<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blogombal [√] &#187; Keluarga</title>
	<atom:link href="http://blogombal.org/category/keluarga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogombal.org</link>
	<description>catatan ringan angin-anginan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 08:41:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Kematian dan Garis Akhir Derita</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/01/02/kematian-dan-garis-akhir-derita/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/01/02/kematian-dan-garis-akhir-derita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 05:09:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[almarhum]]></category>
		<category><![CDATA[arsitek]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[natal 2009]]></category>
		<category><![CDATA[prono numatyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=1957</guid>
		<description><![CDATA[CATATAN PASCA-NATAL. <p></p> <p>&#8220;Terkadang aku menyesal karena gagal mengupayakan &#8216;perpanjangan waktu&#8217; buatmu.&#8221; (Facebook, 24 Desember 2009, 19.09).</p> <p>&#8220;PakNo sering tanya: &#8216;baiknya aku menyerah atau bertahan?&#8217; Aku bilang &#8216;terus bertahan&#8230;&#8217;, meskipun aku nggak tega melihatnya. (Japri adik saya, tentang adik saya satunya lagi dalam paragraf barusan, 25 Desember 2009, 00.03).</p> <p>Tanggal 28, tiga hari setelah Natal, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>CATATAN PASCA-NATAL.</h3>
<p><img class="normal" title="Prono Numatyo dan ibunda K.N. Daldjoeni" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/rumah/ibu-prono-12des2009.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p><em>&#8220;Terkadang aku menyesal karena gagal mengupayakan &#8216;perpanjangan waktu&#8217; buatmu.&#8221;</em> (Facebook, 24 Desember 2009, 19.09).</p>
<p><em>&#8220;PakNo sering tanya: &#8216;baiknya aku menyerah atau bertahan?&#8217; Aku bilang &#8216;terus bertahan&#8230;&#8217;, meskipun aku nggak tega melihatnya. </em>(Japri adik saya, tentang adik saya satunya lagi dalam paragraf barusan, 25 Desember 2009, 00.03).</p>
<p>Tanggal 28, tiga hari setelah Natal, menjelang waktunya itu tiba, adik saya yang masih sadar berucap kepada pendeta bahwa dirinya siap. Setelah itu dia sempat menanya <a href="http://terapikomik.blogdrive.com" target="_blank">keponakan </a>yang menunggunya apakah sempat tidur, dan lantas bagaimana soal pekerjaan. Pagi sekitar pukul 9.45 dia berpulang. Tak tega saya menceritakan deritanya di sini. Esok siangnya, di bawah gerimis, dia dimakamkan di sebelah bapak saya.</p>
<p><img class="kiri" title="profil facebook prono numatyo" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/rumah/mesin-cuci-prono2009.jpg" alt="" width="150" height="179" />Memang tak mendadak. Tetapi situasi memburuk rasanya berlangsung cepat dari hari ke hari. Ketika saya menjenguknya ke Yogyakarta, 12 Desember, dia tampak menderita. Saya tak tega. Sehari setelahnya, 13 Desember, dia mengganti gambar profilnya di Facebook dengan mesin cuci.</p>
<p>Ya, dia masih punya rasa humor meskipun pahit. Ketika menunggu mobil penjemput tiba seusai cuci darah, saya sempat membuat foto bercanda dengannya bersama ibu, seolah sedang di rumah bui.</p>
<p>Selingan tetap diperlukan dalam situasi sulit. Foto itu, tanpa melihat konteks, adalah foto rutin tentang cengengesannya sebuah keluarga. Sejak sebelum era fotografi digital, saya dan adik-adik memang kerap membuat foto-foto tak penting.</p>
<p>Nyatanya, seteguh apapun kami sekeluarga mencoba menaklukkan galau hati sambil terus mencari upaya terbaik, kondisi dia terus memburuk. Komplikasi mengikuti hukumnya sendiri. Mungkin lucu padahal pahit: dia sadar mestinya dirinyalah yang menjaga ibu kami yang sudah berusia 77 tahun, dan bukan sebaliknya. Ada rasa bersalah setiap kali dia melontarkan kontradiksi itu.</p>
<p>Keadaan memburuk dan arahnya adalah suatu hal yang dia pahami sejak awal, sehingga dari tahap ke tahap dia paham skema yang ada dalam benaknya: setelah ini adalah itu, setelah organ ini begitu maka akibat lanjutannya begini. Kognisi dan internet membantunya membuat sebuah peta perjalanan kemungkinan. Peta panjang yang dia pahami sejak jauh hari. Dokumen iridologis beberapa tahun lalu, yang kami temukan setelah dia berpulang, membuktikan bahwa dia selalu mencari tahu tentang kondisi tubuhnya.</p>
<p>Tanggal 13 Desember di rumah Yogya (dua minggu sebelum dia meninggal), selagi saya menunggu taksi penjemput ke bandara, adik saya geli melihat saya sedang menalikan <em>sneakers</em>, &#8220;<em>Ha kowe iki arep tinju, po?</em>&#8221; (Lha kamu akan tinju, apa?). Kebetulan saya memakai sepatu cap Everlast. Kami tertawa bersama. Tapi tawa dia lemah. Tubuhnya tak sanggup memompakan energi tawa sebagaimana mestinya.</p>
<p>Kami memang terbiasa bercanda. Apalagi sejak kecil tak ada panggilan mas dan mbak untuk saudara yang lebih tua. Lucunya hingga kini kami sering saling sapa dengan &#8220;pak&#8221; atau &#8220;bu&#8221;. Itu berlangsung sejak kami, pada 1981, punya keponakan &#8212; padahal saat itu kami masih belia, bahkan dua yang terkecil masih SMP.  Dia juga yang tetap memanggil istri saya (mbakyu iparnya) dengan &#8220;wuk&#8221;, mengikuti saya, sejak saya belum menikah 18 tahun lalu. Maka dalam japri, adik saya menyebut Pak No untuk Prono yang kemudian almarhum itu, menyusul <a href="http://blogombal.org/2008/12/28/natalan-dengan-pohon-rambutan-di-kuburan/">kakak sulung yang berpulang sehari sebelum Natal 2008</a>.</p>
<p>Bagi saya, dia adalah arsitek yang baik: mau dan bisa memahami klien, tapi juga tak membebek karena tetap menyodorkan hal yang menurut keyakinannya adalah respon terhadap kebutuhan melalui solusi keruangan (spasial).</p>
<p>Proses panjang perancangan rumah saya kami lakukan dengan MSN Messenger pada tahun 2000. Dia dengarkan semua kebutuhan dan kebiasaan saya &#8212; juga keterbatasan ekonomis saya. Sesuatu yang tidak sulit karena dia memahami saya yang juga kakaknya. Sama sekali kami tak membahas bentuk dan rupa bangunan. Gambar yang saya kirim via <em>messenger </em>pun berupa skema mirip sekumpulan himpunan, ada yang berinterseksi, dengan sejumlah panah ranah dan legenda penjelas. Kami bicara soal konsep.</p>
<p>Dalam perjumpaan langsung, hal sama pun berulang. Kami banyak berdiskusi &#8212; tapi dia yang lebih banyak menggambar dan menghabiskan kertas. Dia hanya ngakak ketika saya sok tahu mengikuti Frank Lloyd Right: <em>form and function are one</em> &#8212; bukan bentuk mengikuti fungsi.</p>
<p>Hasilnya? Rumah sederhana saya berbanyak debu karena terlalu banyak lubang udara. Kalau hujan deras kadang kena tempias. Saya anggap itu harga sebuah keinginan dan keyakinan. Padahal dia sudah mengingatkan. Saya pun tak mau pasang AC, tapi solusinya sudah membuat kami terbahak: kalau gerah saya akan buka baju, cuma sarungan, selayaknya orang kampung &#8212; sesuai kultur saya. Saya orang Jabodetabek, jarang menerima tamu, sehingga itu bisa dan boleh saja. Arsitektur yang baik adalah yang membuat penghuninya nyaman dengan pilihan cara hidupnya. Itulah keyakinan kami.</p>
<p>Selamat jalan. Sang Arsitek Agung telah memanggilmu. Hitungan dangkal manusia tak pernah paham teka-teki kehidupan selain mencoba menafsirkan bahwa ini adalah garis akhir derita.</p>
<p>Terima kasih saya dan keluarga besar kepada semua pihak atas perhatian, dukungan, dan bantuan Anda. Terlampir YouTube yang dia unggah di Facebook-nya pada 13 Desember, 17.42. Klip dari Queen, <em>Friends Will Be Friends</em>. Dia terharu, bahkan sampai menangis, setiap kali dijenguk kawan-kawannya&#8230;</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="340" height="285" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/0AIlz08fZos&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;rel=0&amp;color1=0x3a3a3a&amp;color2=0x999999&amp;border=1" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="340" height="285" src="http://www.youtube.com/v/0AIlz08fZos&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;rel=0&amp;color1=0x3a3a3a&amp;color2=0x999999&amp;border=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/01/02/kematian-dan-garis-akhir-derita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blewah (In Memoriam)</title>
		<link>http://blogombal.org/2009/08/21/blewah-in-memoriam/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2009/08/21/blewah-in-memoriam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 16:27:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[blewah]]></category>
		<category><![CDATA[in memoriam]]></category>
		<category><![CDATA[muhammad rayhan]]></category>
		<category><![CDATA[muhammad yasim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=1713</guid>
		<description><![CDATA[KENANGAN TENTANG BOCAH KESAYANGAN TETANGGA. <p>Bunyi &#8220;praakk&#8230;&#8221; yang pelan. Seperti suara bambu kering terbelah, kata sang penolong. Setelah bunyi itu, seorang bocah perempuan usia dua tahun lebih hanya bisa gagap berteriak kepada pria yang kemudian turun tangan itu, &#8220;Aihan, dalah, dalah.&#8221; Yang dia maksud adalah Rayhan, bocah satu tahun lebih sepuluh bulan, temannya bermain, anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KENANGAN TENTANG BOCAH KESAYANGAN TETANGGA.</h3>
<p><img class="kiri alignleft" title="muhammad rayhan bin muhammad yasim" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/rumah/rayhan02.jpg" alt="" width="100" height="100" />Bunyi &#8220;praakk&#8230;&#8221; yang pelan. Seperti suara bambu kering terbelah, kata sang penolong. Setelah bunyi itu, seorang bocah perempuan usia dua tahun lebih hanya bisa gagap berteriak kepada pria yang kemudian turun tangan itu, &#8220;Aihan, dalah, dalah.&#8221; Yang dia maksud adalah Rayhan, bocah satu tahun lebih sepuluh bulan, temannya bermain, anak tetangga depan rumah.</p>
<p>Saya tidak melihat. Saya hanya mendengar penuturan beberapa saksi.</p>
<p>Rayhan sudah tengkurap di belakang ban SUV keperakan yang terhenti mepet di sisi kanan jalan. Dia diam. Darah mengalir dari sisi kiri kepalanya. Pamannya yang tadi mendengar &#8220;praakk..&#8221; dan teriakan gagap bocah perempuan seberang rumahnya itu segera membopong Rayhan yang tak keluarkan rintihan.</p>
<p>Darah mengucur deras dari kepala Rayhan, bersama gumpal keputihan yang bukan darah. Pengemudi SUV masih di dalam mobilnya. Dia kebingungan.</p>
<p>Seorang ibu yang dari jarak 15 meteran mengira si terlindas adalah boneka pun menjerit. Ibu-ibu lain keluar dan menjerit-jerit. Ibu-ibu lainnya lagi berdatangan, bahkan dari lain RT. Mereka menjerit, meratap. Masing-masing ibu menelepon suaminya yang sudah di perjalanan agar segera pulang. Beberapa anjing milik warga yang biasanya ribut menyalak kalau ada keramaian hanya melolong panjang.</p>
<p>Saya tidak melihat. Saya hanya mendengar penuturan beberapa saksi.</p>
<p>Pengemudi akhirnya keluar dari mobil yang dikerubungi ibu-ibu setelah dilihatnya seorang pria yang dia kenal baik datang &#8212; pria yang rumahnya dia beli hampir tiga tahun lalu.</p>
<p>Menurut penuturan banyak saksi, pengemudi itu berkali-kali bilang dirinya tak melihat, tak sadar tentang bunyi &#8220;praakkk&#8230;&#8221; pelan itu. Bunyi kepala tergilas roda, dengan sebelah pipi kotor bekas ban&#8230;</p>
<p>Saya tidak melihat. Saya hanya mendengar penuturan beberapa saksi. Biarlah polisi yang menyelidikinya, kenapa di jalan sempit dengan beberapa polisi tidur yang tak memungkinkan mobil ngebut itu mobil mepet ke kanan, sehingga anak perempuan yang masih di balik pintu pagar kakeknya itu selamat.</p>
<p>Muhammad Rayhan, naman anak itu. Dalam perjalanan ke rumah sakit terdekat, di atas pangkuan seorang pria tetangga yang bermandikan darah (yang mengambil dari gendongan pamannya), di atas jok tengah SUV yang melindasnya, dia sempat tersenyum.</p>
<p>Anak yang lucu, yang disayang para tetangga, itu kemudian bergerak pelan, seperti ada kontraksi. Lalu napas dari hidungnya tak ada lagi. Nadinya berhenti. Si pemangku hanya bisa meratap, &#8220;Inna lillahi wa inna ilayhi raji&#8217;un&#8230;&#8221; Kira-kira seratus meter dari rumahnya, di depan musala.</p>
<p>Saya tidak melihat. Saya hanya mendengar penuturan beberapa saksi tentang kejadian beberapa hari lalu itu. Tentang anak tetangga di sebelah kiri rumah, yang terenggut nyawanya di depan rumahnya ketika dia keluar dari rumah tetangga seberang rumah.</p>
<p>Rayhan kesayangan para tetangga. Beberapa orang punya panggilan kesayangan untuknya. Istri saya memanggilnya Blewah, karena dia bundar, berkulit terang, lucu, menggemaskan.</p>
<p>Blewah yang ketika bayi ada di rumah saya. Blewah yang ketika mulai belajar berjalan, <em>baby walker</em>-nya ada di rumah saya. Blewah yang kadang &#8220;diculik&#8221; istri saya untuk dibawa pulang, direbahkan di sofa lalu dirubung.</p>
<p>Ketika mulai bisa berjalan, Blewah suka menggoyangkan pengait pintu pagar saya, sehingga berbunyi &#8220;dek-dek-dek&#8221; sambil memanggil-manggil istri saya, &#8220;Uwak, Uwak&#8230;&#8221; Saya yang keluar, sambil geli bilang kepadanya, &#8216;Uwak belum pulang tuh, entar aja ya&#8230;&#8221; Dia melihat saya, tersenyum, lalu balik badan. Kadang seperempat jam kemudian dia mengulanginya. Dia menunggu Uwak pulang yang seperti biasa pasti akan menyapanya, kalau perlu merebut dari ibunya.</p>
<p>Di manakah ujung kehidupan? Kita tak pernah tahu. Bagaimanakah jalan menuju ke sana, sebagian besar dari kita tak memilihnya. Apalagi untuk Blewah yang baru setahun lebih sepuluh bulan. Dia lebih tahu cara memilih permen milik Uwak sebelah rumah.</p>
<p>Pak Haji, yang memangku Blewah kala maut menyelesaikan deritanya, berujar kepada saya, &#8220;Takdir di keluarga Rayhan, musibah di bapak yang nabrak dia.&#8221;</p>
<p>Tak ada yang tahu tentang teka-teki kehidupan. Si penabrak adalah tetangga tak sampai berselisih sepuluh rumah.</p>
<p><img class="normal" title="muhammad rayhan bin muhammad yasim" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/rumah/rayhan01.jpg" alt="" width="360" height="252" /></p>
<p>Selamat jalan, Blewah. Fotomu dalam gendongan Uwak ada di arsip saya, tertanggal 21 Februari 2008. Kamu pernah mengisi kehidupan dunia sekitarmu, dan terutama dunia ayah dan ibumu serta kakak-kakakmu, selama 10 Oktober 2007  sampai 19 Agustus 2009. Ya, kamu, yang ketika masih bayi banget beredar dari gendongan ke gendongan. Kamu, yang beberapa minggu lalu melintas depan rumah dengan celana baru, Uwak dan putrinya berkomentar penuh kegemasan&#8230;</p>
<p>Saya tuliskan ini ketika pikiran mulai agak jernih, Rayhan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2009/08/21/blewah-in-memoriam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merdeka! Bukan Mengeluh, Hanya Mengenang</title>
		<link>http://blogombal.org/2009/08/16/merdeka-bukan-mengeluh-hanya-mengenang/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2009/08/16/merdeka-bukan-mengeluh-hanya-mengenang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Aug 2009 12:40:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Selingan]]></category>
		<category><![CDATA[00]]></category>
		<category><![CDATA[artefak]]></category>
		<category><![CDATA[artifak]]></category>
		<category><![CDATA[benggol]]></category>
		<category><![CDATA[inflasi]]></category>
		<category><![CDATA[ketip]]></category>
		<category><![CDATA[krisis moneter]]></category>
		<category><![CDATA[nilai tukar rupiah]]></category>
		<category><![CDATA[pecahan rp 2.000]]></category>
		<category><![CDATA[ringgit]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah anak]]></category>
		<category><![CDATA[sen]]></category>
		<category><![CDATA[setali]]></category>
		<category><![CDATA[suku]]></category>
		<category><![CDATA[talen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=1671</guid>
		<description><![CDATA[MAKA KENANGLAH NILAI TUKAR RUPIAH (SEJAUH ANDA INGAT). <p></p> <p>Dengan selembar dua ribu rupiah, apa yang akan Anda dapatkan? &#8220;Selembar dua ribuan&#8221; dan &#8220;uang duaribuan&#8221;, adalah istilah baru yang muncul tahun ini, bulan ini. Belum banyak berita kisah (features), dan terutama fiksi, yang sampai hari memakai istilah itu sampai hari ini.</p> <p>Denominasi baru memunculkan istilah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MAKA KENANGLAH NILAI TUKAR RUPIAH (SEJAUH ANDA INGAT).</h3>
<p><img class="normal" title="uang pecahan rp 2.000,00" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-pecahan-rp2000-x.jpg" alt="" width="360" height="222" /></p>
<p>Dengan selembar dua ribu rupiah, apa yang akan Anda dapatkan? &#8220;Selembar dua ribuan&#8221; dan &#8220;uang duaribuan&#8221;, adalah istilah baru yang muncul tahun ini, bulan ini. Belum banyak berita kisah (<em>features</em>), dan terutama fiksi, yang sampai hari memakai istilah itu sampai hari ini.</p>
<p>Denominasi baru memunculkan istilah baru. Dalam belantara teks, terbukti bahwa blog lebih dulu memakainya. Misalnya Junaidi Muadzin: &#8220;<a href="http://junaidimuadzin.wordpress.com/2009/08/14/nilai-ekonomis-pecahan-dua-ribu" target="_blank">selembar uang dua ribu</a>&#8220;.</p>
<p>Jika menyangkut uang, lantas kita cuma menyebut &#8220;lima&#8221;, &#8220;dua puluh lima&#8221;, &#8220;lima puluh&#8221;, maka bergantung pada konteks itu bisa berarti diimbuhi juta, miliar, triliun &#8212; bahkan pakai tambahan dollar (Amrik). Untuk rupiah, nilai pecahan terkecil adalah Rp 100, berupa koin.</p>
<p>Betul, serupiah itu senilai seratus sen. Lantas ke mana sen, benggol (2,5 sen), ketip (10 sen), talen (25 sen), dan suku (50 sen)? Biarlah itu menjadi bagian dari khazanah lama.</p>
<p>Itu pecahan arkais. Tak penting untuk diingat, karena Anda tahu pun tak mengangkat gengsi dalam adab gaul, malah bisa-bisa diledek sudah sama arkaisnya.</p>
<p>Oh, arkais? Kapan? Ehm, sesungguhnya sampai 1967 (ya, abad lalu, pada awal Orde Baru) pun ketip, talen, dan suku  &#8212; juga ringgit yang senilai Rp 2,5 &#8212; masih punya nilai tukar.</p>
<p>Sen hanya bernilai jika kita bicara mata uang asing tertentu. Misalkan sen asing kemudian tak ada nilanya lagi, bahkan sebagai mainan angka psikologis US$ 9,95 pun tiada lagi, maka kata sen kita biarkan terkubur, hanya hidup dalam tembolok mesin pencari.</p>
<p>Rupiah kian tak berdaya. Denominasi berangka kecil makin sedikit. Tak usah mengeluh, apalagi menyumpah, toh kita tak separah Zimbabwe yang setahun lalu mengeluarkan <a href="http://memo.blogombal.org/2008/07/24/duit-keren-rp-100-miliar/" target="_blank">pecahan 100 miliar dollar</a>.</p>
<p>Itulah titik ketika jejeran angka nol, yang secara visual sebagai sajian tipografis menjadi memusingkan bagi orang awam. Selain memusingkan juga mengesalkan karena hadir sebagai persoalan nyata, bukan semata kajian matematis dan filosofis tentang nol.</p>
<p><img class="kiri" title="karcis bus kota damri semarang 1993" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-damri-1993.jpg" alt="" width="200" height="391" />Jadi, sekarang ini, dengan selembar Rp 2.000,00 apa yang akan Anda dapatkan? Saya menunggu cerita Anda dengan menggali ingatan 15 tahun terakhir.</p>
<p>Sebelum Anda berbagi, izinkanlah saya melampirkan gambar dari dua album kelahiran kedua putri saya. Sejak awal saya sadar, sejarah mereka tak hanya direkam dalam foto (yang belum digital) tetapi juga &#8220;artefak&#8221; atau &#8220;artifak&#8221;: ada bon toko emas untuk sepasang anting 0,5 gram seharga Rp 10.000,00. Kebetulan ketika anak pertama lahir (Semarang, 1993 &#8212; saya wira-wiri Semarang-Salatiga), pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM sehingga tabelnya saya angkut sekalian (harga termurah bensin yang saya ingat adalah Rp 54,00, sebelum 1976).</p>
<p><img class="normal" title="harga bbm sampai 8 januari 1993" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-tabel-bbm360.jpg" alt="" width="360" height="106" /></p>
<p><img class="normal" title="karcis bus semarang-salatiga, januari 1993" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-kelahiran-day01.jpg" alt="" width="360" height="436" /></p>
<p>Ketika kelahiran anak kedua (Jakarta, 1997), internet belum semerata sekarang. Alamat pribadi<em> e-mail</em> gratis yang berbasis web hanya dari Hotmail dan Email.com, wadah konten pribadi baru disediakan oleh Geocities. Setidaknya setahu dan sepengalaman saya waktu itu. Maka cara lama artifak binti artefak pun saya lakukan.</p>
<p><img class="normal" title="kurs valas mei 1997 sebelum krismon" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-kelahiran-raras02.jpg" alt="" width="360" height="318" /></p>
<p><img class="normal" title="harga satu rol film iso 200 mei 1997" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-fuji-film.jpg" alt="" width="360" height="227" /></p>
<p>Apa yang Anda ingat dari<strong> Rp 2.000,00</strong>? Dua nol di belakang koma itu mengikuti aturan penulisan baku (&#8220;Rp&#8221; tanpa titik, sebelum angka disela oleh spasi, setiap tiga nol disela titik, setelah itu ditutup &#8220;koma nol-nol&#8221;), padahal sekarang itu konyol. Nol di belakang koma, dalam rupiah, tak dapat ditukar ongol-ongol maupun jengkol.</p>
<p><img class="normal" title="harga pada 1997" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-kelahiran-raras03.jpg" alt="" width="360" height="222" /></p>
<p>Rp 2.000,00. Lima belas tahun terakhir ini. Maaf terlalu jauh. Lima tahun terakhir saja. Anda ingat?<br />
Merdeka!</p>
<p><img class="normal" title="album kelahiran dinakara anggana raras" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-kelahiran-raras01.jpg" alt="" width="360" height="208" /></p>
<div class="caption"">UPDATE 16/08/09 21.23: <a href="http://www.erwinmulyadi.co.cc/2009/07/buat-apa-uang-dua-ribu.html" target="_blank">Posting Erwin Mulyadi, Juli 2009</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2009/08/16/merdeka-bukan-mengeluh-hanya-mengenang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>49</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Natalan dengan Pohon Rambutan di Kuburan</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/12/28/natalan-dengan-pohon-rambutan-di-kuburan/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/12/28/natalan-dengan-pohon-rambutan-di-kuburan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Dec 2008 19:59:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[adhi nugroho]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=1040</guid>
		<description><![CDATA[TERIMA KASIH SAYA DAN KELUARGA. <p></p> <p>SMS dari <a href="http://pejalanjauh.com" target="_blank">Zen</a>, si Pejalan Jauh itu, pada 25 Desember lalu, pukul 04.56, jauh dari niat bergurau: &#8220;Pasti ndak biasa merayakan kelahiran (yesus) di tengah kematian (mas-e njenengan). Ikut berduka, Paman. Selamat natal. Damai buat semua. Amien.&#8221;</p> <p>Saat itu saya sedang dalam perjalanan bergerimis dari Jakarta menuju [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>TERIMA KASIH SAYA DAN KELUARGA.</h3>
<p><img class="normal" title="makam adhi nugroho" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/rumah/makam001.jpg" alt="" width="355" height="237" /></p>
<p>SMS dari <a href="http://pejalanjauh.com" target="_blank">Zen</a>, si Pejalan Jauh itu, pada 25 Desember lalu, pukul 04.56, jauh dari niat bergurau: &#8220;Pasti ndak biasa merayakan kelahiran (yesus) di tengah kematian (mas-e njenengan). Ikut berduka, Paman. Selamat natal. Damai buat semua. Amien.&#8221;</p>
<p>Saat itu saya sedang dalam perjalanan bergerimis dari Jakarta menuju Yogya, antara lain bersama ibu saya. Baru selewat pukul sepuluh pagi lebih saya tiba di rumah Kepuh Wetan, Klitren.</p>
<p>Siangnya, empat jam kemudian, saya dan keluarga besar saya berkumpul di pemakaman, nun timur kota. Di bawah teduhan sekian pohon rambutan di sebuah pemakaman partikelir, urukan liang lahat itu akhirnya ditutup taburan bunga.</p>
<p>Di tempat itu pula, pagi, sehari sebelumnya (24/12), kangmas saya melayat sejawatnya. Dia katakan suka tempat itu dan ingin dimakamkan di situ. Siang menjelang sore Tuhan memanggilnya melalui serangan jantung.</p>
<p>Persoalan utama kami, anak-anak di luar Yogya, adalah bagaimana menyampaikannya kepada Ibu.</p>
<p>Saat itu dia sedang bersama istri saya di sebuah tempat di Jakarta Selatan, bersama beberapa cucu (termasuk anak saya). Dalam rombongan yang lain ada pula adik saya dari Bogor bersama istri dan bayinya.</p>
<p>Secara terpisah rombongan bergegas pulang, mencoba menembus kemacetan jelang libur akhir tahun. Harus segera tiba di rumah, karena di sanalah kabar buruk itu akan disampaikan kepada Ibu.</p>
<p>Selagi menyetir, termasuk ketika melaju di jalan tol, sulit bagi istri saya untuk menyampaikan warta itu kepada Ibu yang duduk di sebelahnya. Komunikasi ponsel dia serahkan ke anak sulung saya. Ibu sempat meng-SMS saya, yang juga sedang merambati kemacetan, mengapa seperti ada ketidakberesan di antara anak-anaknya. SMS yang sama Ibu kirimkan ke Kangmas di Yogya, yang sudah menjadi jenazah&#8230;</p>
<p>Semua berpacu dengan waktu. Begitu pula saya. Kekhawatiran kami sama: bagaimana kalau tiba-tiba Ibu menerima telepon belasungkawa, setidaknya ajuan konfirmasi, dari entah siapa, padahal dia belum mendengar kepergian anak sulung yang tinggal serumah dengannya, yang telah mengantarnya ke Stasiun Tugu empat hari sebelumnya dalam keadaan bugar?</p>
<p>Setibanya mereka di rumah, Ibu diberitahu Adik (karena saya belum tiba). Ketika saya tiba, dalam isak tangis Ibu menyatakan ketika sepuluh tahun lalu ditinggal wafat Bapak dia siap karena sudah sekian tahun mendampinginya dalam sakit. Tapi untuk anaknya, dia tak siap karena tak menyangka. Terlalu mendadak.</p>
<p>Memang mendadak. Memang tak terbayangkan, karena manusia memang hanya bisa berencana.</p>
<p>Natal ini saya tak merencanakan pulang karena anak sulung punya kegiatan yang dipersiapkan lama. Kebetulan Ibu sedang sela, sehingga ingin Natalan di rumah saya sekalian menengok cucu delapan bulan yang juga ngumpul di rumah saya. Dua keponakan dari Bandung juga sudah datang. Lalu datanglah peristiwa itu. Saya tak mau berspekulasi tentang tiket pesawat pada tanggal 24 Desember. Kalaupun barangnya ada, saya tak tahu cara mencapai bandara Cengkareng dari Pondokgede.</p>
<p>Begitulah, tanpa saya rencanakan akhirnya saya dan istri ke Yogya, meninggalkan dua anak dan dua keponakan yang dijaga seorang sepupu.</p>
<p>Selebihnya adalah kenangan dekat dan kenangan jauh. Termasuk dalam kenangan dekat adalah dua besek gudeg titipan Kangmas untuk keluarga saya. Itu hal yang jarang dia lakukan. Dia jarang menitipkan oleh-oleh.</p>
<p>Adapun kenangan jauh adalah masa-masa kami tumbuh. Saya ingat, ketika dia kelas tiga SMP dia membeli piringan hitam Deep Purple dan memperdengarkan <em>Speed King</em> kepada saya yang masih kelas empat SD. Ketika saya remaja, dia memperkenalkan rekaman jazz harmonika Tooth Tieleman kepada saya. Selain itu tentu pop art, puisi mbeling, majalah <em>Aktuil</em>, <em>Pop Foto</em> dan <em>Muziek Express</em>. Selain itu tentu komik dan cerita silat.</p>
<p>Semuanya sudah menjadi riwayat. Patut saya syukuri, peristiwa buruk selalu menumbuhkan kesetiakawanan. Saya berterima kasih kepada <a href="http://colonelseven.com" target="_blank">Gembul</a>, bala <a href="http://dagdigdug.com" target="_blank">dagdigdug </a>dan jaringan Langsat, teman-teman bloggers di <a href="http://cahandong.org" target="_blank">Yogya</a>, dan semua pihak yang memberikan dukungan.</p>
<p>Salam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/12/28/natalan-dengan-pohon-rambutan-di-kuburan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bocah dalam Etalase</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/12/08/bocah-dalam-etalase/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/12/08/bocah-dalam-etalase/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 10:34:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak hilang]]></category>
		<category><![CDATA[anak nakal]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>
		<category><![CDATA[lingerie]]></category>
		<category><![CDATA[mal]]></category>
		<category><![CDATA[manekin]]></category>
		<category><![CDATA[split thong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=974</guid>
		<description><![CDATA[NAMANYA ANAK, TAK BISA DIDUGA&#8230; <p></p> <p>Saya tak begitu memperhatikan sampai anak bungsu saya terkikik dan menggamit saya. &#8220;Lihat, Pak,&#8221; katanya, di sebuah mal, tadi malam. Oh ternyata di antara manekin di balik kaca itu ada seorang bocah. Dia diam, mungkin sedang membayangkan diri sebagai boneka pajang. Misalkan dia berlama-lama di sana mungkin orangtuanya akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>NAMANYA ANAK, TAK BISA DIDUGA&#8230;</h3>
<p><img class="normal" title="bocah dan manekin di pondok indah mal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/bocahlucu1.jpg" alt="bocah dan manekin di pondok indah mal" width="355" height="237" /></p>
<p>Saya tak begitu memperhatikan sampai anak bungsu saya terkikik dan menggamit saya. &#8220;Lihat, Pak,&#8221; katanya, di sebuah mal, tadi malam. Oh ternyata di antara manekin di balik kaca itu ada seorang bocah. Dia diam, mungkin sedang membayangkan diri sebagai boneka pajang. Misalkan dia berlama-lama di sana mungkin orangtuanya akan kelabakan mencarinya.</p>
<p>Namanya juga anak. Ada saja pembetot minat mereka yang kadang tak terduga. Kedua anak saya, waktu masih bocah, kadang bikin repot dan malu karena menyusup di antara baju-baju yang digantung di toko.</p>
<p>Puncak kemaluan saya terjadi ketika mereka menyusup di antara <em>lingerie </em>lalu berseru, &#8220;Liat, Bapak! Ini lucu, ada bulunya.&#8221; Dua wanita yang sedang memilih segitiga pengaman dengan hiasan bulu menjumbai tampak merah mukanya.</p>
<p>Niat saya (seperti umumnya pria tradisional) menjauh dari konter pakaian dalam wanita, tapi apa daya ketika harus momong anak ternyata&#8230; ya begitulah.</p>
<p>Kapan itu, ketika mereka sudah agak besar, sudah tidak menyusup di antara pakaian dagangan. Tetapi ketika melihat <em>split thong</em> merah mereka terkikik-kikik, apalagi Mbah Putri bilang, &#8220;Lha apanya yang dibungkus kalo celananya gini.&#8221; Saya pura-pura tak paham, tak bereaksi. Istri saya menahan tawa. :D</p>
<p>Waktu saya kecil, dan diajak berbelanja ke pecinan, saya juga pernah menghilang, melihat penjual gelas membentur-benturkan dagangannya ke peti kayu. Adik saya malah pernah menggandeng pria lain yang disangka bapaknya. Namanya juga anak.</p>
<p>Yah, lagi-lagi namanya juga anak. Minat mereka bisa berbeda daripada orang dewasa. Suatu kali, ketika masih mahasiswa, saya mengajak seorang bocah TK melihat terjun payung. Bukannya mendongak ke atas melihat <em>boogie </em>jamur di langit biru, itu anak malah menoleh ke samping; bukan ke <em>dead center</em> tapi ke arah penjual es gosrok.</p>
<p>Nah, kalau yang ini bukan dunia anak. Suatu kali ketika bersama tuan rumah di negeri dingin akan makan siang, tak jauh dari kantornya, saya tak memperhatikan bahwa satu manekin di antara manekin lainnya di <em>lingerie shop</em> itu adalah manusia. Saya sadar setelah tuan rumah memberi tahu. Karena terburu-buru saya tak melihatnya. Sepulang makan siang saya melewati toko itu lagi, dan celingukan. Yang saya cari tidak ada lagi. Tapi saya tak tahu, kalau yang melihat ini Crayon Shinchan dan (terutama) bapaknya, mungkin menarik juga.</p>
<p>Kalau pengalaman Anda (waktu kecil) dan anak Anda (atau keponakan Anda) bagaimana? Ceritakanlah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/12/08/bocah-dalam-etalase/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cemilan Subversif</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/08/25/cemilan-subversif/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/08/25/cemilan-subversif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 10:30:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Komedi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Selingan]]></category>
		<category><![CDATA[cemilan]]></category>
		<category><![CDATA[haatzai artikelen]]></category>
		<category><![CDATA[kacang telor]]></category>
		<category><![CDATA[kodim]]></category>
		<category><![CDATA[koramil]]></category>
		<category><![CDATA[kriuk]]></category>
		<category><![CDATA[sby]]></category>
		<category><![CDATA[sompia]]></category>
		<category><![CDATA[subversi]]></category>
		<category><![CDATA[terapetik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=716</guid>
		<description><![CDATA[MELEDEK KEKUASAAN UNTUK MENGHIBUR DIRI. <p></p> <p>Rp 10.000 dapat tiga kantong cemilan. Misalnya sale pisang, kacang telor, sompia. Itulah oleh-oleh yang barusan dibawa oleh istri saya. Dia membelinya di kantor. Bukan soal rasa yang hendak saya bagi tapi kemasan. Tepatnya label merek. &#8220;Kriuk&#8221; &#8212; sesuatu yang mewakili bunyi dan sekaligus ledekan terhadap guyon garing. &#8220;Bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MELEDEK KEKUASAAN UNTUK MENGHIBUR DIRI.</h3>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/memo/bagirasa355.jpg" alt="cemilan bagi rasa kriuk" width="355" height="233" /></p>
<p>Rp 10.000 dapat tiga kantong cemilan. Misalnya sale pisang, kacang <em>telor</em>, sompia. Itulah oleh-oleh yang barusan dibawa oleh istri saya. Dia membelinya di kantor. Bukan soal rasa yang hendak saya bagi tapi kemasan. Tepatnya label merek. &#8220;<em>Kriuk</em>&#8221; &#8212; sesuatu yang mewakili bunyi dan sekaligus ledekan terhadap guyon garing. &#8220;<em>Bagi Rasa bukan Bagi Kekuasaan</em>&#8221; &#8212; itu jelas meledek penguasa dan orang partai.</p>
<p>Maka saya menyebut penggoyang dagu ini sebagai cemilan subversif. Misalkan makanan berkelas industri rumah tangga (P-IRT 206360301268) ini muncul pada Orde Baru, maka pemiliknya bisa berurusan dengan Koramil dan Kodim.</p>
<p>Si perajin makanan akan mendapat pertanyaan <em>default</em>, &#8220;Maksud dan tujuan <em>daripada </em>Saudara itu apa?&#8221;</p>
<p>Jika berhadapan dengan bintara, misalnya Sersan Pepper dari Rotten Hearts Club Band cap Serdadu Kenthir, jangan mencoba berdiskusi apalagi berdebat. Misalnya balik bertanya, &#8220;Apa yang Bapak artikan dengan maksud, dan apa pula itu tujuan?&#8221;</p>
<p>Apapun yang nyeleneh, berbeda dari <em>mainstream </em>saat itu, akan dianggap subversif. Petani menanam kedelai atau jeruk, padahal Pak Jenderal Senyumtapibengis mau berswasembada beras, itu sama saja mengundang Koramil. Apapun yang berbeda berarti merongrong kewibawaan dan kekuasaan &#8212; istilah lain untuk pembocoran rahasia negara, kata gurauan waktu itu.</p>
<p>Ah, sudahlah itu masa lalu. Sekarang orang bebas berteriak. Untuk satu soal, SBY pernah memberi contoh yang baik. Dia mengadu ke Polda Metro Jaya karena merasa nama baiknya dicemarkan oleh Zaenal Ma&#8217;arif, seorang politikus.</p>
<p>Saya puji SBY karena para abdi dalem tak serta merta menggunakan <em>haatzai artikelen</em> untuk menjebloskan orang lain ke bui, sementara pihak yang merasa terhina diam saja.</p>
<p>Masalahnya, setelah orang bebas berteriak dan meledek, termasuk melalui kaos oblong dan blog, apakah kaum terledek itu menjadi tersentuh?</p>
<p>Jika menyangkut kebebalan (bukan kekebalan) penguasa dan jaringannya, maka ledekan tetap punya fungsi terapetik bagi pembuat dan pengedarnya. Untuk lucu-lucuan dan menghibur diri. Kriuk ya biarin.</p>
<p>Selebihnya biarlah menjadi dokumentasi untuk studi sejarah. Kelak akan ada akademisi yang menjadikannya sebagai sebuah kajian. Akademisi di luar negeri atau dalam negeri? Konon asing atau domestik itu bukan isu penting. :D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/08/25/cemilan-subversif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemesraan Sesama Pria</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/08/18/kemesraan-sesama-pria/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/08/18/kemesraan-sesama-pria/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 17:28:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[kriminalitas]]></category>
		<category><![CDATA[orientasi seksual]]></category>
		<category><![CDATA[prasangka]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[stigma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=712</guid>
		<description><![CDATA[MAKA ANAK-ANAK PUN BICARA TENTANG MUTILASI. <p></p> <p>Selagi bersantap ringan sendirian sambil sesekali klak-klik laptop, lelaki itu dihampiri oleh pramusaji yang menyodorkan sebuah pesan. Oh, sebuah surat, ditulis pada bagian belakang nota pesanan makanan dan minuman. Isinya ajakan perkenalan. Lalu pramusaji itu, pemuda 21 tahunan, menjauh. Ketika dipanggil dan ditanya siapa si pengirim surat, maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MAKA ANAK-ANAK PUN BICARA TENTANG MUTILASI.</h3>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/memojambon.jpg" alt="surat mesra pria kepada pria" width="355" height="188" /></p>
<p>Selagi bersantap ringan sendirian sambil sesekali klak-klik laptop, lelaki itu dihampiri oleh pramusaji yang menyodorkan sebuah pesan. Oh, sebuah surat, ditulis pada bagian belakang nota pesanan makanan dan minuman. Isinya ajakan perkenalan. Lalu pramusaji itu, pemuda 21 tahunan, menjauh. Ketika dipanggil dan ditanya siapa si pengirim surat, maka jawabannya adalah, &#8220;Saya, Kak&#8230;&#8221;</p>
<p><img class="kiri" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/memojambon2.jpg" alt="surat mesra pria kepada pria" width="200" height="170" />Bukan hal baru. Dari dulu ada saja cara berkenalan di kedai dengan memanfaatkan pelayan melalui secarik kertas. Bisa juga dengan lirak-lirik lalu tanpa diminta ada traktiran secangkir kopi (&#8220;Sudah dibayar sama Mbak di pojok itu&#8221;).</p>
<p>Ketika bluetooth makin meluas, maka perkenalan diri yang kadang mengarah ke transaksi pun bisa terjadi. Cara yang lebih gampang adalah mendatangi meja incaran, &#8220;Ih laptopnya keren, <em>mouse</em>-nya lucu, boleh liat Mas?&#8221;</p>
<p>Kalau bukan baru lantas apa menariknya? Menjadi menarik ketika pengalaman di kedai ber-<em>hotspot </em>itu dibawa ke sebuah rumah kemarin malam, diperbincangkan di meja makan, dengan penanggap dua gadis cilik.</p>
<p>Gurauan sadistis yang muncul di meja makan adalah sesuatu yang aktual, &#8220;Ati-ati lho, entar dimutilasi.&#8221;</p>
<p>Asmara sesama Adam (atau sesama Hawa), haruskah bersangkut dengan dendam dan kekerasan? Forum meja makan mencoba mencari jawab. Orang yang lebih tua mencoba meluruskan bahwa orientasi seksual tak mesti berhubungan dengan penjagalan dan mutilasi.</p>
<p>Berita kriminalitas adalah jendela bagi setiap orang untuk menyadari bahaya dalam kehidupan. Bahwa berita bisa berkelok dan berkembang ke arah yang tak terduga, mengandung penghakiman dan kutukan, itu memang membutuhkan daya cerna yang matang bagi konsumen warta.</p>
<p>Membendung televisi, dan kemudian internet, bukanlah langkah bijak. Ketika muncul pertanyaan dari anak-anak yang belum dewasa, justru itulah kesempatan untuk menjelaskan.</p>
<p>Belum tentu penjelasan seorang ayah atau ibu itu benar. Tetapi lebih nyaman jika setiap tanya akan berbuah jawab &#8212; termasuk jawab yang terbatas dan setipis asap karena ternyata kisah kehidupan kadangkala tak dapat disederhanakan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/08/18/kemesraan-sesama-pria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PR dari Bu Guru: Tontonlah Sinetron</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/07/25/pr-dari-bu-guru-tontonlah-sinetron/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/07/25/pr-dari-bu-guru-tontonlah-sinetron/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 19:44:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[hari tanpa tv]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan rumah]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[sinetron]]></category>
		<category><![CDATA[tv]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=694</guid>
		<description><![CDATA[BAGIAN DARI MATA PELAJARAN DI SD. <p></p> <p>Ketika saya telepon, malam itu anak bungsu saya sedang mengerjakan PR. Kok ada suara TV? &#8220;Iya, Pak. Memang PR-nya nonton TV lalu bikin kritik,&#8221; katanya.</p> <p>Wah boleh juga. Baru dua hari sebelumnya ada <a href="http://blogombal.org/2008/07/20/ayo-nonton-tv/">Hari Tanpa TV</a>. Lantas Bu Guru Bahasa Indonesia menyuruh anak kelas enam SD membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>BAGIAN DARI MATA PELAJARAN DI SD.</h3>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/rumah/sinetron.jpg" alt="raras nonton cinta laura" width="355" height="222" /></p>
<p>Ketika saya telepon, malam itu anak bungsu saya sedang mengerjakan PR. Kok ada suara TV? &#8220;Iya, Pak. Memang PR-nya nonton TV lalu bikin kritik,&#8221; katanya.</p>
<p>Wah boleh juga. Baru dua hari sebelumnya ada <a href="http://blogombal.org/2008/07/20/ayo-nonton-tv/">Hari Tanpa TV</a>. Lantas Bu Guru Bahasa Indonesia menyuruh anak kelas enam SD membuat &#8220;kritik sinetron&#8221;. Maka dia tongkrongilah <em>Upik Abu dan Laura</em>. Kali itu dia nonton sinetron  karena tugas dari Bu Guru. Ketika saya tanya repot apa tidak, dia hanya tertawa-tawa.</p>
<p>Bagaimana isi laporan anak, biarlah Bu Guru yang menimbang. Jujur atau tidak, orisinal atau klise, lagi-lagi biarlah itu terjawab dalam interaksi guru dan murid.</p>
<p>Saya ingat, sehari setelah Hari tanpa TV itu teman saya nggerundel, &#8220;Orang kok diajak nggak nonton TV. Emang itu bisa memperbaiki keadaan? Kenapa nggak bikin lomba supaya masyarakat bisa usul acara yang bagus.&#8221;</p>
<p>Apa sih sebetulnya kesalahan TV? Kalau dia eh mereka itu haram, kenapa banyak orang suka, dan belanja iklan terbesar nyemplung di sana?</p>
<p>Ada orang bilang, &#8220;Untuk mengetahui kekurangan dan bahkan ketololan siaran TV gratis hanya bisa didapat dengan sering menonton.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/07/25/pr-dari-bu-guru-tontonlah-sinetron/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Vagina, Me***, Klitoris, I***, Penis, Kon***, Oops&#8230;</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/05/30/vagina-me-klitoris-i-penis-kon-oops/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/05/30/vagina-me-klitoris-i-penis-kon-oops/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 May 2008 03:36:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[nilai]]></category>
		<category><![CDATA[norma]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[sopan santun]]></category>
		<category><![CDATA[susila]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=671</guid>
		<description><![CDATA[ANTARA MEMBIARKAN TAHU SENDIRI DAN MENGAJARKAN&#8230; <p>Huh, bikin judul kok sekalian cari sensasi. Mana mengundang robot spammer lagi. Bahkan bisa saja (semoga tidak) terkena jerat hukum. Apa nggak ada kata-kata lain? Maafkan saya. Tahanlah kegusaran Anda. Izinkanlah saya bercerita tentang seorang ayah dan kedua putrinya. Setelah selesai membaca, tumpahkanlah kekesalan Anda.</p> <p>&#8220;Mari kita lihat gambar,&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>ANTARA MEMBIARKAN TAHU SENDIRI DAN MENGAJARKAN&#8230;</h3>
<p>Huh, bikin judul kok sekalian cari sensasi. Mana mengundang robot <em>spammer</em> lagi. Bahkan bisa saja (semoga tidak) terkena jerat hukum. Apa nggak ada kata-kata lain? Maafkan saya. Tahanlah kegusaran Anda. Izinkanlah saya bercerita tentang seorang ayah dan kedua putrinya. Setelah selesai membaca, tumpahkanlah kekesalan Anda.</p>
<p>&#8220;Mari kita lihat gambar,&#8221; kata si ayah, untuk memperjelas diskusi. Lalu dibukanya sebuah halaman web. Kedua putrinya, yang satu remaja, yang satunya lagi jelang akil balik, menyebut gambar itu &#8220;wawuk&#8221; dan vagina.</p>
<p>&#8220;Benar, Sayang,&#8221; kata si ayah. Dia tambahkan, &#8220;Yang tepat ini disebut vulva atau pukas. Tapi orang sering menyamakannya.&#8221;</p>
<p>Lantas pelajaran anatomi secara visual pun berlanjut. Klak-klik ke web dengan banyak penjelasan. Antara bingung, senyum geli, dan kaget, anak-anak mengikuti.</p>
<p>Semua ada namanya. Setiap orang punya. Dan sebaiknya dikenali dan dirawat seperti setiap orang memperlakukan lutut maupun telinga.</p>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/grafitijorok.jpg" alt="grafiti jorok" width="355" height="433" /></p>
<p>Bedanya, untuk genitalia penyebutannya tak seleluasa bagian tubuh lainnya. Setiap bahasa (dan kelompok penuturnya) mengatur kepantasan penyebutan seiring perkembangan zaman.</p>
<p>Memang penyebutan dengan istilah medis cenderung terasa lebih netral, tetapi tetap saja tak seleluasa penyebutan bagian lain. Buktinya pidato kepresidenan dan debat di DPR, atau <em>headline </em>koran, tidak pernah (atau jarang) menyebut itu.</p>
<p>Dalam forum domestik terbatas itu sang ayah juga memperkenalkan kosakata. Tentang vulva dan vagina, misalnya, orang sering manjadikannya sebagai paket. Maka dalam kehidupan sehari-hari ada istilah &#8220;me***&#8221; (tanya <a title="itulah bahasa!" href="http://daus.trala.la/2006/10/11/memek/" target="_blank">Daus</a> &#8212; ada <a href="http://daus.trala.la/2006/10/11/memek/#comment-3901" target="_blank">komentar</a> saya di sana) yang dibelokkan menjadi &#8220;meki&#8221;. Orang Jawa menyebutnya <abbr title="turuk">&#8220;tu&#8230;&#8221;</abbr> dan <abbr title="tempik">&#8220;tem***&#8221;</abbr> &#8212; kabarnya sih kedua hal itu berbeda.</p>
<p>Bagaimana dengan klitoris? Sambil menunjukkan gambar,sang ayah menyebutkan padanannya, yaitu kelentit dan &#8220;i***&#8221;. Anak-anak melongo, menatap ayahnya, lalu kakak-adik saling pandang. Mereka belum pernah mendengar itu semua.</p>
<p>Diskusi berjalan lancar,dengan senyum dan kadang takjub. Tiada yang tabu. Begitu pula ketika membahas genital lelaki dan kopulasi. Tentang penis dan testis, anak-anak tahu. Hanya padanan katanya selain zakar dan titit yang mereka belum tahu. Misalnya &#8220;kon***&#8221;.</p>
<p>Padahal dari &#8220;kon***&#8221; dengan imbuhan &#8220;é&#8221; (artinya &#8220;nya&#8221;) itulah orang Jawa mengenal panggilan &#8220;tholé&#8221; yang disingkat &#8220;lé&#8221;. Adapun panggilan &#8220;wuk&#8221;, itu dari &#8220;bawuk&#8221; (wawuk).</p>
<p>Sperma? Mereka tahu. Mani? Belum pernah dengar, apalagi pe**h. Tapi untuk semen, mereka membayangkan bahan bangunan. Maka kesalahkaprahan pun diluruskan, dan lagi-lagi <em>bertolak dari makna denotatif kata</em>.</p>
<p>Seks, kata si ayah, itu nikmat dan indah. Tidak jorok. Nafsu adalah karunia Alam supaya makhluk hidup tak punah. Tapi tentang hubungan seks atau <em>making love</em> atau sanggama atau ngen**t, itu hanya boleh setelah dewasa karena orang dewasa bisa bertanggung jawab terhadap diri sendiri.</p>
<p>Diskusi yang gayeng. Buku dan halaman web, termasuk wikipedia dan <a title="bukan situs porno!" href="http://the-clitoris.com" target="_blank">the-clitoris</a>, banyak membantu.</p>
<p>Soal kecil tapi menggelikan adalah bagaimana dengan pipis? Lelaki dan wanita berbeda. Tapi jangankan anak kecil, wanita dewasa saja ada yang kurang begitu tahu ujung saluran luarnya. Maka apa boleh buat, mohon maaf, si ayah membukakan <abbr title="silakan cari sendiri">halaman web dewasa</abbr> yang khusus memampangkan <em>close up</em> wanita pipis.</p>
<p>&#8220;Wow! Gitu ya?&#8221; tanya salah satu anak. Si ayah menjelaskan, letak genital yang tersembunyi memang mempersulit setiap orang untuk memeriksa. Sama seperti orang memeriksa punggung dan unyeng-unyeng. Maka selain dengan cermin, cara untuk mengenali adalah dari gambar.</p>
<p>Bila merujuk Ruth Westheimer, edukator seks abad lalu, maka sebaiknya wanita berterima kasih kepada model porno (dan medianya) karena membantu wanita lain mengenali genital kaumnya.</p>
<p>Si ayah menyatakan, genital lelaki lebih sederhana, relatif mudah untuk dilihat sendiri. Tapi si ayah mengaku, ketika masih kecil pipis bareng teman-temannyanya di pinggir selokan, mereka geli banget melihat pria dewasa supergendut.</p>
<p>&#8220;Kalo mandi dia nggak bisa melihat burungnya sendiri&#8230;&#8221; kata salah satu anak bengal. Teman-temannya terbahak. Semoga setelah dewasa anak itu tahu bahwa tebakannya salah. Begitu pula nona-nona yang pernah menggosipkan Luciano Pavarotti (almarhum) yang besar dan gendut.</p>
<p>Anak-anak perempuan itu juga ketawa ketika mendengar masa kecil ayahnya.</p>
<div class="caption">Ilustrasi: grafiti buatan tukang (?) pada sebidang beton di dekat rumah makan padang Sederhana, Pondok Indah, Jakarta.<br />
© Foto: blogombal.org</div>
<p><em>Catatan: pembaca pertama post ini adalah salah satu dari anak perempuan itu :)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/05/30/vagina-me-klitoris-i-penis-kon-oops/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>73</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Libur: buat Bangun Pagi atau Siang?</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/04/07/hari-libur-buat-bangun-pagi-atau-siang/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/04/07/hari-libur-buat-bangun-pagi-atau-siang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Apr 2008 20:17:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2008/04/07/hari-libur-buat-bangun-pagi-atau-siang/</guid>
		<description><![CDATA[MUNGKIN MALAH SAMA SAJA. :D <p></p> <p>Konon hanya orang sibuk yang bisa menghargai apa yang disebut &#8220;santai&#8221;. Untuk pemalas bin pengangguran, santai bukanlah kemewahan.</p> <p>Ada pula pendapat, hanya orang yang rajin bangun pagi yang akan beroleh rezeki. Mereka yang takut kepada Matahari akan jauh perolehan nafkah.</p> <p>Bagaimana dengan hari libur, baik saat akhir pekan maupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MUNGKIN MALAH SAMA SAJA. :D</h3>
<p><img src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan4/paktani.jpg" alt="pak tani mencangkul di sawah" class="normal" /></p>
<p>Konon hanya orang sibuk yang bisa menghargai apa yang disebut &#8220;santai&#8221;. Untuk pemalas bin pengangguran, santai bukanlah kemewahan.</p>
<p>Ada pula pendapat, hanya orang yang rajin bangun pagi yang akan beroleh rezeki. Mereka yang takut kepada Matahari akan jauh perolehan nafkah.</p>
<p>Bagaimana dengan hari libur, baik saat akhir pekan maupun tanggalan merah? </p>
<p>Ada yang justru bangun lebih bagi dari biasanya, karena itulah cara untuk mensyukuri hari prei. Sayang jika waktu dilewatkan bersama bantal dan mimpi.</p>
<p>Namun ada juga yang sebaliknya. Justru pada hari libur mereka memilih bangun siang, bahkan mandi pun ditunda, karena itulah saat untuk merayakan kebebasan dari rutinitas yang menyiksa.</p>
<p>Tentu variasinya banyak, artinya tak hanya ada dua pilihan itu. Ada yang tetap bangun menjelang subuh untuk sembahyang, lalu kembali tidur. Ada yang pokoknya bangun tak sepagi biasanya, tetapi tetap mengutamakan mandi.</p>
<p>Manakah yang baik lagi benar, itu terpulang kepada setiap orang dan bahkan setiap keluarga. Kok keluarga?</p>
<p>Zaman sudah berubah. Sebagian keluarga lama tak menenggang bangun siang, apalagi menunda mandi, bahkan pada hari libur sekalipun. Sementara bagi beberapa orangtua zaman sekarang, terutama setelah anak-anaknya bisa mandi sendiri, hari libur dijadikan pembebasan.</p>
<p>Di luar kelompok itu ada pula kelompok &#8220;bangsawan&#8221;, yang dalam pelesetan orang Jawa adalah &#8220;<em>bangsane tangi awan</em>&#8221; (bangsa bangun siang). Mau hari libur atau hari kerja, bangun siang adalah kebutuhan demi kesehatan. Dokter waras mana pun tidak ada yang menganjurkan orang yang berangkat tidur pukul 07.15 untuk bangun pukul 07.30 di pagi yang sama.</p>
<p>Boleh tahu, kebiasaan bangun tidur Anda (dan keluarga Anda) pada hari libur? Cerita dong&#8230; :)</p>
<p>&copy; Foto: Dayinta Sekar Pinasthika, Maret 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/04/07/hari-libur-buat-bangun-pagi-atau-siang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

