PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK

SPANDUK KAIN LEBIH MAHAL TAPI (TERKADANG) LEBIH "NYENI".
Saya tak tahu sekarang ini berapa ongkos bikin spanduk untuk warung tenda. Dua belas tahun lalu (ya!), seorang penjual sari laut mengeluarkan Rp 200.000 untuk kain rentang yang tingginya sekitar satu meter (atau 90 cm?) dan panjangnya empat meter. Itu pun tak jadi dalam sehari. Sekarang dengan cetak digital, spanduk (plastik) yang berukuran sama cuma berongkos Rp 72.000 ribu –– biaya per meter perseginya Rp 18.000.
Plastik lebih kaku tapi kedap air. Usia pakainya, untuk luar ruang dengan tinta murah, bisa enam bulan. Karena ini negeri pemulung, plastik bekas spanduk itu selalu ada yang memanfaatkan. Misalnya untuk alas tikar.
MARI BERBAGI PENGALAMAN TENTANG NYAMUK.
Saya tidak tahu kapan barang inovatif seharga Rp 30.000 - Rp 40.000 ini muncul: raket (anti)nyamuk. Rasanya sih belum ada sepuluh tahun. Saya memilikinya tahun lalu, karena anak saya memintanya. Lumayan, mestinya raket yang rechargeable ini masih awet kalau tidak terjatuh dua pekan lalu. Akhirnya saya beli lagi akhir pekan kemarin. Meskipun begitu, saya baru memanfaatkan raket pada musim kemarau sekarang ini. Baru satu setengah bulan terakhir.
Nyamankah? Tidak. Karena tangan harus sering bergerak, terutama saat nyamuknya banyak. Repot kalau sedang mengetik. Tapi bagi Mazirwan, itu bagus, karena bisa mengusir nyamuk sekalian berolahraga.
MAKA KENANGLAH NILAI TUKAR RUPIAH (SEJAUH ANDA INGAT).
Dengan selembar dua ribu rupiah, apa yang akan Anda dapatkan? "Selembar dua ribuan" dan "uang duaribuan", adalah istilah baru yang muncul tahun ini, bulan ini. Belum banyak berita kisah (features), dan terutama fiksi, yang sampai hari memakai istilah itu sampai hari ini.
Denominasi baru memunculkan istilah baru. Dalam belantara teks, terbukti bahwa blog lebih dulu memakainya. Misalnya Junaidi Muadzin: "selembar uang dua ribu".
DIMULAI DARI BERKENALAN. SEDERHANA SIH.
Judul gombal. Cuma memancing perhatian. Tapi sabar. Tunggu dulu. Tadi siang jelang sore di tengah hujan, saat menunggu jemputan di teras sebuah pusat perbelanjaan, saya mendapatkan sebuah pengalaman. Seorang Nona Manis, resepsionis, usai menutup telepon langsung bilang ke satpamwan bersafari gelap di sebelahnya, "Orang yang itu tuh, nelpon dari depan sana." Lalu keduanya tertawa kecil.
Dasar tak tahu malu, saya pun nimbrung, "Cieeee... sering ya dikontak-kontak?" Si Nona tersenyum manis. Satpamwan tertawa ramah. Mungkin dia pikir sesama profesi tak perlu berahasia.
MUNGKIN BASI, TAPI TETAP MENGGUGAH.
Ternyata saya memang kurang perhatian. Sudah cukup lama saya tahu kehadiran pensil O'bon di toko dengan kemasannya yang cantik (@ Rp 4.000). Tapi baru tadi saya ngeh bahwa pensil itu tidak berbahan kayu melainkan kertas koran -- itu pun setelah diberitahu anak saya. Lantas saya membuktikannya. Ketika diserut, ujung pensil menampakkan gulungan kertas. Sungguh sebuah kemajuan dalam empat abad pensil.
Jelas, pensil ini mengibarkan semangat cinta lingkungan. Wajarlah jika karton wadah pensil pun bisa dijadikan pembatas buku.
BOLEH DIGANTI "BEGADANG BOLEH SAJA, ASAL ADA ARTINYA".
Struk salah satu gerai Apotek K24 di Mrican, Yogyakarta, ini menarik. Bukan "semoga lekas sembuh" (karena tak semua orang yang ke sana sedang sakit) melainkan "HATI YANG GEMBIRA ADALAH OBAT". Betul, dalam huruf kapital, seperti ditampakkan oleh gambar.
Mungkin tak istimewa. Hampir semua cash register bisa menambahkan basa-basi. Artinya, info di luar harga boleh dibaca, boleh pula tidak. Suka-suka ndoro sinyo dan den ayu begitulah.
SEBAGAI SLOGAN MEMANG ENAK...
Tiga kantong es minuman entah rasa apa untuk tiga anak. Masing-masing mestinya satu. Tapi saat menepi di luar lapangan mereka bertiga ingin bertukar rasa. Lupakan soal higiene asupan toh nyatanya tubuh mereka sehat, kuat berlari dan berebut bola sepak.
Lalu datanglah satu anak lagi. Tak jelas terdengar adakah pinta penuh ancam dan paksa, yang pasti terlihat minuman itu akhirnya untuk berempat. Lalu berebut, dengan tertawa-tawa.
DUNIA PRIA (DAN DUNIA WANITA).
Cukup dengan siluet lelaki saja sebetulnya signage itu sudah membuat orang tahu bahwa itu kamar kecil pria. Tapi si desainer ingin mempertegas. Maka memancurlah air dari bagian di bawah perut si pria. Eh, masih kurang. Sambil pipis, si pria itu bersiul -- atau berdendang. Tapi, oh, ibarat naik sepeda dia malah los setang. Tangannya di belakang.
Kalau itu terjadi betulan, Mas Kliningserpis pasti akan kerepotan. Terlalu banyak urine yang "slaha pkous". Berceceran, begitulah.
LCD YANG SEBANGSA HAND-BODY.
Beberapa tahun lalu ketika saya masih ngantor, ada orang mau pinjam InFocus. Dengan senang hati saya tolak."Ndak punya, je," kata saya. Kemudian dia datang lagi, "Lho, katanya Mas punya. Kami mau pinjem LCD kok, Mas." Saya tunjukkan monitor LCD saya, "Waduh nuwun sewu, sedang saya pakai buat kerja, je..."
Ingatan itu muncul ketika kemarin saya bertandang ke sebuah kantor. Si tuan rumah, kebetulan blogger juga, mempresentasikan pokok pikirannya memakai InFocus.
BISA DITIRU PRIA PENYEPEDA MOTOR.
Sudah biasa sih. Cuma cara untuk melindungi kulit lengan dari panggangan Matahari. Pemakainya, sejauh saya tahu, adalah dua dunia yang berbeda. Kelompok pertama adalah pekerja proyek dan penyapu jalanan. Kelompok kedua adalah wanita pengemudi mobil.
Kelompok pertama biasanya memakai kaos lengan panjang kemudian di luarnya dirangkapi kemeja atau kaos. Lumayan untuk mengurangi kerusakan kulit.
Maaf, shoutbox prei dulu. Harap, eh harus maklum. Terima jadi. :)