PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK
KALAU SAJA TANPA BANYAK TAPI.
Berani juga kedai di Jakarta Selatan ini. Kalau makanan tak enak maka uang dikembalikan. Sayang saya belum mencobanya -- karena tujuan saya memang warung di sebelahnya.
Kemarin petang itu, ketika baru menjepret saya didatangi pramusaji yang menawarkan menu. Saya lupa bertanya, apakah uang boleh kembali tanpa tapi. Maksud saya apa saja syarat dan ketentuannya.
ADA BEBERAPA KESAMAAN. MENURUT ANDA?
Sejumlah pria ngobrol ringan. Satu bercerita lainnya mengiyakan lalu tertawa bersama. Pengalamannya sama. Khususnya dalam soal pakaian. Pertama: cenderung mengambil celana dalam, sapu tangan, dan kaos dari tumpukan teratas -- padahal si peletak pakaian tersetrika tidak menerapkan FIFO seperti kotak beras.
Kedua? Untuk pria penyuka busana plain, taruh kata kemeja putih dan celana khaki (atau jins), maka jumlahnya banyak tapi tak kentara, sehingga istrinya bosan. Suami tampak tak pernah ganti, tapi selalu percaya diri.
KENAPA YA ADA KURANG NYAMAN DI MATA?
Yah, sayanya saja yang lancang dan sok tahu. Jadi maafkanlah saya. Kenapa? Setiap kali melihat papan nama pada (sebagian) bangunan pemerintah atau semipemerintah, kadang saya kurang sreg dengan tipografinya.
Contoh paling tidak enak adalah "papan nama" ruang di Sasono, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Lantas saya mengandaikan huruf itu diganti dengan yang kayaknya lebih cocok.
MEMIRIPKAN DIRI ITU JUGA KREATIF LHO.
Iklan Blue Bird di The Jakarta Post ini mungkin ditujukan untuk ekspatriat dan turis asing. Intinya jangan sampai keliru. Jangan asal biru.
Hak Blue Bird untuk melakukan itu. Bahwa ada kompetitor yang akan tersengat maka urusannya silakan diperpanjang sampai pengadilan, sambil masing-masing mengerahkan opini publik.
MULAI ADA TESTIMONI YANG BER-"SAYA".
Nah, saya mulai saru? Terserah opini Anda. Payudara bisa menjadi obrolan saru tapi bisa juga jadi bincang sewajar anggota tubuh yang lain. Maka marilah kita mulai dari iklan ini. Modelnya Diah Permatasari.
Apanya yang menarik? Anda (pria) mau bilang, "Yang menarik itu ya, ehm..." Baiklah, saya tegaskan: yang menarik itu ya iklannya.
NAMA DAGANG ADALAH CITA-CITA DAN DOA.
Nama toko ini tidak segenerik "Maju Jaya", "Makmur Abadi", "Sukses Mandiri", dan sejenisnya. Namun dari segi maksud tidaklah jauh.
"Enggal Sugih", kalau diartikan dari bahasa Jawa (padahal lokasinya di Parahiyangan), berarti cepat kaya. Dengan cara apa? Jadi poli-tikus atas nama kepentingan rakyat? Tampaknya tidak.
IKLAN DUKUNGAN POLITIK, REZEKI BAGI MEDIA.
Te(r)rorist memasang iklan di halaman depan koran Galamedia. Isinya seruan, tepatnya "intruksi" (bukan instruksi) agar anggota memilih duo Da'i (Danny dan Iwan) dalam Pilgub Jabar.
Iklan itu tampaknya bukan semata seruan internal pengurus, melainkan bukti dukungan korps terhadap kandidat.
SEGALA MASALAH ADA SOLUSINYA.
Baiklah, saya tak akan berboros kata soal layanan meneguhkan temali kasih ini. Saya sudah membahasnya. Yang menarik dari layanan yang saya temukan di koran NonStop ini adalah ekstranya: bisa membantu memenangi pilkada.
Yang saya belum tahu, karena belum mengecek, adalah kemungkinan menangani dua kompetitor (atau lebih) sekaligus. Tapi, ah, mestinya sudah ada etika kerja pribadi yang mengatur pelayanan terhadap klien.
NAMANYA JUGA MASYARAKAT MODERN.
Promosi jasa penghulu untuk nikah siri ini bagi saya hal yang baru. Selama ini saya hanya mendengar. Itu pun karena saya ditanya oleh orang lain yang meneruskan pertanyaan temannya, akibat ditanya oleh kawan dari sohibnya, tersebab oleh permintaan tolong sejawatnya, dan entah kenapa sampai ke saya dengan pemakluman santun, "Sapa tau Mas ada info gitu lho..."
Bukan urusan mata rantai pertanyaan yang akan saya bahas. Tapi ketersediaan jasa khusus yang ternyata beragam. Konon salah satu ciri masyarakat modern adalah pembedaan pekerjaan yang beragam.
BUKAN SALAH SI RUBRIK JODOH.
Bagi saya, surat pembaca ini bukan lelucon. Ini drama pahit. Perlu keberanian bagi korban untuk menulis di Kompas, dengan risiko akan ditertawakan oleh orang sinis miskin empati, "Salah sendiri kenapa nyari suami lewat koran."
Mencari suami lewat rubrik jodoh, dengan memampangkan foto diri, adalah langkah berani. Kenapa di internet bisa? Alamnya berlainan. Koran, saat ini, adalah media lama, yang bisa digunting lalu diedarkan (termasuk via web).
Maaf, shoutbox prei dulu. Harap, eh harus maklum. Terima jadi. :)