PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK
CERITA DARI PEREMPATAN, POTRET MASYARAKAT TOLERAN.
Saya tidak tahu dari mana arah datangnya, selain dari belakang, tahu-tahu mbak itu ada di antrean terdepan. Dia konsisten, tidak berpindah jalur untuk berhenti. Dia tetap mengambil jalur kanan yang mestinya untuk kendaraan dari arah berlawanan.
Tak ada polisi di dekat perempatan di Jalan Barito, Jakarta Selatan, itu. Lebih penting lagi: tak ada yang protes melalui klakson atau teguran.
APAKAH DEMOKRASI BERARTI MAYORITAS BOLEH APA SAJA?
Mobil yang keren. Modifikasinya bolehlah. Tema visualnya sangat Hanura. Mungkin bukan milik partai tetapi kepunyaan seorang kadernya. Tentu inilah mobil untuk rakyat. "Hanumpaki rakyat," kata sobat saya yang wong Yoja.
Memang makin terasa ancang-ancang untuk pemilu tahun depan kian kencang. Datanglah ke beberapa tempat layanan digital yang bagus. Ada saja order untuk partai. Itu baru yang tampak, karena ada di hilir. Saya tak tahu apa yang ada di hulu, yaitu anggaran.
LEBIH KUAT MANA: KAMPANYE ATAU MENGALAMI SENDIRI?
Hemat energi, hemat biaya. Itu kata kampanye. Semua orang mengamini dalam lingkup pengetahuan umum. Soal praktik, itu lain perkara. Lha iya, wong bergantung pada siapa yang menanggung biaya.
Seorang suami selama bertahun-tahun berkewajiban membayar biaya air minum, telepon, dan listrik. Keluhan bahwa tagihan cenderung naik, bukan hanya karena tarif tetapi juga konsumsi di keluarganya, selalu ditanggapi si nyonya dengan, "Oh ya? Masa sih, Pa? Habis gimana lagi dong, Pa..."
INGIN MURAH TAPI NYAMAN, SALAHKAH?
Mungkin cuma gegayaan. Tapi bagi saya, gaya beberapa mobil angkot yang menaruh roda cadangan di luar itu bagus. Lebih fungsional.
Lho, bukannya bongkar pasang roda tak membutuhkan bantuan penumpang?
UANG DISAYANG, UANG MELAYANG.
Warung layanan cetak digital ini jujur. Meski mengesalkan dia sudah bikin disklaimer. Jadi, kalau konsumen tak suka, silakan bawa uang pas (receh). Jangan mengharapkan seribuan akan menyisakan kembalian. Belum tentu ada.
Apa yang terjadi jaringan cetak digital Ibu Kota itu hanya meneguhkan cerita lama. Rupiah semakin tak bernilai. Maka berbahagialah yang memegang euro, poundsterling, dan dollar Ostrali.
GAYA (SEBAGIAN) ORANG MEDIA DI REPUBLIK CALO.
Anda pasti pernah menjumpai mobil dengan setidaknya salah satu atribut ini. Stiker keluarga besar TNI-AD/AU/AL, Marinir, Kopassus, Brimbob, Hansip. Replika topi Polisi Militer. Lencana pangkat taruna Akademi Militer.
Buat apa? Kebanggaan dan solidaritas korps. Lucunya korps di sini termasuk keluarga batih: orangtua, paman, mertua, keponakan, ipar, tetangga.
TUNGGU SAJA SAMPAI SEMUANYA MENTOK!
Ini masalah di kota besar. Tak hanya jalan yang dipenuhi mobil. Area parkir pun penuh.
Solusi perorangan ada beberapa macam. Dari memakai jasa valet, memesan kapling sebelum datang (untuk yang merasa sebagai VIP), sampai meminta Mbak atau Ibu untuk pegang setir supaya dapat kapling parkir wanita. Setidaknya itu lebih mudah ketimbang mengganti pelat mobil jadi berkode CD.
KARENA KIKUK DAN MATI AKAL.
Saya pikir heboh tak penting soal gembok itu akan cepat berlalu, cuma dianggap guyon. Bermula dari ide sok jenial juragan panti pijat yang meniru badhong dalam tradisi Jawa, lantas ada gelagat negara ingin mengadopsi. Kemarin sore Pro3 RRI juga membahasnya.
Anda pernah melihat anjing diberangus agar tak menggigit sembarangan? Itu adalah sebuah cara yang penuh keapabolehbuatan karena si sato kewan sulit diatur.
MENYAMBUT PEMILIHAN GUBERNUR...
Ketika DKI memilih gubernur baru, saya merasa berjarak karena memang tak berhak memilih. Saya orang Bekasi. Mestinya tak ada urusan dengan Jakarta.
Sekarang rakyat provinsi Jawa Barat sedang diarahkan untuk memilih gubernur. Lagi-lagi saya berjarak, tapi dalam kasus ini saya sebetulnya berhak memilih.
Maaf, shoutbox prei dulu. Harap, eh harus maklum. Terima jadi. :)