<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blogombal [√] &#187; Pekerjaan</title>
	<atom:link href="http://blogombal.org/category/pekerjaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogombal.org</link>
	<description>catatan ringan angin-anginan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 08:41:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Melindungi Ide</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/01/14/melindungi-ide/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/01/14/melindungi-ide/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2011 10:36:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[berbagi]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[hak cipta]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[karier]]></category>
		<category><![CDATA[KIS FM]]></category>
		<category><![CDATA[kreativitas]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[mental]]></category>
		<category><![CDATA[pembajakan]]></category>
		<category><![CDATA[penjegalan]]></category>
		<category><![CDATA[strategi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4006</guid>
		<description><![CDATA[TAKUT KECOLONGAN, TAKUT DISAINGI. DEMI KARIER. <p></p> <p>&#8220;Hindari melontarkan ide saat berdua saja dengan teman sekerja,&#8221; kata radio itu dalam kemasan terekam. Juga, &#8220;Forum paling baik untuk melontarkan ide adalah meeting. Di sana banyak saksi bahwa ide itu dari Anda.&#8221;</p> <p>Jadi, intinya, &#8220;Setiap orang harus melindungi idenya agar tidak dibajak oleh teman sekerja bahkan atasan.&#8221;</p> [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>TAKUT KECOLONGAN, TAKUT DISAINGI. DEMI KARIER.</h3>
<p><img class="alignnone" title="ide | © Antyo Rentjoko" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/bikin/blogombal-ide-antyo.jpg" alt="" width="430" height="277" /></p>
<p>&#8220;Hindari melontarkan ide saat berdua saja dengan teman sekerja,&#8221; kata radio itu dalam kemasan terekam. Juga, &#8220;Forum paling baik untuk melontarkan ide adalah <em>meeting</em>. Di sana banyak saksi bahwa ide itu dari Anda.&#8221;</p>
<p>Jadi, intinya, &#8220;Setiap orang harus melindungi idenya agar tidak dibajak oleh teman sekerja bahkan atasan.&#8221;</p>
<p>Misalnya, &#8220;Jangan semuanya dibuka. Harus ada bagian terpenting yang Anda simpan.&#8221;</p>
<p>Itu belum cukup. Masih ada garis bawah, &#8220;Jangan sampai ide Anda hanya berhenti sebagai ide yang diketahui bersama, tapi eksekusinya tidak melibatkan Anda.&#8221;</p>
<p>Kenapa begitu, &#8220;Karena ide adalah bagian dari karier Anda.&#8221;</p>
<p><strong>Kantor kok ndak nyenengin</strong></p>
<p>Sabar, itu bukan kutipan persis. Tetapi kurang lebih begitulah isinya.</p>
<p>Dan saya pun merenung, sebegitu menegangkannyakah sebuah lingkungan kerja, akibat tekanan oleh kompetisi antarsejawat?</p>
<p>Bisa-bisa setiap orang akan pelit ide, atau penuh kiat politik kantoran dalam bekerja, karena takut dibajak dan dimanfaatkan teman bahkan atasan. Sungguh tidak nyaman.</p>
<p>&#8220;Karena kita <em>dikelilingi</em> pembajak yang tega menghalalkan segala cara,&#8221; kata Anda. Oh, <em>dikelilingi</em>? Alangkah menyeramkannya.</p>
<p>Mungkin saya naif karena belum pernah berada di lingkungan kerja yang berisi serigala pemangsa gagasan. Pada 2009, saya menulis soal ide dan pembajakan itu (<em><a href="http://blogombal.org/2009/06/23/credit-point-nya-untuk-saya-ya/">Credit Point-nya untuk Saya, Ya?</a></em>).</p>
<p>Ketika lingkungan kerja membuat kita was-was, kurang dapat mem(p)ercayai sejawat, entah dari mana pangkal soalnya, maka bagi saya itu neraka. Saya pernah beberapa kali mendapatkan curhat macam itu. Berisi keluhan dan ungkapan hati terlukai oleh pengkhianatan.</p>
<p>Saya tak dapat memberikan solusi jitu. Maklumlah saya bukan ahli manajemen kerja. Saya juga bukan ahli psikologi organisasi atau industrial.</p>
<p><strong>Berbagi dan perlindungan diri</strong></p>
<p>Lihatlah media sosial. Ya di megablog, mikroblog, jejaring sosial, dan forum. Di sana ide bertebaran, dari yang ringan sampai berat. Bahkan presentasi pun dibagikan oleh pembuatnya di wadah semacam <a href="http://slideshare.net/" target="_blank">Slideshare</a>, tapi orang yang tahu diri takkan berani membajak konten di sana semaunya tanpa menyebutkan sumber. Di YouTube juga bertebaran paparan pemikiran dalam wujud video.</p>
<p>Jadi kalau kita mengembangkan gagasan dari burung kertas yang beterbangan, ya tinggal mengaku sejak awal saja kan? Kita bukan menunggu orang lain membuka diri, tetapi kita yang memulainya.</p>
<p>Lagi pula, lambat atau cepat, kalau kita cuma mencomot punya orang pasti akan ketahuan. Internet adalah dokumentasi raksasa, dan mesin pencari adalah alat bantu untuk mencari jarum di tengah jerami teks.</p>
<p>Meskipun begitu, sebenarnya masing-masing dari kita sudah memiliki naluri perlindungan diri; seterbuka apapun medianya. Hanya saja tingkat perlindungan diri setiap orang berbeda, bergantung kepentingan, situasi, dan kondisi. Kalau ada informasi <em>garage sale</em> rahasia berisi barang bagus murah, ide Anda untuk membeli paket murah pasti Anda simpan sampai hari H, bukan?</p>
<p>Setelah semuanya di tangan baru berbagi di media sosial. :P Di dalamnya ada kiat mencari barang murah. Itu bisa disebut berbagi ide. :D</p>
<p>Nah, di sini saya mau berbagi ide sepotong. Di Jakarta ada beberapa cewek SMA ber-uang saku cukup,  yang setelah membeli CD langsung mengonversikannya ke MP3. CD asli? Dijual murah, tanpa iklan. Mereka generasi digital, tak mau menyimpan <em>physical format</em>, tapi entah kenapa tak membeli langsung lewat iTunes.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/01/14/melindungi-ide/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>64</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amplop Lama</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/07/25/amplop-lama/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/07/25/amplop-lama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 10:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[majalah jakarta jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[open source]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=696</guid>
		<description><![CDATA[KETIKA PEKERJAAN JUGA BERARTI PERTEMANAN&#8230; <p></p> <p>Saya kaget ketika tadi menerima kiriman via pos. Amplopnya itu. Logonya itu. Nama majalahnya itu. Lama saya tak melihatnya. Selama ini hanya ada ingatan fotografis di kepala tentang logo itu dan ingatan berupa kata (sebagai bunyi, bukan aksara). Lebih mengesankan lagi, si pengirim yang mecantumkan coretan &#8220;sisa amplop&#8221; itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KETIKA PEKERJAAN JUGA BERARTI PERTEMANAN&#8230;</h3>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/amplop-jj-1.jpg" alt="amplop majalah jakarta jakarta" width="355" height="310" /></p>
<p>Saya kaget ketika tadi menerima kiriman via pos. Amplopnya itu. Logonya itu. Nama majalahnya itu. Lama saya tak melihatnya. Selama ini hanya ada ingatan fotografis di kepala tentang logo itu dan ingatan berupa kata (sebagai bunyi,  bukan aksara). Lebih mengesankan lagi, si pengirim yang mecantumkan coretan &#8220;sisa amplop&#8221; itu setahu saya bukan pengumpul barang lawas.</p>
<p>Tentang amplop, yang masih tampak baru karena rupanya lama tersimpan, setahu saya itu bukan amplop untuk keperlan rutin. Itu amplop kartu ucapan entah Lebaran atau Natal. Hanya dicetak bersamaan dengan pembuatan kartu. Ternyata masih ada yang menyimpannya dan kemudian menggunakannya. Tiba-tiba pertalian lama belasan tahun silam menghadir kembali.</p>
<p>Pada 1998, setahun sebelum majalah itu tutup, saya cabut dari sana. Pindah ke sebuah proyek penerbitan baru setelah delapan tahun bekerja di majalah itu.</p>
<p>Selama delapan tahun itu saya belajar banyak hal, tak hanya keterampilan yang berhubungan dengan profesi tetapi juga tentang manusia dan kehidupan.</p>
<p>Salah satu mitra kerja saya di sana adalah si pengirim dua keping CD <em>open source</em> dalam amplop itu. Dialah teman berdiskusi saya. Kadang kami berdebat seru. Tapi <em>chemistry</em> kami bersenyawa cepat sekali dalam berbagi tugas saat darurat. Seperti pelawak Srimulat yang bisa <em>impromptu</em> tanpa <em>briefing</em> atau penuangan berlama-lama.</p>
<p>Di kemudian hari kami sempat sekantor selama enam bulan. Meja kami berhadapan. Tapi kami jarang bicara apalagi mengudap bersama. Tak ada waktu. Masing-masing didera tenggat dan penanganan anak buah. Sempat kami bertukar keluhan, &#8220;Kenapa kita nggak bisa kayak dulu lagi, Dab?&#8221;</p>
<p>Sebuah ungkapan tulus penuh kerinduan. Tak ada hubungannya dengan posisi kami sebelumnya setelah sama-sama keluar dari majalah itu. Posisi yang memperhadapkan kami sebagai pesaing satu sama lain, sehingga ketika pacuan dimulai kami cukup bersalam melalui telepon sambil hahahehe, &#8220;Sekarang kita berkompetisi.&#8221;</p>
<p>Saya yang kalah. Padahal sebelumnya saya yakin menang. Dia juga yang sangat sedih ketika saya kalah. Dia pula yang lebih awal mengabarkan kekalahan tim saya sebelum itu resmi diumumkan. Dia mengabarkan tanpa kejumawaan. Lebih terasa kegalauan seorang sahabat.  &#8220;<em>Asu tenan he, Tyo!</em>&#8221; itu pembuka kabar buruknya melalui telepon suatu malam.</p>
<p>Alangkah cepatnya waktu berlalu. Kami sama-sama menua. Anak-anak kami sama-sama sudah remaja. Dialah yang memberi tumpangan saya di kamar indekosan sempit pada hari-hari awal saya bekerja.</p>
<p>Perkawanan, persahabatan, kesejawatan, dan nilai-nilai bagusnya, seringkali justru mengemuka saat kita tinggal mengenangnya.</p>
<p>Ketika mengetik posting sentimental ini, saya teringat satu kawan lagi. Dia kreatif, serbabisa, usil, jail, kocak, optimis. Rambutnya sekarang memutih, tapi masih bisa memahami dunia remaja. Dialah partner in crime saya. Kekurangajaran dirinya dia labeli dengan nama N.V. Doea Doerdjanah.</p>
<p>Dunia kerja tak hanya soal bangunan bernama kantor yang setiap akhir bulan membagikan upah. Di sana ada kehidupan dengan segala nilai-nilainya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/07/25/amplop-lama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mug: dari Zaman Susah hingga Berlimpah</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/06/10/mug-dari-zaman-susah-hingga-berlimpah/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/06/10/mug-dari-zaman-susah-hingga-berlimpah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 05:25:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[kantor]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[mug]]></category>
		<category><![CDATA[properti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=679</guid>
		<description><![CDATA[ORANG KANTOR SEPERTI MURID SEKOLAH. <p></p> <p>&#8220;Ini punya siapa?&#8221; tanya saya kepada petugas dapur sebuah kantor. &#8220;Pakai saja, Pak. Bebas kok,&#8221; jawabnya. Yang saya maksudkan adalah mug untuk membuat kopi.</p> <p>Saya perlu bertanya karena memang begitulah mestinya. Di banyak kantor, mug adalah benda personal. Lain halnya dengan gelas bening dan cangkir biasa yang menjadi bagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>ORANG KANTOR SEPERTI MURID SEKOLAH.</h3>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/bikin/mug-wicaksono.jpg" alt="mug lelananging jagat" width="355" height="286" /></p>
<p>&#8220;Ini punya siapa?&#8221; tanya saya kepada petugas dapur sebuah kantor. &#8220;Pakai saja, Pak. Bebas kok,&#8221; jawabnya. Yang saya maksudkan adalah <em>mug </em>untuk membuat kopi.</p>
<p>Saya perlu bertanya karena memang begitulah mestinya. Di banyak kantor, <em>mug </em>adalah benda personal. Lain halnya dengan gelas bening dan cangkir biasa yang menjadi bagian dari properti rumah tangga kantor.</p>
<p>Orang yang tahu <em>mug </em>ini punya siapa, dan yang itu hak milik siapa, adalah opisboi dan petugas <em>pantry</em>. Orang lain, terutama yang kurang pekerti, biasanya main comot bahkan main embat.</p>
<p>Apakah beda wadah beda rasa? Ini memang soal rasa, tapi tak hanya di lidah. Pada tingkat visual, air putih &#8220;lebih enak&#8221; bila di dalam gelas, dan teh maupun kopi dalam cangkir.</p>
<p>Adapun <em>mug </em>pribadi orang kantoran itu, mau diisi air putih atau kopi, masalahnya adalah ikatan emosional. Ada soal kecocokan, soal kenangan, bahkan soal pernyataan diri. Kelancangan orang lain bisa setara dengan pelanggaran terhadap properti pribadi, misalnya pemotong kuku di laci dan pakaian dalam di loker.</p>
<p>Saya tak tahu sejak kapan orang kantoran punya peranti makan-minum sendiri. Di sebuah koran anyar pernah terjadi selama setengah tahun lebih jumlah gelas dan piring selalu ngepas. Jika lalu lintas pemakaian tak diimbangi dengan kegesitan cuci piring orang <em>pantry</em>, maka peranti santap dan seruput itu akan berkurang.</p>
<p>Hatta, seorang redaktur pun diam-diam berbelanja pecah-belah. Karena bersekongkol dengan orang dapur, plus kebiasaan gertak sok preman (sedikit bicara, banyak tikam &#8212; pura-puranya), barang-barangnya aman hingga dia keluar. Barang itu akhirnya dia hibahkan ke orang dapur.</p>
<p>Tentang mug pribadi ini saya ingat zaman susah. Dulu di dekat rumah saya ada TK dan sekolah rakyat. Pada hari tertentu anak-anak membawa cangkir enamel (belum ada melamin) karena ada pembagian susu bantuan asing. Mereka tampak riang. Pulang sekolah klothekan.</p>
<p>Di kalangan orang dewasa kantoran tak ada klothekan. <em>Mug </em>hilang bisa berbuah tangis. Bahkan bukan tidak mungkin adu fisik.</p>
<p>Apakah Anda juga punya alat makan-minum pribadi di kantor? Pernah bermasalah dengan itu?</p>
<p>© Gambar asli sumber ilustrasi: unknown</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/06/10/mug-dari-zaman-susah-hingga-berlimpah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>69</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bantal dan Pria Dewasa yang Tetap Bocah</title>
		<link>http://blogombal.org/2007/05/11/bantal-dan-pria-dewasa-yang-tetap-bocah/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2007/05/11/bantal-dan-pria-dewasa-yang-tetap-bocah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2007 02:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2007/05/11/bantal-dan-pria-dewasa-yang-tetap-bocah/</guid>
		<description><![CDATA[KANTOR ADALAH TEMPAT KERJA DAN&#8230; ISTIRAHAT! <p></p> <p>Belum semua barang pribadi masuk kardus. Kardus-kardus yang sudah terisi pun belum tersegel karena nantinya masih harus diperiksa. Nah, calon lain pengisi kardus adalah bantal. Kalau kasurnya sih sudah dikempiskan dan masuk kotak.</p> <p>Bantal? Ya. Buat tidur siang di kantor. Siesta itu bagus untuk kesehatan. Ini kebiasaan saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KANTOR ADALAH TEMPAT KERJA DAN&#8230; ISTIRAHAT!</h3>
<p><img src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/comotan/bantalku3.jpg" alt="bantal di kantor" class="normal" /></p>
<p>Belum semua barang pribadi masuk kardus. Kardus-kardus yang sudah terisi pun belum tersegel karena nantinya masih harus diperiksa. Nah, calon lain pengisi kardus adalah bantal. Kalau kasurnya sih sudah dikempiskan dan masuk kotak.</p>
<p>Bantal? Ya. Buat tidur siang di kantor. Siesta itu bagus untuk kesehatan. Ini kebiasaan saya selama belasan tahun bekerja.</p>
<p>Hanya tidur siang? Tidak. Bisa juga datang pagi, lalu tidur karena masih ngantuk. Juga bisa tidur sore. Baik tidur sambil duduk di kursi kerja &#8212; artinya bantal cuma dibangku dan dipeluk supaya perut tak kembung &#8212; maupun berbaring. </p>
<p>Soal berbaring, itu bisa di atas matras gulung, sofa, tiga kursi disambung, meja panjang, dan akhirnya kasur pompa. Kasur itu hadiah ultah dari teman-teman sekantor. Empuk. Nyaman. Melelapkan.</p>
<p><img src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/comotan/kasurku.jpg" alt="kasur di kantor" class="normal" /> </p>
<p>Dulu  saat menerima kasur itu saya sempat GR sekaligus was-was. Saya pikir dalam kemasan ada bonusnya, berupa pria dan wanita &#8212; seperti ditunjukkan oleh foto. Kalau prianya sih bisa saya usir. Lha wanitanya? Untunglah, hadiah yang saya terima bukanlah lampu ajaib yang berisi jin.</p>
<p>Tentang tidur di kantor &#8212; bukan dalam arti menginap &#8212; ternyata bisa jadi peluang bisnis orang kreatif. Jepang sudah memulainya. Jadi <a href="http://www.smh.com.au/news/World/Lap-pillow-for-lonely-men/2004/12/15/1102787144706.html">berita di sini</a>, dan jadi <a href="http://www.blogiseverything.com/gadgets-gizmos/cool-lap-pillow-for-men/">posting di sini</a>.</p>
<p><img src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/comotan/lap_pillow03.jpg" alt="bantal di kantor" class="normal" width="355" /> </p>
<p>Hmmm&#8230; lelaki memang tak lebih dari kanak-kanak yang terus menua. Mereka (heh, apa? mereka?) nyaman dan damai dalam pangkuan lawan jenis, sampai terlelap. Mungkin teringat buaian emak. </p>
<p>Kalau bantalnya berupa wanita betulan, muda dan cantik-seksi pula, bisa menimbulkan masalah. Misalnya bau. Selain itu juga gangguan tidur. Pria mau tidur, wanitanya mengusik terus. Tak ada masalah pria dan wanita tidur bersama sepanjang sama-sama terlelap &#8212; dan masing-masing diam manis.</p>
<p>Untuk wanita (dan gay) ya pakai <a href="http://www.blogiseverything.com/gadgets-gizmos/comfortable-boyfriends-arm-pillow-for-women/">bantal yang ini</a> saja. Serasa dipeluk dan nyender di dada bidang. ;) </p>
<p><img src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/comotan/arm_pillow01.jpg" alt="bantal untuk wanita jomblo dan gay" width="355" class="normal" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2007/05/11/bantal-dan-pria-dewasa-yang-tetap-bocah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

