<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blogombal [√] &#187; Lihat Baca Dengar</title>
	<atom:link href="http://blogombal.org/category/lihat-baca-dengar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogombal.org</link>
	<description>catatan ringan angin-anginan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 08:41:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Mode, Modis, Modiste</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/02/06/mode-modis-modiste/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/02/06/mode-modis-modiste/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 08:30:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[fashion]]></category>
		<category><![CDATA[herman jusuf]]></category>
		<category><![CDATA[irma hadisurya]]></category>
		<category><![CDATA[kamus mode indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[mode]]></category>
		<category><![CDATA[ninuk mardiana pambudy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5334</guid>
		<description><![CDATA[MAKIN BANYAK KAMUS MAKIN BAGUS. <p></p> Kesan saya mungkin salah. Makin banyak orang menyebut &#8220;fashion&#8221; (atau menuliskannya &#8220;fésyen&#8221;), bukan &#8220;mode&#8221;. Untuk generasi digital yang masa SD-nya akrab dengan arloji digital, kata &#8220;mode&#8221; merujuk pada pilihan penggunaan fitur peranti (latin: modus). <p>Adapun kata &#8220;modis&#8221; masih dipakai, berbarengan dengan &#8220;fashionable&#8221; dan &#8220;stylish&#8220;. Modiste? Itu dunia emak-emak, dekat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MAKIN BANYAK KAMUS MAKIN BAGUS.</h3>
<p><img class="alignnone" title="Kamus Mode Indonesia, 2011" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-kamus-mode-indonesia-2-1.jpg" alt="" width="450" height="450" /></p>
<h3><span class="Apple-style-span" style="font-size: 14px; line-height: 22px;">Kesan saya mungkin salah. Makin banyak orang menyebut &#8220;<em>fashion</em>&#8221; (atau menuliskannya &#8220;fésyen&#8221;), bukan &#8220;mode&#8221;. Untuk generasi digital yang masa SD-nya akrab dengan arloji digital, kata &#8220;mode&#8221; merujuk pada pilihan penggunaan fitur peranti (latin: <em>modus</em>).</span></h3>
<p>Adapun kata &#8220;modis&#8221; masih dipakai, berbarengan dengan &#8220;<em>fashionable</em>&#8221; dan &#8220;<em>stylish</em>&#8220;. Modiste? Itu dunia emak-emak, dekat dengan pesanan kebaya. Ibu-ibu muda yang membuka usaha penjahitan lebih suka menambahkan atribut &#8220;<em>collection</em>&#8221; bahkan &#8220;<em>boutique</em>&#8220;.</p>
<p>Itulah bahasa. Mengenal rasa dan selera zaman. Di dalamnya terkandung aspek psikolinguistik dan sosiolinguistik. Sama seperti &#8220;berondong jagung&#8221; dan &#8220;<em>popcorn</em>&#8221; yang secara substansial-material sama.</p>
<p>Yang menarik dalam istilah perbusanaan Indonesia (terima kasih kepada para editor yang memperkenalkan kata &#8220;adibusana&#8221; sebagai padanan <em>haute couture</em>, <em>alta moda</em>, dan <em>high fashion</em>):  kita merujuk ke bahasa Belanda dan Inggris sekaligus. Sama dengan bidang teknika dan lainnya.</p>
<p>Hasilnya, kita sama-sama tahu, nama gelaran ini masih diterima: Lomba Perancang Mode Indonesia. Begitu juga nama wadah Ikatan Perancang Mode Indonesia dan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia. Semua memakai kata &#8220;mode&#8221;. Akan tetapi jangan menyebut &#8220;<em>modeblad</em>&#8220;. Hanya generasi oma-oma, termasuk para pendiri <em>Femina</em> (yang terilhami majalah Belanda <em>Libelle</em> dan <em>Margriet</em>), yang paham.</p>
<p>Maka dari kamus ini, tepatnya daftar istilah ini (karena tak ada panduan pelafalan istilah asing), saya segera mencari kata-kata yang saya sebutkan tadi. Semuanya ada &#8212; kecuali &#8220;<em>modeblad</em>&#8221; (kertas pola potong berskala 1:1, <em>pattern paper</em>). Pada era industri garmen belum semaju sekarang, <em>modeblad</em> adalah bonus wajib majalah wanita sampai awal 80-an (ingat Pola Burda?).</p>
<p>Warisan Belanda yang masih hidup tentu juga termuat dalam kamus ini. Misalnya &#8220;beha&#8221; (dari kata Belanda: <em>buste houder</em>), yang dalam kamus ini dipadankan dengan &#8220;kutang&#8221; (hal. 31). Memang makin ke sini orang makin akrab dengan yang satu suku kata: &#8220;<em>bra</em>&#8221; (lema ini, pada hal. 37, langsung merujuk ke &#8220;kutang&#8221; di hal. 128).</p>
<p>Bagaimana dengan istilah Belanda &#8220;<em>voering</em>&#8221; (Inggris: &#8220;<em>lining</em>&#8220;)? Dalam kamus ini menjadi lema &#8220;vuring&#8221; (hal. 218), yang merujuk ke lema &#8220;lining&#8221; (hal. 136).</p>
<p><em>Lingerie</em>? Pasti ada lemanya, di halaman 136, cukup dengan penjelasan &#8220;istilah bahasa Prancis untuk pakaian dalam dan baju tidur wanita&#8221;. Istilah ini bagi saya penting karena tak seperti sampai awal 9o-an, sekarang di lapak terminal pun dijual <em>lingerie</em> yang kadang dilafalkan &#8220;lingri&#8221; (Lihat Memo: <em><a href="http://memo.blogombal.org/2011/05/31/lingri-lingerie-di-kolong-terminal/" target="_blank">Lingri di Kolong Terminal</a></em>) &#8212; repot amat kalau merujuk lafal Prancis.</p>
<p><em>G-string</em>, <em>thong</em>, <em>tanga</em>? Ada dalam kamus. Tapi tak ada <em>split-thon</em>g dan <em>crocthless thong</em>. ;) Padahal itu perlu disebut mengingat maraknya dagangan jeroan, termasuk di Facebook, yang merupakan potret perubahan sosial. Busana intim bukan hal tabu dalam percakapan publik. Media cetak gaya hidup dan hiburan merintisnya, lantas internet (media sosial dan toko <em>online</em>) mematangkannya. »» Lihat Memo: <em><a href="http://memo.blogombal.org/2011/06/19/lingerie-praka-bintara-perwira/" target="_blank">Lingerie Bintara</a></em> dan <a href="http://memo.blogombal.org/2011/10/14/celana-dalam-kupu-kupu/" target="_blank"><em>Celana Dalam Kupu-kupu</em>.</a> :)</p>
<p>Istilah asing lain yang diserap tetapi bisa membingungkan adalah warisan Belanda &#8220;<em>werkpak</em>&#8220;. Sejumlah media otomotif Indonesia menyebutnya &#8220;<em>wearpack</em>&#8221; padahal setahu saya dalam bahasa Inggris tidak ada. Sayang, &#8220;<em>werkpak</em>&#8221; tidak ada ada dalam lema. Untungnya ada &#8220;workwear&#8221; (hal. 225) dan &#8220;celana montir&#8221; (hal. 47, padanan untuk &#8220;jumpsuit&#8221; di hal. 110). Lema &#8220;overall&#8221; ada (hal. 157), tetapi &#8220;celana kargo&#8221; belum ada.</p>
<p>Bagaimana dengan istilah lokal? Sudah pada masuk. Misalnya &#8220;mlinjon&#8221; (hal. 145) dan &#8220;jumputan&#8221; (hal. 110, dirujukkan ke &#8220;celup ikat&#8221; dan &#8220;tie dye&#8221;). Lema lain misalnya &#8220;celana pangsi&#8221; (halaman 48), &#8220;ceplokan&#8221; (hal. 48), dan &#8220;kereng&#8221; (sarung Lombok, hal. 124).</p>
<p>Saya berani bilang kamus ini komplet. Untuk &#8220;batik&#8221; ada hampir 30 lema (termasuk &#8220;batik fraktal&#8221;, hal. 25), begitu pula direktori nama (lebih dari 50 lema, termasuk  Go Tik Swan Hardjonagoro). Buku ini memperkaya khazanah Indonesia. Setiap penulis, dari reporter,  editor, sampai pengelola konten di internet, layak memilikinya.</p>
<blockquote><p>JUDUL: Kamus Mode Indonesia • PENULIS: Irma Hadisurya, Ninuk Mardiana Pambudy, dan Herman Jusuf • PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2011 • TEBAL: 300 halaman • HARGA: Rp 80.000 • ISBN 978-979-22-7734-0</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/02/06/mode-modis-modiste/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/01/02/data-rekaman-musik-indonesia-perlukah-pentingkah/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/01/02/data-rekaman-musik-indonesia-perlukah-pentingkah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 18:26:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[Addie M.S.]]></category>
		<category><![CDATA[Ballerina]]></category>
		<category><![CDATA[Biola tak Berdawai]]></category>
		<category><![CDATA[cd]]></category>
		<category><![CDATA[CDDB]]></category>
		<category><![CDATA[chrisye]]></category>
		<category><![CDATA[Emha Ainun Nadjib]]></category>
		<category><![CDATA[Gracenot]]></category>
		<category><![CDATA[iwan fals]]></category>
		<category><![CDATA[jazz]]></category>
		<category><![CDATA[Kantata Takwa]]></category>
		<category><![CDATA[Kiai Kanjeng]]></category>
		<category><![CDATA[musicID]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[pop]]></category>
		<category><![CDATA[rekaman]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<category><![CDATA[Sarimanouk]]></category>
		<category><![CDATA[Titiek Puspa]]></category>
		<category><![CDATA[Waldjinah]]></category>
		<category><![CDATA[Yockie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5184</guid>
		<description><![CDATA[<p>MENGHARGAI KHAZANAH DALAM ERA DIGITAL.</p> <p>»»» CARA HEMAT WAKTU: Bacalah judul, subjudul/intro, kemudian langsung ke paragraf penutup tulisan ini. :)</p> <p>Judul di atas itu sebuah tanya. Anda, para penyuka musik Indonesia, yang mestinya tahu seberapa perlu, seberapa penting. Perlu berarti sebaiknya ada. Penting berarti harus ada &#8212; tidak boleh tidak, kata generasi tua.</p> <p>Informasi digital</p> [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="Apple-style-span" style="font-size: 21px; line-height: 25px;">MENGHARGAI KHAZANAH DALAM ERA DIGITAL.</span></p>
<p><em>»»» CARA HEMAT WAKTU: Bacalah judul, subjudul/intro, kemudian langsung ke paragraf penutup tulisan ini. :)</em></p>
<p>Judul di atas itu sebuah tanya. Anda, para penyuka musik Indonesia, yang mestinya tahu seberapa <em>perlu</em>, seberapa <em>penting</em>. Perlu berarti sebaiknya ada. Penting berarti harus ada &#8212; <em>tidak boleh tidak</em>, kata generasi tua.</p>
<p><strong>Informasi digital</strong></p>
<p>Nah, mumpung ada waktu saya tadi secara acak mencomoti beberapa CD saya lalu memasukkannya ke dalam komputer yang terhubung ke internet. Tepatnya terhubung ke <a href="http://www.gracenote.com/" target="_blank">Gracenote</a> (dulu <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/CDDB" target="_blank">CDDB</a>). Di sanalah musicID bersarang dan menjadi standar industri musik.</p>
<p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-sampul-sarimanouk.jpg"><img class="alignleft" title="sarimanouk jazz" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/th_blogombal-CD-sampul-sarimanouk.jpg?t=1325418660" alt="" width="160" height="160" /></a></p>
<p>Maka agak aneh juga, untuk album baru, bikinan anak muda, ada yang tak menyertakan info pendukung yang ramah digital dalam kemasan fisik (CD).</p>
<p>Misalnya grup jazz Sarimanouk (F.A. Talafaral, Julian Marantika, Doni Sundjoyo, dan Sandy Winarta), dengan album <em>Sarimanouk</em> (LikeEarth Recording dan DeMajors, 2011). Tak ada judul lagu maupun judul album. Hanya ada judul generik oleh mesin pembaca: Track 01, Track 02, dan seterusnya.</p>
<p><img class="alignnone" title="track list sarimanouk" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-sarimanouk.jpg" alt="" width="452" height="252" /></p>
<p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-biola-tak-berdawai.jpg"><img class="alignleft" title="Addie M.S.  (bukan Kangen Band): Biola tak Berdawai" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/th_blogombal-CD-biola-tak-berdawai.jpg?t=1325432169" alt="" width="160" height="160" /></a>Langkah Sarimanouk yang tumbuh dalam era digital ini tampaknya mengikuti seniornya yang mengalami dua dunia, analog dan digital. Lihat saja album <em>Biola tak Berdawai</em> dari Addie M.S. dan Victorian Philharmonic Orchestra (Kalyana Shira Film dan Warner Music Indonesia, 2003). Informasi dalam <em>cover sleeve</em> sangat lengkap, tetapi musicID hanya menampilkan Track 01, Track 02, dan seterusnya. Sayang sekali.</p>
<p>»» Lagu <em>Biola tak Berdawai</em> terlampir <a href="http://grooveshark.com/s/Biola+Tak+Berdawai/4m7xGw?src=5" target="_blank">di situ</a>. Info digital saya tambahkan. Mohon maaf untuk pemilik hak cipta. Catatan: Harap bedakan dari lagu yang berjudul sama dari Kangen Band.</p>
<p><object id="gsSong3415367973" width="450" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34153679&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3415367973" width="450" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34153679&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /> <img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34153679&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'<span>Biola tak Berdawai by <a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Addie+M+S+and+Victorian+Philharmonic+Orchestra/2265092\&quot; title=\&quot;Addie M.S. &amp;amp; Victorian Philharmonic Orchestra\&quot;>Addie M.S. &amp;amp; Victorian Philharmonic Orchestra</a> on Grooveshark</span>&#8216;}&#8221; alt=&#8221;" /></object></p>
<p>Bandingkan dengan CD luar, misalnya Norah Jones, <em>…Featuring Norah Jones</em> (Bluenote, 2010), album yang direkan selama 2001-2010 itu. Tahun album, nama artis, dan nama komposer pun lengkap (begitu lengkapnya sehingga panjang sekali). Tak apa, itulah data yang komplet.</p>
<p><img class="alignnone" title="CD Norah Jones" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-norahjones.jpg" alt="" width="552" height="329" /></p>
<p>Umumnya CD Indonesia sudah memuat informasi digital. Minimal judul album (= nama CD), nama artis, judul lagu, dan kadang tahun produksi serta <em>genre</em>. Nama komposer? Jarang dicantumkan.</p>
<p>Oh ya, ada juga yang berdata rangkap. Misalnya CD jazz keluaran Yogya ini (produksi bareng Dagadu, Kuaetnika, Komunitas Jazz Jogja, Jazz Mben Senèn, Wartajazz.com, dan Ngayojazz, 2011). Ketika CD saya masukkan ke dalam komputer, maka iTunes menanya dan mempersilakan saya memilih satu dari dua judul album. Lihatlah&#8230;</p>
<p><img class="alignnone" title="CD Ngayogjazz 2011" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-jazzyogya.jpg" alt="" width="450" height="115" /></p>
<p>Sebenarnya CD itu konsisten. Pada bagian muka sampul tertulis <em>Jazzing Java Sesarengan</em>. Dan pada bagian &#8220;punggung&#8221; sampul (bukan bagian belakang) tertulis <em>Ngayogjazz 2011: Mangan Ora Mangan Ngejazz</em>. Akibatnya info digitalnya pun ada dua versi.</p>
<p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-sampul-CD-emha-ainun-nadjib.jpg"><img class="alignleft" title="CD Emha Ainun Nadjib &amp; Kiai Kanjeng" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/th_blogombal-sampul-CD-emha-ainun-nadjib.jpg?t=1325432169" alt="" width="160" height="160" /></a>Masih dari Yogya, ada contoh lain yaitu Emha Ainun Nadjib, <em>Menyorong Rembulan</em> (Harika Music, 20??). Mungkin karena Emha dan Kelompok Kiai Kanjeng itu sosok lintas budaya maka judul CD dan trek tak menggunakan huruf latin maupun Arab. Coba Anda lihat tangkapan layar berikut ini&#8230;</p>
<p><img class="alignnone" title="CD Enha Ainun Nadjib &amp; Kiai Kanjeng: Menyorong Rembulan" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-emha-ainun-nadjib.jpg" alt="" width="452" height="158" /></p>
<p>Memang album ini hasil rekaman <em>live</em>, meskipun begitu mestinya pemenggalan tetap perlu. Karena hal itu tak dilakukan maka trek yang terbaca oleh komputer hanya ada satu (padahal mestinya ada delapan judul). Ini mirip memutar kaset yang terhubungkan ke komputer: semua lagu dalam satu sisi dianggap satu trek.</p>
<p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-sampul-kantata-takwa.jpg"><img class="alignleft" title="CD Kantata Takwa" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/th_blogombal-CD-sampul-kantata-takwa.jpg?t=1325418660" alt="" width="160" height="160" /></a>Sabar, masih ada contoh lagi. Yaitu CD Kantata Takwa, <em>Kantata Takwa</em> (Airo Production dan Musica Studio&#8217;s, 1990). Info digital dalam CD ini menyebutkan judul albumnya &#8220;Kantata Takwa&#8221; dan nama artisnya &#8220;Iwan Fals Cs&#8221;.</p>
<p>Jika merujuk pemahaman versi publik (dan pasar), itu tak salah. Tetapi untuk kelengkapan data mestinya tak begitu. Dalam Kantata Takwa Mark I ini juga ada Sawung Jabo, Rendra, Setiawan Djody, dan Yockie Suryo Prayogo (dalam CD tertulis Yockie Soeryoprayogo). Lihat ini&#8230;</p>
<p><img class="alignnone" title="CD Kantata Takwa Iwan Fals" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-kantata-takwa.jpg" alt="" width="450" height="222" /></p>
<p>Informasi digital itu mudah digandakan, dipertukarkan, dan disebarkan. Lihat saja CD audio bajakan: infonya pun terangkut. Begitu pula ketika treknya dikonversi menjadi mp3 dan kemudian diunggah-diunduh atau disiarkan (<em>streaming</em>).</p>
<p>Jika info digital ditulis sekadarnya, karena tak ada yang mengontrol, maka jejak khazanah menjadi kurang lengkap. Lantas kelak para penikmat lagu akan berdebat tentang tahun produksi, judul asli, komposer, dan seterusnya.</p>
<p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-sampul-ballerina.jpg"><img class="alignleft" title="CD Ballerina: Dance of Balet" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/th_blogombal-CD-sampul-ballerina.jpg?t=1325418660" alt="" width="160" height="160" /></a>Maka lihatlah informasi digital dalam CD progrock Ballerina, <em>Dance of Balet</em> (Indonesian Progressive Society/IPS Records dan Sony BMG Music Entertainment Indonesia, 20??). Soal &#8220;balet&#8221;, bukan &#8220;<em>ballet</em>&#8220;, tampaknya memang konsisten: ada dalam judul album dan judul lagu. Tetapi seperti halnya blog ini yang kadang salah ketik, lagu <em>Rock n Roll Saja Lah</em> menjadi &#8220;<em>ock n roll saja lah</em>&#8221; dan <em>Antara Jiwa</em> menjadi &#8220;<em>Amtara Jawa</em>&#8220;.</p>
<p>»» Sampel lagu dari album ini terlampir <a href="http://grooveshark.com/s/Dance+Of+Balet/4m6Vzk?src=5" target="_blank">di sana</a>. Mohon maaf kepada pemilik hak cipta.</p>
<p><object id="gsSong3415248027" width="450" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34152480&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3415248027" width="450" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34152480&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="450" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34152480&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'<span>Dance of balet by <a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/BALLERINA/2264954\&quot; title=\&quot;BALLERINA\&quot;>BALLERINA</a> on Grooveshark</span>&#8216;}&#8221; alt=&#8221;" /></object></p>
<p><img class="alignnone" title="CD Ballerina: Dance of Balet" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-ballerina.jpg" alt="" width="450" height="243" /></p>
<p>Jika menyangkut album utuh, bukan kompilasi satu sumber semacam &#8220;The Best of Kampretikus Band&#8221; maupun kompilasi multisumber misalnya &#8220;Mendayu Hits Collection&#8221;, infonya bisa minim. Nah, justru karena itu maka info digital pada sumber asal harus benar dan lengkap agar dapat dirujuk.</p>
<p><strong>Informasi analog</strong></p>
<p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-waldjinah.jpg"><img class="alignleft" title="CD kompilasi Waldjinah" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/th_blogombal-CD-waldjinah.jpg?t=1325418660" alt="" width="160" height="160" /></a>Aha! Informasi jenis ini lebih mengasyikkan lagi. Biasanya tertulis pada sampul CD. Banyak yang minim informasi.</p>
<p>Misalnya saja CD Waldjinah, <em>Koleksi Emas Ratu Langgam Jawa Volume 1</em> (Cipta Suara Sempurna, tanpa tahun). Hanya ada daftar lagu dan penciptanya. Padahal telinga saya mendapatkan kesan bahwa itu berbeda dari lagu versi awal Waldjinah. Dalam versi ini lebih &#8220;ngelektrik&#8221;. Ada suara kibor dan <em>fill in</em> perkusi elektronik. Pada lagu <em>Walang Kèkèk</em>, itu sangat kentara.</p>
<p>Sebagai sebuah kompilasi, saya mendapati kesan ini rekaman baru, dengan musisi yang sama. Bukan dari multisumber sejumlah album lama Waldjinah. Pertanyaan saya, ini direkam kapan, dan siapa saja musisi pengiring Waldjinah? Warna campursari yang menggejala pada 90-an itu sangat terasa. Sayang saya tak punya versi Lokananta untuk memperbandingkan.</p>
<p><img class="alignleft" title="CD kompilasi Titiek Puspa" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/th_blogombal-CD-titiek-puspa.jpg?t=1325418660" alt="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-titiek-puspa.jpg" width="160" height="160" />Hal serupa terjadi pada CD Titiek Puspa, <em>The Very Best of Titiek Puspa</em> (Gema Nada Pertiwi, 2005). Tampaknya satu paket rekaman, bukan kompilasi dari multisumber. Memang ada sih yang iringan musiknya berbeda warna &#8212; misalnya <em>Jatuh Cinta</em>, <em>Bimbi</em>, dan <em>Dansa Yok Dansa</em> (diiringi oleh Mus Mualim?). Siapa sebenarnya musisi pengiringnya? Kapan direkam? Dalam <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Titiek_Puspa" target="_blank">Wikipedia Indonesia</a> album ini tak terendus.</p>
<p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-iwan-fals-orang-gila.jpg"><img class="alignleft" title="CD Iwan Fals: Orang Gila | racikan sound hebat" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/th_blogombal-CD-iwan-fals-orang-gila.jpg?t=1325418659" alt="" width="160" height="146" /></a>Miskin info analog juga terjadi pada banyak CD yang merupakan rilis ulang dari kaset. Misalnya Iwan Fals, <em>Orang Gila</em> (Harpa Record, tanpa tahun). Bagian dalam <em>cover sleeve</em> putih polos. Seingat saya, versi kaset dari album Iwan Fals yang racikan <em>sound</em>-nya bagus ini memuat nama sang komposer dan penata musik Billy J. Budiarjo sebagai <em>sound engineer</em>.</p>
<p>Sebagai pembanding, pada CD <em>Mata Dewa</em> (Airo dan Musica Studio&#8217;s, 1989), <em>Hijau</em> (Prosound Records, 1992), dan <em>Suara Hati</em> (Prosound Records, 2002), kreditnya lengkap. Nama penata suara sampai fotografer dan perancang grafisnya pun tercantum.</p>
<p>Adapun beberapa rilis ulang rekaman Chrisye dan Yockie masih mengangkut info lama dari versi kaset. Misalnya <em>Jurang Pemisah</em> (Pramaqua, versi 1977; versi CD 2001) dan <em>Sabda Alam</em> (Musica Studio&#8217;s, versi kaset 1978; versi CD, 2001). Nama musisi pendukung dan panata suara tercantum. Tetapi dalam <em>Sabda Alam </em>desainnya sudah berbeda, fotonya sudah diganti. Pada <em>Pantulan Cita</em> (Musica Studios, versi kaset 1981; versi CD, 2004) kredit lama masih terangkut, termasuk orang-orang tim visual.</p>
<p><img class="alignnone" title="sampul CD Chrisye: Pantulan Cita" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-chrisye-pantulan-cita.jpg" alt="" width="450" height="307" /></p>
<p>Saya sudah membuangi semua kaset saya sehingga tak dapat membandingkan teks pada kemasan. Kaset itu merepotkan. Perpindahan trek lebih mudah pada piringan hitam &#8212; suaranya juga lebih &#8220;tebal&#8221;. Jadi bisa saja ingatan saya salah. Maaf. :)</p>
<p>Meskipun begitu ada  kenangan bagus saya tentang informasi dalam kaset lama Indonesia. Apa? Biarpun tak ditaja oleh produsen alat musik, sebagian musisi era &#8220;pop kreatif&#8221; (emang yang lain gak kreatip?) sering mencantumkan merek alat (misalnya Gibson, Fender, Korg, Moog, Paiste) berikut nama seri produk.</p>
<p>Sayangnya pada era Remaco, Dimita, Irama dan Metropolitan, pencantuman itu tak dilakukan sehingga kita tak melihat ada kredit untuk Farfisa. :D Akibatnya kita tak tahu biola apa yang dimainkan Adjie Bandi (C&#8217;Blues) dalam <em>Ikhlas</em> (Remaco, 1973). »» Lagunya terlampir <a href="http://grooveshark.com/s/Ikhlas/4m7bHb?src=5" target="_blank">di sini</a>, saya unduh dari alamat yang saya lupa. Mohon maaf kepada pemilik hak cipta.</p>
<p><object id="gsSong3415299569" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34152995&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3415299569" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34152995&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34152995&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'<span>Ikhlas by <a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/C+Blues/2265011\&quot; title=\&quot;C\'Blues\&quot;>C\&#8217;Blues</a> on Grooveshark</span>&#8216;}&#8221; alt=&#8221;" /></object></p>
<p><strong>Catatan khazanah</strong></p>
<p>Jadi, apa urusan informasi digital dan analog itu? Untuk memudahkan pencatatan agar kelak tersaji dokumentasi untuk publik. Katakanlah semacam &#8220;katalog album rekaman musik Indonesia&#8221;.</p>
<p>Buat apa? Supaya kita paham sejarah. Sebuah lagu dan album tidak tiba-tiba jatuh dari langit berbarengan dengan halilintar. Ada proses kreatif yang kolaboratif. Ada wajah zaman dalam setiap rekaman musik. Untuk film sudah ada Katalog Film Indonesia (<a href="http://filmindonesia.or.id" target="_blank">filmindonesia.or.id</a>). Untuk musik mestinya bisa menyusul.</p>
<p>Sungguh aneh jika kita gemar mengunduh dan bertukar lagu berformat digital melalui internet (apapun pasal legalnya) tetapi kita tak mau tahu apa dan bagaimana lagu itu selain, &#8220;<em>Pokoké</em> saya suka lagunya. Soal lainnya <em>embuh</em>.&#8221;</p>
<p>Lantas suatu hari nanti jika sumber asing lebih lengkap menyajikan informasi musik Indonesia kita cuma merenges lalu merapal mantra rendah diri, &#8220;Soalnya orang sana lebih maju sih.&#8221;</p>
<p>Sudah saatnya musisi dan industri musik lebih peduli. Manajemen musisi/band dan pihak label mestinya bisa lebih cermat dalam penyajian informasi digital dan analog. Jika ingin dicatat oleh sejarah buatlah data yang baik.</p>
<p><em>Terima kasih Anda sudah membaca tulisan panjang ini. :)</em></p>
<p><em>Nota:<br />
Maaf tidak melayani permintaan penggandaan CD audio dan konversi ke format digital.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/01/02/data-rekaman-musik-indonesia-perlukah-pentingkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foke dalam Biennale Jakarta</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/01/02/foke-dalam-biennale-jakarta/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/01/02/foke-dalam-biennale-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 18:05:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta Biennale]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[seni rupa]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Ayodya]]></category>
		<category><![CDATA[vektor]]></category>
		<category><![CDATA[Wedha Abdul Rasyid]]></category>
		<category><![CDATA[WPAP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5265</guid>
		<description><![CDATA[RUANG PUBLIK DISAPA, SIAPA TAHU BANYAK ORANG MERASA TERWAKILI. <p></p> <p>Mendekatkan seni kepada publik. Itulah maunya Biennale Jakarta XIV (4 Desember 2011 &#8211; 14 Januari 2012) yang bertemakan Maximum City.</p> <p></p> <p>Jakarta adalah gas pol. Tak pernah tidur. Apa saja ada. Atau dalam ungkapan Agum Gumelar semasa menjadi Asisten Intelijen Kodam Jaya pertengahan 90-an, &#8220;Jakarta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>RUANG PUBLIK DISAPA, SIAPA TAHU BANYAK ORANG MERASA TERWAKILI.</h3>
<p><img class="alignnone" title="Jakarta Biennale XIV" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-biennale-01.jpg" alt="" width="450" height="292" /></p>
<p>Mendekatkan seni kepada publik. Itulah maunya Biennale Jakarta XIV (4 Desember 2011 &#8211; 14 Januari 2012) yang bertemakan Maximum City.</p>
<p><img class="alignnone" title="Jakarta Biennale XIV" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-biennale-05.jpg" alt="" width="450" height="398" /></p>
<p>Jakarta adalah gas pol. Tak pernah tidur. Apa saja ada. Atau dalam ungkapan Agum Gumelar semasa menjadi Asisten Intelijen Kodam Jaya pertengahan 90-an, &#8220;Jakarta itu apa saja ada, dari sajadah sampai haram jadah.&#8221;</p>
<p>Memang makin sering saja pemeran seni, termasuk foto, mendatangi kerumunan. Lebih praktis, karena tak perlu mengundang khalayak secara khusus. Di Jakarta ini hanya orang serius, pun punya waktu, yang khusus mendatangi galeri dan gedung pameran. Atau bisa juga orang kurang kerjaan&#8230;</p>
<p><img class="alignnone" title="Jakarta Biennale XIV" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-biennale-03.jpg" alt="" width="450" height="765" /></p>
<p>Seperti <em>biennale</em> sebelumnya, gelaran kali ini juga menyapa ruang publik. Agar lebih banyak orang yang bisa melihat, merasa nikmat, dan syukur terlibat (karena terwakili). Misalnya di Taman Ayodya, taman di Kebayoran Baru yang selalu ramai dari pagi hingga jelang subuh itu.</p>
<p>Tertampilkan di sana kubus-kubus bercetak digital dengan ilustrasi vektor wajah ala Wedha Abdul Rasyid, bekas ilustrator majalah <em>Hai</em>. Bedanya, Wedha dulu mengawalinya dengan kerja manual, bukan dengan komputer.</p>
<p><img class="alignnone" title="Jakarta Biennale XIV" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-biennale-08.jpg" alt="" width="450" height="417" /></p>
<p>Dulu ketika ada <em>rock star</em> datang ke redaksi <em>Hai</em>, lalu menerima potret dirinya dalam kemasan marak berkotak, dan bertanya siapa yang membuat, maka Wedha akan mengaku, &#8220;<em>I did it.</em>&#8221;</p>
<p><img class="alignnone" title="Jakarta Biennale XIV" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/bogombal-biennale-06.jpg" alt="" width="450" height="340" /></p>
<p>Sebagian karya sejumlah perupa WPAP yang tertampilkan di Taman Ayodya adalah <em>local heroes</em>: pengamen, pedagang kaki lima, pedagang burung di los Barito… Ada juga wajah tenar, yang mungkin mewakili potret Bulungan sebagai kantong seni. Misalnya Ray Sahetapy, Alex Komang, dan Teguh Esha.</p>
<p>Di luar kubus-kubus itu, ada sebidang gambar besar yang canggung tersandarkan di bagian pinggir taman. Gubernur DKI Fauzi Bowo dan lima orang stafnya dalam pakaian dinas terpampang.</p>
<p><img class="alignnone" title="Fauzi Bowo dalam Jakarta Biennale XIV" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-biennale-foke2.jpg" alt="" width="450" height="253" /></p>
<p>Si baliho bertanya, &#8220;Apakah Pencari Kerja?&#8221; Lalu ada ajakan agar pencari berlatih aneka keterampilan. Ada jaminan, &#8220;Biaya ditanggung PEMPROV DKI Jakarta.&#8221; Iya, ada kata berhuruf kapital.</p>
<p>Kalaupun tamatan kursus tetap tak dapat pekerjaan, silakan menjawab pertanyaan Biennale: &#8220;<em>Survive or Escape?</em>&#8221; Oh ya, dalam kursus ada juga bahasa Inggris supaya dapat memahami pertanyaan itu.</p>
<p><img class="alignnone" title="Baliho Fauzi Bowo dalam Jakarta Biennale XIV" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/BLOGOMBAL-biennale-foke.jpg" alt="" width="450" height="362" /></p>
<p>Saya tak tahu manakah yang lebih membuat terkesan khalayak, Foke atau, katakanlah, Harun Mister Kopi dari Ayodya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/01/02/foke-dalam-biennale-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blues Merbabu, Blues Salatiga</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/05/10/blues-merbabu-blues-salatiga/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/05/10/blues-merbabu-blues-salatiga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 May 2011 13:30:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop rex]]></category>
		<category><![CDATA[blues merbabu]]></category>
		<category><![CDATA[gitanyali]]></category>
		<category><![CDATA[maryuni]]></category>
		<category><![CDATA[mbok nyai]]></category>
		<category><![CDATA[min kebo]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[pak ngadiran]]></category>
		<category><![CDATA[salatiga]]></category>
		<category><![CDATA[senjaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4450</guid>
		<description><![CDATA[SEOLAH SEMUANYA MUDAH DAN ENAK. DAN KEPAHITAN MENGIBA PUN TIADA. <p></p> <p>Mengulangi pendar sensasi ereksi dan ejakulasi pertama seorang bocah sepuluh tahun, masih kelas empat SD, saat kelon dengan seorang wanita dewasa lajang guru TK (tapi tanpa koitus), sekitar empat puluh tahun kemudian bukanlah hal mudah.</p> <p>Tentang kenangan lama, tak semuanya dapat diulang dengan rasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>SEOLAH SEMUANYA MUDAH DAN ENAK. DAN KEPAHITAN MENGIBA PUN TIADA.</h3>
<p><img class="alignnone" title="blues merbabu, blues salatiga, oleh gitanyali" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-blues-merbabu.jpg" alt="" width="450" height="324" /></p>
<p>Mengulangi pendar sensasi ereksi dan ejakulasi pertama seorang bocah sepuluh tahun, masih kelas empat SD, saat kelon dengan seorang wanita dewasa lajang guru TK (tapi tanpa koitus), sekitar empat  puluh tahun kemudian bukanlah hal mudah.</p>
<p>Tentang kenangan lama, tak semuanya dapat diulang dengan rasa yang sama. Wajar, karena manusia yang terlibat sudah berubah, ingatan melapuk, dan atmosfer tempat sudah berganti warna. Juga wajar jika dalam kasus bocah ingusan tadi ingatan dan kenangan si perempuan mungkin malah tak begitu melesak ke dasar hati.</p>
<p>Bagaimana dengan kenangan buruk, semisal stigma sebagai anak aktivis PKI, yang bapak dan ibunya ditahan tetapi nasib bapaknya tak jelas?</p>
<p>Setelah kebebasan berbicara tersedia, sebagian orang lebih memilih merekonstruksi segala sumber luka. Caranya macam-macam. Bisa runut dan blak-blakan, bisa juga simbolis dengan berpindah-pindah penggalan masa, tetapi hasilnya sama-sama menyakitkan.</p>
<p>Bagaimana dengan <em>Blues Merbabu</em>-nya Gitanyali, apakah sama dengan <em>Mencoba tidak Menyerah</em> (judul asli: <em>Aku bukan Komunis</em>) karya Yudhistira Ardhi Nugraha Massardi awal 80-an, saat Soeharto masih berkuasa?</p>
<p>Tidak. Yudhis bicara sebagai korban dengan memindahkan kepahitan kepada pembaca secara mendalam. <em>Blues Merbabu</em>, yang mencoba bertutur sederhana tetapi sesekali tampak kecendekiaannya (apa itu &#8220;<em>maxim</em>&#8221; dan &#8220;<em>imagined communities</em>&#8220;?), menutupi luka dengan hedonisme erotis kota kecil di Jawa Tengah, lalu di Jakarta, lengkap dengan segala kenorakan akhir 60-an dan awal 70-an &#8212; misalnya memakai parfum Charlie (by Revlon) yang saat itu ngetop dan menebar mantera asmara gombal melalui kartu pilihan pendengar radio.</p>
<p>Maka yang kita dapat, menurut kesan saya, adalah cerita ringan anak PKI yang melawan &#8212; tepatnya: mengimbangi &#8212;  stempel dan keadaan diri dengan cara yang sungguh merdeka: memanjakan hasrat duniawi, dengan pembenar yang seolah ideologis yaitu <em>sulaya</em> atau semacam pengingkaran. Oh ya, kalau surgawi sudah bukan hasrat kan? :D</p>
<p>Tentang serangkaian petualangan bararoma kompleks oedipus, mungkin wajar. Anak lelaki belum sunat pun lebih mungkin memproyeksikan gejolak berahinya kepada lawan jenis yang payudaranya menggembung dan bulu kemaluannya melebat &#8212; artinya ya wanita dewasa &#8212; ketimbang (mungkin) perawan kencur yang belum menggarap sari pertamanya. Itu sebabnya si aku harus disunat lebih dini , dalam usia 10 padahal umumnya 12, akibat burungnya terlukai ranting lamtoro setelah ngibrit ketahuan mengintip seorang <em>budhé</em> mandi.</p>
<p>Sensasi bibit kompleks oedipus mungkin juga terasa dari pembauan kembali kain jarik nenek: ada kedamaian di sana.</p>
<p>Saya bisa memastikan kota kecil yang tak disebut namanya itu adalah Salatiga. Pasti!</p>
<p>Ya, kota yang dulu masih <em>ex-gemeente</em> dengan sembilan kelurahan dalam satu kecematan, yang luasnya sekitar 27 kilometer persegi.</p>
<p>Banyak unsur pemerian yang akan segera diketahui orang lama Salatiga. Dari penjual jamu merangkap tukang akrobat Pak Ngadiran sampai trio orang gila (Mbok Nyai, Min Kebo, dan Maryuni). Nama-nama lain disamarkan tetapi mengarahkan kepada tebakan. Roby Ganda adalah Roy Marten. Radio PK2PPD7 adalah YDA7C2 yang kemudian dikelola pemkot (adapun YDA7C5 adalah milik Kodim, dan YDA7C7 adalah milik PTDI).</p>
<p>Tentang hedonisme sebuah kota kecil, ketika masih SMA saya sudah terbiasa mendengar bualan teman-teman yang sering ke pelacuran tentang penghuni baru dan primadonanya. Bersama adik saya ketika mengudap di warung wedangan Mak Pari, sering kami mendengar orang-orang dewasa, yaitu beberapa orang Cina juragan toko dan orang non-Cina yang bukan pegawai negeri, bertukar cerita dan guyon dengan bebasnya tentang penghuni Sembir, nama lokalisasi di Sarirejo, di utara.</p>
<p>Beberapa tahun sebelumnya, saya dan anak-anak tanggung sebaya, juga tahu tentang beberapa cewek &#8220;grand funk&#8221; alias perek. Kami juga tahu  tante girang &#8212; selain seorang homoseksual pemburu brondong culun.</p>
<p>Ketika saya berusia 14 tahun seorang teman dari Tegalwaton, dekat mata air Senjaya di luar kota, membisikkan tentang praktik orgi yang dilindungi belukar. &#8220;Nama kelompoknya Hanoman, singkatan &#8216;haus nonok manis&#8217;,&#8221; kata teman saya. Senjaya, menurut Gitanyali, adalah &#8220;tempat di mana anak-anak di kotaku kehilangan keperjakaannya.&#8221; Latar macam itulah yang mewarnai <em>Blues Merbabu</em>.</p>
<p>Jadi apakah ini semacam penggabungan otobiografi dan imajinasi bahkan proyeksi citra diri?</p>
<p>Mungkin. Karena jika betul penulisnya adalah dia, seseorang yang saya tahu tapi tak saya kenal baik, maka ada hal berbeda dari jejak dirinya.</p>
<p>Siapa dia, si Gitanyali, alias nyali atau keberanian di tengah lagu malam ini?</p>
<p>Tampaknya dia. Seorang eseis, cerpenis, jurnalis, penikmat seni rupa, dan menjadi pencatat apapun yang &#8220;kontemporer&#8221; dalam kehidupan urban Indonesia. :D Dulu dia sering menulis dengan mengutip dan menyebut Umberto Eco, lalu dengan enteng ketika menuliskan dunia wewangian di korannya dia bisa menyelipkan pengakuan, &#8220;Kalau saya suka Van Cleef &amp; Arpels&#8221; (bukan kutipan persis). Jarang ada jurnalis koran serius melakukan itu.</p>
<p>Ada suatu masa, tahun 80-an, ketika Orde Soeharto masih berjaya, dan menjadikan &#8220;bersih lingkungan&#8221; sebagai mantera penopang kezaliman, seorang jurnalis muda menjadi korban. Korannya tak memecat dia, dan menyelamatkannya, antara lain, dengan membolehkan sekolah ke luar negeri lalu ikut pelatihan peneliti muda nun di titik barat laut negeri. Dia berganti nama pena, menjadi berbau Majapahit.</p>
<p>Sebagai hiburan ringan, buku ini boleh juga. Cocok dengan selera saya: malas membaca yang berat maupun menafsirkan sisi berat tersembunyi dari sebuah tuturan enteng renyah. :D</p>
<p>Tetapi dari sana, kalau mau dan telaten, kita bisa mengais remah-remah kepahitan hidup seorang anak aktivis PKI. Meskipun masing-masing menyembunyikan jejak kelam (versi rezim), antarmereka bisa saling mengidentifikasi. Kemiripan pengalaman menghasilkan sebuah bingkai pengenalan dalam interaksi sosial. Sebuah proses yang Gitanyali sebut &#8220;membaui&#8221;.</p>
<blockquote><p>JUDUL: Blues Merbabu • PENULIS: Gitanyali • PENERBIT: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta: Februari 2011 • TEBAL: vi + 186 halaman • HARGA: Rp 34.000</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/05/10/blues-merbabu-blues-salatiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cekidot, Gan! Kamu Dodol!</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/04/12/cekidot-gan-kamu-dodol/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/04/12/cekidot-gan-kamu-dodol/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 12:41:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[alay]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa gaul]]></category>
		<category><![CDATA[christopher torchia]]></category>
		<category><![CDATA[colloquial]]></category>
		<category><![CDATA[lely djuhari]]></category>
		<category><![CDATA[slang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4378</guid>
		<description><![CDATA[BUKU SLANG INDONESIA TERBITAN LUAR :P <p></p> <p>Sampul buku ini menarik, sehingga saya comot untuk judul. Ragam tuturan Indonesia yang tak resmi, bahkan musiman, ditulis dalam bahasa Inggris, oleh Christopher Torchia dan Lely Djuhari. Torchia adalah wartawan Associated Press yang pernah bertugas di Jakarta. Sedangkan Djuhari (Twitter: @<a href="http://twitter.com/#!/lelydjuhari" target="_blank">lelydjuhari)</a> adalah seorang spesialis komunikasi di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>BUKU SLANG INDONESIA TERBITAN LUAR :P</h3>
<p><img class="alignnone" title="buku slang dunia kerja" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-indonesian-slang.jpg" alt="" width="450" height="578" /></p>
<p>Sampul buku ini menarik, sehingga saya comot untuk judul. Ragam tuturan Indonesia yang tak resmi, bahkan musiman, ditulis dalam bahasa Inggris, oleh Christopher Torchia dan Lely Djuhari. Torchia adalah wartawan Associated Press yang pernah bertugas di Jakarta. Sedangkan Djuhari (Twitter: @<a href="http://twitter.com/#!/lelydjuhari" target="_blank">lelydjuhari)</a> adalah seorang spesialis komunikasi di Unicef. Hasilnya?  &#8221;<em>Bahasa alay</em>&#8221; dan &#8220;<em>cengdem</em>&#8221; pun masuk.</p>
<p>&#8220;<em>Bahasa alay</em>&#8221; dijelaskan sebagai &#8220;<em>the language of the kite runner kids</em>&#8220;, penginggrisan untuk &#8220;bahasa anak layang&#8221;.  Dalam paparan tafsir dan konteks, diberi pula contoh tentang penggunaan &#8220;<em>Chambleeqummbh</em>&#8221; sebagai pengganti &#8220;Assalammu alaikum&#8221;. Entri penutup pada halaman 277 itu mencengangkan. Apa yang kita anggap sepele, dan berkemungkinan terlupakan, ternyata ada yang mencatat.</p>
<p>Adapun &#8220;<em>cengdem</em>&#8221; juga disebutkan sebagai akronim &#8220;c<em>eceng adem</em>&#8220;, dengan keterangan &#8220;<em>A thousand cools = Cheap sunglasses</em>&#8220;. Tentu dijelaskan pula bahwa &#8220;ceceng&#8221; berasal dari bahasa Cina Hokkian dan &#8220;adem&#8221; dari bahasa Jawa (hal. 268).</p>
<p>Masih banyak kata yang terangkum dalam buku ini. Perek (<em>experimental woman = prostitute, bimbo</em>). Buaya darat (<em>land crocodile = playboy, womanizer</em>). Tante girang (<em>happy aunty = a middle-aged woman who seeks gigolo</em>). Cinta monyet (<em>monkey love = puppy love</em>). Carmuk (<em>look for face = show your face; drop by; pop in</em>). Pak Ogah (<em>Mister No Way</em>). Pepesan kosong (<em>empty banana wrap</em>).</p>
<p>Ada juga yang politis. Misalnya &#8220;disekolahkan&#8221;, yang bukan berarti &#8220;tergadaikan&#8221; melainkan dibunuh dalam operasi militer. Saya mendengar &#8220;disekolahkan&#8221; dalam arti mengerikan itu dari seorang perwira militer awal 2000-an sepulang dia dari bertugas di Aceh.</p>
<p>Sebagai rintisan yang semoga akan terus terbarui, <em>colloqouial</em> ini berharga karena mencatat sejumlah tuturan tak resmi dalam bahasa Indonesia, yang terkadang juga dicomot oleh media. Saya sangat menaruh hormat kepada kedua penulis.</p>
<p>Meskipun begitu ada juga yang membuat saya terkesan karena baru tahu dari buku itu. Apa? Kata &#8220;<em>krakatau</em>&#8221; yang berujung pada kata Betawi &#8220;<em>kagak tau</em>&#8221; :D (hal. 15). Bagaimana penjelasannya, silakan Anda baca sendiri. :)</p>
<blockquote><p>JUDUL: <em>Indonesian Slang: Colloquoial Indonesian at Work</em> (Judul sebelumnya: <em>Indonesian Idioms and Expressions</em>, 2007) • PENULIS: Christopher Torchia &amp; Lely Djuhari • PENERBIT: <a href="http://tuttlepublishing.com/" target="_blank">Tuttle Publishing</a> (Periplus Editions), Hong Kong 2011 • TEBAL: 288 halaman • HARGA: Rp 145.000</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/04/12/cekidot-gan-kamu-dodol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>97</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musik Dulu Lebih Bagus daripada Sekarang (?)</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/03/21/musik-dulu-lebih-bagus-daripada-sekarang/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/03/21/musik-dulu-lebih-bagus-daripada-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2011 02:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[Alan Parson]]></category>
		<category><![CDATA[art rock]]></category>
		<category><![CDATA[classic rock]]></category>
		<category><![CDATA[d'lloyd]]></category>
		<category><![CDATA[Genesis]]></category>
		<category><![CDATA[J.R.R. Tolkien]]></category>
		<category><![CDATA[Koes Plus]]></category>
		<category><![CDATA[Led Zeppelin]]></category>
		<category><![CDATA[Mercy's]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[Pink Floyd]]></category>
		<category><![CDATA[pop]]></category>
		<category><![CDATA[progressive rock]]></category>
		<category><![CDATA[progrock]]></category>
		<category><![CDATA[Queen]]></category>
		<category><![CDATA[riski summerbee & the honeytheft]]></category>
		<category><![CDATA[Roger Waters]]></category>
		<category><![CDATA[the trees and the wild]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4299</guid>
		<description><![CDATA[PADAHAL SETIAP ZAMAN PUNYA MUSIK BAGUS :) <p></p> <p>Musik 90-an lebih mengena, lebih keren, dan lebih bagus ketimbang musik sekarang. Kurang lebih begitulah ujar beberapa nyonya muda usia di bawah 30.</p> <p>Lalu orang sebaya saya menganggap musik 80-an lebih pas dan mengena. &#8220;Ndak seperti lagu-lagu sekarang yang ndak jelas itu,&#8221; kata seorang teman.</p> <p>Kemudian mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>PADAHAL SETIAP ZAMAN PUNYA MUSIK BAGUS :)</h3>
<p><img class="alignnone" title="CD musik Indonesia keluaran baru -- dalam arti belum ada enam bulan hehehe" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-cd-musik-baru-indonesia.jpg" alt="" width="450" height="528" /></p>
<p>Musik 90-an lebih mengena, lebih keren, dan lebih bagus ketimbang musik sekarang. Kurang lebih begitulah ujar beberapa nyonya muda usia di bawah 30.</p>
<p>Lalu orang sebaya saya menganggap musik 80-an lebih pas dan mengena. &#8220;Ndak seperti lagu-lagu sekarang yang ndak jelas itu,&#8221; kata seorang teman.</p>
<p>Kemudian mereka yang mengalami masa remaja tahun 70-an hakkul yakin bahwa <em>classic rock</em> era itu adalah segalanya, dan &#8220;pop kreatif&#8221; Indonesia nyaman di kuping. Art rock/prog-rock, atau apalah, dari Genesis &#8220;era klasik&#8221; (bukan ngepop) yang nyastrawi, dianggap salah tonggak rock nan berkelas.</p>
<p>Sementara yang lain, fanatikus Koes Plus, mati-matian menentang adanya kaset dan CD &#8220;<em>the best of Koes Plus</em>&#8221; karena&#8230; semua lagu Koes Plus yang manapun pasti <em>best</em> punya. Tak ada yang burook dari Koes. Tiada yang perlu dikompilasi dari Koes sebagai lagu terbaik.</p>
<p>Sebagian dari kelompok 70-an itu suka dengan alasan ini: musikalitas dan virtuositas adalah segalanya. Koes Plus dengan alat sederhana, tanpa sekolah musik, dengan permainan drum Murry yang (kata orang sih) kadang nyeleneh, di studio empat jalur, bisa bikin lagu bagus, enak, gampang ditirukan.</p>
<p>Pink Floyd, dengan teknologi studio analog yang kuno, bisa membuat <em>The Dark Side of the Moon</em> (1973) yang menghadirkan suasana <em>pyschedelic</em>. Racikan <em>sound</em> Roger Waters dan penataan suara Alan Parson adalah bukti kreativitas era pra-MIDI.</p>
<p><em>Bohemian Rhapsody</em> (Queen, 1975), dengan teknik rekaman yang melelahkan untuk menjadikan tiga mulut sebagai paduan suara berbanyak orang, sudah begitu penyuntingannya melibatkan pemotongan dan penyambungan pita, adalah puncak pencapaian rekaman analaog 24 jalur &#8212; pada zamannya, sih.</p>
<p>Khusus untuk penggemar rock, ada pasal tambahan: dulu banyak album &#8220;berkonsep&#8221; bahkan literer, yang menunjukkan bahwa musisinya banyak membaca dan peka dalam menyerap masalah zaman :D</p>
<p><em>Led Zeppelin II</em> (1969), sebagai misal, adalah bukti bahwa musisinya membaca karya-karya J.R.R. Tolkien, terutama <em>The Lord of the Rings</em>. Suatu hal yang akan membuat sakit hati jika anak penggemar menanya bapaknya, &#8220;Konsep? Nyastra? Milsafat? Emang itu penting, Pak? Yang penting tuh kayak klip di MTV: tiga menit lagu kudu rampung, videonya enak diliat.&#8221;</p>
<p>Ya, ya, ya. Sudahlah. Musik itu soal selera. Apa yang enak di kuping kita, dan lagu apapun yang kita suka, apapun genrenya, siapapun artisnya, berarti bagus.</p>
<p>Lantas kenapa sebagian orang (sekali lagi: sebagian)  cenderung menganggap musik pada zamannya paling bagus?</p>
<p>Dalam beberapa kasus, artinya saya tak menjenderalkan, itu karena sebagian dari mereka di masa tuanya cenderung kurang mengikuti album musik baru. Masalah utama adalah waktu: sedikit kesempatan untuk menyimak &#8212; lebih dari sekadar mendengarkan &#8212; musik di luar radio (di mobil) dan TV.</p>
<p>Sudah lebih dari sekali saya mendengar keluhan para bapak maupun ibu bahwa setelah menikah dan punya anak maka kesempatan menikmati musik berkurang.</p>
<p>Selain itu, menurut saya sih, musik keluaran mutakhir sudah jauh dari <em>cohort</em> generasi sebelum hari ini. Sudah jauh dari pengalaman kolektif dan spirit  semasa yang dibingkai oleh sesusur arus zaman &#8212; ini sebuah tempurung maya yang melebihi nostalgia.</p>
<p>Maka penggemar D&#8217;Lloyd (<em>Sepanjang Lorong yang Gelap</em>) dan Mercy&#8217;s (<em>Kisah Seorang Pramuria</em>), berbeda tantangan dan serapan masalah zaman dari penggemar Efek Rumah Kaca maupun Risky Summerbee &amp; the Honeytheft &#8212; dan tentu Slank.  Alam pikir penggemar Grand Funk Railroad di Indonesia berbeda dari penggemar Radiohead.</p>
<p>Itu sebabnya konser dan acara yang seolah hanya kemasan nostalgis untuk setiap wakil generasi bisa laku. Yang ingin dipungut bukan hanya kenangan yang personal tetapi juga <em>élan</em>.</p>
<p>Maaf jika pembandingan antargrup itu aneh bagi Anda. Maklum saya bukan kritikus maupun pengamat.</p>
<p>Maka bisa dimaklumi jika teman yang lebih tua dari saya, penggemar Beirut, membuat sebayanya bingung, karena sejak awal terkagum-kagum terhadap MGMT jauh hari sebelum band itu terkenal, sebelum (akan) mentas di Jakarta. :D</p>
<p>Bagaimana dengan saya?</p>
<p>Jelas, saya awam musik, tak dapat bermain musik, dan tidak mengikuti perkembangan musik secara intensif (baik musik luar maupun domestik). Meskipun begitu saya berpendapat bahwa setiap zaman punya musik bagus. Risky Summerbee dan Individual Life (padahal cuma dengar sampel), sebagai contoh (yang kebetulan dari Yogyakarta), buat saya kok bagus dan cocok. :D Atau, sebut saja, The Trees and The Wild &#8212; yang kebetulan dari Bekasi. :)</p>
<p>Menurut Anda bagaimana, apalah musik zaman Anda memang lebih oke bahkan mulia?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/03/21/musik-dulu-lebih-bagus-daripada-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>131</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bunda Slank the Living Legend</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/02/03/bunda-slank-the-living-legend/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/02/03/bunda-slank-the-living-legend/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 08:34:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[bunda iffet]]></category>
		<category><![CDATA[darmawan sepriyossa]]></category>
		<category><![CDATA[narkoba]]></category>
		<category><![CDATA[narkotika]]></category>
		<category><![CDATA[rockn' roll mom]]></category>
		<category><![CDATA[slank]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4112</guid>
		<description><![CDATA[KISAH BUNDA IFFET MENYELAMATKAN SLANK. <p>Melihat putranya sakauw, seorang ibu harus membiarkan bandar didatangkan dari Jakarta, mendarat di Bandara Juanda, Surabaya, untuk menukar serbuk setan dan uang. Ini supaya Slank bisa tetap manggung di Bojonegoro bersama Bimbim. Orangtua terpaksa berkompromi, ini seperti kisah<a href="http://blogombal.org/2007/03/05/pencerahan-setelah-narkoba/"> Ronny Pattinasarany menangani kedua putranya</a>.</p> <p>Sebelumnya sempat  terjadi dialog Bunda Iffet [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KISAH BUNDA IFFET MENYELAMATKAN SLANK.</h3>
<p><img class="alignleft" title="buku Bunda Iffet mengisahkan cara menangani Slank" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-buku-bunda-iffet-slank.jpg" alt="" width="250" height="408" />Melihat putranya sakauw, seorang ibu harus membiarkan bandar didatangkan dari Jakarta, mendarat di Bandara Juanda, Surabaya, untuk menukar serbuk setan dan uang. Ini supaya Slank bisa tetap manggung di Bojonegoro bersama Bimbim. Orangtua terpaksa berkompromi, ini seperti kisah<a href="http://blogombal.org/2007/03/05/pencerahan-setelah-narkoba/"> Ronny Pattinasarany menangani kedua putranya</a>.</p>
<p>Sebelumnya sempat  terjadi dialog Bunda Iffet dengan Bimbim, putranya yang <em>drummer</em> Slank itu, dalam sebuah hotel di Bojonegoro, 113 km dari Surabaya, &#8220;Kalau nggak tampil, kita mesti ngebalikin uangnya nanti.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku nggak peduli, masa bodo! Balikin aja!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bim&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Udah deh Mama nggak usah ngurusin aku, keluar sana!&#8221;</p>
<p>Bunda, yang punya buku harian, mencatat, &#8220;Kasar sekali dia.&#8221; (<em>Terpaksa Menjemput Maksiat</em>, halaman 117).</p>
<p>Buku ini menyentuh, karena menguji ketegaran seorang ibu, yaitu Iffet Veceha Siddharta (<a href="http://twitter.com/veceha" target="_blank">@veceha</a>), yang kini hampir 74 tahun, dalam mengatasi kecandan putra maupun  Kaka (keponakan yang dia asuh sejak kecil sepeninggal ibunya), plus seorang  rekannya di Slank (Ivan) dari ketergantungan narkotika. Selama bertahun-tahun. Sungguh tak mudah. Sangat mengasah kesabaran.</p>
<p>Cerita tentang perjuangan Bunda menyelamatkan anak-anaknya dan Slank dari narkoba sudah banyak tersebar. Dan buku ini adalah paket kompletnya. Darmawan Sepriyossa berhasil mengangkat penuangan Bunda dengan pas, mengalir, dan enak.</p>
<p>Menyelamatkan Slank? Ketika anak-anak itu kian menjadi, order manggung pun merosot &#8212; bahkan gebukan drum Bimbim makin lemah. Tak ada sponsor yang sudi. Bunda harus turun tangan, membenahi manajemen band, dengan mengajak Slank ngamen di panggung kecil, termasuk sekolah dan kampus.</p>
<p>Kesan saya sebelum bertemu Bunda dia adalah perempuan perkasa. Ternyata benar. Dalam <a href="http://obrolanlangsat.com" target="_blank">Obrolan Langsat</a> (Obsat) tahun lalu dia menunjukkan satu hal: kasih sayang dan kesabaran seorang ibu dalam menangani masalah anak-anak dan keluarga.</p>
<p>Sebagai hasil tuturan seorang ibu yang pernah menjadi guru TK, buku ini mencatat hal-hal yang lucu dan kadang menyentuh tentang sebuah keluarga. Misalnya karena sering menyelenggarakan kerja bakti, Bunda memergoki grafiti &#8220;Kaka Top&#8221; yang dibuat Kaka ABG ada di tembok-tembok tetangga. Pada bangku sebuah SMP, ketika Bunda mengambil rapor Kaka, tulisan itu juga ada.</p>
<p>Ketika dari perkawinan keduanya Bimbim tak kunjung mendapatkan anak, dia bilang ke ibunya pada suatu sarapan, &#8220;Cariin dong Ma, obatnya.&#8221; Bunda mencatat, &#8220;Dia meminta, tetap dengan pandangan seriusnya&#8230; (<em>My Princess, My Life</em>, hal. 181).</p>
<p>Selain tentang ketegaran seorang ibu, buku ini mencatat kesabaran dua anggota Slank yang tak menjadi budak narkoba, yaitu Abdee dan Ridho. Mereka itulah yang harus menghadapi dua pendiri dan seorang anggota Slank sekaligus menabahkan Bunda.</p>
<p>Dengan mereka berdua pula Bunda punya cara untuk menujukkan enaknya jadi orang sehat: dalam setiap tur selalu jalan-jalan mengenal kota, bukan hanya di kamar hotel sepert tiga Slank lainnya karena badan lemah akibat obat setani.  Dalam acara Obsat 13 Desember 2010 itu, Bunda berkisah bahwa dalam tur putranya sering  tak ingat habis mentas di mana.</p>
<blockquote><p>JUDUL: Rock n&#8217; Roll Mom • PENULIS: Bunda Iffet &amp; Darmawan S. •  PENERBIT: Hikmah, Jakarta, November 2010 • TEBAL: vii + 304 halaman • HARGA: Rp 54.000</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/02/03/bunda-slank-the-living-legend/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>59</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Arti Aliran Musik Bagi Anda?</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/12/02/apa-arti-aliran-musik-bagi-anda/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/12/02/apa-arti-aliran-musik-bagi-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2010 14:45:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[camel]]></category>
		<category><![CDATA[colosseum]]></category>
		<category><![CDATA[emerson lake & palmer]]></category>
		<category><![CDATA[gatot widayanto]]></category>
		<category><![CDATA[gentle giant]]></category>
		<category><![CDATA[jethro tull]]></category>
		<category><![CDATA[manfred mann's earth band]]></category>
		<category><![CDATA[marillion]]></category>
		<category><![CDATA[mike oldfield]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[peter gabriel]]></category>
		<category><![CDATA[procol harum]]></category>
		<category><![CDATA[progressive rock]]></category>
		<category><![CDATA[progrock]]></category>
		<category><![CDATA[purwanto setiadi]]></category>
		<category><![CDATA[rick wakeman]]></category>
		<category><![CDATA[rush]]></category>
		<category><![CDATA[yes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=3835</guid>
		<description><![CDATA[SOAL KECOCOKAN KUPING SIH, TAPI PETA KADANG PERLU. <p>Apa itu progressive rock, metal, jazz rock, post-rock, progressive metal, symphonic prog, world music, new age, dangdut, dan campursari?</p> <p>Bagi Anda mungkin penting (tapi bisa juga tidak). Bagi saya sih sebetulnya tidak penting. :D</p> <p>Saya hanya konsumen musik. Ini persoalan dengaran, cocok di kuping atau tidak. Malah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>SOAL KECOCOKAN KUPING SIH, TAPI PETA KADANG PERLU.</h3>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img class=" " title="Wonderous Stories: CD kompilasi lagu progressive rock" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-cd-progrock-wonderous-stories.jpg" alt="" width="400" height="372" /><p class="wp-caption-text">•• Wondrous Stories: Kompilasi progrock 33 artis ••</p></div>
<p>Apa itu progressive rock, metal, jazz rock, post-rock, progressive metal, symphonic prog, world music, new age, dangdut, dan campursari?</p>
<p>Bagi Anda mungkin penting (tapi bisa juga tidak). Bagi saya sih sebetulnya tidak penting. :D</p>
<p>Saya hanya konsumen musik. Ini persoalan dengaran, cocok di kuping atau tidak. Malah ada catatannya: musik cocok dalam situasi kerja belum tentu cocok dengan saat menyetir &#8212; atau malah ketika ngobrol di kedai.</p>
<p>Kalau begitu semuanya kita sebut saja sebagai musik, seperti kita menyebut semua model pakaian sebagai busana, bahkan semua asupan melalui mulut hanya kita sebut makanan dan minuman? Nanti dulu.</p>
<p>Busana juga menyangkut apa yang pantas dan tak pantas di mata orang dan menurut acara; bukan sekadar asal nyaman dikenakan. Adapun asupan menyangkut kesehatan dan bahkan halal dan haram.</p>
<p>Sepanjang musik untuk didengar sendiri, bukan untuk dipaksakan dengar terhadap orang lain, maka itu berbeda dari busana dan makanan-minuman. Sekali lagi, musik itu soal kecocokan kuping.</p>
<p>Adapun <em>genre</em> atau aliran atau apalah, dalam beberapa hal mempermudah industri dalam memetakan dagangan. Dalam hal lain juga diperlukan oleh dunia akademis untuk keperluan studi.</p>
<p>Bagi saya itu semua adalah peta: kalau kita ketahui sedikit maka kita merasa berada di mana. Tapi kalau tanpa peta kita merasa nyaman, dan lebih mendasar lagi tak mengganggu orang lain, maka itu boleh saja.</p>
<p>Kenapa pikiran saya ngelantur sebegitu jauh? Ya gara-gara sebuah CD kompilasi bertema visual <a href="http://rogerdean.com" target="_blank">Roger Dean</a> yang bertajuk <em>Wondrous Stories</em>. Isinya 33 lagu yang oleh label digolongkan sebagai progressive rock.</p>
<p>Aha! Seolah label berharap pendengar akan mengenal beberapa keping potret musik progrock. Lalu konsumen akan membatin, &#8220;Oooo&#8230; Mike Oldfield dan Procol Harum itu progrock. Gitu juga Gentle Giant dan&#8230; Andrew Lloyd Webber.&#8221;</p>
<p>Terserah. Silakan. Untuk &#8220;definisi&#8221; dan contoh silakan Anda cari sendiri, antara lain di <a href="http://www.progarchives.com/" target="_blank">ProgArchives</a> &#8212; salah satu kontributornya adalah <em>blogger</em> Indonesia <a href="http://gwmusic.wordpress.com/" target="_blank">Gatot Widayanto</a>. Kalau Anda masih penasaran, masih ada <em>blogger</em> lain, yaitu <a href="http://kunangkunangku.wordpress.com/" target="_blank">Purwanto Setiadi</a>, wartawan <em>Tempo</em>. Dia ngelotok soal progrock. Begitu juga <a href="http://bangwinissimo.com/" target="_blank">Bang Win</a>, <em>blogger</em> yang orang Yahoo! itu.</p>
<p>Musik, dalam hal ini lagu, bukanlah hal yang secara gampang ditentukan warnanya. Sebuah lagu seringkali merupakan adonan banyak unsur, sehingga ketika seorang barista meramu minuman cendol, kita boleh saja menyebut racikannya sebagai  dawet rasa ahli kopi.</p>
<p>Untuk menutup lanturan yang bukan resensi ini, baiklah saya lontarkan sesuatu yang sering terdengar. Yaitu &#8220;jazz itu musiknya orang intelek&#8221; dan &#8220;progrock itu musiknya orang cerdas&#8221;. Kalau Anda meyakini silakan, tapi saya hanya geli mendengar itu. :D</p>
<blockquote><p>ALBUM: <em>Wondrous Storiesz: 33 Artists that Shaped the Progrock Era</em> • ARTIS: various artists • LABEL: Universal Music • ISI: 2 CD •  TAHUN: 2010</p></blockquote>
<p>»» Catatan: <a href="http://www.amazon.com/Wondrous-Stories-Progressive-Rock-CD/dp/B003PK9GUM/ref=sr_1_3?s=music&amp;ie=UTF8&amp;qid=1291300355&amp;sr=1-3" target="_blank">Kompilasi ini</a> juga punya saudara bertajuk <em><a href="http://www.amazon.com/Wondrous-Stories-Compl-Introduction-Prog/dp/B003O1Z7NM/ref=pd_bxgy_m_text_b" target="_blank">Wondrous Stories: Complete Introduction to Prog Rock</a></em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/12/02/apa-arti-aliran-musik-bagi-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjawab Pasar: Aquarius PI pun Tutup</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/08/30/menjawab-pasar-aquarius-pi-pun-tutup/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/08/30/menjawab-pasar-aquarius-pi-pun-tutup/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 18:27:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[Aquarius]]></category>
		<category><![CDATA[audio]]></category>
		<category><![CDATA[cd]]></category>
		<category><![CDATA[desain sampul CD]]></category>
		<category><![CDATA[hi-fi]]></category>
		<category><![CDATA[industri hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[major labels]]></category>
		<category><![CDATA[mp3]]></category>
		<category><![CDATA[musik igital]]></category>
		<category><![CDATA[pasar hiburan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=3322</guid>
		<description><![CDATA[<p></p> <p>Maka dengan gaya seolah tak tahu<a href="http://blogombal.org/2008/12/09/selamat-tinggal-toko-kucing-dalam-keping/comment-page-1/#comment-268156"> bertanyalah bos detik.com Budiono Darsono</a> pada 2008 di blog ini, &#8220;Jadi toko CD tinggal menunggu waktu ya Paman?&#8221;</p> <p>Jawabannya, Agustus ini, bekas tetangga detik.com sewaktu masih berkantor di Wisma Pondok Indah, yaitu Aquarius, <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2010/08/29/record-stores-fading-out.html" target="_blank">tutup</a>; menyusul Aquarius Dago, Bandung. Dagangannya diobral. Teman  saya, kolektor CD (nota: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="memo 2008 itu hari ini masih ada: saya punya deposit di disctarra :)" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/rumah/blogombal-memo-disctarra2008.jpg" alt="" width="370" height="260" /></p>
<p>Maka dengan gaya seolah tak tahu<a href="http://blogombal.org/2008/12/09/selamat-tinggal-toko-kucing-dalam-keping/comment-page-1/#comment-268156"> bertanyalah bos detik.com Budiono Darsono</a> pada 2008 di blog ini, &#8220;<em>Jadi toko CD tinggal menunggu waktu ya Paman?</em>&#8221;</p>
<p>Jawabannya, Agustus ini, bekas tetangga detik.com sewaktu masih berkantor di Wisma Pondok Indah, yaitu Aquarius, <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2010/08/29/record-stores-fading-out.html" target="_blank">tutup</a>; menyusul Aquarius Dago, Bandung. Dagangannya diobral. Teman  saya, kolektor CD (<em>nota: saya bukan kolektor</em>), bertanya via SMS, &#8220;<em>Kita harus senang atau sedih?</em>&#8221;</p>
<p>Bangunan bekas toko CD, yang dulu menjual CD dalam harga dollar Amrik itu, hanya akan dijadikan studio musik induknya, <a href="http://www.aquarius-musikindo.com/" target="_blank">Aquarius Musikindo</a>. Dan Anda tahu, Aquarius ini dulunya penduplikasi dan pengedar kaset dari album rekaman luar negeri, sejak akhir 60-an-an sampai 1988, sampai akhirnya Indonesia terikat hukum hak atas karya cipta internasional.</p>
<p><strong>Kegenitan kelas menengah? :)</strong></p>
<p>Seseorang rasan-rasan, kegemaran membeli CD asli adalah kegenitan <em>sebagian</em> kelas menengah. Dia contohkan, dulu ketika kaset masih berjaya, dan format digital seperti MP3 belum merebak, orang-orang itu membeli CD atas nama &#8220;kualitas&#8221; dan &#8220;sensasi memiliki koleksi terpajang&#8221;. Sekadar lanjutan dari era piringan hitam. Sekadar pelengkap dari buku yang bukan fotokopian. Hal ini terus berlangsung hingga munculnya <em>CD writer</em> yang kian terjangkau.</p>
<p>Lalu ketika format digital melindas analog (kaset, <em>vinyl</em>) dan digital tambun (CD), dengan aneka pemutar berentang kelas rendah sampai tinggi, dan distribusi  berkas musik melalui internet semakin mudah, lengkap dengan sandungan legalnya, kelompok klangenan itu tetap membeli CD bahkan <em>vinyl</em>.</p>
<p>Padahal distribusi melalui laut-udara-darat itu mahal, <a href="http://memo.blogombal.org/2007/09/19/ongkos-kirim-2-x-harga-barang/" target="_blank">untuk pemesanan pribadi bisa melebihi harga keping</a>. Masa sih orang akan ngotot terus? Lantas ketika <em>vinyl</em> tertentu langka, masa harus<a href="http://memo.blogombal.org/2010/07/31/ngopi-piringan-hitam/" target="_blank"> mengopi piringan sendiri</a>? Masih lebih praktis membeli <a href="http://memo.blogombal.org/2010/01/11/konversi-piringan-hitam-ke-mp3/" target="_blank"><em>turn table</em> merangkap konverter ke MP3</a>.</p>
<p><a href="http://blogombal.org/2007/06/18/boleh-coba-kalau-cocok-silakan-bawa/">Eksibisionisme</a> mereka di internet,  melalui blog sampai Facebook dan Twitter tentang CD yang dibelinya, hanya diapresiasi oleh sesamanya, yaitu kaum genit. Kira-kira begitulah ringkasan pendapat dia.</p>
<p>Sejauh saya pergoki, duka di Twitter juga nggak meratap amat. Lebih penting <em>sale</em> ketimbang soal lain, itu pun kicauannya nggak bising banget. Kemasan fisik bernama CD itu mulai menjadi sejarah tapi tak begitu penting untuk dibahas. <em>Artworks</em> hanya hiburan mata, bukan untuk dimiliki. Cukup dari layar.</p>
<p><strong>Pasar, musik personal, musik sosial<br />
</strong></p>
<p>Mungkin dia benar, mungkin dia hanya sinis. Tetapi bagi saya ada hal yang lebih <em>wigati</em>: pasar sudah berubah. Penikmatan musik sudah jauh meninggalkan era Walkman dan Discman &#8212; dua jenis pemutar generasi awal yang personal dan <em>mobile</em>.</p>
<p>Di satu sisi penikmatan musik menjadi semakin personal, sehingga di mana-mana banyak orang memakai <em>earphones</em> yang terhubung ke <em>media player</em> (iPod tetap paling <em>fashionable</em>!) dan ponsel, di toilet, angkot, sampai bilik kerja. Hanya generasi tua yang (cenderung) <a href="http://blogombal.org/2009/04/29/berapa-jam-mendengarkan-musik/">tak tahan dengan <em>earphones</em> dan <em>headphones</em></a> berjam-jam. :)</p>
<p>Di sisi lain penikmatan juga lebih sosial: para penikmat musik bertukar musik melalui internet tanpa mengenal batas geografis. Lebih menarik lagi: tak perlu kenal secara personal.</p>
<p>Untuk kasus Indonesia kita bisa bertanya: dari sepuluh orang konsumen musik digital, berapa yang mendapatkan musiknya dengan membeli?</p>
<p>Jawaban guyon: &#8220;Kami membeli dengan waktu, <em>bandwidth</em>, dan kapasitas <em>storages</em>.&#8221; :D</p>
<p>Industri telekomunikasi lebih jeli. Maksud saya, ide boleh saja dari para <em>content provider</em>s, tapi jalur distribusi nirkabel ada di operator.  Dan hasilnya adalah sesuatu yang aneh tapi selama 2009 dikabarkan menghasilkan Rp 1,5 triliun, yaitu RBT (maaf saya belum mendapatkan rujukan andal). Aneh, karena para pemilik ponsel tak mendengarkan lagu yang disewanya; orang lainlah yang dia minta mendengarnya. Kalau pemilik ponsel ingin mendengarnya maka dia harus menelepon nomornya sendiri &#8212; tapi dari <em>handset</em> lain dan tetap butuh pulsa, entah siapa yang bayar. :D</p>
<p>Aneh atau tidak, Telkomsel pernah menyarangkan jurus unik: <a href="http://memo.blogombal.org/2009/06/08/the-jaduls-never-die/" target="_blank">lagu lawas Musica Studio&#8217;s di-RBT-kan secara gelondongan</a>.</p>
<p><strong>Konsumen manis dan sayang<br />
</strong></p>
<p>Akses internet memurah. Sampai lima tahun lalu pilihan utama karyawan indekos adalah menjadikan kantor sebagai warnet. Sekarang, karena laptop semakin murah, dan internet berarus kencang semakin mudah, masih ditambah <em>hotspots</em> di mana-mana, maka setiap orang dapat mengakses dari tempat yang dia suka. Tanpa laptop, jika urusannya hanya lagu maka ponsel pun dapat mengunduhnya.</p>
<p>Harga media penyimpanan semakin murah. Penyimpan 1 TB (3,5&#8243;, 7.200 <span style="text-decoration: line-through;">RMP</span> RPM), misalnya Seagate <em>external expansion</em>, hanya berharga Rp 850.000 (boleh dicicil enam kali).  Cukup untuk gudang lagu pribadi. Jika satu CD album 45 menit yang dikonversikan ke MP3 (<em>bit rate</em> = 128 kbps) hanya akan menuntut ruang 41 MB, maka silakan hitung sendiri gudang lagu Anda. Isi pemutar cukup menimba dari gudang, kalau bosan tinggal dihapus.</p>
<p>Mayoritas konsumen adalah orang yang manis, kupingnya tidak rewel, sehingga pemutar di komputer atau portabel jenis biasa, dengan <em>earphones</em> bonus, sudah cukup.</p>
<p>Mereka tak merasa perlu terjebak snobisme yang menempatkan musik sebagai sajian bunyi yang harus dibedah secara laboratoris. Bagi konsumen lebih utama ini: <em>micro hi-fi</em> dengan colokan USB 1 GB, syukur dengan iPod <em>docking</em>, untuk ditaruh bersama vas bunga kering di meja kerja. Misalnya Polytron PNH 2100, bikinan (anak perusahan) Djarum Kudus, seharga Rp 2,1 juta.</p>
<p><strong>Maka musik pun dipreteli, diecerkan</strong></p>
<p>Dengan latar seperti itu, wajar saja jika label dan jaringan toko <em>online</em> menjual lagu per trek. Operator-operator Indonesia juga nyemplung ke sana. Aquarius pun akan semakin mendalami itu.</p>
<p>Adakah yang salah dengan mengecerkan lagu? Tidak.</p>
<p>Jujur sajalah, dari setiap album yang Anda beli, tak semuanya Anda gemari sampai mati. Pengecualian berlaku untuk, katakanlah, seorang fanatikus Koes Plus yang sampai berdebat dengan penjual kaset bekas di Jatinegara, Jakarta Timur, karena dia hakkul yakin bahwa semua lagu Koeswoyo Boyz  itu <em>the best</em>.</p>
<p>Jauh hari sebelumnya, pada abad lalu, musisi dan label meluncurkan <em>single</em>, bukan <em>long play</em>, juga karena kesadaran bahwa lagu adalah lagu. Ini soal dengaran: enak di kuping atau tidak. Bedanya, sekarang sebuah lagu enak di tangga <em>hits</em> bukanlah penggiring konsumen untuk membeli albumnya maupun kemasan kompilasinya. Hanya lagu itu <em>thok</em> yang dibutuhkan.</p>
<p>Adapun soal berbusa tentang kajian diskografis dan &#8220;album konsep&#8221;, beserta <a href="http://blogombal.org/2008/11/23/mencari-sampul-rekaman-yang-apik/">telaah visual</a>, itu jatahnya orang yang berlebih waktu dan barangkali memang menempatkan debat sebagai hiburan. :P</p>
<p>Persoalan hari ini tetap sama dengan dulu. Konsumen bilang, &#8220;Kami butuh  musik yang gampang didapat dan murah, kalau bisa gratis.&#8221;</p>
<p>Kalau dibawa ke seminar inilah lanjutannya, &#8220;Tugas musisi dan industrilah untuk mencari jalan bagaimana kaya tapi konsumen tetap mendapatkan hiburan murah.&#8221; Misalnya melalui cara yang lebih canggih dari<a href="http://blogombal.org/2008/12/02/musik-kedai-ayam-goreng-dan-pabrik-roti/"> menjual musik bersama ayam goreng</a>.</p>
<p>Terhadap media cetak, terutama buku, konsumen masih bisa menenggang bahwa yang dibelinya bukan sekadar kertas bercetak karena di baliknya ada mata rantai kreatif. <a href="http://blogombal.org/2008/07/18/musik-musikan-di-era-digital/">Tapi terhadap CD, konsumen merasa berhak untuk jengkel</a>, padahal secara prinsip tak beda dengan buku: media dan konten tak dapat dipisahkan.</p>
<p>Omong-omong, kapan terakhir kali Anda membeli CD musik asli, bukan CD kosong untuk diisi musik asli (bukan<em> cover version</em>)? ;)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/08/30/menjawab-pasar-aquarius-pi-pun-tutup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Majalah Cetak. Anda masih Butuh?</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/07/28/majalah-cetak-anda-masih-butuh/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/07/28/majalah-cetak-anda-masih-butuh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 02:18:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[agung adiprasetyo]]></category>
		<category><![CDATA[elwin sregar]]></category>
		<category><![CDATA[fortune indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[gramedia majalah]]></category>
		<category><![CDATA[instyle indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kompas gramedia]]></category>
		<category><![CDATA[martha stewart living indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[more indonesua]]></category>
		<category><![CDATA[nasib majalah cetak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2975</guid>
		<description><![CDATA[PERSOALANNYA APAKAH KONVERGENSI MEDIA AKAN MEMBUAT KITA LEBIH TERLAYANI. <p></p> <p>Maka sebagai orang yang tak menerima kartu undangan, tetapi sudah terdaftar di komputer penyambut tetamu, datanglah saya ke pesta di bawah jembatan penghubung pada Grand Indonesia, Jakarta, yang diblokir tiga hari itu. Malam kemarin itu, 27 Juli, Kompas Gramedia (KG, alma mater saya), meluncurkan empat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>PERSOALANNYA APAKAH KONVERGENSI MEDIA AKAN MEMBUAT KITA LEBIH TERLAYANI.</h3>
<p><img class="alignnone" title="fortune, instyle, more, martha stewart living -- indonesian editions" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/kerja/blogombal-majalahbaru.jpg" alt="" width="370" height="318" /></p>
<p>Maka sebagai orang yang tak menerima kartu undangan, tetapi sudah terdaftar di komputer penyambut tetamu, datanglah saya ke pesta di bawah jembatan penghubung pada Grand Indonesia, Jakarta, yang diblokir tiga hari itu. Malam kemarin itu, 27 Juli, Kompas Gramedia (KG, alma mater saya), meluncurkan empat majalah berlisensi asing.</p>
<p>Majalah itu, Anda juga tahu, adalah <em> Fortune</em> dan <em>InStyle</em> (keduanya dari <a href="http://www.timeinc.com/" target="_blank">Time Inc.</a>), serta <em>Martha Stewart Living</em> (<a href="http://www.marthastewart.com/" target="_blank">Martha Stewart Living OmniMedi</a>a) dan <em>More</em> (<a href="http://www.meredith.com/" target="_blank">Meredith Corp.</a>).</p>
<p>Satu majalah bisnis dan tiga majalah gaya hidup. Maka CEO KG Agung Adiprasetyo ketika mengantarkan peluncuran berpidato ringkas yang isinya kira-kira adalah marilah berbisnis, cari uang, bersenang-senang, muda kaya raya, tua masuk surga. Sebuah gurauan yang pas. <em>Let&#8217;s the party begins. Free flow drinks&#8230;</em></p>
<p>Peluncuran majalah di tengah sihir internet? Di sini saya tak mengutip data manapun soal bisnis media cetak. Lebih menarik bagi saya untuk bertanya apakah Anda masih butuh majalah?</p>
<p><img class="alignnone" title="peluncuran fortune indonesia" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/kerja/blogombal-fortune.jpg" alt="" width="370" height="208" /></p>
<p>Saya katakan butuh dalam arti barangnya harus ada dalam genggaman Anda, untuk Anda baca, dan tersedia untuk Anda secara berkesinambungan. Lebih penting lagi: Anda bersedia mengeluarkan uang.</p>
<p>Saya pernah ditanya beberapa orang apakah <em>bloggers</em> Indonesia membaca koran dan majalah edisi cetak saban hari?</p>
<p>Pertanyaan sulit karena saya belum pernah membuat survei. Juga sebatas saya tahu belum ada data seputar itu. Lebih utama lagi: <em>bloggers</em> yang mana?</p>
<p>Jangan menganggap penanya mengada-ada. Mereka berpengandaian, para <em>bloggers</em> sebagai penghasil konten pastilah butuh asupan informasi, tak hanya yang <em>online</em> melainkan juga yang tercetak.</p>
<p>Tidak, tidak, jangan ge-er dulu. Mereka tak berencana membuat majalah untuk <em>bloggers</em>. Mereka pun tidak menganggap <em>bloggers</em> sebagai kumpulan orang istimewa. Apalagi jika menyangkut pengguna internet, yang di dalamnnya ada sejumlah orang yang aktif di jejaring sosial dan mikroblog, maka <em>bloggers</em> pada hari ini hanya sebuah irisan.</p>
<p><img class="alignnone" title="peluncuran instyle indonesia " src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/kerja/blogombal-instyle.jpg" alt="" width="370" height="208" /></p>
<p>Jadi, saya kembali kepada pertanyaan apakah Anda masih membutuhkan majalah?</p>
<p>Kita lihat majalah gratis ada yang bertahan ada yang mati. Yang gratis pun tak menjangkau semua orang karena distribusinya memakai beberapa titik penempatan, terutama resto dan kafe, yang tentu juga tak kerap disambangi semua orang karena pasal kepentingan dan biaya.</p>
<p>Bagaimana dengan majalah yang dijual? Ini menyangkut niat. Jika menyangkut pembelian secara eceran, bukan pelangganan, maka untuk mendapatkannya butuh tenaga karena harus mendatangi lapak dan toko, kemudian membelinya. Dalam kasus Anda, tentu Anda sendiri yang dapat menjelaskan.</p>
<p>Perihal majalah bermerek lokal atau asing, bagi saya bukan isu. Persoalannya tetap konten: cocok atau tidak dengan kepentingan pembaca. Juga, cocok atau tidak bagi pengiklan.</p>
<p>Maka terhadap sinisme seorang kawan yang menyebut pembeli majalah gaya hidup dan fashion wanita itu tertipu, hanya membeli katalog produk, saya tak bersepakat. Bagi saya iklan juga konten yang punya fungsi informatif.</p>
<p>Tentang konten yang sesuai dengan harapan pembaca, formulasinya ada di ranah psikologis. Proksimitas tak semata-mata geografis. Itu sebabnya majalah untuk cewek remaja jarang memuat gosip seleb lokal. Bukan karena TV sudah menghajarnya, tetapi karena pembaca menganggap sebagian kabar tentang seleb lokal itu cemen, tak semenarik <em>Glee</em>, Stepahnie Pratt, dan Katty Perry. Meskipun sudah ada di internet tetap saja menarik.</p>
<p>Tentang proksimitas yang mempertemukan aspek geografis dan mental, sehingga bisa disebut sebagai konten lokal (termasuk dari majalah bermerek asing), justru di situ tantangannya. Bagaimanapun pembaca, yang bukan pebisnis tapi sekadar pegawai swasta, ingin tahu apa langkah ReCapital. Adapun info luar, dari pemain yang terdaftar di NYSE, hanya menarik jika punya dampak ke bisnis di Indonesia.</p>
<p><img class="alignnone" title="eki dance company" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/kerja/blogombal-ekidance.jpg" alt="" width="370" height="207" /></p>
<p>Tapi ketika yang dibutuhkan oleh pasar lokal sudah tersaji oleh majalah cetak, masihkah Anda mau membelinya, bahkan misalnya untuk sekadar melengkapi pengetahuan umum dan bekal obrolan?</p>
<p>Tentu penerbit majalah tak hanya menjual kertas tercetak yang terjilid. Konvergensi media kian menarik karena saya yakin kanal semakin kaya, dan yang namanya organisasi pemberitaan itu dalam banyak hal tak dapat disaingi oleh penerbitan personal. Organisasi memiliki standar kerja kolektif, bank data, dan akses ke sumber penting &#8212; termasuk untuk memotretnya dengan hasil bagus &#8212; untuk menghasilkan konten.</p>
<p>Maka bisa dimaklumi jika tempo hari Rupert Murdoch marah, menganggap agregator sebagai pencuri, karena mereka meraup konten tanpa menggaji reporter dan editor.</p>
<p>&#8220;Tapi,&#8221; tadi malam seorang kawan mengirim BBM, &#8220;harga majalah tambah mahal aja.&#8221; Aha! :D</p>
<p><img class="alignnone" title="miss DJ" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/kerja/blogombal-missDJ.jpg" alt="" width="370" height="207" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/07/28/majalah-cetak-anda-masih-butuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

