak soal, kan? :)</p>
<p>Mari. :)</p>
<p><em>* Sesuai nama kategori, tulisan ini berada dalam keranjang Advertorial. Artinya merupakan tulisan titipan atau pesanan, dan dalam kasus ini berbayar. Meskipun begitu keseluruhan isi adalah tanggung jawab saya.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/04/11/satu-hati-membantu-sesuai-kebisaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setelah Menanam Lantas Apa?</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/04/19/setelah-menanam-lantas-apa/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/04/19/setelah-menanam-lantas-apa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 13:02:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[djarum]]></category>
		<category><![CDATA[kudus]]></category>
		<category><![CDATA[penghijauan]]></category>
		<category><![CDATA[trembesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2273</guid>
		<description><![CDATA[KITA MENANAM UNTUK ESOK, BUKAN HARI INI. <p></p> <p>Mau gerakan sebatang pohon, atau sejuta pohon, sebetulnya ada persoalan lain. Yaitu setelah pohon ditanam, lantas siapa yang merawat? Jawaban gampang: ya masyarakat. Tapi nanti dulu, masyarakat yang mana?</p> <p>Memobilisasi orang, asal caranya pas, kayaknya gampang. Apalagi yang berbau seremonial, ada seragam dan foto bersama segala. Lantas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KITA MENANAM UNTUK ESOK, BUKAN HARI INI.</h3>
<p><img class="alignnone" title="pohon trembesi" src="http://i897.photobucket.com/albums/ac178/gambargambir/comotan/blogombal-trembesi-wiki.jpg" alt="" width="360" height="258" /></p>
<p>Mau gerakan sebatang pohon, atau sejuta pohon, sebetulnya ada persoalan lain. Yaitu setelah pohon ditanam, lantas siapa yang merawat? Jawaban gampang: ya masyarakat. Tapi nanti dulu, masyarakat yang mana?</p>
<p>Memobilisasi orang, asal caranya pas, kayaknya gampang. Apalagi yang berbau seremonial, ada seragam dan foto bersama segala. Lantas dokumentasi visual masuk ke blog dan Facebook.</p>
<p>Nasib si pohon? Entah. Dalam hati kita berharap semoga ada yang mengurusi entah siapa. Sudah bersedia menanam kok masih diminta jadi tukang kebun. Celaka nian.</p>
<p><strong>Berkelanjutan dan rasa memiliki</strong></p>
<p>Yang kita butuhkan adalah program yang berkelanjutan, bukan cuma <em>one shot</em>. Pelibatan khalayak tak cukup hanya hanya saat menanam tapi juga merawat.</p>
<p>Kesediaan merawat hanya bisa muncul jika ada rasa memiliki. Nah, ini yang agak berat. Proses komunikasinya lebih serius, karena ada pemantauan. Kalau digampangkan, ya pemantauan yang melibatkan para penanam.</p>
<p>Tahun lalu, ketika bersua di sebuah kedai kopi, seorang kawan dari LSM bercerita bahwa kelompoknya mengajak masyarakat menanam pohon di sebuah pulau di Kepulauan Seribu. Setiap pohon (saya lupa pohon apa) diberi nama. Lantas secara berkala, sekian bulan sekali, penanam akan diajak ke pulau.</p>
<p>Memang berupa obrolan ringan sehingga saya lupa detilnya. Tapi bagi saya ini menarik. Ada pendekatan berkelanjutan dalam kegiatan itu. Setiap relawan yang terlibat menjadi pemilik pohon.</p>
<p><strong>Untuk hari esok</strong></p>
<p>Tentang penanaman pohon, saya teringat cerita yang saya baca saat saya masih SD. Seorang kakek menanam pohon entah apa. Lantas tetangganya, yang lebih muda, bertanya apa manfaatnya karena setelah pohon berbuah si kakek sudah mati.</p>
<p>Si kakek kurang lebih menjawab, &#8220;Aku menanam pohon ini untuk cucu-cucuku.&#8221;</p>
<p>Ini serupa alasan yang menjiwai Wahyu Nurdiyanto (<a href="http://wahyunurdiyanto.dagdigdug.com/2010/02/19/nandur-tunas-kelapa/ " target="_blank">Nothing</a>) sehingga saya kutip dalam <em>random quote</em> di kolom pinggir <a href="http://memo.blogombal.org" target="_blank">Memo</a>: menanam pohon kelapa untuk hari esok, untuk anak-anaknya (19 Februari 2010).</p>
<p><strong>Trembesi: pilihan dan kontroversi</strong></p>
<p>Pohon apa yang sebaiknya ditanam? Beberapa kalangan menganjurkan trembesi (<em>Samanea saman</em>).</p>
<p>Pohon ini cepat tumbuh (dalam lima tahun, diameternya 25-30 cm), berumur lama (bisa seabad, bila merujuk kasus Malang, oleh <a href="http://wahyunurdiyanto.com/2009/02/12/wit-tuwo-mati/ " target="_blank">Nothing</a>), kanopinya meneduhkan, kayu tuanya bisa untuk perabotan (bahkan gitar), dan yang lebih penting lagi bisa menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen.</p>
<p>Menurut Endes N. Dahlan, dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam berita <em><a href="http://sains.kompas.com/read/2010/02/23/09592198/Pro.dan.Kontra.Trembesi " target="_blank">Kompas</a></em>, sebatang pohon trembesi berdiameter tajuk 10-15 meter bisa menyerap 28,5 ton karbon dioksida per tahun.</p>
<p>Akan tetapi Mochammad Na’im, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam berita yang sama, mengingatkan bahwa trembesi juga memberikan evaporasi (pemguapan) yang tinggi sehingga mengancam sumber air.</p>
<p>Adapun Mustaid Siregar, ahli ekologi tumbuhan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), <a href="http://sains.kompas.com/read/2010/02/16/03152785/Trembesi.Tanaman..Asing " target="_blank">menyarankan kehati-hatian</a> dalam menerapkan gerakan menanam trembesi mengingat trembesi adalah tanaman asing, padahal tanaman lokal ada yang terbukti tepat.</p>
<p>Manakah yang benar, termasuk benar dalam arti tepat sesuai lingkup penerapannya, tentu butuh kajian lebih jauh.</p>
<p>Lantas, dikaji dulu baru ditanam atau langsung tanam saja? Saya tidak tahu jawabannya karena saya bukan ahli. :D</p>
<p>© Ilustrasi: <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Samanea-saman.jpg" target="_blank"><em>Wikipedia Indonesia</em></a></p>
<div class="caption"><em>Tulisan ini adalah advertorial (titipan) dengan pengolahan isi sesuai selera saya dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.</em></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/04/19/setelah-menanam-lantas-apa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Kecil dalam Diri Kita</title>
		<link>http://blogombal.org/2007/09/04/anak-kecil-dalam-diri-kita/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2007/09/04/anak-kecil-dalam-diri-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Sep 2007 07:53:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Advertorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2007/09/04/anak-kecil-dalam-diri-kita/</guid>
		<description><![CDATA[KITA MENYUKAI PERMAINAN. <p></p> <p>Kita semua masih kanak-kanak. Masih menyukai permainan. Homo ludens. Ketika kita dewasa, politik pun menjadi mainan (ingat istilah &#8220;percaturan&#8221;?). Bahkan bisnis pun, bagi orang tertentu, kadang masih dinikmati sebagai permainan (ingat &#8220;goreng-menggoreng&#8221; di bursa?).</p> <p>Permainan itu bisa berupa keasyikan tanding dan lomba melawan orang lain. Bisa juga sekadar melawan permainan itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KITA MENYUKAI PERMAINAN.</h3>
<p><img src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/comotan/xplor-1.jpg" alt="x-plor" class="normal" /></p>
<p>Kita semua masih kanak-kanak. Masih menyukai permainan. <em>Homo ludens</em>. Ketika kita dewasa, politik pun menjadi mainan (ingat istilah &#8220;percaturan&#8221;?). Bahkan bisnis pun, bagi orang tertentu, kadang masih dinikmati sebagai permainan (ingat &#8220;goreng-menggoreng&#8221; di bursa?).</p>
<p>Permainan itu bisa berupa keasyikan tanding dan lomba melawan orang lain. Bisa juga sekadar melawan permainan itu sendiri &#8212; tepatnya melawan si perancang permainan.</p>
<p>Tapi, hehe, bisa juga karena alasan yang nggak jelas. Yang penting mempermainkan sesuatu, seperti seorang balita yang menjadikan apa saja untuk dipermainkan. Setiap tindakan akan mendatangkan perubahan. Itulah yang mengasyikkan. </p>
<p>Si Upik atau Buyung tak melawan siapa-siapa. Dia hanya memainkan, mempermainkan. Tak beda dengan orang dewasa yang menjadikan hajat hidup orang banyak sebagai hal yang mengasyikkan untuk digoyang. </p>
<p>Dalam tingkat yang ringan, karena tak mendatangkan bencana, itu disebut keisengan. Misalnya meletuskan plastik kantong cemilan. Kalau gara-gara itu ada orang terkena serangan jantung maka masalahnya jadi lain.</p>
<p>Kecenderungan yang kekanak-kanakan itu sudah lama ditangkap kalangan pemasar. Dari serial kartupos ala Adracks yang bisa digandeng dengan lembar lain (seperti <em>puzzle</em>) sampai <em>advergame</em> yang berbasis multimedia. Semuanya ingin memanfaatkan dorongan kanak-kanak dalam diri konsumen. </p>
<p>Blogger kita <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/index.php">Pitra</a> sangat paham soal <em>advergame</em>. Kampanye kondom untuk mencegah AIDS, iklan kutang, iklan pembalut wanita, dan entah apa lagi, banyak yang dikemas sebagai permainan lucu di internet.</p>
<p>Yang terbaru adalah sajian PT Exelcomindo Pratama untuk menjual <a href="http://www.makinseru.com/">X-plor</a>. Anda boleh melemparkan panah <em>dart</em> ke arah si Mbak yang doyan buang pulsa sampai lupa sekitar. Berhadiah kok. </p>
<p>Lho kok blog ini ikut jual kecap? Iya, iya, posting ini iklan. Maka harus dinyatakan terus terang supaya tak mengecoh pembaca. :D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2007/09/04/anak-kecil-dalam-diri-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

