PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK

CATATAN PASCA-NATAL.
"Terkadang aku menyesal karena gagal mengupayakan 'perpanjangan waktu' buatmu." (Facebook, 24 Desember 2009, 19.09).
"PakNo sering tanya: 'baiknya aku menyerah atau bertahan?' Aku bilang 'terus bertahan...', meskipun aku nggak tega melihatnya. (Japri adik saya, tentang adik saya satunya lagi dalam paragraf barusan, 25 Desember 2009, 00.03).
Untuk Anda yang merayakan Natal, saya mengucapkan selamat. Selamat merayakan dalam arti "memestakan" -- ini salah satu arti merayakan menurut KBBI. Tentu saya pun mengucapkan selamat untuk merayakan lebih dari dari sekadar berpesta.
Serupa anak sekolah, saya tak dapat membuat karangan yang bagus tentang Natal. Di hari libur yang santai ini pun saya tak akan mengajak Anda berdiskusi tentang tradisi gereja bernama Natal dan sejarahnya, berikut aspek kulturalnya.
Di sini saya hanya melampirkan foto bayang-bayang Katedral Jakarta pada genangan air, yang saya ambil Selasa 22 Desember lalu, ketika Ibu Kota diguyur gerimis dan hujan rintik seharian. Katedral di kejauhan, menjadi latar belakang dari kedai donat, dengan petugas kebersihan yang sedang bekerja.
SEBUAH CARA MANUAL, WARISAN BERABAD-ABAD.
Saya ambil kedua notes yang belum saya pakai itu dari laci. Beberapa notes lainnya, yang masih nganggur, sudah saya hibahkan. Ternyata saya jarang memakai notes lagi. Saya jarang menorehkan tulisan tangan sehingga tulisan saya makin buruk, apalagi usia terus bertambah.
Notes di era digital device ini. Ya, notes yang dilafalkan secara Indonesia: "no-tes". Anda masih memakainya? Sekadar mencatat dari yang penting sampai tak jelas itu apa, sekedar menggambar denah lokasi sampai membuat gambar yang Anda sendiri tak paham?
KENANGAN TENTANG BOCAH KESAYANGAN TETANGGA.
Bunyi "praakk..." yang pelan. Seperti suara bambu kering terbelah, kata sang penolong. Setelah bunyi itu, seorang bocah perempuan usia dua tahun lebih hanya bisa gagap berteriak kepada pria yang kemudian turun tangan itu, "Aihan, dalah, dalah." Yang dia maksud adalah Rayhan, bocah satu tahun lebih sepuluh bulan, temannya bermain, anak tetangga depan rumah.
Saya tidak melihat. Saya hanya mendengar penuturan beberapa saksi.
MAKA KENANGLAH NILAI TUKAR RUPIAH (SEJAUH ANDA INGAT).
Dengan selembar dua ribu rupiah, apa yang akan Anda dapatkan? "Selembar dua ribuan" dan "uang duaribuan", adalah istilah baru yang muncul tahun ini, bulan ini. Belum banyak berita kisah (features), dan terutama fiksi, yang sampai hari memakai istilah itu sampai hari ini.
Denominasi baru memunculkan istilah baru. Dalam belantara teks, terbukti bahwa blog lebih dulu memakainya. Misalnya Junaidi Muadzin: "selembar uang dua ribu".
KELAK DIA AKAN LEBIH MENJADI.
Seumur itu saya belum mengunyah banyak teks. Bahkan sampai sekarang pun tak banyak teks yang saya cerna. Tetapi dia tidak. Dari cara menulis, dari mencuplik saat merujuk, saya segera tahu endapan di benaknya. Gumpalan kognisi dalam dirinya terus membesar. Anak muda itu. Yang lahir ketika saya masih kuliah.
Belum lama saya mengenalnya. Tetapi dari beberapa kali percakapan, termasuk di e-mail dan sesekali chat, lontaran saya selalu bersambut.
MAKA MARILAH KITA MENJADI DUKUN!
Pemilik rumah di Jakarta Barat itu mencurigai kawan saya dan sejawatnya. Dia khawatir duo pengontrak rumah itu akan membuka praktik perdukunan. Kok bisa? Si sejawat kawan itu memakai aneka aksesoris. Sudah begitu koleksi benda etnis, termasuk patung-pating totem, yang didapatnya dari keliling Nusantara, memang banyak.
Peristiwa itu terjadi belasan tahun silam. Si pemakai aksesoris yang sosoknya seperti beruang besar itu kemudian meninggal dalam sebuah ekspedisi di luar negeri, dalam pelukan beku es. Dia bukan dukun. Dia seorang jurnalis dan pengelana.
ORANG NYURI AJA NDAK MALU KOK!
Sepuluh tahun yang lalu Pak Nitra dan teman-temannya bikin sesuatu. Dengan menggebu. Optimisme pol. Produknya keren. Mendahului zaman. Ternyata dalam tiga bulan tanpa hasil dan tanpa prospek. Pasar tak mau menerima -- tapi sekarang sudah ada yang melakukan. Investasi Rp 4 miliar (nilai waktu itu) pun menguap. Kalau diteruskan bakal bikin jebol semua sumber daya.
Gagal? Ya. Malu? "Oh, ndak Pak! Saya dan teman-teman ndak punya rasa malu," kata Pak Nitra mengenang kejadian itu.
KADANG TAK JELAS. HANYA MENURUTI KELAZIMAN (DAN KEZALIMAN). :d
Seorang ibu muda bercerita bahwa mbakyunya setiap kali memperpanjang KTP selalu memajukan tahun kelahiran. "Dia curang, nggak mau kelihatan tua! Hihihihi..." kata si adik. "Emang orangnya gitu. Ih, dasar flirty dari dulu," ungkapnya, disusul tawa terbahak.
Lain lagi seorang kangmas dan adik lelakinya. Ketika si adik berulang tahun, si kangmas meng-SMS, "Selamat bertambah tua!"
TAK BAKAL MENJADI KERE, KENAPA TAKUT?
Ini soal basi bagi Anda. Tetapi bagi saya tetap menarik dan membuat saya tak habis pikir. Dari sebuah kasus pembunuhan, yang kabarnya gara-gara wanita caddy, ada cerita tentang perjuangan korban untuk meraih dan mempertahankan jabatan. Terkabar, si korban telah sekian kali mendatangi petinggi yang berwenang, bila perlu ke rumahnya, bahkan mengintil ke sejumlah acara tenis segala.
Itu jelas menuntut kegigihan. Perlu pasokan informasi jadwal tokoh incaran. Butuh kaki tangan untuk melancarkan urusan -- pun misalnya hanya sekadar bersirobok. Mirip reporter ulet yang bila perlu harus berbaik-baik dengan sopir dan pembantu narasumber.
Maaf, shoutbox prei dulu. Harap, eh harus maklum. Terima jadi. :)