Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Mendidik Masyarakat: Siapa Mendidik Siapa? | Sabtu, 13 Februari 2010 @ 04:06

BUKAN BERARTI ORANG BOLEH SEMAUNYA DI INTERNET, TAPI...

Jika di blog ini saya mencomot hasil jepretan Anda tanpa permisi, apalagi karena itu saya mendapatkan uang, bagaimana? UU HAKI sudah mengaturnya. Begitu juga ketika saya menista Anda di sini. KUHP pun bisa menjerat saya.

Blog ini hanya media. Di dalamnya ada cara. Untuk dua hal dalam paragraf pertama, tanpa internet pun bisa saya lakukan. Masalahnya ada pada saya, bukan pada internet.

Pagar Makan Penglihatan | Selasa, 26 Januari 2010 @ 11:06

RUMAH KITA, CANGKANG KITA.

Jadi, apa sebetulnya yang kita butuhkan dari pagar halaman depan rumah kita? Misalkan perda tak mengaturnya, mungkin kita semua akan membangun pagar bumi yang tinggi mirip beberapa kota lama yang banyak saudagarnya. Setiap rumah adalah benteng dalam wujud fisik. Orang luar maupun penghuni harus saling intip.

Tengoklah sekitar. Bahkan maaf, mungkin juga rumah Anda. Pagar besi anyam BRC pun kita pasangi lembaran plastik. Terserah orang bilang itu mika, "piber", atau polikarbonat, tapi intinya adalah kita menyukai pelapis pagar setengah tembus pandang itu.

Pidato Paman Kikuk | Selasa, 24 November 2009 @ 11:40

DARI HATI YANG TERDALAM UNTUK ORANG-ORANG YANG TAK KUNJUNG PAHAM.

Saudara-saudara, dari hati yang terdalam saya ingin menyatakan bahwa sesungguhnya saya amat prihatin dengan keadaan ini. Perkembangan masalah sudah keluar dari jalur, bahkan mengarah pada character assassination, sehingga pidato lengkap saya diringkas menjadi empat karakter: cuih. Tepatnya lima karakter bila ditambahi tanda pagar.

Pagar, Saudara-saudara. Pa-gar. Itulah batas langkah kita. Pagar adalah batas wilayah maslahat dan mudarat. Di wilayah yang di balik pagar itu, ada sebuah lorong panjang beratap. Itulah koridor menuju bangunan besar. Saya selalu menempuh koridor itu karena semua rambunya telah jelas bagi saya. Maka dengan tulus dan penuh rendah hati saya mengharap agar jangan paksa saya keluar dari koridor itu.

Belajar Sejarah dari Presiden ke Presiden | Senin, 23 November 2009 @ 10:09

KARTUN BENNY RACHMADI MEREKAM ZAMAN.

Yang namanya kemelut BLBI itu ada sejak 1998. Apakah sampai hari ini sudah tuntas? Padahal moral ceritanya tetap: orang kaya ngutang ke negara tapi ogah bayar, bahkan kewajiban mereka ditanggung oleh seluruh rakyat. Ingat, para juragan itu tidak jadi miskin. Krisis monter 1998 dan akibat lanjutannya memang membingungkan. Bahkan ada pengacara yang moncer karena piawai membangkrutkan perusahaan atas permintaan si juragan.

Yang namanya rasa keadilan memang soal rasa. Setelah itu adalah akal dan bahkan akal-akalan. Bagaimana sontoloyonya potret perjalanan bangsa, dari presiden ke presiden, bisa dilihat di dua buku Benny Rachmadi, Dari Presiden ke Presiden, yang mencakup era Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, sampai dua periode Susilo Bambang Yudhoyono.

Kepemimpinan, Keperwiraan | Rabu, 18 November 2009 @ 06:10

TAK SEMUA PEMIMPIN ITU BERJIWA PERWIRA

Cewek 17 tahun itu tenang sekali menghadapi hujan pertanyaan dari sejumlah orangtua murid yang mayoritas kaum ibu. Dia, sebagai komandan unit kegiatan siswa sebuah SMA putri, dicecar soal beratnya jadwal latihan sehingga melelahkan anggota. "Ibu, dulu sebelum mendaftarkan diri itu bukannya siswa dan orangtuanya menandatangani pernyataan bermeterai?" jawab si cewek dalam pertemuan di aula.

Dalam surat pernyataan termaktub kesanggupan untuk serius berlatih. Secara implisit juga ada tuntutan agar siswa dan orangtua punya kesadaran membagi waktu. Saya kagum. Cewek itu tidak gugup,tidak emosional.

Permainan Bahasa dalam Cicak vs Buaya | Jumat, 06 November 2009 @ 11:46

BAHASA ADALAH ALAT KEKUASAAN. TAK HANYA BAGI NEGARA...

Sudah empat hari permintaan Kapolri dicanangkan agar masyarakat, terutama media, tak menggunakan "cicak lawan buaya". Lihat, adakah hasilnya?

Memang Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri, kapolri itu, sudah meminta maaf soal penggunaan istilah "cicak lawan buaya" yang dilansir oleh anak buahnya. Kita hargai permintaan maaf itu, meskipun telat, itu pun disampaikan melalui Menkominfo Tifatul Sembiring. Mestinya sejak awal itu terucapkan, Pak Kumendan Teratas langsung meminta maaf.

Satu Bahasa, Bahasa Saya | Sabtu, 31 Oktober 2009 @ 05:28

DALAM PENULISAN ANGKA KITA SANGAT MENGAMINI KEBINEKAAN.

Mana yang benar: Rp 3.500 atau Rp 3,500? Mana yang tepat: US$ 3.500 atau US$ 3,500? Lantas mana yang pas: 1GB atau 1 GB? Umumnya ada dua macam jawaban. Pertama: "Udahlah, kan bisa dikira-kira sendiri, yang penting sama-sama ngerti." Kedua: "Nyari masalah ngomongin gituan. Nggak penting!"

Lihatlah dokumen dinas di komputer Anda, terutama yang memakai spreadsheet. Mau berbahasa Inggris atau Indonesia (dan bahkan campuran), umumnya dokumen yang melibatkan penghitungan sering memakai koma untuk mengelompokkan ribuan. Sedangkan titik dipakai untuk pecahan desimal. Ya, berkebalikan dari yang diajarkan di SD.

Pelajaran Mudik: Regenerasi Kengawuran | Rabu, 23 September 2009 @ 03:36

25 TAHUN KE DEPAN APAKAH INDONESIA BERES?

Kalau saja dalam arus mudik kemarin semua mau antre, maka setiap orang akan mendapatkan jalan. Memang harus menunggu, tetapi esensi antre adalah keadilan. Tiada privilese kecuali bagi ambulans dan mobil pemadam kebakaran.

Tetapi yang terjadi adalah penyerobotan di tengah antrean, di ruas jalan mana pun yang macet. Polisi kerepotan, bahkan putus asa. Seorang bintara duduk kelelahan di atas motornya yang dia parkir di tengah jalan, mengelap peluh, tak peduli lagi serobotan. Polisiwan lain dengan parau berteriak-teriak, "Bapak salah! Jangan ambil jalur orang lain! Antre! Antre! Antre!"

Apakah Kita Paham Tetangga? | Senin, 07 September 2009 @ 08:49

KENAL TAK BAWA MANFAAT. TAK KENAL juga TAK RUGI (?)

"Dik, Jalan Adem Ayem tiga (romawi) di mana?"

"Nggak tau, Oom."

Si Kaya dan Pengemis Sama-sama Dihukum | Rabu, 02 September 2009 @ 02:49

PARA TUAN KABUR, SOPIRNYA JADI PESAKITAN.

Dua belas orang kaya disidang dan dihukum denda Rp 150.000 hingga Rp 300.000. Kesalahan mereka: memberikan uang kepada pengemis jalanan. Keduabelas orang kaya itu memilih membayar denda ketimbang dibui dua bulan.

Demikian menurut laporan Investor Daily kemarin. Di mana? Jakarta. Peristiwa terjadi di empat titik. Penyidangan tindak pidana ringan berlangsung di PN Jakarta Pusat, PN Jakarta Timur, dan PN Jaksel. Judul beritanya: "Ditangkap, Pemberi Sedekah di Jalanan".


Komentar terbaru

  • iqbal mabukbahasa: orang parno macam mereka tu sampai...
  • iqbal mabukbahasa: bener2 wajah jawa yg lembah...
  • fukyu: kalo menurut ane foto2 di masa muda kliatan adem...
  • pendapat: Hidup Indonesiaku :D
  • ciwir: bener paman. bahwa dalam segala hal perlu yg...
  • Kartun: berusaha bikin aturan tentang hal yang...
  • cinta: inilah indonesia, yang katanya demokrasi, tapi...
  • Anas: Apakah para menteri dan para pejabat terkait ini...
  • pernikahan adat: Sepakat paman, semoga para penggagas...
  • winy: happy belated birthday paman….. :D
  • ardianzzz: negri ini memiliki banyak orang pintar…...
  • ling: sya punya kamera atik. tapi sepertinya sudah ga...
  • Teguh Saja: pasal 3b, hukum yang mana yak?
  • j4p: Foto pertama benar-benar kayak fotonya si raja judi...
  • bodrox: lebih senang kalau hati dan citra sama manisnya :)
  • andrie-SekolahVirtual: Sepakat paman.. apakah setiap...
  • Kardjo: Saya justru setuju dengan produk ini paman.....
  • bapake rasta: Kayak apa ya foto dia ketika disowani...
  • ajengkol: Mau dong sawo madunya
  • indra-bingung cari duit: salam kenal, ibarat sekolah ada...


titipan suara

Maaf, shoutbox prei dulu. Harap, eh harus maklum. Terima jadi. :)


Kategori

Blog ini ada di Indigo