PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK

CATATAN PASCA-NATAL.
"Terkadang aku menyesal karena gagal mengupayakan 'perpanjangan waktu' buatmu." (Facebook, 24 Desember 2009, 19.09).
"PakNo sering tanya: 'baiknya aku menyerah atau bertahan?' Aku bilang 'terus bertahan...', meskipun aku nggak tega melihatnya. (Japri adik saya, tentang adik saya satunya lagi dalam paragraf barusan, 25 Desember 2009, 00.03).
KENANGAN TENTANG BOCAH KESAYANGAN TETANGGA.
Bunyi "praakk..." yang pelan. Seperti suara bambu kering terbelah, kata sang penolong. Setelah bunyi itu, seorang bocah perempuan usia dua tahun lebih hanya bisa gagap berteriak kepada pria yang kemudian turun tangan itu, "Aihan, dalah, dalah." Yang dia maksud adalah Rayhan, bocah satu tahun lebih sepuluh bulan, temannya bermain, anak tetangga depan rumah.
Saya tidak melihat. Saya hanya mendengar penuturan beberapa saksi.
MAKA KENANGLAH NILAI TUKAR RUPIAH (SEJAUH ANDA INGAT).
Dengan selembar dua ribu rupiah, apa yang akan Anda dapatkan? "Selembar dua ribuan" dan "uang duaribuan", adalah istilah baru yang muncul tahun ini, bulan ini. Belum banyak berita kisah (features), dan terutama fiksi, yang sampai hari memakai istilah itu sampai hari ini.
Denominasi baru memunculkan istilah baru. Dalam belantara teks, terbukti bahwa blog lebih dulu memakainya. Misalnya Junaidi Muadzin: "selembar uang dua ribu".
TERIMA KASIH SAYA DAN KELUARGA.
SMS dari Zen, si Pejalan Jauh itu, pada 25 Desember lalu, pukul 04.56, jauh dari niat bergurau: "Pasti ndak biasa merayakan kelahiran (yesus) di tengah kematian (mas-e njenengan). Ikut berduka, Paman. Selamat natal. Damai buat semua. Amien."
Saat itu saya sedang dalam perjalanan bergerimis dari Jakarta menuju Yogya, antara lain bersama ibu saya. Baru selewat pukul sepuluh pagi lebih saya tiba di rumah Kepuh Wetan, Klitren.
NAMANYA ANAK, TAK BISA DIDUGA...
Saya tak begitu memperhatikan sampai anak bungsu saya terkikik dan menggamit saya. "Lihat, Pak," katanya, di sebuah mal, tadi malam. Oh ternyata di antara manekin di balik kaca itu ada seorang bocah. Dia diam, mungkin sedang membayangkan diri sebagai boneka pajang. Misalkan dia berlama-lama di sana mungkin orangtuanya akan kelabakan mencarinya.
Namanya juga anak. Ada saja pembetot minat mereka yang kadang tak terduga. Kedua anak saya, waktu masih bocah, kadang bikin repot dan malu karena menyusup di antara baju-baju yang digantung di toko.
MELEDEK KEKUASAAN UNTUK MENGHIBUR DIRI.
Rp 10.000 dapat tiga kantong cemilan. Misalnya sale pisang, kacang telor, sompia. Itulah oleh-oleh yang barusan dibawa oleh istri saya. Dia membelinya di kantor. Bukan soal rasa yang hendak saya bagi tapi kemasan. Tepatnya label merek. "Kriuk" -- sesuatu yang mewakili bunyi dan sekaligus ledekan terhadap guyon garing. "Bagi Rasa bukan Bagi Kekuasaan" -- itu jelas meledek penguasa dan orang partai.
Maka saya menyebut penggoyang dagu ini sebagai cemilan subversif. Misalkan makanan berkelas industri rumah tangga (P-IRT 206360301268) ini muncul pada Orde Baru, maka pemiliknya bisa berurusan dengan Koramil dan Kodim.
MAKA ANAK-ANAK PUN BICARA TENTANG MUTILASI.
Selagi bersantap ringan sendirian sambil sesekali klak-klik laptop, lelaki itu dihampiri oleh pramusaji yang menyodorkan sebuah pesan. Oh, sebuah surat, ditulis pada bagian belakang nota pesanan makanan dan minuman. Isinya ajakan perkenalan. Lalu pramusaji itu, pemuda 21 tahunan, menjauh. Ketika dipanggil dan ditanya siapa si pengirim surat, maka jawabannya adalah, "Saya, Kak..."
Bukan hal baru. Dari dulu ada saja cara berkenalan di kedai dengan memanfaatkan pelayan melalui secarik kertas. Bisa juga dengan lirak-lirik lalu tanpa diminta ada traktiran secangkir kopi ("Sudah dibayar sama Mbak di pojok itu").
BAGIAN DARI MATA PELAJARAN DI SD.
Ketika saya telepon, malam itu anak bungsu saya sedang mengerjakan PR. Kok ada suara TV? "Iya, Pak. Memang PR-nya nonton TV lalu bikin kritik," katanya.
Wah boleh juga. Baru dua hari sebelumnya ada Hari Tanpa TV. Lantas Bu Guru Bahasa Indonesia menyuruh anak kelas enam SD membuat "kritik sinetron". Maka dia tongkrongilah Upik Abu dan Laura. Kali itu dia nonton sinetron karena tugas dari Bu Guru. Ketika saya tanya repot apa tidak, dia hanya tertawa-tawa.
ANTARA MEMBIARKAN TAHU SENDIRI DAN MENGAJARKAN...
Huh, bikin judul kok sekalian cari sensasi. Mana mengundang robot spammer lagi. Bahkan bisa saja (semoga tidak) terkena jerat hukum. Apa nggak ada kata-kata lain? Maafkan saya. Tahanlah kegusaran Anda. Izinkanlah saya bercerita tentang seorang ayah dan kedua putrinya. Setelah selesai membaca, tumpahkanlah kekesalan Anda.
"Mari kita lihat gambar," kata si ayah, untuk memperjelas diskusi. Lalu dibukanya sebuah halaman web. Kedua putrinya, yang satu remaja, yang satunya lagi jelang akil balik, menyebut gambar itu "wawuk" dan vagina.
MUNGKIN MALAH SAMA SAJA. :D
Konon hanya orang sibuk yang bisa menghargai apa yang disebut "santai". Untuk pemalas bin pengangguran, santai bukanlah kemewahan.
Ada pula pendapat, hanya orang yang rajin bangun pagi yang akan beroleh rezeki. Mereka yang takut kepada Matahari akan jauh perolehan nafkah.
Maaf, shoutbox prei dulu. Harap, eh harus maklum. Terima jadi. :)