<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blogombal [√] &#187; Umum</title>
	<atom:link href="http://blogombal.org/category/umum/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogombal.org</link>
	<description>catatan ringan angin-anginan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 08:41:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/11/27/salah-sendiri-kenapa-ndak-bisa-basa-enggris/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/11/27/salah-sendiri-kenapa-ndak-bisa-basa-enggris/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 21:45:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kemasan makanan dan minuman]]></category>
		<category><![CDATA[perlindungan konsumen]]></category>
		<category><![CDATA[produk asing]]></category>
		<category><![CDATA[produk impor]]></category>
		<category><![CDATA[Rotiboy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5083</guid>
		<description><![CDATA[BAHASA INDONESIA PADA KEMASAN MAKANAN. <p></p> <p>Dulu sebagian dari kita mentertawakan menu ponsel berbahasa Melayu dan kemudian Indonesia. Terasa aneh, dan karena mengutamakan keringkasan malah menjadi sulit dipahami.</p> <p>Selain itu juga, apa boleh buat, bahasa Indonesia lebih boros karakter. &#8220;Sent&#8221; jelas lebih hemat huruf bila dibandingkan dengan &#8220;terkirim&#8221;. Untunglah &#8220;OK&#8221; tak diindonesiakan menjadi &#8220;baiklah&#8221;.</p> <p></p> [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>BAHASA INDONESIA PADA KEMASAN MAKANAN.</h3>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-5126" title="blogombal-info-berbahasa-indonesia-crumpy | info dasar seperti versi asingnya" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/11/blogombal-info-berbahasa-indonesia-crumpy.jpg" alt="" width="450" height="370" /></p>
<p>Dulu sebagian dari kita mentertawakan menu ponsel berbahasa Melayu dan kemudian Indonesia. Terasa aneh, dan karena mengutamakan keringkasan malah menjadi sulit dipahami.</p>
<p>Selain itu juga, apa boleh buat, bahasa Indonesia lebih boros karakter. &#8220;<em>Sent</em>&#8221; jelas lebih hemat huruf bila dibandingkan dengan &#8220;terkirim&#8221;. Untunglah &#8220;OK&#8221; tak diindonesiakan menjadi &#8220;baiklah&#8221;.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-5128" title="blogombal-bahasa-indonesia-meadow-lea" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/11/blogombal-bahasa-indonesia-meadow-lea.jpg" alt="" width="450" height="273" /></p>
<p>Akan tetapi lihatlah: makin banyak ponsel bermenukan bahasa Indonesia. Di luar keharusan hukum, menu ponsel berbahasa Indonesia memang lebih nyaman bagi pengguna baru yang sebelumnya tak akrab dengan komputer.</p>
<p>Dan inilah perkembangannya. Facebok, Plurk, dan Twitter pun akhirnya menyediakan versi berbahasa Indonesia &#8212; karena ingin menjawab pasar, bukan mengambil muka kepada Pemerintah. Padahal sebagian penggunanya (terutama versi <em>desktop</em>) paham bahasa Inggris. <em>Platform</em> WordPress, sebagai layanan blog dan mesin terpisah, pun memiliki<a href="http://id.wordpress.org/" target="_blank"> versi berbahasa Indonesia</a>, bahkan <a href="http://jv.wordpress.org/" target="_blank">Jawa</a> dan <a href="http://su.wordpress.org/" target="_blank">Sunda</a> (Lihat juga Memo: <em><a href="http://memo.blogombal.org/2010/11/05/wordpress-jawa-code-is-geguritan/" target="_blank">Code is Geguritan</a></em> dan <em><a href="http://memo.blogombal.org/2008/12/19/akang-matt-nyarios-sunda/" target="_blank">Akang Matt Nyarios Sunda</a></em>).</p>
<p>Untuk sebagian orang yang terbiasa dengan menu berbahasa Inggris dalam komputer (Windows dan Mac OS), menggunakan Ubuntu berbahasa Indonesia akan lebih membingungkan ketimbang menu ponsel berbahasa nasional. Tetapi seorang opas yang terbiasa dengan ponsel berbahasa Indonesia &#8212; dan itu adalah peranti digital yang pertama dia kenal &#8212; akan kerepotan dan banyak bertanya ketika belajar menggunakan Windows berbahasa Inggris. Dia paham arti kata &#8220;<em>fresh</em>&#8220;, namun bingung dengan kata &#8220;<em>refresh</em>&#8220;, baik arti maupun kegunaannya. Catatan: arti kata &#8220;<em>refreshing</em>&#8221; yang dia kenal adalah &#8220;selingan&#8221;.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-5130" title="blogombal-teks-indonesia-sambal-bangkok-dari-thailand" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/11/blogombal-teks-indonesia-sambal-bangkok-dari-thailand.jpg" alt="" width="450" height="303" /></p>
<p>Jika menyangkut haram dan halal pada makanan, persoalannya menjadi lebih serius. Misalnya seperti yang dinyatakan pada dinding luar sebuah kedai di Gandaria City, Jakarta, ini:  &#8221;<em>All dishes contain pork</em>.&#8221; (Lihat Memo: <em><a href="http://memo.blogombal.org/2011/04/18/babi-jelas/" target="_blank">Babi? Jelas!</a></em>). Saya ragu apakah semua kalangan konsumen memahami info itu. Catatan: keharaman babi tak hanya berlaku bagi muslim, karena sebagian sekte Nasrani juga mengharamkannya.</p>
<p><img class="alignnone" title="makanan mengandung babi di gandaria city" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/memo3/memo-mengandung-babi1.jpg" alt="" width="600" height="205" /></p>
<p>Maka sebetulnya aneh juga kalau sebuah merek roti itu sampai menggunakan bahasa Inggris. Memang dia merek luar (Rotiboy, <a href="http://malaysia.rotiboy.com/" target="_blank">Malaysia</a>), tetapi sebagai barang yang sudah cukup lama <a href="http://indonesia.rotiboy.com/" target="_blank">dipasarkan di Indonesia</a> (sejak 2001; kini memiliki hampir 40 gerai) mestinya bisa meniru cara produk lain  yang ditempuh di Malaysia, dan barangnya masuk ke Indonesia &#8212; kadang dengan stiker terjemahan oleh importir/distributor. (Lihat Memo: <em><a href="http://memo.blogombal.org/2010/11/03/pemakanan-bukan-pemakaman/" target="_blank">Pemakanan bukan Pemakaman</a></em>).</p>
<p><img class="alignnone" title="kemasan Mister Potato berbahasa Melayu, Inggris, dan Belanda" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/memo2/memo-pemakanan.jpg" alt="" width="600" height="357" /></p>
<p>Bagaimana dengan panduan pada bungkus roti ini? Bagi Anda pasti sudah jelas. Tetapi bagi sebagian orang, yang asing dengan bahasa Inggris, lagi pula jarang menghiraukan aturan pakai, panduan bertajuk &#8220;<em>Experience the Exhilarating Warmth of Rotiboy Right in Your Kitchen</em>&#8221; itu sama asingnya dengan tulisan Cina pada bungkus dan liflet obat buatan RRC &#8212; terutama yang masuk lewat jalur gelap.</p>
<p><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/11/blogombal-bahasa-inggris-bungkus-rotiboy.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-5117" title="blogombal-bahasa-inggris-bungkus-rotiboy | apakah semua konsumen paham?" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/11/blogombal-bahasa-inggris-bungkus-rotiboy.jpg" alt="" width="450" /></a></p>
<p>Anda lihat, teks arahan pada bungkus roti lebih kaya daripada produk lain yang hanya memuat info dasar sebangsa  komposisi kandungan dan nilai nutrisinya. Arahan pada bungkus roti juga bersangkut paut dengan kepentingan produsen, yaitu agar produknya tetap enak dan layak.</p>
<p>Setiap produk punya segmen, kata Anda. Mungkin benar. Tetapi <a href="http://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/447/node/34/uu-no-8-tahun-1999-perlindungan-konsumen" target="_blank">UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen</a> sudah mengatur penggunaan bahasa Indonesia (Pasal 8, ayat 1.j.).</p>
<p>Jika menyangkut makanan dan minuman mestinya produsen menaruh perhatian lebih saksama. Gampangannya: makanan bisa dibeli oleh orang yang memahami bahasa Inggris, dan kemudian diberikan kepada orang yang tak memahami bahasa Inggris.</p>
<p>Saya tak tahu apakah di negeri asalnya, Malaysia, bungkus Rotiboy juga memuat bahasa Melayu (selain Mandarin).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/11/27/salah-sendiri-kenapa-ndak-bisa-basa-enggris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>78</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masker Jakarta</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/10/22/masker-jakarta/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/10/22/masker-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Oct 2011 06:20:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[fashion]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[kualitas udara jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[masker]]></category>
		<category><![CDATA[polusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4814</guid>
		<description><![CDATA[WARGA MELINDUNGI DIRI DENGAN CARANYA SENDIRI. <p></p> <p>Ada yang menarik  selama dua tahun terakhir ini. Masker di tempat umum menjadi hal biasa. Pemakainya umumnya perempuan, tetapi sekarang makin banyak juga pria yang mengenakannya.</p> <p>Yang saya maksud adalah masker yang bukan dipakai oleh penunggang sepeda motor dan sepeda, tetapi masker yang dipakai dalam bus, angkot kecil, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>WARGA MELINDUNGI DIRI DENGAN CARANYA SENDIRI.</h3>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-4848" title="pengguna masker dalam halte busway di jakarta" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-masker-jakarta01.jpg" alt="pengguna masker dalam halte busway di jakarta" width="450" height="253" /></p>
<p>Ada yang menarik  selama dua tahun terakhir ini. Masker di tempat umum menjadi hal biasa. Pemakainya umumnya perempuan, tetapi sekarang makin banyak juga pria yang mengenakannya.</p>
<p>Yang saya maksud adalah masker yang bukan dipakai oleh penunggang sepeda motor dan sepeda, tetapi masker yang dipakai dalam bus, angkot kecil, dan di jalan, jembatan penyeberangan, halte, terminal, bahkan ketika sebelum masuk ke dalam mal. Sebagian besar pemakainya, menurut kesan saya, adalah pengguna angkutan umum.</p>
<p>Jadi sudah biasa jika pagi atau petang kita mendapati seorang wanita bermasker sedang menunggu bus kota atau taksi. Ragam maskernya pun kian kaya, dari yang berbahan kertas sekali pakai sampai kain bermotif.</p>
<p>Sebelum dua tahun terakhir, masker hanya sering saya lihat dikenakan oleh para pengasuh anak. Mungkin mereka sedang flu padahal harus memomong anak-anak yang daya tahannya tak sekuat orang dewasa.</p>
<p>Sebelumnya lagi, belasan tahun lalu, masker di Jakarta sempat menjadi kebutuhan ketika abu dan asap (eh, asap itu berisi partikel abu juga kan?) hasil kebakaran hutan di Kalimatan dan Sumatra juga menyapa Ibu Kota pada 1997-98. Saya ingat ketika membelinya di Apotek Palmerah tinggal ada selembar.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-4853" title="cewek bermasker di atas jembatan penyeberangan dekat bursa efek indonesia" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-masker-jakarta02.jpg" alt="cewek bermasker di atas jembatan penyeberangan dekat bursa efek indonesia" width="450" height="250" /></p>
<p>Saya mendapatkan kesan, penggunaan masker itu merupakan respon warga terhadap kualitas udara Jakarta yang kian buruk. Cobalah Anda lihat jajaan pengasong dalam bus kota. Untuk barang yang tak cepat laku, bungkus luarnya berminyak kehitaman. Jika Anda sentuh dengan jari maka jelaga pun berpindah.</p>
<p>Beberapa tahun lalu, ketika para petugas polantas belum bermasker, seorang polantaswan yang sedang membantu menyeberangkan para pejalan kaki di Slipi bilang kepada saya yang menyeberang sambil menutupi hidung dengan sapu tangan, &#8220;Situ enak, Mas. Cuma make pas di jalan. Saya di jalan saben hari!&#8221;</p>
<p>Sesampainya di tepi jalan dia sempat menumpahkan unek-uneknya dengan memaki para petinggi korpsnya yang menurutnya, &#8220;Cuma bisa korupsi tanpa inget anak buah.&#8221;</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-4851" title="dua penumpang transjakarta menggunakan masker" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-masker-jakarta03.jpg" alt="dua penumpang transjakarta menggunakan masker" width="450" height="250" /></p>
<p>Menurut <em>Tempo Interaktif</em> tahun lalu, <a href="http://www.tempo.co/hg/jakarta/2010/04/10/brk,20100410-239388,id.html" target="_blank">kualitas udara membaik</a>. Di sana Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLHD) DKI Jakarta Peni Susanti mengutip data Clean Air Inisiative for Asia City: jumlah partikel debu Jakarta 68,5 mikrogram per meter kubik, di bawah batas maksimum standar udara bersih 150 mkg/m3. &#8220;Bandingkan dengan jumlah partikel debu di Beijing yang mencapai 140 mkg/m3,&#8221; kata Peni.</p>
<p>Saya, seperti umumnya warga, tak paham makna data kuantitatif. Saya hanya merasakan udara tak nyaman. Telinga ini cepat kotor. Kerah baju juga. Begitupun kuku tangan. Dan yang namanya perabot rumah itu lebih lekas kotor, malah belakangan ada debu halus kehitaman. Coba periksa kisi-kisi AC dan bilah kipas angin Anda. Banyak debu hitam, bukan debu cokelat tua tanah. Coba usap juga dedaunan di halaman luar depan rumah yang lalu lintas jalannya ramai.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-4847" title="pria bermasker dalam bus kota di jakarta" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-masker-jakarta.jpg" alt="pria bermasker dalam bus kota di jakarta" width="450" height="250" /></p>
<p>Hmmm&#8230; respon warga. Ada manfaat lain bermasker juga sih. Beberapa perempuan nyaman bermasker ketika menunggu taksi, supaya wajah utuhnya tak menjadi santapan mata para pelintas jalan. ;)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/10/22/masker-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemomong Anak dan Keluarga Muda</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/10/17/pemomong-anak-dan-keluarga-muda/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/10/17/pemomong-anak-dan-keluarga-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 18:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[baby sitter]]></category>
		<category><![CDATA[kafe]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga muda]]></category>
		<category><![CDATA[mal]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pengasuhan anak]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[suster]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4775</guid>
		<description><![CDATA[PENGASUH ANAK ITU PERLU, SUPAYA ORTU BEBAS MELENGGANG DI MAL.  <p></p> <p>Sekitar lima-enam pengasuh anak, masing-masing berseragam, berkumpul di pojokan. Masing-masing beserta anak yang diasuhnya, umumnya balita. Ada yang sedang menyuapi, ada yang meninabobokan, dan ada juga yang beberapa kali harus berdiri lalu mengejar anak yang menjadi tanggung jawabnya.</p> <p>Di mana ibunya? Menjadi bagian dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>PENGASUH ANAK ITU PERLU, SUPAYA ORTU BEBAS MELENGGANG DI MAL.<span class="Apple-style-span" style="font-size: 14px; line-height: 22px;"> </span></h3>
<p><img class="size-full wp-image-4803 alignnone" title="keluarga muda tak membawa baby sitter di sogo plaza senayan jakarta" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-keluarga-muda-tanpa-baby-sitter.jpg" alt="keluarga muda tak membawa baby sitter di sogo plaza senayan jakarta" width="450" height="308" /></p>
<p>Sekitar lima-enam pengasuh anak, masing-masing berseragam, berkumpul di pojokan. Masing-masing beserta anak yang diasuhnya, umumnya balita. Ada yang sedang menyuapi, ada yang meninabobokan, dan ada juga yang beberapa kali harus berdiri lalu mengejar anak yang menjadi tanggung jawabnya.</p>
<p>Di mana ibunya? Menjadi bagian dari sepuluhan perempuan yang duduk mengelilingi meja panjang sebuah kedai kopi dengan kepulan asap rokok. Sebagian besar bersenda gurau sambil memainkan ponsel, ada juga yang memakai tablet. Derai tawa tak henti pada sebuah siang pada hari kerja itu.</p>
<p>Bukan pertama kali hal begituan saya temui. Pada akhir pekan, misalnya Sabtu, juga banyak ibu muda yang membawa anak dan pengasuhnya tetapi saya mendapatkan kesan setelah itu anaknya ditinggal.</p>
<p>Pada akhir pekan di mal juga tak sedikit pasangan muda yang melenggang beserta aksesoris besar bernama kereta bayi,  pengasuh anak, dan anak. Suami-istri berkeliling dari toko ke toko, pengasuh dan anak mengikuti. Suami-istri mengudap, pengasuh dan anak menjadi pelengkap. Malah beberapa kali saya lihat pengasuh tak sempat mengasupi dirinya karena sibuk mengurus anak majikan. Pernah lho saya lihat pengasuh hanya menghadapi Teh Botol &#8212; berbeda dari tuan dan nyonya.</p>
<p>Tentu saya juga sering menjumpai suami-istri yang pergi ke mal tanpa bantuan pengasuh. Mereka bahu-membahu mengurusi anak sambil berbelanja maupun mengudap. Malah kemarin di Senayan City, Jakarta, saya masuk ke peturasan bersama seorang ayah muda yang mencangklong tas perempuan keperakan, sementara istrinya juga ke peturasan bersama putri kecilnya.</p>
<p>Manakah yang lebih baik, keluarga kecil pergi sebagai keluarga inti, ataukah membawa anak dan pengasuh supaya ayah dan ibu lebih leluasa?</p>
<p>Saya tidak dapat menghakimi. Setiap keluarga itu otentik. Masing-masing punya pandangan dan cara hidup. Termasuk dalam mengasuh anak.</p>
<p>Oh ya, saya punya cerita.  Minggu siang kemarin, di Plaza Senayan, Jakarta, saya berpapasan dengan ibu muda cantik yang mengenakan jins, kaos putih, dan sepatu hak tinggi. Saya pernah melihat wajahnya di majalah <em>fashion</em>. Tingginya, tanpa sepatu, sekitar 170 cm. Kakinya panjang. Langkahnya lebar. Berjalannya cepat. Sekitar lima meter di belakangnya seorang pengasuh setinggi kira-kira 145 cm terpontal-pontal mengejar sambil menggendong anak usia sekitar dua tahun, sementara satu tangannya membawa belanjaan.</p>
<p>Ah, saya teringat seorang nenek dengan banyak anak yang pernah berujar, &#8220;Misalkan anak kalian belum dapat menikmati tempat yang kalian datangi, lagian kalo harus momong malah repot, padahal di rumah ada yang megang, mendingan anak ditinggal saja.&#8221;</p>
<p>Nenek itu mungkin tak memahami Jakarta yang sibuk, bergegas, dan pelit waktu. ;)</p>
<p>Nenek itu mungkin lupa bahwa anak juga perlu dipamerkan &#8212; tetapi kalau bisa tanpa repot menggendong, tanpa memeriksa popok kertas, dan tanpa menyuapi. Bahkan misalnya anak rewel, orangtua tak perlu sibuk menenangkannya. :P</p>
<p>Nenek yang pernah tinggal di negeri maju itu mungkin lupa bahwa Indonesia berlimpah tenaga kerja, termasuk pengasuh anak. :D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/10/17/pemomong-anak-dan-keluarga-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>64</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasib Koran dan Penjajanya</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/10/09/nasib-koran-dan-penjajanya/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/10/09/nasib-koran-dan-penjajanya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 16:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[iwan fals]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[loper koran]]></category>
		<category><![CDATA[media cetak]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[pengasong koran]]></category>
		<category><![CDATA[pondok indah]]></category>
		<category><![CDATA[situs berita]]></category>
		<category><![CDATA[sore tugu pancoran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4664</guid>
		<description><![CDATA[<p>Si Budi kecil kuyup menggigil<br /> Menahan dingin tanpa jas hujan<br /> Di simpang jalan Tugu Pancoran<br /> Tunggu pembeli jajakan koran<br /> Menjelang maghrib hujan tak reda<br /> Si Budi murung menghitung laba<br /> Surat kabar sore dijual malam<br /> Selepas isya melangkah pulang</p> <p>~ Iwan Fals, Sore Tugu Pancoran, 1985 &#8212; 26 tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Si Budi kecil kuyup menggigil</em><br />
<em> Menahan dingin tanpa jas hujan</em><br />
<em> Di simpang jalan Tugu Pancoran</em><br />
<em> Tunggu pembeli jajakan koran</em><br />
<em> Menjelang maghrib hujan tak reda</em><br />
<em> Si Budi murung menghitung laba</em><br />
<em> Surat kabar sore dijual malam</em><br />
<em> Selepas isya melangkah pulang</em></p>
<p>~ Iwan Fals, <em>Sore Tugu Pancoran</em>, 1985 &#8212; 26 tahun lalu</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-4688" title="blogombal-pengasong-koran-jakarta" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/blogombal-pengasong-koran-jakarta.jpg" alt="" width="450" height="223" /></p>
<p>Setiap kali melewati lampu merah dekat Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, pada malam hari, saya mendapati beberapa bocah penjaja koran. Kadang ada juga anak perempuan usia sekitar kelas 6 SD.</p>
<p>Pernah beberapa kali saya membeli koran sore yang mereka jajakan. Koran sore masih memuat sebagian berita hari yang sama.</p>
<p>Akan tetapi belakangan saya makin sering melihat mereka menjajakan koran pagi. Seperti tadi, seperempat jam menjelang pukul sepuluh malam, setelah Jakarta Selatan usai dimandikan hujan. Mereka jajakan koran pagi yang memuat berita kemarin. Tepatnya koran <em>Kompas</em> edisi Minggu yang sebagian isinya sudah dipersiapkan beberapa hari sebelumnya.</p>
<p><em>Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu</em><br />
<em> Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu</em><br />
<em> Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu</em><br />
<em> Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal</em></p>
<p>Saya saya tak tahu data terakhir Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) tentang tiras koran setelah penetrasi internet kian dalam dan meluas.</p>
<p>Saya juga belum pernah menanya anak-anak lampu merah itu. Tetapi dari seorang bocah penjaja koran bersepeda di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, saya pernah mendengar, yang membeli koran eceran itu, &#8220;Biasanya orang tua.&#8221;</p>
<p>Beberapa kali ketika sarapan gule warung kaki lima Pak Giyono,  Gandaria, saya dapati koran milik penjaga warung rokok jarang menjadi bacaan bergiliran. Koran rakyat <em>Sentana</em> belum lusuh. Sesekali ada <em>Lampu Hijau</em> entah milik siapa, tergeletak di atas bangku atau kotak pendingin teh botolan,  juga tak ada yang membaca selain sopir bajaj yang kongko di sana.</p>
<p>Koran cetak tak menarik lagi. Berita kemarin sudah lebih dulu muncul di TV dan internet. Beberapa orang biasa, bukan orang kantoran, mengatakan kepada saya cukup membaca Detikcom dari ponsel. Lalu seorang loper di Pondokgede, Jawa Barat, heran kenapa tiba-tiba sebuah tangga hanya melanggani <em>Koran Tempo</em>, sedangkan <em>Kompas</em>, <em>Kontan</em>, dan <em>The Jakarta Post</em> dicoret.</p>
<p>Jawaban paling gampang dan sekaligus mengakhiri pertanyaan adalah demi penghematan. Yang tak perlu tersampaikan adalah bahwa keempat koran akhirnya tetap terlipat, tak ada yang membaca, karena tuan rumah berangkat pagi, dan anak sulungnya kuliah di Bandung, sementara anak bungsu kurang tertarik koran (tetapi selalu mendengar isu mutakhir dari media sosial).</p>
<p>Rapat keluarga memutuskan cukup satu koran saja, adiknya majalah <em>Tempo</em>, karena isinya ringkas, ukuran kertasnya kecil.</p>
<p><em>Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu&#8230;</em></p>
<p>Bukan hanya anak itu. Semua orang. Termasuk pekerja media. Waktu berpacu kian kencang. Berita barusan cepat terasa basi.</p>
<p>Bukan hanya anak itu. Tetapi juga para konsumen media. Apa yang diharap dari kertas jika berita di layar lebih lekas dan selalu terbarui?</p>
<p>Tablet sangat berkemungkinan menjadi penyelamat koran. <em>E-paper</em> bisa dibaca di sana dengan membayar, tak perlu mengorbankan pohon, bahkan dari hutan tanaman industri sekalipun.</p>
<p>Situs koran yang berupa portal memberikan sepaket informasi: teks, gambar, suara, dan gambar hidup. Bukan hanya itu. Tulisan panjang yang komplet dan mendalam adalah sumber rujukan praktis tanpa harus mengliping koran.</p>
<p>(<em>Ah, tiba-tiba saya ingat, pernah memotret Gus Dur sedang menggunting The International Herald Tribune, 21 tahun lalu, di kantor PBNU, Jakarta, dengan film hitam-putih Kodak Tri-X. Dia menggunting sambil ngobrol dengan Pak Somad, penyapu ruang</em>)</p>
<p>Akan tetapi bin namun sekali, bukankah jika bicara internet berarti bicara Jakarta? Bicara Pulau Jawa?</p>
<p>Ya. Tetapi di manakah di Indonesia ini daerah yang diisi oleh banyak media cetak?</p>
<p>Untuk daerah lain yang belum tergarap internet cepat, kita tak perlu mengulangi proses ada banyak koran cetak dulu baru kemudian koran <em>online</em>. Tablet akan semakin terjangkau. Ponsel pintar buatan Cina juga akan semakin memurah. Operator akan semakin bersaing menjual koneksi data.</p>
<p><em>Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu&#8230;</em></p>
<p>Anak-anak yang menjajakan koran setiap petang hingga malam itu. Saya tak tahu sampai kapan jualan mereka ada yang membeli. Saya tak tahu kapan subagen akan menitipkan koran kepada mereka.</p>
<p>Memang pada beberapa pagi, tak berurutan, saya masih melihat kesibukan agen dan loper di Senen, Lapangan Banteng, dan kolong jalan layang Cawang. Sampai kapan mereka akan bertahan saya tak tahu.</p>
<p>Kelak beberapa agen besar, yang kebetulan bermarga Batak, mungkin hanya akan menyalurkan majalah. Bukan koran.</p>
<p>Dan kita tahu, tak semua majalah layak ditenteng dan dijajakan di lampu merah. Tak semua loper mau.</p>
<p>Koran cetak? Masih bertahan mungkin sampai sepuluh tahun mendatang, dengan isi yang berubah entah menjadi apa, tetapi masih disebut sebagai koran, dan mungkin tak perlu pengasong. Menurut Anda?</p>
<p><object width="480" height="360" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/0okzlKH1BR0?version=3&amp;hl=en_US" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed width="480" height="360" type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/0okzlKH1BR0?version=3&amp;hl=en_US" allowFullScreen="true" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/10/09/nasib-koran-dan-penjajanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perahu Kaleng Othok-othok</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/07/25/perahu-kaleng-othok-othok/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/07/25/perahu-kaleng-othok-othok/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 07:10:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[dugderan semarang]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>
		<category><![CDATA[kapal kaleng]]></category>
		<category><![CDATA[klangenen]]></category>
		<category><![CDATA[kolekdol]]></category>
		<category><![CDATA[mainan]]></category>
		<category><![CDATA[pasar malam]]></category>
		<category><![CDATA[perahu kaleng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4589</guid>
		<description><![CDATA[RATAPAN KITA TERHADAP MAINAN JADUL. <p></p> <p>Ada yang baru dari perahu othok-othok yang berbahan kaleng itu. Sekarang ada versi berlayar. Saya menemukannya di pasar malam dugder(an) Semarang kemarin. Harga tanpa negosiasi Rp 10.000 per buah. Untuk yang tanpa layar versi kecil Rp 5.000 per buah. Penjualnya orang Cirebon, datang ke Semarang setahun sekali setiap dugder(an) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>RATAPAN KITA TERHADAP MAINAN JADUL.</h3>
<p><img class="alignnone" title="perahu kaleng dalam pasar malam dugder di semarang " src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-kapal-kaleng03.jpg" alt="" width="450" height="253" /></p>
<p>Ada yang baru dari perahu othok-othok yang berbahan kaleng itu. Sekarang ada versi berlayar. Saya menemukannya di pasar malam dugder(an) Semarang kemarin. Harga tanpa negosiasi Rp 10.000 per buah. Untuk yang tanpa layar versi kecil Rp 5.000 per buah. Penjualnya orang Cirebon, datang ke Semarang setahun sekali setiap dugder(an) menjelang Ramadan.</p>
<p>Jika kita bicara mainan lama, maka yang merambati diri kita adalah nostalgia dan eksotisisme. Nostalgia itu soal pengalaman masa lalu &#8212; kalau mengalami. Eksotisisme itu perkara cita rasa: kerinduan terhadap sesuatu yang langka, agak menyalahi zaman, dan dalam kasus kapal eh&#8230; perahu kaleng adalah tidak canggih.</p>
<p><img class="alignleft" title="perahu kaleng dalam pasar malam dugder semarang" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-kapal-kaleng05.jpg" alt="" width="250" height="444" />Lantas apa masalahnya? Urusan menjadi konyol jika kita selalu memutar lagu yang sama dengan lirik, <em>&#8220;Sayang ya anak sekarang nggak kenal gitu lagi. Padahal mainan lawas itu blablablabla… Sayaaanggggg…. banget.&#8221;</em></p>
<p>Lagu akan disusul bagian kedua jika ditambahi, <em>&#8220;Coba lihat mainan dari kulit jeruk bali. Mana ada? Dulu itu anak diajari kreatif, anu, anu, anu…&#8221;</em></p>
<p>Stop. Cukup. Tak selesai soal jika semuanya hanya menjadi keluhan, ratapan. Tapi kalau bisanya hanya itu ya apa boleh buat, lantas suatu kali kalau muncul pustaka asing yang memuat mainan lawas kita hanya merenges, lalu sibuk mencari alasan kenapa tak mau mendokumentasikannya. Paling klise adalah &#8220;nggak sempat&#8221;, dan lebih parah lagi &#8220;nggak kepikir&#8221;.</p>
<p>Maka sebaiknya perbincangan kita belokkan ke wilayah lain. Mainan hanya bertahan jika masih fungsional, misalnya menarik dan menyenangkan, pun mendatangkan kegembiraan bersama teman.</p>
<p>Itu sebabnya mobil-mobilan dan boneka terus bertahan, sebagian dengan berganti bahan dan rupa. Mobil plastik menggantikan mobil kaleng. <em>Action figures</em>, yang merupakan <em>brands</em>, menggantikan wayang dari atom tanpa jenama.</p>
<p><img class="alignnone" title="perahu kaleng dalam pasar malam dugder semarang" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-kapal-kaleng01.jpg" alt="" width="450" height="253" /></p>
<p>Pengertian &#8220;dimainkan bersama teman&#8221; sudah bertambah arti. Selain bersua dalam komunitas (tidak harus dalam pertetanggaan) juga dipamerkan, dipertukarkan, dan bahkan diperjualbelikan di internet. Oh ya, untuk Indonesia komunitasnya pun berbasis internet; dari milis, forum, situs khusus, sampai Facebook.</p>
<p>Ketika sebuah mainan lama hanya menjadi klangenan, sesungguhnya dia sudah tak murni fungsional lagi. Dia tak lebih sebagai <em>collector&#8217;s item</em> yang bisa meningkat menjadi komoditas &#8220;kolekdol&#8221;. Gampangannya: bapaknya menjadikannya sebagai hiasan dan koleksi (bahkan dagangan), tetapi anaknya emoh memainkannya &#8212; bahkan dilarang.</p>
<p>Soal lain adalah standar industri mainan yang ramah konsumen modern. Amankah perahu othok-othok yang logamnya runcing? Mudahkah sampahnya didaur ulang? Juga, amankah bahan catnya bagi anak kecil (maupun orang dewasa)?</p>
<p>Marilah kita mengumandangkan paduan suara: <em>&#8220;Dulu zaman kita nggak ada anak mati gara-gara kapal kaleng &#8212; kecuali selagi main kejatuhan atap runtuh.&#8221;</em></p>
<p><img class="alignnone" title="perahu kaleng dalam pasar malam dugder di semarang" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-kapal-kaleng02.jpg" alt="" width="450" height="253" /></p>
<p>Saya contohkan standar industri sebagai penyodoran ekstremitas. Sesungguhnya kita tak pernah berpikir sejauh itu. Kita, terutama orang dewasa, lebih sering terjebak dalam kecanggungan. Termasuk saya.</p>
<p>Saya sebut canggung karena saya pun tak banyak memperkenalkan mainan lawas dan mainan &#8220;tradisional&#8221; kepada anak saya. Kalau pun pernah mencoba, dan gagal, saya tak meratapi lalu menyalahkan industri mainan modern (terutama RRC), apalagi menyalahkan internet.</p>
<p>Kalau anak-anak tak tertarik, lagi pula untuk mainan tertentu memang tak ada lahannya (misalnya <em>sepak sekong</em> dan <em>benthik</em>), masa sih mereka saya paksa?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/07/25/perahu-kaleng-othok-othok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>142</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lokasi Kantor: Antara Penting dan tak Penting</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/07/13/lokasi-kantor-antara-penting-dan-tak-penting/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/07/13/lokasi-kantor-antara-penting-dan-tak-penting/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jul 2011 23:27:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[aspirasi pekerja]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[fashion]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[industri kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[lowongan]]></category>
		<category><![CDATA[urban lifestyle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4570</guid>
		<description><![CDATA[KERJA DEMI GAUL TAK HARUS DI KAWASAN BISNIS. <p><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/07/denim-kerja.jpg"></a></p> <p>Pernah saya ceritakan, sebuah lembaga nirlaba kesulitan mencari sekretaris baru. Ada saja yang mendaftar tetapi para pelamar akhirnya mundur. Bukan karena gaji, toh gajinya tak kecil untuk sekretaris anyaran, tetapi… karena lokasi kantor!</p> <p>Lokasi kantornya di perumahan, bukan lingkungan bisnis. Padahal tak jauh dari Jalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KERJA DEMI GAUL TAK HARUS DI KAWASAN BISNIS. </h3>
<p><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/07/denim-kerja.jpg"><img src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/07/denim-kerja-257x300.jpg" alt="" title="denim-kerja | © rerock jeans/express.com" width="257" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-4575" /></a></p>
<p>Pernah saya ceritakan, sebuah lembaga nirlaba kesulitan mencari sekretaris baru. Ada saja yang mendaftar tetapi para pelamar akhirnya mundur. Bukan karena gaji, toh gajinya tak kecil untuk sekretaris anyaran, tetapi… karena lokasi kantor!</p>
<p>Lokasi kantornya di perumahan, bukan lingkungan bisnis. Padahal tak jauh dari Jalan Jenderal Sudirman, cuma di Pejompongan, Jakarta Pusat. Padahal lagi di Pejompongan juga banyak kantor.</p>
<p>Dari peruntukan rumah berdasarkan tata ruang mungkin salah, terutama di mata pemda. Tetapi bukan itu yang menjadi ganjalan pelamar. Bekerja di kawasan nonbisnis berarti mati pergaulan. Beda kalau di kawasan bisnis. Tak hanya informasi peluang kantor tetangga bisa diserap tetapi juga… peluang mendapatkan jodoh!</p>
<p>&#8220;Nggak asyik aja, gaji boleh lumayan tapi ngeliatnya cuma pembantu sama sopir dan satpam tetangga. Kapan bisa nemu kandidat <em>hubby</em>?&#8221; kata seorang nona yang pernah melamar di sebuah kantor kecil di Pondok Indah, Jakarta Selatan, awal 2000-an. </p>
<p>Bahwa ongkos busana dan makan di lingkungan bisnis itu merepotkan, baginya bukan masalah. &#8220;Konsekuensi aja, kalau mau gaul ya ada <em>cost</em>,&#8221; kata si nona yang akhirnya terdampar di kawasan bisnis di Jakarta Barat itu. Dia memetik suami dari kopdar komunitas yang dulu berbasis milis.</p>
<p>Adapun kantor pertama, yang saya ceritakan itu, akhirnya mendapatkan seorang sekretaris rada senior, seorang ibu yang sudah rehat kerja sekitar lima tahun untuk membesarkan anaknya. Dia melamar setelah teman saya dari kantor itu meminta bantuan saya membuat iklan baris di <em>The Jakarta Post</em>. </p>
<p>Bagi si ibu, lokasi kantor bukan masalah. Tetapi… kisah itu terjadi 16 tahun silam! Saat itu internet belum merata, hanya mainan segelintir orang pengguna <em>dial up</em>. Saat itu jejaring sosial, sebagai bagian dari media sosial, belum tumbuh. Tak ada Facebook, Twitter, Foursquare, dan Koprol. Bahkan yang namanya milis pun masih asing &#8212; dan sekarang bagi sebagian orang milis malah tak menarik.</p>
<p>Sekarang? Tampaknya berbeda. Maaf, saya tak melakukan survei. Hanya menuliskan kesan saja. Intinya, jika masalahnya adalah pergaulan dan informasi maka lokasi kantor bukan masalah.</p>
<p>Media sosial mempermudah pergaulan. Meskipun saban siang makan di kantor, tetap saja tak terasing dari dunia luar. Tetap bergaul, tetap bertambah teman. </p>
<p>Internet juga mempermudah alumnae sekolah sekretaris untuk bertukar informasi. Ditambah <em>mobile internet</em>, soal keterhubungan menjadi lebih mudah. Pasal jodoh, atau minimal pasangan kencan (dengan harapan &#8220;<em>when a date becomes a mate</em>&#8220;), juga bukan problem &#8212; kecuali bagi orang sulit dan pesimistis. :P</p>
<p>Maslahat internet tak hanya didapatkan oleh para sekretaris anyaran tetapi semua pekerja muda apapun posnya. Mereka yang bekerja di bagian keuangan, menurut kesan saya, sekarang tak terlalu peduli lokasi kantor. Minimal sebagai tempat berlabuh sementaralah &#8212; tapi ada  juga yang kebablasan karena kerasan. </p>
<p>Asal lokasi tak kumuh, dan aman, sepulang kerja terutama pada tanggal bagus, berarti masih ada peluang tebar pesona. Mal bertambah, kedai bertumbuh, aneka acara juga selalu ada, termasuk kopdar bermacam komunitas. Tinggal janjian atau datang sendiri itu gampang.</p>
<p>Saya tak tahu adakah data sekunder tentang perubahan aspirasi pekerja muda (terutama perempuan) selama sepuluh tahun terakhir. Misalkan itu ada tentu menarik. Ketika jenis pekerjaan bertambah, apalagi di sektor ekonomi kreatif, soal lokasi kantor sepanjang aksesibel bukan masalah. Lima belas tahun lalu rasanya tak banyak mahasiswa, apalagi anak SMA, yang ingin menjadi manajer band atau juragan <em>event organizer</em>.</p>
<p><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/07/rok-ulat-zebra-macys.jpg"><img src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2011/07/rok-ulat-zebra-macys-228x300.jpg" alt="" title="rok-ulat-zebra | © macy&#039;s" width="228" height="300" class="alignright size-medium wp-image-4579" /></a></p>
<p>Soal kebebasan berbusana di sektor tertentu, dan pos jabatan tertentu, mungkin juga menjadi daya tarik. Kalau setiap orang dapat memilih <em>business attire</em>-nya, tetapi bisa menyesuaikan diri pada saat harus terkemas formal, tampaknya menggoda juga. Bekerja di kawasan bisnis, dengan kantor yang menuntut kemasan formal, padahal gaji tak seberapa, hanya menghabiskan uang. :D</p>
<p>Ah sudahlah, semua pengandaian saya tadi mungkin salah. Lebih menarik jika saya mendapatkan masukan dari Anda. Yaitu seberapa penting sih lokasi kantor jika mudah diakses oleh angkutan umum, terutama jika Anda wanita? ;)</p>
<p>© Ilustrasi: Rerock Jeans/express.com &#038; Macy&#8217;s (macys.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/07/13/lokasi-kantor-antara-penting-dan-tak-penting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>65</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Koreksi itu Bernama Siami</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/06/12/koreksi-itu-bernama-siami/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/06/12/koreksi-itu-bernama-siami/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jun 2011 18:56:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[kecurangan]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[siami]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4487</guid>
		<description><![CDATA[KRISIS PEKERTI KARENA KITA BINGUNG. <p></p> <p>Di manakah nurani? Ada di setiap hati. Tak hanya pada hati Bu Siami, seorang ibu, yang melaporkan kecurangan ujian nasional di SD anak lelakinya, nun di Surabaya sana.</p> <p>Baiklah, silakan Anda menyebut saya sok tahu, berani menyebut nurani ada di setiap hati. Saya sok tahu karena informasi yang saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KRISIS PEKERTI KARENA KITA BINGUNG.</h3>
<p><img class="alignnone" title="bu siami dan suaminya, pak widodo" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/siami-widodo-detikcom.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p>Di manakah nurani? Ada di setiap hati. Tak hanya pada hati Bu Siami, seorang ibu, yang melaporkan kecurangan ujian nasional di SD anak lelakinya, nun di Surabaya sana.</p>
<p>Baiklah, silakan Anda menyebut saya sok tahu, berani menyebut nurani ada di setiap hati. Saya sok tahu karena informasi yang saya dapat tak lengkap.</p>
<p>Mereka yang memusuhi Bu Siami dan keluarganya, bahkan mengusirnya, saya yakin masih memiliki nurani di sudut hati.</p>
<p>Mereka adalah orang-orang yang mencoba berdamai dengan realitas bernama jalan pintas, dan ketika dorongan untuk menjadi sekawanan serigala menguat, maka suara terbanyak boleh dianggap bisikan Tuhan, tetapi dalam hati kecilnya sesungguhnya tahu bahwa itu salah.</p>
<p>Mereka mempersalahkan pengawas ujian kenapa membiarkan pencontekan itu untuk penghiburan diri sekaligus pembelaan diri.</p>
<p>&#8220;Ini salah, &#8221; bisik setiap sudut hati mereka.</p>
<p>&#8220;Memang salah, tapi di mana-mana lumrah. Sudahlah, tahu sama tahu saja, yang penting anak-anak kita tetap lulus, ndak perlu mengulangi ujian,&#8221; kata benak mereka serempak.</p>
<p>Kambing hitam mesti ditetapkan. Harus ada yang dikorbankan dalam pertempuran bisikan hati dan suruhan benak kolektif. Bu Siami adalah sasaran yang tepat.</p>
<p>Setiap orang punya nurani. Tetapi setiap orang juga punya benak yang seolah jalannya lempang pun masuk akal padahal tidak. Jika kecurangan dibiarkan jangan harap kita mendapatkan apapun sesuai standar, lalu ujung-ujungnya hampir semua orang dirugikan. Itu tak sesuai akal sehat.</p>
<p>Terhadap aneka penyimpangan, rakyat akhirnya menyerah, bahkan ketika dirugikan sekalipun. Kalau pemimpin dan para manusia rujukan tak bisa diandalkan, karena ternyata menjadi bagian dari penyimpangan, maka rakyat memilih ikut arus.</p>
<p>Ketika penyimpangan &#8212; dari kecurangan, pungli, suap, mencuri, sampai nepotisme &#8212; ternyata menguntungkan, maka setiap koreksi dianggap gangguan karena mengusik kenyamanan bersama. Koreksi itu bernama Bu Siami.</p>
<p>Jika menyangkut pendidikan, kita ingat skandal beberapa tahun lalu. Formula kelulusan diubah setelah ujian. Mereka yang protes adalah yang dirugikan. Yang diuntungkan tidak protes. Mereka sadar telah tak berlaku adil, tetapi kecurangan sesaat tetaplah dibutuhkan karena yang namanya standar ternyata bisa dikompromikan.</p>
<p>Kita ingat kasus Air Mata Guru. Sekelompok guru membuka aib sejumlah sekolah dan birokrat pendidikan dalam kecurangan ujian tetapi yang terkena nestapa ternyata sekelompok guru itu.</p>
<p>Jangan melawan arus, bahkan meskipun arus itu salah, kecuali diri kita cukup tangguh. Tanpa diajarkan secara verbal secara terus menerus pun setiap orang paham.</p>
<p>Jika Indonesia adalah sebuah kelas, maka rakyat adalah para murid pemetik hikmah yang pintar. Kalau anak nakal dibiarkan, bahkan dipuji padahal sering mencurangi apapun, maka anak manis sebaiknya ikut. Bu Siami adalah murid yang menyimpang: mengganggu keselarasan, mengusik kenyamanan bersama.</p>
<p>Ini serupa seorang warga di sebuah lingkungan yang membangun rumah baru di atas bekas rumahnya dengan mengurus IMB secara prosedural.  Umumnya tetangga, terutama pengurus lingkungan, menampakkan ketidakrelaan karena ketika menambah teras dan kamar mereka tak mengurus IMB. Tindakan seorang warga mengurus IMB dianggap sebagai pengingat kepada birokrat pengawas bahwa di sebuah kantong permukiman yang sadar IMB hanya satu.</p>
<p>Akan tetapi jika bicara prosedur ternyata yang tertulis dan terwujudkan sungguh jauh panggang dari api. Karena naluri mendorong makhluk hidup menyesuaikan diri, maka rakyat pun mengamini tujuan hanya demi tujuan tetapi tak hirau cara. Toh orang lain juga melakukan. Toh masing-masing juga memetik manfaat.</p>
<p>Tujuan. Hasil nyata. Instan. Itu lebih utama. Ijazah dari hasil membeli bukan hal yang memalukan, dan dalam segala kesempatan masyarakat tak peduli apakah gelar berganda (yang belum tentu membeli) juga diimbangi oleh kecendekiaan. Lihat saja poster-poster kampanye pemilu dan pilkada.</p>
<p>Kita semua tahu, dan sadar, bahwa itu semua salah. Tetapi kita juga tahu, dan sadar, bahwa jika kita lemah janganlah melawan. Terlebih ketika kita tak ikutan malah dikorbankan. Tak ikut teman korupsi malah dianggap sebagai batu sandungan dan karier bisa terganjal. Apalagi kalau melawan.</p>
<p>Persoalan besar kita adalah pekerti. Anehnya ketika kita bicara tentang akhlak seolah topik hanya dibatasi pada urusan seks. Korupsi tak termasuk. Ralat: termasuk tetapi bukan prioritas.</p>
<p>Pendekatan ini pun merupakan hasil adaptasi terhadap realitas. Ketika soal lain yang lebih kompleks dan pelik sulit diatasi, bahkan masing-masing orang diuntungkan, maka soal remeh dikedepankan. Kenapa? Sepintas lebih mudah, terutama dalam memilah siapa siapa yang bersusila dan bukan, kita dan mereka.</p>
<p>Dalam korupsi, pemilahan terasa sulit dan berat, apalagi kalau kita terlibat &#8212; sekecil apapun.</p>
<p>Di manakah nurani dan akal sehat? Sedang bersembunyi. Mereka akan keluar setelah bosan dan tak tahan. Entah kapan.</p>
<p>© Foto Siami suaminya, Widodo, oleh Imam Wahyudiyanta/detik.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/06/12/koreksi-itu-bernama-siami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>93</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiriman Peti Jenazah: Matinya Batas Humor</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/06/06/kiriman-peti-jenazah-matinya-batas-humor/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/06/06/kiriman-peti-jenazah-matinya-batas-humor/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 14:19:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[buss & co]]></category>
		<category><![CDATA[enda nasution]]></category>
		<category><![CDATA[peti jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[peti mati]]></category>
		<category><![CDATA[sumardy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4472</guid>
		<description><![CDATA[ANTARA KREATIVITAS GILA-GILAAN DAN NGAWUR MESTINYA BERBEDA. <p></p> <p>Triman, salah satu awak Rumah Langsat, melapor kepada saya sekitar setengah sepuluh pagi tadi, &#8220;Pak, di rumah bawah ada kiriman peti mati.&#8221;</p> <p>Saya ke rumah bawah, markas Salingsilang di Jalan Langsat 1/16, Jakarta Selatan. Memang ada peti mati kecil ukuran bocah untuk Enda Nasution, teman sekongsi saya.</p> [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>ANTARA KREATIVITAS GILA-GILAAN DAN NGAWUR MESTINYA BERBEDA.</h3>
<p><img class="alignnone" title="peti mati untuk enda nasution di markas salingsilang.com" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/dagdigdug/blogombal-peti-mati-enda-nasution.jpg" alt="" width="450" height="253" /></p>
<p>Triman, salah satu awak Rumah Langsat, melapor kepada saya sekitar setengah sepuluh pagi tadi, &#8220;Pak, di rumah bawah ada kiriman peti mati.&#8221;</p>
<p>Saya ke rumah bawah, markas Salingsilang di Jalan Langsat 1/16, Jakarta Selatan. Memang ada peti mati kecil ukuran bocah untuk Enda Nasution, teman sekongsi saya.</p>
<p>Dua sejawat, <a href="https://twitter.com/mgreantara" target="_blank">Muki Reantara</a> dan <a href="https://twitter.com/deeramli" target="_blank">Diah Kesuma</a>, sudah agak tenang. Mereka menunggui peti di teras depan itu sambil memeriksa Twitter dari ponselnya. Adapun <a href="http://twitter.com/anggieghonia" target="_blank">Anggie</a> yang datang belakangan sempat melongo dan bingung ketika melihat peti mati di teras.</p>
<p><img class="alignnone" title="isi peti mati buat enda nasution" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/dagdigdug/blogombal-peti-mati-enda-nasution-03.jpg" alt="" width="450" height="261" /></p>
<p>Sekitar lima belas menit sebelumnya, ketika mobil jenazah tiba, salah seorang anggota staf, Yanto, hanya keget dan bingung: satu peti mati dikeluarkan, tiga lainnya masih di dalam mobil.</p>
<p>&#8220;Saya gemeter, <em>maktratap</em>, deg-degan sampe lemes, Pak,&#8221; katanya. Adapun Enda masih belum kembali dari Singapura.</p>
<p><img class="alignnone" title="peti mati untuk enda nasution" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/dagdigdug/blogombal-peti-mati-enda-nasution-02.jpg" alt="" width="450" height="246" /></p>
<p>Menjelang sore, ketika saya bertemu istri di sebuah kedai, awal cerita saya tentang peti sudah membuatnya terkejut, jantungnya berdebar, padahal baru pada permulaan kisah, &#8220;Tadi pagi ada kiriman peti mati ke Langsat…&#8221;</p>
<p>Cerita selanjutnya sudah kita ketahui. Ada sepuluhan penerima kiriman peti mati, umumnya perusahaan media, jasa komunikasi, dan penggiat media sosial. Bahkan terkabar si pengirim berencana menyebar seratusan peti. Pengirimnya, sejauh informasi polisi petang ini, adalah Sumardy Ma, CEO Buzz &amp; Co, perusahaan komunikasi pemasaran di Jakarta.</p>
<p>Apapun tujuannya, bagi saya lelucon Rest in Peace Soon itu berlebihan, tak pada tempatnya. Kenapa? Yang akhirnya direpoti bukan hanya perorangan yang menjadi sasaran melainkan juga orang lain &#8212; itupun tak hanya sejawat masing-masing, karena awak ambulans juga dimintai keterangan oleh polisi.</p>
<p>Saya mendengar, tetapi belum melakukan tabayun, bahwa seorang satpamwan salah satu kantor peti mati mendapatkan tindakan administratif (<em>dipecat?</em>) karena membawa masuk peti ke dalam kantor.</p>
<p>Jika ini benar, maka si pengirim peti tak menghiraukan nasib orang lain. Dia hanya memikirkan sensasi dan kampanye viral melalui internet sehingga mendapatkan publisitas luas dengan biaya murah, lalu peluncuran kantornya sukses.</p>
<p>Tadi pagi saya sempat membayangkan jika si penerima tinggal di kompleks permukiman padat, lantas penjaga kantor bingung dan berteriak-teriak, sehingga tetangga berdatangan, bukan tidak mungkin awak mobil jenazah akan mengalami hal tidak menyenangkan.</p>
<p><img class="alignnone" title="mobil jenazah pengangkut peti mati untuk enda nasution" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/dagdigdug/mobil-jenazah-buzz-and-co.jpg" alt="" width="450" height="336" /></p>
<p>Atau, misalkan saja, kantor yang dikirimi sedang berduka karena keluarga anggota staf ada yang meninggal, kiriman peti mati sudah salah secara berlipat: ya barangnya, ya waktunya, ya sasarannya, ya tempatnya. Apalagi jika di sekitar kantor tersebut, atau bahkan dalam lingkungan kantor, ada anak kecil.</p>
<p>Tak ada yang salah dengan mengemas pesan berbau kematian untuk menarik perhatian asalkan tak membuat penerima marah, sakit jantungnya kumat, dan lebih penting lagi tak mendatangkan akibat buruk bagi orang di sekitar penerima.</p>
<p>Tanpa pertimbangan matang, maka batas kreativitas gila-gilaan dan ngawur menjadi kabur. Ketika hiruk pikuk media sosial menjadi sihir yang menggoda, maka ada saja yang kurang bijak dalam memanfaatkannya karena mementingkan penjaringan perhatian dari khalayak dalam tempo sesingkat mungkin, apapun eksesnya.</p>
<p>© <a href="http://yfrog.com/h2werpyhj" target="_blank">Foto</a> mobil jenazah: <a href="http://getarcinta.com/" target="_blank">Diah Kesuma</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/06/06/kiriman-peti-jenazah-matinya-batas-humor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>70</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggigit Nasi Padat di KFC</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/03/15/menggigit-nasi-padat-di-kfc/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/03/15/menggigit-nasi-padat-di-kfc/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 19:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[beras]]></category>
		<category><![CDATA[kfc]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[makan]]></category>
		<category><![CDATA[nasi]]></category>
		<category><![CDATA[padi]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[perdapuran]]></category>
		<category><![CDATA[Toto Chan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=4225</guid>
		<description><![CDATA[MAKA CARA MAKAN KITA PUN BERUBAH&#8230; <p></p> <p>Beberapa hari lalu melalui Twitter saya melontarkan tanya: sejak kapankah sebagian pengudap KFC menyantap nasi kepal dengan digigit selayaknya arem-arem?</p> <p>Tentu pertanyaan saya tak boros karakter seperti di atas. Dan di sini Anda akan mengunyah gunumgan karakter. Membaca tulisan yang melelahkan. Anda boleh batal meneruskannya. :)</p> <p>Kita dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MAKA CARA MAKAN KITA PUN BERUBAH&#8230;</h3>
<p><img class="alignnone" title="kentucky fried chicken" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/jonitor.jpg" alt="" width="460" /></p>
<p>Beberapa hari lalu melalui Twitter saya melontarkan tanya: sejak kapankah sebagian pengudap KFC menyantap nasi kepal dengan digigit selayaknya arem-arem?</p>
<p>Tentu pertanyaan saya tak boros karakter seperti di atas. Dan di sini Anda akan mengunyah gunumgan karakter. Membaca tulisan yang melelahkan. Anda boleh batal meneruskannya. :)</p>
<p><strong>Kita dan padi dan beras dan nasi&#8230;</strong></p>
<p>Menggigit nasi. Tepatnya nasi yang dipadatkan lalu dibungkus kertas berlilin. Bukan nasi yang dipadatkan dalam mangkok lalu hasilnya ditengkurapkan di atas piring.</p>
<p>Mungkin tak penting. Yang pasti saya telat menyadarinya. Ternyata ada yang mengaku sudah melakukannya sejak 2005. Anggap saja enam tahun lalu. Ke mana saja saya?</p>
<p>Mungkin tak menarik. Tapi ingatlah, bangsa kita mengenal bermacam produk beras. Yang langsung dari beras saja ada nasi, ketupat, lontong, arem-arem, lemper, wajik, juadah, bubur &#8212; silakan tambahkan contoh lain. Belum lagi yang berasal dari tepung beras.</p>
<p>Pendeknya beras sangat penting sehingga kita mampu mengolahnya menjadi aneka makanan. Begitu pentingnya sehingga kita tak seperti orang Inggris lama yang dulu hanya mengenal <em>rice</em> sebagai beras dan nasi, dan akhirnya mengenal <em>paddy</em> dan <em>paddy field</em>. Maklumlah, beras bukan bagian dari peradaban mereka selama ribuan tahun.</p>
<p>Beras dan padi menjadi bagian dari keseharian kita. Carilah di <a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=proverb" target="_blank">Bahtera</a>, ada berapa peribahasa yang menggunakan kata padi, beras, dan nasi. Jika ditambah contoh dari bahasa daerah tentu lebih banyak lagi.</p>
<p>Menurut Prof. Dr. Murdijati Gardjito dari Fakultas Pertanian UGM, kepada Kompas Minggu kemarin (13/03/2011), konsumsi beras kita &#8220;sudah berlebihan&#8221;: 139,15 kg per kapita/tahun, padahal dunia hanya merekomendasikan 60 kg per kapita/tahun.</p>
<p><strong>Cara makan Indonesia modern :)</strong></p>
<p>Maka saya pun menyadari suatu hal baru. Apa?</p>
<p>Di sebuah negeri besar yang sebagian besar penduduknya menyantap nasi (sehingga harus mengimpor beras; dan jangan lupa kelanggengan kuasa politik juga bertumpu pada beras), dan yang sebagian warga pulau tertentunya telah mengenal budaya sawah ribuan tahun (pengorganisasian kekuasaan juga dimulai dari tata pengairan sampai ke upeti dan seterusnya; begitupun keseniannya yang berbeda dari masyarakat pemburu), cara menyantap nasi di kedai akhirnya terkoreksi.</p>
<p>Maafkan kalimat panjang itu. Melelahkan. Bisa bikin lapar.</p>
<p>Intinya: generasi muda urban sampel saya menyantap nasi di kedai ayam goreng Amrik dengan cara yang berbeda dari orangtuanya.</p>
<p>Alasannya beragam, silakan Anda tambahkan sendiri dalam komentar. :) Alasan Anda itu sangat penting.</p>
<p>Hanya cara makan. Tak ada hubungannya dengan pencernaan. Yah, adab perdapuran dan pemanjaan lidah memang tak semuanya berurusan langsung dengan proses digestif.</p>
<p>Meskipun begitu banyak juga menu dan tata cara makan yang diandaikan menyimpan sebuah nilai. Pepatah &#8220;asam di gunung, garam di laut&#8230;&#8221; bukan sekadar seni memasak. Itu adalah cara pandang terhadap kehidupan. Sama seperti <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Totto-Chan:_The_Little_Girl_at_the_Window" target="_blank">Toto Chan</a> di Jepang mendapatkan pencerahan di sekolah gerbong: sayur dan ikan berpadu, yang dari gunung dan laut bertemu. Itulah contoh keseimbangan hidup &#8212; tetapi (mungkin) berbeda dari versi orang Eskimo dan suku-suku di Kalahari, Namibia.</p>
<p>Lantas apa urusan paparan bertele-tele dengan menggigit nasi?</p>
<p><em>Fast food</em> mengubah kita. Tak perlu disesali, apalagi bisnis dan konsumsi itu bagus untuk menggerakkan ekonomi.</p>
<p>Semuanya (mungkin) berlangsung alami, sehingga sejumlah <a href="http://www.kfcindonesia.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=34&amp;Itemid=76" target="_blank">iklan TV KFC</a>, yang terus diputar di kedainya itu, setahu saya tak menganggap penting penggigitan nasi itu, karena yang utama dalam visual adalah ayam goreng. Tolong Anda koreksi jika saya kurang cermat.</p>
<p>Cara makan nasi <em>with style</em> tidak masuk iklan. Aneh juga. Padahal variasi cara konsumsi produk bisa menjadi pengukuh dagangan dalam iklan &#8212; sejak cara menyobek kemasan rokok Dji Sam Soe (iklan zaman dulu), mencampurkan kacang atom ke dalam mi dan bakso, sampai cara menikmati biskuit Oreo.</p>
<p>Dalam kasus nasi, konsumen menemukan cara sendiri tanpa contoh masif melalui iklan. Unik juga.</p>
<p>Saya tak tahu apakah kelak dalam makan siang bersama dengan nasi kotak karton cara serupa juga akan terjadi. Sendok (sekali pakai) tak disertakan. Sementara cara memuluk (menyuapkan sejumput nasi ke mulut), suatu hal yang tak semua orang bisa, segera lenyap. Minimarket menjual &#8220;kertas nasi&#8221;, dan semua warung akan membungkus nasi padat.</p>
<p>Kalau itu terjadi meluas, maka sebuah cara bersantap Indonesia modern telah tercipta. Tanpa sendok, tapi tidak memuluk, dan tetap menjadi <em>finger food</em>. Sangat Indonesia.</p>
<p><strong>Belajar dari &#8220;sedotan&#8221; dan tisu</strong></p>
<p>Jika masalahnya hanya karena nasi dibungkus kertas, rasanya faktor ini tak sekuat kehadiran penyedot limun, berbahan plastik, pada akhir tahun 60-an. Saat itu sebagai barang baru, penyedot dijual eceran di perkampungan. Anak-anak akan memotongnya, lalu menjadikan sebagai buluh perindu di ujung lidah.</p>
<p>Penyedot plastik &#8212; orang bilang &#8220;sedotan&#8221; &#8212; memang inovatif, karena sebelumnya penyedot berbahan gelas tiup untuk limun, kokt(a)il dan mokt(a)il adalah barang mewah. Lalu dalam halal bil halal, tetamu cukup disuguhi air kemasan gelas plastik, juga dengan penyedot. Cara minum berubah. Yang dulu dianggap kurang sopan &#8212; memperlakukan orang dewasa seperti anak kecil &#8212; akhirnya dianggap biasa, bahkan higienis.</p>
<p>Penyedot membuat orang meminum dengan cara baru, sehingga akhirnya di warung kaki lima pun segelas teh hangat dilengkapi penyedot &#8212; bersanding dengan wadah tisu gulung untuk peturasan.</p>
<p>Saya pribadi lebih suka menyesap dan menenggak minuman secara langsung. Perantaraan oleh penyedot menghalangi pengalaman lidah dan menghambat rasa kenyang minuman. Tahu-tahu isi gelas dan botol habis. Tetapi justru karena itu penyedot dianjurkan untuk orang yang harus banyak meminum air putih. Tak terasa akan lebih banyak yang terminum.</p>
<p>Adapun tisu meja, yang mulai meluas penggunaannya pada pertengahan 70-an, akhirnya menyadarkan konsumen tentang alternatif. Lembar tumpukan dan gulungan hanya beda desain, dengan perbedaan spesifikasi yang boleh diabaikan, tetapi berbeda harga. Maka akhirnya tisu peturasan berpindah ke meja, dan industri plastik menjawabnya dengan aneka wadah.</p>
<p>Lalu kita terbiasa dengan itu semua. Kita <a href="http://visitsolo.net/2010/03/19/hindari-sedotan/" target="_blank">boros penyedot</a> (sudah masuk komponen biaya penjual minuman) dan terlebih <a href="http://visitsolo.net/2010/03/20/hindari-tisu/" target="_blank">boros tisu</a> (termasuk saya). Karena masih transisi maka ada saja warung yang membuang penyedot semaunya, dan ada saja pengudap yang membiarkan gumpalan tisu memenuhi meja warung bahkan lantai warung. Itu semua adalah bagian seni makan ala Indonesia.</p>
<p>Terima kasih, Anda telah membaca tulisan panjang ini. Saya sendiri pun capai menuliskannya. :D</p>
<p>Foto: Memo: <a href="http://memo.blogombal.org/2009/01/08/si-joni-jontor-jadi-janitor/" target="_blank">Joni Jontor</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/03/15/menggigit-nasi-padat-di-kfc/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>102</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melindungi Diri Sambil Mengancam Orang Lain</title>
		<link>http://blogombal.org/2011/01/07/melindungi-diri-sambil-mengancam-orang-lain/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2011/01/07/melindungi-diri-sambil-mengancam-orang-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Jan 2011 18:09:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[birokrat pemerintah kota]]></category>
		<category><![CDATA[kaki lima]]></category>
		<category><![CDATA[kawat berduri]]></category>
		<category><![CDATA[ketertiban kota]]></category>
		<category><![CDATA[pagar]]></category>
		<category><![CDATA[peradaban]]></category>
		<category><![CDATA[tata kota]]></category>
		<category><![CDATA[trotoar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=3928</guid>
		<description><![CDATA[GABUNGAN KEMALASAN DAN KETIDAKPEDULIAN. <p>Terhadap judul di atas, Anda bisa mengatakan bahwa itu sudah merupakan naluri setiap makhluk hidup. Baiklah, tetapi haruskah semua naluri dituruti?</p> <p>Maka izinkanlah saya menyodorkan pengandaian. Misalkan selagi menggendong anak kecil sambil menyusuri trotoar, kemudian Anda dikejutkan oleh klakson sehingga terlonjak, lalu memepet pagat berduri sehingga si kecil tergores bahkan tertusuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>GABUNGAN KEMALASAN DAN KETIDAKPEDULIAN.</h3>
<p>Terhadap judul di atas, Anda bisa mengatakan bahwa itu sudah merupakan naluri setiap makhluk hidup. Baiklah, tetapi haruskah semua naluri dituruti?</p>
<p>Maka izinkanlah saya menyodorkan pengandaian. Misalkan selagi menggendong anak kecil sambil menyusuri trotoar, kemudian Anda dikejutkan oleh klakson sehingga terlonjak, lalu memepet pagat berduri sehingga si kecil tergores bahkan tertusuk kawat berduri, bagaimana?</p>
<p>&#8220;Makanya kalo jalan ati-ati, liat kanan-kiri, atas-bawah,&#8221; kata teman Anda.</p>
<p>&#8220;Salah sendiri kenapa manusia menemukan kawat berduri, &#8221; kata teman yang lain.</p>
<p>Baiklah, tetapi kehati-hatian kita mestinya diimbangi oleh pengurangan risiko oleh pihak lain, bukan? Itulah bedanya hidup di tengah belantara dan hidup di ruang bersama bernama kota.</p>
<p>Maka inilah contohnya. Di depan kantor Bank BNI Cabang Mayestik, Jakarta Selatan, ada kawat berduri pada pagar trotoar.</p>
<p><img class=" alignnone" title="pagar berduri pada pagar trotoar di mayestik" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-kawat-berduri01.jpg" alt="" width="450" height="253" /></p>
<p>Mari kita urutkan. Pagar trotoar adalah hal yang aneh. Ini cerminan pikiran birokrat penjaga ketertiban kota. Daripada repot mengusir pedagang kaki lima, dan mengusir kendaraan umum ngetem, maka kenyamanan pejalan kaki boleh diabaikan: pasanglah pagar. Para pejalan akan melintasi lorong terang (kalau siang) tapi berpagar. Merepotkan saat berpapasan. Terpojok saat dihadang penodong.</p>
<p><img class="alignnone" title="kawat berduri pada pagar trotoar" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-kawat-berduri02.jpg" alt="" width="450" height="253" /></p>
<p>Tentang kawat berpagar di bagian atas dan bawah pagar BRC itu saya tak tahu siapa yang memasangnya, birokrat ataukah pemilik properti terdekat. Tujuannya sih mencegah kehadiran pedagang kaki lima dan menghalau siapapun yang gemar bersandar pagar. Yang penting trotoar tampak &#8220;rapi&#8221; dan &#8220;tertib&#8221;. Manusiawi atau tidak, itu lain soal. Masih untung pagar tidak dialiri setrum bertegangan tinggi &#8212; begitu mungkin kata si pemasang.</p>
<p>Sekitar tiga ratus meter dari pagar berduri itu, ada sebuah kantor. Pagar depan, yang ditempeli logo dan diterangi dua lampu halogen, dikawal oleh dua deret besi runcing. Saya tak tahu apakah yang akan dilindungi karena tembok berlogo itu lebih tinggi dari bagian lainnya. Orang normal yang ingin melompat tentu memilih tembok yang lebih rendah. Lebih normal lagi jika memilih melompati pintu gerbang yang setinggi tembok karena ada pijakan untuk memanjat.</p>
<p><img class="alignnone" title="besi runcing pada pagar (tembok) halaman Parama Jalan Ahmad Dahlan" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-besi-runcing.jpg" alt="" width="450" height="252" /></p>
<p>Begitulah, sebagian dari kita masih menyukai cara perlindungan diri yang mengancam pihak lain. Ini serupa pengguna mobil kota yang memasang tanduk besi pada bemper. Pabrik sudah memasang bemper yang lunak agar tak membayakan orang yang tersenggol atau tertabrak, tetapi konsumen malah memasang <em>bull bar</em>. Mungkin pemiliknya selalu merasa di medan <em>off road</em> terutama ladang dan hutan perburuan.</p>
<p>Ini juga serupa orang mengaliri setrum pada propertinya supaya pencuri kapok. Kalau yang dimaksud jera adalah mati, mungkin tepat. Dua puluh lima tahun lalu (<em>sic!</em>), majalah <em><a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1986/07/12/KRI/mbm.19860712.KRI35445.id.html" target="_blank">Tempo</a></em> menyimpulkan, &#8220;<em>Ketika orang merasa tidak aman, bisa saja lalu melindungi diri tanpa peduli keamanan umum</em>.&#8221;</p>
<p>Dari sisi pemasang alat pengancam saya menduga mereka melakukannya karena tak ada kepastian hukum. Karena ketika ditelepon polisi tak segera datang &#8212; kalau dalam film (asing) sih cepat banget  &#8211; maka orang memilih cara pengamanan diri yang membahayakan.</p>
<p>Jika menyangkut pengamanan tempat umum versi birokrat, ya berunsur kemalasan. Ketimbang pagi sampai malam mengerahkan petugas untuk menghalau pedagang kaki lima, maka lebih baik memasang pagar trotoar.</p>
<p>Mengerahkan penghalau, meskipun itu sudah merupakan tugas mereka, juga butuh dana, bukan? :P Lebih nyaman kongko di kantor ketimbang ke lapangan. :P</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2011/01/07/melindungi-diri-sambil-mengancam-orang-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>49</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

