<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blogombal [√] &#187; Selingan</title>
	<atom:link href="http://blogombal.org/category/selingan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogombal.org</link>
	<description>catatan ringan angin-anginan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 10:35:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Mencari Janda Kesepian, Mendamba Pria Royal</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/11/26/mencari-janda-kesepian-mendamba-pria-royal/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/11/26/mencari-janda-kesepian-mendamba-pria-royal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Nov 2010 20:51:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selingan]]></category>
		<category><![CDATA[asmara]]></category>
		<category><![CDATA[cari istri]]></category>
		<category><![CDATA[cari suami]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[gebetan]]></category>
		<category><![CDATA[humor]]></category>
		<category><![CDATA[iseng]]></category>
		<category><![CDATA[jomblo]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[kesepian]]></category>
		<category><![CDATA[koran sentana]]></category>
		<category><![CDATA[rubrik jodoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=3786</guid>
		<description><![CDATA[BELAJAR DARI SENTANA: DUNIA ORANG KESEPIAN. <p>Rentang usia pria yang diminati &#8220;gadis anggun&#8221; 22 tahun ini boleh juga: usia 30-50 tahun. Oh, biasalah wanita muda mencari pria yang lebih tua. Apakah syarat yang ini juga biasa: single, kerja tetap, dan royal? Hanya untuk teman fun dan jalan-jalan?</p> <p>Misalkan itu biasa berarti prinsip ekonomi ditegakkan. Meraih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>BELAJAR DARI SENTANA: DUNIA ORANG KESEPIAN.</h3>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img title="mencari pria royal, suka buang duit" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-sentana-royal.jpg" alt="" width="400" height="271" /><p class="wp-caption-text">Royal bisa berarti bangsawan, bisa juga suka mentraktir</p></div>
<p>Rentang usia pria yang diminati &#8220;gadis anggun&#8221; 22 tahun ini boleh juga: usia 30-50 tahun. Oh, biasalah wanita muda mencari pria yang lebih tua. Apakah syarat yang ini juga biasa: <em>single</em>, kerja tetap, dan royal? Hanya untuk teman <em>fun</em> dan jalan-jalan?</p>
<p>Misalkan itu biasa berarti prinsip ekonomi ditegakkan. Meraih tujuan dengan sekecil mungkin biaya. Ada yang bilang itu cara <em>smart</em>. Yang lain berkomentar itu cara pemalas.  Bagi Anda mungkin persoalannya bukan <em>smart</em> atau malas, tapi caranya <em>sophisticated</em> atau tidak.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img title="koran sentana penampung pesan wanita kesepian" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-sentana-pelit.jpg" alt="" width="400" height="250" /><p class="wp-caption-text">Tidak pelit. Penting itu! Percuma banyak duit kalau kikir.</p></div>
<p>Numpang baca rubrik &#8220;SMS Jalinan Kasih Sayang&#8221; di koran <em>Sentana</em>-nya pemilik kios rokok bisa membuat saya tersenyum. Saya tak tahu berapa sekarang tiras koran yang bersemboyan &#8220;Mengabdi Kepentingan Umum&#8221; itu. Belum tertebak jumlah pembaca yang mengikuti rubrik itu.  <em>Sentana</em> dulu adalah koran mingguan, kemudian sejak 2006 (kalau tak salah) menjadi koran harian.</p>
<p>Melihat entri rubrik ini saya mendapati kepingan potret zaman, terlepas dari soal apakah keseluruhannya benar. Lima tahun lagi rubrik macam ini mungkin sudah raib, digantikan oleh layanan internet yang entah apa bentuknya.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img title="rubrik jodoh dan kencan di koran sentana" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-sentana-kesepian.jpg" alt="" width="400" height="184" /><p class="wp-caption-text">Orang kesepian mencari teman yang juga kesepian. Itu namanya klop.</p></div>
<p>Tetapi apapun rupa medianya kelak, persoalan manusia tetap. Salah satunya  adalah kesepian. Katup pelepasanya bisa serius, bisa iseng &#8212; atau gabungan keduanya: iseng tapi akhirnya serius (boleh jadi malah sebaliknya).</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img title="butuh curhat" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-sentana-janda-cuthat.jpg" alt="" width="400" height="185" /><p class="wp-caption-text">Hanya butuh curhat. Selebihnya entah.</p></div>
<p>Perjalanan media sekarang cepat sekali. Dulu sebelum ada internet, puluhan tahun rubrik sahabat pena dan penampung <em>vignette</em> bertahan. Setelah internet meluas, dan produk teknologi digital semakin murah, maka jejaring sosial dan media penampung karya terus bermunculan dan terus berubah. Tiga tahun silam Twitter belum seriuh sekarang, kan?</p>
<p>Dalam setiap perubahan selalu ada peralihan, baik yang di dalam arus utama maupun di luarnya. Rubrik ini adalah bagian dari peralihan di luar arus informasi digital. Kita tak tahu adakah arsip digitalnya selepas proses pencetakan. Tapi, eh, siapa tahu sudah dibuatkan versi PDF-nya. Tinggal diunggah ke layanan dokumen semacam Issuu.com.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img title="rubrk SMS jalinan kasih sayang" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-sentana-header.jpg" alt="" width="400" height="194" /><p class="wp-caption-text">Lihat gambarnya: langsung mengarah. Padahal ini rubrik berkenalan. :)</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/11/26/mencari-janda-kesepian-mendamba-pria-royal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>65</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rokok dan Etika Bisnis</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/09/20/rokok-dan-etika-bisnis/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/09/20/rokok-dan-etika-bisnis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Sep 2010 02:25:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selingan]]></category>
		<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya tembakau]]></category>
		<category><![CDATA[djarum]]></category>
		<category><![CDATA[etika bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[iklan]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[promosi]]></category>
		<category><![CDATA[rokok]]></category>
		<category><![CDATA[sampoerna foundation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=3485</guid>
		<description><![CDATA[SELAIN REGULASI YA NIAT DIRI. <p></p> <p>Warung dalam gambar ini seperti umumnya warung di kompleks perumahan. Menyediakan aneka barang, dari permen, kopi, sampai sabun. Yang membedakan dari umumnya warung adalah dia tidak menyediakan rokok. Padahal lokasinya dekat lapangan basket merangkap futsal, dan saban hari pendopo mini (sebetulnya gardu jaga) di sana buat nongkrong anak muda.</p> [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>SELAIN REGULASI YA NIAT DIRI.</h3>
<p><img class="alignnone" title="warung yang tak menjual rokok di pondokgede" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/rumah/blogombal-warung-bebas-rokok.jpg" alt="" width="370" height="287" /></p>
<p>Warung dalam gambar ini seperti umumnya warung di kompleks perumahan. Menyediakan aneka barang, dari permen, kopi, sampai sabun. Yang membedakan dari umumnya warung adalah dia tidak menyediakan rokok. Padahal lokasinya dekat lapangan basket merangkap futsal, dan saban hari pendopo mini (sebetulnya gardu jaga) di sana buat nongkrong anak muda.</p>
<p>Sejauh info yang saya dengar, karena saya belum melakukan tabayun, sang tuan pemilik warung memang antirokok sehingga ketika sang nyonya akan membuka warung maka syaratnya adalah, &#8220;Kalau harus jual rokok lebih baik nggak usah buka warung.&#8221;</p>
<p>Saya perokok dan saya menghargai bahkan menghormati kebijakan berwarung macam itu. Tanpa banyak cincong, sikap langsung ditunjukkan. Maka warung di Jatirahayu, Pondokmelati, Bekasi, itu pun tak memuat aneka materi grafis promosi rokok.</p>
<p>Dalam perspektif yang berbeda, ini seperti sikap dan tindakan sebuah warung yang menjual rokok tapi menolak pembeli di bawah umur. &#8220;Bapakmu sendiri yang ke sini kalo mau beli rokok, jangan nyuruh anak,&#8221; begitu kira-kira penolakan si pemilik warung. Padahal saat itu aneka peraturan promosi dan distrbusi rokok belum banyak.</p>
<p>Kedua jenis warung itu meyakini apa yang baik dan buruk, apa yang pantas dan tak pantas, dalam berbisnis.  Ini serupa Bon Jovi yang menolak konsernya disponsori merek rokok karena dia memang bukan perokok. Bahwa sikap dan kebijakan macam itu akan menimbulkan sedikit masalah, saya yakin bisa dijembatani dengan komunikasi.</p>
<p>Tentang keyakinan dan sikap dalam berbisnis sudah banyak contoh dari pebisnis besar. Sesosok pelaku bisnis bisa saja menolak cara yang dilakukan oleh kawan seiring sekaligus kompetitor tanpa menyebut mereka bersalah.</p>
<p>Maka saya pun teringat Pak Noeradi, salah satu tokoh periklanan Indonesia, yang dengan biro iklannya, Intervista, pada tahun 70-an menolak menggarap pengiklanan susu kental manis dan bir.</p>
<p>Pada 1992 saya bertanya kepadanya apa alasannya. Untuk susu kental manis, sesuai konteks 70-an, dia melihat penggunaan yang eksesif dari susu kental manis oleh banyak ibu untuk bayinya.</p>
<p>Sedangkan untuk bir, dia melihat sendiri sekelompok pelajar tawuran di Cikini dengan bersenjatakan botol bir yang sudah dipatahkan. Saya lupa, biro iklan mana yang dulu menggarap Anker dengan slogan &#8220;Ini bir baru, ini baru bir&#8221; itu. Apakah Intervista? :)</p>
<p>Bisnis memang tak gampang karena persoalannya bukan asal dapat uang. Setiap pelaku punya pedoman sepihak yang diberlakukan sendiri. Tapi kalau menyangkut rokok, maka perkembangan sekarang makin rumit. Regulasi membuat produsen dan biro iklan kian kreatif dalam memasyarakatkan <em>brand</em>. Hasilnya: koran besar, misalnya <em>Kompas</em>, yang puluhan tahun menolak &#8220;iklan rokok dalam gaya lama&#8221; (baca: mengajak orang merokok),  akhirnya tak sanggup menghindar jika <em>brand</em> rokok juga melekati acara olahraga, musik, dan ajang kreativitas pemuda untuk berinovasi.</p>
<p>Bagaimana dengan media sosial dan pelakunya? Antara repot dan tak repot. Jika bentuknya seperti cara promosi halus Flava, dari Sampoerna, toh ada penggiat media sosial (blog, Twitter, Facebook) yang kikuk juga &#8212; sementara produsen dan pelakunya pun berhati-hati.</p>
<p>Jika bentuknya bukan promosi <em>brand</em> rokok tetapi kegiatan pendidikan oleh yayasan yang didirikan oleh keluarga eks-pabrik rokok dan masih membawa nama keluarga sebagai merek rokok? Bagi saya tak mengapa karena sejauh saya tahu pengumpulan beasiswa dilakukan dengan mengetuk masyarakat umum (perokok dan non-perokok), bukan dari hasil penjualan rokok (kecuali untuk modal awal).</p>
<p>Kalau promonya adalah CSR pabrik rokok, misalnya untuk lingkungan, berupa penghijauan kota? Blog ini pernah memuat advertorial dari kegiatan produsen rokok, dan saya nyatakan sebagai &#8220;advertorial&#8221; baik dalam kategori maupun catatan kaki (bahkan ada kata &#8220;titipan&#8221;). :D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/09/20/rokok-dan-etika-bisnis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pak Guru yang Tukang Parkir</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/07/18/pak-guru-yang-tukang-parkir/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/07/18/pak-guru-yang-tukang-parkir/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 00:49:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selingan]]></category>
		<category><![CDATA[aditia noviansyah]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[juru parkir]]></category>
		<category><![CDATA[kesejahteraan guru]]></category>
		<category><![CDATA[koran tempo]]></category>
		<category><![CDATA[ojek]]></category>
		<category><![CDATA[tukang pakir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2865</guid>
		<description><![CDATA[<p></p> <p>Pagi ini ada empat koran Minggu &#8212; masing-masing bercerita tentang gaya hidup urban. Tapi <a href="http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/07/18/index.shtml" target="_blank">Koran Tempo</a> membuat saya tersedak selagi ngeteh. Tentang seorang guru swasta (SMP? SMA?) di Jakarta Selatan yang setelah mengajar menjadi tukang parkir. Bukan berita baru, Anda bilang.  Baiklah. Masih banyak guru lain yang kesejahteraannya menyedihkan, kata Anda. Baiklah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="guru merangkap tukang parkir di koran tempo" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/kortem-epaper-180710.jpg" alt="" width="370" height="500" /></p>
<p>Pagi ini ada empat koran Minggu &#8212; masing-masing bercerita tentang gaya hidup urban. Tapi <a href="http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/07/18/index.shtml" target="_blank"><em>Koran Tempo</em></a> membuat saya tersedak selagi ngeteh. Tentang seorang guru swasta (SMP? SMA?) di Jakarta Selatan yang setelah mengajar menjadi tukang parkir. Bukan berita baru, Anda bilang.  Baiklah. Masih banyak guru lain yang kesejahteraannya menyedihkan, kata Anda. Baiklah. Apanya yang baik dari kata &#8220;baiklah&#8221;? Saya tak tahu. Karena saya bingung.</p>
<p>Esei foto <em>Pak Guru dan Juru Parkir</em> yang berisi lima gambar jepretan Aditia Noviansyah itu mungkin biasa bagi Anda. Tapi bagi saya menyentak. Dalam sebulan Pak Widodo, 47, sang guru itu, mendapatkan sekitar Rp 1 juta dari mengajarnya yang dihargai Rp <span style="text-decoration: line-through;">18.000</span> 12.000 per jam.</p>
<p>&#8220;Tapi, bila dia terlambat masuk kelas, bayarannya bisa dipotong hingga 60 persen,&#8221; kata <em>Koran Tempo</em>. Dengan menjadi tukang parkir di sebuah universitas, dia bisa mendapatkan tambahan Rp 80.000 per hari.</p>
<p>Saya teringat ketika SD. Seorang guru, yang saya hormati dan sayangi sampai hari ini, sepulang mengajar harus menjajakan minyak tanah dalam jeriken kaleng yang diangkut dengan sepedanya. Dia berkeliling dari kampung ke kampung.</p>
<p>Memang saya dengar kesejahteraan guru di beberapa tempat membaik. Ada tunjangan ini dan itu. Pada beberapa sekolah, guru-gurunya sudah bermobil dan kalaupun memakai sepeda motor tak harus nyambi jadi <a href="http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2000/01/0305.html" target="_blank">tukang ojek</a>.</p>
<p>Hidup memang tak mudah. Hanya orang gigih, dan optimistis, yang sanggup mengarunginya, syukur sambil berbagi untuk sesamanya.</p>
<p>Selamat hari Ahad. Besok Senin anak-anak Anda masuk sekolah dan bertemu guru. Pekan sebelumnya sebagian anak sekolah juga sudah masuk, menjalani tahun ajaran baru.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/07/18/pak-guru-yang-tukang-parkir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Becak, Coba Bawa Saya di Klonyo</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/07/03/becak-coba-bawa-saya-di-klonyo/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/07/03/becak-coba-bawa-saya-di-klonyo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 07:28:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selingan]]></category>
		<category><![CDATA[becak]]></category>
		<category><![CDATA[blog award]]></category>
		<category><![CDATA[cologn]]></category>
		<category><![CDATA[colognette]]></category>
		<category><![CDATA[eau de cologne 4711]]></category>
		<category><![CDATA[jerman]]></category>
		<category><![CDATA[klonyo]]></category>
		<category><![CDATA[koln]]></category>
		<category><![CDATA[kolonyet]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[rickshaw]]></category>
		<category><![CDATA[the BOBs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2660</guid>
		<description><![CDATA[SARAH, PONIRAH, DAN &#8220;PEKERJAAN MANUSIAWI&#8221;. <p></p> <p>Jubing Kristanto, gitaris asal Semarang yang kriminolog dan bekas redaktur pelaksana Nova itu, berjasa karena dia tak hanya menghibur. Dia memperkenalkan ulang lagu lama karya <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ibu_Sud" target="_blank">Ibu Sud</a>, Hai Becak,  dalam album Becak Fantasy. Jubing mengingatkan bahwa  <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Becak" target="_blank">becak</a> masih ada. Ya, becak yang berasal dari bahasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>SARAH, PONIRAH, DAN &#8220;PEKERJAAN MANUSIAWI&#8221;.</h3>
<p><img class="normal" title="sarah penarik becak di koln jerman" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-becak-koln01.jpg" alt="" width="370" height="237" /></p>
<p>Jubing Kristanto, gitaris asal Semarang yang kriminolog dan bekas redaktur pelaksana <em>Nova</em> itu, berjasa karena dia tak hanya menghibur. Dia memperkenalkan ulang lagu lama karya <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ibu_Sud" target="_blank">Ibu Sud</a>, <em>Hai Becak</em>,  dalam album <em>Becak Fantasy</em>. Jubing mengingatkan bahwa  <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Becak" target="_blank">becak</a> masih ada. Ya, becak yang berasal dari bahasa Hokkien: <em>be-chia</em>. Nun di Köln, Jerman, saya teringat becak Indonesia. Di sana juga ada. Dikayuh oleh manusia. Yang saya tumpangi dikayuh oleh seorang nona –– atau nyonya, toh saya tak mengecek statusnya.</p>
<p><img class="kiri" title="sarah pengayuh becak koln jerman" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-becak-koln07.jpg" alt="" width="200" height="356" />Di depan stasiun, wanita itu, yang menyebut diri Sarah, menawarkan becaknya. Tarifnya EUR 9 (sekitar Rp 99.000) per lima belas menit. Lengkap dengan keterangan sekadarnya tentang lokasi dilewati. Terutama bila ditanya.  Dia berbicara dengan menoleh karena kayuhan ada di depan, bukan di belakang.</p>
<p>Sarah memang perkasa. Napasnya tidak ngos-ngosan. Jalan makadam begeronjal yang agak menanjak bisa dia taklukkan. Dengan mengangkat pantat saat mengayuh. Lalu menambah tenaga kayuhan dengan membungkuk. Agak sungkan saya memotretnya dalam keadaan begitu dari belakang karena kaosnya terangkat, sementara pinggang jinsnya ke bawah, dan seterusnya.</p>
<p><img class="normal" title="naik becak di koln jerman" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-becak-koln06.jpg" alt="" width="370" height="208" /></p>
<p>Saya tak tahu berapa jumlah becak di Köln, atau Cologne, atau Klonyo (ya, kota ini terkenal karena &#8220;Air Klonyo 4711&#8243;). Saya menduga tak sampai ratusan. Yang pasti becak tak menimbulkan masalah. Malah becak menjadi sajian turistis. Termasuk bagi pelancong yang berasal dari negeri becak. Negeri yang juga mengenal perempuan penarik becak, misalnya <a href="http://gombal.blogdrive.com/archive/921.html" target="_blank">Ponirah</a>, yang diapresiasi oleh Romo Sindunata. Cara Ponirah dan Sarah mungkin sama: menyimpan uang di bawah jok.</p>
<p><img class="normal" title="sarah tukang becak koln simpan duit di bawah jok" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-becak-koln05.jpg" alt="" width="370" height="208" /></p>
<p>Tentang becak, kalaupun dia membuat semrawut kota, itu hanyalah buah dari kemelut transportasi wilayah dan tata kota. Celakanya masalah itu juga bergandengan dengan penegakan hukum. Jakarta berhasil mengatasinya. Tetapi setelah krismon, 1999, becak sempat masuk lagi karena Sutiyoso, gubenur waktu itu, bersikap lunak. Saban dini hari becak baru masuk, misalnya dari arah timur (Bekasi), melalui Pulogadung, Jalan Perintis Kemerdekaan, Cempaka Putih, lalu menyebar.</p>
<p><img class="normal" title="sarah tukang becak di koln jerman" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-becak-koln03.jpg" alt="" width="370" height="208" /></p>
<p>Jika menyangkut pro-kontra, maka dulu tak sedikit pejabat dan anggota DPR yang berpendapat bahwa pekerjaan menarik becak itu tidak manusiawi. Seolah memperkuda manusia. Sehingga perlu dihentikan.</p>
<p><img class="normal" title="sarah penarik becak koln jerman" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-becak-koln04.jpg" alt="" width="370" height="219" /></p>
<p>Para tuan itu lupa bahwa sarana transportasi umum lain, termasuk ojek (kita anggap saja itu angkutan umum), bahkan pertambahan pemilikan sepeda motor dan sepeda, akan meminggirkan becak. Apalagi tarif becak semakin mahal. Di kompleks saya, untuk jarak 300 meter tarinya Rp 5.000. Hanya saat hujan, atau pangkalan angkot terendam, maka orang memilih becak. Kalau sedang di Yogya, saya kadang menumpang becak. Tak tega mendengar tawaran tukang becak, &#8220;<em>Mangga, sami kaliyan taksi</em>&#8220;. Mari, silakan, tarifnya sama dengan taksi.</p>
<p><img class="normal" title="sarah ngobrol dengan tukang becak lain di depan stasiun koln" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-becak-koln09.jpg" alt="" width="370" height="208" /></p>
<p>Entahlah ke mana para tuan terhormat yang dulu menyebut mbecak sebagai hal yang kurang manusiawi. Mau tak mau becak akan tersingkir. Apalagi dengan pembatasan wilayah edar. Tapi apa itu &#8220;manusiawi&#8221; dan &#8220;tidak manusiawi&#8221;?</p>
<p><img class="normal" title="becak di koln jerman: pakai lampu rem elektronis" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-becak-koln02.jpg" alt="" width="370" height="208" /></p>
<p><em>Catatan:<br />
Supaya lebih mblenger, dan menyita waktu maupun bandwidth Anda, silakan melihat cerita bergambar tentang perjalanan di Jerman ada di <a href="http://oh.blogombal.org/" target="_blank">Oh! Blogombal</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/07/03/becak-coba-bawa-saya-di-klonyo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita tentang Tikus</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/07/03/cerita-tentang-tikus/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/07/03/cerita-tentang-tikus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 06:05:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selingan]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan tikus]]></category>
		<category><![CDATA[hama]]></category>
		<category><![CDATA[penjebak tikus]]></category>
		<category><![CDATA[perangkap tikus]]></category>
		<category><![CDATA[racun tikus]]></category>
		<category><![CDATA[tikus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2648</guid>
		<description><![CDATA[HANYA DI FILM KARTUN DIA LUCU. <p></p> <p>Kesan saya dia jenaka, padahal serius. Atau dia, pria di toko besi di Mayestik (Jakarta Selatan) itu, memang punya keduanya: kocak sekaligus penuh kesungguhan. &#8220;Lho, udah dibuktiin di sini. Dipasang semaleman langsung panen, Pak. Sore sekitar jam lima dipasang, besok paginya dapet sembilan! Yang dua malah mati, kayaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>HANYA DI FILM KARTUN DIA LUCU.</h3>
<p><img class="normal" title="perangkap tikus" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/rumah/blogombal-perangkap-tikus01.jpg" alt="" width="370" height="207" /></p>
<p>Kesan saya dia jenaka, padahal serius. Atau dia, pria di toko besi di Mayestik (Jakarta Selatan) itu, memang punya keduanya: kocak sekaligus penuh kesungguhan. &#8220;Lho, udah dibuktiin di sini. Dipasang semaleman langsung panen, Pak. Sore sekitar jam lima dipasang, besok paginya dapet sembilan! Yang dua malah mati, kayaknya berantem di dalem,&#8221; katanya.</p>
<p>Begitulah, dia sedang menjelaskan kehebatan jualannya: perangkap tikus berpaten cap Petimas. Nama resminya: &#8220;perangkap tikus massal&#8221;. Nama yang menggentarkan. Mengingatkan saya kepada senjata pemusnah massal.</p>
<p>Kenapa saya beli? Karena ingin mengusir (bukan meracuni) seekor tikus dari halaman rumah saya. Baiklah, saya pertegas: seekor tikus dari halaman saya.</p>
<p>Karena saya, eh kami, selalu memergoki tikus itu sendirian, dan tampaknya dia punya tampang maupun lagak tak pernah berubah, maka kami menganggapnya hanya seekor saja.</p>
<p>Kejahatan dia dan korpsnya adalah membuat liang di bawah tanah sehingga batu-batu dan paving block amblas. Dulu pernah skuter saya tiba-tiba ambruk karena tanah tempat dia diberdirikan itu growong lalu amblas.</p>
<p>Tak hanya dalam tanah tikus mengacau stabilitas dan merongrong kewibawaan saya. Dulu, di rumah lama, ada tikus yang rajin menggigiti kabel sakelar otomatis pada tangki air di atas atap.</p>
<p>Saya sambung kabel itu, eh dia/mereka putuskan lagi. Titik pemutusan kian jauh, ke tempat yang tak terjangkau dari panjatan tangga, sehingga beberapa kali setiap akan berangkat kerja saya harus masuk plafon dulu.</p>
<p>Banyak sudah saran untuk menghadapi tikus. Antara lain jangan meninggalkan banyak sisa makanan di dapur. Selain itu memasang penyekat berupa bola pada saluran pembuangan air agar tak tertembus tikus dari bawah. Saya pun sudah memasang alat elektronik penghalau tikus tapi tampaknya yang disasar kebal terhadap frekuensi yang dijanjikan oleh brosur dan juragan toko.</p>
<p>Tentang derita akibat tikus, Anda tentu punya pengalaman yang kaya. Silakan Anda bagi di sini.</p>
<p><img class="normal" title="perangkap tikus" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/rumah/blogombal-perangkap-tikus02.jpg" alt="" width="370" height="208" /></p>
<p>Lantas bagaimana dengan perangkap tikus massal itu? Masih terbungkus plastik. Belum saya gunakan. Misalkan bisa menangkap satu saja, dalam keadaan hidup, lantas mau diapakan tikus itu padahal tak ada sayembara bagi &#8220;barang siapa&#8221; yang bisa menangkap akan diganjar?</p>
<p>Ada teman menyarankan agar kuping tikus diberi giring-giring (beli di mana?) lantas dilepas lagi sehingga teman-temannya panik lalu kabur.</p>
<p>Ada lagi yang penuh keyakinan &#8212; padahal belum mencoba &#8212; menganjurkan agar kepala tikus itu diberi plester putih lalu dilepas. Teman-temanya akan bubar dan menjauh karena mengira si kepala putih sebagai provost.</p>
<p>Saya kurang berminat terhadap saran-saran ilmiah itu. Beberapa orang, dan juga lembar info pada perangkap, menyarankan agar tikus yang ditangkap dijemur di bawah terik Matahari sampai mati (selama sejam), atau direndam di air (di kali, kata manual) sampai   tewas. Manual itu ditutup dengan ucapan, &#8220;Selamat mencuba, semoga berhasil panen tikus!&#8221;</p>
<p>Kok sadistis ya? Menerapkan azab sampai si terhukum menjemput ajal. Tapi untuk meracuni saya tak mau, karena tikus akan terkapar di jalan atau halaman orang atau membusuk di gorong-gorong. Ini tindakan egoistis.</p>
<p>Kalau memakai penjebak yang bisa membunuh, karena memakai pegas untuk menghunjamkan penjepit bergerigi, itu mengerikan dan menjijikkan. Saya pernah melihat hasilnya. Lebih mengerikan lagi penjebak tikus itu memakan tangan atau telapak kaki si pemasang (dan orang lain).</p>
<p>Karena gamang maka saya pun memberanikan diri untuk meminjam pistol kaliber 22 dari seorang kawan. Baru minta izin saya sudah dihardik. Katanya harga peluru dan lisensi itu mahal. Terlalu berharga untuk menamatkan tikus. Lebih mahal lagi, karena bisa membuat dia terhina, adalah memintanya menjadi eksekutor terhadap si tertangkap.</p>
<p>Tapi, ah, percayalah. Itu cuma gagah-gagahan saya saja. Saya belum pernah berlatih menembak dan tak paham senjata api &#8212; bisa-bisa pelor menghajar mata kaki saya sendiri. Lebih dari itu letusan pistol hanya akan menghasilkan masalah, termasuk jadi berita di halaman pertama <em>Pos Kota</em>, lengkap dengan wajah saya, bukan wajah si tikus.</p>
<p>Anda punya saran untuk menghalau tikus tanpa menyiksa, tanpa membunuh?</p>
<p><img class="normal" title="perangkap tikus" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/rumah/blogombal-perangkap-tikus03.jpg" alt="" width="370" height="270" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/07/03/cerita-tentang-tikus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Solo, Sala, Surakarta</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/06/10/solo-sala-surakarta/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/06/10/solo-sala-surakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 13:19:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selingan]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[blogger bengawan.org]]></category>
		<category><![CDATA[blontankpoer]]></category>
		<category><![CDATA[joko widodo]]></category>
		<category><![CDATA[koes sabandiyah]]></category>
		<category><![CDATA[sala]]></category>
		<category><![CDATA[sharing online lan off-line]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>
		<category><![CDATA[surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[the spirit of java]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2561</guid>
		<description><![CDATA[KOTA JAWA YANG MENCOBA MEMPERTEGAS SOSOK. <p></p> <p>Solo? Untuk kesekian kalinya saya mendatanginya saat gelaran <a href="http://solo.bengawan.org/" target="_blank">Solo (Sharing Online lan Off-line)</a> oleh dan untuk bloggers pekan lalu. Dan tetap saja saya buta kota buta peta. Tapi ada perubahan, rambu petunjuk mulai bertambah. Tak seperti tiga tahun lalu ketika saya sekeluarga berlibur beberapa hari dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KOTA JAWA YANG MENCOBA MEMPERTEGAS SOSOK.</h3>
<p><img class="alignnone" title="eklektis: interior gedung  surakarta raya" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-solo-00023.jpg" alt="" width="370" height="208" /></p>
<p>Solo? Untuk kesekian kalinya saya mendatanginya saat gelaran <a href="http://solo.bengawan.org/" target="_blank">Solo (Sharing Online lan Off-line)</a> oleh dan untuk <em>bloggers</em> pekan lalu. Dan tetap saja saya buta kota buta peta. Tapi ada perubahan, rambu petunjuk mulai bertambah. Tak seperti tiga tahun lalu ketika saya sekeluarga berlibur beberapa hari dengan mobil sewaan. Dan tentu seperti umumnya kota-kota di Jawa (Tengah), warganya memberi ancar-ancar lokasi dengan <em>lor</em>, <em>wetan</em>, <em>kidul</em>, <em>kulon</em> (utara, timur, selatan, barat). Orang luar yang tak memiliki kompas akan bingung &#8212; kecuali dia melakukan salat.</p>
<p><img class="alignnone" title="ronde di solo: hangat dan tepat dalam hujan di kala senja" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-solo-00021.jpg" alt="" width="370" height="246" /></p>
<p><img class="alignnone" title="warung murah meriah: sekeco atau sekéca?" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-solo-00013.jpg" alt="" width="370" height="208" /></p>
<p><img class="alignnone" title="rumah kampung di solo" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-solo-0008.jpg" alt="" width="370" height="207" /></p>
<p>Solo akhirnya meneguhkan apa yang sudah lama tersebut: Solo (dengan “o” seperti pada Oslo). Bukan Sala (“a” dibaca “o” seperti pada “Harto”). Dan Surakarta hanyalah nama administratif. Solo adalah Jawa lama dan Jawa baru.</p>
<p><img class="alignnone" title="solo: kota apa?" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-solo-00011.jpg" alt="" width="370" height="207" /></p>
<p>Jawa lama ada pada semangat revival, <a href="http://memo.blogombal.org/2010/06/08/becak-sala/" target="_blank">mencoba mempertahankan aksara Jawa</a> meskipun nasib aksara Jawa berbeda dari aksara Thailand, Kamboja, Jepang, dan Cina, yang kesemuanya masih fungsional. Tak apa, yang arkais harus dihadirkan supaya orang tak lupa asal-usul.</p>
<p>Adapun Jawa baru antara lain terlihat pada cara berbahasa Jawa tertulis orang-orang Solo, <a href="http://memo.blogombal.org/2010/06/07/kota-dengan-roh-jawa/" target="_blank">kota yang berslogankan </a><em><a href="http://memo.blogombal.org/2010/06/07/kota-dengan-roh-jawa/" target="_blank">the spirit of Java</a></em>: tak perlu mengikuti kaidah lama. <em>Wedi</em> dan <em>wedhi</em> itu sama — padahal artinya berbeda. Begitupun <em>loro</em> (dua) dan <em>loro</em> (sakit). Yang penting sama-sama paham karena diikat oleh konteks. Kalau Anda ingin tertib tulis, silakan ke Amerika, menemui <a href="http://biographyinstitute.com/persona/nancy-k-florida/" target="_blank">Mbak Nancy</a>.</p>
<p><img class="alignnone" title="papan bisnis di solo: modern dalam kemasan tradisional" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-solo-0001.jpg" alt="" width="370" height="207" /></p>
<p>Jawa baru ada di mana lagi? Dalam keseharian. Beberapa pemilik warung kelontong dan kaki lima akan menyapa dalam bahasa Indonesia kepada tampang Jawa yang bahasa tubuhnya &#8220;kurang men-Solo&#8221;. Sebuah proses alami menuju nasion baru Indonesia.</p>
<p>Perjalanan dalam nasion juga  tecermin ketika pada 2004 dulu Sri Susuhunan Pakubuwono XII mangkat, dan teman-teman sejawat salah satu putri keraton di Jakarta datang melayat mencari &#8220;Mbak Koes&#8221;. Membingungkan bagi orang Solo, karena banyak putri dari almarhum yang bernama depan &#8220;Koes&#8221;. Di luar keraton dia hanyalah Mbak Koes, bukan Gusti.</p>
<p><img class="kanan" title="seminar cara menjadi kaya di solo" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-solo-00014.jpg" alt="" width="200" height="356" />Jawa baru juga terlihat dari jadwal acara bisnis yang padat, dari pameran komputer dengan gambar promosi berbau lokal sampai seminar cara cepat kaya dengan memanfaatkan internet. Tak perlu diajari, Solo itu sebetulnya kota niaga. Bahkan putri Solo pun memiliki stereotipe sebagai perempuan ulet dalam berbisnis.</p>
<p>Banyak pilihan untuk mencicipi Solo. Sejak warung wedangan murah-gayeng ala Kemin (lihat <a href="http://oh.blogombal.org/2010/06/08/kemin-1/ " target="_blank">ini</a> dan <a href="http://oh.blogombal.org/2010/06/08/kemin-2/ " target="_blank">itu</a>) sampai kafe/resto seperti umumnya kota besar.</p>
<p>Tapi saya mencicipi pengalaman menyenangkan di Soto Gading, warung yang sibuk sehingga membutuhkan <em>walkie talkie</em>. Di sana ada es jeruk dengan es batu silinder, bukan dari <em>pecèlan</em> es bongkah yang sering diprasangkai paginya sudah diseret-seret sepanjang trotoar kotor. Sungguh efisien: es jeruk sudah disiapkan dalam <em>cooler box</em>. Tinggal diciduk dan disajikan.</p>
<p><img class="alignnone" title="walkie talkie di soto gading solo: efisiensi kerja" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-solo-0002.jpg" alt="" width="370" height="208" /></p>
<p>Lebih penting lagi ini: es jeruk tanpa <a href="http://visitsolo.net/2010/03/19/hindari-sedotan/" target="_blank">penyedot plastik</a>. Ini tak seperti kota lain,  terutama Jakarta Raya, yang minuman encer dingin maupun hangatnya sering berbuluh plastik agar cairan melancangi bibir dan ujung lidah.</p>
<p><img class="alignnone" title="kawaskitan di solo: weruh sadurungé winarah" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-solo-0007.jpg" alt="" width="370" height="207" /></p>
<p><a href="http://memo.blogombal.org/2010/06/09/solo-kota-batik/ " target="_blank">Solo adalah batik</a>. Tapi Pekalongan juga kota batik. Keduanya memiliki industri dan pasar. Ya, saya tak bicara desain maupun unsur lainnya. Toh banyak orang tahu Solo bukan hanya keraton, batik tulis, keris, tari, karawitan, dan apapun yang sangat berbeda dari pesisir utara Jawa Tengah. Tentu, makanan Solo tak seterlalu-manis Yogya, kan? ;)</p>
<p><img class="alignnone" title="genesis: purwaning dumadi solo surakarta hadiningrat" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-solo-0004.jpg" alt="" width="370" height="207" /></p>
<p>Memang sudah saatnya Solo mengemas sosok diri. Tak hanya agar dapat dibedakan dari Pekalongan oleh orang jauh, tetapi lebih penting supaya dapat dibedakan dari Yogyakarta. Solo bukan sekadar tetangga Yogya. Solo adalah Solo. Bukan tempat singgah bagi pelancong yang menghabiskan sewa kamar dan uang jajan di Yogya &#8212; kota yang akhirnya menyebut diri sebagai Jogja itu.</p>
<p><img class="alignnone" title="sederhana apapun ada banyak keranjang sampah di solo" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-solo-0009.jpg" alt="" width="370" height="207" /></p>
<p>Di <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Surakarta" target="_blank">Solo</a>, kota seluas 44,03 km² dengan 600.400 jiwa, kita melihat sebuah upaya menata ruang besar sebagai atmosfer untuk setiap orang. Walikota Joko Widodo, yang menjabat untuk kedua kalinya, tahu apa yang disebut paduan kepemimpinan dan keterpilihan melalui demokrasi sebagai sebuah amanat rakyat.</p>
<p><img class="alignnone" title="jalur sepeda di solo" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-solo-00016.jpg" alt="" width="370" height="208" /></p>
<p>Bagaimana dia menangani pedagang kaki lima sudah menjadi cerita. Dia menggunakan kunci bernama pendekatan manusiawi dan partisipasi, tapi di sisi lain juga harus mencoba lincah bersama birokrasi yang tambun lamban. Terkabar dia pernah mengeluh, jumlah abdi kota terlalu banyak. Tentang <em>alon-alon waton kelakon</em> (pelan-pelan asalkan terlaksana), kita tahu, itu bukan monopoli Solo &#8212; apalagi jika menyangkut birokrasi. Tapi mau <em>alon</em> mau <em>rikat</em>, <a href="http://memo.blogombal.org/2010/06/08/rumah-tua-berbahaya/" target="_blank">gedung tua tak terawat</a> memang harus diperlakukan secara hati-hati.</p>
<p><img class="alignnone" title="pasar malam ngrasopuro di solo" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-solo-00018.jpg" alt="" width="370" height="208" /></p>
<p>Saya berharap Solo terus berubah menjadi baik. Sama seperti harapan saya bahwa Taman Balekambang akan semakin baik, tak seperti dulu yang dari bus antarkota tampak sebagai lahan terbengkalai penuh semak. Di sana saya lihat ada saja warga yang datang untuk duduk dan ngobrol, dan sesekali mereka didekati oleh rusa timor.</p>
<p><img class="alignnone" title="taman balekambang solo" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-solo-00025.jpg" alt="" width="370" height="207" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/06/10/solo-sala-surakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menafsir Pesan Sesosok Bajaj</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/05/24/menafsir-pesan-sesosok-bajaj/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/05/24/menafsir-pesan-sesosok-bajaj/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 09:51:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selingan]]></category>
		<category><![CDATA[bajaj]]></category>
		<category><![CDATA[kekumuhan]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[kendaraan roda tiga]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi ibu kota jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2430</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;SAYA ADA KARENA DIPERLUKAN.&#8221; <p></p> <p>Andaikan bajaj adalah benda berjiwa, pesan apa sajakah yang dia sampaikan? Saya mencoba menangkap pesan-pesannya. Gagal. Saya hanya dapat menafsirkannya, semau saya, sebisa saya. Itu serangkaian tafsir yang mengesampingkan manusia-manusia yang mengakrabinya: sopir, juragan, dan montir. Mereka adalah orang-orang yang paham matematikanya absurditas ekonomi rakyat dari setoran per hari sekitar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>&#8220;SAYA ADA KARENA DIPERLUKAN.&#8221;</h3>
<p><img class="alignnone" title="british bajaj from UK (maybe)" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-bajaj-britis2.jpg" alt="" width="375" height="211" /></p>
<p>Andaikan bajaj adalah benda berjiwa, pesan apa sajakah yang dia sampaikan? Saya mencoba menangkap pesan-pesannya. Gagal. Saya hanya dapat menafsirkannya, semau saya, sebisa saya. Itu serangkaian tafsir yang mengesampingkan manusia-manusia yang mengakrabinya: sopir, juragan, dan montir. Mereka adalah orang-orang yang paham matematikanya absurditas ekonomi rakyat dari setoran per hari sekitar Rp 40.000. Sebuah kisaran yang merupakan hasil kompromi.</p>
<p><img class="alignnone" title="kokpit bajaj" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-bajaj-persneling.jpg" alt="" width="375" height="211" /></p>
<p><img class="alignnone" title="kokpit bajaj" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-bajaj-gas.jpg" alt="" width="375" height="211" /></p>
<p>Bajaj model lama, bermesin dua tak  (175 cc?) dengan bensin (campur), menampakkan sosok stereotipikal di luar warna dan suara knalpotnya. Yaitu setang kemudi. Setangguh-tangguhnya sopir bajaj, tangannya tetap pegal memainkan gas dan persneling. Untunglah manusia tak pernah menyerah. Selalu mencari solusi murah. Jika selangkangan kepanasan karena menduduki mesin maka sopir mengangkat kaki kiri. Mungkin androlog akan menjadikan sopir bajaj tahunan sebagai sampel riset kesuburan pria. ;)</p>
<p><img class="alignnone" title="lampu bajaj apakah menyala?" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-lampu-bolam.jpg" alt="" width="375" height="211" /></p>
<p><img class="alignnone" title="lampu bajaj apakah menyala?" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-bajaj-lampu.jpg" alt="" width="375" height="211" /></p>
<p>Bajaj seperti kerak dalam lapis moda transportasi kota. Bahkan mirip paria. Diemohi, bahkan tak diakui dalam buku besar, tetapi tetap dibutuhkan oleh pasarnya &#8212; antara lain karena keapabolehbuatan. Lampu bajaj yang jarang menyala dalam gelap malam, serta lampu sein yang tak berkedip saat berbelok,  seolah meledek formalisme kita: yang penting ada, soal berfungsi itu masalah lain. Tak beda dari organ birokratis kita, juga badan-badan politik kita. Jika jalanan adalah potret sosial kita maka bajaj adalah bagian darinya.</p>
<p><img class="alignnone" title="kondisi bajaj kita" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-bajaj-roda.jpg" alt="" width="375" height="211" /></p>
<p><img class="alignnone" title="roda depan bajaj" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-bajaj-rodadepan.jpg" alt="" width="375" height="211" /></p>
<p>Pada bajaj kita menyaksikan semangat hidup, semangat untuk bertahan. Pada tingkat minimum, bertahan adalah bentuk perjuangan. Bertahan, bukan menyerang. Jika perilaku bajaj, tepatnya sopir bajaj, di jalanan adalah sebuah agresi, maka kita tetap bisa mempertanyakan hal yang sama kepada sepeda motor dan mobil tentang nafsu untuk menguasai ruang dan meniadakan pengguna lain di jalan.</p>
<p>Bertahannya bajaj adalah sebuah kepatuhan formal, yang jika kita mau jujur juga melakti kita bahkan pengusaha besar: ikuti saja aturan daripada ribet.  Per enam bulan bajaj harus membayar Rp 20.000 untuk izin usaha, Rp 110.000 untuk kir (pemeriksaan layak jalan), dan Rp 8.000 untuk pajak operasi. Penggunaan dwibahasa, Indonesia dan Inggris, pada semprotan kir tak ada hubungannya dengan biaya. :D</p>
<p><img class="alignnone" title="tanda kir pada bajaj: legalitas sementara waktu" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-bajaj-kir.jpg" alt="" width="375" height="211" /></p>
<p>Tidak, tulisan ini tak membabi buta membela bajaj atas nama romantisisme. Bajaj memang tak layak dari beberapa segi. Tapi bajak tak mungkin dimusnahkan begitu saja, dengan ganti rugi sekitar Rp 5 juta (padahal harga operan kondisi bagus konon bisa di atas Rp15 juta), kalau penataan sistem transportasi kota tak menampilkan rencana yang matang dan bisa diterima semua akal sehat. Kurang matang, kurang sesuai akal sehat, hasilnya adalah <em>busway </em>yang lengang pada koridor tertentu dengan halte yang mulai rusak.</p>
<p><img class="alignnone" title="stiker bajaj: allah maha besar" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-bajaj-allah.jpg" alt="" width="375" height="211" /></p>
<p>Tapi ah sudahlah, itu perkara besar. Rumit. Membingungkan. Pada bajaj urusannya adalah bagaimana rezeki hari demi hari bisa terkais. Untuk itu diperlukan perawatan semangat.  &#8220;Allah Maha Besar,&#8221;  kata stiker pada pintu bajaj. Pintu dengan pegangan berupa potongan pipa tegak yang merupakan salah satu komponen bajaj yang tak berdebu dan tak berlumpur karena sering dipegang oleh tangan manusia. Tangan penumpang dan tangan sopir (terutama saat membuka dan menutupkan pada awal dan akhir perjalanan).</p>
<p><img class="alignnone" title="pegangan pintu bajaj di mana pun sama" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/oh-bajaj0010.jpg" alt="" width="375" height="667" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/05/24/menafsir-pesan-sesosok-bajaj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jodoh dan Pengemasan Citra Diri</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/05/09/jodoh-dan-pengemasan-citra-diri/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/05/09/jodoh-dan-pengemasan-citra-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 May 2010 10:34:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selingan]]></category>
		<category><![CDATA[bujang lapuk]]></category>
		<category><![CDATA[butuh istri]]></category>
		<category><![CDATA[butuh suami]]></category>
		<category><![CDATA[jodoh]]></category>
		<category><![CDATA[jomblo]]></category>
		<category><![CDATA[kesepian]]></category>
		<category><![CDATA[kompas minggu]]></category>
		<category><![CDATA[perawan tua]]></category>
		<category><![CDATA[perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[profil]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2362</guid>
		<description><![CDATA[BELAJAR DARI RUBRIK JODOH. <p>Foto di pojok kiri atas Kompas Minggu itu rada beda dari biasanya. Bukan karena menghasilkan <a title="Hehehehehe iseng amat sih" href="http://oh.blogombal.org/2010/05/09/pertemuan/" target="_blank">lukisan</a> (lihat gambar bawah).  Ini bukan sekadar pas foto, pun bukan foto pose dengan latar lumut. Memang sejauh saya tahu tak pernah ada foto memonyongkan bibir dengan kepala nèngklèng, warisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>BELAJAR DARI RUBRIK JODOH.</h3>
<p><img class="kiri" title="rubrik jodoh kompas minggu 9 mei 2010 halaman 26" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-kolom-jodoh.jpg" alt="" width="200" height="471" />Foto di pojok kiri atas <em>Kompas Minggu</em> itu rada beda dari biasanya. Bukan karena menghasilkan <a title="Hehehehehe iseng amat sih" href="http://oh.blogombal.org/2010/05/09/pertemuan/" target="_blank">lukisan</a> (lihat gambar bawah).  Ini bukan sekadar pas foto, pun bukan foto pose dengan latar lumut. Memang sejauh saya tahu tak pernah ada foto memonyongkan bibir dengan kepala <em>nèngklèng</em>, warisan gaya Friendster itu. Yang pasti kali ini berbeda.</p>
<p>Soal foto, ah akhirnya biasa sebetulnya. Jejaring sosial membiasakan kita dengan aneka foto diri. Foto dan info yang ditampilkan sesuai selera si empunya profil. Lantas di luar foto apa menariknya?</p>
<p>Dalam kasus rubrik Kontak/Pertemuan <em>Kompas </em>adalah&#8230; teks yang generik! Pemerian diri hampir sama. Lihatlah Kata-kata kunci yang akhirnya biasa sehingga tak perlu dibaca: humoris [<em>sic!</em>], sehat jasmani rohani, sabar, jujur, setia, serius, siap nikah.</p>
<p>Saya tak tahu apakah itu ulah editor yang ingin membuat semua orang mirip, dan yang menjadi unikum hanya kode peserta (kelak diganti QR Code), atau karena peserta hanya mengikuti contoh, sehingga kalau diperas tinggal &#8220;wanita mencari pria&#8221; dan sebaliknya, sesuai esensi rubrik jodoh?</p>
<p>Saya bicara media cetak. Di dalamnya ada proses penyuntingan. Jika itu dipindahkan ke media digital dengan mengikuti kaidah digital, maka semua kata akan mendapatkan tautan yang sangat banyak sehingga kita bingung. Mirip kata &#8220;books&#8221; dan &#8220;jazz&#8221; dalam profil diri di Blogspot.</p>
<p>Untuk media digital, kita memang sudah terbiasa dengan pertautan. Pada abad lalu, salah satu yang membiasakan kita adalah Amazon. Preferensi kita terhadap judul, topik, dan pengarang buku, begitu pula terhadap musisi dan <em>genre</em>-nya, akan diikuti oleh pembingkaian konteks minat untuk kemudian dipertautkan dengan produk dan orang lain.</p>
<p>Hmmm&#8230; apakah kemudian saya mengharapkan kertas dapat lebih interaktif seperti web? Bukan itu persoalannya. Toh teknologinya sudah dikembangkan &#8212; bedakan dengan versi daring sebuah koran. Persoalannya adalah pada isi.</p>
<p>Selama ini sebagian dari kita menganggap hanya internetlah yang mengantar kita kepada kesadaran pengemasan citra diri.  Sama seperti kita mengisi profil di Facebook, blog, dan lainnya. Ada nama, foto, dan deskripsi diri.</p>
<p>Padahal ternyata, meski tidak diam-diam, sudah lama masyarakat, dalam hal ini konsumen media, melakukannya dalam rubrik sahabat pena (yang ini sudah arkais) dan jodoh.</p>
<p>Sekarang, ketika media sosial kian membahana, menjadi aneh ketika deskripsi per entri dalam rubrik jodoh hampir seragam. Kekayaan teks seperti dipinggirkan. Padahal dari keleluasaan mengemas pesan kita dapat belajar banyak.</p>
<p>Maka mestinya bisa saja ada foto diri ala caleg bingung yang memakai baju Superman, dengan deskripsi, &#8220;<em>Seorang pria gagah gemulai yang selalu bermimpi menggergaji Matahari ingin memperistri juwita yang tak lelah merebus arloji. Syarat: blablabla&#8230;</em>&#8221;</p>
<p>Juga, &#8220;<em>Seorang perempuan penuh hasrat di ujung senja, yang tak lagi disapa rembulan titipan Dewi Kesuburan, tapi masih dambakan kebersamaan dengan pria muda yang penuh keingintahuan akan jelajah asmara&#8230;</em>&#8221;</p>
<p>Itu misal lho. Tapi kalau mau seaneh dan seasoy itu pun boleh. :D</p>
<p>Oh ya, memang bukan sekali ini saya membahas rubrik jodoh. Konten yang ini menarik karena merupakan ajang konsumen media untuk menyatakan diri dan berinteraksi &#8212; serupa iklan baris tetapi berbeda tujuan.</p>
<p><img class="alignnone" title="rubrik jodoh di kompas minggu 9 mei 2010" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-jodoh.jpg" alt="" width="370" height="264" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/05/09/jodoh-dan-pengemasan-citra-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menonton Orang Jual Obat</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/03/23/menonton-orang-jual-obat/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/03/23/menonton-orang-jual-obat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 04:15:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selingan]]></category>
		<category><![CDATA[esoterisme]]></category>
		<category><![CDATA[gaib]]></category>
		<category><![CDATA[jual jamu]]></category>
		<category><![CDATA[jual obat]]></category>
		<category><![CDATA[magic]]></category>
		<category><![CDATA[pak daeng]]></category>
		<category><![CDATA[sihir]]></category>
		<category><![CDATA[sulap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2119</guid>
		<description><![CDATA[MENIKMATI AKTING DAN RETORIKA DI LUAR PARLEMEN. <p></p> <p>&#8220;Maaf kata Saudara-saudara, perempuan yang menghina saya bisa saya buat menari telanjang di depan saya lalu dia minta saya jadikan istri. Padahal istri saya sudah dua, umur saya baru dua puluh tujuh&#8230;&#8221;</p> <p>Maaf itu bukan kutipan persis. Hanya merangkum serpihan ingatan, dari melihat tontonan yang sudah berjalan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MENIKMATI AKTING DAN RETORIKA DI LUAR PARLEMEN.</h3>
<p><img class="alignnone" title="atraksi pak daeng penjual obat" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-daengjamu001.jpg" alt="" width="360" height="202" /></p>
<p>&#8220;Maaf kata Saudara-saudara, perempuan yang menghina saya bisa saya buat menari telanjang di depan saya lalu dia minta saya jadikan istri. Padahal istri saya sudah dua, umur saya baru dua puluh tujuh&#8230;&#8221;</p>
<p>Maaf itu bukan kutipan persis. Hanya merangkum serpihan ingatan, dari melihat tontonan yang sudah berjalan. Jadi bisa saja kutipan saya telah mengubah nuansa dan melenceng dari konteks.</p>
<p>Menyenangkan sekali, Ahad sore lalu tanpa sengaja, selagi berjalan-jalan keluar masuk-kampung, saya mendapatkan kerumunan orang di atas lahan proyek perumahan, di pinggir jalan raya Pondokgede-Bekasi. Mereka menonton atraksi seorang penjual obat yang menyebut diri Pak Daeng. Saya menikmatinya.</p>
<p><img class="alignnone" title="atraksi pak daeng penjual obat, menirukan pengidap kencing batu" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-daengjamu003.jpg" alt="" width="360" height="203" /></p>
<p>Lelaki muda itu khatam segala ilmu retorika. Selayaknya aktor pentas dia tahu bagaimana menyihir penonton. Dia seperti menggenggam udara sekitar yang diembuskan dan dihirup lagi oleh kerumunan. Tutur katanya meyakinkan. Aktingnya menghanyutkan.</p>
<p>Lebih penting lagi ini: dia tahu mendayagunakan mikrofon dan spiker corong. Suara badai, ombak, dan halilintar dia keluarkan dari mulutnya pada saat yang tepat &#8212; termasuk menjelang dan setelah (seolah-olah) melafalkan mantera. Mirip pendongeng.</p>
<p>Menyenangkan. Lama saya tak menonton seperti itu. Menghibur dan menegangkan. Maka berkatalah dia kepada seorang penonton, &#8220;Saudara dari mana? Priok? Coba kesinikan helmnya, nanti saya kirim ke rumah.&#8221;</p>
<p><img class="alignnone" title="atraksi pak daeng penjual jamu sedang menyihir helm" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-daengjamu005.jpg" alt="" width="360" height="202" /></p>
<p>Helm berpindah tangan. Oleh asisten Pak Daeng helm itu ditaruh di atas peti. Kemudian kotak besar berbahan kain, seperti bilik TPS, mengerudungi kotak dan helm itu.</p>
<p>Pak Daeng menghadapkan telapaknya ke bilik TPS. Mikrofon menyalurkan desau angin dari mulutnya. Bilik itu tergetar, lalu terguncang. Lantas asisten mengangkat bilik TPS. Seperti umumnya sulap, helm itu telah raib. Tempik sorak membahana.</p>
<p>Bilik TPS dan meja kayu itu sejak awal mengundang penasaran saya. Ketika saya datang, TPS sedang diangkat. Di atas kotak ada karung goni kecil yang tepiannya terjahit tali. Kata Pak Daeng isinya lebih kecil daripada jenglot si manusia mini tua.</p>
<p>Tahap demi tahap perpindahan karung itu dramatis. Diselingi cerita. Mirip cara pesulap. Ada juga peringatan untuk para perekam adegan melalui ponsel, bahwa sesampainya di rumah gambar-gambar mereka sudah terhapus.</p>
<p>Apakah isi karung kecil itu? Sabar. Pak Daeng bercerita tentang aneka penyakit yang akan sirna setelah minum obat yang dibawanya. Kencing batu sampai lumpuh akibat <em>stroke</em> akan tersembuhkan. Jika tidak, &#8220;Biarlah dua tangan saya menjadi satu!&#8221;</p>
<p><img class="alignnone" title="atraksi pak daeng penjual obat, dengan karung berisi jenglot" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-daengjamu004.jpg" alt="" width="360" height="202" /></p>
<p>Asisten menunjukkan piring berisi kapsul kehijauan. Pak Daeng katakan, jika di antara hadirin ada yang dari BPOM maka dia akan buktikan bahwa yang dibawanya adalah obat.</p>
<p>Sore semakin berat. Saya harus meneruskan perjalanan sejauh dua setengah kilometer lagi, jalan kaki. Apa boleh buat, saya belum tahu apa isi karung itu. Saya juga belum mendapatkan testimoni apakah helm yang raib dalam bilik TPS di Pondokgede itu sudah tiba di Tanjungpriok.</p>
<p>Andaikan semua penonton menggunakan Twitter mungkin akan lebih seru &#8212; kecuali karena kebetulan, atau malah karena kegaiban, semua baterai peranti genggam kehabisan daya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/03/23/menonton-orang-jual-obat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sisa-sisa yang Bertahan oleh Terjangan Digital</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/01/28/sisa-sisa-yang-bertahan-oleh-terjangan-digital/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/01/28/sisa-sisa-yang-bertahan-oleh-terjangan-digital/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 17:02:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selingan]]></category>
		<category><![CDATA[artis]]></category>
		<category><![CDATA[baliho]]></category>
		<category><![CDATA[banner]]></category>
		<category><![CDATA[kain rentang]]></category>
		<category><![CDATA[letter]]></category>
		<category><![CDATA[potho]]></category>
		<category><![CDATA[seniman]]></category>
		<category><![CDATA[spanduk]]></category>
		<category><![CDATA[tipografi]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2007</guid>
		<description><![CDATA[SPANDUK KAIN LEBIH MAHAL TAPI (TERKADANG) LEBIH &#8220;NYENI&#8221;. <p></p> <p>Saya tak tahu sekarang ini berapa ongkos bikin spanduk untuk warung tenda. Dua belas tahun lalu (ya!), seorang penjual sari laut mengeluarkan Rp 200.000 untuk kain rentang yang tingginya sekitar satu meter (atau 90 cm?) dan panjangnya empat meter. Itu pun tak jadi dalam sehari. Sekarang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>SPANDUK KAIN LEBIH MAHAL TAPI (TERKADANG) LEBIH &#8220;NYENI&#8221;.</h3>
<p><img class="normal" title="spanduk warung tenda" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/makan/blogombal-spanduk-warung02.jpg" alt="" width="360" height="203" /></p>
<p>Saya tak tahu sekarang ini berapa ongkos bikin spanduk untuk warung tenda. Dua belas tahun lalu (ya!), seorang penjual sari laut mengeluarkan Rp 200.000 untuk kain rentang yang tingginya sekitar satu meter (atau 90 cm?) dan panjangnya empat meter. Itu pun tak jadi dalam sehari. Sekarang dengan cetak digital, spanduk (plastik) yang berukuran sama cuma berongkos Rp 72.000 ribu –– biaya per meter perseginya Rp 18.000.</p>
<p>Plastik lebih kaku tapi kedap air. Usia pakainya, untuk luar ruang dengan tinta murah, bisa enam bulan. Karena ini negeri pemulung, plastik bekas spanduk itu selalu ada yang memanfaatkan. Misalnya untuk alas tikar.</p>
<p><img class="normal" title="spanduk warung tenda" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/makan/blogombal-spanduk-warung003.jpg" alt="" width="360" height="203" /></p>
<p>Baiklah ini soal kemajuan teknologi. Apapun, kalau massal, dan kompetisinya ketat, akan memurah. Tapi saya kehilangan sesuatu: sentuhan tangan berupa gambar dan tulisan.</p>
<p>Sebagian besar gambar-gambar pada spanduk kain itu tak mencontoh buku grafis apalagi sumber di internet. Untuk tipografi pun demikian. Paling banter mencontoh &#8220;buku letter&#8221; murah meriah yang oleh penyusunnya dikerjakan penuh percaya diri karena mengabaikan semua teori tipografi ala sekolahan.</p>
<p><img class="normal" title="spanduk warung tenda" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/makan/blogombal-spanduk-warung04.jpg" alt="" width="360" height="165" /></p>
<p>Saya kehilangan tapi tak saya ratapi. Saya hanya mencoba mengapresiasi sebelum itu semua punah. Sama seperti terhadap baliho bioskop yang wajah aktor dan aktrisnya tak jarang mengundang tebakan.</p>
<p>Para pembuat spanduk dan baliho secara manual itu juga berhak menyebut diri artis. Kalau istlah artis kadung disalahkaprahkan dengan bintang hiburan yang berkilau, maka bolehlah mereka menyebut diri seniman.</p>
<p>Di Yogya dulu ada &#8220;ahli papan nama dan letter&#8221;, namanya Potho. Pintu truk pun bisa dia tulisi dengan rapi, memakai cat, dan awet pula. Saya tak tahu bagaimana sekarang bisnis Potho dan lainnya, karena stiker hasil cetak digital dan stiker potong hasil olahan pisau <em>plotter</em> kian murah.</p>
<p>Tentang istilah &#8220;artis&#8221;, ada kawan saya, seorang desainer grafis, yang lebih suka kata &#8220;<em>artist</em>&#8220;. Menurutnya artinya beda. Antara lain ya tersebab konotasi itu. Dulu malah ada teman saya yang bingung untuk membedakan &#8220;artis&#8221; dan &#8220;aktris&#8221;. :)</p>
<p><em>Bonus: untuk hasil karya seniman pada bak truk, lihat P</em><a href="http://pesanlewat.com" target="_blank"><em>esanlewat.com</em></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/01/28/sisa-sisa-yang-bertahan-oleh-terjangan-digital/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

