<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blogombal [√] &#187; Lihat Baca Dengar</title>
	<atom:link href="http://blogombal.org/category/lihat-baca-dengar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogombal.org</link>
	<description>catatan ringan angin-anginan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 10:35:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Tentang Anjing dan Dawam</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/04/11/tentang-anjing-dan-dawam/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/04/11/tentang-anjing-dan-dawam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2012 17:34:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[Anjing yang Masuk Surga]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Dawam Rahardjo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5586</guid>
		<description><![CDATA[MENCOBA MEMAHAMI DAWAM RAHARDJO. <p></p> <p>Beruntung saya bisa mendapatkan buku terbitan 2007 ini. Toko yang menjualnya hanya memiliki satu eksemplar, kondisinya pun tidak kinyis-kinyis. Inilah Anjing yang Masuk Surga, kumpulan 16 cerita pendek Dawam Rahardjo, salah satu cendekiawan muslim, yang 20 April ini genap 70 tahun.</p> <p>Tanpa pengantar panjang dari penulisnya pun kita sudah bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MENCOBA MEMAHAMI DAWAM RAHARDJO.</h3>
<p><img class="alignnone" title="dawam rahardjo: kumpulan cerpen anjing yang masuk surga" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-anjing-yang-masuk-surga-buku.jpg" alt="" width="450" height="665" /></p>
<p>Beruntung saya bisa mendapatkan buku terbitan 2007 ini. Toko yang menjualnya hanya memiliki satu eksemplar, kondisinya pun tidak kinyis-kinyis. Inilah <em>Anjing yang Masuk Surga</em>, kumpulan 16 cerita pendek Dawam Rahardjo, salah satu cendekiawan muslim, yang 20 April ini genap 70 tahun.</p>
<p>Tanpa pengantar panjang dari penulisnya pun kita sudah bisa meraba bahwa kumpulan cerpen ini merupakan ruap dari pandangan Dawam terhadap aneka masalah.</p>
<p>Atau bisa juga disebut begini: kumpulan fiksi (yang sebagian terilhami oleh kisah nyata) ini adalah catatan Dawam tentang keyakinan dia terhadap kebebasan berpikir, dan&#8230; keberagaman sosial Indonesia &#8212; termasuk keberagaman dalam kehidupan beragama.</p>
<p>Salah satu cerpennya yang menjadi judul buku, yakni <em>Anjing yang Masuk Surga</em>, seperti koreksi terhadap pandangan sebagian muslim tentang anjing. Bertolak dari kisah nyata anjing milik Usamah, seorang wartawan keturunan Arab Pekalongan yang beristrikan perempuan Arab Solo, muncullah benturan nilai.</p>
<p>Termaktub dalam kisah, bahwa Buya Hamka pun ternyata memelihara anjing. &#8220;Di Mekkah, banyak penduduk yang memelihara anjing,&#8221; demikian Buya dikutip (hal. 39)</p>
<p><strong>Kebebasan dan Benturan Nilai</strong></p>
<p>Kata-kata saya &#8220;mencoba mamahami Dawam&#8221; hanyalah sok-sokan. Saya tak mengikuti semua tulisan Dawam yang terserak di pelbagai tempat. Sejauh yang saya tangkap, Dawam adalah penulis kritis. Di majalah <em>Prisma</em> pada era Orde Baru dia bisa dengan lugas dan jernih membedah politik Indonesia (dengan pelaku utama militer, Golkar, dan kekuatan politik Islam) tetapi tak kena sensor pers.</p>
<p>Dawam sosok yang menarik. Dia seorang pemikir dan penggiat ekonomi islami, yang berlatar belakang Muhammadiyah, dan pernah diusulkan untuk dipecat dari organisasi itu. Mungkin karena dia membela hak-hak penganut Ahmadiyah dan pengikut Salamullah Eden. Lebih &#8220;aneh&#8221; lagi, Dawam pernah menjadi Ketua Dewan Penasihat Partai Kemerdekaan Rakyat pimpinan Pendeta Sheppard Supit dari Gereja Rakyat Indonesia. Dalam pengantar, Dawam mengakui tulisannya selain cerpen akhirnya kerap ditolak oleh <em>Republika</em>, koran yang dia ikut mendirikan (hal. xiv).</p>
<p>Dengan latar itu kita bisa memahami canda Dawam tentang Pastor Dhakidae (tanpa Daniel) dalam <em>Si Gila dari Dusun nCuni</em>, yang tentu saja merujuk sahabatnya sesama pengurus LP3ES/<em>Prisma</em>.  Cerita tentang Patek, orang yang dikatakan gila itu, menyangkut dua lembaga yaitu masjid dan gereja. Di dua tempat itu dia memulung botol plastik, dan dia kadang ikut misa tanpa merasa telah meninggalkan keislamannya.</p>
<p>Benturan nilai, terutama yang diskusif, sebagai bagian dari kebebasan berpikir,  memang menjadi hal yang melekat dalam diri Dawam. Maka ditulisnyalah <em>Atheis</em> yang berlatar tiga bersaudara dari keluarga santri, padahal idenya dari kehidupan kakak beradik sahabat Dawam &#8212; si kakak adalah sosiolog yang ateis, dan si adik adalah pastor. Perjuangan untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaanlah &#8212; dan bukan iman &#8212; yang mempersatukan mereka.</p>
<p><strong>Rasa Jadul</strong></p>
<p>Cara bertutur Dawam cenderung datar dan mengalir. Seperti orang bercerita dalam <em>email</em>. Jarang ada kejutan besar, lebih sering kejutan kecil. Tetapi konflik dalam sebagian cerita bisa dia laporkan secara enak.</p>
<p>Saya tak tahu sejak kapan Dawam menulis fiksi, tapi jika melihat <em>Aime-vouz Bramhs</em> dan <em>Impian sebuah Senja</em> serasa membaca cerpen tahun 70-an. Pada <em>Impian&#8230;</em> baik latar kisah maupun percakapan dan cara bertuturnya memberi kesan suasana Jawa Tengah awal 70-an bahkan mungkin akhir 60-an. Masih ada panggilan &#8220;Yu&#8221; (bukan &#8220;Mbak&#8221;) dari seorang gadis kepada kakak perempuannya padahal mereka dari kelas menengah. Apakah kedua cerpen itu merupakan stok lama?</p>
<p>Ada satu hal yang menarik. Salah satu unsur deskriptif Dawam dalam melukiskan pencapaian seseorang adalah kesarjanaan. :)</p>
<blockquote><p>JUDUL: Anjing yang Masuk Surga • PENULIS: Dawam Rahardjo • DESAIN &amp; ILUSTRASI SAMPUL: Antorio Bargasdito • PENERBIT: Jalasutra, Yogyakarta: September, 2007 • TEBAL: xx + 192 halaman • HARGA: Rp 30.000 • ISBN 979-3684-82-8</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/04/11/tentang-anjing-dan-dawam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Dua Keluarga Kretek</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/04/07/kisah-dua-keluarga-kretek/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/04/07/kisah-dua-keluarga-kretek/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Apr 2012 08:44:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[Gadis Kretek]]></category>
		<category><![CDATA[Muntilan]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[PKI]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[rokok]]></category>
		<category><![CDATA[tembakau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5521</guid>
		<description><![CDATA[ASMARA, KECEMBURUAN, PERSETERUAN BISNIS, DAN PENEBUSAN DOSA. <p></p> <p>Di tengah perseteruan kaum protembakau dan antitembakau, yang juga sampai ke media sosial, muncullah Gadis Kretek. Itulah novel karya <a href="http://ratihkumala.com/" target="_blank">Ratih Kumala</a> yang diluncurkan awal tahun ini.</p> <p>Membaca novel ini pembaca akan disinggungkan dengan romantisisme industri kretek: sesuatu yang mengindonesia karena unsur cengkeh dan saus, beserta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>ASMARA, KECEMBURUAN, PERSETERUAN BISNIS, DAN PENEBUSAN DOSA.</h3>
<p><img class="alignnone" title="ratih kumala - gadis kretek" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-ratih-kumala-gadis-kretek-novel.jpg" alt="" width="450" height="720" /></p>
<p>Di tengah perseteruan kaum protembakau dan antitembakau, yang juga sampai ke media sosial, muncullah <em>Gadis Kretek</em>. Itulah novel karya <a href="http://ratihkumala.com/" target="_blank">Ratih Kumala</a> yang diluncurkan awal tahun ini.</p>
<p>Membaca novel ini pembaca akan disinggungkan dengan romantisisme industri kretek: sesuatu yang mengindonesia karena unsur cengkeh dan saus, beserta merek-merek yang eksotis bahkan ajaib. Di luar urusan komunikasi pemasaran, peramuan tembakau-cengkeh-saus menjadi sigaret adalah sebuah seni rahasia. Tak semua orang bisa, yang bisa pun belum tentu sukses.</p>
<p>Dan kita tahu, sejak zaman  pengumuman 100 pembayar pajak terbesar sampai daftar orang Indonesia terkaya versi <em>Forbes</em>, ada saja juragan kretek yang tercantum.  Ya, kretek adalah bagian dari keajaiban ekonomi &#8212; beberapa senior kolektor lukisan di kawasan Kedu adalah juragan tembakau. Bisa ditebak kalau di balik gunungan rezeki ada banyak cerita, termasuk persaingan bahkan perseteruan &#8212; dan ehm&#8230; pengkhianatan dalam persekutuan.</p>
<p>Ratih menjumput cerita itu, lengkap dengan adegan Gunung Kawi (dari sana sebagian merek bisnis lama berasal) dan PKI (ini memang era yang tak ada habisnya untuk disinggung oleh banyak penulis &#8212; mungkin karena tidak jelas sekaligus banyak dimensi kemanusiaan).</p>
<p>Soal asmara tentu ada, dan itu pula pangkal awal masalah dari dua calon juragan kretek pada zaman kolonial sampai Jepang masuk. Yaitu Idroes Moeria yang kelak melahirkan klobot cap Djojobojo (akhirnya Kretek Gadis), dan Soedjagad yang menelurkan sigaret Djagad (kemudian menjadi Djagad Raja; dikembangkan Soeraja, menantunya), karena mereka memperebutkan hati seorang putri mantri tulis di Kota M.</p>
<p>Kota M? Mudah ditebak ini Muntilan, antara Magelang dan Yogyakarta. Kota kawedanan itu menjadi pusat pusaran konflik dua juragan yang akhirnya tetap berlanjut ketika Djagad hijrah ke kota kretek Kudus.</p>
<p>Pilihan <em>setting</em> Muntilan ini menarik karena di sana memang pernah ada industri rokok, dan salah satu yang bertahan sampai sekarang adalah klembak menyan <a href="http://label.blogombal.org/2004/10/13/dont-forget-isep-klembak-menyan-jangan-kaget-kalo-dianggep-kuburan/" target="_blank">Djolali </a>warisan Pak Bustami. Masih di wilayah Dulangmas, ada rokok Djeruk di Magelang dan <a href="http://label.blogombal.org/2005/01/29/penari-penyanyi-penari-penyanyi/" target="_blank">Sintren </a>di Gombong. Di Yogyakarta, sampai akhir 70-an, masih ada beberapa sigaret kretek tangan produksi rumahan.</p>
<p>Maka dari cinta, kegigihan berbinis, sampai kecemburuan dan kecurangan, semuanya dikemas oleh Ratih menjadi cerita yang mengasyikkan. Dia tak bertutur secara linier melainkan maju-mundur dengan kilas balik, dan yang menjadi magnet persoalan adalah seorang perempuan bernama Jeng Yah.</p>
<p>Juga menarik, versi masing-masing pihak yang bertikai dikedepankan. Masing-masing pihak itu termasuk keturunan Idroes dan Soedjagad. Ujung cerita mengarah kepada ranah etika dan moral: apakah kecurangan <em>patriarch </em>(yang berbuah sukses) juga menjadi tanggung jawab ahli waris?</p>
<p>Selebihnya silakan baca sendiri. Yang pasti ilustrasi sampul dan isi buku ini menarik, terasa sentuhan <em>vintage</em>. Acung jempol untuk Iksaka Banoe.</p>
<p>Memang ada saja ketidaktepatan kecil misalnya tipografi kemasan rokok. <em>Font</em> pada rokok Proklamasi, misalnya, setahu saya belum ada pada masa awal kemerdekaan. Begitu pula teks &#8220;isi 10 batang&#8221; dan &#8220;PR. Idroes Moeria&#8221; pada Kretek Gadis; <em>font</em> sejenis Tekton itu dulu belum ada.</p>
<p>Sekadar catatan, sebagian tipografi kemasan lama adalah hasil kerajinan tangan, dengan menggambar, karena aksara pada mesin <em>letterpress</em> tidak bisa diajak berakrobat; lebih mungkin itu dilakukan dengan klise timah. Perancang bungkus rokok dan kertas sigaret semacam Opa Goei Hwat Sing (maaf kalau salah eja) di Kudus bisa bercerita.</p>
<p>Ada juga hal kecil dalam tulisan yang membuat saya heran. Apakah pada zaman Jepang sudah ada <em>ballpoint</em> (hal. 64)? Vulpen/pulpen (fountain pen) dan pena celup untuk tinta bak lebih masuk akal. Begitu pula dengan pensil untuk menuliskan merek; potlot tinta lebih kuat.</p>
<p>Adapun sebagai istilah, yaitu &#8220;plastik&#8221; pembalut bungkus rokok (hal. 113), saya menduga pada awal kemerdekan orang lebih akrab dengan &#8220;kertas kaca&#8221;. Untuk api penyulut rokok, rasanya akan lebih meresap kalau dijelaskan kapan saja  korek batang dan  geretan (bersumbu?) dipakai  &#8211; saya yakin upet (yang mengilhami merek Ooepet) masih berjaya di kalangan nonjuragan.</p>
<p>Meskipun begitu, kekurangan kecil itu tak mengganggu cerita. :)</p>
<blockquote><p>JUDUL: Gadis Kretek • PENULIS: Ratih Kumala • DESAIN &amp; ILUSTRASI: Iksaka Banu • PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: Maret, 2012 • TEBAL: 275 halaman • HARGA: Rp 58.000 • ISBN 978-979-22-8141-5</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/04/07/kisah-dua-keluarga-kretek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musiknya Guruh</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/03/25/musiknya-guruh/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/03/25/musiknya-guruh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Mar 2012 16:01:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[Guruh Soekarnoputra]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[pop]]></category>
		<category><![CDATA[progrock]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5459</guid>
		<description><![CDATA[MENCOBA MEMAHAMI GURUH, SALAH SATU PEMERKAYA MUSIK INDONESIA. <p></p> <p>Sebenarnya saya tak tahu karya Guruh Soekarnoputra* itu apa saja. Hanya tahu beberapa. Dari CD terakhir, yang saya dapatkan tahun lalu, tak banyak yang saya tangkap &#8212; padahal di sana ada 30 lagu (dalam dua CD), merupakan cuplikan untuk musical. Judulnya Beta Cinta Indonesia: Petikan Pergelaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MENCOBA MEMAHAMI GURUH, SALAH SATU PEMERKAYA MUSIK INDONESIA.</h3>
<p><img class="alignnone" title="CD musik Guru: kompilasi" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-CD-Guruh.jpg" alt="CD musik Guru: kompilasi" width="450" height="279" /></p>
<p>Sebenarnya saya tak tahu karya Guruh Soekarnoputra* itu apa saja. Hanya tahu beberapa. Dari CD terakhir, yang saya dapatkan tahun lalu, tak banyak yang saya tangkap &#8212; padahal di sana ada 30 lagu (dalam dua CD), merupakan cuplikan untuk <em>musical</em>. Judulnya <em>Beta Cinta Indonesia: Petikan Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra 1971-2011,</em> untuk menyambut pergelaran Beta Cinta Indonesia.</p>
<p>Sebelumnya memang ada beberapa kompilasi. Misalnya <em>Chrisye: Karya Cipta Guruh Soekarno Putra</em> (Musica Studio&#8217;s, 2004). Bisa ditebak, 15 lagu di dalamnya adalah kompilasi dari album Chrisye yang dilansir oleh Musica. Biasa, ini masalah bisnis dan hukum. Beda label itu merepotkan.</p>
<p><strong>Melongok Smaradhana</strong></p>
<p>Apa saja sih lagu Guruh yang menarik? Saya ambil satu lagu dengan beberapa versi. Misalnya <em>Smaradhana</em> (1972).</p>
<p><object id="gsSong3513095111" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35130951&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3513095111" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35130951&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35130951&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Smaradhana by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Guruh+Gipsy/2362855\&quot; title=\&quot;Guruh Gipsy\&quot;&gt;Guruh Gipsy&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object> <object id="gsSong3513083219" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35130832&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3513083219" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35130832&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35130832&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Smaradhana by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Chrisye+and+Yockie+Suryo+Prayogo/2362849\&quot; title=\&quot;Chrisye &amp;amp; Yockie Suryo Prayogo\&quot;&gt;Chrisye &amp;amp; Yockie Suryo Prayogo&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object> <object id="gsSong3513109284" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131092&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3513109284" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131092&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131092&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Smaradhana by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Chrisye/281002\&quot; title=\&quot;Chrisye\&quot;&gt;Chrisye&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object></p>
<p>Versi pertama dari Guruh Gipsy (1976) &#8212; tebak itu suara siapa? Kalau bas, itu Chrisye.</p>
<p>Versi kedua oleh Chrisye bersama Yockie Suryo Prayogo (<em>Sabda Alam</em>, 1978), dengan kemasan lebih riang, piano oleh Ronnie Harahap dan bas oleh Chrisye (saat itu <em>hustle</em> masih berjejak).</p>
<p>Versi ketiga, 18 tahun kemudian (<em>AkustiChrisye</em>, 1996) oleh Chrisye bersama Erwin Gutawa. Bas oleh Indro Hardjodikoro.</p>
<p>Tampaknya, sebagian karya Guruh memang lekat dengan Chrisye. Soal bas saya catat karena saya menyukai permaian bas Chrsye. Dalam album-album lama, Chrisye masih bermain bas.</p>
<p>Kembali ke Chrisye, bisa saja dari klip Baladawai Soundversation (UPI Bandung) ini orang lebih teringat Chrisye ketimbang Guruh. <em>Kala Sang Surya Tenggelam</em> (Chrisye, dalam <em>Sabda Alam</em>, 1978, dan <em>AkustiCrisye</em>, 1996) yang diperkaya hajaran gitar Agung (Burgerkill), Akew (Beside), dan Nico (Ballerina) menjadi gahar, tidak ngelangut — padahal lebih enak yang ngelangut. :)</p>
<p><object width="450" height="335" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/g-m9ay-YxUM?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed width="450" height="335" type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/g-m9ay-YxUM?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" allowFullScreen="true" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
<p><strong>Menerka Guruh</strong></p>
<p>Ada karya lain Guruh yang kuat, yaitu <em>Chopin Larung</em>, yang versi 2011-nya diolah Andi Rianto. Bandingkan dengan versi 35 tahun sebelumnya dalam Guruh Gipsy (1976).</p>
<p><object id="gsSong3513129159" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131291&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3513129159" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131291&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131291&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Chopin Larung by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Guruh+Gipsy/2362855\&quot; title=\&quot;Guruh Gipsy\&quot;&gt;Guruh Gipsy&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object></p>
<p><object id="gsSong351313519" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131351&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong351313519" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131351&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131351&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Chopin Larung by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Chrisye+Andi+Rianto/2362917\&quot; title=\&quot;Chrisye - Andi Rianto\&quot;&gt;Chrisye - Andi Rianto&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object></p>
<p>Lagu ini memperkuat sosok Guruh di mata khalayak: seorang nasionalis-patriotis gelisah yang senang mengangkat keindonesian <em>grandeur</em>, dengan idiom dari “puncak-puncak budaya kesukuan” yang seringkali berarti juga berbau keraton. Pelajari saja dokumentasi visual pementasan Guruh dan proses kreatif Guruh berikut serapan keseniannya. :)</p>
<p>Dengan melihat Guruh sebagai bagian dari kaum menak, wajar saja jika lirik <em>Anak Jalanan</em> yang dia maksudkan memang <em>straatjongen</em> menurut istilah Opa dan Oma pada 60-70-an. Yaitu anak kelas menengah yang gelisah &#8212; sosok Ali Topan, dari film yang diangkat dari cerber Teguh Esha di majalah Stop kemudian jadi novel pada tahun 70-an. Bukan anak jalanan dari kaum marginal yang hidup dari ngamen dan sebagian suka <em>ngelem</em>.</p>
<p>Pada awal berjaya Guruh mewarnai musik Indonesia, lirik dia menjadi kekuatan karena ramuan arkaisnya. Misalnya dalam Smaradhana: <em>Andika Dewa / Sirna duli sang asmara / Merasuk sukma / Menyita heningnya cipta / Oh… resahku jadinya.</em></p>
<p>Bermain kosa kata lama sempat menjadi tren pada 1970-an. Mungkin kesannya eksotis dan terpelajar. Padahal lirik Ismail Marzuki yang hebat itu juga eksotis sampai sekarang.</p>
<p>Tentu lagu Guruh yang riang jenaka (tapi pahit) juga ada. Misalnya lagu untuk pementasan pertama (1989), dibawakan oleh Jayusman, dengan lirik berbahasa Melayu zaman kolonial, dibungkus dixie (CMIIW). Itulah <em>Nostalgia Hotel Des Indes</em>. Mari kita dengar…</p>
<p><object id="gsSong3513139215" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131392&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3513139215" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131392&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131392&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Nostalgia Hotel Des Indes by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Guruh+Soekarno+Putra/2362922\&quot; title=\&quot;Guruh Soekarno Putra\&quot;&gt;Guruh Soekarno Putra&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object></p>
<p><em>Tempo sore berbintang di atas kota / Koe pigi ke Hotel Des Indes / Di dalemnja ada soeatoe pesta ria / Sajang koe dateng sendirian.</em></p>
<p>Kemudian… <em>Akoe tak moengkin mendapetkannja / Nu ben ik minder,ik ben een inlander / Kapankah Ost Indie djadi merdeka / Harapan orang priboemi / Lopeoetlah soedah si nona idaman / Poelanglah akoe sendirian</em></p>
<p><strong>Kritik Guruh</strong></p>
<p>Dalam <em>Janger</em> (Swara Maharddhika, 1979 — dari <em>Janger 1897 Saka</em>, Guruh Gipsy, 1975), Guruh sudah mulai mengritik keadaan. Petikan liriknya…</p>
<p><em>Dulu memahat buat menghias pura (-puri) / dulu menari dengan sepenuh hati / Sekarang memahat untuk pelancong mancanegari / Sekarang menari turut cita turis luar negeri</em></p>
<p><object id="gsSong351315708" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131570&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong351315708" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131570&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131570&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Janger 1897 Saka by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Guruh+Gipsy/2362855\&quot; title=\&quot;Guruh Gipsy\&quot;&gt;Guruh Gipsy&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object></p>
<p><object id="gsSong3513164950" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131649&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3513164950" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131649&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131649&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Janger by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Swara+Maharddhika/2362936\&quot; title=\&quot;Swara Maharddhika\&quot;&gt;Swara Maharddhika&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object></p>
<p><em>Art shop megah berleret memagar sawah / Cottage mewah berjajar dipantai indah / Karya – cipta nan elok – indah ditantang alam modernisasi / Permai alam mulai punah karena gersang rasa mandiri</em></p>
<p>Lirik itu ditulis Guruh saat dia berusia 22. Pada 1979, dalam usia 26, saat Soeharto masih berkuasa, Guruh membuat lagu <em>Perikemanusiaan</em> yang menyayat untuk ayahnya, dibawakan oleh Achmad Albar pada 1980, yang saat itu berusia 34. Bagus sekali.</p>
<p><object id="gsSong351316942" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131694&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong351316942" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131694&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131694&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Perikemanusiaan by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Guruh+Soekarno+Putra/2362922\&quot; title=\&quot;Guruh Soekarno Putra\&quot;&gt;Guruh Soekarno Putra&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object></p>
<p>Mulai 80-an dan setelahnya Guruh tak begitu bergenit kata. Lirik <em>Kesenian</em> seperti terasa melontarkan amarah…</p>
<p><em>Mengapa kau meremehkan kesenian / Dan kau menganggap para seniman itu pemimpi / Sebelum kau menyadarinya, hentikan dulu lagu ini dan pergilah / Hiburlah dirimu bersama kehampaan</em></p>
<p>Sinisme juga ada, misalnya dalam <em>Aji Mumpung</em>:</p>
<p><em>Semua orang ingin menumpuk kekayaan / Namun selalu berkedok kesederhanaan /Abaikan kejujuran untuk mencapai tujuan</em></p>
<p>Sudut pandang saya tentang karya Guruh mungkin salah akibat keterbatasan rujukan. Tetapi sejauh ini ya itulah yang saya tangkap. Di mata saya, Guruh tetaplah musisi penting yang memperkaya khazanah musik Indonesia.</p>
<p><em>*) Penulisan nama lengkap Guruh dalam beberapa album rekaman adalah Guruh Soekarno Putra. Padahal <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Guruh_Soekarnoputra" target="_blank">Wikipedia Inggris</a> dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Guruh_Soekarnoputra" target="_blank">Wikipedia Indonesia</a> menyebutnya Guruh Soekarnoputra.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/03/25/musiknya-guruh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Moerdiono &amp; Poppy Dharsono: Asmara Sire &amp; Non</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/03/22/moerdiono-poppy-dharsono-asmara-sire-non/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/03/22/moerdiono-poppy-dharsono-asmara-sire-non/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Mar 2012 04:42:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[affair]]></category>
		<category><![CDATA[fashion]]></category>
		<category><![CDATA[Moerdiono]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Poppy Dharsono]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5433</guid>
		<description><![CDATA[<p>TENTANG PERKAWINAN DAN KELUARGA DALAM VERSI POPPY.</p> <p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-buku-pak-moer-poppy-the-untold-story.jpg"></a>Sejak 1978, sebelum menjadi menteri muda sekretaris negara dan kemudian menteri sekretaris negara (1983-1988, 1988-1998), <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Moerdiono" target="_blank">Moerdiono</a> menempati sebuah paviliun di area Kantor Menkopolkam, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Tanpa keluarga, karena Pak Moer, demikian dia dipanggil, berpisah ranjang dari Maryati, istrinya.</p> <p>Di rumah itu tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TENTANG PERKAWINAN DAN KELUARGA DALAM VERSI POPPY.</p>
<p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-buku-pak-moer-poppy-the-untold-story.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-5439" title="blogombal-buku-pak-moer-poppy-the-untold-story" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2012/03/blogombal-buku-pak-moer-poppy-the-untold-story-small.jpg" alt="blogombal-buku-pak-moer-poppy-the-untold-story" width="200" height="296" /></a>Sejak 1978, sebelum menjadi menteri muda sekretaris negara dan kemudian menteri sekretaris negara (1983-1988, 1988-1998), <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Moerdiono" target="_blank">Moerdiono</a> menempati sebuah paviliun di area Kantor Menkopolkam, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Tanpa keluarga, karena Pak Moer, demikian dia dipanggil, berpisah ranjang dari Maryati, istrinya.</p>
<p>Di rumah itu tak ada dapur. Untuk makanan, sopir Moer yang bernama Soewardji membelikannya di luar (termasuk saat Lebaran dan itu merepotkan). Untuk tidur, Moer cukup membaringkan diri di atas sebuah ranjang tunggal. Lantas bagaimana dia menjalani kehidupan asmara dengan pengusaha cantik <a href="http://www.facebook.com/PoppyDharsono/info" target="_blank">Poppy Dharsono</a> sejak 1989, saat dirinya berusia 55 dan Poppy masih 38?</p>
<p>Buku yang ditulis oleh jurnalis Derek Manangka ini menjawabnya dari sisi Poppy Dharsono. Isinya adalah jalinan asmara sepasang manusia, lengkap dengan segala gangguan, hingga Moer meninggal di Singapura pada 7 Oktober 2011 dalam usia 77 tahun. Ketika Moer harus menyepi karena menyiapkan pidato presiden, Poppy biasanya menemani. Tentang Moer, sebelum mereka berpacaran, Poppy mendapatkan rekomendasi dari Guntur Soekarnoputra.</p>
<p>Derek mengakui, buku ini kurang berimbang karena tak mewawancarai anak-anak Moer. &#8220;Jadi kalau dibilang buku ini subyektif, tidak salah. Tapi setidaknya subyektif yang lebih bertanggung jawab. Subyektif tidak untuk mencari sensasi, subyektif yang bermartabat.&#8221; (Bab Penutup, hal. 333)</p>
<p>Banyak hal yang terungkap dalam <em>Pak Moer &#8211; Poppy: The Untold Story</em>, buku tebal yang seperempatnya berisi album foto, dan paparan isinya mirip kumpulan cerita terpenggal-penggal itu. Misalnya Moer memanggil Poppy yang 17 tahun lebih muda &#8220;Non&#8221;, sedangkan Poppy memanggil Moer dengan istilah Inggris lama &#8220;<em>Sire</em>&#8220;. Mereka menikah siri pada 14 Oktober 1998, saat Moer berusia 64 dan Poppy janda berusia 47. <em>(Catatan: pernikahan itu diulangi lagi di Singapura, disaksikan seorang ustaz, dalam rumah sakit, Agustus 2011)</em></p>
<p>Ketika melakukan pendekatan, Moer rela menjadi sopir Poppy dari Jakarta ke Bandung (via Puncak, belum ada jalan tol Cipularang), untuk menghadiri resepsi pernikahan anak Letjen Himawan Soetanto. Selama Poppy berpesta dalam gedung, Moer menunggu dalam Mercedes Benz, berbaur dengan para sopir. Kegemaran menyetir sendiri ini terus berlangsung hingga mereka menikah.</p>
<p>Yang ditunggu pembaca, misalnya status anak penyanyi dangdut Machicha Mochtar dan gugatan sang ibu, juga dibahas. Dalam buku dikatakan bahwa Poppy kecewa namun kemudian mendampingi Moer untuk melawan, antara lain dengan membentuk tim kecil. Tim itu beranggotakan adik Moer (BS), seorang jurnalis (LJL), dan menantu Moer (RPM).</p>
<p>Dalam perjalanan kasus, tim itu kemudian membelot, memihak Machicha. Menurut Poppy, itu karena adik Moer ingin bayaran lebih. <em>(Catatan: ketika MK mengabulkan uji materi Machicha tentang hak perdata anak di luar nikah, Februari 2012, naskah buku ini sudah selesai)</em></p>
<p>Juga dibahas alasan Moer menggugat cerai Maryati tahun lalu, yang dinyatakan kepada anak-anaknya, &#8220;Saya menceraikan ibu kamu, karena saya ingin mengesahkan perceraian saya dan saya tidak ingin melakukan poligami…&#8221; (hal. 37)</p>
<p>Begitulah, buku dengan penonjolan peran Poppy dan puja-puji untuk Moer &#8212; dengan pengulangan pada banyak bab &#8212; ini menjadi semacam pembelaan diri Poppy. Kalaupun bukan pembelaan ya klarifikasi terhadap kesalahpahaman, termasuk yang disebarkan oleh <em>infotainment</em>.</p>
<p>Dari sisi Poppy, salah satu titik utama cerita adalah bagaimana dia selama 17 bulan harus merawat Moer yang sakit-sakitan (terutama kanker), baik di Bambu Apus, Jakarta Timur, maupun di apartemennya di Singapura, bahkan harus merawat luka bernanah di punggung Moer saat herpesnya kambuh. Poppy pula yang membersihkan kotoran Moer di toilet umum sambil menunggu pertolongan pertama &#8212; tak jelas di Jakarta atau Singapura (hal. 332). Saat merawat Moer, Poppy merasa dizalimi oleh opini publik.</p>
<p>Demi Moer pula Poppy sampai dua kali menyewa pesawat untuk membawa Sire ke Singapura. Maka dalam buku ini tercitrakan bahwa Poppy, ibu dari Fauzi Ichsan (ekonom di Standard Chartered Bank Indonesia), hasil perkawinan dininya dengan fotografer Firman Ichsan, telah berkorban banyak. Secara tak langsung terarahkan kesimpulan bahwa Poppylah yang keluar uang lebih banyak. Moer, yang tak punya rumah pribadi, hanya hidup dari bunga deposito, karena gaji dan uang pensiunnya untuk keluarga.</p>
<p>Soal keuangan ini membuat Moer marah dan hubungan dengan anak-anaknya memburuk karena Poppy dituding mengincar harta. Poppy mengutip Moer, &#8220;Berarti mereka menuduh saya koruptor. Berarti mereka bangga karena ayah mereka koruptor. Itu sebabnya mereka ingin kebagian uang hasil korupsi…&#8221; (hal. 305)</p>
<p>Lagi-lagi dari sisi Poppy, semua kesulitan dia terima sebagai kenyataan yang harus ditabahi, bahkan sejak awal hubungan. Misalnya jangan sampai kelihatan berjalan berdua. Bahkan ketika menghadiri sebuah acara pun mereka harus memberi kesan datang sendiri-sendiri. Maklumlah saat Moer masih menjabat menteri, padahal Presiden dan terutama istrinya, Tien, tak menyukai perceraian dan poligami. Moer pulalah yang merumuskan konsep untuk menjadi draft PP 10 bagi pejabat publik.</p>
<p>Mungkin itulah episode meniti buih. Soeharto tahu tapi menenggang. Dalam penitian buih itu, Poppy juga harus mengukur perasaan anak-anak Moer. Sebagai pendiri dan ketua Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia, Poppy mencoba &#8220;memberi perhatian khusus&#8221; kepada Ninuk, putri Moer yang jurnalis, yang kemudian menjadi editor mode dan sekian tahun menangani edisi Minggu sebuah koran besar (hal. 301).</p>
<p>Menurut Poppy, respon dari si putri tak menampakkan penolakan maupun penerimaan, sehingga Poppy mengira hubungan dengan Moer tak dianggap sebagai masalah &#8212; suatu hal yang di belakang hari ternyata sebaliknya.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 172px"><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-poppy-dharsono-oleh-moerdiono.jpg" target="_blank"><img class=" " title="poppy dharsono difoto oleh moerdinono" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-poppy-dharsono-oleh-moerdiono.jpg" alt="poppy dharsono difoto oleh moerdinono" width="162" height="256" /></a><p class="wp-caption-text">Poppy Dharsono, difoto oleh Moerdiono, 1990</p></div>
<p>Buku ini seperti bahan drama. Mungkin bisa dikemas menjadi serial TV. Sebagai serangkaian episode mengharu biru buku ini menarik karena menyangkut dua tokoh: seorang Moer yang bekas petinggi berkuasa dan 27 tahun menjadi penulis pidato presiden (menurut eks-Menkopolkam Sudomo, kalau seorang menteri ingin mendapatkan akses cepat ke Soeharto harus melalui Moer), dan seorang Poppy yang pesohor, bagian dari dunia <em>fashion</em> Indonesia, yang kemudian menjadi senator dari Jawa Tengah dalam DPD-RI 2009-2014.</p>
<p>Tentang karier politik Poppy, ada hal yang menarik. Pada 2007 Moer melarang istrinya mencalonkan diri sebagai gubernur Jawa Tengah. Larangan itu membuat Poppy ngambek, dan sempat terpikir untuk berpisah, lalu dia kembali ke rumahnya di Pondok Indah. Demi Gadis, putri angkat mereka, akhirnya Poppy kembali ke Rumah Bahagia di Bambu Apus.</p>
<p>Lantas apa manfaat buku ini bagi pembaca? Menambah pengetahuan umum dan bahan obrolan. Dari sisi lain mungkin juga cerita dan citra tentang ketulusan cinta dan <em>bektining garwa</em> seorang perempuan ayu dan pengusaha kaya yang sebetulnya memiliki banyak pilihan dalam hidupnya.</p>
<blockquote><p>JUDUL: Pak Moer &#8211; Poppy: The Untold Story • PENULIS: Derek Manangka • PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2012 • TEBAL: 474 + viii halaman • HARGA: Rp 150.000 • ISBN 978-979-22-7926-9</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/03/22/moerdiono-poppy-dharsono-asmara-sire-non/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mode, Modis, Modiste</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/02/06/mode-modis-modiste/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/02/06/mode-modis-modiste/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 08:30:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[fashion]]></category>
		<category><![CDATA[herman jusuf]]></category>
		<category><![CDATA[irma hadisurya]]></category>
		<category><![CDATA[kamus mode indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[mode]]></category>
		<category><![CDATA[ninuk mardiana pambudy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5334</guid>
		<description><![CDATA[MAKIN BANYAK KAMUS MAKIN BAGUS. <p></p> <p>Kesan saya mungkin salah. Makin banyak orang menyebut &#8220;fashion&#8221; (atau menuliskannya &#8220;fésyen&#8221;), bukan &#8220;mode&#8221;. Untuk generasi digital yang masa SD-nya akrab dengan arloji digital, kata &#8220;mode&#8221; merujuk pada pilihan penggunaan fitur peranti (latin: modus).</p> <p>Adapun kata &#8220;modis&#8221; masih dipakai, berbarengan dengan &#8220;fashionable&#8221; dan &#8220;stylish&#8220;. Modiste? Itu dunia emak-emak, dekat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MAKIN BANYAK KAMUS MAKIN BAGUS.</h3>
<p><img class="alignnone" title="Kamus Mode Indonesia, 2011" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-kamus-mode-indonesia-2-1.jpg" alt="" width="450" height="450" /></p>
<p>Kesan saya mungkin salah. Makin banyak orang menyebut &#8220;<em>fashion</em>&#8221; (atau menuliskannya &#8220;fésyen&#8221;), bukan &#8220;mode&#8221;. Untuk generasi digital yang masa SD-nya akrab dengan arloji digital, kata &#8220;mode&#8221; merujuk pada pilihan penggunaan fitur peranti (latin: <em>modus</em>).</p>
<p>Adapun kata &#8220;modis&#8221; masih dipakai, berbarengan dengan &#8220;<em>fashionable</em>&#8221; dan &#8220;<em>stylish</em>&#8220;. Modiste? Itu dunia emak-emak, dekat dengan pesanan kebaya. Ibu-ibu muda yang membuka usaha penjahitan lebih suka menambahkan atribut &#8220;<em>collection</em>&#8221; bahkan &#8220;<em>boutique</em>&#8220;.</p>
<p>Itulah bahasa. Mengenal rasa dan selera zaman. Di dalamnya terkandung aspek psikolinguistik dan sosiolinguistik. Sama seperti &#8220;berondong jagung&#8221; dan &#8220;<em>popcorn</em>&#8221; yang secara substansial-material sama.</p>
<p>Yang menarik dalam istilah perbusanaan Indonesia (terima kasih kepada para editor yang memperkenalkan kata &#8220;adibusana&#8221; sebagai padanan <em>haute couture</em>, <em>alta moda</em>, dan <em>high fashion</em>):  kita merujuk ke bahasa Belanda dan Inggris sekaligus. Sama dengan bidang teknika dan lainnya.</p>
<p>Hasilnya, kita sama-sama tahu, nama gelaran ini masih diterima: Lomba Perancang Mode Indonesia. Begitu juga nama wadah Ikatan Perancang Mode Indonesia dan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia. Semua memakai kata &#8220;mode&#8221;. Akan tetapi jangan menyebut &#8220;<em>modeblad</em>&#8220;. Hanya generasi oma-oma, termasuk para pendiri <em>Femina</em> (yang terilhami majalah Belanda <em>Libelle</em> dan <em>Margriet</em>), yang paham.</p>
<p>Maka dari kamus ini, tepatnya daftar istilah ini (karena tak ada panduan pelafalan istilah asing), saya segera mencari kata-kata yang saya sebutkan tadi. Semuanya ada &#8212; kecuali &#8220;<em>modeblad</em>&#8221; (kertas pola potong berskala 1:1, <em>pattern paper</em>). Pada era industri garmen belum semaju sekarang, <em>modeblad</em> adalah bonus wajib majalah wanita sampai awal 80-an (ingat Pola Burda?).</p>
<p>Warisan Belanda yang masih hidup tentu juga termuat dalam kamus ini. Misalnya &#8220;beha&#8221; (dari kata Belanda: <em>buste houder</em>), yang dalam kamus ini dipadankan dengan &#8220;kutang&#8221; (hal. 31). Memang makin ke sini orang makin akrab dengan yang satu suku kata: &#8220;<em>bra</em>&#8221; (lema ini, pada hal. 37, langsung merujuk ke &#8220;kutang&#8221; di hal. 128).</p>
<p>Bagaimana dengan istilah Belanda &#8220;<em>voering</em>&#8221; (Inggris: &#8220;<em>lining</em>&#8220;)? Dalam kamus ini menjadi lema &#8220;vuring&#8221; (hal. 218), yang merujuk ke lema &#8220;lining&#8221; (hal. 136).</p>
<p><em>Lingerie</em>? Pasti ada lemanya, di halaman 136, cukup dengan penjelasan &#8220;istilah bahasa Prancis untuk pakaian dalam dan baju tidur wanita&#8221;. Istilah ini bagi saya penting karena tak seperti sampai awal 9o-an, sekarang di lapak terminal pun dijual <em>lingerie</em> yang kadang dilafalkan &#8220;lingri&#8221; (Lihat Memo: <em><a href="http://memo.blogombal.org/2011/05/31/lingri-lingerie-di-kolong-terminal/" target="_blank">Lingri di Kolong Terminal</a></em>) &#8212; repot amat kalau merujuk lafal Prancis.</p>
<p><em>G-string</em>, <em>thong</em>, <em>tanga</em>? Ada dalam kamus. Tapi tak ada <em>split-thon</em>g dan <em>crocthless thong</em>. ;) Padahal itu perlu disebut mengingat maraknya dagangan jeroan, termasuk di Facebook, yang merupakan potret perubahan sosial. Busana intim bukan hal tabu dalam percakapan publik. Media cetak gaya hidup dan hiburan merintisnya, lantas internet (media sosial dan toko <em>online</em>) mematangkannya. »» Lihat Memo: <em><a href="http://memo.blogombal.org/2011/06/19/lingerie-praka-bintara-perwira/" target="_blank">Lingerie Bintara</a></em> dan <a href="http://memo.blogombal.org/2011/10/14/celana-dalam-kupu-kupu/" target="_blank"><em>Celana Dalam Kupu-kupu</em>.</a> :)</p>
<p>Istilah asing lain yang diserap tetapi bisa membingungkan adalah warisan Belanda &#8220;<em>werkpak</em>&#8220;. Sejumlah media otomotif Indonesia menyebutnya &#8220;<em>wearpack</em>&#8221; padahal setahu saya dalam bahasa Inggris tidak ada. Sayang, &#8220;<em>werkpak</em>&#8221; tidak ada ada dalam lema. Untungnya ada &#8220;workwear&#8221; (hal. 225) dan &#8220;celana montir&#8221; (hal. 47, padanan untuk &#8220;jumpsuit&#8221; di hal. 110). Lema &#8220;overall&#8221; ada (hal. 157), tetapi &#8220;celana kargo&#8221; belum ada.</p>
<p>Bagaimana dengan istilah lokal? Sudah pada masuk. Misalnya &#8220;mlinjon&#8221; (hal. 145) dan &#8220;jumputan&#8221; (hal. 110, dirujukkan ke &#8220;celup ikat&#8221; dan &#8220;tie dye&#8221;). Lema lain misalnya &#8220;celana pangsi&#8221; (halaman 48), &#8220;ceplokan&#8221; (hal. 48), dan &#8220;kereng&#8221; (sarung Lombok, hal. 124).</p>
<p>Saya berani bilang kamus ini komplet. Untuk &#8220;batik&#8221; ada hampir 30 lema (termasuk &#8220;batik fraktal&#8221;, hal. 25), begitu pula direktori nama (lebih dari 50 lema, termasuk  Go Tik Swan Hardjonagoro). Buku ini memperkaya khazanah Indonesia. Setiap penulis, dari reporter,  editor, sampai pengelola konten di internet, layak memilikinya.</p>
<blockquote><p>JUDUL: Kamus Mode Indonesia • PENULIS: Irma Hadisurya, Ninuk Mardiana Pambudy, dan Herman Jusuf • PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2011 • TEBAL: 300 halaman • HARGA: Rp 80.000 • ISBN 978-979-22-7734-0</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/02/06/mode-modis-modiste/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/01/02/data-rekaman-musik-indonesia-perlukah-pentingkah/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/01/02/data-rekaman-musik-indonesia-perlukah-pentingkah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 18:26:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[Addie M.S.]]></category>
		<category><![CDATA[Ballerina]]></category>
		<category><![CDATA[Biola tak Berdawai]]></category>
		<category><![CDATA[cd]]></category>
		<category><![CDATA[CDDB]]></category>
		<category><![CDATA[chrisye]]></category>
		<category><![CDATA[Emha Ainun Nadjib]]></category>
		<category><![CDATA[Gracenot]]></category>
		<category><![CDATA[iwan fals]]></category>
		<category><![CDATA[jazz]]></category>
		<category><![CDATA[Kantata Takwa]]></category>
		<category><![CDATA[Kiai Kanjeng]]></category>
		<category><![CDATA[musicID]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[pop]]></category>
		<category><![CDATA[rekaman]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<category><![CDATA[Sarimanouk]]></category>
		<category><![CDATA[Titiek Puspa]]></category>
		<category><![CDATA[Waldjinah]]></category>
		<category><![CDATA[Yockie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5184</guid>
		<description><![CDATA[<p>MENGHARGAI KHAZANAH DALAM ERA DIGITAL.</p> <p>»»» CARA HEMAT WAKTU: Bacalah judul, subjudul/intro, kemudian langsung ke paragraf penutup tulisan ini. :)</p> <p>Judul di atas itu sebuah tanya. Anda, para penyuka musik Indonesia, yang mestinya tahu seberapa perlu, seberapa penting. Perlu berarti sebaiknya ada. Penting berarti harus ada &#8212; tidak boleh tidak, kata generasi tua.</p> <p>Informasi digital</p> [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="Apple-style-span" style="font-size: 21px; line-height: 25px;">MENGHARGAI KHAZANAH DALAM ERA DIGITAL.</span></p>
<p><em>»»» CARA HEMAT WAKTU: Bacalah judul, subjudul/intro, kemudian langsung ke paragraf penutup tulisan ini. :)</em></p>
<p>Judul di atas itu sebuah tanya. Anda, para penyuka musik Indonesia, yang mestinya tahu seberapa <em>perlu</em>, seberapa <em>penting</em>. Perlu berarti sebaiknya ada. Penting berarti harus ada &#8212; <em>tidak boleh tidak</em>, kata generasi tua.</p>
<p><strong>Informasi digital</strong></p>
<p>Nah, mumpung ada waktu saya tadi secara acak mencomoti beberapa CD saya lalu memasukkannya ke dalam komputer yang terhubung ke internet. Tepatnya terhubung ke <a href="http://www.gracenote.com/" target="_blank">Gracenote</a> (dulu <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/CDDB" target="_blank">CDDB</a>). Di sanalah musicID bersarang dan menjadi standar industri musik.</p>
<p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-sampul-sarimanouk.jpg"><img class="alignleft" title="sarimanouk jazz" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/th_blogombal-CD-sampul-sarimanouk.jpg?t=1325418660" alt="" width="160" height="160" /></a></p>
<p>Maka agak aneh juga, untuk album baru, bikinan anak muda, ada yang tak menyertakan info pendukung yang ramah digital dalam kemasan fisik (CD).</p>
<p>Misalnya grup jazz Sarimanouk (F.A. Talafaral, Julian Marantika, Doni Sundjoyo, dan Sandy Winarta), dengan album <em>Sarimanouk</em> (LikeEarth Recording dan DeMajors, 2011). Tak ada judul lagu maupun judul album. Hanya ada judul generik oleh mesin pembaca: Track 01, Track 02, dan seterusnya.</p>
<p><img class="alignnone" title="track list sarimanouk" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-sarimanouk.jpg" alt="" width="452" height="252" /></p>
<p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-biola-tak-berdawai.jpg"><img class="alignleft" title="Addie M.S.  (bukan Kangen Band): Biola tak Berdawai" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/th_blogombal-CD-biola-tak-berdawai.jpg?t=1325432169" alt="" width="160" height="160" /></a>Langkah Sarimanouk yang tumbuh dalam era digital ini tampaknya mengikuti seniornya yang mengalami dua dunia, analog dan digital. Lihat saja album <em>Biola tak Berdawai</em> dari Addie M.S. dan Victorian Philharmonic Orchestra (Kalyana Shira Film dan Warner Music Indonesia, 2003). Informasi dalam <em>cover sleeve</em> sangat lengkap, tetapi musicID hanya menampilkan Track 01, Track 02, dan seterusnya. Sayang sekali.</p>
<p>»» Lagu <em>Biola tak Berdawai</em> terlampir <a href="http://grooveshark.com/s/Biola+Tak+Berdawai/4m7xGw?src=5" target="_blank">di situ</a>. Info digital saya tambahkan. Mohon maaf untuk pemilik hak cipta. Catatan: Harap bedakan dari lagu yang berjudul sama dari Kangen Band.</p>
<p><object id="gsSong3415367973" width="450" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34153679&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3415367973" width="450" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34153679&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /> <img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34153679&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'<span>Biola tak Berdawai by <a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Addie+M+S+and+Victorian+Philharmonic+Orchestra/2265092\&quot; title=\&quot;Addie M.S. &amp;amp; Victorian Philharmonic Orchestra\&quot;>Addie M.S. &amp;amp; Victorian Philharmonic Orchestra</a> on Grooveshark</span>&#8216;}&#8221; alt=&#8221;" /></object></p>
<p>Bandingkan dengan CD luar, misalnya Norah Jones, <em>…Featuring Norah Jones</em> (Bluenote, 2010), album yang direkan selama 2001-2010 itu. Tahun album, nama artis, dan nama komposer pun lengkap (begitu lengkapnya sehingga panjang sekali). Tak apa, itulah data yang komplet.</p>
<p><img class="alignnone" title="CD Norah Jones" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-norahjones.jpg" alt="" width="552" height="329" /></p>
<p>Umumnya CD Indonesia sudah memuat informasi digital. Minimal judul album (= nama CD), nama artis, judul lagu, dan kadang tahun produksi serta <em>genre</em>. Nama komposer? Jarang dicantumkan.</p>
<p>Oh ya, ada juga yang berdata rangkap. Misalnya CD jazz keluaran Yogya ini (produksi bareng Dagadu, Kuaetnika, Komunitas Jazz Jogja, Jazz Mben Senèn, Wartajazz.com, dan Ngayojazz, 2011). Ketika CD saya masukkan ke dalam komputer, maka iTunes menanya dan mempersilakan saya memilih satu dari dua judul album. Lihatlah&#8230;</p>
<p><img class="alignnone" title="CD Ngayogjazz 2011" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-jazzyogya.jpg" alt="" width="450" height="115" /></p>
<p>Sebenarnya CD itu konsisten. Pada bagian muka sampul tertulis <em>Jazzing Java Sesarengan</em>. Dan pada bagian &#8220;punggung&#8221; sampul (bukan bagian belakang) tertulis <em>Ngayogjazz 2011: Mangan Ora Mangan Ngejazz</em>. Akibatnya info digitalnya pun ada dua versi.</p>
<p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-sampul-CD-emha-ainun-nadjib.jpg"><img class="alignleft" title="CD Emha Ainun Nadjib &amp; Kiai Kanjeng" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/th_blogombal-sampul-CD-emha-ainun-nadjib.jpg?t=1325432169" alt="" width="160" height="160" /></a>Masih dari Yogya, ada contoh lain yaitu Emha Ainun Nadjib, <em>Menyorong Rembulan</em> (Harika Music, 20??). Mungkin karena Emha dan Kelompok Kiai Kanjeng itu sosok lintas budaya maka judul CD dan trek tak menggunakan huruf latin maupun Arab. Coba Anda lihat tangkapan layar berikut ini&#8230;</p>
<p><img class="alignnone" title="CD Enha Ainun Nadjib &amp; Kiai Kanjeng: Menyorong Rembulan" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-emha-ainun-nadjib.jpg" alt="" width="452" height="158" /></p>
<p>Memang album ini hasil rekaman <em>live</em>, meskipun begitu mestinya pemenggalan tetap perlu. Karena hal itu tak dilakukan maka trek yang terbaca oleh komputer hanya ada satu (padahal mestinya ada delapan judul). Ini mirip memutar kaset yang terhubungkan ke komputer: semua lagu dalam satu sisi dianggap satu trek.</p>
<p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-sampul-kantata-takwa.jpg"><img class="alignleft" title="CD Kantata Takwa" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/th_blogombal-CD-sampul-kantata-takwa.jpg?t=1325418660" alt="" width="160" height="160" /></a>Sabar, masih ada contoh lagi. Yaitu CD Kantata Takwa, <em>Kantata Takwa</em> (Airo Production dan Musica Studio&#8217;s, 1990). Info digital dalam CD ini menyebutkan judul albumnya &#8220;Kantata Takwa&#8221; dan nama artisnya &#8220;Iwan Fals Cs&#8221;.</p>
<p>Jika merujuk pemahaman versi publik (dan pasar), itu tak salah. Tetapi untuk kelengkapan data mestinya tak begitu. Dalam Kantata Takwa Mark I ini juga ada Sawung Jabo, Rendra, Setiawan Djody, dan Yockie Suryo Prayogo (dalam CD tertulis Yockie Soeryoprayogo). Lihat ini&#8230;</p>
<p><img class="alignnone" title="CD Kantata Takwa Iwan Fals" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-kantata-takwa.jpg" alt="" width="450" height="222" /></p>
<p>Informasi digital itu mudah digandakan, dipertukarkan, dan disebarkan. Lihat saja CD audio bajakan: infonya pun terangkut. Begitu pula ketika treknya dikonversi menjadi mp3 dan kemudian diunggah-diunduh atau disiarkan (<em>streaming</em>).</p>
<p>Jika info digital ditulis sekadarnya, karena tak ada yang mengontrol, maka jejak khazanah menjadi kurang lengkap. Lantas kelak para penikmat lagu akan berdebat tentang tahun produksi, judul asli, komposer, dan seterusnya.</p>
<p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-sampul-ballerina.jpg"><img class="alignleft" title="CD Ballerina: Dance of Balet" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/th_blogombal-CD-sampul-ballerina.jpg?t=1325418660" alt="" width="160" height="160" /></a>Maka lihatlah informasi digital dalam CD progrock Ballerina, <em>Dance of Balet</em> (Indonesian Progressive Society/IPS Records dan Sony BMG Music Entertainment Indonesia, 20??). Soal &#8220;balet&#8221;, bukan &#8220;<em>ballet</em>&#8220;, tampaknya memang konsisten: ada dalam judul album dan judul lagu. Tetapi seperti halnya blog ini yang kadang salah ketik, lagu <em>Rock n Roll Saja Lah</em> menjadi &#8220;<em>ock n roll saja lah</em>&#8221; dan <em>Antara Jiwa</em> menjadi &#8220;<em>Amtara Jawa</em>&#8220;.</p>
<p>»» Sampel lagu dari album ini terlampir <a href="http://grooveshark.com/s/Dance+Of+Balet/4m6Vzk?src=5" target="_blank">di sana</a>. Mohon maaf kepada pemilik hak cipta.</p>
<p><object id="gsSong3415248027" width="450" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34152480&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3415248027" width="450" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34152480&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="450" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34152480&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'<span>Dance of balet by <a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/BALLERINA/2264954\&quot; title=\&quot;BALLERINA\&quot;>BALLERINA</a> on Grooveshark</span>&#8216;}&#8221; alt=&#8221;" /></object></p>
<p><img class="alignnone" title="CD Ballerina: Dance of Balet" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-ballerina.jpg" alt="" width="450" height="243" /></p>
<p>Jika menyangkut album utuh, bukan kompilasi satu sumber semacam &#8220;The Best of Kampretikus Band&#8221; maupun kompilasi multisumber misalnya &#8220;Mendayu Hits Collection&#8221;, infonya bisa minim. Nah, justru karena itu maka info digital pada sumber asal harus benar dan lengkap agar dapat dirujuk.</p>
<p><strong>Informasi analog</strong></p>
<p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-waldjinah.jpg"><img class="alignleft" title="CD kompilasi Waldjinah" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/th_blogombal-CD-waldjinah.jpg?t=1325418660" alt="" width="160" height="160" /></a>Aha! Informasi jenis ini lebih mengasyikkan lagi. Biasanya tertulis pada sampul CD. Banyak yang minim informasi.</p>
<p>Misalnya saja CD Waldjinah, <em>Koleksi Emas Ratu Langgam Jawa Volume 1</em> (Cipta Suara Sempurna, tanpa tahun). Hanya ada daftar lagu dan penciptanya. Padahal telinga saya mendapatkan kesan bahwa itu berbeda dari lagu versi awal Waldjinah. Dalam versi ini lebih &#8220;ngelektrik&#8221;. Ada suara kibor dan <em>fill in</em> perkusi elektronik. Pada lagu <em>Walang Kèkèk</em>, itu sangat kentara.</p>
<p>Sebagai sebuah kompilasi, saya mendapati kesan ini rekaman baru, dengan musisi yang sama. Bukan dari multisumber sejumlah album lama Waldjinah. Pertanyaan saya, ini direkam kapan, dan siapa saja musisi pengiring Waldjinah? Warna campursari yang menggejala pada 90-an itu sangat terasa. Sayang saya tak punya versi Lokananta untuk memperbandingkan.</p>
<p><img class="alignleft" title="CD kompilasi Titiek Puspa" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/th_blogombal-CD-titiek-puspa.jpg?t=1325418660" alt="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-titiek-puspa.jpg" width="160" height="160" />Hal serupa terjadi pada CD Titiek Puspa, <em>The Very Best of Titiek Puspa</em> (Gema Nada Pertiwi, 2005). Tampaknya satu paket rekaman, bukan kompilasi dari multisumber. Memang ada sih yang iringan musiknya berbeda warna &#8212; misalnya <em>Jatuh Cinta</em>, <em>Bimbi</em>, dan <em>Dansa Yok Dansa</em> (diiringi oleh Mus Mualim?). Siapa sebenarnya musisi pengiringnya? Kapan direkam? Dalam <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Titiek_Puspa" target="_blank">Wikipedia Indonesia</a> album ini tak terendus.</p>
<p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-iwan-fals-orang-gila.jpg"><img class="alignleft" title="CD Iwan Fals: Orang Gila | racikan sound hebat" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/th_blogombal-CD-iwan-fals-orang-gila.jpg?t=1325418659" alt="" width="160" height="146" /></a>Miskin info analog juga terjadi pada banyak CD yang merupakan rilis ulang dari kaset. Misalnya Iwan Fals, <em>Orang Gila</em> (Harpa Record, tanpa tahun). Bagian dalam <em>cover sleeve</em> putih polos. Seingat saya, versi kaset dari album Iwan Fals yang racikan <em>sound</em>-nya bagus ini memuat nama sang komposer dan penata musik Billy J. Budiarjo sebagai <em>sound engineer</em>.</p>
<p>Sebagai pembanding, pada CD <em>Mata Dewa</em> (Airo dan Musica Studio&#8217;s, 1989), <em>Hijau</em> (Prosound Records, 1992), dan <em>Suara Hati</em> (Prosound Records, 2002), kreditnya lengkap. Nama penata suara sampai fotografer dan perancang grafisnya pun tercantum.</p>
<p>Adapun beberapa rilis ulang rekaman Chrisye dan Yockie masih mengangkut info lama dari versi kaset. Misalnya <em>Jurang Pemisah</em> (Pramaqua, versi 1977; versi CD 2001) dan <em>Sabda Alam</em> (Musica Studio&#8217;s, versi kaset 1978; versi CD, 2001). Nama musisi pendukung dan panata suara tercantum. Tetapi dalam <em>Sabda Alam </em>desainnya sudah berbeda, fotonya sudah diganti. Pada <em>Pantulan Cita</em> (Musica Studios, versi kaset 1981; versi CD, 2004) kredit lama masih terangkut, termasuk orang-orang tim visual.</p>
<p><img class="alignnone" title="sampul CD Chrisye: Pantulan Cita" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-CD-chrisye-pantulan-cita.jpg" alt="" width="450" height="307" /></p>
<p>Saya sudah membuangi semua kaset saya sehingga tak dapat membandingkan teks pada kemasan. Kaset itu merepotkan. Perpindahan trek lebih mudah pada piringan hitam &#8212; suaranya juga lebih &#8220;tebal&#8221;. Jadi bisa saja ingatan saya salah. Maaf. :)</p>
<p>Meskipun begitu ada  kenangan bagus saya tentang informasi dalam kaset lama Indonesia. Apa? Biarpun tak ditaja oleh produsen alat musik, sebagian musisi era &#8220;pop kreatif&#8221; (emang yang lain gak kreatip?) sering mencantumkan merek alat (misalnya Gibson, Fender, Korg, Moog, Paiste) berikut nama seri produk.</p>
<p>Sayangnya pada era Remaco, Dimita, Irama dan Metropolitan, pencantuman itu tak dilakukan sehingga kita tak melihat ada kredit untuk Farfisa. :D Akibatnya kita tak tahu biola apa yang dimainkan Adjie Bandi (C&#8217;Blues) dalam <em>Ikhlas</em> (Remaco, 1973). »» Lagunya terlampir <a href="http://grooveshark.com/s/Ikhlas/4m7bHb?src=5" target="_blank">di sini</a>, saya unduh dari alamat yang saya lupa. Mohon maaf kepada pemilik hak cipta.</p>
<p><object id="gsSong3415299569" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34152995&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3415299569" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34152995&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=34152995&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'<span>Ikhlas by <a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/C+Blues/2265011\&quot; title=\&quot;C\'Blues\&quot;>C\&#8217;Blues</a> on Grooveshark</span>&#8216;}&#8221; alt=&#8221;" /></object></p>
<p><strong>Catatan khazanah</strong></p>
<p>Jadi, apa urusan informasi digital dan analog itu? Untuk memudahkan pencatatan agar kelak tersaji dokumentasi untuk publik. Katakanlah semacam &#8220;katalog album rekaman musik Indonesia&#8221;.</p>
<p>Buat apa? Supaya kita paham sejarah. Sebuah lagu dan album tidak tiba-tiba jatuh dari langit berbarengan dengan halilintar. Ada proses kreatif yang kolaboratif. Ada wajah zaman dalam setiap rekaman musik. Untuk film sudah ada Katalog Film Indonesia (<a href="http://filmindonesia.or.id" target="_blank">filmindonesia.or.id</a>). Untuk musik mestinya bisa menyusul.</p>
<p>Sungguh aneh jika kita gemar mengunduh dan bertukar lagu berformat digital melalui internet (apapun pasal legalnya) tetapi kita tak mau tahu apa dan bagaimana lagu itu selain, &#8220;<em>Pokoké</em> saya suka lagunya. Soal lainnya <em>embuh</em>.&#8221;</p>
<p>Lantas suatu hari nanti jika sumber asing lebih lengkap menyajikan informasi musik Indonesia kita cuma merenges lalu merapal mantra rendah diri, &#8220;Soalnya orang sana lebih maju sih.&#8221;</p>
<p>Sudah saatnya musisi dan industri musik lebih peduli. Manajemen musisi/band dan pihak label mestinya bisa lebih cermat dalam penyajian informasi digital dan analog. Jika ingin dicatat oleh sejarah buatlah data yang baik.</p>
<p><em>Terima kasih Anda sudah membaca tulisan panjang ini. :)</em></p>
<p><em>Nota:<br />
Maaf tidak melayani permintaan penggandaan CD audio dan konversi ke format digital.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/01/02/data-rekaman-musik-indonesia-perlukah-pentingkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>47</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foke dalam Biennale Jakarta</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/01/02/foke-dalam-biennale-jakarta/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/01/02/foke-dalam-biennale-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 18:05:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta Biennale]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[seni rupa]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Ayodya]]></category>
		<category><![CDATA[vektor]]></category>
		<category><![CDATA[Wedha Abdul Rasyid]]></category>
		<category><![CDATA[WPAP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5265</guid>
		<description><![CDATA[RUANG PUBLIK DISAPA, SIAPA TAHU BANYAK ORANG MERASA TERWAKILI. <p></p> <p>Mendekatkan seni kepada publik. Itulah maunya Biennale Jakarta XIV (4 Desember 2011 &#8211; 14 Januari 2012) yang bertemakan Maximum City.</p> <p></p> <p>Jakarta adalah gas pol. Tak pernah tidur. Apa saja ada. Atau dalam ungkapan Agum Gumelar semasa menjadi Asisten Intelijen Kodam Jaya pertengahan 90-an, &#8220;Jakarta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>RUANG PUBLIK DISAPA, SIAPA TAHU BANYAK ORANG MERASA TERWAKILI.</h3>
<p><img class="alignnone" title="Jakarta Biennale XIV" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-biennale-01.jpg" alt="" width="450" height="292" /></p>
<p>Mendekatkan seni kepada publik. Itulah maunya Biennale Jakarta XIV (4 Desember 2011 &#8211; 14 Januari 2012) yang bertemakan Maximum City.</p>
<p><img class="alignnone" title="Jakarta Biennale XIV" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-biennale-05.jpg" alt="" width="450" height="398" /></p>
<p>Jakarta adalah gas pol. Tak pernah tidur. Apa saja ada. Atau dalam ungkapan Agum Gumelar semasa menjadi Asisten Intelijen Kodam Jaya pertengahan 90-an, &#8220;Jakarta itu apa saja ada, dari sajadah sampai haram jadah.&#8221;</p>
<p>Memang makin sering saja pemeran seni, termasuk foto, mendatangi kerumunan. Lebih praktis, karena tak perlu mengundang khalayak secara khusus. Di Jakarta ini hanya orang serius, pun punya waktu, yang khusus mendatangi galeri dan gedung pameran. Atau bisa juga orang kurang kerjaan&#8230;</p>
<p><img class="alignnone" title="Jakarta Biennale XIV" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-biennale-03.jpg" alt="" width="450" height="765" /></p>
<p>Seperti <em>biennale</em> sebelumnya, gelaran kali ini juga menyapa ruang publik. Agar lebih banyak orang yang bisa melihat, merasa nikmat, dan syukur terlibat (karena terwakili). Misalnya di Taman Ayodya, taman di Kebayoran Baru yang selalu ramai dari pagi hingga jelang subuh itu.</p>
<p>Tertampilkan di sana kubus-kubus bercetak digital dengan ilustrasi vektor wajah ala Wedha Abdul Rasyid, bekas ilustrator majalah <em>Hai</em>. Bedanya, Wedha dulu mengawalinya dengan kerja manual, bukan dengan komputer.</p>
<p><img class="alignnone" title="Jakarta Biennale XIV" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-biennale-08.jpg" alt="" width="450" height="417" /></p>
<p>Dulu ketika ada <em>rock star</em> datang ke redaksi <em>Hai</em>, lalu menerima potret dirinya dalam kemasan marak berkotak, dan bertanya siapa yang membuat, maka Wedha akan mengaku, &#8220;<em>I did it.</em>&#8221;</p>
<p><img class="alignnone" title="Jakarta Biennale XIV" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/bogombal-biennale-06.jpg" alt="" width="450" height="340" /></p>
<p>Sebagian karya sejumlah perupa WPAP yang tertampilkan di Taman Ayodya adalah <em>local heroes</em>: pengamen, pedagang kaki lima, pedagang burung di los Barito… Ada juga wajah tenar, yang mungkin mewakili potret Bulungan sebagai kantong seni. Misalnya Ray Sahetapy, Alex Komang, dan Teguh Esha.</p>
<p>Di luar kubus-kubus itu, ada sebidang gambar besar yang canggung tersandarkan di bagian pinggir taman. Gubernur DKI Fauzi Bowo dan lima orang stafnya dalam pakaian dinas terpampang.</p>
<p><img class="alignnone" title="Fauzi Bowo dalam Jakarta Biennale XIV" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-biennale-foke2.jpg" alt="" width="450" height="253" /></p>
<p>Si baliho bertanya, &#8220;Apakah Pencari Kerja?&#8221; Lalu ada ajakan agar pencari berlatih aneka keterampilan. Ada jaminan, &#8220;Biaya ditanggung PEMPROV DKI Jakarta.&#8221; Iya, ada kata berhuruf kapital.</p>
<p>Kalaupun tamatan kursus tetap tak dapat pekerjaan, silakan menjawab pertanyaan Biennale: &#8220;<em>Survive or Escape?</em>&#8221; Oh ya, dalam kursus ada juga bahasa Inggris supaya dapat memahami pertanyaan itu.</p>
<p><img class="alignnone" title="Baliho Fauzi Bowo dalam Jakarta Biennale XIV" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/BLOGOMBAL-biennale-foke.jpg" alt="" width="450" height="362" /></p>
<p>Saya tak tahu manakah yang lebih membuat terkesan khalayak, Foke atau, katakanlah, Harun Mister Kopi dari Ayodya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/01/02/foke-dalam-biennale-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blues Merbabu, Blues Salatiga</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/05/10/blues-merbabu-blues-salatiga/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/05/10/blues-merbabu-blues-salatiga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 May 2011 13:30:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop rex]]></category>
		<category><![CDATA[blues merbabu]]></category>
		<category><![CDATA[gitanyali]]></category>
		<category><![CDATA[maryuni]]></category>
		<category><![CDATA[mbok nyai]]></category>
		<category><![CDATA[min kebo]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[pak ngadiran]]></category>
		<category><![CDATA[salatiga]]></category>
		<category><![CDATA[senjaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4450</guid>
		<description><![CDATA[SEOLAH SEMUANYA MUDAH DAN ENAK. DAN KEPAHITAN MENGIBA PUN TIADA. <p></p> <p>Mengulangi pendar sensasi ereksi dan ejakulasi pertama seorang bocah sepuluh tahun, masih kelas empat SD, saat kelon dengan seorang wanita dewasa lajang guru TK (tapi tanpa koitus), sekitar empat puluh tahun kemudian bukanlah hal mudah.</p> <p>Tentang kenangan lama, tak semuanya dapat diulang dengan rasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>SEOLAH SEMUANYA MUDAH DAN ENAK. DAN KEPAHITAN MENGIBA PUN TIADA.</h3>
<p><img class="alignnone" title="blues merbabu, blues salatiga, oleh gitanyali" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-blues-merbabu.jpg" alt="" width="450" height="324" /></p>
<p>Mengulangi pendar sensasi ereksi dan ejakulasi pertama seorang bocah sepuluh tahun, masih kelas empat SD, saat kelon dengan seorang wanita dewasa lajang guru TK (tapi tanpa koitus), sekitar empat  puluh tahun kemudian bukanlah hal mudah.</p>
<p>Tentang kenangan lama, tak semuanya dapat diulang dengan rasa yang sama. Wajar, karena manusia yang terlibat sudah berubah, ingatan melapuk, dan atmosfer tempat sudah berganti warna. Juga wajar jika dalam kasus bocah ingusan tadi ingatan dan kenangan si perempuan mungkin malah tak begitu melesak ke dasar hati.</p>
<p>Bagaimana dengan kenangan buruk, semisal stigma sebagai anak aktivis PKI, yang bapak dan ibunya ditahan tetapi nasib bapaknya tak jelas?</p>
<p>Setelah kebebasan berbicara tersedia, sebagian orang lebih memilih merekonstruksi segala sumber luka. Caranya macam-macam. Bisa runut dan blak-blakan, bisa juga simbolis dengan berpindah-pindah penggalan masa, tetapi hasilnya sama-sama menyakitkan.</p>
<p>Bagaimana dengan <em>Blues Merbabu</em>-nya Gitanyali, apakah sama dengan <em>Mencoba tidak Menyerah</em> (judul asli: <em>Aku bukan Komunis</em>) karya Yudhistira Ardhi Nugraha Massardi awal 80-an, saat Soeharto masih berkuasa?</p>
<p>Tidak. Yudhis bicara sebagai korban dengan memindahkan kepahitan kepada pembaca secara mendalam. <em>Blues Merbabu</em>, yang mencoba bertutur sederhana tetapi sesekali tampak kecendekiaannya (apa itu &#8220;<em>maxim</em>&#8221; dan &#8220;<em>imagined communities</em>&#8220;?), menutupi luka dengan hedonisme erotis kota kecil di Jawa Tengah, lalu di Jakarta, lengkap dengan segala kenorakan akhir 60-an dan awal 70-an &#8212; misalnya memakai parfum Charlie (by Revlon) yang saat itu ngetop dan menebar mantera asmara gombal melalui kartu pilihan pendengar radio.</p>
<p>Maka yang kita dapat, menurut kesan saya, adalah cerita ringan anak PKI yang melawan &#8212; tepatnya: mengimbangi &#8212;  stempel dan keadaan diri dengan cara yang sungguh merdeka: memanjakan hasrat duniawi, dengan pembenar yang seolah ideologis yaitu <em>sulaya</em> atau semacam pengingkaran. Oh ya, kalau surgawi sudah bukan hasrat kan? :D</p>
<p>Tentang serangkaian petualangan bararoma kompleks oedipus, mungkin wajar. Anak lelaki belum sunat pun lebih mungkin memproyeksikan gejolak berahinya kepada lawan jenis yang payudaranya menggembung dan bulu kemaluannya melebat &#8212; artinya ya wanita dewasa &#8212; ketimbang (mungkin) perawan kencur yang belum menggarap sari pertamanya. Itu sebabnya si aku harus disunat lebih dini , dalam usia 10 padahal umumnya 12, akibat burungnya terlukai ranting lamtoro setelah ngibrit ketahuan mengintip seorang <em>budhé</em> mandi.</p>
<p>Sensasi bibit kompleks oedipus mungkin juga terasa dari pembauan kembali kain jarik nenek: ada kedamaian di sana.</p>
<p>Saya bisa memastikan kota kecil yang tak disebut namanya itu adalah Salatiga. Pasti!</p>
<p>Ya, kota yang dulu masih <em>ex-gemeente</em> dengan sembilan kelurahan dalam satu kecematan, yang luasnya sekitar 27 kilometer persegi.</p>
<p>Banyak unsur pemerian yang akan segera diketahui orang lama Salatiga. Dari penjual jamu merangkap tukang akrobat Pak Ngadiran sampai trio orang gila (Mbok Nyai, Min Kebo, dan Maryuni). Nama-nama lain disamarkan tetapi mengarahkan kepada tebakan. Roby Ganda adalah Roy Marten. Radio PK2PPD7 adalah YDA7C2 yang kemudian dikelola pemkot (adapun YDA7C5 adalah milik Kodim, dan YDA7C7 adalah milik PTDI).</p>
<p>Tentang hedonisme sebuah kota kecil, ketika masih SMA saya sudah terbiasa mendengar bualan teman-teman yang sering ke pelacuran tentang penghuni baru dan primadonanya. Bersama adik saya ketika mengudap di warung wedangan Mak Pari, sering kami mendengar orang-orang dewasa, yaitu beberapa orang Cina juragan toko dan orang non-Cina yang bukan pegawai negeri, bertukar cerita dan guyon dengan bebasnya tentang penghuni Sembir, nama lokalisasi di Sarirejo, di utara.</p>
<p>Beberapa tahun sebelumnya, saya dan anak-anak tanggung sebaya, juga tahu tentang beberapa cewek &#8220;grand funk&#8221; alias perek. Kami juga tahu  tante girang &#8212; selain seorang homoseksual pemburu brondong culun.</p>
<p>Ketika saya berusia 14 tahun seorang teman dari Tegalwaton, dekat mata air Senjaya di luar kota, membisikkan tentang praktik orgi yang dilindungi belukar. &#8220;Nama kelompoknya Hanoman, singkatan &#8216;haus nonok manis&#8217;,&#8221; kata teman saya. Senjaya, menurut Gitanyali, adalah &#8220;tempat di mana anak-anak di kotaku kehilangan keperjakaannya.&#8221; Latar macam itulah yang mewarnai <em>Blues Merbabu</em>.</p>
<p>Jadi apakah ini semacam penggabungan otobiografi dan imajinasi bahkan proyeksi citra diri?</p>
<p>Mungkin. Karena jika betul penulisnya adalah dia, seseorang yang saya tahu tapi tak saya kenal baik, maka ada hal berbeda dari jejak dirinya.</p>
<p>Siapa dia, si Gitanyali, alias nyali atau keberanian di tengah lagu malam ini?</p>
<p>Tampaknya dia. Seorang eseis, cerpenis, jurnalis, penikmat seni rupa, dan menjadi pencatat apapun yang &#8220;kontemporer&#8221; dalam kehidupan urban Indonesia. :D Dulu dia sering menulis dengan mengutip dan menyebut Umberto Eco, lalu dengan enteng ketika menuliskan dunia wewangian di korannya dia bisa menyelipkan pengakuan, &#8220;Kalau saya suka Van Cleef &amp; Arpels&#8221; (bukan kutipan persis). Jarang ada jurnalis koran serius melakukan itu.</p>
<p>Ada suatu masa, tahun 80-an, ketika Orde Soeharto masih berjaya, dan menjadikan &#8220;bersih lingkungan&#8221; sebagai mantera penopang kezaliman, seorang jurnalis muda menjadi korban. Korannya tak memecat dia, dan menyelamatkannya, antara lain, dengan membolehkan sekolah ke luar negeri lalu ikut pelatihan peneliti muda nun di titik barat laut negeri. Dia berganti nama pena, menjadi berbau Majapahit.</p>
<p>Sebagai hiburan ringan, buku ini boleh juga. Cocok dengan selera saya: malas membaca yang berat maupun menafsirkan sisi berat tersembunyi dari sebuah tuturan enteng renyah. :D</p>
<p>Tetapi dari sana, kalau mau dan telaten, kita bisa mengais remah-remah kepahitan hidup seorang anak aktivis PKI. Meskipun masing-masing menyembunyikan jejak kelam (versi rezim), antarmereka bisa saling mengidentifikasi. Kemiripan pengalaman menghasilkan sebuah bingkai pengenalan dalam interaksi sosial. Sebuah proses yang Gitanyali sebut &#8220;membaui&#8221;.</p>
<blockquote><p>JUDUL: Blues Merbabu • PENULIS: Gitanyali • PENERBIT: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta: Februari 2011 • TEBAL: vi + 186 halaman • HARGA: Rp 34.000</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/05/10/blues-merbabu-blues-salatiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>54</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cekidot, Gan! Kamu Dodol!</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/04/12/cekidot-gan-kamu-dodol/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/04/12/cekidot-gan-kamu-dodol/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 12:41:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[alay]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa gaul]]></category>
		<category><![CDATA[christopher torchia]]></category>
		<category><![CDATA[colloquial]]></category>
		<category><![CDATA[lely djuhari]]></category>
		<category><![CDATA[slang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4378</guid>
		<description><![CDATA[BUKU SLANG INDONESIA TERBITAN LUAR :P <p></p> <p>Sampul buku ini menarik, sehingga saya comot untuk judul. Ragam tuturan Indonesia yang tak resmi, bahkan musiman, ditulis dalam bahasa Inggris, oleh Christopher Torchia dan Lely Djuhari. Torchia adalah wartawan Associated Press yang pernah bertugas di Jakarta. Sedangkan Djuhari (Twitter: @<a href="http://twitter.com/#!/lelydjuhari" target="_blank">lelydjuhari)</a> adalah seorang spesialis komunikasi di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>BUKU SLANG INDONESIA TERBITAN LUAR :P</h3>
<p><img class="alignnone" title="buku slang dunia kerja" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-indonesian-slang.jpg" alt="" width="450" height="578" /></p>
<p>Sampul buku ini menarik, sehingga saya comot untuk judul. Ragam tuturan Indonesia yang tak resmi, bahkan musiman, ditulis dalam bahasa Inggris, oleh Christopher Torchia dan Lely Djuhari. Torchia adalah wartawan Associated Press yang pernah bertugas di Jakarta. Sedangkan Djuhari (Twitter: @<a href="http://twitter.com/#!/lelydjuhari" target="_blank">lelydjuhari)</a> adalah seorang spesialis komunikasi di Unicef. Hasilnya?  &#8221;<em>Bahasa alay</em>&#8221; dan &#8220;<em>cengdem</em>&#8221; pun masuk.</p>
<p>&#8220;<em>Bahasa alay</em>&#8221; dijelaskan sebagai &#8220;<em>the language of the kite runner kids</em>&#8220;, penginggrisan untuk &#8220;bahasa anak layang&#8221;.  Dalam paparan tafsir dan konteks, diberi pula contoh tentang penggunaan &#8220;<em>Chambleeqummbh</em>&#8221; sebagai pengganti &#8220;Assalammu alaikum&#8221;. Entri penutup pada halaman 277 itu mencengangkan. Apa yang kita anggap sepele, dan berkemungkinan terlupakan, ternyata ada yang mencatat.</p>
<p>Adapun &#8220;<em>cengdem</em>&#8221; juga disebutkan sebagai akronim &#8220;c<em>eceng adem</em>&#8220;, dengan keterangan &#8220;<em>A thousand cools = Cheap sunglasses</em>&#8220;. Tentu dijelaskan pula bahwa &#8220;ceceng&#8221; berasal dari bahasa Cina Hokkian dan &#8220;adem&#8221; dari bahasa Jawa (hal. 268).</p>
<p>Masih banyak kata yang terangkum dalam buku ini. Perek (<em>experimental woman = prostitute, bimbo</em>). Buaya darat (<em>land crocodile = playboy, womanizer</em>). Tante girang (<em>happy aunty = a middle-aged woman who seeks gigolo</em>). Cinta monyet (<em>monkey love = puppy love</em>). Carmuk (<em>look for face = show your face; drop by; pop in</em>). Pak Ogah (<em>Mister No Way</em>). Pepesan kosong (<em>empty banana wrap</em>).</p>
<p>Ada juga yang politis. Misalnya &#8220;disekolahkan&#8221;, yang bukan berarti &#8220;tergadaikan&#8221; melainkan dibunuh dalam operasi militer. Saya mendengar &#8220;disekolahkan&#8221; dalam arti mengerikan itu dari seorang perwira militer awal 2000-an sepulang dia dari bertugas di Aceh.</p>
<p>Sebagai rintisan yang semoga akan terus terbarui, <em>colloqouial</em> ini berharga karena mencatat sejumlah tuturan tak resmi dalam bahasa Indonesia, yang terkadang juga dicomot oleh media. Saya sangat menaruh hormat kepada kedua penulis.</p>
<p>Meskipun begitu ada juga yang membuat saya terkesan karena baru tahu dari buku itu. Apa? Kata &#8220;<em>krakatau</em>&#8221; yang berujung pada kata Betawi &#8220;<em>kagak tau</em>&#8221; :D (hal. 15). Bagaimana penjelasannya, silakan Anda baca sendiri. :)</p>
<blockquote><p>JUDUL: <em>Indonesian Slang: Colloquoial Indonesian at Work</em> (Judul sebelumnya: <em>Indonesian Idioms and Expressions</em>, 2007) • PENULIS: Christopher Torchia &amp; Lely Djuhari • PENERBIT: <a href="http://tuttlepublishing.com/" target="_blank">Tuttle Publishing</a> (Periplus Editions), Hong Kong 2011 • TEBAL: 288 halaman • HARGA: Rp 145.000</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/04/12/cekidot-gan-kamu-dodol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>97</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musik Dulu Lebih Bagus daripada Sekarang (?)</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/03/21/musik-dulu-lebih-bagus-daripada-sekarang/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/03/21/musik-dulu-lebih-bagus-daripada-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2011 02:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[Alan Parson]]></category>
		<category><![CDATA[art rock]]></category>
		<category><![CDATA[classic rock]]></category>
		<category><![CDATA[d'lloyd]]></category>
		<category><![CDATA[Genesis]]></category>
		<category><![CDATA[J.R.R. Tolkien]]></category>
		<category><![CDATA[Koes Plus]]></category>
		<category><![CDATA[Led Zeppelin]]></category>
		<category><![CDATA[Mercy's]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[Pink Floyd]]></category>
		<category><![CDATA[pop]]></category>
		<category><![CDATA[progressive rock]]></category>
		<category><![CDATA[progrock]]></category>
		<category><![CDATA[Queen]]></category>
		<category><![CDATA[riski summerbee & the honeytheft]]></category>
		<category><![CDATA[Roger Waters]]></category>
		<category><![CDATA[the trees and the wild]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4299</guid>
		<description><![CDATA[PADAHAL SETIAP ZAMAN PUNYA MUSIK BAGUS :) <p></p> <p>Musik 90-an lebih mengena, lebih keren, dan lebih bagus ketimbang musik sekarang. Kurang lebih begitulah ujar beberapa nyonya muda usia di bawah 30.</p> <p>Lalu orang sebaya saya menganggap musik 80-an lebih pas dan mengena. &#8220;Ndak seperti lagu-lagu sekarang yang ndak jelas itu,&#8221; kata seorang teman.</p> <p>Kemudian mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>PADAHAL SETIAP ZAMAN PUNYA MUSIK BAGUS :)</h3>
<p><img class="alignnone" title="CD musik Indonesia keluaran baru -- dalam arti belum ada enam bulan hehehe" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-cd-musik-baru-indonesia.jpg" alt="" width="450" height="528" /></p>
<p>Musik 90-an lebih mengena, lebih keren, dan lebih bagus ketimbang musik sekarang. Kurang lebih begitulah ujar beberapa nyonya muda usia di bawah 30.</p>
<p>Lalu orang sebaya saya menganggap musik 80-an lebih pas dan mengena. &#8220;Ndak seperti lagu-lagu sekarang yang ndak jelas itu,&#8221; kata seorang teman.</p>
<p>Kemudian mereka yang mengalami masa remaja tahun 70-an hakkul yakin bahwa <em>classic rock</em> era itu adalah segalanya, dan &#8220;pop kreatif&#8221; Indonesia nyaman di kuping. Art rock/prog-rock, atau apalah, dari Genesis &#8220;era klasik&#8221; (bukan ngepop) yang nyastrawi, dianggap salah tonggak rock nan berkelas.</p>
<p>Sementara yang lain, fanatikus Koes Plus, mati-matian menentang adanya kaset dan CD &#8220;<em>the best of Koes Plus</em>&#8221; karena&#8230; semua lagu Koes Plus yang manapun pasti <em>best</em> punya. Tak ada yang burook dari Koes. Tiada yang perlu dikompilasi dari Koes sebagai lagu terbaik.</p>
<p>Sebagian dari kelompok 70-an itu suka dengan alasan ini: musikalitas dan virtuositas adalah segalanya. Koes Plus dengan alat sederhana, tanpa sekolah musik, dengan permainan drum Murry yang (kata orang sih) kadang nyeleneh, di studio empat jalur, bisa bikin lagu bagus, enak, gampang ditirukan.</p>
<p>Pink Floyd, dengan teknologi studio analog yang kuno, bisa membuat <em>The Dark Side of the Moon</em> (1973) yang menghadirkan suasana <em>pyschedelic</em>. Racikan <em>sound</em> Roger Waters dan penataan suara Alan Parson adalah bukti kreativitas era pra-MIDI.</p>
<p><em>Bohemian Rhapsody</em> (Queen, 1975), dengan teknik rekaman yang melelahkan untuk menjadikan tiga mulut sebagai paduan suara berbanyak orang, sudah begitu penyuntingannya melibatkan pemotongan dan penyambungan pita, adalah puncak pencapaian rekaman analaog 24 jalur &#8212; pada zamannya, sih.</p>
<p>Khusus untuk penggemar rock, ada pasal tambahan: dulu banyak album &#8220;berkonsep&#8221; bahkan literer, yang menunjukkan bahwa musisinya banyak membaca dan peka dalam menyerap masalah zaman :D</p>
<p><em>Led Zeppelin II</em> (1969), sebagai misal, adalah bukti bahwa musisinya membaca karya-karya J.R.R. Tolkien, terutama <em>The Lord of the Rings</em>. Suatu hal yang akan membuat sakit hati jika anak penggemar menanya bapaknya, &#8220;Konsep? Nyastra? Milsafat? Emang itu penting, Pak? Yang penting tuh kayak klip di MTV: tiga menit lagu kudu rampung, videonya enak diliat.&#8221;</p>
<p>Ya, ya, ya. Sudahlah. Musik itu soal selera. Apa yang enak di kuping kita, dan lagu apapun yang kita suka, apapun genrenya, siapapun artisnya, berarti bagus.</p>
<p>Lantas kenapa sebagian orang (sekali lagi: sebagian)  cenderung menganggap musik pada zamannya paling bagus?</p>
<p>Dalam beberapa kasus, artinya saya tak menjenderalkan, itu karena sebagian dari mereka di masa tuanya cenderung kurang mengikuti album musik baru. Masalah utama adalah waktu: sedikit kesempatan untuk menyimak &#8212; lebih dari sekadar mendengarkan &#8212; musik di luar radio (di mobil) dan TV.</p>
<p>Sudah lebih dari sekali saya mendengar keluhan para bapak maupun ibu bahwa setelah menikah dan punya anak maka kesempatan menikmati musik berkurang.</p>
<p>Selain itu, menurut saya sih, musik keluaran mutakhir sudah jauh dari <em>cohort</em> generasi sebelum hari ini. Sudah jauh dari pengalaman kolektif dan spirit  semasa yang dibingkai oleh sesusur arus zaman &#8212; ini sebuah tempurung maya yang melebihi nostalgia.</p>
<p>Maka penggemar D&#8217;Lloyd (<em>Sepanjang Lorong yang Gelap</em>) dan Mercy&#8217;s (<em>Kisah Seorang Pramuria</em>), berbeda tantangan dan serapan masalah zaman dari penggemar Efek Rumah Kaca maupun Risky Summerbee &amp; the Honeytheft &#8212; dan tentu Slank.  Alam pikir penggemar Grand Funk Railroad di Indonesia berbeda dari penggemar Radiohead.</p>
<p>Itu sebabnya konser dan acara yang seolah hanya kemasan nostalgis untuk setiap wakil generasi bisa laku. Yang ingin dipungut bukan hanya kenangan yang personal tetapi juga <em>élan</em>.</p>
<p>Maaf jika pembandingan antargrup itu aneh bagi Anda. Maklum saya bukan kritikus maupun pengamat.</p>
<p>Maka bisa dimaklumi jika teman yang lebih tua dari saya, penggemar Beirut, membuat sebayanya bingung, karena sejak awal terkagum-kagum terhadap MGMT jauh hari sebelum band itu terkenal, sebelum (akan) mentas di Jakarta. :D</p>
<p>Bagaimana dengan saya?</p>
<p>Jelas, saya awam musik, tak dapat bermain musik, dan tidak mengikuti perkembangan musik secara intensif (baik musik luar maupun domestik). Meskipun begitu saya berpendapat bahwa setiap zaman punya musik bagus. Risky Summerbee dan Individual Life (padahal cuma dengar sampel), sebagai contoh (yang kebetulan dari Yogyakarta), buat saya kok bagus dan cocok. :D Atau, sebut saja, The Trees and The Wild &#8212; yang kebetulan dari Bekasi. :)</p>
<p>Menurut Anda bagaimana, apalah musik zaman Anda memang lebih oke bahkan mulia?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/03/21/musik-dulu-lebih-bagus-daripada-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>131</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

