PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK

MARI BELAJAR SEJARAH DARI GAMBAR.
Seorang jenderal dalam usia 46 mulai menggenggam kekuasaan yang besar. Sejarah sudah membahasnya, dan bahasan itu belum usai. Anda boleh kagum sepenuh takzim, boleh pula benci kepadanya -- atau seperti banyak orang bingung untuk merumuskannya dalam satu kata. Meski saya sangat tidak suka kepadanya -- ketika dia hidup, saya selalu menyebutnya dalam blog sebagai "orang itu" -- saya mengakui bahwa dalam dirinya pasti ada hal-hal baik bahkan mulia. Dia manusia, bukan iblis, bukan malaikat.
Saya teringat dia karena barusan menemukan foto-foto lama yang dulu, sudah lama banget, pernah saya lihat di majalah Life. Foto-foto yang sebagian adalah hasil pengarahan dan mengundang tafsir subyektif itu. Di kemudian hari, pada puncak kekuasaannya, siapa yang bisa membuat dia nyaman dan rileks untuk diatur-atur, dan difoto dari dekat?
KELAK AKAN JADI PROYEK SENI VISUAL?
Sekeluar dari ruang resepsi menuju parkiran, kami diikuti seorang pengasong foto. Kami terburu-buru karena masih gerimis. "Beli dong," katanya kepada istri saya. "Ayo dong Bu," katanya kepada seorang ibu yang menumpang kami. Masih gerimis. Kami terburu. Segera masuk ke mobil. "Beli dong," masih terdengar suara itu.
Ibu yang bersama kami akhirnya tak tega. Entah berapa yang dia keluarkan. Penawaran terakhir yang saya dengar sih Rp 50.000 untuk tiga lembar foto ukuran 5R, masing-masing disertai film negatif. "Nggak tega aku, Jadi kepikiran anak-anakku nyari makan juga susah," kata ibu itu.
SEMOGA ADA DI BENAK PARA KANDIDAT 244 PILKADA(L).
Sayang tak ada yang saya tanya, siapa yang memetik buah kelapa di tikungan itu. Mestinya sih ada. Setidaknya ada yang memungut kalau jatuh. Lebih dari itu, toh tamannya terawat. Kelapa tak dibiarkan mengering sampai jatuh sendiri atau dibiarkan jadi santapan bajing.
Memang soal kelapa. Tapi saya tidak bicara soal kampung biasa. Ini kampung besar bernama Jakarta. Ada kawasan tertentu yang hijau dan teduh. Misalnya di Kebayoran Baru yang ada kelapanya tadi. Itu di seberangnya kawasan bisnis Blok M, Jakarta Selatan. Di sekitar Taman Langsat juga teduh, sehingga mobil yang terparkir di sana sering kena tahi burung.
MEMANG PAHLAWAN KOK...
Saya baca di Koran Tempo, bahwa Ketua Fraksi Golkar di DPR-RI Setya Novanto menyatakan pihaknya setuju Gus Dur diberi gelar pahlawan nasional, dengan syarat Soeharto juga diberi gelar serupa. Setya mengingatkan, Gus Dur dulu menzalimi partainya karena mengusulkan pembubaran Golkar.
Ada dua hal yang harus dicermati. Pertama: saya tak menggunakan kutipan langsung, sehingga bisa saja nuansanya tak lengkap. Kedua: saya tak tahu itu pendapat pribadi Setya atau Golkar.
MASIH ADA SEJUMLAH TANYA.
"Cuma sebatas itu ya kepedulian orang urban dan kelas menengah? Di luar Prita nggak perlu diurus? Apa karena Mbah Minah, dan lainnya, bukan pengguna internet?" tanya seseorang kepada saya. Itu pertanyaan kesekian dari orang yang berbeda.
Ada pula yang seperti ini, "Lho katanya Langsat itu rumahnya blogger? Tapi mana blogger-nya, kok yang gabung sejak awal sebagai relawan malah banyakan orang-orang biasa, bukan blogger? Padahal katanya ini soal kebebasan berpendapat di internet kan?" Saat itu memang jam kerja, dan sebagian bloggers masih ngantor.
MAKA ADA SAJA ANAK OBES DENGAN ASUPAN KALORI BERLEBIH. :)
Saya tak paham sepakbola tapi kadang bisa menikmati sejenak bal-balan ngawur anak kecil. Saya sebut ngawur karena tanpa sepatu, tanpa pelatih, lokasi di mana saja, dengan aturan yang dibuat sendiri. Dari sana saya selalu melihat ada saja bocah yang gesit, lincah, ulet, dan bisa menjadikan bola sebagai bagian dari dirinya.
Tak istimewa, kata Anda. Setiap anak lelaki pernah mengalami, kata Anda. Bahkan anak perempuan saya pun mengalami. Dulu setiap kali saya atau istri menjemput ke SD-nya, si genduk sudah basah kuyup dan gosong, awut-awutan seragamnya, karena sedang bermain bola dengan anak laki-laki. Sampai sekarang dia lebih paham bal-balan ketimbang saya.
PAMERAN F.X. HARSONO: THE ERASED TIME.
Apa sih kesalahan orang berdarah Cina di Indonesia? "Karena mereka Cina." Jawaban itu membutuhkan telaah belasan ribu halaman buku. Jika ditambah obrolan dan seminar, bakal bertambah ribuan halaman lagi. Jika ditambah yang tersimpan di benak dan hati, entah berapa tebal dokumen yang akan dihasilkan.
Monumen Bong Belung, 2009. Polyester, jarum, cetak saring di atas kain.
KETIKA KONTEN PRIBADI MENEMUKAN BANYAK SALURAN.
"Ngapain aja teman-teman itu bikin Pesta Blogger? Ngeblog udah nggak hype lagi. Sekarang cukup ngikut FB ama Twitter udah bikin kita eksis," kata seseorang yang sudah lama stop ngeblog, tapi ketika ngeblog pun juga jarang update. Oh! Eksis. Ehm.
Baiklah. Itu soal pilihan. Saya menghormati. Toh misalkan dia politikus, anggota DPR pula, pilihan itu tak merugikan negara dan rakyat.
DO-IT-YOURSELF VERSUS WAKTU DAN MURAHNYA ONGKOS TUKANG.
Sekolah dan kamus menyebutnya "prakarya". Kesan saya, kata itu berarti sesuatu yang belum dibuat, masih berupa rancangan. Hasta karya atau pekerjaan tangan mungkin lebih cocok. Ah peduli amat dengan istilah. Lebih penting ini: apakah Anda masih sempat mengerjakan itu?
Tentu Andalah yang menjawab dan bercerita panjang. Mungkin di blog masing-masing. Saya hanya melengkapi cerita Anda.
UNTUK PEMENANG, DONG. TAPI... :D
Misalkan tagihan ponsel Anda dibayari oleh kantor. Sakndilalah poin Anda berbuah keberuntungan, mendapatkan hadiah mobil undian (atau ibadah umrah). Untuk siapakah hadiah itu?
Jawaban enak tapi dianggap egoistis: kalau atas nama karyawan, ya hadiahnya untuk karyawan dong. Jawaban peduli lingkungan: yah kantor dapat bagianlah -- setelah mobil diuangkan, bukan sekadar hak pakai mobil. Persoalannya, siapa yang disebut sebagai "kantor" itu? Lembaga atau orang-orangnya?
Maaf, shoutbox prei dulu. Harap, eh harus maklum. Terima jadi. :)