<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blogombal [√] &#187; Ngeblog</title>
	<atom:link href="http://blogombal.org/category/ngeblog/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogombal.org</link>
	<description>catatan ringan angin-anginan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 10:35:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Nyanyian dari Dapur</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/11/15/nyanyian-dari-dapur/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/11/15/nyanyian-dari-dapur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 06:43:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Blogspot]]></category>
		<category><![CDATA[Herfini]]></category>
		<category><![CDATA[hherfini.blogspot.com]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[rahasia perusahaan]]></category>
		<category><![CDATA[telekomunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Telkomsel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5035</guid>
		<description><![CDATA[<p>PERGUNJINGAN ITU GURIH. INTERNET MEMBANTU KITA MENIKMATINYA TANPA KETAHUAN TETANGGA.</p> <p>Sebuah blog di Blogspot bercerita tentang rahasia dapur sebuah perusahaan telekomunikasi Indonesia, berstatus Tbk., yang sedang direpoti protes karyawan. Saya tak tahu, dan belum menanya, apakah itu betul akun atas nama sang direktur perencanaan.</p> <p>Jika benar, dalam batas apakah seorang direktur pantas menceritakan seluk beluk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PERGUNJINGAN ITU GURIH. INTERNET MEMBANTU KITA MENIKMATINYA TANPA KETAHUAN TETANGGA.</p>
<p>Sebuah blog di Blogspot bercerita tentang rahasia dapur sebuah perusahaan telekomunikasi Indonesia, berstatus Tbk., yang sedang direpoti protes karyawan. Saya tak tahu, dan belum menanya, apakah itu betul akun atas nama sang direktur perencanaan.</p>
<p>Jika benar, dalam batas apakah seorang direktur pantas menceritakan seluk beluk kebijakan dan keputusan direksi &#8212; apapun prosesnya &#8212; kepada publik, padahal dia bagian dari tim penentu?</p>
<p>Jika benar itu akun seorang direktur, perlukah menceritakan pertalian gesekan dan konflik internal, berikut kasus yang memalukan, kepada publik melalui media sosial bernama blog pribadi?</p>
<p>Anda dapat menjawab, batasnya adalah ada pembeda mana yang untuk konsumsi khalayak dan mana yang untuk internal. Jawaban normatif. Tak jarang harus kita telaah kasus demi kasus.</p>
<p>Oh, kita juga bisa menganggap semua info dari dalam itu layak keremus, lalu menempatkannya sebagai hasil yang tak beda dari apa yang kemudian dikemas oleh media melalui wawancara dan riset. Cuma persoalan konten, kata kita. Urusannya cuma benar dan dapat dipercaya atau tidak, kata tetangga sebelah.</p>
<p>Jadi di mana masalahnya? Cara dan saluran pemaparan. Apapun posisinya, seseorang sebaiknya berlaku bijak dalam menceritakan persoalan keluarga, kelompok, dan kantornya kepada dunia luar. Termasuk dalam bijak itu adalah waspada terhadap orang yang bocor mulut lalu menyiarkannya kepada khalayak.</p>
<p>Maka kembali ke blog itu, saya belum yakin apakah itu dari sang direktur langsung. Ada sejumlah rambu dalam jabatan perusahaan besar, dan umumnya profesional terikat pada semacam kontrak untuk tak sembarangan menyampaikan sesuatu.</p>
<p>Dalam ungkapan seorang sopir kumpeni, &#8220;Jangan paksa saya cerita nganter bos ke mana aja.&#8221;  Itulah etika.</p>
<p>Orang Jawa punya pepatah, &#8220;<em>Nabok nyilih tangan</em>.&#8221; Menabok pakai tangan orang lain dalam arti mencatut.</p>
<p>UPDATE: <a href="http://www.detikinet.com/read/2011/11/15/114751/1767579/328/telkomsel-blog-herfini-itu-palsu?i991101105" target="_blank">Itu blog palsu</a> (Detikinet)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/11/15/nyanyian-dari-dapur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Kabar Bloggers Indonesia?</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/10/27/apa-kabar-bloggers-indonesia/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/10/27/apa-kabar-bloggers-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 19:39:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[hari blogger nasional 2011]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas blogger]]></category>
		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[pesta blogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4863</guid>
		<description><![CDATA[MENYAMBUT DARIPADA HARI BLOGGER NASIONAL 2011. <p><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/hari-blogger-nasional-2011.png"></a>Judul itu pertanyaan untuk saya pekan lalu. Jawaban saya kurang bermutu, &#8220;Baik-baik saja.&#8221; Si penanya malah punya bahan tambahan, &#8220;Beneran, baik-baik saja?&#8221;</p> <p>Saya tidak bisa menjawab karena tak memikirkan kata &#8220;baik-baik saja&#8221; selain asal sebut.</p> <p>Lalu dia, seorang ibu karena sering dipanggil &#8220;Bu&#8221;, padahal belum menikah dan belum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MENYAMBUT DARIPADA HARI BLOGGER NASIONAL 2011.</h3>
<p><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/hari-blogger-nasional-2011.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-4908" title="hari-blogger-nasional-2011 | © antyo.rentjoko.net" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/hari-blogger-nasional-2011-157x300.png" alt="hari-blogger-nasional-2011 | © antyo.rentjoko.net" width="157" height="300" /></a>Judul itu pertanyaan untuk saya pekan lalu. Jawaban saya kurang bermutu, &#8220;Baik-baik saja.&#8221; Si penanya malah punya bahan tambahan, &#8220;Beneran, baik-baik saja?&#8221;</p>
<p>Saya tidak bisa menjawab karena tak memikirkan kata &#8220;baik-baik saja&#8221; selain asal sebut.</p>
<p>Lalu dia, seorang ibu karena sering dipanggil &#8220;Bu&#8221;, padahal belum menikah dan belum punya anak, terlebih lagi belum tua, itu bertanya soal data. Berapa jumlah <em>bloggers</em> Indonesia, bagaimana pertumbuhannya, dan masih banyak lagi yang menyangkut angka, lalu seperti biasa saya pun gelagapan, kemudian mempersilakannya menanya orang yang paham dan peduli statistik. Urusan saya hanya ngeblog.</p>
<p>&#8220;Jadi, Mas tahunya cuma ngeblog?&#8221;</p>
<p>Saya mengangguk. Sempat terpancar kuciwa dan tak percaya dari balik kacamata berbingkai hitam itu.</p>
<p>Lalu obrolan ngalor-ngidul berlangsung tanpa dukungan data. Tepatnya: saya hanya menceritakan kesan.</p>
<p>• <strong>Masihkah ngeblog menggairahkan?</strong> Masih &#8212; bagi sebagian orang. Mereka ngeblog karena suka. Bahkan ada yang ngeblog untuk diri sendiri. Komen dan di-<em>tweet</em>-kan itu bonus. Kalaupun sempat tenar, itu kecelakaan.</p>
<p>• <strong>Apakah jumlah <em>bloggers</em> tetap?</strong> Setahu saya selalu ada blog baru. Tetapi soal <em>updating</em> tentu harus diamati.</p>
<p><strong>• Apakah SEO topi hitam masih menjadi isu?</strong> Saya tak begitu paham. Setahu saya SEO itu baik, agar blog mudah ditemukan karena isinya relevan dengan yang dicari orang. Malah salah satu blog saya terpasangi <em>plugin</em> untuk SEO, tetapi saya tak tahu cara memakainya.</p>
<p>Saya hanya peduli dua hal.<em> Pertama:</em> para pencari informasi akhirnya juga pintar, tak ingin kejeblos ke blog yang isinya tak jelas tetapi terkemuka di hasil pencarian. Kedua: lebih penting dan bermartabat menghasilkan konten sendiri, bukan <em>copy-and-paste</em>, bila perlu foto dan ilustrasi pun bikinan sendiri &#8212; kalaupun memakai milik orang lain tetap pakai penyebutan. Ngeblog dulu, baru kemudian SEO menjadi pembantu. Bukan sebaliknya, ngeblog demi SEO.</p>
<p>• <strong>Apakah blog bisa menjadi media alternatif bagi situs berita bahkan media cetak dan TV?</strong> Tentu tidak. Isi blog sangat beragam. Kalaupun isinya aktual, itu lebih bersifat perspektif dari si narablog. Gampangannya, blog merespon apa yang diwartakan oleh media konvensional.</p>
<p>Memang ada blog yang isinya pelaporan, bahkan berfoto, tentang kehidupan sehari-hari, tetapi menurut kacamata saya itu belum dapat disebut sebagai produk jurnalistik. Atau dalam istilah <a href="http://pakde.com" target="_blank">Pakde Totot</a>, dan juga saya, itu &#8220;kesaksian&#8221;. Ada sejumlah syarat untuk menghasilkan produk jurnalistik, dan suka tak suka itu ada hubungannya dengan pelembagaan dan standar profesi bahkan perlindungan hukum. Simak tulisan saya dalam buku <em><a href="http://kalamkata.org/2011/02/20/pedoman-berekspresi-online/?did=24" target="_blank">@linimas(s)a</a></em> (ICT Watch, Jakarta, 2011). Supaya enak, di sana saya menyebut narablog sebagai &#8220;pewarta sukarela&#8221;, sekelas pelapor (=pencerita), sebagai lawan posisi dari &#8220;pewarta profesional&#8221; yang jurnalis.</p>
<p><strong>• Apakah <em>bloggers</em> masih bahkan semakin senang tergabung ke dalam komunitas?</strong> Mungkin, dan semoga. Tetapi ada juga narablog yang tak tergabung ke dalam komunitas, dan nyatanya hubungan dengan narablog lain baik-baik saja, dalam arti tak pernah bertengkar apalagi berkelahi. Ada juga yang lebih penting: meski tak tergabung ke dalam komunitas mereka ini tetap produktif menulis.</p>
<p><strong>• Bagaimana hubungan <em>bloggers</em> &#8220;pusat&#8221; dan &#8220;daerah&#8221;?</strong> Saya bingung. Apa itu pusat? Apa pula daerah? Narablog Jakarta, dan wadah komunalnya, jelas ada. Tetapi ibarat dalam PON, mereka itu tak beda dari kontingen lain. Hanya labelnya saja dari DKI Jakarta. Sama-sama daerah.</p>
<p><strong>• Baiklah, diralat saja. Bagaimana hubungan bloggers Ibu Kota dengan bloggers di luar Ibu Kota?</strong> Setahu saya baik-baik saja. Kalau memang kenal, dan ada waktu, narablog asal Jabodetabeksertangsel menjumpai narablog di suatu kota dan sebaliknya.</p>
<p>• <strong>Apakah benar <em>bloggers</em> Jabodeta&#8230; eh apa tadi, mendominasi blogosfer Indonesia?</strong> Sebentar, pengertian mendominasi itu apa? Saya belum memeriksa apakah jumlah blog dan total tulisan dari The Greater Jakarta itu melebihi daerah lain. Jika ya, mungkin mendominasi melalui jumlah wadah dan volume pesan.</p>
<p><strong>• Mendominasi dalam arti pesan mereka lebih bergema, lebih diperhatikan?</strong> Saya tidak tahu. Tetapi kalau ngomongin soal bergema atau apalah, di Twitter itu omongan lokal pekicau Jakarta kadang lebih diperhatikan, bahkan tampaknya bisa dominan, padahal topiknya lokal, misalnya kemacetan karena hujan. Eh nggak tahu juga ding, saya sedang berjauhan dengan Twitter.</p>
<p><strong>• Apakah benar <em>bloggers</em> Jakarta lebih dekat dengan korporat, lebih dekat dengan kekuatan asing, bahkan disetir oleh korporat dan agen asing?</strong> Nanti dulu. Kalau lebih dekat dalam arti kontak antarorang tertentu mungkin iya, karena markas perusahaan besar umumnya di Jakarta. Lagi pula sebagian narablog kan pegawai korporat juga. Kalau yang dimaksud asing adalah wakil negara asing, dalam hal ini korps diplomatik, mungkin juga dan itu wajar karena kedutaan mereka ditaruh di Jakarta, bukan Salatiga.</p>
<p>Kalau dekat dengan agensi komunikasi yang menangani korporat dan perwakilan asing, bisa juga. Umumnya kantor agensi utama berada di Jakarta, bahkan pegawainya pun ada yang ngeblog dan aktif di saluran media sosial lainnya &#8212; antara lain ya untuk bisnis. Wajar. Tetapi harus juga diingat, sebagian narablog dari luar Jakarta pun punya akses ke beberapa korporat di Jakarta &#8212; tak soal pemilik saham mayoritas si korporat itu asing atau bukan. Sudah biasa dalam bisnis kalau kontak personal itu dimanfaatkan, dan media sosial membantu kelancaran proses pendekatan. Kedekatan itu, secara teoritis, bisa membawa benefit. Hehehe&#8230;</p>
<p><strong>• Soal disetir oleh modal besar dan kekuatan asing tadi?</strong> Memang menyetir itu gampang? Eh, maksudnya kedutaan asing ikut campur bahkan memfasilitasi kegiatan narablog, ya? Dulu waktu belum ada @america, saya membayangkan yang mendukung Pesta Blogger itu ya badan semacam USIS/UCIA dulu atau Lembaga Kebudayaan Amerika, bukan langsung oleh Kedubes AS. Kalau oleh kedubes terkesan banget dari pemerintah Amrik. Padahal kalau lewat badan yang didanai pemerintah sebetulnya sama juga, tetapi kesannya kan beda &#8212; apalagi kalau ada embel-embel &#8220;kebudayaan&#8221;. Hehehe&#8230;</p>
<p>Eh, hehehe, lucu juga. Dulu di zaman Orba rasanya senang kalau ada badan asing yang mendukung gerakan prodemokrasi dan penegakan HAM. Padahal itu kan menyangkut agenda asing juga. Tetapi mungkin kita tidak mendua, hanya mencoba memilah, dengan kesimpulan yang sekarang terjadi bukan dukungan untuk mewujudkan masyarakat madani, melainkan menggunakan media sosial dan pelakunya untuk memperkokoh ekspansi. Berbau Nekolim, begitu. Mungkin ada opini begitu. Ya terserah saja. Tetapi ada baiknya lho kalau ada panitia kegiatan narablog juga minta bantuan Iran dan Venuzeula. Biar imbang, sama-sama dipengaruhi asing. Hehehee&#8230;</p>
<p><strong>• Soal modal besar belum dijawab. Apalagi kan kabarnya menyangkut isu Yahudi. Bagaimana?</strong> Wah saya tidak tahu apakah ada perusahaan Israel Zionis yang mendukung kegiatan narablog di Indonesia. Kalau soal Yahudi sebagai ras, lha apa salah mereka? Kalau soal modal besar dikuasai Yahudi, saya terus terang saja nggak paham petanya. Yang pernah saya dengar, beberapa korporat besar itu pemegang sahamnya ada orang Arab di luar Indonesia. Artinya juga asing, kan? Sama asingnya dengan orang Jawa warga Suriname.</p>
<p><strong>• Benarkah ada perpecahan <em>bloggers</em> di Indonesia?</strong> Nanti dulu, lha ikrar bersatunya kapan kok bisa dibilang pecah? Untuk isu tertentu mungkin pernah bersatu, dan itupun bergandengan dengan pengguna lain layanan media sosial. Misalnya IndonesiaUnite dan Koin Keadilan. Banyak kepala, beragam komunitas, bermacam-macam pikiran, apa anehnya? Masa sih semua orang harus diseragamkan? Lagi pula masing-masing itu merasa sebagai narablog Indonesia, bukan narablog Amerika atau Armenia.</p>
<p><em>Ilustrasi: olahan grafis oleh Antyo; pemilik hak cipta gambar simpanse tidak diketahui</em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/10/27/apa-kabar-bloggers-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>151</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blog Foto yang Bertutur</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/10/11/blog-foto-yang-bertutur/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/10/11/blog-foto-yang-bertutur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 13:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[Anindhita Maharrani]]></category>
		<category><![CDATA[antropologi]]></category>
		<category><![CDATA[cultural studies]]></category>
		<category><![CDATA[dokumen sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Gembul Balibul]]></category>
		<category><![CDATA[Haris Firdaus]]></category>
		<category><![CDATA[Ipoul Bangsari]]></category>
		<category><![CDATA[Iqbal Prakasa]]></category>
		<category><![CDATA[Kurnia Septa]]></category>
		<category><![CDATA[Luwak]]></category>
		<category><![CDATA[mobile blogging]]></category>
		<category><![CDATA[mpokb]]></category>
		<category><![CDATA[photoblogging]]></category>
		<category><![CDATA[ponsel]]></category>
		<category><![CDATA[posterous]]></category>
		<category><![CDATA[saksi zaman]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sosiologi]]></category>
		<category><![CDATA[Totot Indrarto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4723</guid>
		<description><![CDATA[MAU SEKADAR ALBUM ATAU FOTO BERKISAH, ITU SOAL PILIHAN – DAN KEMAUAN. <p>Saya juga melakukan photoblogging secara mobile di <a href="http://antyo.posterous.com">Postyorous Menerous</a>, dan secara otomatis tersedot oleh Facebook. Sebagian dari Anda juga. Di sana foto menjadi kekuatan utama para narablognya. Teks, berupa judul maupun isi, hanya pelengkap. Terkadang malah hanya judul, karena selain faslitas CMS [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MAU SEKADAR ALBUM ATAU FOTO BERKISAH, ITU SOAL PILIHAN – DAN KEMAUAN.</h3>
<div id="attachment_4741" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-iqbal-gitar.png"><img class="size-thumbnail wp-image-4741 " title="blogombal-iqbal-gitar" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-iqbal-gitar-150x150.png" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Satria (cilik) bergitar dari Iqbal Prakasa (iprakasa.posterous.com)</p></div>
<p>Saya juga melakukan <em>photoblogging</em> secara <em>mobile</em> di <a href="http://antyo.posterous.com">Postyorous Menerous</a>, dan secara otomatis tersedot oleh Facebook. Sebagian dari Anda juga. Di sana foto menjadi kekuatan utama para narablognya. Teks, berupa judul maupun isi, hanya pelengkap. Terkadang malah hanya judul, karena selain faslitas CMS (meminta tajuk) juga karena judul sudah menjelaskan, lalu selebihnya silakan mencerna gambar.</p>
<p>Saya? Ada yang tak beres dalam diri saya.  Kadang saya tak cukup percaya kepada gambar sehingga masih nyinyir bercerita secara verbal.</p>
<div id="attachment_4762" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-totot.png"><img class="size-thumbnail wp-image-4762" title="blogombal-totot" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-totot-150x150.png" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Sampai kapan bukti pembayaran berkertas bertahan? Oleh-oleh Totot (pakde.posterous.com)</p></div>
<p>Sebetulnya ini soal pilihan. Hanya ingin menampilkan foto saja juga boleh, karena Kementerian Kominfo tak mengaturnya &#8212; lagi pula apa perlunya?  Artinya, menambahkan teks juga boleh. Dan saya memilih yang kedua.</p>
<p>Kenapa?</p>
<p>Pertama, karena saya ceriwis. Ada kegatalan untuk menambahkan catatan, dari opini sampai percikan permenungan.</p>
<p>Kedua, saya merasa perlu membingkai foto dengan konteks.</p>
<div id="attachment_4744" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-maharrani.png"><img class="size-thumbnail wp-image-4744 " title="blogombal-maharrani" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-maharrani-150x150.png" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Kotak interaktif dalam mal oleh Maharrani (maharrani.posterous.com)</p></div>
<p>Album foto dan blog foto itu bagi saya berbeda. Album hanya menampilkan foto, lantas urusan konteks, atas nama demokrasi dan keengganan untuk memonopoli kebenaran, boleh dipercayakan kepada para pelihat. Sedangkan blog foto tak  hanya menampilkan gambar sebagai apa adanya &#8212; syukur jika fotonya &#8220;estetis&#8221; &#8212; tetapi juga memberikan informasi tekstual lainnya.</p>
<p>Ini definisi siapa? Saya.</p>
<p>Bagi saya blog foto itu menarik ketika dia bisa menjadi salah satu dari  sejumlah dokumen sosial. Menjadi serpihan dari potret zaman. Soal kualitas foto, apalagi jika diambil dengan ponsel biasa yang kebetulan berkamera biasa juga, tidak penting bagi saya. Yang penting ada cerita. Estetika nomor dua bahkan tiga.</p>
<div id="attachment_4754" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-luwak2.png"><img class="size-thumbnail wp-image-4754" title="blogombal-luwak2" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-luwak2-150x150.png" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Bersepeda membelah hutan kota Bogor oleh Luwak (luwak.posterous.com)</p></div>
<p>Mungkin karena keterbatasan daya serap, seringkali saya tak menangkap konteks dari foto-foto bagus dan nyeni yang dihasilkan-oleh dan dipublikasikan-dari peranti <em>mobile</em>. Foto-foto itu kadang hanya enak dilihat sepintas saja.</p>
<p>Memang sih, ini soal pilihan. Bisa saja penyukanya, termasuk pelakunya, justru merasa lebih hepi dan nyaman.</p>
<p>Karena itu saya pun menghormati ungkapan macam ini: &#8220;Ngapain pake nulis segala? Emang kita <em>bloggers</em>? Nambahin kerjaan aja. Yang penting motret keren, punya banyak teman, sama eh iya hehehe&#8230; orang tahu kalo saya pake anu&#8230;&#8221; Anu itu ponsel cerdas mutakhir.</p>
<p>Malah ada lho yang lebih tegas, &#8220;Niat gue cuma gaul aja!&#8221; Artinya dia orang normal, masih punya kesadaran sosial; tak asyik dengan diri sendiri.</p>
<div id="attachment_4756" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-bangsari.png"><img class="size-thumbnail wp-image-4756" title="blogombal-bangsari" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-bangsari-150x150.png" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Sejak zaman lalu lintas lancar sampai lalu lintas tersendat selalu ada bus jemputan. Dari Bangsari (bangsari.posterous.com)</p></div>
<p>Baiklah, mari kembali ke pokok persoalan. Bagaimana dengan saya? Jujur saja, seringkali saya tak dapat menghadirkan konteks, hanya bisa memberikan teks.</p>
<p>Jika Anda melihat blog foto saya <em><a href="http://oh.blogombal.org" target="_blank">Oh!</a></em>, seringkali yang ada cuma teks sebagai pelengkap, tapi tak memberikan informasi yang memperkaya pembaca. :D Bagi saya tak soal, yang penting saya sudah berusaha mensyukuri apa yang saya dapatkan bahwa saya melek aksara, sehingga sudah sepantasnya bisa membaca dan menulis.</p>
<div id="attachment_4758" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-harisfirdaus.png"><img class="size-thumbnail wp-image-4758" title="blogombal-harisfirdaus" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-harisfirdaus-150x150.png" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Segregasi peturasan berdasarkan &quot;kelas&quot; dalam ruang yang sama. Dari Haris Firdaus (harisfirdaus.posterous.com)</p></div>
<p>Di sini saya tampilkan contoh dari blog foto beberapa kawan, tanpa meminta izin mereka. Mereka telah menghadirkan dokumen sosial: foto dan cerita, seringkas apapun, menjadi pencatat perjalanan masyarakat pada suatu masa.</p>
<p>Lantas apa moral ceritanya? Alat fotografi digital bukan lagi kemewahan. Ponsel di bawah sejuta rupiah mampu menghasilkan gambar lumayan. Setiap pemiliknya, kalau mau, mau merekam zaman untuk publik.  Sekali lagi: kalau mau.</p>
<div id="attachment_4749" class="wp-caption alignnone" style="width: 507px"><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-kurniasepta.png"><img class="size-full wp-image-4749  " title="blogombal-kurniasepta" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-kurniasepta.png" alt="" width="497" height="484" /></a><p class="wp-caption-text">Kita bangsa agraris yang mengimpor beras, sehingga tak tahu selepan beras. Dari Kurnia Septa (kurniasepta.posterous.com)</p></div>
<p>Sumber tangkapan layar:<br />
• Iqbal » <em><a href="http://iprakasa.posterous.com/gitarmu-terlalu-besar-nak" target="_blank">Gitarmu Terlalu Besar, Nak</a></em><br />
• Totot » <em><a href="http://pakde.posterous.com/ke-pancoran-pak-gak-usah-pakai-struk-ya" target="_blank">&#8220;Ke Pancoran, Pak&#8230;&#8221;</a></em><br />
• Maharrani » <em><a href="http://maharrani.posterous.com/digital-mall-365shots" target="_blank">Digital Mall</a></em><br />
• Luwak » <em><a href="http://luwak.posterous.com/bertahan" target="_blank">Bertahan</a></em><br />
• Bangsari » <em><a href="http://bangsari.posterous.com/angkutan-korps" target="_blank">Angkutan Korps</a></em><br />
• Haris Firdaus » <em><a href="http://harisfirdaus.posterous.com/toilet-viv" target="_blank">Toilet VIV</a></em><br />
• Kurnia Septa » <em><a href="http://kurniasepta.posterous.com/ledok-selip-gabah" target="_blank">Ledok Selip Gajah</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/10/11/blog-foto-yang-bertutur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Akhir Tahun: Blog dan Blog-blogan</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/12/14/catatan-akhir-tahun-blog-dan-blog-blogan/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/12/14/catatan-akhir-tahun-blog-dan-blog-blogan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Dec 2010 06:07:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[black hat SEO]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[blog pengecoh]]></category>
		<category><![CDATA[blog-blogan]]></category>
		<category><![CDATA[harga diri]]></category>
		<category><![CDATA[jalan pintas]]></category>
		<category><![CDATA[kemalasan]]></category>
		<category><![CDATA[konten internet]]></category>
		<category><![CDATA[kreativitas]]></category>
		<category><![CDATA[martabat]]></category>
		<category><![CDATA[nafkah]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[proses kreatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=3904</guid>
		<description><![CDATA[YA BEGITULAH, TAPI MANUSIA SELALU BELAJAR, KAN? <p></p> <p>Maka inilah yang terjadi: mereka muncul di halaman terdepan mesin pencari, tapi ketika kita kunjungi byuhhh… isi weblognya tidak jelas, berputar-putar antartautan, bahkan sumber penulisan maupun gambar pun tak disebutkan. Dari dulu sudah ada tapi belakangan, tahun ini, kesan saya kian berbiak.</p> <p>Lebih mengesalkan lagi, tabir iklan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>YA BEGITULAH, TAPI MANUSIA SELALU BELAJAR, KAN?</h3>
<p><img class="alignnone" title="waterpas antyo rentjoko: yang lurus dan miring apa bedanya? sudutnya! haha" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/rumah/blogombal-waterpas.jpg" alt="" width="420" height="236" /></p>
<p>Maka inilah yang terjadi: mereka muncul di halaman terdepan mesin pencari, tapi ketika kita kunjungi byuhhh… isi weblognya tidak jelas, berputar-putar antartautan, bahkan sumber penulisan maupun gambar pun tak disebutkan. Dari dulu sudah ada tapi belakangan, tahun ini, kesan saya kian berbiak.</p>
<p>Lebih mengesalkan lagi, tabir iklan mengambang di halaman depan tak bisa dienyahkan kecuali Anda harus mengeklik salah satu teks iklan.</p>
<p>Saya ingat pendapat <a href="http://priyadi.net" target="_blank">Priyadi</a> di <a href="http://www.formspring.me/priyadi/q/24068843" target="_blank">Formspring</a> setahun lalu:</p>
<blockquote><p>“praktik2 tersebut tidak memberi kontribusi positif ke dalam ekosistem internet. melainkan sebaliknya, berbagai sumber daya harus dikeluarkan untuk memberantas masalah2 tersebut.”</p></blockquote>
<p>Bagaimana kita, terutama saya, menyikapi ini?</p>
<p><strong>Mesin pencari</strong></p>
<p>Realisitis saja. Mereka, para pengecoh itu, adalah produk sampingan dari putaran besar mesin pencari. Mesin dan kepintaran manusia dilawan (bisa juga dibaca: “ditemani”) dengan jurus yang sama. Itu bagus. Tapi menjadi menjengkelkan kalau isinya hanya halaman penyesat.</p>
<p><strong>Kreativitas</strong></p>
<p>Ukuran kreativitas orang berbeda-beda. Ada yang menganggap pembuatan konten orisinal melalui tulisan, gambar, suara, dan gabungan semuanya sebagai hal yang kreatif. Melelahkan tapi memuaskan bagi si pelaku.</p>
<p>Tapi ada juga yang menganggap jalan pintas yang menghalalkan banyak cara merupakan bukti kreativitas. Manakah yang lebih bagus dan membanggakan, Andalah yang menimbang. :D</p>
<p><strong>Uang</strong></p>
<p>Semua orang butuh uang. Tapi bagaimana mendapatkannya, ini persoalan etos kerja. Pada sisi yang paling personal, ini menyangkut pandangan hidup dan kenyamanan memilih jalur nafkah. Salah satu bukti kenyamanan adalah tidak malu mengakui pilihan jalan rezeki &#8212; bahkan mungkin membanggakanannya &#8212; secara terbuka.</p>
<p>Bagi banyak orang, membuat web pengecoh demi iklan dan lainnya, melalui penjebakan, dianggap kurang bermartabat. Tapi bagi pelaku ini semua adalah seni di tengah belantara informasi. Ini juga cuma soal, “<em>Salah sendiri kenapa ngeklik halaman saya – mestinya nyalahin mesin pencari dong</em>”. :D</p>
<p>Terserah, Anda lebih menyukai aliran yang mana. ;)</p>
<p><strong>Berbagi, berbagi, dan berbagi</strong></p>
<p>Pengertian “berbagi” sudah meluas. Apapun bisa disebut “berbagi”. Main comot konten sana-sini untuk dimuat di “blog” sendiri, bagi pelakunya juga dianggap “<em>hanya berbagi</em>” dan “<em>ini salah satu bentuk berkonten di internet</em>”.</p>
<p>Bahkan sebuah halaman pengindeks topik, yang bukan milik perorangan, sangat berhasil melakukan ini sehingga merajai temuan Google. Kalau saja dalam setiap artikel ada tautan ke sumber asli itu bagus. Tapi kalau hanya keterangan “dari TempoInteraktif”, sehingga Anda harus terus mencari naskah asli di <a href="http://tempointeraktif.com" target="_blank">tempointeraktif.com</a>, maka itikad baik di pemilik situs layak dipertanyakan.</p>
<p>Soal “berbagi” ini bisa menjadi kata yang layak besut dengan berjuta dalih. Misalnya, “<em>Di Facebook dan Twitter orang mudah berbagi konten luar, malah langsung dari tombol di halaman sumber. Kenapa kalau kami yang membagi konten dianggap soal?</em>”</p>
<p>Ehm. Sesungguhnya beda. Di Facebook dan Twitter itu, kepingan konten yang dibagi menyertakan informasi sumber. Pada blog-blogan, penyebutan sumber bukan hal penting apalagi kalau harus ditambah tautan.</p>
<p>Dalam blog-blogan, kunjungan orang adalah segalanya (tapi kadang komen ditutup), sehingga jika Anda membaca blog-blogan melalui aplikasi pembaca RSS maka akan terlihat gaya bahasa setiap artikel dalam sebuah blog sangat bervariasi atau… malah monotonik semua seperti mantra! :D Apa boleh bikin, ukuran kreativitas memang bermacam-macam. :))</p>
<p><strong>Arah blog</strong></p>
<p>Jadi, blog akan ke mana? Ya jalan terus. <a href="http://blogombal.org/2010/11/16/pada-akhirnya-adalah-seleksi/">Seleksinya</a> semakin ketat: hanya mereka yang suka dan terpanggil, bukan semata demi presensi dan pengakuan di mayantara, yang akan terus ngeblog.</p>
<p>Kalau menyangkut isu basi “blog hanya tren sesaat”, maka lagi-lagi saya merujuk Priyadi di <a href="http://www.formspring.me/priyadi/q/17632406">Formspring</a> setahun lalu:</p>
<blockquote><p>“tidak, karena yang cuti ngeblog cuma satu orang. yang lain tetap ngeblog kan? patah satu tumbuh seribu! blog bukan cuma priyadi.net!”</p></blockquote>
<p>Di sisi lain blog-blogan juga jalan terus, apalagi ini lebih menyangkut nafkah, soal perbedaan niat dan perbedaan ukuran kepuasan diri.</p>
<p>Masing-masing akan jalan terus. Dan blog-blogan akan lebih menggila dan canggih dalam memanfaatkan mesin pencari maupun halaman pengindeks blog.</p>
<p>Pencari informasi akan bingung dong? Nggak.</p>
<p>Saya percaya kepada kemampuan manusia untuk memilah. Setelah 19 kali tersandung, maka pada kesempatan ke-20 akan tahu. Kalau kemudian tersandung lagi pada kali ke-23, itu bagian dari proses belajar.</p>
<p>Di sisi lain, pengecoh juga terus belajar.</p>
<p>Memang beginilah hidup. :D</p>
<p><img class="alignnone" title="sama-sama nyata atau cuma satu yang nyata?" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/rumah/blogombal-teras34.jpg" alt="" width="400" height="352" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/12/14/catatan-akhir-tahun-blog-dan-blog-blogan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>123</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pada Akhirnya adalah Seleksi</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/11/16/pada-akhirnya-adalah-seleksi/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/11/16/pada-akhirnya-adalah-seleksi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Nov 2010 18:20:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[agregator]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas blogger]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[penerbitan personal]]></category>
		<category><![CDATA[RSS reader]]></category>
		<category><![CDATA[social sharing]]></category>
		<category><![CDATA[tren]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=3571</guid>
		<description><![CDATA[BLOG BUKAN UNTUK SEMUA ORANG. <p>Sebagian bloggers atau narablog boleh saja girang setiap mendengar “blog belum mati”. Toh selalu ada blog baru, kan? Blogging is alive and well&#8230; Lantas bloggers yang sudah bosan ngeblog juga boleh bilang, “Blogging is so yesterday, Pak!”</p> <p>Memperkaya kehadiran</p> <p>Baiklah, media sosial memang kian kaya. Presensi di mayapada, eh&#8230; mayantara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>BLOG BUKAN UNTUK SEMUA ORANG.</h3>
<p>Sebagian <em>bloggers</em> atau narablog boleh saja girang setiap mendengar “blog belum mati”. Toh selalu ada blog baru, kan? <em>Blogging is alive and well&#8230; </em>Lantas <em>bloggers</em> yang sudah bosan ngeblog juga boleh bilang, “<em>Blogging is so yesterday, Pak!</em>”</p>
<p><strong>Memperkaya kehadiran</strong></p>
<p>Baiklah, media sosial memang kian kaya. Presensi di mayapada, eh&#8230; mayantara pun kian beragam. Pernyataan diri tak cukup dengan kehadiran (kalau cuma punya web statis, ini era <a href="http://geocities.yahoo.com/index.php">Geocities</a>), konten terbarui (ya blog itu), tetapi dilengkapi dengan konversasi.</p>
<p>Ya, percakapan. Interaksi. Kita ingat, pada mulanya <a href="http://blogger.com">Blogspot</a> pun tak menyediakan komentar sehingga para pengguna memanfaatkan layanan lain untuk ditempelkan, misalnya Haloscan. Mirip yang dilakukan oleh pengguna <a href="http://tumblr.com">Tumblr</a> dengan menempelkan <a href="http://disqus.com/">Disqus</a>.</p>
<p>Selain itu fungsi <em>chitchat</em> dulu sudah terwadahi oleh <em>shoutbox</em>, <em>tagboard</em>, dan sejenisnya, berupa kotak untuk bertukar pesan dari sekadar halo sampai menagih posting baru, pokoknya hal di luar topik setiap posting.</p>
<p><strong>Blog baru dan blogger baru<br />
</strong></p>
<p>Awal sampai medio 2000-an blog belum sebanyak sekarang (maaf tanpa data). Sebagian dari pemainnya adalah aktivis milis ini dan itu sehingga dalam waktu tak terlalu lama punya penggemar – minimal dikenal – dari kalangannya sendiri. Jejak sebuah blog di blog lain, begitupun pertukaran tautan, akhirnya menjadi sarana penyebaran kehadiran sebuah blog.</p>
<p>Persoalan sekarang bagi blog baru (termasuk blognya &#8220;pemain lama&#8221;) dan <em>bloggers</em> baru adalah promosi dan interaksi: bagaimana memberitahu dunia dan mengundang komentar – syukur kalau bisa tenar?</p>
<p>Jejaring sosial seperti <a href="http://facebook.com">Facebook</a> memberi solusi. Notes akan mengimpor artikel. Pembaca lebih berkemungkinan membaca, tanpa melakukan <em>blogwalking</em>.</p>
<p>Hal sama berlaku untuk wadah penulisan komunal seperti <a href="http://politikana.com">Politikana</a> dan <a href="http://ngerumpi.com">Ngerumpi</a>. Di sana lebih berpeluang mendapatkan perhatian dari teman sekandang karena pembaca tak perlu <em>blogwalking</em>. Maka pernah terjadi seorang anggota meng-<em>copy-paste </em>artikelnya di blog ke wadah komunal supaya mendapatkan tanggapan dalam tempo sesingkat-singkatnya.</p>
<p><strong>Agregator komunitas dan RSS reader</strong></p>
<p>Adapun penampung lain, misalnya agregator yang dimiliki oleh komunitas <em>bloggers</em> (termasuk yang berbasis wilayah), diharapkan membantu promosi dan komunikasi blog anggota. Minimal teman sekeranjang tahu, syukur berkomentar.</p>
<p>Itu tadi dari sisi si <em>blogger</em>. Adapun dari sisi khalayak, harus kita akui perubahan lainnya. Makin banyak orang membaca dari <em>RSS reader</em>. Tak perlu <em>blogwalking</em>.</p>
<p>Kelebihan <em>reader</em>, misalnya <a href="http://feedly.com">Feedly</a>, adalah aspek sosialnya. Pembaca bisa bereaksi dengan menyebarkan artikel menarik ke Twitter dan Facebook. Sayang tempelan ini belum banyak dilakukan oleh agregator komunitas.</p>
<p>Tanpa tempelan <em>social sharing</em> maka yang paling mungkin hanya respon: langsung mendatangi blog tertentu dan berkomentar. Padahal ketika waktu <em>online</em> tak bertambah, reaksi pun mestinya mendapatkan tempat.</p>
<p><strong>Zaman cepat berubah</strong></p>
<p>Dulu kalau tak punya blog rasanya belum lengkap sebagai bukti kehadiran seorang <em>netizen</em>. Tanpa blog cuma dianggap pengguna pasif internet, tidak memproduksi konten.</p>
<p>Sekarang, tanpa alamat blog dalam isian halaman profil ini dan itu, rasanya kurang komplet. Meski sekadar pelengkap, blog yang lama <em>hiatus</em> pun tetap diperlukan supaya kotak isian tidak kosong.</p>
<p>Sekarang pilihan presensi  kian beragam, termasuk <em>microblogging</em> seperti <a href="http://twitter.com">Twitter</a>. Yang ini lebih cepat, mudah, apalagi dengan dukungan mobile. Malah ada yang bilang, “Di sini lebih ngeksis.” Bahwa ada yang mengeluhkan banyak <em>noise</em>, ya itu seperti seliweran dunia nyata: ngobrol<em> ngalor-ngidul</em>.</p>
<p>Maka jangan heran jika pengguna Facebook dan Twitter bertemu  yang diobrolkan adalah apa yang barusan dan sedang terlontar. Apakah ini semacam Klompencapir 2.x? Nggak dong. :D</p>
<p><strong>Blog tetap ada, tapi&#8230;</strong></p>
<p>Facebook membuka simpul yang selama ini membelenggu sebagian orang dalam berekspresi: ternyata bercerita itu mudah. Padahal isinya bisa ringkas, karena lebih menyerupai kapsi foto. Jadi, bisa saja sama dengan blog.</p>
<p>Bedanya, dalam wadah jejaring sosial banyak orang tak merasa terbebani karena hanya bercerita kepada teman. Itu berbeda dari blog, yang “kurang jelas siapa pembacanya”, sehingga serasa dituntut menjadi seperti kolumnis.</p>
<p>Lantas ketika kebutuhan presensi dan interaksi memiliki banyak saluran, dengan karakteristik masing-masing saluran, blog model lama yang secara gagah-gagahan disebut “megablog” itu mau ke mana?</p>
<p>Blog tetap berjalan. Sebagai peluang, blog terbuka untuk semua orang. Tapi sebagai aktivitas itu memang bukan untuk semua orang, apapun alasannya (dari waktu sampai perangkat).</p>
<p>Tentu persoalannya bukan cuma beragamnya saluran di media sosial (termasuk blog), karena sejak dulu pun blog bukan untuk semua dan bukan untuk setiap orang. Maksud saya, bikin blog itu gampang, tetapi memelihara spirit ngeblog itu yang tak gampang.</p>
<p>Menulis itu butuh energi – apalagi bagi yang membaca. Tapi sudah kecapaian menulis tak ada yang menanggapi bisa membuat seorang <em>blogger</em> merasa kesepian dan sia-sia. Hanya yang mereka yang tak peduli mau ditanggapi atau tidak &#8212; dan niat utama ngeblog bukanlah mendapat pengakuan dan ketenaran plus teman &#8212; yang dapat terus bertahan dengan blognya dan rajin meng-<em>update</em>.</p>
<p>Itulah yang saya maksudkan dengan seleksi. Jangan lupakan salah satu sisi blog: menulis untuk diri sendiri. :D</p>
<p><strong>Soal tren itu</strong></p>
<p>Jadi apakah spirit ngeblog itu tren (sesaat)? Tidak.</p>
<p>Kalau cuma tren, tak ada blog baru, tak ada posting baru. Kalau blog cuma tren, <em>RSS reader</em> hanya berisi produk jurnalistik dari media terlembagakan. Tapi ya itu tadi, tak mungkin (dan tak perlu) kita berharap semua pengguna internet menjadi <em>blogger</em>.</p>
<p>Ujung-ujungnya adalah seleksi. Tak hanya bagi penulisnya tapi juga pembaca setianya. Nah, yang ini jarang diakui secara terbuka. :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/11/16/pada-akhirnya-adalah-seleksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>81</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesta Blogger Menurut Saya</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/10/28/pesta-blogger-menurut-saya/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/10/28/pesta-blogger-menurut-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Oct 2010 18:33:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[blogger daerah]]></category>
		<category><![CDATA[blogger nasional]]></category>
		<category><![CDATA[blogger pusat]]></category>
		<category><![CDATA[maverick]]></category>
		<category><![CDATA[PB201]]></category>
		<category><![CDATA[pesta blogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=3526</guid>
		<description><![CDATA[DARI KOPDAR AKBAR SAMPAI BRAND. <p>Mengapa namanya Pesta Blogger (PB)? Notulen, dan terlebih arsip e-mail saat pembentukan panitia pada 2007 mestinya bisa bercerita riwayat nama, termasuk siapa yang mengusulkan. :D</p> <p>Bagi saya, misalkan ada nama lain, itu tetaplah sebuah pesta dari dan untuk bloggers: di situlah mereka bertemu dan berkumpul. Itu sebuah kopdar akbar, bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>DARI KOPDAR AKBAR SAMPAI BRAND.</h3>
<p>Mengapa namanya Pesta Blogger (PB)? Notulen, dan terlebih arsip <em>e-mail </em>saat pembentukan panitia pada 2007 mestinya bisa bercerita riwayat nama, termasuk siapa yang mengusulkan. :D</p>
<p>Bagi saya, misalkan ada nama lain, itu tetaplah sebuah pesta dari dan untuk <em>bloggers</em>: di situlah mereka bertemu dan berkumpul. Itu sebuah kopdar akbar, bahkan mestinya kopdar nasional.</p>
<p><strong>Resolusi: perlu atau tidak?</strong></p>
<p>Seorang teman secara sambil bertanya enaknya PB 2010 buat apaya ? Saya jawab, sebagai kopdar akbar itu adalah sebuah acara besar tapi santai. Nah, karena kopdar dua jam sudah bisa membuat jenuh, maka dibuatlah sejumlah acara secara simultan. Orang boleh memilih. Syukur kalau tercerahkan.</p>
<p>Lha memang adat dan adab <em>onliners</em> di Indonesia itu kopdar, kan? Tanpa kopdar, banyak orang merasa kurang guyub. Masa orang cuma kenal di internet. Ya to?</p>
<p>Dia lanjutkan apakah perlu ada pernyataan sikap untuk isu tertentu, misalnya yang bersifat “humanitarian”. Saya bilang, bisa saja bikin resolusi ini dan itu, tapi sebaiknya tidak diprakarsai oleh panitia.</p>
<p>Biarkan saja sejumlah orang, atau sejumlah wakil komunitas, yang merembuk sendiri tapi tidak mengatasnamakan hasilnya sebagai pernyataan peserta PB. Bahwa ternyata sebuah resolusi didukung oleh 99 persen peserta, bagi saya itu kebetulan saja.</p>
<p>Di sisi lain dari kalangan peserta bisa saja muncul sejumlah resolusi. Penandatangannya bisa orang-orang yang sama, tapi bisa juga tidak.</p>
<p>Misalnya Komunitas Blogger Penggemar Nasi Pecel menuntut agar pecel menjadi makanan wajib dalam setiap kopdar. Sementara Front Blogger Kaos Oblong mensyaratkan kaos sebagai baju kopdar tapi mengharamkan celana pendek. Dan Lingkar Blogger Suka Humor menuntut pemerintah agar tidak cengengesan menghina rakyat. Nggak masalah.</p>
<p>Santai sajalah. Tak usah membebani diri dengan hal berat, apalagi penuh busa retorika tapi pelaksanaannya seret. Anggap saja PB seperti simposium dalam arti yang sebenarnya: makan-minum sambil ngobrol. Mumpung ketemu, siapa tahu ketemunya setahun sekali – atau malah belum pernah.</p>
<p><strong><em>Bloggers</em> daerah dan <em>bloggers</em> pusat</strong></p>
<p>Setiap kali mendengar celetukan dikotomis tentang “<em>bloggers</em> daerah” dan “<em>bloggers</em> pusat” saya pun geli.</p>
<p>Setahu saya semuanya <em>bloggers</em> daerah, termasuk <em>bloggers</em> dan komunitasnya yang bermukim di Jakarta. Bisa juga tinggalnya di Bekasi, Jawa Barat, atau di Serpong, Banten, tetapi merasa sebagai orang Jakarta.</p>
<p>Nggak ada yang lebih maupun kurang. Nah, karena saya belum mendapatkan data sahih, apalagi pakai persentase biar keren (misalnya 68% atau 69% &#8212; yang kedua ini angka favorit saya), maka saya tak tahu berapa banyak <em>bloggers</em> Jabodetabekser yang aktif di Twitter.</p>
<p>Kok Twitter? Iya, setiap kali ada masalah di Jakarta maka <em>time line</em> ramai oleh kicauan tentang Ibu Kota. Jika yang ikut berkicau adalah <em>bloggers</em> cap Monas maka kesannya mendominasi.  Padahal kota lain juga punya masalah kan?</p>
<p>Bahwa pengicau Ibu Kota nggak paham soal di luar wilayahnya (kecuali bencana alam besar), karena mereka menilai masalah daerah lain itu terlalu lokal – misalnya semua tukang bakso serentak mogok berjualan – anggap saja mereka kurang gaul. Gampang to? :D</p>
<p>Ini serupa kita, orang Indonesia, tahu ada kota bernama Glasgow tapi Glaswegian nggak tahu Klaten, maka masalah ada di pihak yang tidak tahu. :P</p>
<p><strong>PB dan <em>brand</em></strong></p>
<p>Apakah Pesta Blogger harus dipatenkan sebagai <em>brand</em>, dan dikuasai pihak tertentu?</p>
<p>Nanti dulu. Misalkan saya menggunakan nama kegiatan Kumpul Ceria dari, katakanlah,  Komunitas Blogger Atambua, apakah itu boleh?</p>
<p>Jika menyangkut boleh dan tidak boleh maka berarti ada peraturan. Kalau saya <em>ngèyèl</em> soal legalitas, padahal Kumpul Ceria belum dipatenkan, mungkin “benar” – tapi tetap saja tidak elok.</p>
<p>Tapi boleh dong saya bikin Ceria Kumpul apalagi dengan logo yang mirip?</p>
<p>Ya – dan saya akan dianggap [1] <em>ndhagel</em> tapi <em>wagu</em>, atau [2] mencari masalah, plus [3] menambahi pekerjaan.</p>
<p>Jadi, saya nggak akan mempersoalkan kenapa Komunitas Blogger Atambua memakai dan menguasai secara sosial (maupun mungkin legal) Kumpul Ceria. Mereka punya hak historis. Jurus apapun yang saya pakai untuk <em>ngèyèl</em> dengan mudah akan terpatahkan.</p>
<p><strong><em>Brand</em> dan penyelenggara</strong></p>
<p><em>Brand</em> yang saya maksud bisa saja <em>brand</em>-<em>brand</em>-an, tanpa legalitas, tapi menancap di benak khalayak – minimal di benak penciptanya dan sudah dipublikasikan.</p>
<p>Bagaimana kalau Kumpul Ceria dari Atambua bukan gelaran komunitas <em>blogger</em> tapi gawean pabrik kecap atau toko terigu?</p>
<p>Sama saja. Mereka punya hak historis. Saya nggak berhak mempersoalkan. Tapi saya, dan komunitas baru saya (hanya berisi seorang; saya merangkap <em>founder</em>, ketua, dan anggota abadi), berhak membuat Mari Berkumpul Bergembira (MBB). Bahwa tak ada yang mau datang, itu lain soal.</p>
<p>Nah kalau acara saya, ya MBB itu, saya lembagakan bagaimana?</p>
<p>Lebih bagus. Ada panitia pengarah tetap, bernaung di bawah yayasan atau badan usaha, yang ujung-ujungnya ke perusahaan saya Ahagia Entosa Ejahtera, penerbit<em> e-book</em> semprul itu (jangan dicek ke Lembaran Berita Negara dan tambahannya).</p>
<p>Dengan pelembagaan maka urusan saya dengan mitra kerja dan sponsor menjadi lebih mudah. Kalau hanya dengan saya, urusannya menjadi antara lembaga dan perorangan, padahal <em>personal guarantee</em> saya cuma sarung batik kumal untuk pembungkus nangka di pohon.</p>
<p><strong>Lantas kenapa pesta akbar?</strong></p>
<p>Terserah penggagas, panitia, dan pendukungnya. Soal pilihan saja mau gelaran besar atau kecil. Mungkin saja lho, kalau cuma kopdar kecil, tapi dicitrakan nasional, malah akan memberi kesan eksklusif dan sektarian.</p>
<p>Tapi, eh…, bisa juga ding, biarpun dibuka untuk sebanyak-banyaknya orang tetap saja akan dianggap eksklusif: cuma mainan beberapa gelintir orang untuk mengerahkan bahkan memperalat massa.</p>
<p>Kalaupun ada pandangan begitu ya terserah. Tapi harap diingat, rombongan wisata yang pesertanya cuma sepuluh orang toh juga mengenal pembagian tugas, dan ujung-ujungnya cuma tiga orang (bahkan kurang) yang paling repot, lalu ada lainnya yang cuma penggembira. Keterlibatan, peran, kewenangan, dan tangung jawab itu kan mengenal porsi.</p>
<p>Terus, ya terus, kembali ke PB ya. Sudah tiga kali PB digelar, dan <em>chairmen</em>-nya adalah sobat-sobat saya, tapi baru sekali saya datang (PB 2009). Kenapa?</p>
<p>Ya nggak ada apa-apa, wong saya di dua PB sebelumnya kebetulan lagi repot. Yang pasti saya nggak punya masalah dengan <em>chairmen</em>, panitia, maupun Maverick, dan saya sangat menghargai kerja keras mereka.</p>
<p>Bahwa mereka (misalkan lho…) menganggap saya narablog bermasalah, ya itu masalah mereka. Yang penting saya merasa tak pernah  mengganggu mereka. :D</p>
<p><em>I’m a blogger. I’m still blogging. And I’m not your problem, guys.</em> :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/10/28/pesta-blogger-menurut-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>49</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konten Indonesia: Juga Lingerie dengan Pop Mie</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/04/17/konten-indonesia-juga-lingerie-dengan-pop-mie/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/04/17/konten-indonesia-juga-lingerie-dengan-pop-mie/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Apr 2010 08:05:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Maklumat]]></category>
		<category><![CDATA[Ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[alay]]></category>
		<category><![CDATA[belantara teks]]></category>
		<category><![CDATA[BOBs Award]]></category>
		<category><![CDATA[femaledaily.com]]></category>
		<category><![CDATA[g-string]]></category>
		<category><![CDATA[konten indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lingerie]]></category>
		<category><![CDATA[mi instan]]></category>
		<category><![CDATA[NiceTry]]></category>
		<category><![CDATA[pop mie]]></category>
		<category><![CDATA[saksi zaman]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[split thong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2253</guid>
		<description><![CDATA[CATATAN UNTUK PENGHARGAAN TERHADAP SPIRIT. <p><a href="http://www.thebobs.com/index.php?l=in&#38;s=1154893190771544ZWFAYZBB-NONE"></a>Blog ini <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/it/2010/04/16/brk,20100416-240845,id.html" target="_blank">mendapat penghargaan dari The BOBs Deutsche Welle</a>, Jerman. Terima kasih, terutama kepada pengusul yang tidak saya ketahui. Bagi saya ini adalah penghargaan untuk banyak bloggers Indonesia. Saya hanya wakil.</p> <p>Ya, wakil dari teman-teman yang memiliki spirit sama: mengisi konten di internet. Menjadi saksi zaman, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>CATATAN UNTUK PENGHARGAAN TERHADAP SPIRIT.</h3>
<p><a href="http://www.thebobs.com/index.php?l=in&amp;s=1154893190771544ZWFAYZBB-NONE"><img class="kiri" title="BOBs Indonesian Winner" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/comotan/BOBswinner-indonesia2010.gif" alt="" width="100" height="61" /></a>Blog ini <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/it/2010/04/16/brk,20100416-240845,id.html" target="_blank">mendapat penghargaan dari The BOBs Deutsche Welle</a>, Jerman. Terima kasih, terutama kepada pengusul yang tidak saya ketahui. Bagi saya ini adalah penghargaan untuk banyak <em>bloggers </em>Indonesia. Saya hanya wakil.</p>
<p>Ya, wakil dari teman-teman yang memiliki spirit sama: mengisi konten di internet. Menjadi saksi zaman, yang setahap demi setahap menghasilkan banyak kepingan <em>jigsaw puzzle</em> bernama potret Indonesia pada suatu kurun. <em>Jigsaw puzzle</em> yang tak pernah dan tak perlu selesai.</p>
<p><strong>Konten (tentang) Indonesia</strong></p>
<p>Kalau saya rumuskan, proses bersaksi terhadap zaman itu adalah &#8220;menghasilkan konten Indonesia di tengah belantara teks&#8221;.</p>
<p>Sungguh kalimat yang gagah, dan tentu gegabah, tapi keren dan memberi kesan terpelajar.:D Tak apa, di tengah snobisme akademis gaya <em>scientistic </em>memang lebih penting ketimbang prinsip <em>scientific</em>. :P</p>
<p>Konten Indonesia. Belantara teks. Ini abstrak sekaligus nyata.</p>
<p>Abstrak, karena butuh penjelasan &#8212; beberapa posting saya menyentil itu.</p>
<p>Nyata, karena sudah dan terus kita lakukan: melaporkan amatan terhadap keseharian (tidak harus saban hari), baik berupa kesaksian maupun opini, bahkan berupa puisi dan solilokui prosais.</p>
<p>Berbarengan dengan itu mesin pencari semakin pintar, temboloknya kian tambun. Mesin penerjemah pun terus ditingkatkan kemampuannya &#8212; tapi pasti kalah dalam menangkap konteks dan nuansa bila dibandingkan manusia.</p>
<p>Lima tahun silam salah satu blog saya dipergoki oleh seorang bloger dan desainer grafis Spanyol (<a href="http://www.papelcontinuo.net/294/gombalabel-packaging-y-etiquetas-de-indonesia/" target="_blank">Papel Continuo</a>). Karena dia tidak bisa berbahasa Indonesia maka dia manfaatkan mesin penerjemah versi dini (<a href="http://www.toggletext.com/kataku_trial.php" target="_blank">ToggleText</a>) yang ditaja oleh Telkomsel. Hasilnya dimasukkan ke <a href="http://www.boingboing.net/2005/09/11/indonesian_packaging.html" target="_blank">Boingboing</a>, salah satu situs pencatat &#8220;apapun yang unik&#8221; saat itu.</p>
<p><strong>Yang terserak, yang terangkum</strong></p>
<p>Bukankah semuanya terserak, bahkan kadang tak saling hubung? Saya percaya kepada para penafsir dan peramu. Kicauan singkat pada Twitter, yaitu &#8220;Lapar&#8221;, jika jelas konteksnya maka bernilai. Misalnya dia sedang diperiksa polisi dan sudah memasuki jam keenam.</p>
<p>Begitu pula kicauan yang mungkin ganjen lagi eksibisionistis dari seorang pria urban, eksekutif biro iklan, bahwa penumpang sebelah dalam KRL memperhatikan kuku jari tangannya dicat hitam dan perak. Di tangan peramu dan pembingkai, kasus cat kuku dan info lain yang relevan adalah sebentuk kepingan potret Indonesia. Blog mampu melakukannya.</p>
<p>Apa bagusnya? Inilah era media sosial. Konten yang kita cerna tak melulu disediakan oleh media lama yang sangat bergantung pada Tuan Editor yang mengerahkan barisan reporternya tapi kita tak tahu proses dan bahan mentahnya, kecuali ada kasus sehingga ombudsman internal turun tangan. <em>(Catatan: media terlembagakan tetap kita butuhkan karena mereka punya organisasi dan prosedur yang tak dapat dilakukan perorangan)</em>.</p>
<p>Kini di internet setiap orang bisa menjadi penerbit merangkap penulis, editor, dan distributor &#8212; bahkan kolportir. Itu sebuah lompatan jauh setelah sekian abad kita hanya memperpanjang langkah Johannes Gutenberg yang menemukan mesin cetak untuk memperbanyak Alkitab agar teks dan tafsir tak hanya dimonopoli oleh biara.</p>
<p>Di internet setiap orang berkemungkinan menjadi seleb dalam jaringan perkawanannya sehingga lontaran pribadi di <em>public timeline</em> disimak banyak orang. Sebelumnya pesohor hanya diciptakan oleh koran, majalah, radio, dan TV. Suka tak suka khalayak pun menerimanya. Tepatnya: terpaksa jadi tahu. Karena dipilihkan.</p>
<p>Memang boleh saja dibilang apa yang terjadi pada media baru, yaitu media dan jejaring sosial, hanyalah perpanjangan dari dunia nyata: obrolan, rasan-rasan, diskusi dengan topik sebatas judul. Tapi menurut saya berbeda.</p>
<p>Obrolan di internet sudah berubah menjadi teks (berupa tulisan, gambar, suara, dan video). Itu terdokumentasikan dan tersebarkan. Bahkan di internet, persebaran dan pemaknaannya sudah di luar kendali penyumbang isi. Berbiak dan semuanya tercatat, jauh melebihi kemampuan mesin cetak koran tercepat. Siapapun bisa mencomot tanpa mengetik ulang &#8212; dengan ekses pengunyah terakhir tak tahu asal muasal konten dan hak cipta pun terabaikan. Itulah belantara teks.</p>
<p>Dalam peramuan itu, yang kalau digagah-gagahkan adalah mengonstruksikan pretelan menjadi sebuah wacana, blog masih paling pas. Bahannya bisa dari wadah lain, sejak milis, forum, situs web atas nama alias tertentu, blog lain, situs berita, sampai Wikipedia dan kamus <em>online</em>.</p>
<p>Maka dapat saya katakan bahwa pengkaji <em>cultural studies</em> akan terbantu oleh <a href="http://fuckyeahalays.tumblr.com/" target="_blank">Fuck Yeah Alays!</a>. Di tengah ledekan terhadap &#8220;alay(isme)&#8221;, blog yang comot sana-sini itu adalah <a href="http://seratuskata.dagdigdug.com/2010/04/02/100-kata-dokumen-sosial-fuck-yeah-alays/" target="_blank">sebuah dokumen berharga</a>.</p>
<p><strong>Merekam jejak perubahan</strong></p>
<p>Blog, yang dihasilkan oleh sistem pengelolaan konten, adalah saksi zaman. Blog merekam perubahan. Mesin pencari dan temboloknya, dengan bantuan mesin penerjemah, membantu kita menemukan jejak sejarah: kita bukan orang yang tiba-tiba tercipta dan hadir.</p>
<p>Jika bicara potret zaman dan perubahan sosial mungkin terdengar muluk-muluk. Baiklah kita becermin. Sepuluh tahun lalu sulit membayangkan sekelompok wanita Indonesia, nona-nona dan ibu-ibu muda, yang mungkin tak saling kenal secara pribadi, bisa berbagi info dan foto belanjaan berupa <em>lingerie</em>. Salah satu foto jeroan itu melibatkan Pop Mie sebagai penindih alas. Sungguh sebuah teks Indonesia. Konten Indonesia. <a href="http://img32.imageshack.us/img32/8805/110220061592.jpg" target="_blank">Coba lihat</a>. :D</p>
<p><img class="alignnone" title="konten indonesia: g-string bersanding pop mie" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/comotan/lingerie-popmie.jpg" alt="" width="360" height="306" /></p>
<p>Sama seperti kita menikmati <a href="http://nicetry.me/" target="_blank">NiceTry</a>, sebuah wadah penampung kelucuan Indonesia melalui foto dari pelbagai sumber. Sepuluh tahun lagi kita masih punya jejak langkah perjalanan Indonesia. Sama seperti saya membuat blog <a href="http://memo.blogombal.org" target="_blank">Memo </a>yang ringkas dan berilustrasi, dengan pengisian lebih kerap ketimbang blog ini.</p>
<p>Jejak langkah tak hanya berupa esei yang membingungkan, seperti tulisan ini. Dia juga bisa berupa <em>fashion blog</em> yang mewakili sebuah gaya hidup dan arus konsumsi urban. Misalnya Diana Rikasari (<a href="http://dianarikasari.blogspot.com/" target="_blank">Hot Chocolate &amp; Mint</a>), cewek 25 tahun yang akhirnya mendapatkan manfaat ekonomis dari kegemarannya ngeblog dan berdandan (dan berbelanja), serta Evita Nuh (<a href="http://jellyjellybeans.blogspot.com/" target="_blank">The crème de la crop</a>) yang masih berusia 11 tahun.</p>
<p>Blog mereka sama bernilainya dengan posting orang lain tentang halte Transjakarta yang rusak, kemacetan, got mampet, pasar becek, gedung sekolah roboh, dan juga sensasi belanja obralan tengah malam di mal maupun pengalaman <em>rave party</em> di Jakarta dengan DJ dari Negeri Belanda.</p>
<p>Salam blog. :)</p>
<p>© Sumber ilustrasi: <a href="http://femaledaily.com/showthread.php?t=277&amp;page=31" target="_blank">FemaleDaily</a>, dimuat tanpa izin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/04/17/konten-indonesia-juga-lingerie-dengan-pop-mie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>71</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Foto (tentang) Nukman Luthfie</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/01/18/belajar-dari-foto-tentang-nukman-luthfie/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/01/18/belajar-dari-foto-tentang-nukman-luthfie/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 06:57:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[hak cipta]]></category>
		<category><![CDATA[jejaring sosial]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[privasi]]></category>
		<category><![CDATA[ranjau]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=1996</guid>
		<description><![CDATA[GUYON KOMUNAL, PRIVASI, DAN HUKUM. <p></p> <p><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=873366&#38;l=ce79792ecb&#38;id=1440161736" target="_blank">Foto Nukman Luthfie</a>, salah satu pesohor dalam jagat online Indonesia, di Facebook tadi pagi bisa ditimbang dari beberapa sisi. Timbangan terhadap hasil jepretan kamera saku saya di tempat terbuka, tanpa bingkai acara &#8220;dalam rangka&#8221;, itu bisa diringkas menjadi tiga hal.</p> <p>Pertama: hanya guyon komunal. Tapi komunal yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>GUYON KOMUNAL, PRIVASI, DAN HUKUM.</h3>
<p><img class="normal" title="nukman luthfie di facebook" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-nukman-luthfie.jpg" alt="" width="360" height="266" /></p>
<p><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=873366&amp;l=ce79792ecb&amp;id=1440161736" target="_blank">Foto Nukman Luthfie</a>, salah satu pesohor dalam jagat <em>online </em>Indonesia, di Facebook tadi pagi bisa ditimbang dari beberapa sisi. Timbangan terhadap hasil jepretan kamera saku saya di tempat terbuka, tanpa bingkai acara &#8220;dalam rangka&#8221;, itu bisa diringkas menjadi tiga hal.</p>
<p><strong>Pertama:</strong> hanya guyon komunal. Tapi komunal yang bagaimana karena karena dalam jejaring sosial teman dia belum tentu teman saya, begitu juga sebaliknya. Meskipun berada di jejaring kecil yang sama, kesan dan opini setiap orang bisa berbeda-beda, apalagi kalau kebun binatangnya berlainan.</p>
<p><strong>Yang kedua: </strong>privasi semakin menipis. Tanpa aktif dalam sebuah layanan <em>online </em>pun seseorang bisa terpampang, dikenali, dan dikomentari oleh orang lain &#8212; apalagi jika dia aktif. Ini jelas mengerikan jika orang sampai nyaris tak punya kehidupan pribadi. Celakanya, yang namanya komentar seringkali di luar kontrol si terpotret. Istilah para aktivis sebuah portal: &#8220;merusuh&#8221;. Komentar melenceng dari konteks.</p>
<p><strong>Nah inilah soal yang ketiga:</strong> adalah hak Nukman dan setiap orang, termasuk saya, untuk berkeberatan terhadap pemuatan foto diri yang tak cocok di hati. Apalagi <a href="http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Republik_Indonesia_Nomor_19_Tahun_2002" target="_blank">UU Hak Cipta</a> mengatur hal itu (misalnya: pasal 20, pasal 21, pasal 22).</p>
<p>Untuk soal <em>kedua </em>dan <em>ketiga</em>, sejauh saya merasa, aman saja. Nukman tahu kalau saya foto setelah kami bersirobok di trotoar, bahkan dia bilang, &#8220;Entar diposting di status ya.&#8221; Dia pun ber-hehahehe dalam komentarnya.</p>
<p>Memang, bagi yang tak mengenal kami, teks dalam foto itu kejam. Nukman saya jadikan orang yang penting tapi secara situasional mengganggu kepentingan saya. Itu hanya gurauan, karena yang terjadi tidak sesengak itu. Kami sudah lama saling mengenal.</p>
<p>Bagaimana jika saya menjepret Nukman secara diam-diam, dengan latar kejadian dia bukan sedang mengantar anak ke sekolah, lantas saya membuat teks foto tanpa semana-mena, pokoknya merugikan dia? Tentu saya harus mencabut foto, menemui dia untuk meminta maaf, sambil mencari pengacara (untuk mendamaikan).</p>
<p>Kalau bicara pemuatan foto di layanan <em>online</em>, sebetulnya tak hanya terjadi pada Nukman. Banyak <em>bloggers</em> mengalaminya dan &#8220;harus menerima&#8221; karena alasan &#8220;guyon komunal&#8221;. Ndoro Kakung termasuk langganan saya. Sejauh ini dia mengalah sekaligus terhibur (mungkin malah ketagihan), dan tidak memerkarakan saya &#8212; untuk kemudian membalasnya. Maklumlah dia seteru mesra saya. Ralat: tepatnya, saya seteru bagi dia.</p>
<p>Lantas di mana batas kepantasan pemuatan foto orang lain dalam media jejaring sosial? Selama ini kita memakai standar ganda dan prinsip yang sifatnya kasuistis (terhadap si A bisa, terhadap si B berhat-hati).</p>
<p>Tentu dalih &#8220;<em>privacy is so yesterday</em>&#8221; dan &#8220;jangan bergaul kalau gak mau diusili&#8221; tidak cukup. Barangkali tip ini bisa menjadi katup pengaman: jangan sampai menistakan orang, kalaupun dia tampak lucu harus tetap keren. Syukur jika keluarganya ikut senang. Foto seseorang ngiler selagi tidur tentulah tak menyamankan siapapun yang melihat, terutama si terfoto.</p>
<p>Menurut Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/01/18/belajar-dari-foto-tentang-nukman-luthfie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Seorang Pengelana Dunia Teks</title>
		<link>http://blogombal.org/2009/06/18/tentang-seorang-pengelana-dunia-teks/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2009/06/18/tentang-seorang-pengelana-dunia-teks/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 22:32:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[filologi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[karbon mesin tik]]></category>
		<category><![CDATA[letterpress]]></category>
		<category><![CDATA[pejalan]]></category>
		<category><![CDATA[pustaka]]></category>
		<category><![CDATA[rahmat]]></category>
		<category><![CDATA[riset]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[stensil]]></category>
		<category><![CDATA[sugito]]></category>
		<category><![CDATA[teks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=1530</guid>
		<description><![CDATA[KELAK DIA AKAN LEBIH MENJADI. <p>Seumur itu saya belum mengunyah banyak teks. Bahkan sampai sekarang pun tak banyak teks yang saya cerna. Tetapi dia tidak. Dari cara menulis, dari mencuplik saat merujuk, saya segera tahu endapan di benaknya. Gumpalan kognisi dalam dirinya terus membesar. Anak muda itu. Yang lahir ketika saya masih kuliah.</p> <p>Belum lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KELAK DIA AKAN LEBIH MENJADI.</h3>
<p><img class="kiri" title="buku lama, naskah lama, pikiran lama tapi layak rujuk" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/comotan/bukulama.jpg" alt="" width="200" />Seumur itu saya belum mengunyah banyak teks. Bahkan sampai sekarang pun tak banyak teks yang saya cerna. Tetapi dia tidak. Dari cara menulis, dari mencuplik saat merujuk, saya segera tahu endapan di benaknya. Gumpalan kognisi dalam dirinya terus membesar. Anak muda itu. Yang lahir ketika saya masih kuliah.</p>
<p>Belum lama saya mengenalnya. Tetapi dari beberapa kali percakapan, termasuk di <em>e-mail</em> dan sesekali <em>chat</em>, lontaran saya selalu bersambut.</p>
<p>Lontaran saya tentang catatan lama seorang jenderal segera disambutnya &#8212; padahal saya tak tahu banyak tentang catatan itu.</p>
<p>Lontaran saya tentang dokumen sekitar revolusi langsung disahutnya seperti menyodorkan nukilan &#8212; padahal sejujurnya saya tak khatam dokumen itu.</p>
<p>Dia, di era digital ini (halah), seperti filolog yang menggauli kertas-kertas kecokelatan yang compang-camping. Memang sudah ada mesin pemindai yang  bisa menelan teks, lalu muntahannya tinggal disunting. Tetapi salinan naskah lama, dari era revolusi, dia baca, dia ketik ulang, dan baca lagi, kemudian dia simpan.</p>
<p>Mungkin sebuah ketidakpraktisan, tetapi dari membaca dan mengetik ulang itu dia dengan sadar menenggelamkan diri ke dalam lautan gagasan dan pemikiran yang terkandung dalam teks. Lengkap dengan ejaan lamanya, lengkap dengan cara tutur zaman lama, lengkap dengan kualitas cetak-dan-jilid bukunya, lengkap dengan jejak tindasan karbon maupun celepret tinta stensil pada dokumen-dokumen lusuh itu. Sebisanya dia berupaya menyerap roh dan semangat zaman dari setiap kertas. Dia tak hanya bisa melafalkan &#8220;X&#8221; dalam Maklumat Wakil Presiden No. X tetapi juga berusaha memahami suasana yang nelatari kemunculan dekrit itu.</p>
<p>Melelahkan bagi saya &#8212; dan mungkin Anda. Tetapi bagi dia, selain melelahkan (karena dia toh manusia, yang juga doyan nasi dan air api) itu juga mengasyikkan. Sebuah kelana dalam belukar teks. Hasilnya dia bawa ke belantara teks yang kadang membingungkan: konten di internet.</p>
<p>Ketika itu hanya kesenangan, maka anggap saja klangenan. Tetapi ketika di dalamnya ada semangat berbagi, maka klangenan telah memiliki sisi mata uang lain yakni altruisme. Apa yang dia peroleh akan dia bagikan.</p>
<p>Sore tadi saya mendapatkan pengakuan yang baginya memalukan, tetapi tidak bagi saya, bahkan menurut saya itu mulia. Uang honor tak seberapa, yang didapatnya dari pekerjaan klangenen sekaligus altruistis itu ternyata dibagikannya untuk kedua orang lainnya&#8230;</p>
<p>Orang-orang yang menurutnya secara finansial perlu dibantu. Orang-orang yang juga mencoba banyak belajar. Orang-orang yang yang dia beri kesempatan untuk menyelami teks dari khazanah dalam kardus pustaka: membaca, menyalin, membaca lagi, dan bahkan membuat ringkasan dari sejumlah teks berat para pemikir yang benaknya tak kunjung penat.</p>
<p>Dia ingin kedua rekannya, yang lebih muda, menjalani <em>laku</em> seperti masa remajanya dulu: bergaul dengan dunia teks, dari sastra, sejarah, filsafat, sampai teks lama yang mungkin tak penting pada suatu saat tetapi akan tampak nilainya ketika semuanya terhubungkan.</p>
<p>Anak muda itu. Dia menjalani tanpa kesombongan. Dia lakukan seringan dia melangkah kala berkelana, dan mungkin sesantai dia mencecap Cointreau dan Smirnoff &#8212; atau Bols, atau Absolut.</p>
<p>Waktu, dan internet, akan semakin mematangkan dia. Dan internet? Inilah goda dunia ketika segala yang  remeh bisa menyita waktu orang, karena sebagian orang merasa semakin kecapaian untuk menelan teks berupa aksara berlama-lama &#8212; tersebab teks juga muncul sebagai gambar dan suara yang tinggal cerna secara sambil lalu.</p>
<p>Internet pula yang akan menemukan lebih banyak lagi orang seperti dia.</p>
<p>© Ilustrasi: entah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2009/06/18/tentang-seorang-pengelana-dunia-teks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blog sebagai Jendela Masalah</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/09/18/blog-sebagai-jendela-masalah/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/09/18/blog-sebagai-jendela-masalah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 08:14:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[blogger]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[nasib]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=781</guid>
		<description><![CDATA[KURANG BIJAK BISA BIKIN NAPAS ORANG LAIN SESAK. <p></p> <p>Ngeblog soal pekerjaan? Ini wilayah peka. Cuma mengeluh &#8220;THR belum keluar&#8221; bisa membuat juragan tak suka. Bilang bahwa pekerjaan terus bertambah, tapi gaji tak mengimbangi, itu bisa menyinggung perasaan bos. Menyatakan bahwa &#8220;Kantor gue lebih suka bikin smoking room ketimbang ruang menyusui&#8221;, itu bisa bikin atasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KURANG BIJAK BISA BIKIN NAPAS ORANG LAIN SESAK.</h3>
<p><img class="normal" title="mega kuningan jakarta" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/kerja/dindingkaca4.jpg" alt="" width="355" height="473" /></p>
<p>Ngeblog soal pekerjaan? Ini wilayah peka. Cuma mengeluh &#8220;THR belum keluar&#8221; bisa membuat juragan tak suka. Bilang bahwa pekerjaan terus bertambah, tapi gaji tak mengimbangi, itu bisa menyinggung perasaan bos. Menyatakan bahwa &#8220;Kantor gue lebih suka bikin <em>smoking room</em> ketimbang ruang menyusui&#8221;, itu bisa bikin atasan blingsatan.</p>
<p>Lho bukannya itu kenyataan? Tetapi bagi korps si <em>blogger </em>itu adalah penyiaran masalah internal. Tidak sepantasnya disebarkan. Kalau ada problem kenapa tidak didiskusikan, begitu kata para sejawat.</p>
<p>Jika cerita itu menyangkut bekas tempat kerja, maka muncul suara, &#8220;Sudahlah, toh Anda sudah cabut diri dari sana. Kenapa juga membuka aib? Tak usah jadi pahlawan.&#8221;</p>
<p>Bisa saja si <em>blogger </em>tak menyebut nama orang maupun lembaga. Tetapi ketika orang lain tahu bahwa dia (pernah) bekerja di PT Bahagia Sukacita Tiadaderita Tbk., maka pembaca langsung menebak siapa yang diceritakan. Ketika si <em>blogger </em>menyebut nama orang dan lembaga, maka semuanya jadi kentara.</p>
<p>Blog, dalam pelbagai bentuk, kadung jadi jendela. Bagaimana si <em>blogger </em>melihat dunia luar dan bagaimana dia memperlihatkan dunianya akan tampak di sana. Termasuk di dalamnya, selain kehidupan domestiknya, adalah kehidupannya dalam dunia kerja.</p>
<p>Dunia kerja memiliki tata nilai sendiri. Ada yang sifatnya hanya nilai kepantasan, ada pula yang sampai ke wilayah hukum (artinya bisa berujung gugatan). Urusannya bukan hanya si blogger dengan perorangan melainkan juga dengan lembaga.</p>
<p>Jadi gimana dong enaknya? Jangan ngeblog? Jangan cerita apapun, selayaknya agen rahasia yang setia sampai mati?</p>
<p>Atau ngeblog dengan nama samaran, dan jangan sekali-kali memperkenalkan diri di dunia nyata (ya, jangan kopdar!), lalu yang lebih penting jangan sekali pun bercerita soal pekerjaan?</p>
<p>Dengan pendekatan normatif &#8212; tepatnya: ngambang &#8212; anjuran paling datar adalah, &#8220;Yah pintar-pintarlah bercerita, jangan bikin orang lain gerah.&#8221;</p>
<p>Jika menyangkut kegerahan dunia kerja, berikut kembang taman bernama kompetisi dan sekaligus kooperasi, itu bisa menyangkut bekas tempat kerja lama maupun tempat kerja baru. Lingkungan lama merasa difitnah dan dicemarkan. Lingkungan baru merasa kena getah, bisa-bisa dianggap mensponsori pencemaran terhadap pihak lain via blog. Bisa juga sebaliknya: menyanyikan lagu sumbang di tempat baru sambil merujuk partitur di tempat lama. Bisa-bisa alma mater, ya bekas kantor itu, dicurigai membisikkan pesan.</p>
<p>Jalan keluar cap gawat darurat jika terjadi ketidakenakan antar(petinggi)lembaga: si <em>blogger</em>, atas permintaan beberapa pihak, mencabut tulisan yang jadi sumber kegerahan.</p>
<p>Jika menyangkut pekerjaan, kata orang sok bijak, yang bagus-bagus sajalah yang diceritakan. Dengan catatan: yang lucu dan menghibur kadang juga bisa berarti tak menyenangkan bagi orang lain.</p>
<p>Lantas apa saja ukurannya? Waduh, ini persoalan yang bikin mumet. Barangkali Anda punya? Tolong bagikan di sini&#8230; Terima jadi.</p>
<blockquote><p>NB: Misalnya sebuah tulisan di blog telah mendorong KPK mencokok sejawat dan atasan si <em>blogger</em>, mungkin arah ceritanya jadi beda. ;)</p></blockquote>
<p>Tambahan pekerjaan membaca tanpa bonus:<br />
+ <a href="http://blogombal.org/2007/06/07/blog-dan-rahasia-dapur-kumpeni/">Blog dan Rahasia Dapur Kumpeni</a></p>
<p>© Foto: blogombal.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/09/18/blog-sebagai-jendela-masalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

