<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blogombal [√] &#187; Personal</title>
	<atom:link href="http://blogombal.org/category/personal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogombal.org</link>
	<description>catatan ringan angin-anginan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 10:35:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Semoga Serbabaiklah Semuanya</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/12/24/semoga-serbabaiklah-semuanya/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/12/24/semoga-serbabaiklah-semuanya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 16:03:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[ketupat]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5172</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/12/blogombal-natal-2011.jpg"></a></p> <p>Dari saya untuk Anda. Salam.</p> <p>© Foto &#38; Desain: Antyo</p> <p></p> <p></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/12/blogombal-natal-2011.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5173" title="natal dan ketupat: untuk semua orang" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/12/blogombal-natal-2011.jpg" alt="" width="450" /></a></p>
<p>Dari saya untuk Anda. Salam.</p>
<p>© Foto &amp; Desain: Antyo</p>
<p><object width="450" height="335" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/W48k2CI9Q6E?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed width="450" height="335" type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/W48k2CI9Q6E?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" allowFullScreen="true" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
<p><object width="450" height="335"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/MvjiVam2HO4?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/MvjiVam2HO4?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" type="application/x-shockwave-flash" width="450" height="335" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/12/24/semoga-serbabaiklah-semuanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Tua Ngebom Tembok</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/10/10/orang-tua-ngebom-tembok/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/10/10/orang-tua-ngebom-tembok/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 11:24:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[atas nama seni]]></category>
		<category><![CDATA[cat semprot]]></category>
		<category><![CDATA[grafiti]]></category>
		<category><![CDATA[kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[mural]]></category>
		<category><![CDATA[ngebom tembok]]></category>
		<category><![CDATA[rhoma irama]]></category>
		<category><![CDATA[rumah langsat]]></category>
		<category><![CDATA[salingsilang.com]]></category>
		<category><![CDATA[stencil art]]></category>
		<category><![CDATA[street art]]></category>
		<category><![CDATA[urban art]]></category>
		<category><![CDATA[vandalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4651</guid>
		<description><![CDATA[SIKAP KITA TERHADAP SENI RUPA JALANAN TAMPAKNYA MENDUA. <p></p> <p>Sebetulnya memalukan jika seorang pria berusia setengah abad bermain stencil art atas nama urban art atau street art atau apalah, pokoknya main cat semprot. Jelaslah, itu aib; bukan prestasi. Lebih jelas lagi, kalau bicara usia, pria itu masih kalah dari aktor <a href="http://kopi69.dagdigdug.com/2010/07/31/moral-cerita-semprotan-pong/" target="_blank">Pong Hardjatmo</a> masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>SIKAP KITA TERHADAP SENI RUPA JALANAN TAMPAKNYA MENDUA.</h3>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-4705" title="blogombal-antyo-ngebom-tembok-langsat" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-antyo-ngebom-tembok-langsat.jpg" alt="blogombal-antyo-ngebom-tembok-langsat" width="450" height="324" /></p>
<p>Sebetulnya memalukan jika seorang pria berusia setengah abad bermain <em>stencil art</em> atas nama <em>urban art</em> atau <em>street art</em> atau apalah, pokoknya main cat semprot. Jelaslah, itu aib; bukan prestasi. Lebih jelas lagi, kalau bicara usia, pria itu masih kalah dari aktor <a href="http://kopi69.dagdigdug.com/2010/07/31/moral-cerita-semprotan-pong/" target="_blank">Pong Hardjatmo</a> masih kuat memanjat dan menyemprot.</p>
<p>Meskipun begitu ada bagusnya juga. Pria 50 tahun itu hanya ngebom tembok pagar kantornya sendiri. Bukan main hajar properti orang lain.</p>
<p><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-antyo-ngebom-bekas-lubang-sampah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-4709" title="blogombal-antyo-ngebom-bekas-lubang-sampah" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-antyo-ngebom-bekas-lubang-sampah-300x254.jpg" alt="" width="300" height="254" /></a>Masih ada kebagusan lain. Ketika penyemprotan dilakukan sore hari, serombongan anak SMP lewat. Mereka melihat semprotan yang masih berbau cat itu sembari saling berceloteh, &#8220;Keren nih. Boleh juga. Liat yang itu tuh… Eh, yang sana juga ada!&#8221;</p>
<p>Si bapak tua itu tersenyum. Memang untuk para kampret itulah dia ngebom. Daripada harus mengecat tembok lalu dicoreti lagi lebih baik mengajak mereka. Kalau perlu mereka ditantang, supaya tak menjadi vandalis kelas cemen.</p>
<p>Kalaupun tak sampai seminggu semprotan sudah dihajar grafiti kasar, misalnya &#8220;Taik loe&#8221; atau &#8220;Anjing!&#8221;, ya berarti pelakunya menyedihkan, tak memiliki kreativitas dan bingung dalam mengekspresikan maksud. Masih muda kok nggak kreatif. Sial benar, hidup cuma sekali cuma bisa memaki-maki. <em>Eman tenan</em>.</p>
<p>&#8220;Kalian mau ikutan nyemprot?&#8221; tanyanya.</p>
<p>&#8220;Mau, Oom! Mau!&#8221; kata salah seorang anak berkulit gelap.</p>
<p>&#8220;Emang boleh? Buat apaan?&#8221; sergah seorang anak berkulit terang, matanya menatap tajam.</p>
<p>&#8220;Boleh aja, asal kalian nyemprotnya yang bener, rada kreatif dikit, nyeni gitulah. Pake mikir juga,&#8221; kata si Pak Tua itu dengan gaya sok berbudaya.</p>
<p>&#8220;Nggak mau, ah! Capek!&#8221; kata si pemilik mata yang sejak tadi menatap tajam.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-4707" title="blogombal-antyo-ngembom-langsat16" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-antyo-ngembom-langsat16.jpg" alt="" width="450" height="253" /></p>
<p>Aha! Dia tak salah. Memang itu sudah diduga.</p>
<p>Di luar kesenangan akan spontanitas dan tak mau diatur, serta menentang apapun yang mapan, mereka adalah sampel dari kelompok remaja yang malas berpikir, malas capek, pengin keren dan dapat nama secara gampang. Dalam bahasa (sok) ideologis, &#8220;Nggak bisa dong kita harus perang pake aturan main dari lawan. Nggak bakalan menang! Kalo ngelawan ya pake cara sendiri!&#8221;</p>
<p>Tentu di luar mereka masih banyak anak-anak muda yang memiliki pilihan, termasuk pilihan untuk berkreasi secara cerdas. Anak-anak muda yang beruntung. Bisa membuat aturan main sendiri tanpa menjadi anarkis.</p>
<p>Ngebom tembok. Kalau bagus seperti <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Banksy" target="_blank">Banksy</a> yang berkonsep* ya keren. Sayang, itu tak gampang. Membuat pola lebih lama ketimbang menyemprot. Apalagi kalau harus merangkai kata. Bikin capek &#8212; jadi bukan karena Banksy tak pernah memakai teks verbal.</p>
<p><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-antyo-ngebom-monyet.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-4711" title="blogombal-antyo-ngebom-monyet" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-antyo-ngebom-monyet-300x300.jpg" alt="" width="240" height="240" /></a>Ngebom tembok adalah persoalan urban. Pelakunya bisa kelas atas yang mampu membeli sekian kaleng cat semprot impor <a href="http://www.mtncolors.com/products/56-94" target="_blank">Montana 94</a> (lihat <a href="http://memo.blogombal.org/2009/11/02/cat-semprot-clothing-distro/ " target="_blank">Memo</a>) sekaligus, bisa juga kelas bawah yang untuk membeli sekaleng cat lokal murahan seharga Rp 20.000 saja harus patungan. Yang pasti mereka punya persamaan: tak mau kalau rumahnya disemprot anak lain.</p>
<p>Selain tak mau juga sulit ditembus. Anak-anak dari kelas atas lebih terlindungi oleh arsitektur permukiman. Tinggal dalam <em>cluster</em>, bahkan rumahnya pun kadang masih bersatpam. Sulit bagi orang luar, bahkan tetangga, untuk ngerjain tembok rumah orangtua mereka.</p>
<p>Sedangkan anak-anak kelas bawah dilindungi oleh atmosfer sosial. Kalau rumahnya di permukiman padat, yang untuk bersirobok pun harus saling memiringkan badan, maka sulit bagi orang luar untuk ngebom tembok orangtuanya. Bisa-bisa pelakunya dikeroyok warga.</p>
<p>Ya, para &#8220;<em>tembok bombers</em>&#8221; itu adalah peminum adrenalin. Lihat saja di YouTube, di luar sana pun para <em>bombers</em> harus kucing-kucingan dengan polisi &#8212; dan itu dianggap keren. Meninggalkan jejak pada properti orang, selayaknya anjing kencing untuk menandai teritori, adalah tantangan.</p>
<p>Di sini, juga mungkin di kota lain di dunia, jejak semprotan adalah bendera geng (kalau di sini: juga sekolah). Barang siapa menimpa berarti menantang berkelahi &#8212; tepatnya tawuran dan keroyokan kalau di Indonesia, karena satu lawan satu meskipun keren dan jantan hanya boleh ada di film dan komik.</p>
<p><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-antyo-rhoma-irama.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-4713" title="blogombal-antyo-rhoma-irama" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-antyo-rhoma-irama-300x291.jpg" alt="" width="210" height="204" /></a>Berlatar itu, sikap kita terhadap seni rupa jalanan barangkali mendua. Di satu sisi kita menikmatinya dan mengabadikannya (kalau bagus), bahkan pernah (atau masih) melakukannya; namun di sisi lain tak rela jika properti kita yang menjadi sasaran.</p>
<p>Tentu ada juga sih orang sengaja menyemprot rumahnya sendiri. Pada awal 90-an, tembok pagar perupa dan kurator Jim Supangkat di Bukit Duri, Jakarta, disemprot tulisan besar &#8220;Jim&#8221;. Semprotan itu sekaligus penanda rumah.</p>
<p>Ada juga yang bukan semprotan, tetapi menggunakan mural rapi untuk menandai rumah. Orang itu <a href="http://pakde.com" target="_blank">Totot Indrarto</a>, sang budayawan di blogosfer, yang berumah di Serpong. Ada gambar pemain sepakbola yang membelakangi jalan. Nomor punggung si pemain adalah nomor rumahnya. Memangnya nomor berapa? Rahasia. :D</p>
<p><em>*) Bisa jadi Banksy tak merasa berkonsep, hanya penggemar dan kurotor yang asyik menyusun konsep. :P</em></p>
<blockquote><p>Catatan tambahan: bom-boman itu akhirnya diperkaya oleh sejawat si orang tua, misalnya Motulz, dengan &#8220;environmental art&#8221;. Menggunakan kompresor untuk menyapu jamur dan kotoran sehingga seperti cat putih. Proyek ini akan terus berlanjut. Mau ikutan?</p></blockquote>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-4703" title="antyo ngebom tembok, motulz juga" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-bomtembok-motulz-antyo.jpg" alt="" width="450" height="253" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/10/10/orang-tua-ngebom-tembok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sarung-sarung, ke Manakah Engkau Dilarung</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/04/24/sarung-sarung-ke-manakah-engkau-dilarung/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/04/24/sarung-sarung-ke-manakah-engkau-dilarung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 14:44:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[busana]]></category>
		<category><![CDATA[fashion]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kasual]]></category>
		<category><![CDATA[lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[sarung]]></category>
		<category><![CDATA[sarung batik]]></category>
		<category><![CDATA[sarung tenun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4405</guid>
		<description><![CDATA[APAKAH ANDA MASIH BERSARUNG? :D <p></p> <p>Pada November 1996 2006, saya <a href="http://blogombal.org/2006/11/28/sarung-femina/">menulis tentang sarung </a>di sini, dengan merujuk survei Femina. Hanya sembilan persen dari responden yang tidur bersarung.</p> <p>Tidak, tidak. Saya tak akan bicara metodologi. Saya kembali akan membicarakan sarung karena setelah menanya beberapa kawan pria ternyata di rumah mereka tak bersarung. Mereka lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>APAKAH ANDA MASIH BERSARUNG? :D</h3>
<p><img class="alignnone" title="sarung batik rakyat, murah meriah nyaman awet" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/barangku/blogombal-sarung-batik-rakyat.jpg" alt="" width="450" height="300" /></p>
<p>Pada November <span style="text-decoration: line-through;">1996</span> 2006, saya <a href="http://blogombal.org/2006/11/28/sarung-femina/">menulis tentang sarung </a>di sini, dengan merujuk survei <em>Femina</em>. Hanya sembilan persen dari responden yang tidur bersarung.</p>
<p>Tidak, tidak. Saya tak akan bicara metodologi. Saya kembali akan membicarakan sarung karena setelah menanya beberapa kawan pria ternyata di rumah mereka tak bersarung. Mereka lebih sering bercelana kolor saat tidur. Yang pakai piyama malah ndak ada &#8212; &#8220;Kayak pasien rumah sakit, pakai piyama, &#8221; kata seorang teman.</p>
<p>Memang masih banyak yang bersarung, tapi hanya saat salat. Di luar itu tidak.  Kolor <em>is the best</em>.</p>
<p><strong>Sarung: longgar, nyaman, <em>isis</em></strong></p>
<p>Saya tanya beberapa teman perempuan tentang suaminya dan abang maupun adik lelakinya. Ternyata tak bersarung. Bahkan ada yang hanya bersarung saat Salat Ied.</p>
<p>Saya sendiri masih bersarung <em>hampir</em> saban hari. Bahkan di kantor pun kadang bersarung. Rasanya nyaman. Maka ada sarung batik saya yang <a href="http://antyo.posterous.com/sarung-15tahun" target="_blank">sudah 15 tahun lebih</a>.</p>
<p>Iya, untuk baju batik saya hanya punya dua, dan salah satunya saya pakai tiga tahun setelah pemakaian terakhir pada 2007. Saya memakai baju itu untuk menghadiri <em>midodarèni</em> seorang kawan, Oktober tahun lalu. Satu lagi baju batik masih utuh dalam plastik, selama setahun lebih. Tapi <a href="http://antyo.posterous.com/?sort=&amp;search=sarung" target="_blank">sarung batik </a>saya melebihi jumlah baju. Supaya bisa setiap hari ganti.</p>
<p>Sarung batik itu adem, <em>isis</em>, murah merakyat (sebagian besar saya beli di pasar), dan tidak licin sehingga tak mudah terurai. Maklumlah cara saya bersarung salah; bukannya menangkupkan lipatan melainkan melipat secara zig-zag mengikuti huruf Z. :D</p>
<p>Sejak kecil, itulah cara yang saya kenal dalam bersarung. Bapak saya bersarung, berselang-seling dengan piyama. Saudara yang lain tidak begitu gemar bersarung, kecuali kakak dan adik yang keduanya sudah almarhum. Saya dulu, waktu kuliah sampai awal kerja, kadang juga berpiyama, tetapi karena udara kian gerah lagi pula dianggap aneh untuk generasi saya maka tak saya lakukan lagi. :D</p>
<p>Saat kecil saya melihat teman-teman sebaya bersarung, terutama yang mengaji ke langgar (musala). Anak-anak penjual kayu bakar (maksud saya, anak-anak itu penjualnya)  yang melintasi rumah saya, di Sinoman, Salatiga, selalu berselempang sarung. Salah satunya bernama Sabar, dia selalu berpeci &#8212; mirip ilustrasi buku anak-anak zaman dulu. Bahkan beberapa teman maupun orang dewasa keturunan Cina yang saya kenal pun di rumahnya bersarung. Waktu masih SMA, kalau menginap di rumah seorang kawan pasti saya dipinjami sarung bersih.</p>
<p><strong>Lalu kolor pun menggantikannya&#8230;</strong></p>
<p>Sampai saya kuliah di Yogyakarta, banyak teman di pondokannya bersarung. Perubahan mulai terasa pertengahan 80-an ketika saya masih mahasiswa. Celana kolor kian banyak ragamnya, tak hanya celana voli dan sepakbola seperti yang umumnya dipakai anak indekosan.</p>
<p>Dengan merujuk Yogyakarta, saya menduga celana kolor Malioboro &#8212; dari yang mori celup, batik, sampai celana selancar gaya Bali &#8212; telah menepiskan sarung sebagai busana harian di rumah. Memang sih, kolor lebih nyaman ketimbang sarung tenun halus yang mengkilap itu.</p>
<p>Ketika bersarung ke luar rumah, tapi bukan ke masjid, saya merasa dianggap aneh. Beberapa kali saya sudah membuktikan, misalnya ke warung dan <em>minimarket</em>. Siang hari bersarung, ke luar rumah, kok seperti pengangguran. :D Padahal di pedesaan itu biasa. Bahkan orang bersarung naik motor, terutama skuter, pun dulu biasa &#8212; kalau Bali sih masih.</p>
<p>Melihat gambar dan foto lama, banyak banget orang Indonesia yang dulu bersarung &#8212; lihatlah gambar <em>header</em> blog ini yang diambil dari kemasan tembakau Javaansche Jongens bikinan Belanda. :D  Juga banyak orang Indonesia yang dulu bercelana pendek (<em>lihatlah foto Tan Malaka <a href="http://blogombal.org/2008/09/03/batik-baju-safari-celana-pendek/">di sini</a></em>). Sekarang tidak. :D</p>
<p>Sarung, sebagai istilah pada era &#8220;politik aliran&#8221;, pernah menjadi  label untuk kalangan Islam &#8220;konservatif&#8221;. Misalnya &#8220;politik sarungan&#8221; dan &#8220;kaum sarungan&#8221;.  Padahal sarung tak ada hubungannya dengan agama, kan?</p>
<p>Apakah Anda, atau pasangan Anda, masih bersarung? :) Sarung diperjodohkan dengan kaos babah, oh alangkah nyamannya. Nggak <em>fashionable</em> sih, hehehe&#8230;</p>
<p><img class="alignnone" title="sarung babah murah meriah cocok untuk menemani sarung" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/barangku/blogombal-kaos-murah-jodohnya-sarung.jpg" alt="" width="450" height="405" /></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/04/24/sarung-sarung-ke-manakah-engkau-dilarung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>112</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Radio Transistor 2 Band</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/01/24/radio-transistor-2-band/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/01/24/radio-transistor-2-band/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Jan 2011 04:23:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[elshinta]]></category>
		<category><![CDATA[radio]]></category>
		<category><![CDATA[radio internet]]></category>
		<category><![CDATA[radio satelit]]></category>
		<category><![CDATA[RRI]]></category>
		<category><![CDATA[siaran berita]]></category>
		<category><![CDATA[transistor]]></category>
		<category><![CDATA[WorldSpace]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4094</guid>
		<description><![CDATA[MASIH ADA ORANG MENENTENG RADIO KE MANA-MANA. <p></p> <p>Sabtu kemarin, dari jarak 20 meteran tampaklah oleh saya: lelaki berpantalon merah dan berkaos polo di bawah pohon itu sedang mendengarkan radio transistor yang dibawanya. Ditelan kebisingan lalu lintas jalan di luar pelataran parkir sebuah tempat di Jakarta Pusat, saya tak mendengar itu siaran apa.</p> <p>Akhirnya saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MASIH ADA ORANG MENENTENG RADIO KE MANA-MANA.</h3>
<p><img class="alignnone" title="radio transistor 2 band dibawa ke mana-mana" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-radio-transistor-01.jpg" alt="" width="430" height="242" /></p>
<p>Sabtu kemarin, dari jarak 20 meteran tampaklah oleh saya: lelaki berpantalon merah dan berkaos polo  di bawah pohon itu sedang mendengarkan radio transistor yang dibawanya. Ditelan kebisingan lalu lintas jalan di luar pelataran parkir sebuah tempat di Jakarta Pusat, saya tak mendengar itu siaran apa.</p>
<p>Akhirnya saya mendekat. Ingin tahu.</p>
<p>Selama berjalan ingatan saya terlempar ke masa silam. Masa ketika radio transistor portabel dibawa orang ke sawah dan gardu ronda. Ya, mirip adegan dalam film <em><a href="http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-l013-08-531212/laskar-pelangi" target="_blank">Laskar Pelangi</a></em> yang berlatar tahun 70-an: radio transistor dibawa ke mana saja.</p>
<p>Saya terus melangkah, tanpa gegas. Tetapi melamun lebih cepat menjejalkan kata daripada berbicara.</p>
<p><img class="alignleft" title="pemilik radio transistor, penyimak berita RRI dan Elshinta" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-radio-transistor-02.jpg" alt="" width="200" height="358" />Radio transistor dua band, terutama yang kecil, pernah menjadi teman saya selama beberapa bulan ketika di desa, antara lain untuk teman penelitian, pada 80-an. Radio dua band merah cap National sering menemani saya saat mencuci pakaian di sumur, dulu ketika masih kuliah.</p>
<p>Saya kian dekat. Tinggal lima meteran lagi.</p>
<p>Suara radio mulai terdengar, tapi tak jelas.</p>
<p>Radio transistor berbanyak gelombang, seukuran novel, dengan preset digital, bermerek Sony, pernah menjadi teman saya pada 90-an, untuk mendengarkan siaran luar negeri karena informasi di Indonesia dibatasi. Bahkan di kantor, akhir 90-an, saya pernah akrab dengan radio transistor multiband Grundig yang menangkap siaran apa saja. Pada awal 2000-an, saya sempat akrab dengan radio dan siaran satelit WorldSpace.</p>
<p>Saya sudah dekat.</p>
<p>Jelas, itu suara siaran berita.</p>
<p>Lamunan menjejalkan ingatan seperti cerita pendek. Saya ingat, ketika menjadi repoter dulu, pada awal sampai medio 90-an, sangat mengandalkan stereo recorder Aiwa (seperti Sony Walkman) yang ada radionya. Cara saya untuk mengenal sebuah kota, bahkan di negeri lain, selain dari koran lokalnya adalah mendengarkan radio setempat. Hal ini terulang sekarang saat bermobil antarkota: mencari stasiun lokal.</p>
<p>Ketika sudah berdiri di sampingnya, saya menyapa pria usia mendekati 60 tahun yang sedang menjemput dua putri bosnya dari kantor notaris itu.</p>
<p>“Ini lagi dengerin RRI. Laporan Gunung Bromo,” ujarnya.</p>
<p>Dia kembali menyimak berita. Sesekali ada jeda, untuk melayani saya.</p>
<p>Kesimpulan saya, dia menyukai siaran berita radio. Terutama dari RRI dan Elshinta &#8212; termasuk pada dini hari dengan terang pagi.</p>
<p>Begitu keluar dari mobil, yang berarti radio mobil juga mati, dia segera menyalakan radio transistornya.</p>
<p>Lalu keluarlah opininya tentang Gayus, korupsi, bencana alam, dan persoalan aktual lainnya.</p>
<p>“<em>Radio, someone still loves you</em>,” kata Queen. Entah berapa kali saya mengutip ini di blog.</p>
<p>Radio. Kadang saya masih menyimaknya.</p>
<p>Radio menjadi teman perjalanan dan bekerja, tetapi selama sekian tahun belakangan jadi membosankan karena siaran <em>classic rock</em> M97 (Monalisa akhirnya jadi Radio Dangdut TPI dan kemudian Radio MNC), dan jazz berseling klasik CNJ (dimodali sejumlah pengacara, antara lain Todung Mulya Lubis), sudah padam.</p>
<p>Jauh hari sebelumnya, akhir 90an atau awal 2000, Top FM milik Puspen TNI tapi diperasikan swasta, yang spesialis musik klasik, dan disiarkan dari Atrium Senen, dengan sebagian pendengar dari kalangan ekspatriat, lebih dulu mati kehabisan napas.</p>
<p>Radio internet? Kadang saja mendengarkan. Bergantung pada kelancaran koneksi.</p>
<p>Apakah Anda masih mendengarkan berita radio? Berita, bukan musik maupun <em>talkshow</em>?</p>
<p>Masihkah?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/01/24/radio-transistor-2-band/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>95</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Korban Persepsi (dan Salah Sangka)</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/01/17/korban-persepsi-dan-salah-sangka/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/01/17/korban-persepsi-dan-salah-sangka/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jan 2011 11:17:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[cuek]]></category>
		<category><![CDATA[firnah]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[ketabahan]]></category>
		<category><![CDATA[persepsi]]></category>
		<category><![CDATA[salah dakwa]]></category>
		<category><![CDATA[salah sangka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4054</guid>
		<description><![CDATA[ANGGAP SAJA WARNA-WARNI KEHIDUPAN. :) <p></p> <p>Pria itu tersenyum ketika membaca sapaan di Facebook dari bekas sejawat, apakah dirinya masih suka masuk kerja sore hari. Soal datang sore itu belum tentu setahun lima kali. Kalaupun terjadi, beberapa kali karena pagi harinya dia baru keluar dari kantor.</p> <p>Masih ada beberapa orang yang mengira begitu. Hanya seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>ANGGAP SAJA WARNA-WARNI KEHIDUPAN. :)</h3>
<p><img class="alignnone" title="sepatu Converse Chuck  Taylor, Pink Floyd edition | © caliroots.com " src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/comotan/blogombal-sneakers-pink-floyd.jpg" alt="" width="430" height="339" /></p>
<p>Pria itu tersenyum ketika membaca sapaan di Facebook dari bekas sejawat, apakah dirinya masih suka masuk kerja sore hari. Soal datang sore itu belum tentu setahun lima kali. Kalaupun terjadi, beberapa kali karena pagi harinya dia baru keluar dari kantor.</p>
<p>Masih ada beberapa orang yang mengira begitu. Hanya seorang ibu kepala bagian, dan korps satpam, yang tahu bahwa pria itu hampir saban hari datang pagi. Hampir setiap hari. Sangat pagi. Sebelum <em>cleaning service </em>datang. Sebelum <em>office boy</em> tiba. Ketika kunci-kunci pintu masih tersimpan di markas satpam. Ketika pelataran parkir masih lengang. Selain dia, sebagai pembuka pintu adalah si ibu dari bagian lain itu.</p>
<p>Datang sore. Itu proyeksi persepsional orang lain. Tak selamanya terbuktikan secara statistik.</p>
<p>Tetapi bisa juga statistik dimainkan, dan tampak masuk akal. “Tiga kali saya bareng sampeyan lagi nggesek <em>ID card</em>,” kata saksi lain.</p>
<p>Tiga dari tiga kali jejer di mesin presensi berarti seratus persen. Sahih.</p>
<p>Tiga kali dalam rentang satu setengah tahun. Itu pun karena paginya lupa presensi. Kebetulan untuk profesi dan jabatannya tak ada kata telat dalam presensi, tapi juga tak ada jam lembur.</p>
<p>Tentang persepsi. Kita tak terima kalau persepsi itu negatif, dan cenderung merugikan “citra diri” kita.</p>
<p>Tetapi apakah persepsi kita tentang orang lain, tentang orang-orang biasa, bukan tokoh ternama, juga selalu benar? Apalagi jika kita diracuni oleh bisikan wangi kanan-kiri, depan-belakang, dan atas-bawah?</p>
<p>Teman saya, sebut saja Ngalimin, hampir tak peduli tentang begituan karena, “Semua orang baik sampai nanti terbukti sebaliknya.”</p>
<p>Bagi kita, apa yang kita harapkan itulah yang kita percayai. Maka ketika seseorang yang kita anggap ceroboh melakukan kelalaian biasa, kita akan mudah mengatakan, “Dasar…”</p>
<p>Tetapi ketika orang lain yang kita nilai <em>correct</em>, dan baik hati, melakukan kesalahan fatal, maka bisa saja kita menganggapnya hanya kealpaan, atau lagi apes.</p>
<p>Boleh tahu apakah Anda pernah korban persepsi? :) Baik yang ringan (misalnya selalu diidentikkan dengan celana pendek dan oblong) sampai yang agak serius (pemalas, ngantukan)? :D</p>
<p>Atau barangkali malah korban salah sangka bahkan salah dakwa dari peristiwa bertahun-tahun lampau gara-gara ucapan seseorang?</p>
<p>Seorang teman meyakini bahwa si Anuitu, ketika meminta visa ke sebuah kedutaan asing di Jakarta, menjawab, “<em>Sex? Yes, I like it! Twice a week!</em>”</p>
<p>“Kenapa sih dia bisa senaif dan senekat itu?” tanyanya kepada saya, tujuh tahun kemudian. Padahal saya tahu persis itu dulu hanya olok-olok. Hanya cerita karangan untuk guyon.</p>
<p>Masih untung kalau hanya lelucon. Benar atau salah tetap mengundang tawa. Tetapi jika, &#8220;Lho, jadi yang dulu ngambil aki mobil operasional itu bukan sampeyan to?&#8221; tentu berat juga.</p>
<p>Ketika kita dalam posisi penyangka atau pendakwa, karena bisikan orang lain, maka dengan mudah kita akan berkilah, &#8220;Kalo nggak ada bantahan berarti bener.&#8221; Berposisi sebagai polisi merangkap jaksa dan sekaligus hakim itu memang enak. :D</p>
<p>Yang paling sial adalah jika kita tak sadar bahwa selama bertahun-tahun menjadi korban salah sangka.</p>
<p>Yah, namanya juga kehidupan. Tabahlah. :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/01/17/korban-persepsi-dan-salah-sangka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>76</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Anda Sering Abai Tanggal?</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/12/06/apakah-anda-sering-abai-tanggal/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/12/06/apakah-anda-sering-abai-tanggal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Dec 2010 15:13:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[agenda]]></category>
		<category><![CDATA[budak jadwal]]></category>
		<category><![CDATA[hamba agenda]]></category>
		<category><![CDATA[kalendar]]></category>
		<category><![CDATA[kelender]]></category>
		<category><![CDATA[libur]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[prei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=3875</guid>
		<description><![CDATA[KALAU SAJA KITA BISA TERBEBAS DARI AGENDA APAPUN&#8230; <p></p> <p>Baru beberapa jam lalu saya tahu bahwa besok, 7 Desember, itu hari libur. Itu pun karena ada yang mengingatkan. Setahu saya hanya Natal dan tahun baru yang prei.</p> <p>Artinya saya bukan bisnisman karyawan yang baik. Bahkan sampai petang tadi saya masih merencanakan akan memanfaatkan Senin dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KALAU SAJA KITA BISA TERBEBAS DARI AGENDA APAPUN&#8230; </h3>
<p><img class="alignnone" title="kalender agenda blogombal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/bikin/blogombal-kalender-agenda.jpg" alt="" width="425" height="353" /></p>
<p>Baru beberapa jam lalu saya tahu bahwa besok, 7 Desember, itu hari libur. Itu pun karena ada yang mengingatkan. Setahu saya hanya Natal dan tahun baru yang prei.</p>
<p>Artinya saya bukan <span style="text-decoration: line-through;">bisnisman</span> karyawan yang baik. Bahkan sampai petang tadi saya masih merencanakan akan memanfaatkan Senin dan Selasa untuk merampungkan pekerjaan.</p>
<p>Sekian lama, bahkan sejak kuliah, saya memakai agenda. Kemudian ketika ada komputer maka agenda saya pindahkan ke digital. Ketika ada peranti genggam maka kalendarnya saya sinkronisasikan dengan komputer.  Google Calendar mempermudah itu. Kalau dulu ya Plaxo.</p>
<p>Ketika kini saya tidak lagi punya pekerjaan jelas maka sebisanya saya tak menengok kalendar, bahkan tahun ini saya tak memasang kalendar meja maupun dinding di &#8220;ruang kerja&#8221;.</p>
<p>Belakangan, tanggal pada arloji pun sering tertinggal, karena setelah bulan yang berumur 30 hari berlalu, tanggalnya tak saya majukan. Sampai segitunya&#8230; Padahal dulu saban pagi saya mengecek agenda di ponsel.</p>
<p>Lama kelamaan saya ingin terbebas dari itu, dan cukup mengandalkan ingatan serta pengingat dari orang lain. Mungkin ada desakan dari bawah sadar untuk merdeka, tak ikut jadwal orang lain. Tapi apa mungkin?</p>
<p>Selama saya berhubungan, hidup bersama, dan bergantung nafkah dari orang lain maka saya harus peduli jadwal. Bukankah supertriliuner pun tak dapat membeli semuanya dari orang lain?</p>
<p>Nah, kembali ke judul ya. Apakah Anda pernah mengabaikan tanggal? Seberapa sering? Adakah akibat buruknya? Bagi dong&#8230; :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/12/06/apakah-anda-sering-abai-tanggal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>67</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Piring Bu Musinah dan Cat Kuku Revlon</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/11/22/piring-bu-musinah-dan-cat-kuku-revlon/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/11/22/piring-bu-musinah-dan-cat-kuku-revlon/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Nov 2010 10:14:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[cap]]></category>
		<category><![CDATA[cd]]></category>
		<category><![CDATA[cutex]]></category>
		<category><![CDATA[ex libris]]></category>
		<category><![CDATA[letraset]]></category>
		<category><![CDATA[revlon]]></category>
		<category><![CDATA[rugos]]></category>
		<category><![CDATA[stempel]]></category>
		<category><![CDATA[stiker]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=3741</guid>
		<description><![CDATA[APAKAH ANDA SUKA MENANDAI PROPERTI PRIBADI? <p>Akhirnya saya tahu nama pemilik warung itu karena tadi tanpa sengaja mendapati tulisan pada bagian luar piring: Musinah. Dari atas, posisi mata orang sedang menyantap, nama itu tak tampak.</p> <p>Menandai peralatan makan adalah sebuah cara lama, masih dilakukan banyak penjual makanan dan pengurus RT, tapi yang ini dalam takaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>APAKAH ANDA SUKA MENANDAI PROPERTI PRIBADI?</h3>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img title="piring warung bu musinah" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/makan/blogombal-piring-ditulisi.jpg" alt="" width="400" height="225" /><p class="wp-caption-text">Penandaan secara manual berupa teks. Bagaimana kalau ada 12 lusin piring?</p></div>
<p>Akhirnya saya tahu nama pemilik warung itu karena tadi tanpa sengaja mendapati tulisan pada bagian luar piring: Musinah. Dari atas, posisi mata orang sedang menyantap, nama itu tak tampak.</p>
<p>Menandai peralatan makan adalah sebuah cara lama, masih dilakukan banyak penjual makanan dan pengurus RT, tapi yang ini dalam takaran yang kentara. Tak cukup dengan dot hasil totolan kuas bercat basah tapi nama dalam ukuran besar.</p>
<p>Nah, mau sekadar noktah atau teks, intinya sama: mempertegas pemilikan atas properti. Supaya tak tertukar. Agar tak diambil orang.</p>
<p>Personalisasi barang, melalui pelabelan, adalah soal jamak. Itu sebabnya kita menandatangani buku kita. Itu pula sebabnya toko Apple pun melayani grafir nama untuk iPod. Dan saya yakin <em>wallpaper</em> komputer dan ponsel Anda pun pasti berbeda dari bawaan pabrik. :)</p>
<p>Saya dulu, ketika masih sekolah, juga punya waktu untuk menandai lampu senter (dulu saya mengoleksi senter saku), beberapa model pisau potong Olfa,radio saku, <em>drafting pen set</em> (kalau Rapido itu merek), pengokot, perforator, dan benda lain.</p>
<p>Saya memakai Rugos atau Letraset (bisa juga putih), lalu setelah huruf tertempel saya olesi cat kuku bening. Cutex? Sulit mencari merek yang menjadi nama benda itu. Saya memakai Revlon, karena tahunya merek itu. Pramuniaga toko heran, dan mengamati kuku saya, tapi saya malas menjelaskan.</p>
<p>Tapi percayalah, yang bagus untuk mengolesi adalah cat kuku merek aneh, mungkin buatan RRC. Harganya separuh merek tenar, tapi butuh stok aseton supaya tidak <em>njendel</em>.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img title="stempel antyo rentjoko" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/makan/blogombal-stempel.jpg" alt="" width="400" height="334" /><p class="wp-caption-text">Kenapa tak memakai QR code? Yang arkais itu eksotis. :D</p></div>
<p>Penandaan personal yang masih saya lakukan sekarang ini hanya untuk buku dan kadang sampul CD. Untuk buku ada dua macam, yaitu stempel bertinta dan <em>emboss</em>.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img title="stempel antyo zaman sekolah" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/makan/blogombal-stempel-antyo-sekolah.jpg" alt="" width="400" height="188" /><p class="wp-caption-text">Stempel dan stiker buku zaman sekolah. Dulu dianggap kemlinthi. :D</p></div>
<p>Kalau stempel, itu kebiasaan sejak kuliah. Pesan stempelnya di kaki lima, bisa ditunggu. Saya punya beberapa versi,  dan yang paling saya sukai adalah gambar gunungan bikinan Malioboro karena rumit, padahal dikerjakan secara manual. Waktu itu saya juga menempelkan stiker, yang saya pesan melalui wesel.</p>
<p>Yah, semata untuk <em>ex libris</em>. :D Meniru ayah saya waktu muda, semua bukunya distempel. Dan seperti ayah saya, ketika usia menua maka saya tak sempat lagi menera semua buku. :D</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img title="Stempel pelubang untuk anak-anak! :D" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/makan/blogombal-stempel-lubang.jpg" alt="" width="400" height="198" /><p class="wp-caption-text">Stempel pelubang. Sebetulnya ini untuk anak-anak! :D</p></div>
<p>Selain stempel berkaret dan <em>emboss</em>, ada pula stempel pelubang. Saya punya beberapa. Ini sebetulnya mainan anak-anak. Ada yanggergambar kupu-kupu, burung, malaikat, ayam, dan bentuk spiral. Saya menerakan ini kalau belum sempat memakai stempel lainnya. Tapi kadang saya biarkan begitu sehingga beberapa buku saya, dan beberapa sampul CD, ada lubangnya.</p>
<p>Kalau Anda bagaimana? Bagi cerita dong&#8230;</p>
<p><em>* Sumber foto stempel zaman sekolah: <a href="http://terapikomik.blogdrive.com/archive/103.html" target="_blank">Binatangisme</a>, blog Terapi Komik</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/11/22/piring-bu-musinah-dan-cat-kuku-revlon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>64</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesta Blogger Menurut Saya</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/10/28/pesta-blogger-menurut-saya/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/10/28/pesta-blogger-menurut-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Oct 2010 18:33:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[blogger daerah]]></category>
		<category><![CDATA[blogger nasional]]></category>
		<category><![CDATA[blogger pusat]]></category>
		<category><![CDATA[maverick]]></category>
		<category><![CDATA[PB201]]></category>
		<category><![CDATA[pesta blogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=3526</guid>
		<description><![CDATA[DARI KOPDAR AKBAR SAMPAI BRAND. <p>Mengapa namanya Pesta Blogger (PB)? Notulen, dan terlebih arsip e-mail saat pembentukan panitia pada 2007 mestinya bisa bercerita riwayat nama, termasuk siapa yang mengusulkan. :D</p> <p>Bagi saya, misalkan ada nama lain, itu tetaplah sebuah pesta dari dan untuk bloggers: di situlah mereka bertemu dan berkumpul. Itu sebuah kopdar akbar, bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>DARI KOPDAR AKBAR SAMPAI BRAND.</h3>
<p>Mengapa namanya Pesta Blogger (PB)? Notulen, dan terlebih arsip <em>e-mail </em>saat pembentukan panitia pada 2007 mestinya bisa bercerita riwayat nama, termasuk siapa yang mengusulkan. :D</p>
<p>Bagi saya, misalkan ada nama lain, itu tetaplah sebuah pesta dari dan untuk <em>bloggers</em>: di situlah mereka bertemu dan berkumpul. Itu sebuah kopdar akbar, bahkan mestinya kopdar nasional.</p>
<p><strong>Resolusi: perlu atau tidak?</strong></p>
<p>Seorang teman secara sambil bertanya enaknya PB 2010 buat apaya ? Saya jawab, sebagai kopdar akbar itu adalah sebuah acara besar tapi santai. Nah, karena kopdar dua jam sudah bisa membuat jenuh, maka dibuatlah sejumlah acara secara simultan. Orang boleh memilih. Syukur kalau tercerahkan.</p>
<p>Lha memang adat dan adab <em>onliners</em> di Indonesia itu kopdar, kan? Tanpa kopdar, banyak orang merasa kurang guyub. Masa orang cuma kenal di internet. Ya to?</p>
<p>Dia lanjutkan apakah perlu ada pernyataan sikap untuk isu tertentu, misalnya yang bersifat “humanitarian”. Saya bilang, bisa saja bikin resolusi ini dan itu, tapi sebaiknya tidak diprakarsai oleh panitia.</p>
<p>Biarkan saja sejumlah orang, atau sejumlah wakil komunitas, yang merembuk sendiri tapi tidak mengatasnamakan hasilnya sebagai pernyataan peserta PB. Bahwa ternyata sebuah resolusi didukung oleh 99 persen peserta, bagi saya itu kebetulan saja.</p>
<p>Di sisi lain dari kalangan peserta bisa saja muncul sejumlah resolusi. Penandatangannya bisa orang-orang yang sama, tapi bisa juga tidak.</p>
<p>Misalnya Komunitas Blogger Penggemar Nasi Pecel menuntut agar pecel menjadi makanan wajib dalam setiap kopdar. Sementara Front Blogger Kaos Oblong mensyaratkan kaos sebagai baju kopdar tapi mengharamkan celana pendek. Dan Lingkar Blogger Suka Humor menuntut pemerintah agar tidak cengengesan menghina rakyat. Nggak masalah.</p>
<p>Santai sajalah. Tak usah membebani diri dengan hal berat, apalagi penuh busa retorika tapi pelaksanaannya seret. Anggap saja PB seperti simposium dalam arti yang sebenarnya: makan-minum sambil ngobrol. Mumpung ketemu, siapa tahu ketemunya setahun sekali – atau malah belum pernah.</p>
<p><strong><em>Bloggers</em> daerah dan <em>bloggers</em> pusat</strong></p>
<p>Setiap kali mendengar celetukan dikotomis tentang “<em>bloggers</em> daerah” dan “<em>bloggers</em> pusat” saya pun geli.</p>
<p>Setahu saya semuanya <em>bloggers</em> daerah, termasuk <em>bloggers</em> dan komunitasnya yang bermukim di Jakarta. Bisa juga tinggalnya di Bekasi, Jawa Barat, atau di Serpong, Banten, tetapi merasa sebagai orang Jakarta.</p>
<p>Nggak ada yang lebih maupun kurang. Nah, karena saya belum mendapatkan data sahih, apalagi pakai persentase biar keren (misalnya 68% atau 69% &#8212; yang kedua ini angka favorit saya), maka saya tak tahu berapa banyak <em>bloggers</em> Jabodetabekser yang aktif di Twitter.</p>
<p>Kok Twitter? Iya, setiap kali ada masalah di Jakarta maka <em>time line</em> ramai oleh kicauan tentang Ibu Kota. Jika yang ikut berkicau adalah <em>bloggers</em> cap Monas maka kesannya mendominasi.  Padahal kota lain juga punya masalah kan?</p>
<p>Bahwa pengicau Ibu Kota nggak paham soal di luar wilayahnya (kecuali bencana alam besar), karena mereka menilai masalah daerah lain itu terlalu lokal – misalnya semua tukang bakso serentak mogok berjualan – anggap saja mereka kurang gaul. Gampang to? :D</p>
<p>Ini serupa kita, orang Indonesia, tahu ada kota bernama Glasgow tapi Glaswegian nggak tahu Klaten, maka masalah ada di pihak yang tidak tahu. :P</p>
<p><strong>PB dan <em>brand</em></strong></p>
<p>Apakah Pesta Blogger harus dipatenkan sebagai <em>brand</em>, dan dikuasai pihak tertentu?</p>
<p>Nanti dulu. Misalkan saya menggunakan nama kegiatan Kumpul Ceria dari, katakanlah,  Komunitas Blogger Atambua, apakah itu boleh?</p>
<p>Jika menyangkut boleh dan tidak boleh maka berarti ada peraturan. Kalau saya <em>ngèyèl</em> soal legalitas, padahal Kumpul Ceria belum dipatenkan, mungkin “benar” – tapi tetap saja tidak elok.</p>
<p>Tapi boleh dong saya bikin Ceria Kumpul apalagi dengan logo yang mirip?</p>
<p>Ya – dan saya akan dianggap [1] <em>ndhagel</em> tapi <em>wagu</em>, atau [2] mencari masalah, plus [3] menambahi pekerjaan.</p>
<p>Jadi, saya nggak akan mempersoalkan kenapa Komunitas Blogger Atambua memakai dan menguasai secara sosial (maupun mungkin legal) Kumpul Ceria. Mereka punya hak historis. Jurus apapun yang saya pakai untuk <em>ngèyèl</em> dengan mudah akan terpatahkan.</p>
<p><strong><em>Brand</em> dan penyelenggara</strong></p>
<p><em>Brand</em> yang saya maksud bisa saja <em>brand</em>-<em>brand</em>-an, tanpa legalitas, tapi menancap di benak khalayak – minimal di benak penciptanya dan sudah dipublikasikan.</p>
<p>Bagaimana kalau Kumpul Ceria dari Atambua bukan gelaran komunitas <em>blogger</em> tapi gawean pabrik kecap atau toko terigu?</p>
<p>Sama saja. Mereka punya hak historis. Saya nggak berhak mempersoalkan. Tapi saya, dan komunitas baru saya (hanya berisi seorang; saya merangkap <em>founder</em>, ketua, dan anggota abadi), berhak membuat Mari Berkumpul Bergembira (MBB). Bahwa tak ada yang mau datang, itu lain soal.</p>
<p>Nah kalau acara saya, ya MBB itu, saya lembagakan bagaimana?</p>
<p>Lebih bagus. Ada panitia pengarah tetap, bernaung di bawah yayasan atau badan usaha, yang ujung-ujungnya ke perusahaan saya Ahagia Entosa Ejahtera, penerbit<em> e-book</em> semprul itu (jangan dicek ke Lembaran Berita Negara dan tambahannya).</p>
<p>Dengan pelembagaan maka urusan saya dengan mitra kerja dan sponsor menjadi lebih mudah. Kalau hanya dengan saya, urusannya menjadi antara lembaga dan perorangan, padahal <em>personal guarantee</em> saya cuma sarung batik kumal untuk pembungkus nangka di pohon.</p>
<p><strong>Lantas kenapa pesta akbar?</strong></p>
<p>Terserah penggagas, panitia, dan pendukungnya. Soal pilihan saja mau gelaran besar atau kecil. Mungkin saja lho, kalau cuma kopdar kecil, tapi dicitrakan nasional, malah akan memberi kesan eksklusif dan sektarian.</p>
<p>Tapi, eh…, bisa juga ding, biarpun dibuka untuk sebanyak-banyaknya orang tetap saja akan dianggap eksklusif: cuma mainan beberapa gelintir orang untuk mengerahkan bahkan memperalat massa.</p>
<p>Kalaupun ada pandangan begitu ya terserah. Tapi harap diingat, rombongan wisata yang pesertanya cuma sepuluh orang toh juga mengenal pembagian tugas, dan ujung-ujungnya cuma tiga orang (bahkan kurang) yang paling repot, lalu ada lainnya yang cuma penggembira. Keterlibatan, peran, kewenangan, dan tangung jawab itu kan mengenal porsi.</p>
<p>Terus, ya terus, kembali ke PB ya. Sudah tiga kali PB digelar, dan <em>chairmen</em>-nya adalah sobat-sobat saya, tapi baru sekali saya datang (PB 2009). Kenapa?</p>
<p>Ya nggak ada apa-apa, wong saya di dua PB sebelumnya kebetulan lagi repot. Yang pasti saya nggak punya masalah dengan <em>chairmen</em>, panitia, maupun Maverick, dan saya sangat menghargai kerja keras mereka.</p>
<p>Bahwa mereka (misalkan lho…) menganggap saya narablog bermasalah, ya itu masalah mereka. Yang penting saya merasa tak pernah  mengganggu mereka. :D</p>
<p><em>I’m a blogger. I’m still blogging. And I’m not your problem, guys.</em> :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/10/28/pesta-blogger-menurut-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>49</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berinternet dan Bermain Siput</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/08/25/berinternet-dan-bermain-siput/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/08/25/berinternet-dan-bermain-siput/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 13:17:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=3254</guid>
		<description><![CDATA[SEBUAH SELINGAN KETIKA INTERNET KIAN CEPAT DAN MELELAHKAN <p></p> <p>Anda jenuh dengan milis, blog, Facebook, dan Twitter, karena isinya terlalu banyak dan datangnya serentak? Cobalah bermain kartu pos. Lho, mundur dong? Biar. Buat selingan saja, anggaplah mencicipi masa lalu ketika menulisi kartu pos (dengan bolpen), menempelkan prangko, lalu  mengeposkan, belum menjadi beban.</p> <p>Rasa lama, sensasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>SEBUAH SELINGAN KETIKA INTERNET KIAN CEPAT DAN MELELAHKAN</h3>
<p><img class="normal" title="kartu pos postcrossing dari finlandia" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-postcard-02.jpg" alt="" width="370" height="272" /></p>
<p><img class="kiri" title="kartu pos bikinan antyo rentjoko bertanda pos keong hehehe" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-poskeong.png" alt="" width="75" />Anda jenuh dengan milis, blog, Facebook, dan Twitter, karena isinya terlalu banyak dan datangnya serentak? Cobalah bermain kartu pos. Lho, mundur dong? Biar. Buat selingan saja, anggaplah mencicipi masa lalu ketika menulisi kartu pos (dengan bolpen), menempelkan prangko, lalu  mengeposkan, belum menjadi beban.</p>
<p><strong>Rasa lama, sensasi baru</strong></p>
<p>Memang kartu pos beneran, bukan digital, itu menjadi urusan yang melelahkan. Membutuhkan waktu karena perjalanannya lama, sehingga ketika <em>e-mail </em> mulai dikenal abad lalu maka surat pos pun diledek sebagai <em>snail mail</em>, alias pos keong.</p>
<p><img class="normal" title="kartu pos buatan antyo rentjoko" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-postcard-01.jpg" alt="" width="370" height="191" /></p>
<p>Tapi sekarang penggabungan <em>snail mail</em> (tanpa <em>online tracking</em>) dan layanan internet malah mengasyikkan. Ada sensasinya karena kita tak tahu kapankah kartu pos kita, yang terkirimkan kepada orang yang tak kita kenal, itu akan tiba. Layanan semacam <a href="http://postcrossing.com" target="_blank">postcrossing.com</a> memberikan rasa itu. Selain itu kita juga menerima kartu pos dari orang yang belum kita kenal.</p>
<p><img class="normal" title="oh.... roti buayaku sayang!" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-rotibuaya.jpg" alt="" width="370" height="259" /></p>
<p>Bingung? Begini. Anda adalah A yang terdaftar sebagai anggota. Secara acak mesin PostCrossing akan memilihkan orang yang harus Anda kirimi, sebut saja si B, di Bulgaria. Nama dan alamat si B dikirim ke <em>e-mail</em> Anda. Nanti setelah si B menerima kartu pos Anda maka dia melaporkannya ke portal.</p>
<p><img class="normal" title="jakarta's slum: gang sempit di gandaria" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-gangsempit.jpg" alt="" width="370" height="259" /></p>
<p>Tanpa Anda ketahui ada si C di Chad yang diminta oleh mesin untuk mengirimkan kartu pos kepada Anda. Maka pada suatu hari Anda akan menerima kartu dari Deressia, Tandjilé, Chad. Tak ada kewajiban membalas, karena Anda cukup berterima kasih di portal. Kira-kira begitu aturan mainnya. Silakan Anda pelajari sendiri. :)</p>
<p><strong>Cobalah membuat sendiri</strong></p>
<p>Lantas kartu pos macam apa yang saya siapkan? Kartu pos bikinan sendiri, dengan foto hasil jepretan sendiri. Bukan karena mau gagah-gagahan sih, tapi karena lebih personal dan murah.</p>
<p><img class="normal" title="pintu warung di pejaten" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-pejaten-warung.jpg" alt="" width="370" height="259" /></p>
<p>Personal, karena kartu posnya tak dijual di toko &#8212; bahkan dicetak terbatas. Murah, karena biaya cetak digital A3 di atas <em>art carton</em> 310 gram (berisi lima kartupos,) adalah Rp 20.000. Berarti per kartu Rp 4.000, gambar dan teksnya sesuka Anda. Ongkos kirim ke seluruh dunia Rp 4.000, kalau ke Amerika Serikat Rp 5.000. Itu pos biasa, bukan kilat.</p>
<p>Adapun punggung kartu pos, bisa saja Anda biarkan polos. Saya sih menambahinya dengan mencetak sendiri sehingga rada mirip kartu pos beneran. :D Maksud saya supaya nggak menulis hal yang sama berulangkali, misalnya alamat.</p>
<p><img class="normal" title="kartu pos bikinan antyo rentjoko" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-postcard-03.jpg" alt="" width="370" height="186" /></p>
<p>Apa kelebihannya bikin sendiri? Untuk saya berarti mengirimkan gambar keseharian Indonesia yang tak ada dalam kartu pos di toko. Kalau gambarnya Candi Borobudur dan sawah berundak di Bali, banyak orang sudah melihatnya. Terlalu turistis. :D Maka saya memilih gambar seperti yang sering muncul di blog, misalnya di <a href="http://oh.blogombal.org/" target="_blank">Oh! Blogombal</a> dan <a href="http://memo.blogombal.org/" target="_blank">Memo</a>.</p>
<p>Saya sadar kualitas foto saya buruk, antara lain karena hasil jepretan kamera saku biasa dan kualitas cetak instan digital yang ajaib. Tak apa, bukan soal. Namanya juga bikinan sendiri. :P</p>
<p><img class="normal" title="penjual bunga di jalan ahmad dahlan jakarta" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-florist.jpg" alt="" width="370" height="259" /></p>
<p><strong>Konten Indonesia di ranah digital oleh orang biasa</strong></p>
<p>Saya juga sadar bahwa gambar yang saya kirimkan tidak cantik, tidak mentereng, jauh dari gemerlap kemakmuran urban, komposisinya pun tak enak (lihat <em>Crocodile Bread</em>, itu konsekuensi <em>cropping</em> kepala), tapi saya merasa inilah cara lain untuk menyatakan Indonesia. Seburuk apapun kondisi negeri ini (padahal nggak buruk-buruk amat), tetap ada semangat hidup. Ada humor di sana. Ada kegembiraan. Ada semangat. Semuanya dari sudut mata orang biasa yang sekaligus orang dalam. Jadi, ini bukan menjual &#8220;eksotisisme kekumuhan&#8221;. :P</p>
<p>Misalnya keterangan kartu pos tentang perangkai bunga yang ngelembur hingga pagi:</p>
<blockquote><p><strong>FLORIST AT WORK.</strong> In the middle of the night a florist in Jalan Ahmad Dahlan, Jakarta, is still decorating painted styrofoam greeting-board. Most of Indonesian business people greet each other with floral boards, so the party venues will be full of boards.</p></blockquote>
<p>Memang sih kartu pos saya, berikut keterangan fotonya, menjadi seperti foto koran; agak berbau jurnalistik. Apa boleh buat. Saya memang mengirimkan informasi, bukan sekadar gambar tanpa kapsi yang masih harus ditafsir-tafsir seperti umumnya foto &#8220;seni&#8221;. Inilah sebagian sisi <em>daily life</em> kita yang saya akrabi, karena toh ada keseharian lain yang bukan menjadi bagian dari kehidupan rutin saya.</p>
<p><img class="normal" title="kartu pos antyo rentjoko" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-jual-pulsa.jpg" alt="" width="370" height="259" /></p>
<p>Bagaimana kalau bahasa Inggris kita salah? Pede dan cuek saja, kayak saya. Di Inggris dan Amerika pun banyak orang yang tidak dapat berbahasa Inggris dengan baik dan benar. Itulah sebabnya portal kebahasaan di negeri itu bisa bertahan; banyak orang yang ingin belajar. Ingat, nggak semua orang berbahasa ibu Inggris itu cakap berbahasa selayaknya editor <em>The Economist</em> dan <em>Time</em> &#8212; apalagi sepiawai profesor hukum di Universitas Yale. :D</p>
<p><img class="normal" title="kartu pos antyo rentjoko: korek gas untuk umum" src="http://img823.imageshack.us/img823/2273/blogombalpostcardlighte.jpg" alt="" width="370" height="259" /></p>
<p>Bermain &#8220;kartu pos silang&#8221; (<a href="http://www.facebook.com/postcrossing" target="_blank"><em>post crossing</em></a>, bukan kartu pos berantai),  menambah kesempatan  saya untuk  berkreasi, berkonten, dan merawat kewarasan karena punya saluran untuk bersenang-senang. Entahlah kalau suatu saat saya bosan. :D</p>
<p>Internet memberikan penyaluran untuk kreativitas Anda. Bukan hanya blog dan pembaruan status di Twitter maupun Facebook, tapi juga <a href="http://issuu.com/antyo/docs/kedai-merahh-antyo" target="_blank"><em>e-book</em></a> dan kartu pos. Mari.</p>
<p>Percayalah, setiap orang itu (boleh merasa) kreatif.  Terlalu banyak &#8220;<em>tapi&#8230;</em>&#8220;, &#8220;<em>padahal&#8230;</em>&#8220;, &#8220;<em>sebenernya sih&#8230;</em>&#8220;, dan &#8220;<em>maunya sih gitu&#8230;</em>&#8221; tak akan menghasilkan, minimal untuk diri sendiri. :D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/08/25/berinternet-dan-bermain-siput/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku-bukuan: Antara Iseng dan Serius</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/07/12/buku-bukuan-antara-iseng-dan-serius/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/07/12/buku-bukuan-antara-iseng-dan-serius/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 11:16:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[dokumen digital]]></category>
		<category><![CDATA[e-book]]></category>
		<category><![CDATA[ebook]]></category>
		<category><![CDATA[makalah]]></category>
		<category><![CDATA[naskah digital]]></category>
		<category><![CDATA[PDF]]></category>
		<category><![CDATA[rasa kertas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2802</guid>
		<description><![CDATA[SETELAH NGEBLOG AKANKAH ANDA MENGUNGGAHKAN BUKU DIGITAL? <p></p> <a href="http://issuu.com/antyo/docs/antyo-dan-blognya?mode=embed&#38;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flighticons%2Flayout.xml&#38;showFlipBtn=true" target="_blank">Open publication</a> &#8211; Free <a href="http://issuu.com" target="_blank">publishing</a> &#8211; <a href="http://issuu.com/search?q=writing" target="_blank">More writing</a> <p> Bermula dari melihat <a href="http://evolitera.co.id" target="_blank">Evolitera</a>, semacam jawaban Indonesia untuk layanan penerbitan personal <a href="http://issuu.com/">Issuu</a> dan <a href="http://www.scribd.com/" target="_blank">Scribd</a>, saya pun berniat menyumbangkan karya. Halah karya, kemaki banget? Memang. Itu pun berbau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>SETELAH NGEBLOG AKANKAH ANDA MENGUNGGAHKAN BUKU DIGITAL?</h3>
<p></p>
<div><object style="width:420px;height:270px" ><param name="movie" value="http://static.issuu.com/webembed/viewers/style1/v1/IssuuViewer.swf?mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flighticons%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true&amp;documentId=100713034039-e4b6bb321e5941e4b1823b5031656fe1&amp;docName=antyo-dan-blognya&amp;username=antyo&amp;loadingInfoText=Saya%20dan%20Blog%3A%20Sepaket%20Pengakuan%20Gombal&amp;et=1279100299856&amp;er=0" /><param name="allowfullscreen" value="true"/><param name="menu" value="false"/><embed src="http://static.issuu.com/webembed/viewers/style1/v1/IssuuViewer.swf" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" menu="false" style="width:420px;height:270px" flashvars="mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flighticons%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true&amp;documentId=100713034039-e4b6bb321e5941e4b1823b5031656fe1&amp;docName=antyo-dan-blognya&amp;username=antyo&amp;loadingInfoText=Saya%20dan%20Blog%3A%20Sepaket%20Pengakuan%20Gombal&amp;et=1279100299856&amp;er=0" /></object>
<div style="width:420px;text-align:left;"><a href="http://issuu.com/antyo/docs/antyo-dan-blognya?mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flighticons%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true" target="_blank">Open publication</a> &#8211; Free <a href="http://issuu.com" target="_blank">publishing</a> &#8211; <a href="http://issuu.com/search?q=writing" target="_blank">More writing</a></div>
</div>
<p>
Bermula dari melihat <a href="http://evolitera.co.id" target="_blank">Evolitera</a>, semacam jawaban Indonesia untuk layanan penerbitan personal <a href="http://issuu.com/">Issuu</a> dan <a href="http://www.scribd.com/" target="_blank">Scribd</a>, saya pun berniat menyumbangkan karya. Halah karya, kemaki banget? Memang. Itu pun berbau kecelakaan. Lho,kok?</p>
<p>Begini ceritanya. Niat menyumbang itu bersamaan dengan saya menggarap tata letak sebuah panduan, yang celakanya macet terus aplikasinya, bahkan komputernya pun ngadat. Apa sebabnya saya tidak tahu. Niat saya, begitu pekerjaan itu rampung, segera membuat sesuatu untuk Evolitera. Membuat semacam<em> e-book</em>, yang menyertakan rasa kertas ketika dibaca melalui aplikasi web (seolah-olah memang buku terjilid), tapi hanya menjadi PDF biasa jika dibaca dengan aplikasi pembaca PDF.</p>
<p>Dengan <em>restart</em> berkali-kali, saya garap pula sebuah <em>dummy</em> dengan <em>blind text</em> berisi &#8220;lorem ipsum&#8221;, dan hurufnya menggunakan Times New Roman serta Arial agar setelah jadi PDF biasa dapat dibaca oleh semua komputer dan sistem operasi. Mau diisi apa belum tahu. Eh, ternyata malah lancar.</p>
<p>Maka jadilah buku-bukuan, tepatnya buklet-bukletan yang ukurannya kegedean karena semajalah (dengan tata letak memajalah pula), yang saya juduli <strong><em>Saya dan Blog: Sepaket Pengakuan Gombal</em></strong> &#8212; yang setelah jadi saya unggahkan ke <a href="http://www.evolitera.co.id/themes/main/product.php?product_id=286&amp;language=en" target="_blank">Evolitera</a> dan kemudian <a href="http://issuu.com/antyo/docs/antyo-dan-blognya" target="_blank">Issuu</a> yang lebih responsif. Lantas isinya mengalir saja, saya buat di Notes, dengan merujuk kuota karakter.</p>
<p>Mungkin rada aneh, desain dulu baru teks beneran. Sebetulnya tidak. Ini hal biasa di media cetak &#8212; begitu pun dalam penggarapan iklan (untuk) cetak. Baiklah saya bercerita melenceng dulu. Pada era pra-<em>desktop publishing</em>, editor koran menyimpan contoh <em>font</em> untuk <em>headlines</em> berikut jumlah maksimal karakternya. Contoh itu biasanya disimpan di bawah kaca meja.</p>
<p>Pada zaman itu, reporter mengetikkan laporan pada sebuah kertas buram (&#8220;kertas pastor&#8221;, bukan &#8220;kertas <em>doorslag</em>&#8220;) yang sudah disertai garis pedoman konversi, misalnya sekian baris tik-tikan dua spasi akan setara satu kolom cetak setinggi 5 cm. <em>Kompas</em> dan <em>Tempo</em> mengalami masa-masa itu.</p>
<p>Pada masa itu pula <em>cut-and-paste</em> dalam penyuntingan berlangsung manual: paragraf dipotong dan dipertukarkan dengan bantuan gunting dan lem. :D Setelah di-<em>fiat</em>, atau disetujui (di-<em>acc</em>, di-<em>approve</em>), naskah compang-camping itu diserahkan kepada <em>setter</em>, penata huruf, yang di kemudian hari tak perlu memilih dan menancapkan huruf-huruf timah ke matris cetak karena komputer menggantikannya. Para <em>setter</em> ini hapal kode-kode koreksi, berupa coretan pada kertas, suatu hal yang juga dipahami oleh para sekretaris pada masa itu (salah satu buku panduan bagi calon sekretaris, terbitan <a href="http://www.ppm-manajemen.ac.id/" target="_blank">PPM</a> Jakarta, 1985, memuat tabel simbol koreksi).</p>
<p>Semua media cetak Indonesia yang berumur lebih dari 35 tahun mengalami masa-masa merepotkan itu. Mungkin hanya editor puisi di <em>Horison</em> yang tak terlalu pusing, karena bisa main kira-kira, lantas urusan selanjutnya diserahkan ke <em>setter</em> dan penata letak, orang-orang <em>paste up</em> itu. Apalagi jika puisinya aneh, karena tik-tikan membentuk gambar, atau setidaknya berupa paragraf panjang yang bukan &#8220;satu baris satu <em>enter</em>&#8220;. Ruang kosong tinggal diganjal dengan <em>vignette</em>.</p>
<p>Lantas apa urusan masa lalu &#8212; yang kata orang sekarang &#8220;<em>gak penting, gue blom lair</em>&#8221; (sebuah cara mengindari bahasan sejarah) &#8212; itu dengan e-book dan naskah digital?</p>
<p>Singkat saja. Komputer bisa membantu kita menjadi penerbit personal. Semua tahap produksi sudah diringkas, sehingga laptop pun dapat mengerjakannya. Urusan berikutnya adalah kreativitas. Soal mutu, itu urusan pembaca karena merekalah yang mengadili.</p>
<p>Salah satu alasan pembaca berhak mengadili, meskipun<em> e-book</em>-nya dibikin gratis, adalah karena mereka membayarnya dengan waktu, <em>bandwidth</em>, dan setrum.</p>
<p>Cobalah Anda manfaatkan masa transisi dengan memasukkan <a href="http://bit.ly/dhzxLg " target="_blank">rasa kertas</a> ke dalam web.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/07/12/buku-bukuan-antara-iseng-dan-serius/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

