Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





Piwulang Ndoro Bedhès | Minggu, 24 Mei 2009 @ 04:51

MERAWAT KEGEMBIRAAN NGEBLOG.

Kesetiaan dan kesenangan. Itulah yang dijalani oleh seteru mesra saya, Dik K.R.M.T. Roy Wicaksono Satrionyemengit alias Ndoro Kakung alias Richard* alias Ndoola Mamusi, dalam ngeblog. Dia setia terhadap beberapa blognya (termasuk mikroblog), dan mengisinya penuh kesenangan, dan sesekali keisengan, dari hari ke hari -- memang sih kadang prei.

Jika kesukaannya menulis daring (yang kadang garing) itu dihubungkan dengan profesinya sebagai jurnalis, saya kok kurang sepakat.

Anagram dalam Tuturan Langit Merah | Minggu, 12 April 2009 @ 11:49

TENTANG PENGELANA, DAN... WARTAWAN BUSUK.

Bejo Okatama, baron pers Indonesia. Anda tak kenal dia? Ambillah sebuah koran terkemuka Indonesia. Cari nama pemimpin umum dan pendirinya. Coba Anda atur ulang huruf-huruf dalam Bejo Okatama.

Artinya dengan segera, apalagi dibantu daftar nama di boks redaksi, Anda akan menemukan kunci anagram untuk sejumlah nama. Misalnya Putro Marsoyo -- pernah menjadi pemimpin redaksi, kabarnya dicopot karena kekaribannya dengan pejabat dan konglomerat sumber masalah.

Supaya Bisa Pura-pura Paham | Sabtu, 03 Januari 2009 @ 03:33

KAMUS KECIL NAN BERFAEDAH.

Don't (hesitate to) judge a book by its cover. Kemasan buku yang berstiker label ini sangat catchy, menggoda iman, dan menyeret dompet. Saya pernah mendengar tetapi baru kemarin melihat wujudnya, dan memegangnya, di toko buku.

Ternyata bagus. Sebuah kamus istilah brand dan branding yang ringkas dengan desain yang cantik. Sebagai hadiah boleh juga.

Selamat Tinggal Toko “Kucing dalam Keping” | Selasa, 09 Desember 2008 @ 12:07

LEBIH BANYAK MANA: CD ASLI CHINESE DEMOCRACY ATAU CD BAJAKAN DAN MP3?

Lompatan teknologi tak dapat dilawan. Maka sungguh keterlaluan kalau hari gini masih ada toko CD yang melarang pencobaan cakram lagu oleh konsumen. Satu memulai, lainnya mau tak mau harus ikut. Tanpa membolehkan cicip suara, itu sama saja mempersilakan konsumen beli kucing dalam sekeping cakram. Tapi bukan keterlaluan, apalagi buat bahan olok-olok, jika jaringan toko kaset/CD Harika di pinggiran Jakarta masih memasang pengumuman seperti ini: "CD hanya berisi lagu, tidak ada gambarnya".

Itu sebuah edukasi untuk konsumen yang layak dihormati. Itu pula alasan saya menyebutnya sebagai lompatan. Orang tak perlu urut dari piringan hitam (vinyl) ke reel tape dan cartridge lalu kaset lantas DAT kemudian CD dan akhirnya MP3 -- kecuali mereka orang mapan yang beruntung (dan mungkin kemlinthi). Kini dari pengalaman berkaset boleh langsung ke MP3. Ponsel dan digital music player Rp 200.000-an telah menjadi kanal distribusi musik yang masif. Penikmatnya tak perlu sekali pun pernah mengonsumsi CD padahal compo di kamar pondokan ada pemutar CD-nya.

Musik Kedai Ayam Goreng dan Pabrik Roti | Selasa, 02 Desember 2008 @ 02:44

MERIAHKAH MUSIK UNTUK PEMILU 09 KALAU EKONOMI MAKIN PARAH?

Dua hal tak berhubungan itu mengusik lamunan ngawur saya. CD Bonus lansiran KFC tergeletak dekat player, tapi yang sedang saya putar adalah Jet lag-nya PFM.

Kalau soal mana yang lebih bagus, itu wilayah selera. Anggap saja bagimu adalah musikmu dan bagiku adalah musikku. Tidak perlu dipertengkarkan. Misalkan Anda menyukai keduanya pun tak dianggap sinkretis maupun eklektis.

Mencari Sampul Rekaman yang Apik | Minggu, 23 November 2008 @ 07:08

KEBODOHAN DI ERA MUSIK DIGITAL UNDUHAN :D

Manakah yang lebih bagus untuk sampul rekaman Indonesia tahun 2008: CD Teenage Death Star (TDS) atau Dewi Lestari dalam paket RectoVesto? Mari berterima kasih kepada demokrasi karena beda kepala boleh beda pendapat. Artinya orang gondrong dan botak tak dilarang untuk seiya-sekata.

Ehm, saya sedang tergelitik oleh satu hal: adakah blog kolaboratif yang membahas sampul rekaman Indonesia?

Lagi-lagi Benny & Mice | Senin, 22 September 2008 @ 01:02

MUNGKIN SIRIK, MUNGKIN CUMA MAU BIKIN KITA NGIKIK...

Tak ada yang baru. Kita sudah melihatnya di Kompas Minggu lantas jadi buku. Kalau Anda tergolong orang kikir tapi kreatif, gunting saja setiap edisi lantas dikemas sebagai kliping -- asal bukan untuk digandakan apalagi dijual. Atau buatlah screenshots dari edisi e-paper.

Tapi kalau Anda menghargai buku, dengan kompilasi hasil suntingan penerbit, buku karya duo kenthir ini layak buat hadiah Lebaran. Untuk oleh-oleh saat mudik, supaya orang di "daerah" paham kekonyolan Jakarta.

CNJ Radio kemudian Ninety Nine | Rabu, 20 Agustus 2008 @ 06:10

KE TOP 40; ENTAH KE MANA JAZZ DAN KLASIKNYA.

Lama tak menyetel, ketika tadi menyalakan CNJ Radio (99,90 MHz) saya mendengar pengumuman penyiarnya: stasiun akan berubah format, untuk segmen 15-25 tahun. Delapan puluh persen suguhan musik akan diisi top forty. Nama barunya, menurut penyiar mengaku masih kagok menyesuaikan diri, adalah Ninety Nine (kadang dia bilang  "ninety-niners"). Pendengar mengirim SMS. Rata-rata isinya agak menyayangkan. Dalam kalimat lain: kurang rela tapi memaklumi banting setir stasiun yang antara lain dimodali pengacara Todung Mulya Lubis itu (masihkah?).

Selama tiga tahunan stasiun itu menghibur pendengarnya dengan musik jazz dan klasik. Beruntunglah mereka yang punya tuner bagus dan antena kuat, apalagi kalau Classic, News and Jazz sedang siaran nonstop.

PR dari Bu Guru: Tontonlah Sinetron | Jumat, 25 Juli 2008 @ 02:44

BAGIAN DARI MATA PELAJARAN DI SD.

Ketika saya telepon, malam itu anak bungsu saya sedang mengerjakan PR. Kok ada suara TV? "Iya, Pak. Memang PR-nya nonton TV lalu bikin kritik," katanya.

Wah boleh juga. Baru dua hari sebelumnya ada Hari Tanpa TV. Lantas Bu Guru Bahasa Indonesia menyuruh anak kelas enam SD membuat "kritik sinetron". Maka dia tongkrongilah Upik Abu dan Laura. Kali itu dia nonton sinetron  karena tugas dari Bu Guru. Ketika saya tanya repot apa tidak, dia hanya tertawa-tawa.

Ayo Nonton TV! | Minggu, 20 Juli 2008 @ 03:48

BERHALA MODERN YANG DICINTA DAN DIBENCI.

Adakah stasiun televisi yang hari ini menayangkan Hari tanpa TV? Saya belum tahu karena malas mengecek. Malas mengecek karena jarang nonton TV. Jarang nonton karena banyak sebab. Salah satunya adalah apa yang saya butuhkan seringkali sudah terlewat atau belum muncul, atau malah ketika saya setel stasiunnya sedang tidak siaran. Bukankah ada jadwal siaran TV? Ini jenis informasi yang saya lihat.

Apakah saya memusuhi TV? Tidak.


Komentar terbaru

  • kardjo: Ada lagi yang hampir selalu tanpa sadar diucapkan...
  • Bocah: Paman, lagu Mbah Surip pasti dibikin dengan...
  • funkshit: hiya… kata “tak” dan...
  • Yan: Imsto, Bahasa tidak statis… Bisa jadi bahasa...
  • Karunia: Mbah2 Jawa memang sip tenan. Ada Mbah Surip,...
  • Yahya Kurniawan: Jaman ndak enak dulu, ketika saya belum...
  • nimbrung: “ji, ro lu, pat, mo….”...
  • zenteguh: perspektif lain dari kemonceran mbah Surip,...
  • Bang Del: Terkadang sesuatu yang sederhana dan simpel...
  • phery: walah, tak pikir mbahas apa to
  • Ahmad: Saya malah makin disandera bahasa Melayu, bukan...
  • adi: kalo denger lagunya mbah surip, kadang-kadang suka...
  • jun: Tak koplok! (Hehehehe, kalau ini versi tak yang...
  • zam: tak tung tung!
  • se7en_pearl: udh baca d tembolok nya… ya walau gk...
  • se7en_pearl: mbah itu emank hoki…. rejeki tumpah cm...
  • ahmad: Hoki banget dah lagunya. Mungkin bertapa dulu kali...
  • Nazieb: Kadang-kadang Bahasa Indonesia yang saya gunakan...
  • Ndoro Seten: Mbah Surip pancen I love u full….
  • Handaru Sakti: Kejelian paman satu ini memang menakjubkan.


titipan suara

Maaf, shoutbox prei dulu. Harap, eh harus maklum. Terima jadi. :)


Kategori

Blog ini ada di Indigo