PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK
SOAL ADAM DAN HAWA. KISAH NYATA...
Ibu itu akhirnya membuka kaca mobilnya karena sepeda motor yang membarenginya terus memberikan isyarat ingin bicara. Seingat ibu itu, dia tidak menabrak atau menyerempet sesuatu.
Maka inilah akrobat ringan. Pagi itu, di tengah keramaian jam berangkat kerja, pengendara motor membuka helmnya sambil berjalan. Muda, berwajah bersih, ganteng, kenang ibu itu. Dan inilah yang dikatakan oleh si pemuda, sambil jari tangannya mengisyaratkan benda kecil, "Minta kartu namanya dong..."
PEMOTRET TANPA ORDER DI PERHELATAN.
Sudah ada dari dulu, dan masih mencoba bertahan hingga kini. Apa? Jasa pemotretan tanpa order dalam setiap acara, dari wisuda, penataran, sampai seminar. Saya melihat upaya bertahan itu dua hari lalu di Taman Mini Indonesia Indah.
Di lantai depan pintu masuk Sasono Langen Budoyo itu terjejer foto anak-anak peserta lomba paduan suara SD. Ukurannya 5R, terbungkus plastik. Selain foto tersedia pula sebingkai film negatif.
JALAN KAKI SEJAUH 60 KM LEBIH. SETIAP HARI.
Dari kejauhan saya menyangkanya seorang mahasiswa yang sedang diplonco. Namun dalam sekejap saya ingat, sekarang belum musim inisiasi akademis. Ketika jarak saya makin dekat, terbacalah tulisan di punggungnya itu: "Saya sedang mencari kerja."
Namanya Jero. Usianya 35. Lajang. Kulitnya menggelap terpanggang Mentari. Wajahnya berkilat oleh keringat. Bibirnya kering menahan haus.
ADAKAH KUMPENI YANG PAHAM?
Kadang ketika Pidgin menyala, saya lihat beberapa orang masih terang-terangan online. Padahal hari sudah berganti, hanya saja masih jauh dari Matahari. Tampaknya tak sedikit orang (baca: bloggers) yang berkawan dengan malam.
Saya tahu ada orang yang jarang sekali minum obat flu karena jarang batuk-pilek. Padahal dia betah melek. Kuncinya ada di pola makan dan tidur yang cukup. Sayang sebagian dokter dan bos kurang paham soal ini.
LAGI: MASIHKAH ANDA MEMAKAI JASA POS?
Terulang lagi. Kuesioner itu urung saya kirim, tetap di laci. Kertas terlipat bebas prangko itu tidak saya masukkan ransel supaya (niat saya) selalu terlihat, lantas terangkut, dan akhirnya terposkan.
Tapi begitulah. Rute saya tak melewati bus surat atau brievenbus menurut istilah generasi bapak saya. Seingat saya, rute saya juga tak melewati kantor pos.
UNTUK SIAPA SAJA YANG MASIH BISA HAMIL.
Barang ini sudah biasa. Sudah jadi pengetahuan umum. Banyak apotek dan minimarket menjualnya -- malah kadang dipajang di meja kasir. Pria sopan yang sedang antre untuk membayar Heineken berbonus DVD gol balbalan pasti pura-pura tak melihat, agar nona pembeli tidak jengah.
Apanya yang aneh? Sejauh ini tidak yang aneh atau ngawur. Bahwa uji kilat tak menjamin 100 persen hasil akurat, produsennya sudah memberi disklaimer.
SIAPA YANG SOMBONG? KITA MEMANG PENGINTIP!
Sahabat saya kesal. Sejak rumah yang dibangunnya itu menampakkan sosok, padahal belum jadi, ada saja orang yang mampir, masuk ke halaman bahkan ke dalam rumah.
Ngapain? Liat-liat. Atas nama apresiasi, mencari ide, dan komparasi. Bahkan ada yang dari luar kota segala. Sebagian berombongan. Beberapa yang datang adalah... arsitek!
BAGAIMANA KANTOR ANDA MERAYAKANNYA?
Kemarin, di sebuah kantor kecil, ada keriangan terbatas. Mas Yanto, si serbabisa banyak tugas, larut dalam haru campur kikuk. Ada cokelat dari Dapur Cokelat plus beberapa kado. Dia berulang tahun.
Menurut cerita banyak teman, di kantor masing-masing itu perayaan ultah office boy, sopir, janitor, dan mereka yang di strata bawah dalam struktur kedinasan adalah sesuatu yang mengesankan.
MUNGKIN INILAH PERBEDAAN GENERASI.
Mohon jangan Anda tertawakan penuh pelecehan jika ada orang berusia 45 ke atas heran melihat perilaku orang-orang yang lebih muda.
Misalnya, "Kenapa sih anak-anak itu ke mana-mana bawa laptop? Udah belasan tahun aku pake laptop, malah sudah lima kali ganti, tapi paling membahagiakan kalo bisa ninggalin itu barang di rumah."
SEPERTI PIAGAM, UNTUK MENCARI PEKERJAAN.
Template atau desain siap pakai, itu hal biasa. Begitu juga untuk aplikasi pengolah kata. Tapi ketika mendapati formulir lamaran kerja riwayat hidup di toko, berbahan kertas HVS 60 gram, saya takjub juga. Kok masih ada sih?
Ralat: kata "masih ada" itu pun sebetulnya sok tahu saja. Sebelumnya, seumur-umur, saya belum pernah melihat. Maka saya menduga, barang gituan sudah ada sejak dulu.
Maaf, shoutbox prei dulu. Harap, eh harus maklum. Terima jadi. :)